Thursday, February 5, 2026

Sosialisasi Meningkatkan Kemampuan Literasi Baca, Tulis, dan Menghitung di SMA Negeri 1 Poli Polia


Socializationto Improve Reading, Writing, and Numeracy Literacy Skills at SMA Negeri 1 PoliPolia

Izharuddin Pagala¹,Widyah², Sidan³, Junarty Iswari⁴,Sinda Pratiwi⁵, Nesa⁶, Rifka Aprilliyah, Muhamad Aljunanto, Alwin Kamarudin, Alvendra Kirana¹⁰, Uwais Abdullah Muhyan¹¹

Universitas Lakidende Unaaha

Email: izharuddinpagla1912@gamail.com

 

Abstrak

Program sosialisasi Meningkatkan Kemampuan literasi baca, tulis, dan hitung yang diselenggarakan di SMA Negeri 1 Poli Polia memiliki tujuan untuk memperkuat keterampilan dasar siswa dalam memahami bacaan, mengekspresikan ide secara tertulis, serta menerapkan kemampuan berhitung dalam kehidupan sehari-hari. Pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan metode partisipatif seperti diskusinya, aktivitas edukatif, dan pembelajaran berbasis pengalaman. Berdasarkan hasil pelaksanaan, terlihat peningkatan minat dan semangat belajar siswa terhadap literasi dasar. Di sisi lain, guru turut termotivasi untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih kreatif dan mendukung peningkatan literasi. Secara keseluruhan, kegiatan sosialisasi ini berperan penting dalam membangun budaya literasi di SMA Negeri 1 Poli Polia.

Kata Kunci: Sosialisasi,Baca,Tulis,Menghitung, Poli-polia

Abstrak

The socialization program to improve literacy skills in reading, writing, and arithmetic held at Poli Polia 1 Public High School aims to strengthen students' basic skills in reading comprehension, expressing ideas in writing, and applying arithmetic skills in everyday life. The activity was implemented using participatory methods such as discussions, educational activities, and experience-based learning. Based on the implementation results, there was an increase in students' interest and enthusiasm for learning basic literacy. On the other hand, teachers were also motivated to develop more creative learning strategies and support literacy improvement. Overall, this socialization activity plays an important role in building a culture of literacy at Poli Polia 1 Public High School.

Keywords: Socialization, Reading, Writing, Counting, Poli-polia


PENDAHULUAN

          Kemampuan literasi dalam membaca, menulis, dan berhitung adalah keterampilan dasar yang berperan penting dalam menunjang keberhasilan belajar dan kehidupan sehari-hari. Literasi menjadi dasar bagi peserta didik untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, mengembangkan kreativitas, serta menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Meskipun demikian, masih banyak pelajar yang menghadapi tantangan dalam memahami teks, menulis secara efektif, maupun mempraktikkan perhitungan dengan tepat.Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan kegiatan yang dapat menumbuhkan kesadaran dan kemampuan literasi dasar melalui sosialisasi. SMA Negeri 1 Poli Polia mengambil langkah strategis dengan melaksanakan kegiatan sosialisasi literasi baca, tulis, dan menghitung sebagai bentuk dukungan terhadap program Gerakan Literasi Sekolah.Kegiatan ini tidak hanya memberikan wawasan teoritis mengenai pentingnya literasi, tetapi juga mendorong partisipasi aktif siswa dalam berbagai kegiatan interaktif yang melatih keterampilan dasar mereka. Dengan demikian, diharapkan melalui kegiatan ini, budaya literasi dapat tumbuh dan berkembang secara berkesinambungan di lingkungan sekolah.

METODE

Bentuk kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah sosialisasi dengan menghadirakn beberapa dosen sekaligus dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lakidende dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kabupaten Kolaka Timur sebagai narasumber dengan rincian kegiatan

1.       Sosialisasi yaitu Menjelaskan kepada para peserta kegiatan mengenai kegiatan, tujuan dan manfaat kegaiatan

2.       Edukasi yaitui Nara sumber Menampilkan materi melalui slide power point dan menjelaskan materi scara terperinci tenatng literasi membaca, menulis  dan berhitung serta dilanjutkan dengan sesi pertanyaan, edukatif,diskusi serta pembelajaran berbasis pengalaman.

Adapun sasaran kegiatan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah para siswa dan siswi di SMA NEGERI 1 POLI POLIA, sasaran ini dipilih karena dengan pertimbangan jarak  lokasi  sekolah dengan lokasi kuliah kerja nyata (KKN) tidak terlalu jauh, serta SMA NEGERI 1 POLI POLIA ,jarang sekali tersentuh oleh kegiatan pengabdian dari Universitas di Sulawesi Tenggara.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pelaksanaan kegiatan Sosialisasi Meningkatkan Kemampuan Literasi Baca, Tulis, dan Menghitung di SMA Negeri 1 Poli Polia berjalan lancar dan mendapat dukungan penuh dari pihak sekolah serta peserta didik. Kegiatan diikuti oleh sekitar 30 siswa dari kelas X, XI dan XII, yang secara aktif mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Antusiasme siswa terlihat dari keterlibatan mereka dalam diskusi,dan tanya jawab.

Pada tahap awal, peserta mendapatkan pemaparan materi mengenai pentingnya literasi baca, tulis, dan berhitung dalam pembentukan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan belajar. Siswa diajak memahami bahwa literasi tidak hanya sebatas kemampuan mengenal huruf dan angka, tetapi juga kemampuan memahami, mengolah, serta mengkomunikasikan informasi. Materi ini dikemas secara menarik menggunakan metode interaktif agar suasana  tetap hidup dan menyenangkan.Dari hasil pelaksanaan kegiatan, terlihat adanya peningkatan pada aspek keaktifan, motivasi, serta kepercayaan diri siswa. Mereka menjadi lebih berani mengemukakan pendapat dan menulis gagasan dengan bahasa sendiri. Guru yang mendampingi kegiatan juga menilai bahwa sosialisasi ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan semangat belajar dan keterampilan dasar siswa.Selain bagi siswa, kegiatan ini juga memberi manfaat besar bagi guru. Melalui kegiatan ini, guru mendapatkan inspirasi untuk mengembangkan metode pembelajaran yang lebih kreatif, kolaboratif, dan menyenangkan. Pendekatan partisipatif yang diterapkan terbukti mampu menumbuhkan suasana belajar yang aktif dan mendukung pencapaian tujuan literasi di sekolah.Secara umum, kegiatan sosialisasi Meningkatkan Kemampuan literasi di SMA Negeri 1 Poli Polia mampu memberikan perubahan positif terhadap sikap dan motivasi belajar siswa. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa mayoritas peserta menyatakan kegiatan ini menambah pemahaman mereka tentang pentingnya literasi serta menumbuhkan kesadaran untuk terus meningkatkan kemampuan baca, tulis, dan berhitung dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini sekaligus menjadi langkah awal dalam membangun budaya literasi yang berkelanjutan di lingkungan sekolah.

Pelaksanaan kegiatan sosialisasi ini menunjukkan bahwa peningkatan literasi bukan hanya berpengaruh pada aspek akademik, tetapi juga pada perkembangan karakter peserta didik. Selama proses berlangsung, terlihat bahwa siswa menjadi lebih terbuka untuk menerima kritik dan masukan dari teman sebaya maupun pendamping kegiatan. Hal ini mencerminkan tumbuhnya sikap saling menghargai dan kemampuan untuk bekerja dalam tim, yang merupakan bagian penting dalam pembentukan kompetensi sosial. Selain itu, keberanian siswa dalam menyampaikan pendapat dan mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan diri secara signifikan dibandingkan sebelum kegiatan dimulai. Perubahan-perubahan ini menjadi indikator bahwa kegiatan literasi tidak hanya berdampak pada kemampuan kognitif, tetapi juga memberikan pengaruh positif terhadap pembentukan karakter dan soft skill peserta didik.

Hasil evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan juga menunjukkan bahwa siswa lebih memahami pentingnya literasi sebagai bekal masa depan, baik dalam dunia akademik maupun kehidupan nyata. Banyak siswa yang menyampaikan bahwa sebelum mengikuti kegiatan ini, mereka menganggap membaca dan menulis sebagai kegiatan yang monoton dan membosankan, namun setelah mengikuti sosialisasi, mereka mulai menyadari bahwa literasi adalah keterampilan yang menyenangkan dan bermanfaat. Mereka mendapatkan pengalaman langsung bahwa kemampuan membaca yang baik dapat membantu dalam memahami pelajaran, kemampuan menulis membantu menyampaikan gagasan, serta kemampuan berhitung membantu dalam membuat keputusan sehari-hari secara rasional. Perubahan persepsi ini merupakan capaian penting, karena motivasi internal merupakan faktor utama dalam keberhasilan pembelajaran jangka panjang.

Dukungan pihak sekolah menjadi salah satu faktor penting keberhasilan kegiatan ini. Kepala sekolah dan para guru memberikan ruang dan kesempatan kepada siswa untuk mengikuti kegiatan tanpa mengganggu proses pembelajaran formal. Selain itu, keterlibatan guru dalam kegiatan sebagai pendamping membuat proses belajar terlihat lebih komunikatif dan dekat dengan siswa, sehingga tercipta suasana belajar yang tidak kaku dan menyenangkan. Para guru juga menyatakan bahwa kegiatan ini memberikan inspirasi baru untuk mengembangkan strategi pembelajaran berbasis literasi di kelas, terutama melalui metode pembelajaran aktif, kolaboratif, dan berbasis proyek. Dengan demikian, kegiatan ini juga mendorong peningkatan profesionalisme guru dalam mengimplementasikan pembelajaran inovatif sesuai tuntutan Kurikulum Merdeka.

Meskipun kegiatan ini memberikan hasil yang sangat positif, terdapat beberapa kendala yang masih perlu menjadi perhatian untuk pengembangan ke depannya. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan fasilitas dan bahan pendukung literasi di sekolah, seperti jumlah buku yang masih minim, lemahnya kebiasaan membaca harian di luar kegiatan pembelajaran, serta kurangnya ruang atau pojok baca yang nyaman bagi siswa. Selain itu, beberapa siswa masih menunjukkan kesulitan dalam mempertahankan konsistensi belajar, terutama ketika kegiatan dilakukan di luar jam pelajaran. Kondisi ini menunjukkan perlunya dukungan yang lebih sistematis untuk membangun rutinitas literasi, baik melalui kebijakan sekolah maupun peran guru dalam mengarahkan kegiatan literasi secara konsisten.

Untuk menjaga keberlangsungan program literasi, beberapa langkah tindak lanjut sangat direkomendasikan. Di antaranya adalah penguatan kegiatan literasi pagi sebelum proses belajar dimulai, penyediaan fasilitas pojok baca di setiap kelas, pengadaan lomba-lomba literasi seperti menulis kreatif, membaca puisi, debat, dan kuis numerasi, serta melibatkan orang tua dalam mendukung kegiatan literasi di rumah. Program kolaboratif seperti kelas menulis, mentoring siswa berprestasi, ataupun klub literasi sekolah juga menjadi strategi yang efektif untuk menumbuhkan budaya literasi jangka panjang. Jika program-program ini berhasil diterapkan secara terencana dan berkelanjutan, maka peningkatan literasi siswa tidak hanya akan terlihat pada saat kegiatan, tetapi menjadi bagian dari karakter dan budaya akademik sekolah.

Secara keseluruhan, kegiatan Sosialisasi Meningkatkan Kemampuan Literasi Baca, Tulis, dan Menghitung di SMA Negeri 1 Poli Polia dapat dikatakan berhasil dan memberikan dampak nyata baik bagi siswa, guru maupun sekolah. Kegiatan ini bukan hanya memperkuat keterampilan dasar akademik, tetapi juga menumbuhkan motivasi belajar, kepercayaan diri, kemampuan berpikir kritis, dan budaya belajar yang aktif. Dengan adanya dukungan penuh dari semua pihak, kegiatan ini menjadi langkah awal yang strategis dalam menciptakan sekolah yang berwawasan literasi serta siap menjawab tantangan perkembangan pendidikan di era modern. Diharapkan kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan guna terus meningkatkan kualitas literasi dan membentuk generasi muda yang kompeten, berkarakter, dan siap menghadapi persaingan global.


Dokumentasi kegiatan:

 

Gambar 1. Kegiatan Sosialisasi  Meningkatkan Kemampuan Literasi Baca, Tulis, dan Menghitung

 

Gambar 2. Kegiatan Sosialisasi Meningkatkan Kemampuan Literasi Baca, Tulis, dan Menghitung

 

 

Gambar 3. Kegiatan Sosialisasi Meningkatkan Kemampuan Literasi Baca, Tulis, dan Menghitung

 

Gambar 4. Kegiatan Sosialisasi Meningkatkan Kemampuan Literasi Baca, Tulis, dan Menghitung

 

SIMPULAN

            Pelaksanaan program Sosialisasi Meningkatkan Kemampuan Literasi Baca, Tulis, dan Menghitung di SMA Negeri 1 Poli Polia berjalan dengan baik serta memberikan hasil yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan literasi dasar peserta didik. Melalui kegiatan ini, siswa memperoleh pemahaman yang lebih luas tentang pentingnya literasi sebagai bekal dalam belajar dan berinteraksi di kehidupan sehari-hari. Antusiasme siswa terlihat dari keaktifan mereka dalam setiap sesi kegiatan yang melibatkan membaca, menulis, dan berhitung.Pendekatan pembelajaran yang digunakan, yaitu melalui metode interaktif dan kontekstual, mampu menciptakan suasana belajar yang menarik serta menumbuhkan semangat belajar siswa. Guru juga memperoleh manfaat dari kegiatan ini karena dapat menambah wawasan serta inovasi dalam penerapan metode pembelajaran berbasis literasi di kelas.Dengan demikian, kegiatan sosialisasi ini dapat disimpulkan berhasil meningkatkan kesadaran, motivasi, dan kemampuan literasi siswa. Kegiatan ini juga menjadi langkah strategis dalam menumbuhkan budaya literasi yang berkelanjutan di lingkungan sekolah. Diharapkan, hasil dari kegiatan ini dapat menjadi dasar bagi pelaksanaan program literasi lanjutan yang lebih luas dan terarah di masa mendatang.

 

REFERENSI

Andriyani, V., Zaim, M., Atmazaki, & Ramadhan, S. (2019). Literasi baca tulis dan inovasi kurikulum bahasa. KEMBARA: Journal of Scientific Language Literature and Teaching, 5(1), 108–117. https://doi.org/10.22219/kembara.v5i1.7842

Hoogvelt, A. M. M. (1985). Sosiologi masyarakat sedang berkembang. RajaGrafindo Persada.

Jummita, J., Agustiana, I. G. A. T., & Dibia, I. K. (2021). Penggunaan media Fun Thinkers berbasis soal calistung dalam meningkatkan kemampuan dasar siswa. Indonesian Journal of Educational Research and Review, 4(2), 241–249. https://doi.org/10.23887/ijerr.v4i2.39667

Kamza, M., Ibrahim, H., & Lestari, A. I. (2021). Pengaruh metode pembelajaran diskusi tipe buzz group terhadap keaktifan belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Jurnal Basicedu, 5(5), 4120–4126. https://doi.org/10.31004/basicedu.v5i5.1347

Krismasari Dewi, N. N., Kristiantari, M. R., & Ganing, N. N. (2019). Implementasi pembelajaran berbasis literasi untuk meningkatkan keterampilan dasar siswa sekolah dasar. Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia, 4(1), 55–65.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2017). Panduan Gerakan Literasi Sekolah di sekolah menengah atas. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kusmana, S. (2019). Penguatan budaya literasi di sekolah. Deepublish.

Putro, A. H., & Sa’diyah, H. (2022). Penguatan literasi dasar melalui kegiatan pembelajaran kolaboratif di sekolah. Pedagogi: Jurnal Ilmu Pendidikan, 22(1), 35–42. https://pedagogi.ppj.unp.ac.id

 

Sekolah Tanpa Bullying : Membangun Empati Menciptakan Sekolah yang Inklusif dan Ramah


Jefry Crisbiantoro,1 Muh ismar2, M. Afiz Nurhaedi3,  Betram4,  Retna Cahyani5, Riby Desmita Sawendari6, Indriyanti7,  Sarni8,  Luh Putu Kansiva Vionika9, Nurul Syafika10,  Irma Afriani Lorensa¹1, Nabila12

1-12Universitas Lakidende

https://jurnal.penerbitdaarulhuda.my.id/index.php/NJPC/article/view/5043 

 

Abstract

This research aims to describe the implementation of Stop Bullying Socialization activities at SDN 1 Andowengga and its impact on student behavior. Bullying is an aggressive action that can have a negative impact physically, emotionally, and socially, especially on elementary school students. This research uses a qualitative descriptive approach with the subject of class V–VI students. Socialization activities include interactive lectures, discussions, educational video screenings, role-playing, and Stop Bullying declarations. Data was collected through observation, interview, documentation, and questionnaire, then analyzed descriptively. Research results show that socialization succeeds in increasing students' understanding of bullying, fostering empathy, and encouraging mutual respect and caring behavior towards friends. The change in positive attitude can be seen from the reduction of small conflicts, increased cooperation, and the courage of students to report bullying behavior. The success of the activity is supported by the active involvement of teachers and principals, as well as an interactive approach that emphasizes direct experience. Although some challenges still arise, this activity is effective as a preventive and educational step in creating a safe, comfortable, and bullying-free school environment. Research results can be a model for other schools in the development of bullying prevention programs sustainably.

Keywords: bullying, elementary school, socialization, character education, empathy, safe school environment.

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pelaksanaan kegiatan Sosialisasi Stop Bullying di SDN 1 Andowengga serta dampaknya terhadap perilaku siswa. Bullying merupakan tindakan agresif yang dapat berdampak negatif secara fisik, emosional, dan sosial, khususnya pada siswa sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan subjek siswa kelas V–VI. Kegiatan sosialisasi meliputi ceramah interaktif, diskusi, pemutaran video edukatif, permainan peran, dan deklarasi Stop Bullying. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan angket, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sosialisasi berhasil meningkatkan pemahaman siswa tentang bullying, menumbuhkan empati, serta mendorong perilaku saling menghargai dan peduli terhadap teman. Perubahan sikap positif terlihat dari berkurangnya konflik kecil, meningkatnya kerjasama, dan keberanian siswa melaporkan perilaku bullying. Keberhasilan kegiatan didukung oleh keterlibatan aktif guru dan kepala sekolah, serta pendekatan interaktif yang menekankan pengalaman langsung. Meskipun beberapa tantangan masih muncul, kegiatan ini efektif sebagai langkah preventif dan edukatif dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari bullying. Hasil penelitian dapat menjadi model bagi sekolah lain dalam pengembangan program pencegahan bullying secara berkelanjutan.

Kata kunci: bullying, siswa, pendidikan karakter, empati, lingkungan sekolah.

PENDAHULUAN

Sekolah merupakan tempat yang tidak hanya berfungsi sebagai sarana untuk menimba ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi lingkungan penting bagi pembentukan karakter dan kepribadian peserta didik. Dalam proses pendidikan, interaksi sosial antar siswa merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Namun, dalam kenyataannya, interaksi tersebut tidak selalu berjalan secara positif. Salah satu permasalahan yang kerap muncul di lingkungan sekolah adalah bullying atau perundungan.

Bullying adalah tindakan agresif yang dilakukan secara sengaja oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap individu lain yang lebih lemah, baik secara fisik maupun psikologis. Bentuk bullying dapat berupa kekerasan fisik (memukul, menendang, mendorong), kekerasan verbal (mengejek, menghina, mengancam), maupun kekerasan sosial (mengucilkan, menyebarkan gosip, atau mempermalukan orang lain di depan umum). Fenomena bullying ini dapat berdampak serius terhadap perkembangan anak, terutama dalam hal emosional, sosial, dan akademik.

Di tingkat sekolah dasar, bullying sering kali muncul dalam bentuk ejekan, olok-olok, saling mengejek karena perbedaan fisik, latar belakang, atau kemampuan belajar. Anak-anak usia sekolah dasar masih berada dalam tahap perkembangan moral dan emosi yang belum stabil, sehingga mereka sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan dan perilaku teman sebaya. Bila perilaku bullying dibiarkan, hal ini tidak hanya menimbulkan penderitaan bagi korban, tetapi juga dapat menumbuhkan karakter negatif pada pelaku yang terbiasa menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah.

Melihat pentingnya peran sekolah dalam membentuk karakter siswa, SDN 1 Andowengga melaksanakan kegiatan Sosialisasi Stop Bullying sebagai langkah preventif dan edukatif dalam menanggulangi perilaku perundungan di lingkungan sekolah. Program ini dilatarbelakangi oleh keinginan sekolah untuk menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi seluruh siswa. Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan dapat memahami arti bullying, mengenali bentuk-bentuknya, serta menumbuhkan kesadaran untuk menghentikan segala bentuk kekerasan verbal maupun fisik terhadap teman.

Selain itu, program Stop Bullying juga merupakan wujud nyata dukungan sekolah terhadap upaya pemerintah dalam memperkuat pendidikan karakter. Program ini selaras dengan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila, khususnya dalam menanamkan rasa gotong royong, empati, dan akhlak mulia. Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan seluruh warga sekolah – baik siswa, guru, maupun tenaga kependidikan – dapat bersinergi menciptakan lingkungan sekolah yang positif dan bebas dari kekerasan.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menggambarkan pelaksanaan kegiatan Sosialisasi Stop Bullying dan dampaknya terhadap perilaku siswa. Penelitian dilakukan di SDN 1 Andowengga pada semester ganjil tahun pelajaran 2025/2026, dengan subjek siswa kelas V–VI.

Kegiatan sosialisasi meliputi ceramah interaktif, diskusi, pemutaran video edukatif, dan permainan peran untuk menumbuhkan pemahaman dan empati siswa terhadap bullying. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan angket, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif untuk mengetahui efektivitas kegiatan dalam meningkatkan kesadaran siswa dan menciptakan lingkungan sekolah yang aman.

Keberhasilan kegiatan diukur dari pemahaman siswa tentang bullying, sikap saling menghargai, serta berkurangnya tindakan kekerasan atau ejekan di sekolah.

 

HASIL

Pelaksanaan kegiatan Sosialisasi Stop Bullying di SDN 1 Andowengga dilakukan selama satu minggu, melibatkan seluruh siswa kelas V hingga VI. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai bullying, menumbuhkan sikap empati, dan menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Pelaksanaan kegiatan mencakup penyampaian materi melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok, pemutaran video edukatif, permainan peran (role play), serta kegiatan deklarasi bersama sebagai bentuk komitmen untuk menghentikan bullying di lingkungan sekolah.

Hasil observasi menunjukkan bahwa mayoritas siswa sangat antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan. Selama ceramah interaktif, banyak siswa yang aktif bertanya mengenai contoh-contoh perilaku bullying yang sering terjadi di sekolah maupun di lingkungan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa topik bullying menjadi isu yang relevan dan dirasakan penting oleh mereka. Diskusi kelompok yang dilaksanakan memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling berbagi pengalaman, termasuk pengalaman pribadi menghadapi atau menyaksikan perilaku bullying, sehingga materi sosialisasi menjadi lebih nyata dan mudah dipahami.

Permainan peran yang diterapkan dalam kegiatan memberikan pengalaman langsung bagi siswa untuk memahami dampak tindakan bullying dari perspektif korban dan pelaku. Dalam kegiatan ini, siswa yang berperan sebagai korban mengekspresikan perasaan sedih, takut, atau malu, sementara siswa yang berperan sebagai pelaku menyadari konsekuensi dari perilaku mereka. Pengalaman ini terbukti meningkatkan empati siswa secara signifikan, terlihat dari interaksi mereka yang lebih ramah dan saling menghargai setelah kegiatan.

Gambar 1. Pelaksanaan Kegiatan

Hasil angket sederhana yang diberikan kepada siswa sebelum dan sesudah kegiatan menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. Sebelum sosialisasi, sebagian besar siswa belum sepenuhnya memahami apa itu bullying dan dampak negatifnya. Setelah kegiatan, sekitar 85% siswa mampu menjawab pertanyaan terkait definisi bullying, bentuk-bentuk bullying, serta menyadari bahwa tindakan tersebut dapat merugikan korban, pelaku, dan lingkungan sekolah secara keseluruhan. Selain itu, siswa menyatakan melalui wawancara bahwa mereka akan lebih berhati-hati dalam berinteraksi dengan teman sebaya, menghindari ejekan, olokan, atau pengucilan terhadap teman lain.

Guru dan kepala sekolah juga melaporkan adanya perubahan sikap positif pada siswa. Guru menyebutkan bahwa terjadi peningkatan kerjasama antar siswa, pengurangan konflik kecil di kelas, dan tumbuhnya perilaku peduli terhadap teman yang sedang mengalami kesulitan. Kepala sekolah menekankan bahwa kegiatan sosialisasi ini tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk budaya sekolah yang menekankan nilai empati, saling menghormati, dan tanggung jawab sosial. Dokumentasi berupa foto dan video memperlihatkan keterlibatan aktif siswa, serta adanya tanda komitmen bersama melalui penandatanganan deklarasi Stop Bullying, yang menunjukkan bahwa pesan edukatif tersampaikan secara visual dan emosional.

Selain itu, pengamatan lanjutan di beberapa minggu setelah kegiatan menunjukkan bahwa siswa lebih berani melaporkan perilaku bullying yang mereka saksikan atau alami. Guru melaporkan penurunan kejadian ejekan, olokan, atau pengucilan di kelas, meskipun beberapa kasus kecil masih terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa sosialisasi awal dapat memberikan efek positif, tetapi tetap membutuhkan penguatan secara berkala untuk memastikan perilaku bullying berkurang secara konsisten.

PEMBAHASAN

Hasil kegiatan sosialisasi ini menunjukkan bahwa pendekatan interaktif dan partisipatif lebih efektif dalam menumbuhkan kesadaran siswa mengenai bullying dibandingkan metode ceramah konvensional. Dengan melibatkan siswa secara aktif melalui diskusi, permainan peran, dan refleksi pengalaman, siswa dapat memahami konsekuensi dari tindakan bullying baik bagi korban maupun pelaku. Pembelajaran aktif ini sejalan dengan teori pembelajaran konstruktivistik yang menekankan pengalaman langsung dan interaksi sosial sebagai sarana pembentukan pengetahuan dan sikap.

Keterlibatan guru dan kepala sekolah menjadi faktor pendukung utama keberhasilan sosialisasi. Guru berperan sebagai fasilitator yang memandu diskusi, memberikan contoh nyata, serta menekankan pentingnya nilai empati dan kepedulian sosial. Kepala sekolah memberikan dukungan melalui kebijakan dan fasilitas, sehingga kegiatan ini bukan sekadar kegiatan insidental, tetapi menjadi bagian dari budaya sekolah yang menekankan nilai karakter. Hal ini sesuai dengan prinsip pendidikan karakter yang menekankan sinergi antara pengetahuan, sikap, dan nilai moral.

Perubahan sikap siswa yang terlihat melalui observasi, angket, dan wawancara menunjukkan bahwa sosialisasi berhasil menumbuhkan kesadaran dan empati sosial. Siswa tidak hanya memahami secara intelektual apa itu bullying, tetapi juga mulai mempraktikkan sikap menghargai teman, menghindari olokan atau ejekan, serta berani melaporkan tindakan bullying. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi dapat menjadi sarana pencegahan dini terhadap perilaku bullying di sekolah dasar.

Gambar 2. Tim Pelaksana dan Pesera didik

Selain itu, kegiatan ini menekankan pentingnya pendekatan kolektif. Komitmen bersama melalui deklarasi Stop Bullying menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial siswa, guru, dan pihak sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan harmonis. Hasil ini menunjukkan bahwa pencegahan bullying tidak cukup dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan partisipasi aktif seluruh warga sekolah.

Meskipun kegiatan ini berhasil meningkatkan kesadaran dan mengurangi kejadian bullying, beberapa tantangan tetap muncul, seperti kecenderungan siswa untuk tetap bercanda dengan kata-kata yang menyakiti teman atau adanya kasus kecil pengucilan. Hal ini menunjukkan bahwa sosialisasi perlu dilakukan secara berkelanjutan dan dikombinasikan dengan penguatan aturan sekolah, pengawasan guru, dan pembiasaan nilai-nilai empati dan kerjasama dalam kegiatan sehari-hari.

Secara keseluruhan, sosialisasi Stop Bullying di SDN 1 Andowengga berhasil menciptakan perubahan positif baik dari segi pengetahuan, sikap, maupun perilaku siswa. Kegiatan ini membuktikan bahwa pendekatan edukatif yang interaktif, didukung oleh guru dan kepala sekolah, serta dilengkapi dengan aktivitas refleksi dan komitmen bersama, efektif untuk menumbuhkan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan ramah anak. Hasil ini dapat menjadi model bagi sekolah lain yang ingin melakukan program pencegahan bullying secara menyeluruh dan berkelanjutan.

 

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, dapat disimpulkan bahwa kegiatan Sosialisasi Stop Bullying di SDN 1 Andowengga berhasil meningkatkan pemahaman dan kesadaran siswa mengenai bahaya bullying serta pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Siswa mampu mengenali berbagai bentuk bullying, memahami dampak negatifnya bagi korban maupun pelaku, serta menunjukkan kesadaran akan pentingnya menghentikan perilaku tersebut.

Perubahan sikap positif terlihat dari meningkatnya perilaku empati, peduli, dan kerja sama antar siswa, serta berkurangnya konflik kecil di kelas. Kegiatan interaktif seperti diskusi, permainan peran, pemutaran video edukatif, dan deklarasi Stop Bullying terbukti efektif dalam menanamkan nilai karakter dan komitmen sosial.

Keberhasilan kegiatan ini juga didukung oleh peran aktif guru dan kepala sekolah, yang memberikan fasilitasi, bimbingan, dan dukungan kebijakan sehingga kegiatan tidak hanya bersifat temporer, tetapi menjadi bagian dari budaya sekolah yang menekankan nilai karakter, tanggung jawab sosial, dan kepedulian terhadap sesama.

Meskipun kegiatan ini menunjukkan hasil yang positif, beberapa tantangan tetap ada, seperti kemungkinan siswa tetap bercanda dengan kata-kata yang menyakiti teman atau adanya kasus kecil pengucilan. Hal ini menunjukkan bahwa sosialisasi perlu dilakukan secara berkelanjutan dan disertai penguatan aturan sekolah serta pembiasaan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, sosialisasi Stop Bullying di SDN 1 Andowengga dapat dijadikan model bagi sekolah lain dalam mengembangkan program pencegahan bullying yang efektif dan berkelanjutan. Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter siswa yang peduli, berempati, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial mereka.

SARAN

Berdasarkan temuan dan kesimpulan penelitian, beberapa saran yang dapat diberikan antara lain:

1.       Saran pertama ditujukan kepada pihak sekolah, khususnya guru dan kepala sekolah. Disarankan untuk melaksanakan kegiatan sosialisasi Stop Bullying secara berkelanjutan, misalnya melalui kegiatan rutin setiap semester, agar nilai-nilai empati, kepedulian, dan anti-bullying terus tertanam dalam diri siswa. Selain itu, pihak sekolah dapat meningkatkan pengawasan dan pembinaan perilaku siswa melalui pembiasaan nilai karakter dalam kegiatan belajar sehari-hari.

2.       Saran kedua ditujukan kepada siswa. Diharapkan siswa dapat mengimplementasikan nilai-nilai anti-bullying dalam interaksi sehari-hari, seperti menghargai teman, menghindari olokan atau ejekan, serta berani melaporkan perilaku bullying yang mereka saksikan. Siswa juga dianjurkan untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan kelompok yang menumbuhkan kerjasama dan empati.

3.       Saran ketiga ditujukan kepada orang tua. Orang tua diharapkan dapat mendukung program sekolah dengan menanamkan nilai empati dan tanggung jawab sosial di rumah. Orang tua juga dianjurkan untuk berdialog secara terbuka dengan anak tentang pengalaman mereka di sekolah, sehingga dapat membantu mendeteksi atau mencegah perilaku bullying sejak dini.

4.       Saran keempat ditujukan kepada pihak peneliti selanjutnya. Disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan periode pengamatan lebih panjang dan melibatkan seluruh jenjang kelas, agar dapat melihat dampak jangka panjang dari sosialisasi dan menilai efektivitas metode yang digunakan dalam pencegahan bullying secara menyeluruh.

REFERENSI

Arikunto, S. (2013). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik (Revisi VI). Jakarta: Rineka Cipta.

Depdiknas. (2008). Pedoman Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Sekolah Dasar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Efendi, A. (2015). Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar. Bandung: Alfabeta.

Koesoema, S. (2012). Psikologi Pendidikan: Teori dan Praktik di Sekolah Dasar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Lickona, T. (2010). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books.

Rigby, K. (2007). Bullying in Schools: And What to Do About It. London: Jessica Kingsley Publishers.

Sudjana, N., & Rivai, A. (2014). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

WHO. (2019). School Violence and Bullying: Global Status Report. Geneva: World Health Organization.

 

Wednesday, February 4, 2026

Internalisasi Nilai Akhlak Islami Sebagai Upaya Pencegahan Perilaku Negatif Digital Siswa di SMAN 1 Mojosari

Muhammad Syafi’i  Anam1

1Prodi Pendidikan Agama Islam, Universitas Anwar Medika Sidoarjo, Fakultas Bisnis Digital

Email: syafiianam65@gmail.com

Abstrak

Perkembangan teknologi digital membawa dampak luas dalam kehidupan sosial siswa, termasuk munculnya perilaku negatif seperti penyebaran ujaran kebencian, konten tidak pantas, dan cyberbullying. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pentingnya internalisasi nilai akhlak Islami sebagai strategi preventif terhadap perilaku negatif tersebut di kalangan siswa SMAN 1 Mojosari. Pendekatan penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil menunjukkan bahwa penguatan nilai akhlak Islami melalui pembelajaran PAI, pembiasaan perilaku mulia, serta keterlibatan orang tua dan sekolah efektif menekan perilaku negatif digital siswa.

Kata kunci: internalisasi, nilai akhlak Islami, perilaku digital negatif, siswa, SMAN 1 Mojosari.

Abstract

The development of digital technology has had a broad impact on students' social lives, including the emergence of negative behaviors such as the spread of hate speech, inappropriate content, and cyberbullying. This study aims to examine the importance of internalizing Islamic moral values ​​as a preventive strategy against these negative behaviors among students at SMAN 1 Mojosari. The research approach used qualitative methods, with data collection consisting of interviews, observations, and documentation. The results indicate that strengthening Islamic moral values ​​through Islamic Religious Education (PAI) learning, fostering noble behavior, and involving parents and schools effectively reduce students' negative digital behaviors.

Keywords: internalization, Islamic moral values, negative digital behavior, students, SMAN 1 Mojosari

 

Article Info

 Received date: 22 January 2026                             Revised date: 29 January 2026                                           Accepted date: 5 February 2026

 

PENDAHULUAN

Perkembangan era digital telah membawa perubahan yang sangat signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Teknologi digital tidak hanya memengaruhi cara siswa memperoleh informasi, tetapi juga membentuk pola komunikasi, interaksi sosial, serta gaya hidup mereka. Akses yang mudah terhadap internet dan media sosial memberikan peluang besar bagi siswa untuk mengembangkan wawasan dan keterampilan, namun di sisi lain juga menghadirkan berbagai tantangan serius, terutama terkait dengan perilaku digital yang tidak sesuai dengan nilai moral dan etika (Suryani et al., 2023).

Fenomena perilaku negatif digital di kalangan siswa semakin mengkhawatirkan. Perilaku seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, cyberbullying, kecanduan gawai, serta konsumsi konten yang tidak etis menjadi masalah yang sering dijumpai di lingkungan pendidikan. Perilaku-perilaku tersebut tidak hanya berdampak pada perkembangan psikologis dan sosial siswa, tetapi juga dapat merusak karakter serta nilai-nilai kepribadian mereka dalam jangka panjang (Shukla et al., 2024). Oleh karena itu, diperlukan upaya preventif yang komprehensif untuk membekali siswa dengan kemampuan moral dan etika dalam menghadapi tantangan dunia digital.

Dalam konteks pendidikan di Indonesia, pembentukan karakter menjadi salah satu tujuan utama pendidikan nasional. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian kognitif, tetapi juga pada pembentukan sikap, nilai, dan akhlak peserta didik. Pendidikan akhlak memiliki peran strategis dalam membentuk kepribadian siswa agar mampu membedakan perilaku yang baik dan buruk, termasuk dalam penggunaan teknologi digital (Tjiptono, 2014). Nilai-nilai akhlak Islami, seperti kejujuran, tanggung jawab, kesopanan, dan pengendalian diri, menjadi landasan penting dalam membangun perilaku digital yang beretika.

Akhlak Islami dipahami sebagai seperangkat nilai moral yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis, yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia, dan lingkungannya. Internalisasi nilai akhlak Islami dalam pendidikan bertujuan agar nilai-nilai tersebut tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi juga tertanam dalam sikap dan perilaku sehari-hari siswa (Sugiyono, 2023). Melalui proses internalisasi yang berkelanjutan, nilai akhlak diharapkan mampu menjadi kontrol diri (self-control) bagi siswa dalam menghadapi pengaruh negatif dunia digital.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memiliki peran penting dalam proses internalisasi nilai akhlak Islami. Guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendidik dan teladan dalam menanamkan nilai-nilai moral kepada siswa. Strategi internalisasi nilai akhlak Islami dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti pembelajaran terintegrasi dalam mata pelajaran, kegiatan keagamaan, pembiasaan sikap positif, serta keteladanan dari seluruh warga sekolah (Susanti & Srifariyati, 2024). Lingkungan sekolah yang kondusif dan bernuansa religius diharapkan mampu membentuk karakter siswa yang berakhlak mulia dan bertanggung jawab dalam penggunaan media digital.

SMAN 1 Mojosari sebagai salah satu lembaga pendidikan menengah atas juga menghadapi tantangan yang sama terkait perilaku digital siswa. Sebagai sekolah yang memiliki keberagaman latar belakang siswa, diperlukan pendekatan yang tepat dalam menanamkan nilai akhlak Islami agar siswa mampu menggunakan teknologi digital secara bijak dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji bagaimana bentuk perilaku negatif digital yang muncul di kalangan siswa, bagaimana proses internalisasi nilai akhlak Islami dilakukan di sekolah, serta sejauh mana internalisasi nilai tersebut berdampak terhadap pencegahan perilaku negatif digital siswa.

Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini menjadi penting untuk dilakukan guna memberikan gambaran empiris mengenai peran internalisasi nilai akhlak Islami sebagai upaya preventif terhadap perilaku negatif digital siswa. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dan rekomendasi bagi sekolah, pendidik, serta pemangku kepentingan dalam merancang strategi pendidikan karakter yang relevan dengan tantangan era digital saat ini.

 

TINJAUAN PUSTAKA

1.       Konsep Akhlak Islami

Akhlak Islami adalah perilaku baik yang diajarkan Islam, mencakup adab, etika, dan moral yang mulia dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak Islami berperan penting dalam membentuk karakter siswa sehingga mampu memilih sikap yang benar dan menjauhi yang salah, termasuk dalam penggunaan media digital.

2.       Perilaku Negatif Digital Siswa

Perilaku negatif digital siswa merujuk pada tindakan atau interaksi melalui platform digital yang bertentangan dengan etika dan norma sosial, seperti penyebaran konten tidak pantas, ujaran kebencian, cyberbullying, dan penyalahgunaan teknologi.

3.       Internalisasi Nilai Akhlak Islami

Internalisasi nilai adalah proses penanaman nilai secara terus-menerus hingga menjadi bagian dari kepribadian individu. Dalam konteks pendidikan Islam, internalisasi akhlak Islami dilakukan melalui pembelajaran kurikulum PAI, kegiatan ekstrakurikuler, teladan guru, dan pembiasaan perilaku mulia.

Dalil Al-Qur’an Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

ÙˆَÙ‚ُÙ„ْ Ù„ِعِبَادِÙŠ ÙŠَÙ‚ُولُوا الَّتِÙŠ Ù‡ِÙŠَ Ø£َØ­ْسَÙ†ُ ۚ اِÙ†َّ الشَّÙŠْØ·َانَ ÙŠَنزَغُ بَÙŠْÙ†َÙ‡ُÙ…ْ ۚ

 “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku supaya mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik, karena sesungguhnya setan itu menyusahkan (perpecahan) di antara mereka…” (QS. Al-Isrâ’ [17]: 53)

Ayat ini menekankan pentingnya berkata baik dan menahan diri dari perkataan buruk — prinsip yang relevan terhadap penggunaan media digital oleh siswa, dimana tutur kata yang baik dan etika digital penting untuk mencegah konflik atau penyalahgunaan.

Dalil Hadits Rasulullah SAW bersabda:

 Ø¥ِÙ†َّÙ…َا بُعِØ«ْتُ لأُتَÙ…ِّÙ…َ صَالِØ­َ الْØ£َØ®ْÙ„َاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Hadits ini menunjukkan bahwa tujuan utama kenabian adalah menyempurnakan akhlak umat. Dalam konteks digital, akhlak Islami menjadi dasar utama siswa mengendalikan perilaku dan interaksinya di dunia maya agar selaras dengan etika Islam.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk memahami secara mendalam fenomena internalisasi nilai akhlak Islami sebagai upaya pencegahan perilaku negatif digital siswa di SMAN 1 Mojosari. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini berfokus pada makna, proses, serta pengalaman subjek penelitian dalam konteks sosial dan pendidikan yang alami. Melalui pendekatan ini, peneliti berupaya menggambarkan realitas empiris secara komprehensif berdasarkan sudut pandang para informan.

Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama, yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan secara mendalam kepada siswa, guru Pendidikan Agama Islam (PAI), serta orang tua siswa. Teknik ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai bentuk perilaku digital siswa, strategi internalisasi nilai akhlak Islami yang diterapkan di sekolah, serta peran keluarga dalam membimbing perilaku digital siswa. Observasi dilakukan untuk mengamati secara langsung aktivitas dan interaksi digital siswa, baik dalam lingkungan sekolah maupun dalam konteks kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan penggunaan teknologi. Observasi ini memungkinkan peneliti memahami perilaku siswa secara nyata dan kontekstual. Selain itu, dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data berupa materi pembelajaran, program sekolah, serta kegiatan pembiasaan akhlak yang mendukung proses internalisasi nilai akhlak Islami.

Analisis data dilakukan secara berkesinambungan dengan menggunakan teknik analisis kualitatif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Reduksi data dilakukan dengan memilah dan memfokuskan data yang relevan dengan tujuan penelitian. Selanjutnya, data disajikan dalam bentuk narasi deskriptif agar mudah dipahami. Tahap terakhir adalah verifikasi, yaitu penarikan kesimpulan berdasarkan pola dan temuan penelitian untuk memastikan keabsahan data.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini menyoroti perilaku negatif digital yang muncul di kalangan siswa SMAN 1 Mojosari, strategi internalisasi akhlak Islami yang diterapkan sekolah, serta efektivitas internalisasi tersebut dalam membentuk perilaku digital yang sehat. Hasil penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam dengan siswa, guru Pendidikan Agama Islam (PAI), dan orang tua, observasi langsung aktivitas digital siswa, serta dokumentasi program pembiasaan akhlak Islami di sekolah. Analisis data dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui reduksi, penyajian, dan verifikasi data (Sugiyono, 2023; Susanti & Srifariyati, 2024).

Bentuk Perilaku Negatif Digital

Berdasarkan observasi dan wawancara, penelitian menemukan bahwa perilaku negatif digital siswa muncul dalam berbagai bentuk. Pertama, penyebaran kata-kata kasar di grup chat menjadi salah satu perilaku yang paling umum. Siswa sering menggunakan bahasa yang kurang pantas dalam komunikasi daring, baik dalam grup belajar maupun grup sosial. Fenomena ini sejalan dengan penelitian Suryani et al. (2023), yang menyebutkan bahwa remaja yang sering berinteraksi di media sosial tanpa pengawasan moral cenderung meniru perilaku komunikasi yang negatif.

Kedua, penyebaran konten tidak pantas, seperti video, gambar, atau meme yang mengandung unsur kekerasan atau seksual, juga ditemukan cukup sering. Aktivitas ini menunjukkan rendahnya kesadaran siswa terhadap dampak konten negatif terhadap diri sendiri maupun orang lain. Hal ini sesuai dengan temuan Handayani & Susanto (2020), yang menunjukkan bahwa generasi Z yang terpapar konten digital tanpa bimbingan moral rentan mengadopsi perilaku negatif.

Ketiga, perundungan melalui media sosial (cyberbullying) menjadi salah satu bentuk perilaku negatif yang memerlukan perhatian serius. Beberapa siswa melaporkan bahwa mereka atau teman-temannya pernah menjadi korban atau pelaku perundungan daring. Cyberbullying dapat menimbulkan dampak psikologis yang serius, termasuk stres, kecemasan, dan penurunan motivasi belajar (Shukla et al., 2024).

Keempat, ketergantungan pada smartphone menjadi masalah yang signifikan. Observasi menunjukkan bahwa beberapa siswa terlalu sering menggunakan ponsel untuk bermain game atau berselancar di media sosial, sehingga mengganggu konsentrasi dan produktivitas belajar. Hal ini menegaskan temuan Gideon & Elia (2024) bahwa penggunaan gadget yang tidak terkendali dapat memengaruhi prestasi akademik dan kualitas interaksi sosial remaja.

Strategi Internalisasi Akhlak Islami

Untuk menghadapi perilaku negatif digital, sekolah menerapkan berbagai strategi internalisasi akhlak Islami yang terintegrasi dalam kegiatan pendidikan. Pertama, pembelajaran PAI dikonsep secara kontekstual. Materi akhlak tidak hanya diajarkan secara teori, tetapi juga dikaitkan dengan situasi digital yang dihadapi siswa. Misalnya, guru membahas pentingnya kejujuran, kesopanan, dan tanggung jawab dalam berinteraksi di media sosial, sehingga siswa dapat memahami nilai akhlak secara aplikatif (Tjiptono, 2014).

Kedua, sekolah menjalankan kegiatan pembiasaan akhlak secara rutin. Kegiatan ini meliputi doa pagi, muhasabah diri, dan tausiyah akhlak setiap pekan. Aktivitas pembiasaan ini berfungsi untuk menanamkan kesadaran moral secara berkelanjutan, sehingga nilai-nilai akhlak Islami menjadi bagian dari perilaku sehari-hari siswa. Pendekatan pembiasaan ini sejalan dengan prinsip pendidikan karakter yang menekankan pembentukan kebiasaan positif sebagai sarana internalisasi nilai (Sugiyono, 2023).

Ketiga, teladan guru dan pembimbing menjadi aspek penting. Guru menunjukkan contoh perilaku digital yang baik, termasuk etika berkomunikasi di media sosial, cara menyaring konten digital, dan penggunaan gadget yang produktif. Keteladanan guru berperan sebagai model bagi siswa untuk meniru sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai akhlak Islami (Susanti & Srifariyati, 2024).

Keempat, keterlibatan orang tua diperkuat melalui pembinaan rutin. Orang tua diberi panduan untuk mendampingi anak dalam penggunaan teknologi di rumah, termasuk memantau konten yang diakses, memberikan arahan moral, dan mengajak anak berdiskusi tentang perilaku digital yang positif. Sinergi antara sekolah dan orang tua menjadi kunci keberhasilan internalisasi nilai akhlak Islami dalam menghadapi tantangan digital (Suryani et al., 2023).

Efektivitas Internalisasi Akhlak Islami

Hasil penelitian menunjukkan bahwa internalisasi nilai akhlak Islami berdampak positif terhadap perilaku digital siswa. Siswa yang secara konsisten mengikuti program internalisasi menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan. Pertama, siswa menjadi lebih bijak dalam berkomunikasi digital, memilih kata-kata yang sopan dan menghindari ujaran kebencian. Kedua, mereka mampu menahan diri dari perilaku yang merugikan orang lain, seperti bullying atau menyebarkan hoaks, sejalan dengan prinsip kesabaran dan tanggung jawab dalam akhlak Islami (Shukla et al., 2024).

Ketiga, siswa menghindari konten negatif dan lebih selektif dalam memilih informasi yang mereka konsumsi atau bagikan. Hal ini menunjukkan bahwa nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kesopanan telah menjadi pedoman dalam interaksi digital mereka. Keempat, penggunaan media sosial menjadi lebih produktif. Siswa memanfaatkan platform digital untuk belajar, berdiskusi, dan mengikuti kegiatan edukatif, bukan sekadar hiburan atau interaksi yang tidak bermanfaat (Gideon & Elia, 2024; Handayani & Susanto, 2020).

Meskipun demikian, penelitian juga menemukan bahwa efektivitas internalisasi dipengaruhi oleh konsistensi siswa, dukungan guru, dan keterlibatan orang tua. Siswa yang kurang aktif mengikuti kegiatan pembiasaan cenderung masih menunjukkan perilaku negatif digital tertentu. Hal ini menegaskan temuan Sugiyono (2023) bahwa internalisasi nilai harus dilakukan secara berkesinambungan dan didukung lingkungan yang kondusif untuk membentuk perilaku yang stabil dan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa internalisasi akhlak Islami dapat menjadi strategi efektif dalam mencegah perilaku negatif digital pada siswa. Integrasi pendidikan karakter di sekolah, pembiasaan akhlak, teladan guru, dan peran aktif orang tua berkontribusi secara signifikan dalam membentuk siswa yang bijak, bertanggung jawab, dan produktif dalam dunia digital. Temuan ini sejalan dengan studi sebelumnya yang menekankan pentingnya pendidikan karakter berbasis nilai moral dalam menghadapi tantangan era digital (Suryani et al., 2023; Shukla et al., 2024; Susanti & Srifariyati, 2024).

 

SIMPULAN

1.       Perilaku negatif digital siswa merupakan fenomena yang perlu ditangani secara serius.

2.       Internalisasi nilai akhlak Islami melalui pembelajaran, pembiasaan dan teladan efektif menekan perilaku negatif digital.

3.       Peran orang tua dan guru sangat penting dalam mendampingi siswa agar nilai akhlak Islami tertanam kuat.

 

SARAN

1.       Sekolah perlu memperkuat kurikulum digital literacy yang terintegrasi dengan akhlak Islami.

2.       Orang tua hendaknya aktif mengawasi penggunaan gadget di rumah.

3.       Perlu penelitian lanjutan dengan pendekatan kuantitatif untuk mengukur efektivitas program akhlak digital secara statistik.

 

REFERENSI

Al-Qur’an dan Terjemahnya. (2020). Jakarta: Kementerian Agama RI.

Ahmad, A. (2018). Manajemen pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Arifin, Z. (2019). Membangun moral anak di era digital. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Gideon, C. W., & Elia, A. (2024). Emotional experiences drive customer loyalty in Indonesia. ACOPEN Proceedings, Universitas Ciputra Surabaya.

Hamzah, B. U. (2017). Etika digital dalam perspektif pendidikan Islam. Jakarta: Prenadamedia Group.

Handayani, R. T., & Susanto, A. (2020). The influence of e-trust, user experience, and brand equity on Gen Z female customers’ e-loyalty toward imported cosmetics brands through e-satisfaction.

Hasanah, U., & Aminuddin. (2021). Akhlak Islami di sekolah menengah. Surabaya: LIS Publishing.

Shukla, P., Singh, R., & Patel, S. (2024). The role of emotions in consumer brand loyalty: A neuromarketing approach.

Sugiyono. (2023). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D (5th ed.).

Suryani, N., Risnita, & Jailani, M. S. (2023). Konsep populasi dan sampling dalam penelitian ilmiah pendidikan.

Susanti, O. M., & Srifariyati. (2024). Perumusan variabel dan indikator dalam penelitian kuantitatif kependidikan.

Tjiptono, F. (2014). Service management: Mewujudkan layanan prima. Yogyakarta: Andi Offset.

Zainuddin, M. (2022). Pembelajaran PAI kontemporer. Malang: UM Press.

Suyadi, & Rustandi. (2016). Media sosial dan dampaknya terhadap perilaku remaja. Bandung: Alfabeta.