Friday, May 29, 2026

Pelatihan Budidaya Maggot BSF Sebagai Solusi Berkelanjutan Untuk Sampah Organik dan Pakan Ternak Murah di Desa Cisalak


BSF Maggot Cultivation Training as a Sustainable Solution for Organic Waste and Affordable Animal Feed in Cisalak Village

BSF Maggot Cultivation Training as a Sustainable Solution for Organic Waste and Affordable Animal Feed in Cisalak Village | Hamid | Nanggroe: Jurnal Pengabdian Cendikia 

Abdul Hamid1, Neli Purwanti², Sutopo3

1Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sebelas April, Sumedang, Indonesia

2Program Studi Ekonomi Syariah, STAI Sebelas April Sumedang, Sumedang, Indonesia

3Fakultas Teknologi dan Bisnis, Universitas Bakti Tunas Husada, Indonesia
Email: abdulhamid.feb@unsap.ac.id,
nelipurwanti@staisebelasapril.ac.id, sutopo@universitas-bth.ac.id

 

Abstract

Cisalak Village has various potentials, one of which is in the livestock sector. In this sector, there are various types of cultivation businesses, such as chicken, catfish, patin fish, and other fish for consumption. However, farmers often face challenges in the form of increasing prices of animal feed. Both chicken and fish require large amounts of feed before they can be harvested, so that the spike in feed prices is an obstacle to the sustainability of livestock businesses in the village. This PKM program aims to provide training on BSF maggot cultivation as a solution in managing organic waste as well as an alternative to animal feed in Cisalak Village, Cisarua, Sumedang. The method used in this PKM is a socialization approach. This training activity was carried out well on March 9, 2026 and received a positive response from the local community. The enthusiasm of the residents was very high in participating in the series of activities, because this training offers a solution to the problem of expensive animal feed. The sustainability of this program depends on the consistency of the community in cultivating BSF maggots, so that the availability of animal feed is maintained and the price of feed is more affordable.

Keywords: Maggot Cultivation, BSF Maggots, Organic Waste, Animal Feed

Abstrak

Desa Cisalak memiliki beragam potensi, salah satunya dalam sektor peternakan. Di bidang ini, terdapat berbagai jenis usaha budidaya, seperti ayam, ikan lele, ikan patin, serta ikan konsumsi lainnya. Namun, para peternak kerap menghadapi tantangan berupa meningkatnya harga pakan ternak. Baik ayam maupun ikan memerlukan pakan dalam jumlah besar sebelum dapat dipanen, sehingga lonjakan harga pakan menjadi hambatan dalam keberlanjutan usaha ternak di desa tersebut. Program PKM ini bertujuan untuk memberikan pelatihan mengenai budidaya maggot BSF sebagai solusi dalam pengelolaan sampah organik sekaligus alternatif pakan ternak di Desa Cisalak, Cisarua, Sumedang. Metode yang digunakan dalam PKM ini adalah pendekatan sosialisasi. Kegiatan pelatihan ini telah terlaksana dengan baik pada 3 Februari 2025 dan mendapat respons positif dari masyarakat setempat. Antusiasme warga sangat tinggi dalam mengikuti rangkaian kegiatan, karena pelatihan ini menawarkan solusi atas permasalahan pakan ternak yang mahal. Keberlanjutan program ini bergantung pada konsistensi masyarakat dalam membudidayakan maggot BSF, sehingga ketersediaan pakan ternak tetap terjaga dan harga pakan lebih terjangkau.

Kata kunci: Budidaya Maggot, Maggot BSF, Sampah Organik, Pakan Ternak.


PENDAHULUAN

Desa Cisalak terletak di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, berada di bagian barat wilayah kecamatan. Desa ini berbatasan langsung dengan Kecamatan Cimalaka, Kecamatan Sumedang Utara, dan Kecamatan Ganeas. Di bagian selatan, aliran Sungai Cipeles menjadi batas alami wilayahnya. Lokasi Desa Cisalak cukup strategis, dengan jarak sekitar tiga kilometer dari pusat Kecamatan Cisarua ke arah barat, menjadikannya mudah dijangkau dari berbagai wilayah sekitarnya.

Desa Cisalak memiliki berbagai potensi, terutama dalam bidang peternakan. Di sektor ini, banyak warga yang membudidayakan ternak seperti ayam, ikan lele, ikan patin, dan berbagai jenis ikan konsumsi lainnya. Namun, salah satu tantangan utama dalam usaha peternakan di desa ini adalah meningkatnya harga pakan ternak (Hasaya, at al., 2024). Ayam dan ikan yang dibudidayakan membutuhkan jumlah pakan yang cukup besar hingga mencapai tahap panen. Akibatnya, lonjakan harga pakan menjadi kendala yang dapat menghambat keberlangsungan usaha peternakan masyarakat setempat (Soni &Sulistyowati, 2021).

Sebagai solusi atas permasalahan tersebut, penulis mengusulkan budidaya maggot BSF sebagai alternatif inovatif dalam penyediaan pakan ternak. Maggot BSF berasal dari serangga yang tergolong dalam keluarga lalat (Diptera) dan dapat tumbuh dengan baik dengan memanfaatkan limbah tanaman hortikultura serta bahan organik lainnya( Ahmad,at al., 2021). Maggot ini merupakan larva dari lalat Black Soldier Fly, yang sering kali dianggap sebagai hama oleh sebagian besar masyarakat. Secara fisik, lalat dewasa BSF menyerupai tawon dengan tubuh berwarna hitam dan panjang sekitar 15–20 mm (Rachmawati, et al., 2015).

Dalam siklus hidupnya, BSF mengalami metamorfosis sempurna yang terdiri dari tahap telur, larva, prepupa, pupa, dan akhirnya menjadi lalat dewasa. Tahapan larva inilah yang disebut sebagai maggot dan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak berkualitas tinggi. Siklus hidup BSF tergolong singkat, hanya memerlukan waktu sekitar 40 hingga 44 hari, tergantung pada kondisi lingkungan dan ketersediaan makanan (Hakim & Syarif, 2021).

Dari segi kandungan nutrisi, maggot BSF memiliki kadar protein yang cukup tinggi, yakni mencapai 44,26%, dengan kandungan lemak sebesar 29,65%. Selain itu, maggot juga kaya akan asam amino, asam lemak, dan mineral yang setara dengan sumber protein lainnya, menjadikannya alternatif pakan yang ideal bagi ternak (Hadi Sasongko et al. 2021).

Berdasarkan latar belakang tersebut, program PKM ini bertujuan untuk memberikan pelatihan budidaya maggot BSF sebagai solusi dalam pengelolaan sampah organik serta penyediaan pakan ternak di Desa Cisalak, Cisarua, Sumedang

 

METODE PELAKSANAAN

A. Tempat dan Waktu

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang bertajuk Pelatihan Budidaya Maggot BSF Sebagai Solusi Berkelanjutan untuk Sampah Organik dan Pakan Ternak Murah di Desa Cisalak, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, telah sukses diselenggarakan pada hari Senin, 9 Maret 2026.

B. Ruang Lingkup dan Objek Pengabdian

Kegiatan PKM ini ditujukan bagi para pelaku budidaya ternak serta masyarakat umum di Desa Cisalak, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, dengan tujuan memberikan pemahaman dan keterampilan dalam budidaya maggot BSF sebagai solusi alternatif untuk pengelolaan sampah organik dan penyediaan pakan ternak yang lebih terjangkau.

C. Pendekatan atau Teknik Pengabdian

Metode yang digunakan dalam kegiatan PKM Pelatihan Budidaya Maggot BSF Sebagai  Solusi Berkelanjutan untuk Sampah Organik dan Pakan Ternak Murah di Desa Cisalak, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, adalah pendekatan sosialisasi. Melalui metode ini, peserta diberikan pemahaman teoritis dan praktik langsung mengenai budidaya maggot BSF, sehingga mereka dapat mengimplementasikan teknik yang telah dipelajari dalam usaha peternakan maupun pengelolaan sampah organik di lingkungan mereka.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk Pelatihan Budidaya Maggot BSF Sebagai  Solusi Berkelanjutan untuk Sampah Organik dan Pakan Ternak Murah di Desa Cisalak telah dilaksanakan secara luring pada tanggal 3 Februari 2025. Dalam pelatihan ini, materi disampaikan langsung oleh tutor berpengalaman, Ridwan Fatamorgana

Pelatihan diawali dengan pemaparan mengenai siklus hidup Black Soldier Fly (BSF) serta proses terbentuknya maggot secara teori. Selanjutnya, peserta diberikan pemahaman tentang manfaat maggot sebagai pakan ternak, khususnya bagi unggas dan ikan, serta jenis sampah organik yang dapat digunakan sebagai sumber pakan bagi maggot.

Black Soldier Fly (BSF) atau Hermetia illucens, yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Lalat Tentara Hitam, merupakan salah satu jenis lalat yang memiliki banyak manfaat bagi manusia. Berbeda dengan lalat hijau atau lalat sampah yang berperan sebagai vektor penyakit, BSF adalah jenis lalat yang bersih dan tidak membawa patogen berbahaya. Keunggulan inilah yang menjadikannya solusi potensial dalam pengelolaan limbah organik sekaligus sebagai alternatif sumber pakan ternak yang bernutrisi tinggi (Resti Rahayu et a, l2021).

Gambar 1. Pengenalan Magot Oleh Narasumber Kepada Mitra PKM

 

Para peserta dalam Pelatihan Budidaya Maggot BSF terdiri dari masyarakat umum serta para pelaku usaha ternak di Desa Cisalak, Cisarua, Sumedang. Melalui pelatihan ini, mereka diharapkan mampu memahami dan mempraktikkan secara langsung teknik budidaya maggot BSF sebagai solusi pakan ternak dan pengelolaan sampah organik.

Selama kegiatan berlangsung, baik narasumber maupun peserta menerapkan protokol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun. Setelah sesi pemaparan materi selesai, peserta diajak untuk mengenali dan mengamati kehidupan BSF di kandang yang telah disediakan oleh Tim PKM. Mereka dapat melihat langsung proses bertelur dan penetasan, pemindahan telur ke wadah budidaya untuk berkembang menjadi larva, hingga pertumbuhan larva menjadi maggot yang hanya mengonsumsi sampah organik.

Ridwan Fatamorgana selaku tutor pelatihan, menekankan bahwa "Maggot adalah solusi untuk protein alternatif bagi ternak, baik diberikan secara langsung maupun sebagai substitusi dalam pakan ternak." Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa maggot berperan penting dalam pengelolaan sampah organik di Desa Cisalak, karena dalam jumlah kecil saja, maggot mampu mengurai dan menghabiskan berkilo-kilo sampah organik. Proses budidayanya pun tergolong murah dan mudah, sehingga dapat diterapkan oleh siapa saja yang ingin memanfaatkannya.

 

 

 

 

 

Gambar 2. Pengenalan dan Pengamatan Kehidupan BSF Kepada Mitra PKM

 

Selama berlangsungnya pelatihan, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi dengan aktif mendengarkan dan mengajukan berbagai pertanyaan. Setiap pertanyaan yang diajukan mencerminkan respons positif masyarakat terhadap dua isu utama yang dihadapi di Desa Cisalak, Cisarua, Sumedang, yaitu pengelolaan sampah organik yang masih jarang dilakukan serta tingginya harga pakan ternak.

Melalui diskusi yang interaktif, terlihat bahwa masyarakat semakin tertarik untuk menerapkan budidaya maggot BSF sebagai solusi nyata dalam mengatasi permasalahan tersebut. Kesadaran akan manfaat maggot tidak hanya sebagai alternatif pakan ternak yang lebih ekonomis tetapi juga sebagai metode pengurangan sampah organik semakin tumbuh di kalangan peserta, sehingga diharapkan program ini dapat berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi masyarakat Desa Cisalak.

 

Gambar 3. Respon Mitra PKM Terhadap Pelatihan Budidaya Maggot BSF

 

Setelah pelatihan selesai dilaksanakan, pemahaman dan keterampilan masyarakat Desa Cisalak dalam budidaya maggot BSF mengalami peningkatan yang signifikan, dan mereka pun mulai mampu mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh dengan baik. Diharapkan, peserta yang telah mengikuti pelatihan ini tidak hanya memanfaatkan maggot untuk mendukung usaha peternakan mereka sendiri, tetapi juga dapat menyebarluaskan edukasi kepada warga lain di Desa Cisalak yang memiliki kebutuhan serupa.

Dengan adanya transfer ilmu dari peserta pelatihan kepada masyarakat yang belum berkesempatan hadir, manfaat dari kegiatan budidaya maggot BSF ini diharapkan dapat dirasakan secara lebih luas. Selain membantu menekan biaya pakan ternak, program ini juga berkontribusi dalam pengelolaan sampah organik, menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sekaligus mendorong keberlanjutan ekonomi bagi masyarakat sekitar.

 

Gambar 4. Foto Bersama Pemateri dan Tim PKM

 

SIMPULAN

Pelatihan Budidaya Maggot BSF Sebagai  Solusi Berkelanjutan untuk Sampah Organik dan Pakan Ternak Murah di Desa Cisalak", Cisarua, Sumedang telah sukses diselenggarakan pada 3 Februari 2025 dengan lancar. Antusiasme masyarakat dalam mengikuti setiap rangkaian kegiatan pelatihan sangat tinggi, mengingat program ini menawarkan solusi konkret terhadap permasalahan tingginya harga pakan ternak yang selama ini menjadi kendala bagi para peternak di desa tersebut.

Dengan adanya pelatihan ini, masyarakat kini memiliki alternatif pakan ternak yang lebih terjangkau serta berkelanjutan. Ke depannya, diharapkan mereka dapat konsisten dan berkomitmen dalam menjalankan budidaya maggot BSF agar ketersediaan pakan ternak tetap terjamin, sehingga biaya produksi ternak dapat ditekan dan daya beli pakan ternak yang lebih ekonomis dapat tercapai

 

REFERENSI

Ahmad, Soni Maulana, and Sulistyowati Sulistyowati. “Pemberdayaan Masyarakat Budidaya Maggot Bsf Dalam Mengatasi Kenaikan Harga Pakan Ternak.” Journal of Empowerment 2, no. 2 (2021): 243.  

Hadi Sasongko et al., “Maggot Cultivation Training to Support Efforts to Strengthen the Economy during the COVID-19 Pandemic in Somongari Village, Purworejo,” Community Empowerment 6, no. 9 (2021): 1636–1642. 

Hasaya, H., Navanti, D., Ramadhan, L. R., Susanto, I., Kartika, W., Meilani, S. S., ... &

Warniningsih. (2024). Perbandingan kompos produk pemanfaatan limbah maggot

black soldier fly (BSF) dengan kompos sampah organik. Jurnal Rekayasa Lingkungan, 1-11.

M R Hakim and I Syarif, “SP Diseminasi Maggot Sebagai Pakan Lokal Alternatif Sumber Protein Ayam Kampung Pada Kegiatan PK-M Kelompok Tani-Ternak Liku Labbua Di Kecamatan …,” JATI EMAS (Jurnal Aplikasi Teknik dan … 5, no. 3 (2021): 17–22, http://journal.fdi.or.id/index.php/jatiemas/article/view/488. 

Rachmawati, R., Buchori, D., Hidayat, P., Hem, S., & Fahmi, M. R. (2015). Perkembangan dan Kandungan Nutrisi Larva Hermetia illucens (Linnaeus) (Diptera: Stratiomyidae) pada Bungkil Kelapa Sawit. Jurnal Entomologi Indonesia, 7(1), 28. https://doi.org/10.5994/jei.7.1.28

Resti Rahayu et al., “Pelatihan Budidaya Maggot Black Soldier Fly Sebagai Pakan Alternatif Dalam Upaya Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga,” Jurnal Warta Pengabdian Andalas 28, no. 2 (2021): 91–98.

Soni Maulana Ahmad and Sulistyowati Sulistyowati, “Pemberdayaan Masyarakat Budidaya Maggot Bsf Dalam Mengatasi Kenaikan Harga Pakan Ternak,” Journal of Empowerment 2, no. 2 (2021): 243 

 

Sunday, May 24, 2026

Kegiatan Remaja Masjid Sebagai Sarana Pemberdayaan Remaja di Masjid Ar-raudhah Kelurahan Bambu Kuning


Youth Mosque Activities as a Means of Youth Empowerment at Masjid Ar-Raudhah, Bambu Kuning

 Youth Mosque Activities as a Means of Youth Empowerment at Masjid Ar-Raudhah, Bambu Kuning | Pratiwi | Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin

Anggi Pratiwi1 Rahma Anggi Pratiwi2 Wulan Afirli3, Rika Fitri Ramadani4

Pendidikan Masyarakat, Universitas Riau, Indonesia

email:  kitakitaajaterus23@gmail.co 

Abstrak

Kegiatan remaja masjid merupakan salah satu bentuk pembinaan generasi muda yang berperan penting dalam meningkatkan kualitas spiritual, sosial, dan kepemimpinan remaja di tengah tantangan perkembangan zaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kegiatan remaja masjid sebagai sarana pemberdayaan remaja di Masjid Ar-Raudhah, Kelurahan Bambu Kuning. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap pengurus dan anggota remaja masjid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai kegiatan seperti pengajian rutin, pelatihan kepemimpinan, kegiatan sosial, dan peringatan hari besar Islam mampu meningkatkan pemahaman keagamaan, keterampilan sosial, serta rasa tanggung jawab remaja. Selain itu, kegiatan tersebut juga menjadi media pembentukan karakter dan pengalihan dari pengaruh negatif lingkungan. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi kendala berupa keterbatasan sarana dan rendahnya partisipasi sebagian remaja. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kegiatan remaja masjid memiliki peran strategis dalam pemberdayaan remaja, sehingga diperlukan dukungan berkelanjutan dari pengurus masjid dan masyarakat untuk mengoptimalkan pelaksanaannya.

Kata kunci : remaja masjid, pemberdayaan remaja, kegiatan keagamaan, pembentukan karakter.

Abstract

Mosque youth activities are one form of youth development that plays an important role in improving the spiritual, social, and leadership qualities of adolescents amid the challenges of modern development. This study aims to analyze the role of mosque youth activities as a means of youth empowerment at Masjid Ar-Raudhah, Bambu Kuning. The method used was a qualitative approach with data collection techniques through observation, interviews, and documentation involving mosque youth administrators and members. The results of the study indicate that various activities such as regular religious studies, leadership training, social activities, and commemorations of Islamic holidays were able to enhance religious understanding, social skills, and the sense of responsibility among adolescents. In addition, these activities also served as a medium for character building and diverting youth from negative environmental influences. However, the implementation still faced obstacles in the form of limited facilities and the low participation of some adolescents. Therefore, it can be concluded that mosque youth activities have a strategic role in youth empowerment, and continuous support from mosque administrators and the community is needed to optimize their implementation.

Keywords: mosque youth, youth empowerment, religious activities, character building.

PENDAHULUAN

Remaja merupakan generasi penerus bangsa yang berada pada fase pencarian jati diri, sehingga memerlukan pembinaan yang tepat agar berkembang menjadi individu yang berakhlak, berpengetahuan, dan memiliki keterampilan sosial yang baik. Dalam konteks masyarakat Islam, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan umat, termasuk pemberdayaan remaja. Organisasi remaja masjid menjadi wadah strategis dalam mengembangkan potensi generasi muda melalui berbagai kegiatan keagamaan, sosial, dan keterampilan. Secara teoretis, pemberdayaan remaja melalui kegiatan masjid bertujuan membentuk generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia serta mampu berkontribusi dalam kehidupan masyarakat .

Namun demikian, kondisi di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan antara idealitas dan realitas. Tidak semua remaja memiliki minat dan keterlibatan aktif dalam kegiatan masjid, bahkan di beberapa tempat partisipasi remaja cenderung menurun akibat pengaruh lingkungan, perkembangan teknologi, serta kurangnya inovasi program kegiatan . Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kegiatan remaja masjid seperti pelatihan kepemimpinan, pengajian, dan aktivitas sosial mampu meningkatkan karakter religius, keterampilan, serta kepedulian sosial remaja . Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mengoptimalkan peran kegiatan remaja masjid sebagai sarana pemberdayaan yang efektif dan relevan dengan kebutuhan generasi muda saat ini.

Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mendeskripsikan peran kegiatan remaja masjid sebagai sarana pemberdayaan remaja di Masjid Ar-Raudhah, Kelurahan Bambu Kuning, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan kendala dalam pelaksanaannya sebagai upaya inovatif dalam pembinaan generasi muda.

 

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif, yang bertujuan untuk memahami secara mendalam peran kegiatan remaja masjid sebagai sarana pemberdayaan remaja. Subjek penelitian terdiri dari pengurus masjid, pembina remaja masjid, serta anggota remaja masjid di Masjid Ar-Raudhah, Kelurahan Bambu Kuning, yang dipilih secara purposive berdasarkan keterlibatan aktif dalam kegiatan.

Prosedur penelitian dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu tahap persiapan, pengumpulan data, analisis data, dan penarikan kesimpulan. Data dikumpulkan menggunakan teknik observasi partisipatif untuk melihat secara langsung pelaksanaan kegiatan, wawancara mendalam untuk menggali informasi terkait pengalaman dan persepsi subjek, serta dokumentasi berupa arsip kegiatan dan foto sebagai data pendukung. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, dengan bantuan pedoman wawancara dan lembar observasi yang disusun berdasarkan indikator pemberdayaan remaja seperti aspek keagamaan, sosial, dan kepemimpinan.

Analisis data dilakukan secara interaktif melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan metode, serta melakukan pengecekan ulang (member check) kepada informan. Kriteria pemilihan data didasarkan pada relevansi, konsistensi, dan kedalaman informasi yang berkaitan dengan fokus penelitian.

 

HASIL

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Masjid Ar-Raudhah, Kelurahan Bambu Kuning, ditemukan bahwa kegiatan remaja masjid memiliki peran yang signifikan dalam pemberdayaan remaja, khususnya dalam aspek keagamaan, sosial, dan kepemimpinan. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan, seperti pengajian rutin mingguan, pelatihan kepemimpinan, kegiatan sosial (bakti sosial dan gotong royong), serta partisipasi dalam peringatan hari besar Islam, menjadi sarana pembinaan yang terstruktur dan berkelanjutan. Kegiatan tersebut tidak hanya dirancang oleh pengurus remaja masjid, tetapi juga didukung oleh pembina dan pengurus masjid secara umum.

Dari hasil observasi dan wawancara, diketahui bahwa keterlibatan aktif remaja dalam kegiatan tersebut mampu meningkatkan pemahaman keagamaan mereka. Hal ini terlihat dari meningkatnya partisipasi dalam ibadah berjamaah serta kesadaran dalam menjalankan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Temuan ini menunjukkan bahwa kegiatan remaja masjid berfungsi sebagai media internalisasi nilai-nilai religius yang efektif, sejalan dengan konsep pemberdayaan yang menekankan pada penguatan aspek spiritual sebagai dasar pembentukan karakter.

Selain itu, kegiatan remaja masjid juga berkontribusi dalam pengembangan keterampilan sosial remaja. Melalui kegiatan bersama seperti gotong royong dan bakti sosial, remaja belajar bekerja sama, berkomunikasi secara efektif, serta membangun kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Proses ini mencerminkan adanya pembelajaran sosial yang berlangsung secara langsung melalui interaksi dan pengalaman, yang pada akhirnya membentuk perilaku sosial yang positif.

Dalam aspek kepemimpinan, kegiatan remaja masjid memberikan ruang bagi remaja untuk terlibat secara aktif dalam pengelolaan organisasi dan pelaksanaan program. Remaja dilatih untuk merencanakan kegiatan, mengambil keputusan, serta bertanggung jawab atas tugas yang diberikan. Hal ini berdampak pada meningkatnya rasa percaya diri, kemandirian, serta kemampuan memimpin. Dengan demikian, kegiatan remaja masjid tidak hanya bersifat partisipatif, tetapi juga transformatif dalam membentuk karakter kepemimpinan generasi muda.

Namun demikian, penelitian ini juga menemukan beberapa kendala yang mempengaruhi optimalisasi kegiatan remaja masjid. Keterbatasan sarana dan prasarana, kurangnya dukungan finansial, serta rendahnya partisipasi sebagian remaja menjadi tantangan utama. Selain itu, kurangnya inovasi dalam program kegiatan menyebabkan sebagian remaja kurang tertarik untuk terlibat secara aktif, terutama di tengah pengaruh perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup remaja saat ini.

Oleh karena itu, diperlukan upaya inovatif dalam pengembangan kegiatan remaja masjid agar lebih relevan dan menarik bagi generasi muda. Pemanfaatan media digital, pengembangan kegiatan berbasis minat dan bakat, serta peningkatan peran pembina dan dukungan masyarakat menjadi faktor penting dalam meningkatkan efektivitas pemberdayaan remaja. Secara keseluruhan, kegiatan remaja masjid di Masjid Ar-Raudhah terbukti memiliki peran strategis dalam pemberdayaan remaja, namun memerlukan penguatan dan pengembangan yang berkelanjutan agar dapat memberikan dampak yang lebih optimal.

 

PEMBAHASAN

Hasil analisis data menunjukkan bahwa kegiatan remaja masjid di Masjid Ar-Raudhah memberikan kontribusi terhadap pemberdayaan remaja dalam beberapa aspek utama, yaitu keagamaan, sosial, dan kepemimpinan. Untuk memperjelas temuan, data disajikan dalam bentuk tabel berikut:

Tabel 1. Hasil Pemberdayaan Remaja melalui Kegiatan Remaja Masjid

No

Aspek Pemberdayaan

Bentuk Kegiatan

Dampak yang Dirasakan Remaja

1

Keagamaan

Pengajian rutin, ceramah

Meningkatnya pemahaman agama dan ibadah

2

Sosial

Gotong royong, bakti sosial

Tumbuhnya kepedulian dan kerja sama

3

Kepemimpinan

Pelatihan, organisasi

Meningkatnya percaya diri dan tanggung jawab

Berdasarkan Tabel 1, terlihat bahwa setiap kegiatan yang dilaksanakan memiliki dampak yang berbeda namun saling berkaitan dalam proses pemberdayaan remaja. Aspek keagamaan menjadi dasar utama dalam membentuk karakter remaja, yang kemudian diperkuat melalui interaksi sosial dan pengalaman berorganisasi.

Selain itu, tingkat partisipasi remaja dalam kegiatan juga dianalisis untuk melihat keterlibatan mereka secara langsung. Hasilnya disajikan pada Tabel 2 berikut:

Tabel 2. Tingkat Partisipasi Remaja dalam Kegiatan Masjid

Kategori Partisipasi

Jumlah Remaja

Persentase

Aktif

18 orang

60%

Cukup aktif

8 orang

27%

Kurang aktif

4 orang

13%

Berdasarkan Tabel 2, mayoritas remaja berada pada kategori aktif, yang menunjukkan bahwa kegiatan remaja masjid cukup diminati. Namun, masih terdapat sebagian remaja dengan tingkat partisipasi rendah, yang menunjukkan perlunya peningkatan strategi dalam menarik minat mereka.

Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan remaja masjid di Masjid Ar-Raudhah telah berjalan dengan baik dan memberikan dampak positif terhadap pemberdayaan remaja, meskipun masih terdapat beberapa aspek yang perlu ditingkatkan, terutama dalam hal partisipasi dan pengembangan program kegiatan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan remaja masjid di Masjid Ar-Raudhah, Kelurahan Bambu Kuning, memiliki peran penting dalam pemberdayaan remaja, terutama pada aspek keagamaan, sosial, dan kepemimpinan. Temuan ini menunjukkan bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan generasi muda melalui berbagai aktivitas yang bersifat edukatif dan sosial. Peningkatan pemahaman agama yang diperoleh remaja melalui pengajian rutin dan kegiatan keislaman menunjukkan bahwa kegiatan remaja masjid mampu menjadi media internalisasi nilai-nilai religius dalam kehidupan sehari-hari.

Temuan tersebut sejalan dengan teori pemberdayaan masyarakat yang menyatakan bahwa pemberdayaan dilakukan melalui proses pengembangan potensi individu agar mampu meningkatkan kualitas diri dan berpartisipasi aktif dalam lingkungan sosialnya. Dalam penelitian ini, remaja diberikan ruang untuk terlibat secara langsung dalam kegiatan organisasi dan sosial sehingga mereka tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga pelaku utama dalam kegiatan masjid. Kondisi ini memperlihatkan bahwa proses pemberdayaan berlangsung melalui pengalaman nyata dan keterlibatan aktif.

Hasil penelitian ini juga relevan dengan penelitian sebelumnya yang menjelaskan bahwa organisasi remaja masjid memiliki kontribusi dalam pembentukan karakter religius dan sosial remaja. Penelitian yang dipublikasikan pada jurnal pendidikan dan pemberdayaan masyarakat menunjukkan bahwa kegiatan remaja masjid mampu meningkatkan kedisiplinan, rasa tanggung jawab, dan kepedulian sosial remaja melalui aktivitas keagamaan dan kegiatan sosial masyarakat. Namun, penelitian ini memiliki kebaruan karena lebih menekankan pada peran kegiatan remaja masjid sebagai sarana pemberdayaan yang tidak hanya membentuk karakter religius, tetapi juga mengembangkan kemampuan kepemimpinan dan keterampilan sosial remaja dalam konteks lingkungan masyarakat lokal.

Selain itu, keterlibatan remaja dalam kegiatan organisasi memberikan dampak terhadap berkembangnya kemampuan kepemimpinan, komunikasi, dan kerja sama. Hal ini dapat dipahami melalui teori pembelajaran sosial yang menekankan bahwa individu belajar melalui interaksi dan pengalaman sosial di lingkungannya. Remaja yang aktif dalam organisasi masjid cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi karena terbiasa berinteraksi, menyampaikan pendapat, dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.

Meskipun demikian, penelitian ini juga menemukan adanya kendala berupa keterbatasan fasilitas, kurangnya dukungan dana, serta rendahnya partisipasi sebagian remaja. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa proses pemberdayaan belum berjalan secara optimal. Jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, faktor rendahnya partisipasi remaja juga sering dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, media sosial, dan perubahan pola pergaulan remaja modern yang menyebabkan minat terhadap kegiatan keagamaan menurun. Oleh karena itu, diperlukan inovasi program yang lebih kreatif dan sesuai dengan kebutuhan generasi muda agar kegiatan remaja masjid tetap menarik dan relevan.

Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan kegiatan remaja masjid perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan pengurus masjid, tokoh masyarakat, dan orang tua. Program kegiatan perlu diarahkan tidak hanya pada pembinaan spiritual, tetapi juga pengembangan keterampilan, kreativitas, dan pemanfaatan media digital sebagai sarana dakwah dan komunikasi. Dengan demikian, kegiatan remaja masjid dapat menjadi model pemberdayaan remaja berbasis masjid yang mampu membentuk generasi muda yang religius, aktif, dan berdaya saing di tengah perkembangan zaman.

 

SIMPULAN

Penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan remaja masjid di Masjid Ar-Raudhah, Kelurahan Bambu Kuning, berperan penting sebagai sarana pemberdayaan remaja dalam aspek keagamaan, sosial, dan kepemimpinan. Kegiatan yang dilaksanakan tidak hanya memberikan pemahaman keagamaan kepada remaja, tetapi juga membentuk karakter, meningkatkan rasa tanggung jawab, serta mengembangkan kemampuan sosial dan kepemimpinan melalui keterlibatan aktif dalam organisasi dan kegiatan kemasyarakatan. Temuan ini menunjukkan adanya kesesuaian antara tujuan penelitian dengan hasil yang diperoleh, yaitu bahwa kegiatan remaja masjid mampu menjadi media pembinaan dan pengembangan potensi generasi muda secara positif.

Meskipun demikian, proses pemberdayaan remaja masih menghadapi beberapa kendala, seperti keterbatasan fasilitas, dukungan dana, serta rendahnya partisipasi sebagian remaja akibat pengaruh perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup. Oleh karena itu, diperlukan inovasi program kegiatan yang lebih kreatif, menarik, dan sesuai dengan kebutuhan remaja masa kini agar keterlibatan mereka dapat terus meningkat.

Penelitian ini memberikan implikasi bahwa masjid memiliki potensi besar sebagai pusat pemberdayaan generasi muda berbasis masyarakat. Ke depan, penelitian serupa dapat dikembangkan dengan cakupan yang lebih luas, misalnya melalui perbandingan antarorganisasi remaja masjid di berbagai wilayah atau dengan menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengukur tingkat pengaruh kegiatan terhadap perkembangan karakter dan keterampilan remaja secara lebih mendalam. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan program pembinaan remaja berbasis masjid yang lebih efektif dan berkelanjutan.

 

REFERENSI

Aini, N., & Rahman, A. (2022). Peran organisasi remaja masjid dalam pembentukan karakter religius remaja. Jurnal Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat, 9(2), 115–126. https://doi.org/10.21831/jppm.v9i2.48211

Fadillah, M., & Suryana, Y. (2021). Pemberdayaan remaja melalui kegiatan keagamaan berbasis masjid. Jurnal Pendidikan Islam, 7(1), 45–58. https://doi.org/10.15575/jpi.v7i1.12045

Hasibuan, R., & Fitri, D. (2020). Aktivitas remaja masjid dalam meningkatkan kepedulian sosial masyarakat. Jurnal Masyarakat Madani, 5(3), 201–214. https://doi.org/10.24014/jmm.v5i3.6353

Kurniawan, H. (2023). Optimalisasi fungsi masjid sebagai pusat pembinaan generasi muda Islam. Jurnal Dakwah dan Komunikasi, 14(1), 77–90. https://doi.org/10.21043/kom.v14i1.18902

Lubis, S., & Ananda, R. (2021). Pengaruh kegiatan organisasi terhadap perkembangan kepemimpinan remaja. Jurnal Pendidikan Sosial Keberagaman, 8(2), 133–144. https://doi.org/10.36709/jpsk.v8i2.14521

Prasetyo, B., & Maulana, I. (2022). Strategi pemberdayaan remaja berbasis kegiatan sosial keagamaan. Jurnal Empowerment, 11(1), 66–79. https://doi.org/10.22460/empowerment.v11i1.9876

Siregar, L., & Wahyuni, T. (2023). Manajemen organisasi remaja masjid dalam meningkatkan partisipasi generasi muda. Jurnal Al-Idarah, 13(2), 98–110. https://doi.org/10.24042/alidarah.v13i2.15432

Yusuf, M., & Harahap, N. (2021). Peran masjid dalam pemberdayaan masyarakat dan pembinaan remaja Islam. Jurnal Ilmu Dakwah, 41(1), 55–69. https://doi.org/10.21580/jid.v41i1.8172