Implementation of Geragogy-Based Complementary Acupressure Therapy to Improve Independence Among Elderly Individuals with Gout
Popy Irawati, Roswita, Nopi Suci
1,2,3Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Tangerang
Email: popyners@gmail.com
Abstrak
Asam urat atau Gout adalah penyakit imflamasi sendi
yang banyak dialami lansia dan menyebabkan nyeri kronis serta keterbatasan
mobilitas. Pendekatan non farmakologis seperti akupresur dapat menjadi
alternatif terapi komplementer yang aman dan mudah dilakukan secara mandiri.
Edukasi pada lansia memerlukan
pendekatan khusus yang mempertimbangkan aspek kognitif, sensorik dan
psikososial. Model edukasi gerontologi (Geragogy) merupakan pendekatan
pembelajaran yang dirancang sesuai karakteristik lansia dengan metode perlahan,
pengulangan, visual jelas dan praktik langsung. Kegiatana pengabdian kepada
masyarakat ini bertujuan meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan lansia dalam melakukan akupresur untuk mengurangi
keluhan asam urat. Kegiatan dilaksanakan di kecamatan Neglasari Kota Tangerang,
melalui ceramah interaktif,demontrasi, praktik berulang dan pendampingan secara
individual. Evaluasi dilakuka menggunakan pre dan post test dan observasi
keterampilan. Hasil menunjukan peningkatan pengetahuan dari kategori rendah
menjadi sedang dan tinggi, serta sebagian lansia mampu melakukan keterampilan
akupresur secara mandiri. Namun demikian hal ini menjadi langkah awal yang
efektif dalam memberikan edukasi berkelanjutan kepada lansia.
Kata kunci: Geragogy.
Lansia, akupresur, asam urat, terapi komplementer
Abstract
Gout is an inflammatory joint
disease commonly experienced by older adults, causing chronic pain and
limitations in mobility. Non-pharmacological approaches such as acupressure can
serve as a safe and easy complementary therapy that can be performed independently.
Health education for older adults requires a specific approach that considers
cognitive, sensory, and psychosocial aspects. The gerontological education
model (Geragogy) is a learning approach designed according to the
characteristics of older adults, using slow-paced delivery, repetition, clear
visual aids, and direct practice. This community service activity aimed to improve the knowledge and skills
of older adults in performing acupressure to reduce gout complaints. The
program was conducted in Neglasari District, Tangerang City, through
interactive lectures, demonstrations, repeated practice, and individual
assistance. Evaluation was carried out using pre- and post-tests as well as
skills observation. The results showed an
increase in knowledge from low to moderate and high categories, and most
participants were able to perform acupressure independently. These findings
indicate that the geragogy-based approach is an effective initial step for
providing sustainable health education for older adults.
Keywords: geragogy, older
adults, acupressure, gout, complementary therapy
PENDAHULUAN
Asam
urat atau Gout merupakan penyakit implamasi sendi akibat deposisi kristal
monosodium urat yang sering terjadi pada populasi lanjut usia. Penyakit ini
ditandai dengan nyeri akut, pembengkakan dan keterbatasan gerak yang dapat
menurunkan kualitas hidup lansia menurut World health organizations (WHO)
(2023), gangguan musculoskeletal termasuk gout menjadi salah satu penyebab
utama disabilitas pada kelompok usia ≥ 60 tahun secara global. Di Indonesia,
prevalensi penyakit sendi pada lansia menunjukan tren peningkatan, terutama di
daerah perkotaan (Kemenkes RI, 2023)
Pendekatan
non farmakologis semakin direkomendasukan sebagai bagian dari manajemen
komprehensif gout. Terapi komplementer seperti akupresur terbukti efektif dalam
menurunkan nyeri dan meningkatkan relaksasi otot melalui stimulasi titik
meridian tertentu (Chen et al. 2019). Studi nasional juga menunjukan bahwa
terapi akupresur mampu menurunkan intensitas nyeri pada lansia dengan gout
arthritis secara significant (Mokambu, 2014).
Efektifitas
intervensi sangat tergantung pada metode edukasi yang digunakan lansia memiliki
karakteristik pembelajaran khusus akibat perubahan kognitif, sensorik dan
psikososial. Model pembelajaran geragogy (Elderly learning model) menekankan
pendekatan lambat, repetotif, kontekstual dan berbasis pengalaman untuk
meningkatkan retensi informasi pada lansia (Glendenning & Battersby, 2018).
Pendekatan
berbasis gerontologi terbukti meningkatkan literasi kesehatan dan kemampuan
self manajemen pada lansia dengan penyakit kronis ( Nutbean & Llyod, 2021).
Oleh karena itu penerapan model edukasi gerontologi dalam pelatiahan akupresur
di nilai relevan untuk meningkatkan kemandirian lansia dalam pengelolaan asam
urat.
Secara umum tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan
pengetahuan dan keteampilan lansia dalam melakukan terapi akomplementer
akupresur untuk pengelolaan nyeri asam urat secara mandiri. Secara khusus
tujuan kegiatan ini adalah 1) mengidentifikasi tingkat pengetauan lansia
tentang asam urat, 2) memberikan edukasi berbasis geragogy mengenai akupresur, 3)
melatih keterampilan lansia melalui praktik berulang, 4) mengevaluasi
peningkatan pengetahuan dan kemampuan praktik
METODE
Desain kegiatan ini menggunakan pendekatan deskriptif komunitas dengan
model edukasi gerotologi (geragogy), dengan sasaran lansia dengan riwayat
keluhan nyeri sendi dan asam urat di Wilayah kecamatan Neglasari KotaTangerang.
Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Desember 2025 yang bertempat di halaman
Gedung posyandu/posbindu RW 003 kelurahan Neglasari Kota Tangerang.
Tahapan Kegiatan
A.
Perencanaan :
Koordinasi dengan kader Lansia,
penyusunan Media visual dan alat peraga sederhana.
B.
Pelaksanaan :
1.
Identifikasi
pengetahuan secara lisan
2.
Edukasi interaktif 20
menit
3.
Demontrasi titik
akupresur (L14, ST 36, SP6)
4.
Praktik berulang selama
30 menit
5.
Diskusi reflektif
C.
Evaluasi
Post-test dan observasi cheklist keterampilan
HASIL
Karateristik Peserta Kegiatan
Kegiatan pengabdian masyarakat diikuti oleh 25 Lansia dan pra lansia yang
berada di wilayah Neglasari. Karakteristik peserta dianalisis berdasarkan usia,
jenis kelamin, dan tingkat Pendidikan
untuk mendapatkan gambaran faktor yang mempengaruhi kejadian Gout.
Tabel 1. Karakteristik peserta Kegiatan
|
Karakteristik |
Kategori |
n |
% |
|
Usia |
45–59 tahun |
6 |
24 |
|
60–74 tahun |
19 |
76 |
|
|
≥75 tahun |
0 |
0,0 |
|
|
Jenis Kelamin |
Perempuan |
23 |
92 |
|
Laki-laki |
2 |
8 |
|
|
Pendidikan |
Tidak sekolah |
10 |
40 |
|
SD |
11 |
44 |
|
|
SMP |
1 |
4,0 |
|
|
SMA |
3 |
12,0 |
|
|
Perguruan tinggi |
0 |
0 |
Dari data diatas dapat dilihat bahwa mayoritas peserta merupakan
kategori lanjut usia (76%) sedangkan
yang lainnya termasuk katagori pra
lansia (24%), kedua kelompok usia ini secara fisiologis sudah mengalami
penurunan fungsi metabolism dan ekskresi ginjal. Penurunan fungsi tersebut
berkontribusi terhadap meningkatnya kadar asam urat dalam darah sehingga risiko
Gout semakin tinggi seiring bertambahnya usia.
Pada katagori jenis kelamin di dominasi oleh perempuan yaitu sebanyak
96%, hal ini menunjukan bahwa lansia perempuan cenderung lebuh aktif mengikuti
kegiatan kesehatan di komunitas/ secara fisiologis, kejadian asam urat pada
perempuan meningkat setelah menopause akibat penurunan estrogen yang sebelumnya
berperan dalam membantu ekskresi asam urat melalui ginjal kondisi ini menyebabkan
risiko hiperurisemia pada perempuan lansia menjadi lebih tinggi.
Tingkat Pendidikan sebagian besar memilki pendidikan yang rendah (tidak sekolah dam SD sebesar 84 %), tingkat Pendidikan yang rendah berpengaruh terhadap literasi kesehatan terutama dalam memahami pola makan rendah purin, manajemen penyakit kronis serta pemanfaatan terapi non farmakologis. Hal ini menunjukan pentinya penyampaian edukasi dengan metode sederhana, visual dan praktik langsung sesuai prinsip geragogy.
Hasil Statistik Perubahan
Pengetahuan dan Keterampilan
Table 2. Tingkat pengetahuan
Akupresur Pre dan Pos tes
|
Kategori |
Pre-test n (%) |
Post-test n (%) |
|
Tinggi |
1 (4) |
6 (24) |
|
Sedang |
3 (12) |
12 (48) |
|
Rendah |
21 (84) |
7 (28) |
Hasil evaluasi menunjukan adanya peningkatan tingkat pengetahuan lansia
setelah diberikan edukasi terapi komplementer akupresure berbasis gerontologi.
Pada saat pre-test, Sebagian besar peserta berada pada katagori pengetahuan
rendah yaitu sebanyak 21 orang (84%), sedangkan kategori sedang sebanyak 3
orang (12%) dan kategori tinggi hanya 1 orang (4%). Kondisi ini menunjukan
bahwa pengetahuan awal lansia mengenai asam urat dan terapi komplementer masih
sangat terbatas.
Setelah diberikan intervensi edukasi menggunakan pendekatan Geragogy,
terjadi peningkatan pengetahuan yang cukup signifikan. Pada post-test jumlah
peserta kategori tinggi menjadi 6 orang (24%)m kategori sedang meninfkat
menjadi 2 orang (48%), dan katagori rendah menurun menjadi 7 orang (28%).
Perubahan
menunjukan adanya pergeseran tingkat pengeyahuan dari kategori rendah ke sedang
dan tinggi. Hasil uji statistik menggunakan Wilcoxon signed rank Test menunjukan
adanya perbedaan yang bermakna antara skor pengetahuan sebelum dan sesudah
edukasi (p < 0,05).
Tabel 3. Kemampuan Praktik Akupresur setelah Edukasi
|
Kriteria Keterampilan |
n |
% |
|
Mampu menentukan titik akupresur
dengan benar |
23 |
92% |
|
Mampu melakukan teknik tekanan
sesuai prosedur |
18 |
72% |
|
Mampu melakukan secara mandiri
tanpa bantuan |
15 |
60% |
Hasil observasi keterampilan menunjukan bahwa Sebagian besar peserta mampu melakukan tehnik akupresur dengan benar. Sebanyak 92% peserta dapat mengidentifikasi titik akupresur, dan 60% mampu melakukan prosedur secara mandiri. Peserta juga melaporkan penurunan nyeri subjektif setelah praktik, meskipun pengukuran nyeri tidak dilakukan secara kuantitatif.
PEMBAHASAN
Hasil
kegiatan menunjukan peningkatan pengetahuan dan keterampilan lansia setelah
edukasi berbasis geragogy. Peningkatan ini menunjukan bahwa pendekatan
pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik lansia efektif dalam
meningkatkan pemahaman dan kemampuan praktik. Hal ini sejalan dengan teori
pembelajaran lansia yang menyatakan bahwa pengulangan dan praktik langsung
meningkatkan memori procedural dan retensi jangka Panjang (Glendening &
Battersby, 2018).
Pergeseran
tingkat pengetahuan yang cukup besar dari kategori rendah ke sedang menunjukan
bahwa metode edukasi yang disesuaikan dengan karakteristik lansia efektif dalam
meningkatkan pemahaman. Pendekatan pembelajaran yang dilakukan secara perlahan,
menggunakan bahasa sederhana, media visual yang jelas, serta praktik langsung
membantu lansia dalam memahami informasi kesehatan dengan lebih baik.
Pendekatan ini sesuai dengan prinsip geragogy yang menekankan pembelajaran
kontekstual, partisipatif dan beoriantasi pada kebutuhan praktis lansia. Studi
terbaru menunjukan bahwa pendekatan Pendidikan kesehatan yang disesuaikan
dengan karakteristik lansia mampu meningkatkan literasi kesehatan dan kemampuan
pengelolaan penyakit kronis srcara mandiri (Yang et al., 2024).
Selain
meningkatkan pengetahuan pendekatan gerontologi juga meningkatkan self-eficacy
lansia dalam melakukan perawatan mandiri. Literasi kesehatan yang baik
berkontribusi terhadap peningkatan kemampuan pengelolaan penyakit kronis secara
mandiri. Literasi kesehatan yang baik merupakan faktor penting dalam
meningkatkan kemampuan individu untuk mengelola kondisi kesehatan kronis,
termasuk dalam pengambilan keputusan terkait perawatan diri (Nutbeam &
Llyod, 2021, Zhang
et al. 2025), hal ini menunjukan bahwa edukasi tidak
hanya memberikan informasi, tetapi juga membentuk kepercayaan diri lansia untuk
melakukan tindakan kesehatan secara mandiri.
Temuan
ini sejalan dengan rekomendasi WHO bahwa peningkatan literasi kesehatan pada
kelompok usia lanjut memerlukan pendekatan yang kontekstual, sederhana dan
partisipatif agar mampu mencapai perubahan perilaku kesehatan yang optimal (Word
Health Organization, 2023).
Dari
aspek intervensi, terapi komplementer akupresur bekerja melalui stimulasi saraf
perifer yang memicu pelepasan endorphin sehingga menurunkan persepsi nyeri dan
meningkatkan relaksasi otot (Chen et. al, 2019). Efektifitas akupresur pada
lansia juga didukung oleh penelitian sebelumnya. Penelitian di Indonesia
menunjukan penurunan signifikansi skala nyeri setelah pemberian terapi akupresur pada lansia dengan Gout arthritis
(Mokambu, 2024). Penelitian lain juga melaporkan bahwa terapi akupresur pada
titik tertentu efektif menurunkan nyeri sendi pada lansia dengan Gout (Rajin et
al., 2025).
Namun
demikian, sebagian besar penelitian terdahulu lebih menekankan pada outcome
klinis seperti penurunan nyeri atau kadar asam urat, tanpa memperhatikan proses
edukasi yang sesuai dengan karakteristik lansia. Kebaruan kegiatan ini terletak
pada integrasi terapi komplementer dengan model edukasi gerotologi yang
dirancang sesuai dengan kemampuan kognitif, tingkat Pendidikan, serta kebutuhan
belajar lansia. Pendekatan ini memungkinkan peningkatan tidak hanya secara
aspek klinis, tetapi juga pada literasi kesehatan dan kemampuan self-care.
Dengan demikian, peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam kegiatan ini tidak hanya mencerminkan keberhasilan proses edukasi, tetapi juga menunjukan potensi penerapan terapi komplementer secara mandiri oleh lansia komunitas.Temuan ini mendukung rekomendasi global bahwa intervensi promotif berbasis komunitas perlu disesuaikan dengan karakteristik kelompok usia sasaran untuk menghasilkan dampak kesehatan yang optimal dan berkelanjutan (Word Health Organization, 2023)
SIMPULAN
Edukasi terapi komplementer akupresur berbasis model
gerontologi(geragogy) terbukti efektif meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan lansia dalam melakukan perawatan mandiri pada asam urat. Terjadi
peningkatan katagori pengetahuan dari rendah menjadi sedang dan tinggi setelah
intervensi.
Pendekatan pembelajaran disesuaikan dengan
karakteristik lansia melalui metode sederhana, visual dan praktik langsung
mampu meningkatkan pemahaman serta kepercayaan diri lansia dalam pengelolaan
kesehatan secara mandiri. Kegiatan ini menunjukan bahwa integrasi edukasi
gerontologi dan terapi komplementer dapat menjadi strategi promotif dan
preventif yang efektif di komunitas.
Terapi komplementer akupresur dapat diintegrasikan dalam kegiatan pembinaan lansia di masyarakat sebagai upaya promotif dan preventif. Kegiatan serupa perlu dilakukan secara berkelanjutan dan dikembangkan melalui penelitian lanjutan dengan jumlah sampel yang lebih besar untuk memperkuat bukti efektivitas intervensi serta mendukung program peningkatan kualitas hidup lansia sesuai rekomendasi World Health Organization.
REFERENSI
Chen, M. C., Liu, H. E., Huang, H.
Y., & Chiou, A. F. (2019). The effect of acupressure on relieving pain: A
systematic review and meta-analysis. Journal of Pain Research, 12,
331–339. https://doi.org/10.2147/JPR.S190090
Glendenning, F., & Battersby, D.
(2018). Lifelong learning and the older person: A handbook for educators.
Routledge.
Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia. (2023). Profil kesehatan Indonesia tahun 2022. Kementerian
Kesehatan RI.
Mokambu, Z. (2024). Efektivitas
teknik pijat akupresur terhadap penurunan kadar asam urat pada penderita gout
arthritis di wilayah Puskesmas Bulango Ulu. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah.
Nutbeam, D., & Lloyd, J. E.
(2021). Understanding and responding to health literacy as a social determinant
of health. Annual Review of Public Health, 42, 159–173. https://doi.org/10.1146/annurev-publhealth-090419-102529
Rajin, M., Urifah, S., Hariyanto, S.,
& Sa’diyah, M. D. (2025). SP6 acupressure point for reducing joint pain
among elderly in Jombang Regency. Jurnal Kesehatan Komunitas Indonesia.
Yang, Y., Yao, X., Lu, D., Wang, Y.,
Gan, Y., Bao, X., Zhang, J., & Zhang, Q. (2024). Improving the eHealth
literacy of older adults: A scoping review. Geriatric Nursing, 60,
128–136. https://doi.org/10.1016/j.gerinurse.2024.02.010
Zhang, C., Mohamad, E., Azlan, A. A., Wu, A., Ma, Y., &
Qi, Y. (2025). Social media and eHealth literacy among older adults: A
systematic review. Journal of Medical Internet Research, 27, e66058. https://doi.org/10.2196/66058
World
Health Organization. (2023). Global report on ageing and health. World
Health Organization.
No comments
Post a Comment