Optimizing
MSME Education for Local Economic Development in Bataguh Pulai Kupang Village,
Kapuas Regency, Central Kalimantan
1Ana Sofia Herawati*, 2Fanlia
Adiprimadana Sanjaya, 3Dewi Lesmanawati, 4Teguh
Wicaksono, 5Rr Ariessanty Alicia Kusuma Wardhani, 6Muhammad
Rizky Yazidi, 7Gulfin Susandi
1-7Universitas Islam
Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin
*Email Korespondensi: anasofia.herawati@gmail.com
Abstrak
Kegiatan
pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengoptimalkan edukasi dan
penguatan kapasitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam rangka
pengembangan ekonomi lokal di Desa Bataguh, Pulau Kupang, Kabupaten Kapuas,
Kalimantan Tengah. Potensi UMKM di desa ini cukup beragam, meliputi produk
lukah (alat tangkap ikan tradisional), lanjung atau bakul anyaman, serbuk
kencur, kerupuk, keripik, serta dodol. Namun demikian, pengembangan usaha masih
menghadapi berbagai kendala utama seperti keterbatasan permodalan, lemahnya
akses pemasaran, rendahnya literasi digital, serta keterbatasan kualitas sumber
daya manusia (SDM). Metode pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan
partisipatif melalui tahapan survei awal, pelatihan, pendampingan, dan
evaluasi. Materi pelatihan meliputi manajemen usaha mikro, strategi pemasaran
konvensional dan digital, pencatatan keuangan sederhana, serta peningkatan
kualitas produk dan kemasan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan
pemahaman peserta terhadap manajemen usaha, pentingnya branding dan pemasaran
digital, serta kesadaran untuk membentuk kelompok usaha bersama. Kegiatan ini
memberikan dampak positif terhadap motivasi dan kesiapan pelaku UMKM dalam
mengembangkan usaha berbasis potensi lokal. Optimalisasi edukasi UMKM terbukti
menjadi strategi efektif dalam mendorong penguatan ekonomi lokal berbasis
komunitas.
Kata kunci: Optimalisasi, Edukasi UMKM, Pengembangan
Ekonomi Lokal
Abstract
This
community service activity aims to optimize education and strengthen the
capacity of Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) in developing the
local economy in Bataguh Village, Pulau Kupang, Kapuas Regency, Central
Kalimantan. The MSME potential in this village is quite diverse, including
lukah (traditional fish traps), lanjung or woven baskets, kencur powder,
crackers, chips, and dodol. However, business development still faces several
major challenges such as limited capital, weak market access, low digital
literacy, and limited human resource capacity. The implementation method used a
participatory approach through initial surveys, training, mentoring, and
evaluation stages. The training materials included micro business management,
conventional and digital marketing strategies, simple financial bookkeeping,
and product and packaging quality improvement. The results of the activity
indicate an increase in participants’ understanding of business management, the
importance of branding and digital marketing, and awareness of forming joint
business groups. This activity has had a positive impact on the motivation and
readiness of MSME actors to develop businesses based on local potential. The
optimization of MSME education has proven to be an effective strategy in
strengthening community-based local economic development.
Keywords:
Optimization,
MSME Education, Local Economic Development
PENDAHULUAN
Desa Bataguh di wilayah Pulau Kupang, Kabupaten
Kapuas, merupakan daerah dengan potensi ekonomi kreatif yang tinggi. Secara
turun-temurun, masyarakat setempat memiliki keahlian dalam membuat alat tangkap
ikan tradisional seperti lukah dan kerajinan anyaman berupa lanjung atau bakul.
Selain kerajinan, sektor pengolahan pangan juga berkembang dengan produk
unggulan seperti serbuk kencur, berbagai jenis kerupuk, keripik, dan dodol. Meskipun
memiliki variasi produk yang melimpah, UMKM di Desa Bataguh masih menghadapi tantangan
klasik yang menghambat eskalasi bisnis.
Faktor permodalan menjadi kendala utama dalam
pengadaan bahan baku dan alat produksi modern. Dari sisi pemasaran, produk
masih bergantung pada pembeli lokal atau tengkulak, karena rendahnya literasi
digital yang membuat mereka belum mampu memanfaatkan platform e-commerce.
Selain itu, keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dalam hal manajemen usaha
dan inovasi kemasan menyebabkan produk sulit bersaing di pasar yang lebih luas.
Melihat permasalahan tersebut, kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan
oleh tim dosen dan mahasiswa dari perguruan tinggi hadir sebagai bentuk nyata
kontribusi akademik terhadap penguatan masyarakat. Melalui serangkaian kegiatan
seperti edukasi, pelatihan dan pendampingan, diharapkan pelaku UMKM mampu meningkatkan
perekonomian lokal.
Selain sebagai upaya peningkatan taraf hidup
masyarakat lokal, kegiatan ini juga menjadi langkah awal dalam menciptakan
model pemberdayaan masyarakat yang berbasis potensi lokal. Pelibatan aktif
masyarakat dalam setiap proses kegiatan menjadi kunci agar program ini tidak
bersifat top-down, melainkan berbasis kebutuhan dan kekuatan internal
komunitas. Dengan demikian, hasil kegiatan diharapkan tidak hanya memberikan
manfaat jangka pendek, tetapi juga mampu menumbuhkan kesadaran kolektif dan
perubahan perilaku yang berkelanjutan dalam meningkatkan perekonomian lokal.
Pengembangan
ekonomi lokal merupakan salah satu strategi penting dalam meningkatkan
kesejahteraan masyarakat desa. UMKM memiliki peran strategis dalam menciptakan
lapangan kerja, meningkatkan pendapatan rumah tangga, serta memperkuat
ketahanan ekonomi berbasis komunitas. Desa
Bataguh Pulau Kupang, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, memiliki potensi
UMKM yang cukup beragam. Produk unggulan masyarakat meliputi: Lukah (alat tangkap ikan
tradisional), Lanjung
atau bakul anyaman rotan, serbuk kencur, kerupuk dan keripik tradisional, serta
dodol olahan local.
Produk-produk
tersebut mencerminkan kekayaan sumber daya alam dan keterampilan tradisional
masyarakat. Namun demikian, potensi tersebut belum berkembang secara optimal
akibat beberapa permasalahan utama, yaitu: keterbatasan permodalan usaha,
akses pemasaran yang
masih terbatas, rendahnya
literasi digital, keterbatasan
kapasitas sumber daya manusia (SDM) dalam manajemen usaha,
dan kemasan dan
branding produk yang masih sederhana.
Sebagian
besar pelaku UMKM masih menjalankan usaha secara tradisional tanpa pencatatan
keuangan yang sistematis. Produk dipasarkan secara lokal dan belum memanfaatkan
media digital secara maksimal. Berdasarkan
kondisi tersebut, diperlukan intervensi melalui kegiatan pengabdian kepada
masyarakat yang berfokus pada optimalisasi edukasi UMKM sebagai upaya penguatan
ekonomi lokal berbasis potensi desa.
Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan kapasitas manajemen usaha pelaku UMKM, meningkatkan literasi digital dan strategi pemasaran, mendorong terbentuknya kelompok usaha bersama, dan meningkatkan nilai tambah produk local agar mampu berdaya saing luas.
METODE
Kegiatan
pengabdian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2025 di Desa Bataguh, Pulau
Kupang, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Mitra kegiatan adalah pelaku UMKM
yaitu para pengrajin alat tangkap ikan, pengrajin anyaman, dan ibu-ibu penggerak
UMKM pangan. Lokasi ini dipilih berdasarkan pertimbangan potensi
sumber daya lokal yang tinggi namun belum dikelola secara optimal, serta adanya
keterbukaan masyarakat terhadap inisiatif pemberdayaan yang datang dari luar.
Program ini melibatkan tim pelaksana yang terdiri atas dosen dan mahasiswa dari
perguruan tinggi, serta berkolaborasi dengan aparatur desa setempat dalam
pelaksanaan teknis kegiatan.
Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah
pendekatan partisipatif dan
pemberdayaan komunitas (community empowerment approach), pendekatan ini
dipilih karena menempatkan masyarakat sebagai subjek sekaligus mitra aktif
dalam seluruh proses kegiatan, mulai dari identifikasi masalah hingga evaluasi
hasil dimana masyarakat tidak hanya menjadi peserta, tetapi
juga menjadi bagian aktif dalam setiap proses pelatihan maupun edukasi dan
diskusi. Selain itu pendekatan ini dipilih untuk membangun rasa kepemilikan
masyarakat terhadap program yang dijalankan, sekaligus memperkuat keberlanjutan
hasil kegiatan setelah program berakhir. Seluruh proses dilakukan secara
interaktif, dengan melibatkan dialog dua arah, studi kasus, praktik langsung,
dan refleksi kelompok.
Metode
pelaksanaan dibagi dalam tiga tahapan utama, yaitu tahap persiapan, tahap
pelaksanaan, dan tahap evaluasi:
a)
Tahap
Persiapan
Tahap
persiapan merupakan fase awal yang sangat menentukan keberhasilan kegiatan
pengabdian. Pada tahap ini, tim pelaksana melakukan survei lapangan dan
observasi langsung untuk memetakan potensi ekonomi lokal serta mengidentifikasi
permasalahan yang dihadapi pelaku UMKM. Observasi dilakukan melalui kunjungan
ke rumah produksi pengrajin lukah, lanjung/bakul anyaman, serta produsen olahan
pangan seperti serbuk kencur, kerupuk, keripik, dan dodol.
Selain
observasi, dilakukan pula wawancara dengan pelaku usaha dan perangkat desa guna
memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi usaha, kendala
produksi, akses pasar, serta kemampuan manajerial. Dari hasil identifikasi
tersebut ditemukan bahwa permasalahan utama meliputi keterbatasan modal usaha,
lemahnya strategi pemasaran, rendahnya literasi digital, minimnya pencatatan
keuangan yang sistematis, serta keterbatasan sumber daya
manusia (SDM) dalam hal manajemen usaha dan inovasi kemasan.
Tahap
persiapan juga mencakup koordinasi formal dengan pemerintah desa dan tokoh
masyarakat setempat untuk memperoleh dukungan administratif serta memastikan
partisipasi aktif masyarakat. Dalam fase ini, tim menyusun modul pelatihan
berbasis kebutuhan (need-based training module) yang dirancang sesuai
dengan karakteristik dan kapasitas peserta. Materi disusun dengan pendekatan
aplikatif dan kontekstual agar mudah dipahami serta langsung dapat diterapkan.
Dengan
demikian, tahap persiapan tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga
menjadi proses analisis kebutuhan (needs assessment) yang bertujuan
untuk memastikan bahwa intervensi yang dilakukan benar-benar relevan dan tepat
sasaran.
b)
Tahap
Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan merupakan inti
dari kegiatan pengabdian yang dilaksanakan selama tiga hari secara bertahap dan
sistematis. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan meliputi ceramah
interaktif, diskusi kelompok, studi kasus, simulasi, serta praktik langsung.
Kombinasi metode ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konseptual
sekaligus keterampilan praktis peserta.
1) Hari
Pertama: Penguatan Manajemen UMKM
Pada
hari pertama, kegiatan difokuskan pada penguatan kapasitas manajemen usaha.
Materi yang disampaikan meliputi konsep dasar kewirausahaan, analisis peluang
usaha berbasis potensi lokal, serta pentingnya inovasi produk untuk
meningkatkan daya saing. Peserta diajak untuk mengidentifikasi keunggulan
produk masing-masing dan menganalisis potensi pengembangannya.
Diskusi
dilakukan secara partisipatif dengan menggali pengalaman peserta dalam
menjalankan usaha. Tim fasilitator membantu peserta memahami pentingnya
perencanaan usaha, pengendalian biaya, serta peningkatan kualitas produk
sebagai strategi keberlanjutan usaha. Pada sesi ini juga dilakukan identifikasi
sederhana terhadap kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (analisis SWOT)
usaha peserta.
Selanjutnya, peserta memperoleh
pelatihan inovasi produk dan pengembangan kemasan sebagai strategi menghadapi
persaingan pasar yang lebih luas. Materi mencakup pentingnya branding, desain
kemasan yang menarik dan higienis, serta pencantuman label dan identitas produk
sebagai nilai tambah. Peserta melakukan praktik sederhana merancang konsep
kemasan dan simulasi promosi digital menggunakan media sosial. Melalui
pendekatan learning by doing, kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan
kompetensi SDM, memperbaiki tampilan produk, serta memperluas akses pemasaran
sehingga produk UMKM lebih kompetitif dan berkelanjutan.
2) Hari
Kedua: Pemasaran dan Literasi Digital
Hari
kedua difokuskan pada strategi pemasaran dan peningkatan literasi digital.
Materi diawali dengan pemahaman tentang pentingnya branding, kemasan produk,
serta penentuan segmen pasar. Peserta diberikan contoh konkret perbandingan
produk dengan kemasan sederhana dan kemasan yang lebih menarik untuk
menunjukkan pengaruh tampilan terhadap minat beli konsumen.
Selanjutnya,
dilakukan pelatihan pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi. Peserta
diperkenalkan pada penggunaan WhatsApp Business, Facebook Marketplace, dan
Instagram sebagai media pemasaran digital. Simulasi dilakukan dengan praktik
langsung membuat foto produk yang menarik, menyusun deskripsi produk, serta
membuat konten promosi sederhana.
Pendekatan
ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran bahwa pemasaran digital tidak selalu
membutuhkan biaya besar, tetapi memerlukan kreativitas dan konsistensi.
Pelatihan ini juga mendorong peserta untuk mulai membangun jejaring pemasaran
di luar wilayah desa.
3) Hari
Ketiga: Pengelolaan Keuangan Usaha
Hari
ketiga difokuskan pada pelatihan pengelolaan keuangan usaha secara sederhana
namun sistematis. Materi mencakup pencatatan pemasukan dan pengeluaran,
pemisahan keuangan pribadi dan usaha, serta perhitungan harga pokok produksi
(HPP). Peserta diberikan contoh format pencatatan keuangan sederhana yang mudah
diterapkan.
Dalam
sesi praktik, peserta diminta mensimulasikan perhitungan biaya produksi produk
mereka masing-masing, termasuk bahan baku, tenaga kerja, dan biaya operasional
lainnya. Melalui latihan ini, peserta mulai memahami pentingnya menentukan
harga jual yang tidak hanya menutup biaya, tetapi juga memberikan keuntungan
yang wajar.
Tahap
pelaksanaan secara keseluruhan berlangsung dalam suasana interaktif dan
dialogis. Peserta menunjukkan antusiasme tinggi, yang terlihat dari aktifnya
sesi tanya jawab serta keterlibatan dalam praktik langsung.
c)
Tahap
Evaluasi
Tahap
evaluasi dilakukan untuk mengukur tingkat pemahaman peserta serta efektivitas
kegiatan pengabdian. Evaluasi dilakukan secara kualitatif dan partisipatif
melalui diskusi reflektif dan pengisian kuesioner sederhana. Peserta diminta
menyampaikan kesan, pemahaman yang diperoleh, serta rencana tindak lanjut
setelah pelatihan.
Selain
itu, tim pelaksana juga melakukan observasi terhadap perubahan pola pikir dan
sikap peserta selama kegiatan berlangsung. Indikator keberhasilan tidak hanya
dilihat dari aspek kognitif (peningkatan pengetahuan), tetapi juga dari aspek
afektif dan motivasional, seperti meningkatnya kepercayaan diri dan semangat
untuk mengembangkan usaha.
Hasil
evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman terkait manajemen usaha,
pemasaran digital, dan pencatatan keuangan. Beberapa peserta menyatakan
komitmen untuk mulai menerapkan pencatatan keuangan dan mencoba promosi melalui
media sosial. Namun demikian, evaluasi juga menunjukkan perlunya pendampingan
lanjutan, khususnya dalam aspek akses permodalan dan konsistensi penerapan
digital marketing.
Tahap
evaluasi ini sekaligus menjadi dasar rekomendasi untuk program tindak lanjut,
seperti pembentukan kelompok usaha bersama dan pendampingan berkelanjutan
berbasis kemitraan dengan pemerintah daerah maupun lembaga keuangan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menunjukkan
dampak positif yang signifikan, dari sisi pengetahuan dan kemampuan SDM dalam
meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan serta kemampuan pelaku UMKM dalam
memotivasi diri meningkatkan perekonomian lokal.
1) Pengembangan
Produk Kerajinan (Lukah dan Lanjung)
Berdasarkan hasil kunjungan dan edukasi pengrajin
lukah dan lanjung/bakul memiliki keterampilan teknis yang sangat baik. Namun,
produk ini sering dianggap sebagai barang komoditas biasa dengan nilai tawar
rendah. Melalui edukasi, para pengrajin didorong untuk melakukan diversifikasi
fungsi (misal: bakul sebagai wadah hantaran estetis) untuk meningkatkan nilai
jual.
Produk
seperti lanjung/bakul dan lukah memiliki potensi sebagai produk khas daerah.
Setelah pelatihan, peserta mulai menyadari pentingnya: kemasan yang menarik, label
produk, foto produk yang baik, promosi melalui media sosial. Beberapa peserta
mulai mencoba memasarkan produk melalui platform digital sederhana.
Selain
itu peserta menunjukkan peningkatan pemahaman terkait pentingnya manajemen
usaha yang sistematis. Pelaku UMKM mulai memahami pentingnya pencatatan
keuangan dan perhitungan biaya produksi dalam menentukan harga jual.
2)
Optimalisasi
Produk Olahan Pangan
Produk seperti serbuk kencur, kerupuk, keripik, dan
dodol telah diproduksi secara konsisten. Fokus edukasi di sini adalah pada
standardisasi kemasan. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa produk pangan sudah
mulai dikemas dengan toples dan plastik pouch, namun perlu penguatan
pada labelisasi (P-IRT, Halal) dan informasi nilai gizi agar dapat masuk ke
pasar ritel modern.
3)
Mengatasi
Kendala Permodalan dan SDM serta Kesadaran Literasi Digital
Tim pengabdian memberikan wawasan mengenai akses
pembiayaan mikro dan pentingnya pembukuan sederhana. Sebelumnya, sebagian besar
pelaku UMKM belum memanfaatkan teknologi digital. Setelah pelatihan, peserta
memahami bahwa digitalisasi dapat memperluas jangkauan pasar tanpa biaya besar.
Untuk kendala SDM dan literasi digital, kaum muda di desa dilibatkan untuk
membantu para orang tua dalam mengoperasikan media sosial sebagai alat promosi,
sehingga tercipta regenerasi pengelolaan UMKM.
4)
Identifikasi
Permasalahan Utama
Walaupun terdapat
peningkatan pengetahuan, beberapa tantangan tetap menjadi perhatian seperti: akses
permodalan masih terbatas, belum adanya koperasi atau kelompok usaha formal, infrastruktur
internet yang belum stabil, SDM yang masih perlu pendampingan berkelanjutan.
Dokumentasi Kegiatan
Gambar 1.
Pengolahan hasil alam menjadi lukah (alat menangkap ikan)
Gambar 2. Penyuluhan dan Pengolahan hasil alam menjadi lukah (alat menangkap ikan)
Gambar 3.
Pengolahan hasil alam menjadi lanjung (Alat
untuk membawa/mengangkut hasil panen atau barang)
Gambar 4. Produk UMKM dari Pengolahan hasil alam menjadi serbuk kencur
SIMPULAN
Kegiatan
pengabdian kepada masyarakat ini berhasil memetakan masalah utama UMKM di Desa
Bataguh, Pulau Kupang, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah yaitu pada aspek
permodalan, pemasaran, dan digitalisasi serta peningkatan kualitas SDM. Kegiatan
ini menunjukkan bahwa optimalisasi edukasi UMKM dapat menjadi strategi efektif
dalam pengembangan ekonomi lokal. Warga mulai menyadari bahwa produk
tradisional seperti lukah dan produk pangan seperti serbuk kencur memiliki
potensi ekonomi besar jika dikelola dengan manajemen yang lebih modern dan
didukung literasi digital yang memadai. Agar dampak
dari kegiatan ini dapat terus berlanjut dan berkembang, diperlukan beberapa
langkah lanjutan:
a)
Perlu
adanya program lanjutan (tidak sekali selesai), untuk memantau penerapan materi
edukasi serta pelatihan lanjutan berdasarkan permintaan dari masyarakat.
b)
Adopsi Digital Marketing Secara Konsisten, UMKM diharapkan tidak hanya sekadar memiliki media sosial,
tetapi aktif menggunakannya (Facebook/Instagram/TikTok) untuk mempromosikan
produk lokal.
c)
Pembentukan
koperasi desa khusus UMKM untuk mengatasi masalah permodalan secara kolektif.
d)
Integrasi ke BUMDes, data UMKM seperti produk unggulan sebaiknya diintegrasikan ke
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk pemasaran kolektif.
REFERENSI
Badan Pusat Statistik Kabupaten
Kapuas. (2024). Kecamatan Bataguh dalam Angka.
Kementerian Koperasi dan UKM.
(2022). Strategi Penguatan UMKM Nasional. Jakarta.
Kuncoro, M. (2012). Perencanaan
Daerah: Bagaimana Membangun Ekonomi Lokal, Kota, dan Kawasan? Erlangga.
Nasdian, F.T. (2014). Pemberdayaan
Masyarakat: Teori dan Praktik. Jakarta: Kencana.
Nasution, N., dkk. (2020). Literasi
Digital Bagi Pelaku UMKM. Jurnal Pengabdian Masyarakat.
Robbins, S. P., & Coulter, M.
(2017). Management (14th ed.). Pearson Education.
Suharto, E. (2005). Pembangunan Masyarakat: Teori dan Strategi. Bandung: Refika
Aditama.
Tambunan, T. T. H. (2012). Usaha
Mikro Kecil dan Menengah di Indonesia: Isu-isu Penting. LP3ES.
World Bank. (2020). Small and Medium Enterprises and Economic Development.
Washington DC.
No comments
Post a Comment