Tuesday, February 24, 2026

Implementasi Terapi Komplementer Akupresur Berbasis Geragogy Untuk Meningkatkan Kemandirian Lansia dengan Asam Urat

Implementation of Geragogy-Based Complementary Acupressure Therapy to Improve Independence Among Elderly Individuals with Gout

Popy Irawati, Roswita, Nopi Suci

1,2,3Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Tangerang

Email: popyners@gmail.com

 

Abstrak

Asam urat atau Gout adalah penyakit imflamasi sendi yang banyak dialami lansia dan menyebabkan nyeri kronis serta keterbatasan mobilitas. Pendekatan non farmakologis seperti akupresur dapat menjadi alternatif terapi komplementer yang aman dan mudah dilakukan secara mandiri. Edukasi pada lansia  memerlukan pendekatan khusus yang mempertimbangkan aspek kognitif, sensorik dan psikososial. Model edukasi gerontologi (Geragogy) merupakan pendekatan pembelajaran yang dirancang sesuai karakteristik lansia dengan metode perlahan, pengulangan, visual jelas dan praktik langsung. Kegiatana pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan  meningkatkan pengetahuan dan keterampilan lansia dalam melakukan akupresur untuk mengurangi keluhan asam urat. Kegiatan dilaksanakan di kecamatan Neglasari Kota Tangerang, melalui ceramah interaktif,demontrasi, praktik berulang dan pendampingan secara individual. Evaluasi dilakuka menggunakan pre dan post test dan observasi keterampilan. Hasil menunjukan peningkatan pengetahuan dari kategori rendah menjadi sedang dan tinggi, serta sebagian lansia mampu melakukan keterampilan akupresur secara mandiri. Namun demikian hal ini menjadi langkah awal yang efektif dalam memberikan edukasi berkelanjutan kepada lansia.

Kata kunci: Geragogy. Lansia, akupresur, asam urat, terapi komplementer

Abstract

Gout is an inflammatory joint disease commonly experienced by older adults, causing chronic pain and limitations in mobility. Non-pharmacological approaches such as acupressure can serve as a safe and easy complementary therapy that can be performed independently. Health education for older adults requires a specific approach that considers cognitive, sensory, and psychosocial aspects. The gerontological education model (Geragogy) is a learning approach designed according to the characteristics of older adults, using slow-paced delivery, repetition, clear visual aids, and direct practice. This community service activity aimed to improve the knowledge and skills of older adults in performing acupressure to reduce gout complaints. The program was conducted in Neglasari District, Tangerang City, through interactive lectures, demonstrations, repeated practice, and individual assistance. Evaluation was carried out using pre- and post-tests as well as skills observation. The results showed an increase in knowledge from low to moderate and high categories, and most participants were able to perform acupressure independently. These findings indicate that the geragogy-based approach is an effective initial step for providing sustainable health education for older adults.

Keywords: geragogy, older adults, acupressure, gout, complementary therapy

 

PENDAHULUAN

Asam urat atau Gout merupakan penyakit implamasi sendi akibat deposisi kristal monosodium urat yang sering terjadi pada populasi lanjut usia. Penyakit ini ditandai dengan nyeri akut, pembengkakan dan keterbatasan gerak yang dapat menurunkan kualitas hidup lansia menurut World health organizations (WHO) (2023), gangguan musculoskeletal termasuk gout menjadi salah satu penyebab utama disabilitas pada kelompok usia ≥ 60 tahun secara global. Di Indonesia, prevalensi penyakit sendi pada lansia menunjukan tren peningkatan, terutama di daerah perkotaan (Kemenkes RI, 2023)

Pendekatan non farmakologis semakin direkomendasukan sebagai bagian dari manajemen komprehensif gout. Terapi komplementer seperti akupresur terbukti efektif dalam menurunkan nyeri dan meningkatkan relaksasi otot melalui stimulasi titik meridian tertentu (Chen et al. 2019). Studi nasional juga menunjukan bahwa terapi akupresur mampu menurunkan intensitas nyeri pada lansia dengan gout arthritis secara significant (Mokambu, 2014).

Efektifitas intervensi sangat tergantung pada metode edukasi yang digunakan lansia memiliki karakteristik pembelajaran khusus akibat perubahan kognitif, sensorik dan psikososial. Model pembelajaran geragogy (Elderly learning model) menekankan pendekatan lambat, repetotif, kontekstual dan berbasis pengalaman untuk meningkatkan retensi informasi pada lansia (Glendenning & Battersby, 2018).

Pendekatan berbasis gerontologi terbukti meningkatkan literasi kesehatan dan kemampuan self manajemen pada lansia dengan penyakit kronis ( Nutbean & Llyod, 2021). Oleh karena itu penerapan model edukasi gerontologi dalam pelatiahan akupresur di nilai relevan untuk meningkatkan kemandirian lansia dalam pengelolaan asam urat.

Secara umum tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keteampilan lansia dalam melakukan terapi akomplementer akupresur untuk pengelolaan nyeri asam urat secara mandiri. Secara khusus tujuan kegiatan ini adalah 1) mengidentifikasi tingkat pengetauan lansia tentang asam urat, 2) memberikan edukasi berbasis geragogy mengenai akupresur, 3) melatih keterampilan lansia melalui praktik berulang, 4) mengevaluasi peningkatan pengetahuan dan kemampuan praktik

 

METODE  

            Desain kegiatan ini menggunakan pendekatan deskriptif komunitas dengan model edukasi gerotologi (geragogy), dengan sasaran lansia dengan riwayat keluhan nyeri sendi dan asam urat di Wilayah kecamatan Neglasari KotaTangerang.

Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Desember 2025 yang bertempat di halaman Gedung posyandu/posbindu RW 003 kelurahan Neglasari Kota Tangerang.

Tahapan Kegiatan

A.     Perencanaan :

       Koordinasi dengan kader Lansia, penyusunan Media visual dan alat peraga sederhana.

B.        Pelaksanaan :

1.       Identifikasi pengetahuan secara lisan

2.       Edukasi interaktif 20 menit  

3.       Demontrasi titik akupresur (L14, ST 36, SP6)

4.       Praktik berulang selama 30 menit

5.       Diskusi reflektif

C.        Evaluasi

Post-test dan observasi cheklist keterampilan

HASIL

Karateristik Peserta Kegiatan

Kegiatan pengabdian masyarakat diikuti oleh 25 Lansia dan pra lansia yang berada di wilayah Neglasari. Karakteristik peserta dianalisis berdasarkan usia, jenis kelamin, dan  tingkat Pendidikan untuk mendapatkan gambaran faktor yang mempengaruhi  kejadian Gout.

 

Tabel 1. Karakteristik peserta Kegiatan

Karakteristik

Kategori

n

%

Usia

45–59 tahun

6

24

60–74 tahun

19

76

≥75 tahun

0

0,0

Jenis Kelamin

Perempuan

23

92

Laki-laki

2

8

Pendidikan

Tidak sekolah

10

40

SD

11

44

SMP

1

4,0

SMA

3

12,0

Perguruan tinggi

0

0

 

Dari data diatas dapat dilihat bahwa mayoritas peserta merupakan kategori  lanjut usia (76%) sedangkan yang lainnya  termasuk katagori pra lansia (24%), kedua kelompok usia ini secara fisiologis sudah mengalami penurunan fungsi metabolism dan ekskresi ginjal. Penurunan fungsi tersebut berkontribusi terhadap meningkatnya kadar asam urat dalam darah sehingga risiko Gout semakin tinggi seiring bertambahnya usia.

Pada katagori jenis kelamin di dominasi oleh perempuan yaitu sebanyak 96%, hal ini menunjukan bahwa lansia perempuan cenderung lebuh aktif mengikuti kegiatan kesehatan di komunitas/ secara fisiologis, kejadian asam urat pada perempuan meningkat setelah menopause akibat penurunan estrogen yang sebelumnya berperan dalam membantu ekskresi asam urat melalui ginjal kondisi ini menyebabkan risiko hiperurisemia pada perempuan lansia menjadi lebih tinggi.

Tingkat Pendidikan sebagian besar memilki pendidikan yang rendah (tidak sekolah dam SD sebesar 84 %), tingkat Pendidikan yang rendah berpengaruh terhadap literasi kesehatan terutama dalam memahami pola makan rendah purin, manajemen penyakit kronis serta pemanfaatan terapi non farmakologis. Hal ini menunjukan pentinya penyampaian edukasi dengan metode sederhana, visual dan praktik langsung sesuai prinsip geragogy.

Hasil Statistik  Perubahan Pengetahuan dan Keterampilan

Table 2. Tingkat pengetahuan Akupresur Pre dan Pos tes

Kategori

Pre-test n (%)

Post-test n (%)

Tinggi

1 (4)

6 (24)

Sedang

3 (12)

12 (48)

Rendah

21 (84)

7 (28)

 

Hasil evaluasi menunjukan adanya peningkatan tingkat pengetahuan lansia setelah diberikan edukasi terapi komplementer akupresure berbasis gerontologi. Pada saat pre-test, Sebagian besar peserta berada pada katagori pengetahuan rendah yaitu sebanyak 21 orang (84%), sedangkan kategori sedang sebanyak 3 orang (12%) dan kategori tinggi hanya 1 orang (4%). Kondisi ini menunjukan bahwa pengetahuan awal lansia mengenai asam urat dan terapi komplementer masih sangat terbatas.

Setelah diberikan intervensi edukasi menggunakan pendekatan Geragogy, terjadi peningkatan pengetahuan yang cukup signifikan. Pada post-test jumlah peserta kategori tinggi menjadi 6 orang (24%)m kategori sedang meninfkat menjadi 2 orang (48%), dan katagori rendah menurun menjadi 7 orang (28%).

             Perubahan menunjukan adanya pergeseran tingkat pengeyahuan dari kategori rendah ke sedang dan tinggi. Hasil uji statistik menggunakan Wilcoxon signed rank Test menunjukan adanya perbedaan yang bermakna antara skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi (p < 0,05).

Tabel 3.  Kemampuan Praktik Akupresur setelah Edukasi

Kriteria Keterampilan

n

%

Mampu menentukan titik akupresur dengan benar

23

92%

Mampu melakukan teknik tekanan sesuai prosedur

18

72%

Mampu melakukan secara mandiri tanpa bantuan

15

60%

 

Hasil observasi keterampilan menunjukan bahwa Sebagian besar peserta mampu melakukan tehnik akupresur dengan benar. Sebanyak 92% peserta dapat mengidentifikasi titik akupresur, dan 60% mampu melakukan prosedur secara mandiri. Peserta juga melaporkan penurunan nyeri subjektif setelah praktik, meskipun pengukuran nyeri tidak dilakukan secara kuantitatif.

PEMBAHASAN

Hasil kegiatan menunjukan peningkatan pengetahuan dan keterampilan lansia setelah edukasi berbasis geragogy. Peningkatan ini menunjukan bahwa pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik lansia efektif dalam meningkatkan pemahaman dan kemampuan praktik. Hal ini sejalan dengan teori pembelajaran lansia yang menyatakan bahwa pengulangan dan praktik langsung meningkatkan memori procedural dan retensi jangka Panjang (Glendening & Battersby, 2018).

Pergeseran tingkat pengetahuan yang cukup besar dari kategori rendah ke sedang menunjukan bahwa metode edukasi yang disesuaikan dengan karakteristik lansia efektif dalam meningkatkan pemahaman. Pendekatan pembelajaran yang dilakukan secara perlahan, menggunakan bahasa sederhana, media visual yang jelas, serta praktik langsung membantu lansia dalam memahami informasi kesehatan dengan lebih baik. Pendekatan ini sesuai dengan prinsip geragogy yang menekankan pembelajaran kontekstual, partisipatif dan beoriantasi pada kebutuhan praktis lansia. Studi terbaru menunjukan bahwa pendekatan Pendidikan kesehatan yang disesuaikan dengan karakteristik lansia mampu meningkatkan literasi kesehatan dan kemampuan pengelolaan penyakit kronis srcara mandiri (Yang et al., 2024).

Selain meningkatkan pengetahuan pendekatan gerontologi juga meningkatkan self-eficacy lansia dalam melakukan perawatan mandiri. Literasi kesehatan yang baik berkontribusi terhadap peningkatan kemampuan pengelolaan penyakit kronis secara mandiri. Literasi kesehatan yang baik merupakan faktor penting dalam meningkatkan kemampuan individu untuk mengelola kondisi kesehatan kronis, termasuk dalam pengambilan keputusan terkait perawatan diri (Nutbeam & Llyod, 2021, Zhang et al. 2025), hal ini menunjukan bahwa edukasi tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga membentuk kepercayaan diri lansia untuk melakukan tindakan kesehatan secara mandiri.

Temuan ini sejalan dengan rekomendasi WHO bahwa peningkatan literasi kesehatan pada kelompok usia lanjut memerlukan pendekatan yang kontekstual, sederhana dan partisipatif agar mampu mencapai perubahan perilaku kesehatan yang optimal (Word Health Organization, 2023).

Dari aspek intervensi, terapi komplementer akupresur bekerja melalui stimulasi saraf perifer yang memicu pelepasan endorphin sehingga menurunkan persepsi nyeri dan meningkatkan relaksasi otot (Chen et. al, 2019). Efektifitas akupresur pada lansia juga didukung oleh penelitian sebelumnya. Penelitian di Indonesia menunjukan penurunan signifikansi skala nyeri setelah pemberian terapi  akupresur pada lansia dengan Gout arthritis (Mokambu, 2024). Penelitian lain juga melaporkan bahwa terapi akupresur pada titik tertentu efektif menurunkan nyeri sendi pada lansia dengan Gout (Rajin et al., 2025).

Namun demikian, sebagian besar penelitian terdahulu lebih menekankan pada outcome klinis seperti penurunan nyeri atau kadar asam urat, tanpa memperhatikan proses edukasi yang sesuai dengan karakteristik lansia. Kebaruan kegiatan ini terletak pada integrasi terapi komplementer dengan model edukasi gerotologi yang dirancang sesuai dengan kemampuan kognitif, tingkat Pendidikan, serta kebutuhan belajar lansia. Pendekatan ini memungkinkan peningkatan tidak hanya secara aspek klinis, tetapi juga pada literasi kesehatan dan kemampuan self-care.

Dengan demikian, peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam kegiatan ini tidak hanya mencerminkan keberhasilan proses edukasi, tetapi juga menunjukan potensi penerapan terapi komplementer secara mandiri oleh lansia komunitas.Temuan ini mendukung rekomendasi global bahwa intervensi promotif berbasis komunitas perlu disesuaikan dengan karakteristik kelompok usia sasaran untuk menghasilkan dampak kesehatan yang optimal dan berkelanjutan (Word Health Organization, 2023)

SIMPULAN

Edukasi terapi komplementer akupresur berbasis model gerontologi(geragogy) terbukti efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan lansia dalam melakukan perawatan mandiri pada asam urat. Terjadi peningkatan katagori pengetahuan dari rendah menjadi sedang dan tinggi setelah intervensi.

Pendekatan pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik lansia melalui metode sederhana, visual dan praktik langsung mampu meningkatkan pemahaman serta kepercayaan diri lansia dalam pengelolaan kesehatan secara mandiri. Kegiatan ini menunjukan bahwa integrasi edukasi gerontologi dan terapi komplementer dapat menjadi strategi promotif dan preventif yang efektif di komunitas.

Terapi komplementer akupresur dapat diintegrasikan dalam kegiatan pembinaan lansia di masyarakat sebagai upaya promotif dan preventif. Kegiatan serupa perlu dilakukan secara berkelanjutan dan dikembangkan melalui penelitian lanjutan dengan jumlah sampel yang lebih besar untuk memperkuat bukti efektivitas intervensi serta mendukung program peningkatan kualitas hidup lansia sesuai rekomendasi World Health Organization.

REFERENSI

Chen, M. C., Liu, H. E., Huang, H. Y., & Chiou, A. F. (2019). The effect of acupressure on relieving pain: A systematic review and meta-analysis. Journal of Pain Research, 12, 331–339. https://doi.org/10.2147/JPR.S190090

Glendenning, F., & Battersby, D. (2018). Lifelong learning and the older person: A handbook for educators. Routledge.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Profil kesehatan Indonesia tahun 2022. Kementerian Kesehatan RI.

Mokambu, Z. (2024). Efektivitas teknik pijat akupresur terhadap penurunan kadar asam urat pada penderita gout arthritis di wilayah Puskesmas Bulango Ulu. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah.

Nutbeam, D., & Lloyd, J. E. (2021). Understanding and responding to health literacy as a social determinant of health. Annual Review of Public Health, 42, 159–173. https://doi.org/10.1146/annurev-publhealth-090419-102529

Rajin, M., Urifah, S., Hariyanto, S., & Sa’diyah, M. D. (2025). SP6 acupressure point for reducing joint pain among elderly in Jombang Regency. Jurnal Kesehatan Komunitas Indonesia.

Yang, Y., Yao, X., Lu, D., Wang, Y., Gan, Y., Bao, X., Zhang, J., & Zhang, Q. (2024). Improving the eHealth literacy of older adults: A scoping review. Geriatric Nursing, 60, 128–136. https://doi.org/10.1016/j.gerinurse.2024.02.010

Zhang, C., Mohamad, E., Azlan, A. A., Wu, A., Ma, Y., & Qi, Y. (2025). Social media and eHealth literacy among older adults: A systematic review. Journal of Medical Internet Research, 27, e66058. https://doi.org/10.2196/66058

World Health Organization. (2023). Global report on ageing and health. World Health Organization.

 

 

Harmoni Dalam Keberagaman: Toleransi di Kampung Jawa Muslim Dauh Puri Kaja Denpasar

Harmony in Diversity: Tolerance in the Javanese Muslim Community of Dauh Puri Kaja, Denpasar 

Fina Izzatun Nufus1, Dwi Setianingsih2, Sukri3

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

email: finaizzanufus@gmail.com

Abstrak

Penelitian ini mengkaji praktik toleransi dan keharmonisan yang terwujud dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di Kampung Jawa Muslim, Dauh Puri Kaja, Denpasar. Komunitas ini menjadi contoh keberhasilan hidup berdampingan antara kelompok minoritas Muslim dengan mayoritas Hindu dalam konteks masyarakat multikultural Bali. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan data historis, penelitian ini menelusuri asal-usul komunitas Jawa Muslim, peran tokoh masyarakat, serta bentuk-bentuk interaksi sosial yang mencerminkan nilai-nilai toleransi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harmoni tidak terjadi secara instan, tetapi merupakan hasil dari proses panjang adaptasi, komunikasi lintas budaya, dan kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga kerukunan. Kampung Jawa Muslim menjadi model nyata toleransi berbasis akar budaya lokal dan agama.

Kata kunci: toleransi, komunitas Jawa Muslim, harmoni

Abstract

This study examines the practice of tolerance and harmony that is manifested in the daily lives of the community in Kampung Jawa Muslim, Dauh Puri Kaja, Denpasar. This community is an example of the success of coexistence between the Muslim minority and the Hindu majority in the context of Bali’s multicultural society. Using a descriptive qualitative approach and historical data, this study traces the origins of the Javanese Muslim community, the role of community leaders, and forms of social interaction that reflect the values of tolerance. The results of the study show that harmony does not occur instantly, but is the result of a long process of adaptation, cross-cultural communication, and collective awareness of the importance of maintaining harmony. Kampung Jawa Muslim is a real model of tolerance based on local cultural roots and religion.

Keywords:   tolerance, Javanese Muslim community, harmony

PENDAHULUAN

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keberagaman suku, agama, ras, dan budaya. Di tengah pluralitas ini, tantangan utama yang dihadapi adalah bagaimana membangun dan mempertahankan keharmonisan sosial antar kelompok yang berbeda. Bali, yang dikenal sebagai pusat kebudayaan Hindu di Indonesia, menyimpan dinamika sosial yang menarik, khususnya di wilayah urban seperti Denpasar. Di tengah dominasi budaya dan agama Hindu, terdapat komunitas minoritas seperti masyarakat Jawa Muslim yang berhasil membangun kehidupan berdampingan secara damai.

Kampung Jawa Muslim di Kelurahan Dauh Puri Kaja, Denpasar, menjadi contoh nyata dari praktik toleransi dan kohesi sosial dalam masyarakat majemuk. Keberadaan komunitas ini tidak hanya menggambarkan proses migrasi dan adaptasi kultural, tetapi juga mencerminkan keberhasilan membangun relasi harmonis antara umat Muslim dan Hindu dalam keseharian mereka. Studi tentang kampung ini penting dilakukan untuk melihat bagaimana praktik toleransi tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar dijalankan secara konkret di tingkat akar rumput.

LANDASAN TEORI

Keberagaman merupakan kondisi yang menunjukkan adanya perbedaan dalam masyarakat, baik dari segi agama, suku, budaya, bahasa, maupun adat istiadat. Menurut Koentjaraningrat (2002), masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat majemuk yang hidup dalam keragaman budaya dan etnis. Keberagaman ini dapat menjadi kekuatan bila dikelola dengan baik, namun juga bisa menjadi sumber konflik jika tidak ada sikap saling mengharga. Toleransi adalah sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan, terutama dalam konteks keyakinan dan praktik keagamaan. Menurut Azra (2006), toleransi merupakan fondasi penting dalam menjaga keharmonisan dalam masyarakat plural.

Dalam konteks keberagaman agama, toleransi berarti memberikan ruang bagi setiap individu atau kelompok untuk menjalankan ajaran agamanya tanpa gangguan atau diskriminasi. Harmoni sosial merujuk pada keadaan masyarakat yang hidup rukun, damai, dan saling mendukung satu sama lain meskipun terdapat perbedaan latar belakang. Putnam (2000) menyebutkan bahwa modal sosial, seperti kepercayaan, jaringan sosial, dan norma-norma gotong royong, menjadi kunci terwujudnya harmoni dalam masyarakat yang beragam. Dalam masyarakat multikultural, kelompok minoritas seringkali menghadapi tantangan dalam integrasi sosial. Berry (1997) mengemukakan bahwa integrasi yang berhasil terjadi ketika kelompok minoritas mampu mempertahankan identitas budaya mereka sambil berinteraksi secara harmonis dengan kelompok mayoritas. Kampung Jawa Muslim di tengah masyarakat Bali Hindu merupakan contoh dinamika integrasi ini.

Rumusan Masalah

Bagaimana asal usul terbentuknya komunitas muslim di kampong jawa dan seperti apa keharmonisan dan toleransinya di kampong jawa muslim dauh puri kaja Denpasar.

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menggambarkan secara mendalam dinamika sosial yang terjadi di Kampung Jawa Muslim Dauh Puri Kaja. Data diperoleh melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat, pemuka agama, serta warga setempat dari berbagai latar belakang agama. Selain itu, data sekunder diperoleh dari dokumen arsip kelurahan, catatan sejarah lokal, dan literatur ilmiah terkait multikulturalisme dan toleransi. Teknik analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara induktif. Validitas data dijaga dengan teknik triangulasi sumber dan metode, untuk memastikan keakuratan serta kedalaman informasi yang diperoleh.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sejarah Munculnya Komunitas Jawa Muslim di Kampung Jawa Muslim Dauh Puri Kaja, Denpasaremunculan komunitas Jawa Muslim di Kampung Jawa Muslim, Dauh Puri Kaja, Denpasar, tidak terlepas dari dinamika migrasi penduduk Jawa ke Bali yang sudah berlangsung sejak masa kolonial. Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, banyak masyarakat dari Pulau Jawa, khususnya dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, melakukan perpindahan ke Bali. Motivasi utama mereka adalah untuk mencari kehidupan yang lebih baik, baik sebagai buruh, pedagang, maupun pekerja di sektor informal. Denpasar sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan di Bali menjadi salah satu tujuan utama para migran. Mereka mulai menetap di daerah yang saat ini dikenal sebagai Kampung Jawa Muslim. Lokasi ini strategis, berada di dekat pasar, pusat kota, serta wilayah administratif yang saat itu berkembang pesat. Para pendatang Muslim ini kemudian membentuk komunitas dengan ikatan kultural yang kuat berdasarkan asal daerah dan kesamaan agama. \

Seiring berjalannya waktu, komunitas ini membangun berbagai institusi sosial dan keagamaan seperti masjid, langgar (surau), dan madrasah. Salah satu pilar penting dalam pembentukan identitas komunitas ini adalah pendirian Masjid Baiturrahmah, yang menjadi pusat aktivitas keagamaan sekaligus simbol eksistensi komunitas Muslim di wilayah tersebut. Meskipun awalnya merupakan komunitas minoritas dalam konteks masyarakat Bali yang dominan Hindu, warga Jawa Muslim mampu menjalin hubungan baik dengan masyarakat lokal. Adaptasi budaya dan sikap saling menghormati menjadi kunci keberlangsungan komunitas ini. Mereka tetap mempertahankan identitas keislaman dan budaya Jawa, namun juga terbuka dalam berinteraksi dengan masyarakat adat setempat.Komunitas ini berkembang secara perlahan namun konsisten. Hubungan antargenerasi dijaga melalui pendidikan agama, pelestarian bahasa, serta adat istiadat. Kini, Kampung Jawa Muslim bukan hanya dikenal sebagai kawasan tempat tinggal Muslim, tetapi juga sebagai simbol kerukunan dan keberagaman di tengah masyarakat Bali yang multikultural.

Berdasarkan hasil wawancara dan dokumentasi lokal, diketahui bahwa komunitas ini terbentuk dari gelombang migrasi penduduk Jawa sejak akhir abad ke-19. Mereka datang ke Bali dengan tujuan berdagang, bekerja, dan mencari kehidupan yang lebih baik. Kawasan Dauh Puri Kaja dipilih karena dekat dengan pusat aktivitas ekonomi dan administratif di Denpasar. Keberadaan kampong jawa Denpasar tidak terlepas dari perang puputan-badung 1906. Perang besar-besaran yang melibatkan psukan kerajaan badung melawan belanda. Desa ini pernah menjadi rumah bagi tentara jawa yang berperang bersama para pejuang bali pada saat perang puputan badung desa ini awalnya tidak jauh dari pasar badung, namun pada tahun 1907 lokasi tersebut dipindahkan ke dua lokasi yaitu kampong jawa pemecutan dan kampong jawa Denpasar. 

            Dusun wanasari yang dahulunya dikenal sebagai “Kampung Jawa” mulai terbentu sekitar tahun 19054. Wilayah ini awalnya dihuni oleh para pedagang dari jawa, Madura, Lombok, dan etnis tionghoa yang datang ke bali untuk berdagang dan bekerja di pasar payuk-cikal bakal pasar kumbasari saat ini. Para pedagang ini menetap di sekitar pasar dan memebntuk komunitas yang kemudian dikenal sebagai dusun wanasari. Komunitas jawa muslim di dauh puri kaja umumnya merupakan hasil migrasi dari pulau jawa, terutama jawa timur. Mereka mulai datang ke bali sejak masa colonial belanda hingga masa pascakemerdekaan Indonesia. Alasan utama migrasi adalah karena faktor ekonomi, dengan mencari pekerjaan di bidang sektor perdagangan, pertania, jasa dan pemerintahan.

            Seiring berjalannya waktu, komunitas muslim di dusun wanasari berkembang pesat. Mereka mendirikan masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial. Salah satu masjid yang terkenal adalah masjid baiturrahmah, yang menjadi symbol keberadaan dan kekuatan komunitas muslim di daerah tersebut. Yang dahulunya sebagai masjid jami’ dan sekarang menjadi masjid raya. Masjid baiturrahmah telah menjadi pusat tempat beribadah dan kegiatan kajian bagi umat muslim khususnya di dusun wanasari(kampong jawa). Meskipun disebut “ kampong jawa”, mayoritas penduduknya berasal dari Madura, dengan sekitar 80% dari lebih 10.000 jiwa merupakan keturunan Madura. Nama kampong jawa di gunakan oleh masyarakat bali untuk menyebut pendatang muslim non-muslim secara umum.

            Interaksi antara warga Muslim dan Hindu berjalan secara harmonis. Warga saling menghadiri acara keagamaan dan sosial. Misalnya, saat Hari Raya Galungan dan Kuningan, warga Muslim membantu menjaga lingkungan saat tetangga mereka beribadah. Sebaliknya, saat Idul Fitri, warga Hindu juga hadir mengucapkan selamat dan menjaga kelancaran acara. Bentuk lain dari toleransi tampak pada pelibatan lintas agama dalam kegiatan gotong royong, forum warga, dan kelompok seni budaya. Toleransi antarumat beragama di desa dauh puri kaja yaitu saat melakukan ritual keagamaan antar agama di hari yang sama. Hal ini di sampaikan oleh bapak kusniadi selaku warga dusun wanasari. Kampong jawa di kenal sebagai symbol kerukunan antara umat hindu dan islam di bali. Raja pemecutan, yang beragama hindu menunjukkan toleransi dengan menghibahkan lahan untuk masjid dan memindahkan pura kecil yang sebelumnya berada di lokasi tersebut. Hingga kini, umat islam di kampong jawa dapat mengumandangkan adzan dan menjalankan ibadah dengan bebas, sementara mereka juga menghormati tradisi hindu, seperti kegiatan saat hari raya nyepi.

            Interaksi Sosial Hubungan Bertetangga  Warga Muslim dan Hindu saling berkunjung, saling membantu dalam kegiatan sosial seperti gotong royong, kerja bakti lingkungan, dan pembangunan fasilitas umum. Saat ada hajatan seperti pernikahan atau khitanan, warga lintas agama saling mengundang dan hadir sebagai bentuk solidaritas.  Aktivitas Ekonomi Bersama Pasar Kumbasari yang dekat dengan Kampung Jawa menjadi pusat ekonomi multikultur di Denpasar. Pedagang dari berbagai latar belakang agama dan etnis berinteraksi secara rutin. Banyak warga Kampung Jawa menjalankan usaha kuliner, pakaian, dan kerajinan, yang juga dikonsumsi oleh masyarakat Bali.   Pendidikan dan Sosialisasi Anak-anak dari berbagai latar belakang agama belajar di sekolah umum yang sama. Kegiatan sosial seperti posyandu, PKK, dan pelatihan UMKM dilakukan bersama oleh ibu-ibu Muslim dan Hindu.

            Dusun wanasari dikenal sebagai contoh nyata kehidupan multicultural dan toleransi antarumat beragama di bali. Masyarakat muslim hidup berdampingan secara harmonis dengan masyarakat hindu bali. Tradisi seperti “nejot” (berbagi makanan), lebaran ketupat,dan perayaan maulid nabi menjadi bagian dari kehidupan bersama yang mencerminkan akulturasi budaya. Warga hindu juga ikut serta dalam menyampaikan ucapan selamat dan sampai ada yang hadir saat open house. Beberapa warga hindu ikut membantu persiapan logistic (misalnya pinjam peralatan, bantu, pengaturan lalu lintas) ketika ada acara acara besar islam seperti halnya waktu taraweh bulan Ramadhan dan hari raya idul adha maupun hari rya idul fitri tradisi ini mencerminkan sikap tenggang rasa dan keinginan untuk menjaga silaturrahmi lintas agama.

Komunitas jawa muslim hidup berdampingan secara harmonis dengan masyarakat bali hindu. Mereka menyesuaikan diri dengan budaya lokal, tetapi tetap mempertahankan identitas agamanya. Hal ini menciptakan budaya islam jawa yang unik di tengah masyarakat bali. Masyarakat muslim dan hindu juga bekerja sama dalam kegiatan desa, seperti halnya: penggalangan dana sosial, pembangunan fasilitas umum, penanganan bencana atau situasi darurat.  “kalo disini mbak, rasa toleransinya kuat dan tetap terjaga sudah dari zaman nenek moyang kita, apalagi kalua ada acara keagamaan yang dilaksanakan bersamaan rasa toleransinya sangat terlihat.

Fenomena yang sudah biasa terjadi kalo idul fitri atau bulan Ramadhan bersamaan dengan galungan,kuningan, maupun nyepi sudah biasa, tetapi jika sholat jumat yang harus dilaksanakan di masjid secara berjamaah bersamaan dengan perayaan nyepi yang melakukan ritual catur brata penyepian dengan melakukan amati karya (tidak bekerja) amati geni (tidak menyalakan api/listrik) ya jadi semua akses listrik di matikan wajib di matikan selama 24 jam. Seperti halnya yang terjadi tahun 2023 kemarin itu saat perayaan hari raya nyepi tahun baru saka 1945, malam hari itu sudah dimulai pemadaman, tapi alhamdulillah luar biasanya toleransi disini, perbekel desanya justru mempersilahkan secara langsung untuk melakukan ibadah taraweh di musholla kampong ini, tapi dengan sikap menghargai, kita untuk pengeras suara tidak di bunyikan di luar dan tadarus juga bisa dilaksanakn, tapi beberapa masyarakat lebih memilih sholat di rumah toh itu juga hanya 1 hari saja dalam satahun besok-besoknya juga sudah bisa beribadah di masjid atau di musholla seperti biasa”

            Peran tokoh  masyarakat pemimpin agama (ustad/kyai) mengajarkan nilai-nilai islam dan budaya kepada generasi muda. Deangan memimpin kegiatan keagamaan juga seperti halnya pengajian, sholat berjamaah, maulid nabi, dan hari raya. Yang mana hal tersebut menjadi panutan dalam menjaga akhlak masyarakat. Sesepuh kampong juga terlibat dalam tokoh masyarakat yang mana dapat menjaga nilai-nilai kearifan lokal dan sejarahb komunitas. Berperan sebagai juru damai bila ada konflik internal maupun eksternal Dengan menghubungkan generasi tua dan muda dalam menjaga tradisi. Disini pemuka adat dan tokoh multikultur juga terlibat dalam membangun komunitas lintas agama dan budaya, terutama dengan umat hindu di bali, dengan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya toleransi dan akulturasi budaya. Tokoh masyarakat seperti Kyai Haji Mahfudz dan pemuka adat Hindu setempat memainkan peran penting sebagai jembatan komunikasi. Mereka rutin mengadakan pertemuan lintas agama, dialog budaya, dan sosialisasi nilai-nilai toleransi. Masjid Baiturrahmah menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus tempat berlangsungnya kegiatan sosial lintas komunitas.

            Peran lembaga sosial pengurus takmir menjasi pusat kegiatan keagamaan dan sosial menyelenggarakan pendidikan agama seperti TPQ dan madrasah mengelola kegiatan sosial seperti zakat, sedekah, bantuan untuk fakir miskin. Majelis ta’lim sebagai wadah pendidikan informal untuk ibu-ibu dan bapak-bapak dengan meningkatkan pemahaman keagamaan dan mempererat silaturrahmi. Remaja masjid/karang taruna yang mana hal tersebut di pegang oleh remaja rejama di kampong jawa dengan adanya remaja remaja ini tidk menjadi penghalang dalam mempererat toleransi antar umat beragama yang mana biasanya para remaja ini menggerakkan kegiatan positif bagi anak muda dengan adanya kajian, olahraga, dan bakti sosial, yang mana dengan adanya hal tersebut dapat menjaga remaja dari pengaruh negative lingkungan. Terakhir terdapat lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan komunitas sosial yang mana terdapat beberapa LSM lokal membantu pemberdayaan ekonomi dan pendidikan, terutama bagai keluarga miskin. Dengan adanya memfasiitasi pelatihan kerja, UMKM, dan penyuluhan kesehatan.

            Kronologi Penting Komunitas Jawa Muslim di Dauh Puri Kaja Akhir Abad ke-19 – Awal Abad ke-20 Terjadi migrasi masyarakat Jawa ke Bali, terutama dari daerah Banyuwangi, Jember, dan Probolinggo. Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai pedagang, tukang, dan buruh, lalu menetap di Denpasar. Tahun 1920-an – Pembentukan Komunitas Awal Muncul pemukiman tetap di daerah yang kini disebut Kampung Jawa. Komunitas mulai terorganisir secara sosial dan keagamaan. Mereka membentuk kelompok pengajian serta mulai mendirikan langgar kecil sebagai tempat ibadah. Tahun 1930-an – Pendirian Masjid Pertama Komunitas berhasil mendirikan masjid sederhana sebagai pusat keagamaan. Ini menjadi fondasi terbentuknya identitas kolektif warga Muslim di wilayah tersebut. Tahun 1940–1950-an – Konsolidasi dan Perluasan Komunitas Setelah kemerdekaan Indonesia, komunitas Jawa Muslim mulai tumbuh pesat.

Muncul generasi kedua yang mulai mendapat pendidikan formal dan melanjutkan kiprah di berbagai sektor. Tahun 1970–1990-an – Revitalisasi Identitas dan Relasi Sosial Komunitas semakin mantap dengan pembangunan infrastruktur keagamaan seperti Masjid Baiturrahmah. Hubungan harmonis dengan masyarakat Hindu sekitar terus diperkuat melalui kerja sama sosial dan dialog lintas agama. Tahun 2000-an – Kini Kampung Jawa Muslim menjadi kawasan simbol keberagaman religius dan budaya di Denpasar. Komunitas aktif dalam forum kerukunan umat beragama dan menjadi percontohan hidup damai dalam perbedaan. Tokoh-tokoh Berpengaruh H. Ahmad Dahlan (tokoh lokal, bukan pendiri Muhammadiyah) Seorang tokoh yang berjasa dalam membangun masjid pertama dan mengorganisir pengajian serta pendidikan agama informal di komunitas. Kyai Haji Mahfudz Pemuka agama generasi awal yang banyak berperan dalam memperkuat identitas keislaman dan menjembatani hubungan baik dengan tokoh adat setempat. H. Idris Wahid Tokoh masyarakat modern yang berkontribusi besar dalam memperluas kegiatan sosial dan pendidikan komunitas, serta menjadi perwakilan dalam forum lintas agama di Denpasar. I Gusti Ngurah Oka dan tokoh Hindu lokal lainnya Meskipun bukan bagian dari komunitas Muslim, tokoh-tokoh Hindu ini sangat berperan dalam menciptakan iklim toleransi dan kerja sama antarkomunitas.

SIMPULAN

            Kampung Jawa Muslim di Dauh Puri Kaja, Denpasar, merupakan cerminan nyata dari keberhasilan membangun harmoni dalam masyarakat majemuk. Berangkat dari sejarah migrasi masyarakat Jawa Muslim pada akhir abad ke-19, komunitas ini tumbuh dan berkembang di tengah lingkungan mayoritas Hindu dengan menjunjung tinggi nilai toleransi, dialog, dan kerja sama. Toleransi yang terbangun di kampung ini tidak semata-mata bersifat formal atau simbolik, tetapi terwujud dalam interaksi sosial sehari-hari, mulai dari kegiatan keagamaan hingga solidaritas dalam kehidupan bermasyarakat. Keberadaan lembaga keagamaan seperti masjid dan peran aktif tokoh-tokoh agama maupun masyarakat menjadi fondasi kuat bagi terciptanya iklim damai dan saling menghargai. Kampung Jawa Muslim bukan hanya mempertahankan identitas budaya dan keagamaannya, tetapi juga menunjukkan kemampuan beradaptasi serta hidup berdampingan secara harmonis dengan komunitas lokal. Hal ini menjadikan kampung ini sebagai model praktik toleransi yang relevan, terutama dalam konteks Indonesia sebagai negara yang kaya akan keberagaman.     Dengan demikian, harmoni di Kampung Jawa Muslim bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, melainkan hasil dari proses sejarah, kesadaran sosial, serta komitmen bersama dalam menjaga perdamaian dan memperkuat rasa kebersamaan di tengah perbedaan.

UCAPAN TERIMAKASIH

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan penulisan ini dengan baik. Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan dalam proses penyusunan karya ini, terutama: Tokoh masyarakat dan warga Dusun Wanasari, Desa Dauh Puri Kaja, yang telah bersedia berbagi informasi, pengalaman, dan pandangan mereka tentang kehidupan sosial dan praktik toleransi antarumat beragama di lingkungan mereka. Para narasumber dan akademisi yang penelitiannya menjadi referensi penting dalam penulisan ini. Guru, dosen pembimbing, dan teman-teman diskusi, yang memberikan masukan, semangat, dan kritik membangun selama proses penyusunan. Keluarga dan sahabat, atas doa, dukungan moral, dan waktu yang mereka berikan. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat, memperluas wawasan, dan menjadi inspirasi dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang harmonis dalam keberagaman.

REFERENSI

Geertz, C. (1960). The Religion of Java. University of Chicago Press.

Hefner, R. W. (2000). Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia. Princeton University Press.

Suwondo, E. (2018). Toleransi antar umat beragama di Bali: Studi kasus hubungan Muslim dan Hindu. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 9(2), 134-145.

Suyanto, B. (2005). Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan. Prenada Media.

Badan Pusat Statistik Kota Denpasar. (2020). Data Kependudukan Kecamatan Denpasar Utara.

Wawancara dengan H. Idris Wahid, Tokoh Masyarakat Kampung Jawa Muslim, Denpasar, 2024.

Pemerintah Kelurahan Dauh Puri Kaja. (2023). Profil Kampung Jawa Muslim.

Sumadi et al., “Pendidikan Toleransi Dan Praktik Beragama Masyarakat  Di Kampung Jawa Bali”

Wawancara Dengan Kusnadi Abdillah , Pada 16 April 2025 , n.d.

  

Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin

Volume 4, Nomor 1,  2026, P. 14-19

E-ISSN: 2986-6340

Licenced by CC BY-SA 4.0                                                 

DOI:  https://doi.org/10.5281/zenodo.18239039 

Optimalisasi Edukasi UMKM untuk Pengembangan Ekonomi Lokal di Desa Bataguh Pulai Kupang Kabupaten Kapuas Kalteng

Optimizing MSME Education for Local Economic Development in Bataguh Pulai Kupang Village, Kapuas Regency, Central Kalimantan 

1Ana Sofia Herawati*, 2Fanlia Adiprimadana Sanjaya, 3Dewi Lesmanawati, 4Teguh Wicaksono, 5Rr Ariessanty Alicia Kusuma Wardhani, 6Muhammad Rizky Yazidi, 7Gulfin Susandi

1-7Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin

*Email Korespondensi: anasofia.herawati@gmail.co 

Abstrak

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengoptimalkan edukasi dan penguatan kapasitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam rangka pengembangan ekonomi lokal di Desa Bataguh, Pulau Kupang, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Potensi UMKM di desa ini cukup beragam, meliputi produk lukah (alat tangkap ikan tradisional), lanjung atau bakul anyaman, serbuk kencur, kerupuk, keripik, serta dodol. Namun demikian, pengembangan usaha masih menghadapi berbagai kendala utama seperti keterbatasan permodalan, lemahnya akses pemasaran, rendahnya literasi digital, serta keterbatasan kualitas sumber daya manusia (SDM). Metode pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif melalui tahapan survei awal, pelatihan, pendampingan, dan evaluasi. Materi pelatihan meliputi manajemen usaha mikro, strategi pemasaran konvensional dan digital, pencatatan keuangan sederhana, serta peningkatan kualitas produk dan kemasan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta terhadap manajemen usaha, pentingnya branding dan pemasaran digital, serta kesadaran untuk membentuk kelompok usaha bersama. Kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap motivasi dan kesiapan pelaku UMKM dalam mengembangkan usaha berbasis potensi lokal. Optimalisasi edukasi UMKM terbukti menjadi strategi efektif dalam mendorong penguatan ekonomi lokal berbasis komunitas.

Kata kunci: Optimalisasi, Edukasi UMKM, Pengembangan Ekonomi Lokal

Abstract

This community service activity aims to optimize education and strengthen the capacity of Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) in developing the local economy in Bataguh Village, Pulau Kupang, Kapuas Regency, Central Kalimantan. The MSME potential in this village is quite diverse, including lukah (traditional fish traps), lanjung or woven baskets, kencur powder, crackers, chips, and dodol. However, business development still faces several major challenges such as limited capital, weak market access, low digital literacy, and limited human resource capacity. The implementation method used a participatory approach through initial surveys, training, mentoring, and evaluation stages. The training materials included micro business management, conventional and digital marketing strategies, simple financial bookkeeping, and product and packaging quality improvement. The results of the activity indicate an increase in participants’ understanding of business management, the importance of branding and digital marketing, and awareness of forming joint business groups. This activity has had a positive impact on the motivation and readiness of MSME actors to develop businesses based on local potential. The optimization of MSME education has proven to be an effective strategy in strengthening community-based local economic development.

Keywords: Optimization, MSME Education, Local Economic Development

PENDAHULUAN

Desa Bataguh di wilayah Pulau Kupang, Kabupaten Kapuas, merupakan daerah dengan potensi ekonomi kreatif yang tinggi. Secara turun-temurun, masyarakat setempat memiliki keahlian dalam membuat alat tangkap ikan tradisional seperti lukah dan kerajinan anyaman berupa lanjung atau bakul. Selain kerajinan, sektor pengolahan pangan juga berkembang dengan produk unggulan seperti serbuk kencur, berbagai jenis kerupuk, keripik, dan dodol. Meskipun memiliki variasi produk yang melimpah, UMKM di Desa Bataguh masih menghadapi tantangan klasik yang menghambat eskalasi bisnis.

Faktor permodalan menjadi kendala utama dalam pengadaan bahan baku dan alat produksi modern. Dari sisi pemasaran, produk masih bergantung pada pembeli lokal atau tengkulak, karena rendahnya literasi digital yang membuat mereka belum mampu memanfaatkan platform e-commerce. Selain itu, keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dalam hal manajemen usaha dan inovasi kemasan menyebabkan produk sulit bersaing di pasar yang lebih luas. Melihat permasalahan tersebut, kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh tim dosen dan mahasiswa dari perguruan tinggi hadir sebagai bentuk nyata kontribusi akademik terhadap penguatan masyarakat. Melalui serangkaian kegiatan seperti edukasi, pelatihan dan pendampingan, diharapkan pelaku UMKM mampu meningkatkan perekonomian lokal.

Selain sebagai upaya peningkatan taraf hidup masyarakat lokal, kegiatan ini juga menjadi langkah awal dalam menciptakan model pemberdayaan masyarakat yang berbasis potensi lokal. Pelibatan aktif masyarakat dalam setiap proses kegiatan menjadi kunci agar program ini tidak bersifat top-down, melainkan berbasis kebutuhan dan kekuatan internal komunitas. Dengan demikian, hasil kegiatan diharapkan tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga mampu menumbuhkan kesadaran kolektif dan perubahan perilaku yang berkelanjutan dalam meningkatkan perekonomian lokal.

Pengembangan ekonomi lokal merupakan salah satu strategi penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. UMKM memiliki peran strategis dalam menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan rumah tangga, serta memperkuat ketahanan ekonomi berbasis komunitas. Desa Bataguh Pulau Kupang, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, memiliki potensi UMKM yang cukup beragam. Produk unggulan masyarakat meliputi: Lukah (alat tangkap ikan tradisional), Lanjung atau bakul anyaman rotan, serbuk kencur, kerupuk dan keripik tradisional, serta dodol olahan local.

Produk-produk tersebut mencerminkan kekayaan sumber daya alam dan keterampilan tradisional masyarakat. Namun demikian, potensi tersebut belum berkembang secara optimal akibat beberapa permasalahan utama, yaitu: keterbatasan permodalan usaha, akses pemasaran yang masih terbatas, rendahnya literasi digital, keterbatasan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dalam manajemen usaha, dan kemasan dan branding produk yang masih sederhana.

Sebagian besar pelaku UMKM masih menjalankan usaha secara tradisional tanpa pencatatan keuangan yang sistematis. Produk dipasarkan secara lokal dan belum memanfaatkan media digital secara maksimal. Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan intervensi melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada optimalisasi edukasi UMKM sebagai upaya penguatan ekonomi lokal berbasis potensi desa.

Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan kapasitas manajemen usaha pelaku UMKM, meningkatkan literasi digital dan strategi pemasaran, mendorong terbentuknya kelompok usaha bersama, dan meningkatkan nilai tambah produk local agar mampu berdaya saing luas.

METODE

Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2025 di Desa Bataguh, Pulau Kupang, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Mitra kegiatan adalah pelaku UMKM yaitu para pengrajin alat tangkap ikan, pengrajin anyaman, dan ibu-ibu penggerak UMKM pangan. Lokasi ini dipilih berdasarkan pertimbangan potensi sumber daya lokal yang tinggi namun belum dikelola secara optimal, serta adanya keterbukaan masyarakat terhadap inisiatif pemberdayaan yang datang dari luar. Program ini melibatkan tim pelaksana yang terdiri atas dosen dan mahasiswa dari perguruan tinggi, serta berkolaborasi dengan aparatur desa setempat dalam pelaksanaan teknis kegiatan.

Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pendekatan partisipatif dan pemberdayaan komunitas (community empowerment approach), pendekatan ini dipilih karena menempatkan masyarakat sebagai subjek sekaligus mitra aktif dalam seluruh proses kegiatan, mulai dari identifikasi masalah hingga evaluasi hasil dimana masyarakat tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga menjadi bagian aktif dalam setiap proses pelatihan maupun edukasi dan diskusi. Selain itu pendekatan ini dipilih untuk membangun rasa kepemilikan masyarakat terhadap program yang dijalankan, sekaligus memperkuat keberlanjutan hasil kegiatan setelah program berakhir. Seluruh proses dilakukan secara interaktif, dengan melibatkan dialog dua arah, studi kasus, praktik langsung, dan refleksi kelompok.

Metode pelaksanaan dibagi dalam tiga tahapan utama, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi:

a)    Tahap Persiapan

Tahap persiapan merupakan fase awal yang sangat menentukan keberhasilan kegiatan pengabdian. Pada tahap ini, tim pelaksana melakukan survei lapangan dan observasi langsung untuk memetakan potensi ekonomi lokal serta mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi pelaku UMKM. Observasi dilakukan melalui kunjungan ke rumah produksi pengrajin lukah, lanjung/bakul anyaman, serta produsen olahan pangan seperti serbuk kencur, kerupuk, keripik, dan dodol.

Selain observasi, dilakukan pula wawancara dengan pelaku usaha dan perangkat desa guna memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi usaha, kendala produksi, akses pasar, serta kemampuan manajerial. Dari hasil identifikasi tersebut ditemukan bahwa permasalahan utama meliputi keterbatasan modal usaha, lemahnya strategi pemasaran, rendahnya literasi digital, minimnya pencatatan keuangan yang sistematis, serta keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dalam hal manajemen usaha dan inovasi kemasan.

Tahap persiapan juga mencakup koordinasi formal dengan pemerintah desa dan tokoh masyarakat setempat untuk memperoleh dukungan administratif serta memastikan partisipasi aktif masyarakat. Dalam fase ini, tim menyusun modul pelatihan berbasis kebutuhan (need-based training module) yang dirancang sesuai dengan karakteristik dan kapasitas peserta. Materi disusun dengan pendekatan aplikatif dan kontekstual agar mudah dipahami serta langsung dapat diterapkan.

Dengan demikian, tahap persiapan tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menjadi proses analisis kebutuhan (needs assessment) yang bertujuan untuk memastikan bahwa intervensi yang dilakukan benar-benar relevan dan tepat sasaran.

b)   Tahap Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan merupakan inti dari kegiatan pengabdian yang dilaksanakan selama tiga hari secara bertahap dan sistematis. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan meliputi ceramah interaktif, diskusi kelompok, studi kasus, simulasi, serta praktik langsung. Kombinasi metode ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konseptual sekaligus keterampilan praktis peserta.

1)      Hari Pertama: Penguatan Manajemen UMKM

Pada hari pertama, kegiatan difokuskan pada penguatan kapasitas manajemen usaha. Materi yang disampaikan meliputi konsep dasar kewirausahaan, analisis peluang usaha berbasis potensi lokal, serta pentingnya inovasi produk untuk meningkatkan daya saing. Peserta diajak untuk mengidentifikasi keunggulan produk masing-masing dan menganalisis potensi pengembangannya.

Diskusi dilakukan secara partisipatif dengan menggali pengalaman peserta dalam menjalankan usaha. Tim fasilitator membantu peserta memahami pentingnya perencanaan usaha, pengendalian biaya, serta peningkatan kualitas produk sebagai strategi keberlanjutan usaha. Pada sesi ini juga dilakukan identifikasi sederhana terhadap kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (analisis SWOT) usaha peserta.

Selanjutnya, peserta memperoleh pelatihan inovasi produk dan pengembangan kemasan sebagai strategi menghadapi persaingan pasar yang lebih luas. Materi mencakup pentingnya branding, desain kemasan yang menarik dan higienis, serta pencantuman label dan identitas produk sebagai nilai tambah. Peserta melakukan praktik sederhana merancang konsep kemasan dan simulasi promosi digital menggunakan media sosial. Melalui pendekatan learning by doing, kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kompetensi SDM, memperbaiki tampilan produk, serta memperluas akses pemasaran sehingga produk UMKM lebih kompetitif dan berkelanjutan.

2)      Hari Kedua: Pemasaran dan Literasi Digital

Hari kedua difokuskan pada strategi pemasaran dan peningkatan literasi digital. Materi diawali dengan pemahaman tentang pentingnya branding, kemasan produk, serta penentuan segmen pasar. Peserta diberikan contoh konkret perbandingan produk dengan kemasan sederhana dan kemasan yang lebih menarik untuk menunjukkan pengaruh tampilan terhadap minat beli konsumen.

Selanjutnya, dilakukan pelatihan pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi. Peserta diperkenalkan pada penggunaan WhatsApp Business, Facebook Marketplace, dan Instagram sebagai media pemasaran digital. Simulasi dilakukan dengan praktik langsung membuat foto produk yang menarik, menyusun deskripsi produk, serta membuat konten promosi sederhana.

Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran bahwa pemasaran digital tidak selalu membutuhkan biaya besar, tetapi memerlukan kreativitas dan konsistensi. Pelatihan ini juga mendorong peserta untuk mulai membangun jejaring pemasaran di luar wilayah desa.

3)      Hari Ketiga: Pengelolaan Keuangan Usaha

Hari ketiga difokuskan pada pelatihan pengelolaan keuangan usaha secara sederhana namun sistematis. Materi mencakup pencatatan pemasukan dan pengeluaran, pemisahan keuangan pribadi dan usaha, serta perhitungan harga pokok produksi (HPP). Peserta diberikan contoh format pencatatan keuangan sederhana yang mudah diterapkan.

Dalam sesi praktik, peserta diminta mensimulasikan perhitungan biaya produksi produk mereka masing-masing, termasuk bahan baku, tenaga kerja, dan biaya operasional lainnya. Melalui latihan ini, peserta mulai memahami pentingnya menentukan harga jual yang tidak hanya menutup biaya, tetapi juga memberikan keuntungan yang wajar.

Tahap pelaksanaan secara keseluruhan berlangsung dalam suasana interaktif dan dialogis. Peserta menunjukkan antusiasme tinggi, yang terlihat dari aktifnya sesi tanya jawab serta keterlibatan dalam praktik langsung.

c)    Tahap Evaluasi

Tahap evaluasi dilakukan untuk mengukur tingkat pemahaman peserta serta efektivitas kegiatan pengabdian. Evaluasi dilakukan secara kualitatif dan partisipatif melalui diskusi reflektif dan pengisian kuesioner sederhana. Peserta diminta menyampaikan kesan, pemahaman yang diperoleh, serta rencana tindak lanjut setelah pelatihan.

Selain itu, tim pelaksana juga melakukan observasi terhadap perubahan pola pikir dan sikap peserta selama kegiatan berlangsung. Indikator keberhasilan tidak hanya dilihat dari aspek kognitif (peningkatan pengetahuan), tetapi juga dari aspek afektif dan motivasional, seperti meningkatnya kepercayaan diri dan semangat untuk mengembangkan usaha.

Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman terkait manajemen usaha, pemasaran digital, dan pencatatan keuangan. Beberapa peserta menyatakan komitmen untuk mulai menerapkan pencatatan keuangan dan mencoba promosi melalui media sosial. Namun demikian, evaluasi juga menunjukkan perlunya pendampingan lanjutan, khususnya dalam aspek akses permodalan dan konsistensi penerapan digital marketing.

Tahap evaluasi ini sekaligus menjadi dasar rekomendasi untuk program tindak lanjut, seperti pembentukan kelompok usaha bersama dan pendampingan berkelanjutan berbasis kemitraan dengan pemerintah daerah maupun lembaga keuangan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

            Hasil dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menunjukkan dampak positif yang signifikan, dari sisi pengetahuan dan kemampuan SDM dalam meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan serta kemampuan pelaku UMKM dalam memotivasi diri meningkatkan perekonomian lokal.

1)    Pengembangan Produk Kerajinan (Lukah dan Lanjung)

Berdasarkan hasil kunjungan dan edukasi pengrajin lukah dan lanjung/bakul memiliki keterampilan teknis yang sangat baik. Namun, produk ini sering dianggap sebagai barang komoditas biasa dengan nilai tawar rendah. Melalui edukasi, para pengrajin didorong untuk melakukan diversifikasi fungsi (misal: bakul sebagai wadah hantaran estetis) untuk meningkatkan nilai jual.

Produk seperti lanjung/bakul dan lukah memiliki potensi sebagai produk khas daerah. Setelah pelatihan, peserta mulai menyadari pentingnya: kemasan yang menarik, label produk, foto produk yang baik, promosi melalui media sosial. Beberapa peserta mulai mencoba memasarkan produk melalui platform digital sederhana.

Selain itu peserta menunjukkan peningkatan pemahaman terkait pentingnya manajemen usaha yang sistematis. Pelaku UMKM mulai memahami pentingnya pencatatan keuangan dan perhitungan biaya produksi dalam menentukan harga jual.

2)      Optimalisasi Produk Olahan Pangan

Produk seperti serbuk kencur, kerupuk, keripik, dan dodol telah diproduksi secara konsisten. Fokus edukasi di sini adalah pada standardisasi kemasan. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa produk pangan sudah mulai dikemas dengan toples dan plastik pouch, namun perlu penguatan pada labelisasi (P-IRT, Halal) dan informasi nilai gizi agar dapat masuk ke pasar ritel modern.

3)      Mengatasi Kendala Permodalan dan SDM serta Kesadaran Literasi Digital

Tim pengabdian memberikan wawasan mengenai akses pembiayaan mikro dan pentingnya pembukuan sederhana. Sebelumnya, sebagian besar pelaku UMKM belum memanfaatkan teknologi digital. Setelah pelatihan, peserta memahami bahwa digitalisasi dapat memperluas jangkauan pasar tanpa biaya besar. Untuk kendala SDM dan literasi digital, kaum muda di desa dilibatkan untuk membantu para orang tua dalam mengoperasikan media sosial sebagai alat promosi, sehingga tercipta regenerasi pengelolaan UMKM.

4)      Identifikasi Permasalahan Utama

Walaupun terdapat peningkatan pengetahuan, beberapa tantangan tetap menjadi perhatian seperti: akses permodalan masih terbatas, belum adanya koperasi atau kelompok usaha formal, infrastruktur internet yang belum stabil, SDM yang masih perlu pendampingan berkelanjutan.

Dokumentasi Kegiatan

Gambar 1. Pengolahan hasil alam menjadi lukah (alat menangkap ikan)

Gambar 2. Penyuluhan dan Pengolahan hasil alam menjadi lukah (alat menangkap ikan) 

Gambar 3. Pengolahan hasil alam menjadi lanjung (Alat untuk membawa/mengangkut hasil panen atau barang)

Gambar 4. Produk UMKM dari Pengolahan hasil alam menjadi serbuk kencur 

SIMPULAN

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berhasil memetakan masalah utama UMKM di Desa Bataguh, Pulau Kupang, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah yaitu pada aspek permodalan, pemasaran, dan digitalisasi serta peningkatan kualitas SDM. Kegiatan ini menunjukkan bahwa optimalisasi edukasi UMKM dapat menjadi strategi efektif dalam pengembangan ekonomi lokal. Warga mulai menyadari bahwa produk tradisional seperti lukah dan produk pangan seperti serbuk kencur memiliki potensi ekonomi besar jika dikelola dengan manajemen yang lebih modern dan didukung literasi digital yang memadai. Agar dampak dari kegiatan ini dapat terus berlanjut dan berkembang, diperlukan beberapa langkah lanjutan:

a)       Perlu adanya program lanjutan (tidak sekali selesai), untuk memantau penerapan materi edukasi serta pelatihan lanjutan berdasarkan permintaan dari masyarakat.

b)      Adopsi Digital Marketing Secara Konsisten, UMKM diharapkan tidak hanya sekadar memiliki media sosial, tetapi aktif menggunakannya (Facebook/Instagram/TikTok) untuk mempromosikan produk lokal.

c)       Pembentukan koperasi desa khusus UMKM untuk mengatasi masalah permodalan secara kolektif.

d)      Integrasi ke BUMDes, data UMKM seperti produk unggulan sebaiknya diintegrasikan ke Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk pemasaran kolektif.

 

REFERENSI

Badan Pusat Statistik Kabupaten Kapuas. (2024). Kecamatan Bataguh dalam Angka.

Kementerian Koperasi dan UKM. (2022). Strategi Penguatan UMKM Nasional. Jakarta.

Kuncoro, M. (2012). Perencanaan Daerah: Bagaimana Membangun Ekonomi Lokal, Kota, dan Kawasan? Erlangga.

Nasdian, F.T. (2014). Pemberdayaan Masyarakat: Teori dan Praktik. Jakarta: Kencana.

Nasution, N., dkk. (2020). Literasi Digital Bagi Pelaku UMKM. Jurnal Pengabdian Masyarakat.

Robbins, S. P., & Coulter, M. (2017). Management (14th ed.). Pearson Education.
Suharto, E. (2005). Pembangunan Masyarakat: Teori dan Strategi. Bandung: Refika Aditama.

Tambunan, T. T. H. (2012). Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Indonesia: Isu-isu Penting. LP3ES.
World Bank. (2020). Small and Medium Enterprises and Economic Development. Washington DC.