Harmony in Diversity: Tolerance in the Javanese Muslim Community of Dauh Puri Kaja, Denpasar 

Fina Izzatun Nufus1, Dwi Setianingsih2, Sukri3

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

email: finaizzanufus@gmail.com

Abstrak

Penelitian ini mengkaji praktik toleransi dan keharmonisan yang terwujud dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di Kampung Jawa Muslim, Dauh Puri Kaja, Denpasar. Komunitas ini menjadi contoh keberhasilan hidup berdampingan antara kelompok minoritas Muslim dengan mayoritas Hindu dalam konteks masyarakat multikultural Bali. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan data historis, penelitian ini menelusuri asal-usul komunitas Jawa Muslim, peran tokoh masyarakat, serta bentuk-bentuk interaksi sosial yang mencerminkan nilai-nilai toleransi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harmoni tidak terjadi secara instan, tetapi merupakan hasil dari proses panjang adaptasi, komunikasi lintas budaya, dan kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga kerukunan. Kampung Jawa Muslim menjadi model nyata toleransi berbasis akar budaya lokal dan agama.

Kata kunci: toleransi, komunitas Jawa Muslim, harmoni

Abstract

This study examines the practice of tolerance and harmony that is manifested in the daily lives of the community in Kampung Jawa Muslim, Dauh Puri Kaja, Denpasar. This community is an example of the success of coexistence between the Muslim minority and the Hindu majority in the context of Bali’s multicultural society. Using a descriptive qualitative approach and historical data, this study traces the origins of the Javanese Muslim community, the role of community leaders, and forms of social interaction that reflect the values of tolerance. The results of the study show that harmony does not occur instantly, but is the result of a long process of adaptation, cross-cultural communication, and collective awareness of the importance of maintaining harmony. Kampung Jawa Muslim is a real model of tolerance based on local cultural roots and religion.

Keywords:   tolerance, Javanese Muslim community, harmony

PENDAHULUAN

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keberagaman suku, agama, ras, dan budaya. Di tengah pluralitas ini, tantangan utama yang dihadapi adalah bagaimana membangun dan mempertahankan keharmonisan sosial antar kelompok yang berbeda. Bali, yang dikenal sebagai pusat kebudayaan Hindu di Indonesia, menyimpan dinamika sosial yang menarik, khususnya di wilayah urban seperti Denpasar. Di tengah dominasi budaya dan agama Hindu, terdapat komunitas minoritas seperti masyarakat Jawa Muslim yang berhasil membangun kehidupan berdampingan secara damai.

Kampung Jawa Muslim di Kelurahan Dauh Puri Kaja, Denpasar, menjadi contoh nyata dari praktik toleransi dan kohesi sosial dalam masyarakat majemuk. Keberadaan komunitas ini tidak hanya menggambarkan proses migrasi dan adaptasi kultural, tetapi juga mencerminkan keberhasilan membangun relasi harmonis antara umat Muslim dan Hindu dalam keseharian mereka. Studi tentang kampung ini penting dilakukan untuk melihat bagaimana praktik toleransi tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar dijalankan secara konkret di tingkat akar rumput.

LANDASAN TEORI

Keberagaman merupakan kondisi yang menunjukkan adanya perbedaan dalam masyarakat, baik dari segi agama, suku, budaya, bahasa, maupun adat istiadat. Menurut Koentjaraningrat (2002), masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat majemuk yang hidup dalam keragaman budaya dan etnis. Keberagaman ini dapat menjadi kekuatan bila dikelola dengan baik, namun juga bisa menjadi sumber konflik jika tidak ada sikap saling mengharga. Toleransi adalah sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan, terutama dalam konteks keyakinan dan praktik keagamaan. Menurut Azra (2006), toleransi merupakan fondasi penting dalam menjaga keharmonisan dalam masyarakat plural.

Dalam konteks keberagaman agama, toleransi berarti memberikan ruang bagi setiap individu atau kelompok untuk menjalankan ajaran agamanya tanpa gangguan atau diskriminasi. Harmoni sosial merujuk pada keadaan masyarakat yang hidup rukun, damai, dan saling mendukung satu sama lain meskipun terdapat perbedaan latar belakang. Putnam (2000) menyebutkan bahwa modal sosial, seperti kepercayaan, jaringan sosial, dan norma-norma gotong royong, menjadi kunci terwujudnya harmoni dalam masyarakat yang beragam. Dalam masyarakat multikultural, kelompok minoritas seringkali menghadapi tantangan dalam integrasi sosial. Berry (1997) mengemukakan bahwa integrasi yang berhasil terjadi ketika kelompok minoritas mampu mempertahankan identitas budaya mereka sambil berinteraksi secara harmonis dengan kelompok mayoritas. Kampung Jawa Muslim di tengah masyarakat Bali Hindu merupakan contoh dinamika integrasi ini.

Rumusan Masalah

Bagaimana asal usul terbentuknya komunitas muslim di kampong jawa dan seperti apa keharmonisan dan toleransinya di kampong jawa muslim dauh puri kaja Denpasar.

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menggambarkan secara mendalam dinamika sosial yang terjadi di Kampung Jawa Muslim Dauh Puri Kaja. Data diperoleh melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat, pemuka agama, serta warga setempat dari berbagai latar belakang agama. Selain itu, data sekunder diperoleh dari dokumen arsip kelurahan, catatan sejarah lokal, dan literatur ilmiah terkait multikulturalisme dan toleransi. Teknik analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara induktif. Validitas data dijaga dengan teknik triangulasi sumber dan metode, untuk memastikan keakuratan serta kedalaman informasi yang diperoleh.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sejarah Munculnya Komunitas Jawa Muslim di Kampung Jawa Muslim Dauh Puri Kaja, Denpasaremunculan komunitas Jawa Muslim di Kampung Jawa Muslim, Dauh Puri Kaja, Denpasar, tidak terlepas dari dinamika migrasi penduduk Jawa ke Bali yang sudah berlangsung sejak masa kolonial. Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, banyak masyarakat dari Pulau Jawa, khususnya dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, melakukan perpindahan ke Bali. Motivasi utama mereka adalah untuk mencari kehidupan yang lebih baik, baik sebagai buruh, pedagang, maupun pekerja di sektor informal. Denpasar sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan di Bali menjadi salah satu tujuan utama para migran. Mereka mulai menetap di daerah yang saat ini dikenal sebagai Kampung Jawa Muslim. Lokasi ini strategis, berada di dekat pasar, pusat kota, serta wilayah administratif yang saat itu berkembang pesat. Para pendatang Muslim ini kemudian membentuk komunitas dengan ikatan kultural yang kuat berdasarkan asal daerah dan kesamaan agama. \

Seiring berjalannya waktu, komunitas ini membangun berbagai institusi sosial dan keagamaan seperti masjid, langgar (surau), dan madrasah. Salah satu pilar penting dalam pembentukan identitas komunitas ini adalah pendirian Masjid Baiturrahmah, yang menjadi pusat aktivitas keagamaan sekaligus simbol eksistensi komunitas Muslim di wilayah tersebut. Meskipun awalnya merupakan komunitas minoritas dalam konteks masyarakat Bali yang dominan Hindu, warga Jawa Muslim mampu menjalin hubungan baik dengan masyarakat lokal. Adaptasi budaya dan sikap saling menghormati menjadi kunci keberlangsungan komunitas ini. Mereka tetap mempertahankan identitas keislaman dan budaya Jawa, namun juga terbuka dalam berinteraksi dengan masyarakat adat setempat.Komunitas ini berkembang secara perlahan namun konsisten. Hubungan antargenerasi dijaga melalui pendidikan agama, pelestarian bahasa, serta adat istiadat. Kini, Kampung Jawa Muslim bukan hanya dikenal sebagai kawasan tempat tinggal Muslim, tetapi juga sebagai simbol kerukunan dan keberagaman di tengah masyarakat Bali yang multikultural.

Berdasarkan hasil wawancara dan dokumentasi lokal, diketahui bahwa komunitas ini terbentuk dari gelombang migrasi penduduk Jawa sejak akhir abad ke-19. Mereka datang ke Bali dengan tujuan berdagang, bekerja, dan mencari kehidupan yang lebih baik. Kawasan Dauh Puri Kaja dipilih karena dekat dengan pusat aktivitas ekonomi dan administratif di Denpasar. Keberadaan kampong jawa Denpasar tidak terlepas dari perang puputan-badung 1906. Perang besar-besaran yang melibatkan psukan kerajaan badung melawan belanda. Desa ini pernah menjadi rumah bagi tentara jawa yang berperang bersama para pejuang bali pada saat perang puputan badung desa ini awalnya tidak jauh dari pasar badung, namun pada tahun 1907 lokasi tersebut dipindahkan ke dua lokasi yaitu kampong jawa pemecutan dan kampong jawa Denpasar. 

            Dusun wanasari yang dahulunya dikenal sebagai “Kampung Jawa” mulai terbentu sekitar tahun 19054. Wilayah ini awalnya dihuni oleh para pedagang dari jawa, Madura, Lombok, dan etnis tionghoa yang datang ke bali untuk berdagang dan bekerja di pasar payuk-cikal bakal pasar kumbasari saat ini. Para pedagang ini menetap di sekitar pasar dan memebntuk komunitas yang kemudian dikenal sebagai dusun wanasari. Komunitas jawa muslim di dauh puri kaja umumnya merupakan hasil migrasi dari pulau jawa, terutama jawa timur. Mereka mulai datang ke bali sejak masa colonial belanda hingga masa pascakemerdekaan Indonesia. Alasan utama migrasi adalah karena faktor ekonomi, dengan mencari pekerjaan di bidang sektor perdagangan, pertania, jasa dan pemerintahan.

            Seiring berjalannya waktu, komunitas muslim di dusun wanasari berkembang pesat. Mereka mendirikan masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial. Salah satu masjid yang terkenal adalah masjid baiturrahmah, yang menjadi symbol keberadaan dan kekuatan komunitas muslim di daerah tersebut. Yang dahulunya sebagai masjid jami’ dan sekarang menjadi masjid raya. Masjid baiturrahmah telah menjadi pusat tempat beribadah dan kegiatan kajian bagi umat muslim khususnya di dusun wanasari(kampong jawa). Meskipun disebut “ kampong jawa”, mayoritas penduduknya berasal dari Madura, dengan sekitar 80% dari lebih 10.000 jiwa merupakan keturunan Madura. Nama kampong jawa di gunakan oleh masyarakat bali untuk menyebut pendatang muslim non-muslim secara umum.

            Interaksi antara warga Muslim dan Hindu berjalan secara harmonis. Warga saling menghadiri acara keagamaan dan sosial. Misalnya, saat Hari Raya Galungan dan Kuningan, warga Muslim membantu menjaga lingkungan saat tetangga mereka beribadah. Sebaliknya, saat Idul Fitri, warga Hindu juga hadir mengucapkan selamat dan menjaga kelancaran acara. Bentuk lain dari toleransi tampak pada pelibatan lintas agama dalam kegiatan gotong royong, forum warga, dan kelompok seni budaya. Toleransi antarumat beragama di desa dauh puri kaja yaitu saat melakukan ritual keagamaan antar agama di hari yang sama. Hal ini di sampaikan oleh bapak kusniadi selaku warga dusun wanasari. Kampong jawa di kenal sebagai symbol kerukunan antara umat hindu dan islam di bali. Raja pemecutan, yang beragama hindu menunjukkan toleransi dengan menghibahkan lahan untuk masjid dan memindahkan pura kecil yang sebelumnya berada di lokasi tersebut. Hingga kini, umat islam di kampong jawa dapat mengumandangkan adzan dan menjalankan ibadah dengan bebas, sementara mereka juga menghormati tradisi hindu, seperti kegiatan saat hari raya nyepi.

            Interaksi Sosial Hubungan Bertetangga  Warga Muslim dan Hindu saling berkunjung, saling membantu dalam kegiatan sosial seperti gotong royong, kerja bakti lingkungan, dan pembangunan fasilitas umum. Saat ada hajatan seperti pernikahan atau khitanan, warga lintas agama saling mengundang dan hadir sebagai bentuk solidaritas.  Aktivitas Ekonomi Bersama Pasar Kumbasari yang dekat dengan Kampung Jawa menjadi pusat ekonomi multikultur di Denpasar. Pedagang dari berbagai latar belakang agama dan etnis berinteraksi secara rutin. Banyak warga Kampung Jawa menjalankan usaha kuliner, pakaian, dan kerajinan, yang juga dikonsumsi oleh masyarakat Bali.   Pendidikan dan Sosialisasi Anak-anak dari berbagai latar belakang agama belajar di sekolah umum yang sama. Kegiatan sosial seperti posyandu, PKK, dan pelatihan UMKM dilakukan bersama oleh ibu-ibu Muslim dan Hindu.

            Dusun wanasari dikenal sebagai contoh nyata kehidupan multicultural dan toleransi antarumat beragama di bali. Masyarakat muslim hidup berdampingan secara harmonis dengan masyarakat hindu bali. Tradisi seperti “nejot” (berbagi makanan), lebaran ketupat,dan perayaan maulid nabi menjadi bagian dari kehidupan bersama yang mencerminkan akulturasi budaya. Warga hindu juga ikut serta dalam menyampaikan ucapan selamat dan sampai ada yang hadir saat open house. Beberapa warga hindu ikut membantu persiapan logistic (misalnya pinjam peralatan, bantu, pengaturan lalu lintas) ketika ada acara acara besar islam seperti halnya waktu taraweh bulan Ramadhan dan hari raya idul adha maupun hari rya idul fitri tradisi ini mencerminkan sikap tenggang rasa dan keinginan untuk menjaga silaturrahmi lintas agama.

Komunitas jawa muslim hidup berdampingan secara harmonis dengan masyarakat bali hindu. Mereka menyesuaikan diri dengan budaya lokal, tetapi tetap mempertahankan identitas agamanya. Hal ini menciptakan budaya islam jawa yang unik di tengah masyarakat bali. Masyarakat muslim dan hindu juga bekerja sama dalam kegiatan desa, seperti halnya: penggalangan dana sosial, pembangunan fasilitas umum, penanganan bencana atau situasi darurat.  “kalo disini mbak, rasa toleransinya kuat dan tetap terjaga sudah dari zaman nenek moyang kita, apalagi kalua ada acara keagamaan yang dilaksanakan bersamaan rasa toleransinya sangat terlihat.

Fenomena yang sudah biasa terjadi kalo idul fitri atau bulan Ramadhan bersamaan dengan galungan,kuningan, maupun nyepi sudah biasa, tetapi jika sholat jumat yang harus dilaksanakan di masjid secara berjamaah bersamaan dengan perayaan nyepi yang melakukan ritual catur brata penyepian dengan melakukan amati karya (tidak bekerja) amati geni (tidak menyalakan api/listrik) ya jadi semua akses listrik di matikan wajib di matikan selama 24 jam. Seperti halnya yang terjadi tahun 2023 kemarin itu saat perayaan hari raya nyepi tahun baru saka 1945, malam hari itu sudah dimulai pemadaman, tapi alhamdulillah luar biasanya toleransi disini, perbekel desanya justru mempersilahkan secara langsung untuk melakukan ibadah taraweh di musholla kampong ini, tapi dengan sikap menghargai, kita untuk pengeras suara tidak di bunyikan di luar dan tadarus juga bisa dilaksanakn, tapi beberapa masyarakat lebih memilih sholat di rumah toh itu juga hanya 1 hari saja dalam satahun besok-besoknya juga sudah bisa beribadah di masjid atau di musholla seperti biasa”

            Peran tokoh  masyarakat pemimpin agama (ustad/kyai) mengajarkan nilai-nilai islam dan budaya kepada generasi muda. Deangan memimpin kegiatan keagamaan juga seperti halnya pengajian, sholat berjamaah, maulid nabi, dan hari raya. Yang mana hal tersebut menjadi panutan dalam menjaga akhlak masyarakat. Sesepuh kampong juga terlibat dalam tokoh masyarakat yang mana dapat menjaga nilai-nilai kearifan lokal dan sejarahb komunitas. Berperan sebagai juru damai bila ada konflik internal maupun eksternal Dengan menghubungkan generasi tua dan muda dalam menjaga tradisi. Disini pemuka adat dan tokoh multikultur juga terlibat dalam membangun komunitas lintas agama dan budaya, terutama dengan umat hindu di bali, dengan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya toleransi dan akulturasi budaya. Tokoh masyarakat seperti Kyai Haji Mahfudz dan pemuka adat Hindu setempat memainkan peran penting sebagai jembatan komunikasi. Mereka rutin mengadakan pertemuan lintas agama, dialog budaya, dan sosialisasi nilai-nilai toleransi. Masjid Baiturrahmah menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus tempat berlangsungnya kegiatan sosial lintas komunitas.

            Peran lembaga sosial pengurus takmir menjasi pusat kegiatan keagamaan dan sosial menyelenggarakan pendidikan agama seperti TPQ dan madrasah mengelola kegiatan sosial seperti zakat, sedekah, bantuan untuk fakir miskin. Majelis ta’lim sebagai wadah pendidikan informal untuk ibu-ibu dan bapak-bapak dengan meningkatkan pemahaman keagamaan dan mempererat silaturrahmi. Remaja masjid/karang taruna yang mana hal tersebut di pegang oleh remaja rejama di kampong jawa dengan adanya remaja remaja ini tidk menjadi penghalang dalam mempererat toleransi antar umat beragama yang mana biasanya para remaja ini menggerakkan kegiatan positif bagi anak muda dengan adanya kajian, olahraga, dan bakti sosial, yang mana dengan adanya hal tersebut dapat menjaga remaja dari pengaruh negative lingkungan. Terakhir terdapat lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan komunitas sosial yang mana terdapat beberapa LSM lokal membantu pemberdayaan ekonomi dan pendidikan, terutama bagai keluarga miskin. Dengan adanya memfasiitasi pelatihan kerja, UMKM, dan penyuluhan kesehatan.

            Kronologi Penting Komunitas Jawa Muslim di Dauh Puri Kaja Akhir Abad ke-19 – Awal Abad ke-20 Terjadi migrasi masyarakat Jawa ke Bali, terutama dari daerah Banyuwangi, Jember, dan Probolinggo. Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai pedagang, tukang, dan buruh, lalu menetap di Denpasar. Tahun 1920-an – Pembentukan Komunitas Awal Muncul pemukiman tetap di daerah yang kini disebut Kampung Jawa. Komunitas mulai terorganisir secara sosial dan keagamaan. Mereka membentuk kelompok pengajian serta mulai mendirikan langgar kecil sebagai tempat ibadah. Tahun 1930-an – Pendirian Masjid Pertama Komunitas berhasil mendirikan masjid sederhana sebagai pusat keagamaan. Ini menjadi fondasi terbentuknya identitas kolektif warga Muslim di wilayah tersebut. Tahun 1940–1950-an – Konsolidasi dan Perluasan Komunitas Setelah kemerdekaan Indonesia, komunitas Jawa Muslim mulai tumbuh pesat.

Muncul generasi kedua yang mulai mendapat pendidikan formal dan melanjutkan kiprah di berbagai sektor. Tahun 1970–1990-an – Revitalisasi Identitas dan Relasi Sosial Komunitas semakin mantap dengan pembangunan infrastruktur keagamaan seperti Masjid Baiturrahmah. Hubungan harmonis dengan masyarakat Hindu sekitar terus diperkuat melalui kerja sama sosial dan dialog lintas agama. Tahun 2000-an – Kini Kampung Jawa Muslim menjadi kawasan simbol keberagaman religius dan budaya di Denpasar. Komunitas aktif dalam forum kerukunan umat beragama dan menjadi percontohan hidup damai dalam perbedaan. Tokoh-tokoh Berpengaruh H. Ahmad Dahlan (tokoh lokal, bukan pendiri Muhammadiyah) Seorang tokoh yang berjasa dalam membangun masjid pertama dan mengorganisir pengajian serta pendidikan agama informal di komunitas. Kyai Haji Mahfudz Pemuka agama generasi awal yang banyak berperan dalam memperkuat identitas keislaman dan menjembatani hubungan baik dengan tokoh adat setempat. H. Idris Wahid Tokoh masyarakat modern yang berkontribusi besar dalam memperluas kegiatan sosial dan pendidikan komunitas, serta menjadi perwakilan dalam forum lintas agama di Denpasar. I Gusti Ngurah Oka dan tokoh Hindu lokal lainnya Meskipun bukan bagian dari komunitas Muslim, tokoh-tokoh Hindu ini sangat berperan dalam menciptakan iklim toleransi dan kerja sama antarkomunitas.

SIMPULAN

            Kampung Jawa Muslim di Dauh Puri Kaja, Denpasar, merupakan cerminan nyata dari keberhasilan membangun harmoni dalam masyarakat majemuk. Berangkat dari sejarah migrasi masyarakat Jawa Muslim pada akhir abad ke-19, komunitas ini tumbuh dan berkembang di tengah lingkungan mayoritas Hindu dengan menjunjung tinggi nilai toleransi, dialog, dan kerja sama. Toleransi yang terbangun di kampung ini tidak semata-mata bersifat formal atau simbolik, tetapi terwujud dalam interaksi sosial sehari-hari, mulai dari kegiatan keagamaan hingga solidaritas dalam kehidupan bermasyarakat. Keberadaan lembaga keagamaan seperti masjid dan peran aktif tokoh-tokoh agama maupun masyarakat menjadi fondasi kuat bagi terciptanya iklim damai dan saling menghargai. Kampung Jawa Muslim bukan hanya mempertahankan identitas budaya dan keagamaannya, tetapi juga menunjukkan kemampuan beradaptasi serta hidup berdampingan secara harmonis dengan komunitas lokal. Hal ini menjadikan kampung ini sebagai model praktik toleransi yang relevan, terutama dalam konteks Indonesia sebagai negara yang kaya akan keberagaman.     Dengan demikian, harmoni di Kampung Jawa Muslim bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, melainkan hasil dari proses sejarah, kesadaran sosial, serta komitmen bersama dalam menjaga perdamaian dan memperkuat rasa kebersamaan di tengah perbedaan.

UCAPAN TERIMAKASIH

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan penulisan ini dengan baik. Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan dalam proses penyusunan karya ini, terutama: Tokoh masyarakat dan warga Dusun Wanasari, Desa Dauh Puri Kaja, yang telah bersedia berbagi informasi, pengalaman, dan pandangan mereka tentang kehidupan sosial dan praktik toleransi antarumat beragama di lingkungan mereka. Para narasumber dan akademisi yang penelitiannya menjadi referensi penting dalam penulisan ini. Guru, dosen pembimbing, dan teman-teman diskusi, yang memberikan masukan, semangat, dan kritik membangun selama proses penyusunan. Keluarga dan sahabat, atas doa, dukungan moral, dan waktu yang mereka berikan. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat, memperluas wawasan, dan menjadi inspirasi dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang harmonis dalam keberagaman.

REFERENSI

Geertz, C. (1960). The Religion of Java. University of Chicago Press.

Hefner, R. W. (2000). Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia. Princeton University Press.

Suwondo, E. (2018). Toleransi antar umat beragama di Bali: Studi kasus hubungan Muslim dan Hindu. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 9(2), 134-145.

Suyanto, B. (2005). Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan. Prenada Media.

Badan Pusat Statistik Kota Denpasar. (2020). Data Kependudukan Kecamatan Denpasar Utara.

Wawancara dengan H. Idris Wahid, Tokoh Masyarakat Kampung Jawa Muslim, Denpasar, 2024.

Pemerintah Kelurahan Dauh Puri Kaja. (2023). Profil Kampung Jawa Muslim.

Sumadi et al., “Pendidikan Toleransi Dan Praktik Beragama Masyarakat  Di Kampung Jawa Bali”

Wawancara Dengan Kusnadi Abdillah , Pada 16 April 2025 , n.d.

  

Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin

Volume 4, Nomor 1,  2026, P. 14-19

E-ISSN: 2986-6340

Licenced by CC BY-SA 4.0                                                 

DOI:  https://doi.org/10.5281/zenodo.18239039