Nur
Ilmiah¹, Marniati Kadir², Siti Aminah³
¹²³Program
Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan,
Universitas
Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda
Email: nurilmiah280905@gmail.com, nabilmina06@gmail.com
Abstrak
Penelitian
ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan motivasi belajar siswa pada
mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) materi tumbuhan melalui
penerapan media Kokami (Kotak Kartu Misteri) di kelas IV SD Plus Melati
Samarinda. Rendahnya motivasi belajar siswa yang ditandai oleh sikap pasif,
kurang memperhatikan penjelasan guru, serta mudah bosan menjadi latar belakang
pelaksanaan penelitian ini. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) dengan model spiral Kemmis dan McTaggart yang terdiri atas empat
tahapan: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi, dilaksanakan dalam
dua siklus. Subjek penelitian berjumlah 25 siswa kelas IV. Instrumen
pengumpulan data meliputi lembar observasi motivasi belajar siswa dan lembar
observasi aktivitas guru. Analisis data menggunakan rumus persentase. Hasil
penelitian menunjukkan peningkatan motivasi belajar yang signifikan: pada
kondisi prasiklus rata-rata persentase hanya sebesar 35,3% (kategori rendah),
meningkat menjadi 70% pada siklus I (kategori baik), dan mencapai 90% pada
siklus II (kategori sangat baik). Seluruh indikator motivasi belajar telah
melampaui batas keberhasilan minimal 80%, sehingga penelitian ini dinyatakan
berhasil. Media Kokami terbukti efektif menciptakan suasana pembelajaran yang
interaktif, menyenangkan, dan menantang bagi siswa sekolah dasar.
Kata Kunci: Media Kokami; Motivasi Belajar; IPAS;
Penelitian Tindakan Kelas; Sekolah Dasar
Abstract
This study aims to
describe the improvement of student learning motivation in the Natural and
Social Science (IPAS) subject on plant material through the application of
Kokami (Mystery Card Box) media in Grade IV of SD Plus Melati Samarinda. Low
student motivation, characterized by passive attitudes, inattentiveness, and
easy boredom, formed the basis for conducting this research. The method
employed was Classroom Action Research (CAR) using the Kemmis and McTaggart
spiral model comprising four stages: planning, acting, observing, and
reflecting, conducted over two cycles. The research subjects consisted of 25
Grade IV students. Data collection instruments included student motivation
observation sheets and teacher activity observation sheets. Data were analyzed
using a percentage formula. The findings reveal a significant improvement in
learning motivation: at the pre-cycle stage, the average percentage was only
35.3% (low category), rising to 70% in Cycle I (good category), and reaching
90% in Cycle II (very good category). All learning motivation indicators
surpassed the minimum success threshold of 80%, confirming the success of this
research. Kokami media proved effective in creating an interactive, enjoyable,
and challenging learning atmosphere for elementary school students.
Keywords: Kokami Media; Learning
Motivation; IPAS; Classroom Action Research; Elementary School
Article Info:
Received date: 30
May 2026
Revised date: 6 June 2026
Accepted date: 12 June 2026
PENDAHULUAN
Pembelajaran
Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di sekolah dasar memiliki peran
strategis dalam membentuk kemampuan berpikir kritis siswa serta pemahaman
mereka terhadap fenomena alam dan kehidupan sosial di sekitar mereka. Sebagai mata pelajaran integratif dalam Kurikulum Merdeka, IPAS dirancang
untuk membekali peserta didik dengan kompetensi ilmiah sekaligus kepekaan
sosial yang holistik.[1]
Salah satu materi esensial dalam IPAS kelas IV adalah
kajian tentang tumbuhan, yang meliputi subbab bagian tubuh tumbuhan dan
fungsinya, proses fotosintesis, serta mekanisme perkembangbiakan tumbuhan
secara generatif maupun vegetatif. Pemahaman yang kuat terhadap materi ini
menjadi fondasi penting bagi literasi sains siswa pada jenjang selanjutnya.
Namun, studi pendahuluan di kelas IV SD Plus Melati
Samarinda mengungkap kondisi yang kurang menggembirakan. Dari 25 siswa yang
menjadi subjek pengamatan, sebagian besar menunjukkan perilaku yang
mengindikasikan rendahnya motivasi belajar: bersikap pasif selama proses
pembelajaran, kurang memperhatikan penjelasan guru, enggan mengajukan
pertanyaan, dan mudah terganggu oleh hal-hal di luar materi pelajaran.[2] Kondisi ini berkaitan erat dengan metode pembelajaran yang masih bersifat
konvensional dan belum memanfaatkan media inovatif secara optimal.
Motivasi belajar merupakan variabel kritis yang secara
langsung memengaruhi kualitas keterlibatan siswa dalam pembelajaran dan, pada
akhirnya, menentukan capaian hasil belajar mereka. Ketika motivasi belajar
siswa rendah, proses transfer pengetahuan menjadi tidak efektif meskipun guru
telah menyampaikan materi dengan baik. Oleh karena itu, upaya peningkatan
motivasi belajar menjadi prioritas yang tidak dapat diabaikan dalam desain
pembelajaran.[3]
Salah satu solusi yang dipandang relevan dan berbasis
bukti adalah pemanfaatan media Kokami (Kotak Kartu Misteri). Media ini
merupakan media pembelajaran interaktif berbentuk kotak berisi kartu-kartu
pertanyaan, tantangan, dan tugas yang berkaitan dengan materi pembelajaran.
Unsur kejutan dan kompetisi yang terkandung dalam media ini mampu membangkitkan
rasa ingin tahu siswa, mendorong keterlibatan aktif, serta menciptakan atmosfer
belajar yang menyenangkan dan kondusif.[4]
Penggunaan media Kokami dalam pembelajaran sejalan dengan
teori konstruktivisme Piaget yang menekankan pentingnya keterlibatan aktif
siswa dalam mengonstruksi pengetahuan melalui pengalaman nyata. Senada dengan
hal tersebut, Arsyad menyatakan bahwa penggunaan media pembelajaran yang
inovatif dan interaktif terbukti mampu meningkatkan motivasi, perhatian, serta
pemahaman siswa secara signifikan.[5]
Bertolak dari kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan
untuk mendeskripsikan peningkatan motivasi belajar IPAS materi tumbuhan melalui
penerapan media Kokami pada siswa kelas IV SD Plus Melati Samarinda melalui
pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus.
KAJIAN PUSTAKA
1. Motivasi Belajar
Motivasi belajar dapat didefinisikan sebagai dorongan
psikologis yang bersumber dari dalam diri siswa (intrinsik) maupun dari luar
diri siswa (ekstrinsik) yang memunculkan semangat, ketekunan, dan keinginan
untuk aktif terlibat dalam proses pembelajaran demi mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.[6] Dalam konteks pembelajaran di kelas, motivasi belajar yang tinggi
tercermin dari beberapa indikator perilaku, di antaranya: perhatian penuh
terhadap penjelasan guru, keberanian bertanya dan menjawab pertanyaan,
keaktifan dalam diskusi kelompok, antusiasme dalam menggunakan media
pembelajaran, serta kegigihan dalam menyelesaikan tugas.
Model ARCS yang dikembangkan oleh Keller
mengklasifikasikan dimensi motivasi belajar ke dalam empat komponen utama,
yaitu: Attention (perhatian), Relevance (relevansi), Confidence (kepercayaan
diri), dan Satisfaction (kepuasan). Keempat komponen ini saling berinteraksi
dan secara kolektif membentuk tingkat motivasi belajar siswa dalam satu episode
pembelajaran.
2. Media Kokami (Kotak Kartu
Misteri)
Media Kokami merupakan akronim dari Kotak Kartu Misteri,
yaitu suatu media pembelajaran berbentuk kotak yang di dalamnya berisi
kartu-kartu pertanyaan, tantangan, petunjuk, atau tugas yang berhubungan
langsung dengan materi yang sedang dipelajari. Karakteristik utama media ini
adalah adanya elemen ketidakpastian (misteri) yang mendorong rasa ingin tahu
siswa, sehingga mereka terdorong untuk aktif berpartisipasi.[7]
Keunggulan media Kokami dibandingkan media konvensional
mencakup: (1) mengintegrasikan unsur permainan edukatif yang sesuai dengan
karakteristik perkembangan siswa usia sekolah dasar; (2) melatih kemampuan
kerja sama dan komunikasi antarsiswa melalui kegiatan diskusi kelompok; (3)
membangun kepercayaan diri siswa melalui pengalaman menjawab tantangan secara
terbuka; dan (4) sistem poin dan penghargaan kelompok yang efektif
membangkitkan motivasi ekstrinsik siswa. Penerapan media ini secara langsung
memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan kontekstual.
3. Pembelajaran IPAS dalam
Kurikulum Merdeka
Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) dalam Kurikulum
Merdeka merupakan mata pelajaran integratif yang menggabungkan konsep-konsep
ilmu pengetahuan alam dengan ilmu pengetahuan sosial dalam satu kerangka
pembelajaran yang utuh dan bermakna. Pendekatan integratif ini dirancang agar
peserta didik tidak hanya memahami fenomena alam secara konseptual, tetapi juga
mampu menghubungkannya dengan konteks sosial dan kehidupan sehari-hari mereka.[8]
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif-kuantitatif dengan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang
mengacu pada model spiral Kemmis dan McTaggart. Setiap siklus dalam penelitian
ini terdiri atas empat tahapan yang saling berkesinambungan: (1) perencanaan (planning),
(2) pelaksanaan tindakan (acting), (3) observasi (observing), dan
(4) refleksi (reflecting). Penelitian dilaksanakan di SD Plus Melati
Samarinda pada semester genap tahun ajaran 2025/2026.[9]
Subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas IV yang
berjumlah 25 orang. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus: Siklus I
difokuskan pada materi bagian tubuh tumbuhan dan fotosintesis, sedangkan Siklus
II mencakup materi perkembangbiakan tumbuhan secara generatif dan vegetatif.
Data penelitian dikumpulkan melalui lembar observasi
motivasi belajar siswa (15 indikator) dan lembar observasi aktivitas guru (16
aspek). Masing-masing indikator dinilai dengan skala empat poin: 4 (Sangat
Baik), 3 (Baik), 2 (Cukup), dan 1 (Kurang). Analisis data dilakukan menggunakan
rumus persentase:
P = (F /
N) × 100%
Keterangan:
P = persentase motivasi belajar siswa; F = jumlah siswa yang menunjukkan
indikator motivasi; N = jumlah seluruh siswa. Penelitian dinyatakan berhasil
apabila minimal 80% siswa mencapai kategori baik pada seluruh indikator
motivasi belajar.
Kategori penilaian yang digunakan sebagai acuan
interpretasi adalah: 81–100% (Sangat Baik), 61–80% (Baik), 41–60% (Cukup),
21–40% (Rendah), dan 0–20% (Sangat Rendah).[10]
HASIL
1. Kondisi Awal (Prasiklus)
Pengamatan prasiklus dilakukan sebelum tindakan dimulai
untuk memperoleh gambaran awal tentang kondisi motivasi belajar siswa. Hasil
observasi mengungkapkan bahwa sebagian besar siswa bersikap pasif, tidak
memperhatikan penjelasan guru, tidak berani mengajukan pertanyaan, dan mudah
mengalami kebosanan. Kondisi ini disebabkan oleh dominasi metode ceramah yang
kurang memberikan ruang bagi keterlibatan aktif siswa.[11]
Tabel 1.
Data Motivasi Belajar Siswa Prasiklus
|
No. |
Indikator Motivasi
Belajar |
Aktif |
% |
Tidak
Aktif |
% |
Kategori |
|
1 |
Memperhatikan penjelasan guru |
10 |
40% |
15 |
60% |
Rendah |
|
2 |
Aktif dalam kegiatan pembelajaran |
9 |
36% |
16 |
64% |
Rendah |
|
3 |
Berani bertanya dan menjawab |
8 |
32% |
17 |
68% |
Sangat Rendah |
|
4 |
Antusias menggunakan media |
7 |
28% |
18 |
72% |
Sangat Rendah |
|
5 |
Aktif berdiskusi dalam kelompok |
9 |
36% |
16 |
64% |
Rendah |
|
6 |
Menunjukkan semangat & rasa
ingin tahu |
10 |
40% |
15 |
60% |
Rendah |
|
|
Rata-rata |
8,83 |
35,3% |
16,17 |
64,7% |
Rendah |
2. Hasil Penelitian Siklus I
Pada tahap
perencanaan siklus I, peneliti dan guru kolaborator menyusun Modul Ajar IPAS
materi bagian tubuh tumbuhan dan fotosintesis, merancang media Kokami beserta
kartu pertanyaan, serta mempersiapkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dan
instrumen observasi. Pelaksanaan tindakan dilakukan dengan
membagi siswa ke dalam lima kelompok kecil yang masing-masing terdiri atas lima
orang. Setiap kelompok secara bergiliran mengambil kartu misteri dan
mendiskusikan jawaban bersama.[12]
Hasil observasi pada siklus I menunjukkan peningkatan
yang cukup signifikan dibandingkan dengan kondisi prasiklus. Rata-rata
persentase motivasi belajar siswa meningkat dari 35,3% menjadi 70%, masuk ke
dalam kategori baik. Namun demikian, capaian ini belum memenuhi indikator
keberhasilan yang ditetapkan sebesar 80%. Hasil observasi siklus I tersaji pada
tabel berikut.[13]
Tabel 2.
Data Motivasi Belajar Siswa Siklus I
|
No. |
Indikator Motivasi
Belajar |
Aktif |
% |
Tidak
Aktif |
% |
Kategori |
|
1 |
Memperhatikan penjelasan guru |
17 |
68% |
8 |
32% |
Cukup |
|
2 |
Aktif dalam kegiatan pembelajaran |
18 |
72% |
7 |
28% |
Baik |
|
3 |
Berani bertanya dan menjawab |
16 |
64% |
9 |
36% |
Cukup |
|
4 |
Antusias menggunakan media Kokami |
19 |
76% |
6 |
24% |
Baik |
|
5 |
Aktif berdiskusi dalam kelompok |
18 |
72% |
7 |
28% |
Baik |
|
6 |
Menunjukkan semangat & rasa
ingin tahu |
17 |
68% |
8 |
32% |
Cukup |
|
|
Rata-rata |
17,5 |
70% |
7,5 |
30% |
Baik |
Berdasarkan
hasil refleksi siklus I, beberapa kelemahan teridentifikasi, antara lain:
variasi pertanyaan pada kartu misteri yang belum cukup beragam, belum adanya
sistem penilaian berbasis poin kelompok, dan pembagian peran anggota kelompok
yang belum terstruktur dengan optimal. Temuan-temuan ini
menjadi acuan perbaikan pada perencanaan siklus II.[14]
3. Hasil Penelitian Siklus II
Perencanaan siklus II disusun dengan mengakomodasi
seluruh hasil refleksi dari siklus I. Perbaikan utama yang dilakukan mencakup:
penambahan variasi jenis kartu misteri (soal pilihan, soal uraian singkat, dan
kartu bonus/tantangan), penerapan sistem poin kelompok di mana soal biasa
bernilai 10 poin dan soal bonus bernilai 20 poin, serta penetapan peran
spesifik bagi masing-masing anggota kelompok. Materi yang dibahas pada siklus
ini adalah perkembangbiakan tumbuhan secara generatif dan vegetatif.[15]
Hasil observasi pada siklus II menunjukkan peningkatan
motivasi belajar yang sangat signifikan. Seluruh enam indikator motivasi
belajar yang diamati telah melampaui ambang batas keberhasilan minimal 80%,
dengan rata-rata persentase mencapai 90% (kategori sangat baik). Data lengkap
tersaji pada tabel berikut.[16]
Tabel 3.
Data Motivasi Belajar Siswa Siklus II
|
No. |
Indikator Motivasi
Belajar |
Aktif |
% |
Tidak
Aktif |
% |
Kategori |
|
1 |
Memperhatikan penjelasan guru |
22 |
88% |
3 |
12% |
Sangat Baik |
|
2 |
Aktif dalam kegiatan pembelajaran |
23 |
92% |
2 |
8% |
Sangat Baik |
|
3 |
Berani bertanya dan menjawab |
21 |
84% |
4 |
16% |
Sangat Baik |
|
4 |
Antusias menggunakan media Kokami |
24 |
96% |
1 |
4% |
Sangat Baik |
|
5 |
Aktif berdiskusi dalam kelompok |
23 |
92% |
2 |
8% |
Sangat Baik |
|
6 |
Menunjukkan semangat & rasa
ingin tahu |
22 |
88% |
3 |
12% |
Sangat Baik |
|
|
Rata-rata |
22,5 |
90% |
2,5 |
10% |
Sangat
Baik |
4. Rekapitulasi Peningkatan Antarsiklus
Perbandingan data motivasi belajar siswa dari kondisi
prasiklus, siklus I, hingga siklus II menunjukkan pola peningkatan yang
konsisten dan signifikan pada setiap indikator yang diukur. Rekapitulasi
peningkatan tersebut disajikan pada tabel berikut.[17]
Tabel 4.
Rekapitulasi Peningkatan Motivasi Belajar Siswa
|
No. |
Indikator Motivasi
Belajar |
Prasiklus |
Siklus
I |
Siklus
II |
|
1 |
Memperhatikan penjelasan guru |
40% |
68% |
88% |
|
2 |
Aktif dalam kegiatan pembelajaran |
36% |
72% |
92% |
|
3 |
Berani bertanya dan menjawab |
32% |
64% |
84% |
|
4 |
Antusias menggunakan media Kokami |
28% |
76% |
96% |
|
5 |
Aktif berdiskusi dalam kelompok |
36% |
72% |
92% |
|
6 |
Semangat dan rasa ingin tahu |
40% |
68% |
88% |
|
|
Rata-rata |
35,3% |
70% |
90% |
PEMBAHASAN
Hasil penelitian ini secara konsisten menunjukkan bahwa
penerapan media Kokami memberikan dampak positif yang nyata terhadap
peningkatan motivasi belajar siswa kelas IV SD Plus Melati Samarinda pada mata
pelajaran IPAS. Peningkatan motivasi dari prasiklus (35,3%) ke siklus I (70%)
kemudian ke siklus II (90%) membuktikan bahwa media ini efektif tidak hanya
dalam jangka pendek, tetapi juga secara berkelanjutan.[18]
Keberhasilan media Kokami dalam meningkatkan motivasi
belajar dapat dijelaskan melalui beberapa mekanisme psikologis pembelajaran.
Pertama, elemen kejutan dan misteri yang terkandung dalam kartu-kartu Kokami
secara alami membangkitkan rasa ingin tahu siswa, yang merupakan komponen inti
dari motivasi intrinsik. Kedua, format permainan kompetitif antargrupyang
bertanggung jawab mendorong siswa untuk aktif berkontribusi dalam kelompok demi
meraih poin tertinggi, sehingga motivasi ekstrinsik mereka turut terstimulasi.
Peningkatan yang paling menonjol terlihat pada indikator
antusiasme siswa dalam menggunakan media Kokami, yang melonjak dari 28% pada
prasiklus menjadi 96% pada siklus II. Temuan ini mengonfirmasi perspektif
Djamarah bahwa motivasi belajar dapat ditingkatkan secara efektif melalui
penggunaan media pembelajaran yang menarik, interaktif, dan mampu menciptakan
pengalaman belajar yang menantang namun menyenangkan.[19]
Selain aspek motivasi, penerapan media Kokami juga
berhasil menumbuhkan keterampilan-keterampilan kolaboratif siswa, seperti
kemampuan berkomunikasi, menghargai pendapat rekan sejawat, dan memecahkan
masalah secara bersama-sama. Hal ini sejalan dengan prinsip pembelajaran
kontekstual dan konstruktivistik dalam Kurikulum Merdeka yang mengutamakan
pengembangan kompetensi holistik peserta didik.[20]
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah
dilaksanakan di kelas IV SD Plus Melati Samarinda, dapat disimpulkan bahwa
penerapan media Kokami (Kotak Kartu Misteri) terbukti efektif dalam
meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPAS materi tumbuhan.
Peningkatan terjadi secara konsisten dan signifikan pada setiap tahapan
penelitian: dari rata-rata 35,3% pada kondisi prasiklus (kategori rendah),
meningkat menjadi 70% setelah pelaksanaan siklus I (kategori baik), dan
mencapai 90% setelah pelaksanaan siklus II (kategori sangat baik).
Peningkatan motivasi belajar tersebut teramati secara
nyata pada seluruh indikator yang diukur, meliputi: meningkatnya perhatian
siswa terhadap penjelasan guru, tumbuhnya keberanian siswa dalam bertanya dan
menjawab pertanyaan, meningkatnya antusiasme dalam berinteraksi dengan media
Kokami, semakin aktifnya siswa dalam kegiatan diskusi kelompok, serta
berkembangnya semangat dan rasa ingin tahu terhadap materi tumbuhan.
Implikasi dari penelitian ini adalah perlunya perubahan
paradigma dalam pemilihan media dan strategi pembelajaran di kelas. Guru
direkomendasikan untuk mengintegrasikan media pembelajaran inovatif berbasis
permainan seperti Kokami sebagai salah satu alternatif dalam upaya meningkatkan
keterlibatan dan motivasi belajar siswa, khususnya pada jenjang sekolah dasar.
REFERENSI
Arsyad, Azhar. Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali
Pers, 2019.
Arsyad, Azhar. Media Pembelajaran Edisi Revisi.
Depok: PT Raja Grafindo Persada, 2023.
Djamarah, S.B. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka
Cipta, 2020.
Emda, A. "Kedudukan Motivasi Belajar Siswa
Dalam Pembelajaran." Lantanida Journal 5, no. 2 (2017): 172–82.
Fauziah,
R., dan M. Rahman. "Kelebihan Media Kokami Dalam Pembelajaran
Aktif." Jurnal Pendidikan Kreatif 5, no. 2 (2021): 88–96.
Hamalik, Oemar. Proses Belajar Mengajar. Jakarta:
Bumi Aksara, 2017.
Hamalik, Oemar. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT
Bumi Aksara, 2022.
Handoko, A., dan M. Putra. "Pembelajaran
Perkembangbiakan Tumbuhan Di Sekolah Dasar." Jurnal Pendidikan Dasar
Nusantara 6, no. 2 (2021): 144–51.
Hidayat, D.K.R. "Media Pembelajaran Interaktif
Untuk Sekolah Dasar." Jurnal Teknologi Pendidikan 9, no. 1 (2022): 71–79.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan
Teknologi. "Capaian Pembelajaran IPAS Sekolah Dasar Kurikulum
Merdeka." Jakarta, 2022.
Marlina, Y., dan E. Susanti. "Pembelajaran
Berbasis Pengalaman Langsung Pada Siswa SD." Jurnal Pendidikan Dasar 11,
no. 3 (2021): 200–208.
Nurhayati, N., dan S. Amalia. "Penggunaan Media
Kokami Dalam Pembelajaran." Jurnal Inovasi Pendidikan 4, no. 1 (2020):
60–68.
Pratiwi, N., dan S. Handayani. "Tujuan
Pembelajaran IPAS Dalam Kurikulum Merdeka." Jurnal Basicedu 5, no. 4
(2021): 2100–2108.
Pratiwi, A.T.A.H.A.S. "Pengembangan Media
Pembelajaran Berbasis Permainan Ular Tangga Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar
Siswa Dalam Mata Pelajaran IPA Kelas IV SD." Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan 5, no.
12 (2022): 5682–89.
Rochmania,
D.A., A. Lutfauziah, M.T. Hidayat, dan A. Rulyansyah. "Penggunaan
Media Pembelajaran Audiovisual Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas
III Pada Pembelajaran IPAS." Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar 10, no. 3
(2025).
Sardiman, A.M. Interaksi dan Motivasi Belajar
Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers, 2018.
Sari, A.K.P. "Pembelajaran Fotosintesis Melalui
Pengamatan Langsung." Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar 7, no. 3 (2022):
90–97.
Slameto. Belajar dan Faktor-Faktor yang
Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta, 2019.
Suniasih, N.W., dan N.M.A.K. Putri.
"Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Melalui Media PowerPoint Interaktif
Berbasis Kontekstual Pada Muatan IPA Kelas IV SD." Jurnal Edutech Undiksha 10, no. 2
(2022): 233–43.
[1]Dian Ayu Rochmania, Asmaul Lutfauziah, Muhammad Thamrin
Hidayat, dan Afib Rulyansyah, "Penggunaan Media Pembelajaran Audiovisual
Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas III Pada Pembelajaran
IPAS," Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar 10, no. 3 (2025).
[2]Agustina Tyas Asri Hardini Avelina Sherin Pratiwi,
"Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Permainan Ular Tangga Untuk
Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Dalam Mata Pelajaran IPA Kelas IV SD,"
Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan 5, no. 12 (2022): 5682–89.
[3]Ni Wayan Suniasih dan Ni Made Arie Kusuma Putri,
"Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Melalui Media PowerPoint Interaktif
Berbasis Kontekstual Pada Muatan IPA Kelas IV SD," Jurnal Edutech Undiksha
10, no. 2 (2022): 233–43.
[4]N. Nurhayati dan S.
Amalia, "Penggunaan Media Kokami Dalam Pembelajaran," Jurnal Inovasi
Pendidikan 4, no. 1 (2020): 60–68.
[5]Azhar Arsyad, Media
Pembelajaran Edisi Revisi (Depok: PT Raja Grafindo Persada, 2023), 47.
[6]Oemar Hamalik, Proses
Belajar Mengajar (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2022), 158.
[7]Kementerian Pendidikan,
Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, "Capaian Pembelajaran IPAS Sekolah Dasar
Kurikulum Merdeka" (Jakarta, 2022).
[8]A. Kurniawan P. Sari,
"Pembelajaran Fotosintesis Melalui Pengamatan Langsung," Jurnal
Ilmiah Pendidikan Dasar 7, no. 3 (2022): 90–97.
[9]A. Handoko dan M. Putra,
"Pembelajaran Perkembangbiakan Tumbuhan Di Sekolah Dasar," Jurnal
Pendidikan Dasar Nusantara 6, no. 2 (2021): 144–51.
[10]N. Nurhayati dan S.
Amalia, "Penggunaan Media Kokami Dalam Pembelajaran," Jurnal Inovasi
Pendidikan 4, no. 1 (2020): 60–68.
[11]D. Kusuma R. Hidayat,
"Media Pembelajaran Interaktif Untuk Sekolah Dasar," Jurnal Teknologi
Pendidikan 9, no. 1 (2022): 71–79.
[12]M. Fauziah dan R. Rahman,
"Kelebihan Media Kokami Dalam Pembelajaran Aktif," Jurnal Pendidikan
Kreatif 5, no. 2 (2021): 88–96.
[13]Azhar Arsyad, Media
Pembelajaran (Jakarta: Rajawali Pers, 2019), 72.
[14]Y. Marlina dan E. Susanti,
"Pembelajaran Berbasis Pengalaman Langsung Pada Siswa SD," Jurnal
Pendidikan Dasar 11, no. 3 (2021): 200–208.
[15]Oemar Hamalik, Proses
Belajar Mengajar (Jakarta: Bumi Aksara, 2017), 112.
[16]Sardiman A.M., Interaksi
dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: Rajawali Pers, 2018), 75.
[17]A. Emda, "Kedudukan
Motivasi Belajar Siswa Dalam Pembelajaran," Lantanida Journal 5, no. 2
(2017): 175.
[18]Slameto, Belajar dan
Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya (Jakarta: Rineka Cipta, 2019), 54.
[19]S.B. Djamarah, Psikologi
Belajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2020), 119.
[20]N. Pratiwi dan S.
Handayani, "Tujuan Pembelajaran IPAS Dalam Kurikulum Merdeka," Jurnal
Basicedu 5, no. 4 (2021): 2104.