Showing posts with label Jurnal Nanggroe. Show all posts
Showing posts with label Jurnal Nanggroe. Show all posts

Friday, May 29, 2026

Peningkatan Pengetahuan dan Ketrampilan Ibu Posyandu Melalui Pelatihan Nutraceutical untuk Pencegahan Stunting di Desa Darsono


Improving the Knowledge and Skills of Posyandu Mothers Through Nutraceutical Training for Stunting Prevention in Darsono Village

Improving the Knowledge and Skills of Posyandu Mothers Through Nutraceutical Training for Stunting Prevention in Darsono Village | Rashati | Nanggroe: Jurnal Pengabdian Cendikia
  1Dewi Rashati*, 1Asa Falahi, 1Anies Rohman D, 1Lindawati Setyaningrum, 1Dyan Wigati

1Sarjana Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas dr.Soebandi

*email corresponding: dewirashati@uds.ac.id

 

Abstract

Stunting remains a major nutritional problem that requires community-based preventive strategies. This community service program aimed to improve the knowledge and practical skills of Posyandu mothers regarding stunting prevention through nutraceutical training in Darsono Village. The program involved 30 participants using a one-group pretest–posttest approach. Activities consisted of educational sessions on stunting, critical prevention periods, nutraceutical concepts, and the benefits of turmeric, followed by practical training in preparing turmeric pudding as a functional food product. Knowledge changes were assessed using pretest and posttest questionnaires. The results showed improved participant knowledge across all measured indicators after the intervention. The greatest improvement was found in understanding nutraceutical concepts (33.33%), followed by knowledge of nutraceutical dosage forms (26.66%) and the benefits of nutraceuticals (26.66%). The training also strengthened participants’ practical ability to utilize local food resources as an innovative nutritional intervention. These findings suggest that combining health education with hands-on practice is an effective strategy to strengthen community capacity in stunting prevention.

Keywords: Nutraceutical, Stunting, Darsono

 

Article Info

Received date: 10 May  2026                                 Revised date: 15 May  2026                                            Accepted date: 20 May 2026

 

PENDAHULUAN

Stunting masih menjadi salah satu permasalahan gizi kronis yang menjadi perhatian utama dalam pembangunan kesehatan masyarakat, khususnya di negara berkembang termasuk Indonesia. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis yang terjadi dalam periode yang panjang, terutama pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kondisi ini ditandai dengan tinggi badan menurut umur yang berada di bawah minus dua standar deviasi berdasarkan standar pertumbuhan World Health Organization (WHO). Stunting tidak hanya berdampak pada gangguan pertumbuhan fisik, tetapi juga berkaitan erat dengan keterlambatan perkembangan kognitif, penurunan kemampuan belajar, serta berpotensi menurunkan produktivitas pada usia dewasa (1).

Masalah stunting memiliki dampak multidimensional terhadap kualitas sumber daya manusia. Anak yang mengalami stunting berisiko mengalami gangguan perkembangan neurologis, penurunan kapasitas intelektual, dan peningkatan kerentanan terhadap penyakit tidak menular di masa depan. Stunting merupakan manifestasi kompleks dari interaksi berbagai faktor seperti kekurangan asupan gizi, infeksi berulang, sanitasi lingkungan yang buruk, dan rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas (2). Oleh karena itu, pencegahan stunting memerlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan intervensi gizi spesifik dan sensitif secara berkelanjutan.

Di Indonesia, prevalensi stunting masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat meskipun menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Faktor dominan penyebab stunting di Indonesia meliputi rendahnya kualitas konsumsi pangan rumah tangga, kurangnya pengetahuan ibu mengenai praktik pemberian makan anak, keterbatasan sanitasi, serta kurang optimalnya pemanfaatan pelayanan kesehatan dasar. Pengetahuan ibu memiliki kontribusi penting dalam menentukan pola asuh, pemilihan bahan pangan, dan pemenuhan kebutuhan nutrisi anak sebagai upaya pencegahan stunting (3).

Posyandu merupakan salah satu bentuk upaya kesehatan berbasis masyarakat yang memiliki peran strategis dalam mendukung percepatan penurunan stunting melalui kegiatan pemantauan pertumbuhan, edukasi kesehatan, serta pendampingan keluarga. Keberhasilan pelaksanaan posyandu sangat dipengaruhi oleh kapasitas kader dan ibu posyandu dalam memahami faktor risiko serta strategi pencegahan stunting. Intervensi berbasis komunitas melalui edukasi kesehatan terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan keluarga terkait praktik pemberian makan anak dan pencegahan gangguan pertumbuhan (4).

Salah satu inovasi yang dapat dikembangkan dalam upaya pencegahan stunting adalah pemanfaatan nutraceutical berbasis pangan lokal. Nutraceutical merupakan komponen pangan yang memiliki manfaat kesehatan tambahan di luar fungsi gizi dasar dan berpotensi meningkatkan kualitas asupan nutrisi. Pendekatan nutraceutical mampu menjadi strategi promotif-preventif yang efektif apabila dikembangkan melalui pelatihan berbasis masyarakat. Pemanfaatan bahan pangan lokal sebagai nutraceutical juga memiliki keunggulan dari aspek ketersediaan, keterjangkauan, dan keberlanjutan (5).

Desa Darsono sebagai salah satu wilayah binaan masih memerlukan peningkatan kapasitas ibu posyandu dalam memahami pemanfaatan pangan lokal untuk pencegahan stunting. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam pengolahan pangan bergizi dapat memengaruhi efektivitas upaya promotif di tingkat masyarakat. Oleh karena itu, pelatihan nutraceutical bagi ibu posyandu menjadi strategi edukatif yang relevan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam pengolahan pangan lokal sebagai upaya pencegahan stunting. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu posyandu melalui pelatihan nutraceutical untuk pencegahan stunting di Desa Darsono.

 

METODE

            Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Desa Darsono dengan melibatkan 30 ibu posyandu sebagai peserta. Kegiatan dirancang dalam bentuk edukasi kesehatan dan pelatihan keterampilan berbasis nutraceutical sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam pencegahan stunting. Metode yang digunakan adalah pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest design, yaitu pengukuran tingkat pengetahuan dilakukan sebelum dan sesudah intervensi untuk mengetahui efektivitas kegiatan edukasi yang diberikan (6). Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan melalui empat tahapan, yaitu persiapan, edukasi, pelatihan praktik, dan evaluasi.

Tahap Persiapan

            Tahap awal dilakukan melalui identifikasi kebutuhan mitra dengan berkoordinasi bersama perangkat desa dan kader kesehatan setempat untuk memetakan permasalahan terkait pencegahan stunting di masyarakat. Berdasarkan hasil identifikasi tersebut, tim menyusun bahan edukasi yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta. Selain itu, dilakukan penyusunan instrumen evaluasi berupa kuesioner pretest dan posttest sebagai alat ukur tingkat pengetahuan peserta sebelum dan sesudah kegiatan (7).

 

 

Tahap Pelaksanaan Edukasi

            Penyampaian materi dilakukan melalui metode ceramah interaktif yang dipadukan dengan diskusi partisipatif. Materi yang diberikan meliputi pengertian stunting, penyebab dan dampaknya terhadap pertumbuhan anak, serta pentingnya pencegahan pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang merupakan masa kritis dalam pembentukan status gizi dan perkembangan anak (1).

            Selain itu, peserta diberikan pemahaman mengenai konsep nutraceutical sebagai pangan fungsional yang memiliki manfaat kesehatan di luar fungsi gizi dasar. Edukasi juga menekankan manfaat kunyit sebagai salah satu bahan alami yang mengandung senyawa bioaktif kurkumin yang berpotensi mendukung kesehatan melalui aktivitas antioksidan dan antiinflamasi (5).

Tahap Pelatihan Praktik

            Setelah sesi edukasi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan puding kunyit sebagai inovasi pangan fungsional berbasis nutraceutical. Tim pelaksana memperagakan tahapan pembuatan mulai dari persiapan bahan, proses pengolahan, hingga penyajian. Peserta kemudian diberikan kesempatan untuk mempraktikkan secara langsung proses pembuatan puding kunyit dengan pendampingan tim pelaksana. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan keterampilan peserta dalam mengolah bahan pangan lokal menjadi produk inovatif yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pangan bergizi untuk mendukung pencegahan stunting. Setelah pelatihan praktik selesai, dilakukan sesi tanya jawab dan diskusi interaktif sebagai sarana klarifikasi materi, penguatan pemahaman, serta berbagi pengalaman antar peserta terkait implementasi materi dalam kehidupan sehari-hari.

Tahap Evaluasi

            Evaluasi kegiatan dilakukan menggunakan metode pretest-posttest melalui kuesioner yang terdiri atas 8 butir pertanyaan. Evaluasi ini bertujuan untuk mengukur perubahan tingkat pengetahuan peserta setelah mengikuti rangkaian edukasi dan pelatihan. Kategori tingkat pengetahuan peserta ditentukan berdasarkan persentase skor jawaban benar, yaitu 81–100% (sangat baik), 61–80% (baik), 41–60% (cukup), 21–40% (kurang), 0–20% (sangat kurang).

Klasifikasi tersebut digunakan untuk menginterpretasikan hasil pengukuran pengetahuan peserta secara deskriptif (8). Data hasil pretest dan posttest dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan membandingkan distribusi kategori pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi. Analisis ini digunakan untuk menggambarkan efektivitas kegiatan edukasi dan pelatihan nutraceutical dalam meningkatkan pengetahuan ibu posyandu terkait pencegahan stunting di Desa Darsono.

                                                                                  

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Gambar 1. Edukasi Kesehatan tentang Stunting dan Nutraceutical

 

Hasil kegiatan menunjukkan bahwa edukasi kesehatan berbasis komunitas yang dipadukan dengan pelatihan praktik memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan ibu posyandu mengenai pencegahan stunting.

 

 

Gambar 1. Perbandingan Persentase Hasil Pretest dan Posttest Pengetahuan Ibu Posyandu pada Setiap Indikator Edukasi Pencegahan Stunting melalui Nutraceutical Puding Kunyit.

 

Diagram menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta pada seluruh indikator setelah pelaksanaan edukasi dan pelatihan. Peningkatan tertinggi terjadi pada indikator pemahaman mengenai pengertian nutraceutical sebesar 33,33%, diikuti indikator bentuk sediaan nutraceutical dan manfaat nutraceutical masing-masing sebesar 26,66%, serta kandungan utama kunyit sebesar 23,33%. Temuan ini menunjukkan bahwa materi terkait konsep nutraceutical merupakan pengetahuan baru bagi sebagian besar peserta sehingga intervensi edukasi memberikan dampak peningkatan pemahaman yang cukup signifikan. Sementara itu, indikator tentang pengertian stunting dan manfaat kunyit menunjukkan peningkatan yang lebih rendah karena pengetahuan dasar peserta pada aspek tersebut sudah relatif baik sebelum intervensi dilakukan.”

Peningkatan skor posttest setelah intervensi menunjukkan bahwa pendekatan edukatif yang interaktif mampu memperkuat pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan. Temuan ini sejalan dengan penelitian oleh Sirajuddin et al. (2021) yang menyatakan bahwa peningkatan literasi gizi pada ibu melalui intervensi edukatif secara signifikan berkontribusi terhadap peningkatan kapasitas keluarga dalam upaya pencegahan stunting. Pengetahuan ibu berperan penting dalam pengambilan keputusan terkait pola konsumsi keluarga, pemilihan bahan pangan, serta praktik pemberian makan anak yang tepat (9).

Peningkatan pengetahuan peserta setelah penyuluhan juga sejalan dengan hasil penelitian Astuti (2022) yang menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan mampu meningkatkan pemahaman kader posyandu mengenai pencegahan stunting secara bermakna. Metode penyampaian materi secara interaktif memberikan kesempatan bagi peserta untuk lebih aktif dalam memahami informasi dan mengklarifikasi hal-hal yang belum dipahami (10).

Pelatihan praktik pembuatan puding kunyit memberikan kontribusi penting terhadap peningkatan keterampilan peserta. Pembelajaran berbasis praktik dinilai lebih efektif dibandingkan metode ceramah semata karena memungkinkan peserta mengalami proses belajar secara langsung. Hasil ini mendukung temuan Imansari et al. (2021) yang menyatakan bahwa pelatihan keterampilan berbasis demonstrasi dapat meningkatkan kemampuan kader dalam mengaplikasikan pengetahuan gizi pada tingkat rumah tangga (11).

Pemanfaatan kunyit sebagai bahan dasar nutraceutical memiliki potensi besar dalam mendukung upaya promotif pencegahan stunting. Kunyit mengandung senyawa kurkumin yang diketahui memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi, sehingga berpotensi mendukung kesehatan saluran cerna dan meningkatkan status kesehatan secara umum. Pangan fungsional berbasis bahan alami dapat menjadi alternatif intervensi gizi yang aplikatif dan berkelanjutan apabila dikembangkan melalui pendekatan edukasi masyarakat.

 

Gambar 2. Pelatihan Pembuatan Nutraceutical Puding Kunyit

 

Sesi diskusi dan tanya jawab setelah pelatihan juga menjadi bagian penting dalam proses transfer pengetahuan. Interaksi dua arah memungkinkan peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam melalui klarifikasi materi dan berbagi pengalaman. Menurut penelitian Nuhan et al. (2023), metode edukasi yang melibatkan partisipasi aktif peserta terbukti lebih efektif dalam meningkatkan retensi pengetahuan dibandingkan penyampaian satu arah (12) .

Secara keseluruhan, kegiatan pelatihan nutraceutical di Desa Darsono menunjukkan bahwa pendekatan edukasi yang mengintegrasikan penyuluhan, demonstrasi praktik, dan diskusi interaktif merupakan strategi yang efektif dalam meningkatkan kapasitas ibu posyandu sebagai agen promotif pencegahan stunting di tingkat masyarakat. Program ini berpotensi untuk dikembangkan secara berkelanjutan melalui pendampingan lanjutan dan diversifikasi produk nutraceutical berbasis pangan lokal.

 

SIMPULAN

1.       Pelatihan nutraceutical di Desa Darsono efektif meningkatkan pengetahuan ibu posyandu tentang pencegahan stunting, yang ditunjukkan oleh peningkatan hasil pada seluruh indikator evaluasi, terutama pada pemahaman konsep nutraceutical.

2.       Kombinasi edukasi, demonstrasi pembuatan puding kunyit, dan diskusi interaktif berhasil meningkatkan keterampilan peserta dalam memanfaatkan pangan lokal sebagai produk fungsional, sehingga berpotensi mendukung upaya pencegahan stunting secara berkelanjutan di masyarakat.

 

REFERENSI

1.    De Onis, M., Branca, F. (2018). Childhood stunting: A global perspective. Maternal & Child Nutrition, 14(S1), e12517.

2.    Prendergast, A. J., Humphrey, J. H. (2018). The stunting syndrome in developing countries. Paediatrics and International Child Health, 38(2), 98–107.

3.    Beal, T., Tumilowicz, A., Sutrisna, A., Izwardy, D., & Neufeld, L. M. (2018). A review of child stunting determinants in Indonesia. Maternal & Child Nutrition, 14(4), e12617.

4.    Torlesse, H., Cronin, A. A., Sebayang, S. K., & Nandy, R. (2021). Determinants of stunting in Indonesian children. BMC Public Health, 21(1), 1–12.

5.    Santini, A., Novellino, E., & Toffanin, R. (2018). Nutraceuticals: Opening the debate for a regulatory framework. British Journal of Clinical Pharmacology, 84(4), 659–672.

6.    Setiawan, A., Prasetyo, Y., & Hidayati, N. (2020). Efektivitas pendidikan kesehatan dengan metode pretest-posttest dalam peningkatan pengetahuan masyarakat. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia, 15(2), 89–96.

7.    Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

8.    Notoatmodjo, S. (2018). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

9.    Sirajuddin, S., et al. (2021). The intervention of maternal nutrition literacy has the potential to prevent childhood stunting. Journal of Public Health Research, 10(2), 2235

10. Astuti, D. S. T. (2022). Pengaruh pendidikan pencegahan stunting terhadap pengetahuan kader posyandu. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 21(2), 112–118.

11. Imansari, A., Madanijah, S., & Kustiyah, L. (2021). Pengaruh pendidikan gizi terhadap pengetahuan, sikap, dan keterampilan kader melakukan konseling gizi di Posyandu. Amerta Nutrition, 5(1), 1–7.

12. Nuhan, M. V., et al. (2023). The influence of balanced nutrition education on the knowledge of Posyandu cadres in preventing stunting. Jurnal Ners dan Kebidanan, 10(3), 398–404.

Pelatihan Budidaya Maggot BSF Sebagai Solusi Berkelanjutan Untuk Sampah Organik dan Pakan Ternak Murah di Desa Cisalak


BSF Maggot Cultivation Training as a Sustainable Solution for Organic Waste and Affordable Animal Feed in Cisalak Village

BSF Maggot Cultivation Training as a Sustainable Solution for Organic Waste and Affordable Animal Feed in Cisalak Village | Hamid | Nanggroe: Jurnal Pengabdian Cendikia 

Abdul Hamid1, Neli Purwanti², Sutopo3

1Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sebelas April, Sumedang, Indonesia

2Program Studi Ekonomi Syariah, STAI Sebelas April Sumedang, Sumedang, Indonesia

3Fakultas Teknologi dan Bisnis, Universitas Bakti Tunas Husada, Indonesia
Email: abdulhamid.feb@unsap.ac.id,
nelipurwanti@staisebelasapril.ac.id, sutopo@universitas-bth.ac.id

 

Abstract

Cisalak Village has various potentials, one of which is in the livestock sector. In this sector, there are various types of cultivation businesses, such as chicken, catfish, patin fish, and other fish for consumption. However, farmers often face challenges in the form of increasing prices of animal feed. Both chicken and fish require large amounts of feed before they can be harvested, so that the spike in feed prices is an obstacle to the sustainability of livestock businesses in the village. This PKM program aims to provide training on BSF maggot cultivation as a solution in managing organic waste as well as an alternative to animal feed in Cisalak Village, Cisarua, Sumedang. The method used in this PKM is a socialization approach. This training activity was carried out well on March 9, 2026 and received a positive response from the local community. The enthusiasm of the residents was very high in participating in the series of activities, because this training offers a solution to the problem of expensive animal feed. The sustainability of this program depends on the consistency of the community in cultivating BSF maggots, so that the availability of animal feed is maintained and the price of feed is more affordable.

Keywords: Maggot Cultivation, BSF Maggots, Organic Waste, Animal Feed

Abstrak

Desa Cisalak memiliki beragam potensi, salah satunya dalam sektor peternakan. Di bidang ini, terdapat berbagai jenis usaha budidaya, seperti ayam, ikan lele, ikan patin, serta ikan konsumsi lainnya. Namun, para peternak kerap menghadapi tantangan berupa meningkatnya harga pakan ternak. Baik ayam maupun ikan memerlukan pakan dalam jumlah besar sebelum dapat dipanen, sehingga lonjakan harga pakan menjadi hambatan dalam keberlanjutan usaha ternak di desa tersebut. Program PKM ini bertujuan untuk memberikan pelatihan mengenai budidaya maggot BSF sebagai solusi dalam pengelolaan sampah organik sekaligus alternatif pakan ternak di Desa Cisalak, Cisarua, Sumedang. Metode yang digunakan dalam PKM ini adalah pendekatan sosialisasi. Kegiatan pelatihan ini telah terlaksana dengan baik pada 3 Februari 2025 dan mendapat respons positif dari masyarakat setempat. Antusiasme warga sangat tinggi dalam mengikuti rangkaian kegiatan, karena pelatihan ini menawarkan solusi atas permasalahan pakan ternak yang mahal. Keberlanjutan program ini bergantung pada konsistensi masyarakat dalam membudidayakan maggot BSF, sehingga ketersediaan pakan ternak tetap terjaga dan harga pakan lebih terjangkau.

Kata kunci: Budidaya Maggot, Maggot BSF, Sampah Organik, Pakan Ternak.


PENDAHULUAN

Desa Cisalak terletak di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, berada di bagian barat wilayah kecamatan. Desa ini berbatasan langsung dengan Kecamatan Cimalaka, Kecamatan Sumedang Utara, dan Kecamatan Ganeas. Di bagian selatan, aliran Sungai Cipeles menjadi batas alami wilayahnya. Lokasi Desa Cisalak cukup strategis, dengan jarak sekitar tiga kilometer dari pusat Kecamatan Cisarua ke arah barat, menjadikannya mudah dijangkau dari berbagai wilayah sekitarnya.

Desa Cisalak memiliki berbagai potensi, terutama dalam bidang peternakan. Di sektor ini, banyak warga yang membudidayakan ternak seperti ayam, ikan lele, ikan patin, dan berbagai jenis ikan konsumsi lainnya. Namun, salah satu tantangan utama dalam usaha peternakan di desa ini adalah meningkatnya harga pakan ternak (Hasaya, at al., 2024). Ayam dan ikan yang dibudidayakan membutuhkan jumlah pakan yang cukup besar hingga mencapai tahap panen. Akibatnya, lonjakan harga pakan menjadi kendala yang dapat menghambat keberlangsungan usaha peternakan masyarakat setempat (Soni &Sulistyowati, 2021).

Sebagai solusi atas permasalahan tersebut, penulis mengusulkan budidaya maggot BSF sebagai alternatif inovatif dalam penyediaan pakan ternak. Maggot BSF berasal dari serangga yang tergolong dalam keluarga lalat (Diptera) dan dapat tumbuh dengan baik dengan memanfaatkan limbah tanaman hortikultura serta bahan organik lainnya( Ahmad,at al., 2021). Maggot ini merupakan larva dari lalat Black Soldier Fly, yang sering kali dianggap sebagai hama oleh sebagian besar masyarakat. Secara fisik, lalat dewasa BSF menyerupai tawon dengan tubuh berwarna hitam dan panjang sekitar 15–20 mm (Rachmawati, et al., 2015).

Dalam siklus hidupnya, BSF mengalami metamorfosis sempurna yang terdiri dari tahap telur, larva, prepupa, pupa, dan akhirnya menjadi lalat dewasa. Tahapan larva inilah yang disebut sebagai maggot dan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak berkualitas tinggi. Siklus hidup BSF tergolong singkat, hanya memerlukan waktu sekitar 40 hingga 44 hari, tergantung pada kondisi lingkungan dan ketersediaan makanan (Hakim & Syarif, 2021).

Dari segi kandungan nutrisi, maggot BSF memiliki kadar protein yang cukup tinggi, yakni mencapai 44,26%, dengan kandungan lemak sebesar 29,65%. Selain itu, maggot juga kaya akan asam amino, asam lemak, dan mineral yang setara dengan sumber protein lainnya, menjadikannya alternatif pakan yang ideal bagi ternak (Hadi Sasongko et al. 2021).

Berdasarkan latar belakang tersebut, program PKM ini bertujuan untuk memberikan pelatihan budidaya maggot BSF sebagai solusi dalam pengelolaan sampah organik serta penyediaan pakan ternak di Desa Cisalak, Cisarua, Sumedang

 

METODE PELAKSANAAN

A. Tempat dan Waktu

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang bertajuk Pelatihan Budidaya Maggot BSF Sebagai Solusi Berkelanjutan untuk Sampah Organik dan Pakan Ternak Murah di Desa Cisalak, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, telah sukses diselenggarakan pada hari Senin, 9 Maret 2026.

B. Ruang Lingkup dan Objek Pengabdian

Kegiatan PKM ini ditujukan bagi para pelaku budidaya ternak serta masyarakat umum di Desa Cisalak, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, dengan tujuan memberikan pemahaman dan keterampilan dalam budidaya maggot BSF sebagai solusi alternatif untuk pengelolaan sampah organik dan penyediaan pakan ternak yang lebih terjangkau.

C. Pendekatan atau Teknik Pengabdian

Metode yang digunakan dalam kegiatan PKM Pelatihan Budidaya Maggot BSF Sebagai  Solusi Berkelanjutan untuk Sampah Organik dan Pakan Ternak Murah di Desa Cisalak, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, adalah pendekatan sosialisasi. Melalui metode ini, peserta diberikan pemahaman teoritis dan praktik langsung mengenai budidaya maggot BSF, sehingga mereka dapat mengimplementasikan teknik yang telah dipelajari dalam usaha peternakan maupun pengelolaan sampah organik di lingkungan mereka.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk Pelatihan Budidaya Maggot BSF Sebagai  Solusi Berkelanjutan untuk Sampah Organik dan Pakan Ternak Murah di Desa Cisalak telah dilaksanakan secara luring pada tanggal 3 Februari 2025. Dalam pelatihan ini, materi disampaikan langsung oleh tutor berpengalaman, Ridwan Fatamorgana

Pelatihan diawali dengan pemaparan mengenai siklus hidup Black Soldier Fly (BSF) serta proses terbentuknya maggot secara teori. Selanjutnya, peserta diberikan pemahaman tentang manfaat maggot sebagai pakan ternak, khususnya bagi unggas dan ikan, serta jenis sampah organik yang dapat digunakan sebagai sumber pakan bagi maggot.

Black Soldier Fly (BSF) atau Hermetia illucens, yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Lalat Tentara Hitam, merupakan salah satu jenis lalat yang memiliki banyak manfaat bagi manusia. Berbeda dengan lalat hijau atau lalat sampah yang berperan sebagai vektor penyakit, BSF adalah jenis lalat yang bersih dan tidak membawa patogen berbahaya. Keunggulan inilah yang menjadikannya solusi potensial dalam pengelolaan limbah organik sekaligus sebagai alternatif sumber pakan ternak yang bernutrisi tinggi (Resti Rahayu et a, l2021).

Gambar 1. Pengenalan Magot Oleh Narasumber Kepada Mitra PKM

 

Para peserta dalam Pelatihan Budidaya Maggot BSF terdiri dari masyarakat umum serta para pelaku usaha ternak di Desa Cisalak, Cisarua, Sumedang. Melalui pelatihan ini, mereka diharapkan mampu memahami dan mempraktikkan secara langsung teknik budidaya maggot BSF sebagai solusi pakan ternak dan pengelolaan sampah organik.

Selama kegiatan berlangsung, baik narasumber maupun peserta menerapkan protokol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun. Setelah sesi pemaparan materi selesai, peserta diajak untuk mengenali dan mengamati kehidupan BSF di kandang yang telah disediakan oleh Tim PKM. Mereka dapat melihat langsung proses bertelur dan penetasan, pemindahan telur ke wadah budidaya untuk berkembang menjadi larva, hingga pertumbuhan larva menjadi maggot yang hanya mengonsumsi sampah organik.

Ridwan Fatamorgana selaku tutor pelatihan, menekankan bahwa "Maggot adalah solusi untuk protein alternatif bagi ternak, baik diberikan secara langsung maupun sebagai substitusi dalam pakan ternak." Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa maggot berperan penting dalam pengelolaan sampah organik di Desa Cisalak, karena dalam jumlah kecil saja, maggot mampu mengurai dan menghabiskan berkilo-kilo sampah organik. Proses budidayanya pun tergolong murah dan mudah, sehingga dapat diterapkan oleh siapa saja yang ingin memanfaatkannya.

 

 

 

 

 

Gambar 2. Pengenalan dan Pengamatan Kehidupan BSF Kepada Mitra PKM

 

Selama berlangsungnya pelatihan, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi dengan aktif mendengarkan dan mengajukan berbagai pertanyaan. Setiap pertanyaan yang diajukan mencerminkan respons positif masyarakat terhadap dua isu utama yang dihadapi di Desa Cisalak, Cisarua, Sumedang, yaitu pengelolaan sampah organik yang masih jarang dilakukan serta tingginya harga pakan ternak.

Melalui diskusi yang interaktif, terlihat bahwa masyarakat semakin tertarik untuk menerapkan budidaya maggot BSF sebagai solusi nyata dalam mengatasi permasalahan tersebut. Kesadaran akan manfaat maggot tidak hanya sebagai alternatif pakan ternak yang lebih ekonomis tetapi juga sebagai metode pengurangan sampah organik semakin tumbuh di kalangan peserta, sehingga diharapkan program ini dapat berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi masyarakat Desa Cisalak.

 

Gambar 3. Respon Mitra PKM Terhadap Pelatihan Budidaya Maggot BSF

 

Setelah pelatihan selesai dilaksanakan, pemahaman dan keterampilan masyarakat Desa Cisalak dalam budidaya maggot BSF mengalami peningkatan yang signifikan, dan mereka pun mulai mampu mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh dengan baik. Diharapkan, peserta yang telah mengikuti pelatihan ini tidak hanya memanfaatkan maggot untuk mendukung usaha peternakan mereka sendiri, tetapi juga dapat menyebarluaskan edukasi kepada warga lain di Desa Cisalak yang memiliki kebutuhan serupa.

Dengan adanya transfer ilmu dari peserta pelatihan kepada masyarakat yang belum berkesempatan hadir, manfaat dari kegiatan budidaya maggot BSF ini diharapkan dapat dirasakan secara lebih luas. Selain membantu menekan biaya pakan ternak, program ini juga berkontribusi dalam pengelolaan sampah organik, menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sekaligus mendorong keberlanjutan ekonomi bagi masyarakat sekitar.

 

Gambar 4. Foto Bersama Pemateri dan Tim PKM

 

SIMPULAN

Pelatihan Budidaya Maggot BSF Sebagai  Solusi Berkelanjutan untuk Sampah Organik dan Pakan Ternak Murah di Desa Cisalak", Cisarua, Sumedang telah sukses diselenggarakan pada 3 Februari 2025 dengan lancar. Antusiasme masyarakat dalam mengikuti setiap rangkaian kegiatan pelatihan sangat tinggi, mengingat program ini menawarkan solusi konkret terhadap permasalahan tingginya harga pakan ternak yang selama ini menjadi kendala bagi para peternak di desa tersebut.

Dengan adanya pelatihan ini, masyarakat kini memiliki alternatif pakan ternak yang lebih terjangkau serta berkelanjutan. Ke depannya, diharapkan mereka dapat konsisten dan berkomitmen dalam menjalankan budidaya maggot BSF agar ketersediaan pakan ternak tetap terjamin, sehingga biaya produksi ternak dapat ditekan dan daya beli pakan ternak yang lebih ekonomis dapat tercapai

 

REFERENSI

Ahmad, Soni Maulana, and Sulistyowati Sulistyowati. “Pemberdayaan Masyarakat Budidaya Maggot Bsf Dalam Mengatasi Kenaikan Harga Pakan Ternak.” Journal of Empowerment 2, no. 2 (2021): 243.  

Hadi Sasongko et al., “Maggot Cultivation Training to Support Efforts to Strengthen the Economy during the COVID-19 Pandemic in Somongari Village, Purworejo,” Community Empowerment 6, no. 9 (2021): 1636–1642. 

Hasaya, H., Navanti, D., Ramadhan, L. R., Susanto, I., Kartika, W., Meilani, S. S., ... &

Warniningsih. (2024). Perbandingan kompos produk pemanfaatan limbah maggot

black soldier fly (BSF) dengan kompos sampah organik. Jurnal Rekayasa Lingkungan, 1-11.

M R Hakim and I Syarif, “SP Diseminasi Maggot Sebagai Pakan Lokal Alternatif Sumber Protein Ayam Kampung Pada Kegiatan PK-M Kelompok Tani-Ternak Liku Labbua Di Kecamatan …,” JATI EMAS (Jurnal Aplikasi Teknik dan … 5, no. 3 (2021): 17–22, http://journal.fdi.or.id/index.php/jatiemas/article/view/488. 

Rachmawati, R., Buchori, D., Hidayat, P., Hem, S., & Fahmi, M. R. (2015). Perkembangan dan Kandungan Nutrisi Larva Hermetia illucens (Linnaeus) (Diptera: Stratiomyidae) pada Bungkil Kelapa Sawit. Jurnal Entomologi Indonesia, 7(1), 28. https://doi.org/10.5994/jei.7.1.28

Resti Rahayu et al., “Pelatihan Budidaya Maggot Black Soldier Fly Sebagai Pakan Alternatif Dalam Upaya Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga,” Jurnal Warta Pengabdian Andalas 28, no. 2 (2021): 91–98.

Soni Maulana Ahmad and Sulistyowati Sulistyowati, “Pemberdayaan Masyarakat Budidaya Maggot Bsf Dalam Mengatasi Kenaikan Harga Pakan Ternak,” Journal of Empowerment 2, no. 2 (2021): 243