Sunday, May 24, 2026

Kegiatan Remaja Masjid Sebagai Sarana Pemberdayaan Remaja di Masjid Ar-raudhah Kelurahan Bambu Kuning


Youth Mosque Activities as a Means of Youth Empowerment at Masjid Ar-Raudhah, Bambu Kuning

 Youth Mosque Activities as a Means of Youth Empowerment at Masjid Ar-Raudhah, Bambu Kuning | Pratiwi | Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin

Anggi Pratiwi1 Rahma Anggi Pratiwi2 Wulan Afirli3, Rika Fitri Ramadani4

Pendidikan Masyarakat, Universitas Riau, Indonesia

email:  kitakitaajaterus23@gmail.co 

Abstrak

Kegiatan remaja masjid merupakan salah satu bentuk pembinaan generasi muda yang berperan penting dalam meningkatkan kualitas spiritual, sosial, dan kepemimpinan remaja di tengah tantangan perkembangan zaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kegiatan remaja masjid sebagai sarana pemberdayaan remaja di Masjid Ar-Raudhah, Kelurahan Bambu Kuning. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap pengurus dan anggota remaja masjid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai kegiatan seperti pengajian rutin, pelatihan kepemimpinan, kegiatan sosial, dan peringatan hari besar Islam mampu meningkatkan pemahaman keagamaan, keterampilan sosial, serta rasa tanggung jawab remaja. Selain itu, kegiatan tersebut juga menjadi media pembentukan karakter dan pengalihan dari pengaruh negatif lingkungan. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi kendala berupa keterbatasan sarana dan rendahnya partisipasi sebagian remaja. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kegiatan remaja masjid memiliki peran strategis dalam pemberdayaan remaja, sehingga diperlukan dukungan berkelanjutan dari pengurus masjid dan masyarakat untuk mengoptimalkan pelaksanaannya.

Kata kunci : remaja masjid, pemberdayaan remaja, kegiatan keagamaan, pembentukan karakter.

Abstract

Mosque youth activities are one form of youth development that plays an important role in improving the spiritual, social, and leadership qualities of adolescents amid the challenges of modern development. This study aims to analyze the role of mosque youth activities as a means of youth empowerment at Masjid Ar-Raudhah, Bambu Kuning. The method used was a qualitative approach with data collection techniques through observation, interviews, and documentation involving mosque youth administrators and members. The results of the study indicate that various activities such as regular religious studies, leadership training, social activities, and commemorations of Islamic holidays were able to enhance religious understanding, social skills, and the sense of responsibility among adolescents. In addition, these activities also served as a medium for character building and diverting youth from negative environmental influences. However, the implementation still faced obstacles in the form of limited facilities and the low participation of some adolescents. Therefore, it can be concluded that mosque youth activities have a strategic role in youth empowerment, and continuous support from mosque administrators and the community is needed to optimize their implementation.

Keywords: mosque youth, youth empowerment, religious activities, character building.

PENDAHULUAN

Remaja merupakan generasi penerus bangsa yang berada pada fase pencarian jati diri, sehingga memerlukan pembinaan yang tepat agar berkembang menjadi individu yang berakhlak, berpengetahuan, dan memiliki keterampilan sosial yang baik. Dalam konteks masyarakat Islam, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan umat, termasuk pemberdayaan remaja. Organisasi remaja masjid menjadi wadah strategis dalam mengembangkan potensi generasi muda melalui berbagai kegiatan keagamaan, sosial, dan keterampilan. Secara teoretis, pemberdayaan remaja melalui kegiatan masjid bertujuan membentuk generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia serta mampu berkontribusi dalam kehidupan masyarakat .

Namun demikian, kondisi di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan antara idealitas dan realitas. Tidak semua remaja memiliki minat dan keterlibatan aktif dalam kegiatan masjid, bahkan di beberapa tempat partisipasi remaja cenderung menurun akibat pengaruh lingkungan, perkembangan teknologi, serta kurangnya inovasi program kegiatan . Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kegiatan remaja masjid seperti pelatihan kepemimpinan, pengajian, dan aktivitas sosial mampu meningkatkan karakter religius, keterampilan, serta kepedulian sosial remaja . Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mengoptimalkan peran kegiatan remaja masjid sebagai sarana pemberdayaan yang efektif dan relevan dengan kebutuhan generasi muda saat ini.

Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mendeskripsikan peran kegiatan remaja masjid sebagai sarana pemberdayaan remaja di Masjid Ar-Raudhah, Kelurahan Bambu Kuning, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan kendala dalam pelaksanaannya sebagai upaya inovatif dalam pembinaan generasi muda.

 

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif, yang bertujuan untuk memahami secara mendalam peran kegiatan remaja masjid sebagai sarana pemberdayaan remaja. Subjek penelitian terdiri dari pengurus masjid, pembina remaja masjid, serta anggota remaja masjid di Masjid Ar-Raudhah, Kelurahan Bambu Kuning, yang dipilih secara purposive berdasarkan keterlibatan aktif dalam kegiatan.

Prosedur penelitian dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu tahap persiapan, pengumpulan data, analisis data, dan penarikan kesimpulan. Data dikumpulkan menggunakan teknik observasi partisipatif untuk melihat secara langsung pelaksanaan kegiatan, wawancara mendalam untuk menggali informasi terkait pengalaman dan persepsi subjek, serta dokumentasi berupa arsip kegiatan dan foto sebagai data pendukung. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, dengan bantuan pedoman wawancara dan lembar observasi yang disusun berdasarkan indikator pemberdayaan remaja seperti aspek keagamaan, sosial, dan kepemimpinan.

Analisis data dilakukan secara interaktif melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan metode, serta melakukan pengecekan ulang (member check) kepada informan. Kriteria pemilihan data didasarkan pada relevansi, konsistensi, dan kedalaman informasi yang berkaitan dengan fokus penelitian.

 

HASIL

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Masjid Ar-Raudhah, Kelurahan Bambu Kuning, ditemukan bahwa kegiatan remaja masjid memiliki peran yang signifikan dalam pemberdayaan remaja, khususnya dalam aspek keagamaan, sosial, dan kepemimpinan. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan, seperti pengajian rutin mingguan, pelatihan kepemimpinan, kegiatan sosial (bakti sosial dan gotong royong), serta partisipasi dalam peringatan hari besar Islam, menjadi sarana pembinaan yang terstruktur dan berkelanjutan. Kegiatan tersebut tidak hanya dirancang oleh pengurus remaja masjid, tetapi juga didukung oleh pembina dan pengurus masjid secara umum.

Dari hasil observasi dan wawancara, diketahui bahwa keterlibatan aktif remaja dalam kegiatan tersebut mampu meningkatkan pemahaman keagamaan mereka. Hal ini terlihat dari meningkatnya partisipasi dalam ibadah berjamaah serta kesadaran dalam menjalankan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Temuan ini menunjukkan bahwa kegiatan remaja masjid berfungsi sebagai media internalisasi nilai-nilai religius yang efektif, sejalan dengan konsep pemberdayaan yang menekankan pada penguatan aspek spiritual sebagai dasar pembentukan karakter.

Selain itu, kegiatan remaja masjid juga berkontribusi dalam pengembangan keterampilan sosial remaja. Melalui kegiatan bersama seperti gotong royong dan bakti sosial, remaja belajar bekerja sama, berkomunikasi secara efektif, serta membangun kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Proses ini mencerminkan adanya pembelajaran sosial yang berlangsung secara langsung melalui interaksi dan pengalaman, yang pada akhirnya membentuk perilaku sosial yang positif.

Dalam aspek kepemimpinan, kegiatan remaja masjid memberikan ruang bagi remaja untuk terlibat secara aktif dalam pengelolaan organisasi dan pelaksanaan program. Remaja dilatih untuk merencanakan kegiatan, mengambil keputusan, serta bertanggung jawab atas tugas yang diberikan. Hal ini berdampak pada meningkatnya rasa percaya diri, kemandirian, serta kemampuan memimpin. Dengan demikian, kegiatan remaja masjid tidak hanya bersifat partisipatif, tetapi juga transformatif dalam membentuk karakter kepemimpinan generasi muda.

Namun demikian, penelitian ini juga menemukan beberapa kendala yang mempengaruhi optimalisasi kegiatan remaja masjid. Keterbatasan sarana dan prasarana, kurangnya dukungan finansial, serta rendahnya partisipasi sebagian remaja menjadi tantangan utama. Selain itu, kurangnya inovasi dalam program kegiatan menyebabkan sebagian remaja kurang tertarik untuk terlibat secara aktif, terutama di tengah pengaruh perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup remaja saat ini.

Oleh karena itu, diperlukan upaya inovatif dalam pengembangan kegiatan remaja masjid agar lebih relevan dan menarik bagi generasi muda. Pemanfaatan media digital, pengembangan kegiatan berbasis minat dan bakat, serta peningkatan peran pembina dan dukungan masyarakat menjadi faktor penting dalam meningkatkan efektivitas pemberdayaan remaja. Secara keseluruhan, kegiatan remaja masjid di Masjid Ar-Raudhah terbukti memiliki peran strategis dalam pemberdayaan remaja, namun memerlukan penguatan dan pengembangan yang berkelanjutan agar dapat memberikan dampak yang lebih optimal.

 

PEMBAHASAN

Hasil analisis data menunjukkan bahwa kegiatan remaja masjid di Masjid Ar-Raudhah memberikan kontribusi terhadap pemberdayaan remaja dalam beberapa aspek utama, yaitu keagamaan, sosial, dan kepemimpinan. Untuk memperjelas temuan, data disajikan dalam bentuk tabel berikut:

Tabel 1. Hasil Pemberdayaan Remaja melalui Kegiatan Remaja Masjid

No

Aspek Pemberdayaan

Bentuk Kegiatan

Dampak yang Dirasakan Remaja

1

Keagamaan

Pengajian rutin, ceramah

Meningkatnya pemahaman agama dan ibadah

2

Sosial

Gotong royong, bakti sosial

Tumbuhnya kepedulian dan kerja sama

3

Kepemimpinan

Pelatihan, organisasi

Meningkatnya percaya diri dan tanggung jawab

Berdasarkan Tabel 1, terlihat bahwa setiap kegiatan yang dilaksanakan memiliki dampak yang berbeda namun saling berkaitan dalam proses pemberdayaan remaja. Aspek keagamaan menjadi dasar utama dalam membentuk karakter remaja, yang kemudian diperkuat melalui interaksi sosial dan pengalaman berorganisasi.

Selain itu, tingkat partisipasi remaja dalam kegiatan juga dianalisis untuk melihat keterlibatan mereka secara langsung. Hasilnya disajikan pada Tabel 2 berikut:

Tabel 2. Tingkat Partisipasi Remaja dalam Kegiatan Masjid

Kategori Partisipasi

Jumlah Remaja

Persentase

Aktif

18 orang

60%

Cukup aktif

8 orang

27%

Kurang aktif

4 orang

13%

Berdasarkan Tabel 2, mayoritas remaja berada pada kategori aktif, yang menunjukkan bahwa kegiatan remaja masjid cukup diminati. Namun, masih terdapat sebagian remaja dengan tingkat partisipasi rendah, yang menunjukkan perlunya peningkatan strategi dalam menarik minat mereka.

Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan remaja masjid di Masjid Ar-Raudhah telah berjalan dengan baik dan memberikan dampak positif terhadap pemberdayaan remaja, meskipun masih terdapat beberapa aspek yang perlu ditingkatkan, terutama dalam hal partisipasi dan pengembangan program kegiatan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan remaja masjid di Masjid Ar-Raudhah, Kelurahan Bambu Kuning, memiliki peran penting dalam pemberdayaan remaja, terutama pada aspek keagamaan, sosial, dan kepemimpinan. Temuan ini menunjukkan bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan generasi muda melalui berbagai aktivitas yang bersifat edukatif dan sosial. Peningkatan pemahaman agama yang diperoleh remaja melalui pengajian rutin dan kegiatan keislaman menunjukkan bahwa kegiatan remaja masjid mampu menjadi media internalisasi nilai-nilai religius dalam kehidupan sehari-hari.

Temuan tersebut sejalan dengan teori pemberdayaan masyarakat yang menyatakan bahwa pemberdayaan dilakukan melalui proses pengembangan potensi individu agar mampu meningkatkan kualitas diri dan berpartisipasi aktif dalam lingkungan sosialnya. Dalam penelitian ini, remaja diberikan ruang untuk terlibat secara langsung dalam kegiatan organisasi dan sosial sehingga mereka tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga pelaku utama dalam kegiatan masjid. Kondisi ini memperlihatkan bahwa proses pemberdayaan berlangsung melalui pengalaman nyata dan keterlibatan aktif.

Hasil penelitian ini juga relevan dengan penelitian sebelumnya yang menjelaskan bahwa organisasi remaja masjid memiliki kontribusi dalam pembentukan karakter religius dan sosial remaja. Penelitian yang dipublikasikan pada jurnal pendidikan dan pemberdayaan masyarakat menunjukkan bahwa kegiatan remaja masjid mampu meningkatkan kedisiplinan, rasa tanggung jawab, dan kepedulian sosial remaja melalui aktivitas keagamaan dan kegiatan sosial masyarakat. Namun, penelitian ini memiliki kebaruan karena lebih menekankan pada peran kegiatan remaja masjid sebagai sarana pemberdayaan yang tidak hanya membentuk karakter religius, tetapi juga mengembangkan kemampuan kepemimpinan dan keterampilan sosial remaja dalam konteks lingkungan masyarakat lokal.

Selain itu, keterlibatan remaja dalam kegiatan organisasi memberikan dampak terhadap berkembangnya kemampuan kepemimpinan, komunikasi, dan kerja sama. Hal ini dapat dipahami melalui teori pembelajaran sosial yang menekankan bahwa individu belajar melalui interaksi dan pengalaman sosial di lingkungannya. Remaja yang aktif dalam organisasi masjid cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi karena terbiasa berinteraksi, menyampaikan pendapat, dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.

Meskipun demikian, penelitian ini juga menemukan adanya kendala berupa keterbatasan fasilitas, kurangnya dukungan dana, serta rendahnya partisipasi sebagian remaja. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa proses pemberdayaan belum berjalan secara optimal. Jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, faktor rendahnya partisipasi remaja juga sering dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, media sosial, dan perubahan pola pergaulan remaja modern yang menyebabkan minat terhadap kegiatan keagamaan menurun. Oleh karena itu, diperlukan inovasi program yang lebih kreatif dan sesuai dengan kebutuhan generasi muda agar kegiatan remaja masjid tetap menarik dan relevan.

Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan kegiatan remaja masjid perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan pengurus masjid, tokoh masyarakat, dan orang tua. Program kegiatan perlu diarahkan tidak hanya pada pembinaan spiritual, tetapi juga pengembangan keterampilan, kreativitas, dan pemanfaatan media digital sebagai sarana dakwah dan komunikasi. Dengan demikian, kegiatan remaja masjid dapat menjadi model pemberdayaan remaja berbasis masjid yang mampu membentuk generasi muda yang religius, aktif, dan berdaya saing di tengah perkembangan zaman.

 

SIMPULAN

Penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan remaja masjid di Masjid Ar-Raudhah, Kelurahan Bambu Kuning, berperan penting sebagai sarana pemberdayaan remaja dalam aspek keagamaan, sosial, dan kepemimpinan. Kegiatan yang dilaksanakan tidak hanya memberikan pemahaman keagamaan kepada remaja, tetapi juga membentuk karakter, meningkatkan rasa tanggung jawab, serta mengembangkan kemampuan sosial dan kepemimpinan melalui keterlibatan aktif dalam organisasi dan kegiatan kemasyarakatan. Temuan ini menunjukkan adanya kesesuaian antara tujuan penelitian dengan hasil yang diperoleh, yaitu bahwa kegiatan remaja masjid mampu menjadi media pembinaan dan pengembangan potensi generasi muda secara positif.

Meskipun demikian, proses pemberdayaan remaja masih menghadapi beberapa kendala, seperti keterbatasan fasilitas, dukungan dana, serta rendahnya partisipasi sebagian remaja akibat pengaruh perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup. Oleh karena itu, diperlukan inovasi program kegiatan yang lebih kreatif, menarik, dan sesuai dengan kebutuhan remaja masa kini agar keterlibatan mereka dapat terus meningkat.

Penelitian ini memberikan implikasi bahwa masjid memiliki potensi besar sebagai pusat pemberdayaan generasi muda berbasis masyarakat. Ke depan, penelitian serupa dapat dikembangkan dengan cakupan yang lebih luas, misalnya melalui perbandingan antarorganisasi remaja masjid di berbagai wilayah atau dengan menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengukur tingkat pengaruh kegiatan terhadap perkembangan karakter dan keterampilan remaja secara lebih mendalam. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan program pembinaan remaja berbasis masjid yang lebih efektif dan berkelanjutan.

 

REFERENSI

Aini, N., & Rahman, A. (2022). Peran organisasi remaja masjid dalam pembentukan karakter religius remaja. Jurnal Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat, 9(2), 115–126. https://doi.org/10.21831/jppm.v9i2.48211

Fadillah, M., & Suryana, Y. (2021). Pemberdayaan remaja melalui kegiatan keagamaan berbasis masjid. Jurnal Pendidikan Islam, 7(1), 45–58. https://doi.org/10.15575/jpi.v7i1.12045

Hasibuan, R., & Fitri, D. (2020). Aktivitas remaja masjid dalam meningkatkan kepedulian sosial masyarakat. Jurnal Masyarakat Madani, 5(3), 201–214. https://doi.org/10.24014/jmm.v5i3.6353

Kurniawan, H. (2023). Optimalisasi fungsi masjid sebagai pusat pembinaan generasi muda Islam. Jurnal Dakwah dan Komunikasi, 14(1), 77–90. https://doi.org/10.21043/kom.v14i1.18902

Lubis, S., & Ananda, R. (2021). Pengaruh kegiatan organisasi terhadap perkembangan kepemimpinan remaja. Jurnal Pendidikan Sosial Keberagaman, 8(2), 133–144. https://doi.org/10.36709/jpsk.v8i2.14521

Prasetyo, B., & Maulana, I. (2022). Strategi pemberdayaan remaja berbasis kegiatan sosial keagamaan. Jurnal Empowerment, 11(1), 66–79. https://doi.org/10.22460/empowerment.v11i1.9876

Siregar, L., & Wahyuni, T. (2023). Manajemen organisasi remaja masjid dalam meningkatkan partisipasi generasi muda. Jurnal Al-Idarah, 13(2), 98–110. https://doi.org/10.24042/alidarah.v13i2.15432

Yusuf, M., & Harahap, N. (2021). Peran masjid dalam pemberdayaan masyarakat dan pembinaan remaja Islam. Jurnal Ilmu Dakwah, 41(1), 55–69. https://doi.org/10.21580/jid.v41i1.8172

 

 

Internalisasi Kapasitas Adaptif dan Dorongan Belajar Intrinsik dalam Pemberdayaan Ekonomi Kreatif Berbasis Hidroponik Wick


Internalization of Adaptive Capacity and Intrinsic Learning Motivation in Hydroponic Wick-Based Creative Economic Empowerment

Internalization of Adaptive Capacity and Intrinsic Learning Motivation in Hydroponic Wick-Based Creative Economic Empowerment | Adabiyah | Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin 

Putri Adabiyah1, Regia Reha Datul2, Aulia Tri Halimah3, Rika Fitri Ramadani4

1,2,3,4 Program Studi Pendidikan Masyarakat, Universitas Riau

Email: rikafitriramadani@lecturer.unri.ac.id

Abstrak

Penelitian ini mengkaji peran motivasi dan kreativitas dalam pelatihan panduan sumbu hidroponik bagi anak muda di PKBM Aruhhama. Pendekatan kualitatif digunakan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan tiga peserta pelatihan sebagai informan. Temuan ini mengungkapkan bahwa motivasi intrinsik secara signifikan mendorong keterlibatan peserta, dengan kehadiran yang antusias dan perilaku penyelidikan aktif diamati selama sesi pelatihan. Peserta yang menunjukkan motivasi yang lebih tinggi menunjukkan pemahaman yang lebih besar tentang prinsip-prinsip sistem sumbu dan secara independen mengeksplorasi Deep Flow Technique (DFT) sebagai perpanjangan. Kreativitas dimanifestasikan dalam pendekatan adaptif peserta untuk menerapkan hidroponik di lingkungan rumah tangga mereka, meskipun dua peserta masih membutuhkan pendampingan berkelanjutan untuk merakit sistem secara mandiri. Pelatihan di PKBM Aruhhama secara efektif memperkenalkan hidroponik sebagai keterampilan praktis bagi pemuda perkotaan, meskipun keberlanjutan program bergantung pada struktur pendukung pasca-pelatihan seperti kelompok belajar sebaya dan pendampingan terstruktur. Studi ini menyoroti pentingnya menyelaraskan desain motivasi dengan fasilitasi kreatif dalam program pelatihan kejuruan berbasis masyarakat.

Kata Kunci: Kreativitas, generasi muda, hidroponik wick, motivasi, PKBM

Abstract

This study examines the role of motivation and creativity in hydroponic wick system training for youth at PKBM Aruhhama. A qualitative approach was employed through in-depth interviews, observations, and documentation involving three training participants as informants. The findings reveal that intrinsic motivation significantly encouraged participant engagement, as indicated by enthusiastic attendance and active inquiry behavior during the training sessions. Participants who demonstrated higher motivation showed a better understanding of wick system principles and independently explored the Deep Flow Technique (DFT) as an extension of their learning. Creativity was reflected in the participants’ adaptive approaches to applying hydroponics within their household environments, although two participants still required continuous assistance to independently assemble the system. The training program at PKBM Aruhhama effectively introduced hydroponics as a practical skill for urban youth; however, the sustainability of the program depends on post-training support structures such as peer learning groups and structured mentoring. This study highlights the importance of aligning motivational design with creative facilitation in community-based vocational training programs.

Keywords: Creativity, youth generation, hydroponic wick system, motivation, PKBM.

PENDAHULUAN

Generasi muda di Indonesia menghadapi tantangan nyata terkait keterbatasan lapangan kerja dan kebutuhan akan keterampilan praktis yang relevan dengan perkembangan zaman. Badan Pusat Statistik (2023) mencatat bahwa tingkat pengangguran terbuka pada kelompok usia muda (15-24 tahun) mencapai 19,40 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya. Kondisi ini mendorong kebutuhan mendesak terhadap program pendidikan non-formal yang mampu membekali generasi muda dengan keterampilan yang dapat diaplikasikan langsung dalam kehidupan. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) hadir sebagai salah satu lembaga pendidikan non-formal yang berperan strategis dalam menjawab kebutuhan tersebut, termasuk melalui penyelenggaraan pelatihan keterampilan berbasis potensi lokal (Zaifullah dkk., 2023).

Salah satu keterampilan yang semakin relevan untuk diajarkan kepada generasi muda adalah teknik budidaya tanaman secara hidroponik. Sistem hidroponik wick, yang memanfaatkan sumbu sebagai media penyaluran larutan nutrisi ke akar tanaman, dinilai sebagai teknik yang sederhana, berbiaya rendah, dan dapat diterapkan meskipun dalam keterbatasan lahan (Rahmawati & Hidayat, 2023). Pelatihan hidroponik telah terbukti mampu meningkatkan keterampilan teknis peserta sekaligus membuka peluang pengembangan usaha skala rumahan yang mendukung ketahanan pangan keluarga (Andriani & Wahyuni, 2022). Dalam konteks pendidikan masyarakat, pelatihan seperti ini tidak hanya berfungsi sebagai transfer pengetahuan teknis, tetapi juga sebagai ruang pengembangan kapasitas yang mendorong kemandirian peserta.

Namun, keberhasilan suatu pelatihan tidak semata ditentukan oleh kualitas materi atau ketersediaan fasilitas. Faktor internal peserta, terutama motivasi dan kreativitas, memainkan peran yang sangat signifikan dalam menentukan seberapa jauh seseorang dapat menyerap dan mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh. Ryan dan Deci (2020) menegaskan bahwa motivasi intrinsik, yaitu dorongan yang berasal dari dalam diri individu berupa rasa ingin tahu dan kepuasan dalam belajar, secara konsisten menghasilkan pembelajaran yang lebih mendalam dibandingkan motivasi yang bersumber dari tekanan eksternal semata. Di sisi lain, kreativitas berperan dalam mendorong peserta untuk mengadaptasi pengetahuan ke dalam konteks kehidupan mereka yang unik dan beragam (Amabile & Pratt, 2016).

Penelitian ini berfokus pada pelatihan hidroponik wick yang diselenggarakan di PKBM Arruhama yang beralamat di Jl. Kutilang No.13, Kp. Melayu, Kec. Sukajadi, Kota Pekanbaru, Riau. PKBM Arruhama dipilih sebagai lokasi penelitian karena telah menyelenggarakan program pelatihan hidroponik yang ditujukan bagi generasi muda di wilayah perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan bertani dan kualitas udara yang perlu diperhatikan. Kajian ini secara langsung relevan dengan bidang mata kuliah Motivasi dan Kreativitas dalam Pendidikan Masyarakat, yang menempatkan kedua konsep tersebut sebagai variabel utama dalam keberhasilan program pembelajaran berbasis komunitas. Dalam perspektif pendidikan masyarakat, motivasi bukan sekadar faktor pendukung, melainkan komponen inti yang menentukan apakah warga belajar akan terlibat, bertahan, dan mengaplikasikan hasil belajarnya dalam kehidupan nyata. Demikian pula kreativitas, dipandang sebagai kapasitas yang perlu difasilitasi secara sengaja oleh pendidik masyarakat agar peserta mampu mengadaptasi pengetahuan baru sesuai konteks lokal mereka. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bagaimana motivasi dan kreativitas peserta berperan dalam proses serta hasil pelatihan hidroponik wick, dan bagaimana kedua faktor tersebut memengaruhi keberlanjutan program pascapelatihan. Dengan memahami peran motivasi dan kreativitas secara mendalam, diharapkan temuan ini dapat memberikan kontribusi praktis bagi pengelola PKBM dan perancang program pelatihan dalam merancang kegiatan yang lebih responsif terhadap kebutuhan generasi muda.

 

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, yang dipilih karena tujuan penelitian adalah memahami pengalaman, persepsi, dan perilaku peserta secara mendalam dalam konteks pelatihan hidroponik wick di PKBM Arruhama (Sugiyono, 2021). Pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti untuk menggali makna di balik data yang diperoleh, bukan hanya mencatat frekuensi atau angka semata. Pelatihan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 12 November 2024 di PKBM Arruhama Jl. Kutilang No.13, Kp. Melayu, Kec. Sukajadi, Kota Pekanbaru, Riau, dengan narasumber Ilham Permana Putra. Peserta pelatihan adalah anak-anak dari PKBM Arruhama yang berjumlah 12 peserta didik pada tingkat kesetaraan Paket B dan Paket C dengan rentang usia 15–20 tahun. Sumber data penelitian ini adalah peserta pelatihan yang terlibat langsung dalam kegiatan, dengan jumlah tiga orang informan yang dipilih berdasarkan tujuan penelitian karena keterlibatan langsung mereka dalam seluruh rangkaian kegiatan pelatihan.

Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tiga cara, yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan menggunakan Google Form yang didistribusikan melalui WhatsApp untuk memperoleh informasi mengenai pengalaman, persepsi, dan rencana tindak lanjut peserta setelah pelatihan. Observasi dilaksanakan pada 12 November 2024 untuk menilai partisipasi aktif dan keterlibatan peserta selama proses pelatihan berlangsung. Materi pelatihan mencakup pengenalan dasar-dasar hidroponik, jenis-jenis sistem hidroponik, komponen utama (nutrisi, media tanam, air), peralatan yang diperlukan, peluang usaha berbasis hidroponik, serta langkah-langkah menanam dan merawat tanaman. Metode yang digunakan meliputi ceramah, diskusi, dan praktik langsung oleh peserta didik. Dokumentasi berupa foto dan catatan kegiatan digunakan sebagai data pendukung yang memperkuat temuan wawancara dan observasi.

Analisis data dilakukan secara deskriptif-kualitatif menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana (2020) yang mencakup tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diperkuat dengan triangulasi sumber, yaitu dengan membandingkan informasi yang diperoleh dari ketiga teknik pengumpulan data secara bersamaan untuk meningkatkan kredibilitas temuan penelitian.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Motivasi Peserta dalam Mengikuti Pelatihan Hidroponik Wick

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, peserta pelatihan hidroponik wick di PKBM Arruhama menunjukkan tingkat motivasi yang bervariasi namun secara umum cukup positif. Seluruh peserta hadir penuh selama kegiatan berlangsung, dan beberapa di antaranya aktif mengajukan pertanyaan terkait teknis pelaksanaan, seperti takaran larutan nutrisi yang tepat dan cara memastikan sumbu bekerja secara optimal dalam menyalurkan air ke tanaman. Keaktifan ini mencerminkan adanya rasa ingin tahu yang tinggi dari peserta, yang merupakan salah satu indikator utama motivasi intrinsik menurut Self-Determination Theory (SDT) yang dikembangkan oleh Ryan dan Deci (2020).

Dalam kerangka SDT, motivasi intrinsik tumbuh ketika individu merasa kompeten, mandiri, dan terhubung secara nyaman dengan lingkungan belajarnya. Ketiga kondisi ini tampak terpenuhi dalam pelatihan yang diselenggarakan di PKBM Arruhama, di mana fasilitator menciptakan suasana yang kondusif dan interaktif sehingga peserta merasa nyaman untuk terlibat aktif. Temuan ini sejalan dengan prinsip utama dalam mata kuliah Motivasi dan Kreativitas dalam Pendidikan Masyarakat, yang menekankan bahwa peran pendidik masyarakat (fasilitator) bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan menciptakan iklim belajar yang memicu tumbuhnya motivasi intrinsik warga belajar. Andriani dan Wahyuni (2022) dalam penelitiannya mengenai pelatihan budidaya hidroponik bagi masyarakat perkotaan juga menemukan bahwa lingkungan belajar yang suportif secara signifikan meningkatkan antusiasme dan motivasi peserta, terutama ketika materi pelatihan dikaitkan langsung dengan kebutuhan praktis kehidupan sehari-hari.

Namun, terdapat variasi motivasi antarindividu yang berdampak nyata pada hasil pembelajaran. Berdasarkan pelatihan yang dilaksanakan pada 12 November 2024 ini berhasil mencapai sebagian besar tujuan yang telah direncanakan: peserta memahami konsep dasar hidroponik, mengidentifikasi jenis-jenis sistem (NFT, DWC, dan wick), serta seluruh peserta berhasil menyusun sistem hidroponik sederhana menggunakan net pot, kain flanel, dan media tanam rockwool. Satu peserta yang menunjukkan motivasi tertinggi tidak hanya memahami sistem wick tetapi juga secara mandiri mengembangkan pemahamannya dengan mencoba teknik Deep Flow Technique (DFT) sebagai eksplorasi lebih lanjut. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi intrinsik yang kuat mendorong peserta melampaui batas minimal yang ditetapkan dalam pelatihan (Zimmerman & Schunk, 2020). Sebaliknya, dua peserta lainnya yang menunjukkan motivasi berada pada tingkat menengah belum mampu melakukan perakitan sistem secara mandiri dan membutuhkan pendampingan lanjutan, meskipun mereka tetap hadir dan berpartisipasi secara fisik. Temuan ini menegaskan pentingnya strategi penguatan motivasi yang sengaja dirancang dalam program pelatihan di PKBM, bukan hanya mengandalkan motivasi yang datang dengan sendirinya dari peserta (Sudrajat, 2022).

Ekspresi Kreativitas Peserta dalam Adaptasi Sistem Wick

Kreativitas dalam konteks pelatihan hidroponik wick bukan hanya berarti kemampuan menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru, melainkan juga kemampuan mengadaptasi dan menerapkan teknik yang dipelajari ke dalam situasi kehidupan nyata yang unik bagi masing-masing individu (Amabile & Pratt, 2016). Dalam pelatihan di PKBM Arruhama, ekspresi kreativitas peserta paling tampak pada cara mereka membayangkan dan merencanakan penerapan sistem hidroponik di lingkungan rumah masing-masing, mengingat kondisi tempat tinggal dan ketersediaan sumber daya yang berbeda-beda antarindividu.

Satu peserta secara mandiri berinisiatif mengeksplorasi sistem DFT setelah mengikuti pelatihan wick, yang menunjukkan kemampuan transfer pengetahuan sekaligus dorongan kreatif untuk mengembangkan apa yang telah dipelajari melampaui batas materi formal. Laporan kegiatan mencatat bahwa pelatihan juga memberikan wawasan tentang peluang usaha hidroponik, mulai dari budidaya sayuran seperti kangkung dan selada hingga pengembangan produk olahan, serta mendorong kesadaran peserta tentang peran hidroponik dalam mendukung ketahanan pangan lokal. Narasumber memberikan contoh nyata dari pengusaha hidroponik yang menginspirasi peserta untuk memanfaatkan hidroponik sebagai peluang usaha baru. Dalam perspektif mata kuliah Motivasi dan Kreativitas dalam Pendidikan Masyarakat, perilaku ini merupakan wujud nyata dari kreativitas yang terfasilitasi melalui program pelatihan berbasis komunitas yakni ketika warga belajar tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi mampu mentransformasikannya menjadi inovasi yang kontekstual dan berdaya guna. Zhan dkk. (2022) menyatakan bahwa kreativitas sejati ditandai dengan kemampuan individu melihat kemungkinan-kemungkinan di luar yang telah diajarkan, suatu kemampuan yang secara jelas tampak pada peserta tersebut. Ekspresi kreativitas seperti ini juga didukung oleh temuan Mellisa dkk. (2024) yang menemukan bahwa peserta pelatihan hidroponik skala rumah tangga cenderung mengembangkan inovasi teknis secara mandiri ketika mereka memiliki pemahaman dasar yang kuat dan diberi ruang untuk bereksperimen.

Di sisi lain, dua peserta yang belum mampu merakit sistem secara mandiri menunjukkan potensi kreativitas yang belum teraktualisasi karena terhalang oleh keterbatasan penguasaan teknis dasar. Hal ini sejalan dengan pandangan Amabile & Pratt (2016) bahwa kreativitas tidak akan berkembang optimal tanpa fondasi bidang pengetahuan yang memadai. Dengan kata lain, pelatihan teknis yang cukup mendalam merupakan prasyarat agar kreativitas peserta dapat berkembang secara produktif dan terarah. Ekawati dan Dwicitra (2024) juga mengidentifikasi bahwa kreativitas peserta meningkat secara signifikan ketika pendampingan dilakukan secara berkelanjutan dan peserta diberi kebebasan bereksperimen dalam batas yang aman, sebuah temuan yang memperkuat urgensi penyempurnaan desain pelatihan di PKBM Arruhama.

Keterkaitan Motivasi dan Kreativitas terhadap Keberlanjutan Program

Keberlanjutan program pascapelatihan merupakan salah satu indikator terpenting dalam mengukur keberhasilan suatu kegiatan pendidikan masyarakat (Idrus dkk., 2025). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dua dari tiga peserta menyatakan minat untuk melanjutkan praktik hidroponik di rumah, sementara satu peserta belum memiliki rencana konkret untuk melanjutkan kegiatan tersebut. Perbedaan ini secara langsung berkaitan dengan tingkat motivasi dan kapasitas kreatif masing-masing peserta yang teridentifikasi selama pelatihan berlangsung.

Peserta yang menunjukkan motivasi dan kreativitas tinggi cenderung memiliki visi yang lebih jelas mengenai manfaat praktis hidroponik untuk kehidupan sehari-hari, termasuk potensi penghematan biaya konsumsi sayuran dan peluang pengembangan usaha kecil berbasis urban farming. Hal ini menegaskan salah satu prinsip kunci dalam kajian Motivasi dan Kreativitas dalam Pendidikan Masyarakat, bahwa motivasi yang bersumber dari relevansi kebutuhan hidup nyata (need-based motivation) merupakan pendorong paling kuat bagi keberlanjutan belajar warga masyarakat. Sari dan Putra (2021) dalam penelitiannya mengenai urban farming dan ketahanan pangan keluarga menemukan bahwa motivasi ekonomi yang dikombinasikan dengan keterampilan teknis yang memadai merupakan prediktor terkuat dalam keberlanjutan praktik pertanian berbasis rumah tangga. Temuan ini selaras dengan data lapangan di PKBM Arruhama, di mana peserta yang telah mulai menerapkan hidroponik di rumah juga merupakan peserta yang menunjukkan tingkat motivasi dan kreativitas tertinggi selama pelatihan.

Namun, peserta yang belum melanjutkan praktik mengungkapkan bahwa mereka membutuhkan dukungan berupa pendanaan, pendampingan lanjutan, dan contoh keberhasilan nyata yang dapat memotivasi mereka untuk memulai. Kebutuhan ini mencerminkan apa yang Ryan dan Deci (2020) sebut sebagai kebutuhan akan dukungan sosial dan kompetensi yang dirasakan, dua dari tiga kebutuhan dasar psikologis dalam SDT yang harus terpenuhi agar motivasi intrinsik dapat bertahan dalam jangka panjang. Tanpa pemenuhan kebutuhan tersebut, motivasi yang semula ada berisiko memudar seiring waktu setelah pelatihan berakhir. Held dan Mejeh (2024) menekankan bahwa pendidikan yang efektif tidak berhenti pada akhir sesi pelatihan formal, melainkan berlanjut melalui jaringan dukungan komunitas yang memungkinkan peserta terus belajar dan berkembang dalam lingkungan nyata mereka.

 

SIMPULAN

Penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi dan kreativitas merupakan dua faktor internal peserta yang secara signifikan memengaruhi proses pembelajaran, penguasaan keterampilan, dan keberlanjutan program pascapelatihan hidroponik wick di PKBM Arruhama. Temuan ini selaras dengan landasan konseptual mata kuliah Motivasi dan Kreativitas dalam Pendidikan Masyarakat, yang memandang kedua konstruk tersebut bukan sebagai bawaan tetap individu, melainkan sebagai kapasitas yang dapat ditumbuhkan dan difasilitasi melalui desain program pendidikan nonformal yang tepat sasaran. Secara keseluruhan, pelatihan yang diikuti 12 warga belajar tingkat Paket B dan C (usia 15–20 tahun) ini berhasil mencapai sebagian besar tujuannya: seluruh peserta mampu menyusun sistem hidroponik wick sederhana, memahami komponen dasar, dan memperoleh wawasan peluang usaha serta kontribusi terhadap ketahanan pangan. Peserta dengan motivasi intrinsik yang kuat mampu memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan berinisiatif mengembangkan keterampilan secara mandiri, sementara kreativitas tampak pada kemampuan peserta mengadaptasi teknik yang dipelajari ke dalam konteks kehidupan sehari-hari. Variasi motivasi antarindividu berimplikasi langsung pada perbedaan hasil penguasaan keterampilan, di mana peserta dengan motivasi lebih moderat masih memerlukan pendampingan lanjutan untuk dapat merakit sistem secara mandiri.

Penelitian ini menegaskan bahwa penyelenggaraan pelatihan di PKBM perlu menempatkan penguatan motivasi dan stimulasi kreativitas sebagai elemen desain program yang disengaja, bukan sebagai faktor yang diharapkan muncul dengan sendirinya dari peserta. Implikasi ini secara langsung memperkuat urgensi kompetensi yang dibangun dalam mata kuliah Motivasi dan Kreativitas dalam Pendidikan Masyarakat bahwa seorang pendidik masyarakat harus mampu mengidentifikasi profil motivasi warga belajar, merancang intervensi kreatif yang kontekstual, serta membangun ekosistem belajar yang berkelanjutan pascapelatihan. Rekomendasi utama mencakup perlunya pendampingan pascapelatihan yang terstruktur, pembentukan kelompok belajar teman sebaya berbasis hidroponik, serta penyediaan demonstrasi hasil panen nyata yang dapat menjaga motivasi peserta tetap hidup dalam jangka panjang. Dengan mengintegrasikan pendekatan motivasional dan stimulasi kreatif secara sistematis, program pelatihan di PKBM Arruhama berpotensi menghasilkan dampak yang lebih merata dan berkelanjutan bagi generasi muda peserta pelatihan.

 

REFERENSI

Amabile, T. M., & Pratt, M. G. (2016). The dynamic componential model of creativity and innovation in organizations: Making progress, making meaning. Research in Organizational Behavior, 36, 157-183. https://doi.org/10.1016/j.riob.2016.10.001

Andriani, D., & Wahyuni, S. (2022). Pelatihan budidaya hidroponik sebagai upaya peningkatan keterampilan masyarakat perkotaan. Jurnal Pengabdian Masyarakat, 4(1), 45-52.

Idrus, A., Setiyadi, B., Syarif, M. I., Wahyu, A., & Suharto. (2025). Evaluation of education program implementation at Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Jambi City. Evaluation and Program Planning, 111, 102535. https://doi.org/10.1016/j.evalprogplan.2025.102535

Badan Pusat Statistik. (2023). Keadaan ketenagakerjaan Indonesia Agustus 2023. BPS.

Ekawati, R., & Dwicitra, Y. (2024). Bimbingan teknis budidaya tanaman sayuran secara hidroponik dan pembuatan pupuk kompos bagi masyarakat. Abdimas Dewantara, 7(1), 51-58.

Sudrajat, A. (2022). Pendidikan masyarakat: Teori dan praktik di Indonesia. Remaja Rosdakarya.

Mellisa, M., Fitriyeni, F., Hidayati, N., Imania, I., & Anthonia, S. (2024). Penerapan sistem hidroponik sederhana dalam budidaya tanaman pakcoy skala rumah tangga di Desa Kubang Jaya. Jurnal Dinamika Pengabdian, 9(2), 263-271.

Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldana, J. (2020). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (4th ed.). SAGE Publications.

Rahmawati, F., & Hidayat, M. (2023). Penerapan sistem hidroponik wick dalam budidaya sayuran skala rumah tangga. Jurnal Agroteknologi Terapan, 7(2), 101-110.

Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2020). Intrinsic and extrinsic motivation from a self-determination theory perspective: Definitions, theory, practices, and future directions. Contemporary Educational Psychology, 61, 101860. https://doi.org/10.1016/j.cedpsych.2020.101860

Sari, N., & Putra, R. (2021). Urban farming dan ketahanan pangan keluarga melalui teknik hidroponik. Jurnal Pertanian Perkotaan, 3(1), 27-35.

Zimmerman, B. J., & Schunk, D. H. (2020). Motivation and self-regulated learning: Theory, research, and applications. Routledge.

Zhan, Z., Fong, P. S. W., Lin, K. Y., Zhong, B., & Yang, H. H. (2022). Creativity, innovation, and entrepreneurship: The learning science toward higher order abilities. Frontiers in Psychology, 13, 1063370. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.1063370

Zaifullah, Z., Cikka, H., Kahar, M. I., Ismail, M. J., & Iskadar, I. (2023). Peran Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dalam penyelenggaraan pendidikan nonformal di era Society 5.0. Jurnal Pendidikan Nonformal, 18(1), 1-12.

Sugiyono. (2021). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D (2nd ed.). Alfabeta.

Held, T., & Mejeh, M. (2024). Students’ motivational trajectories in vocational education: Effects of a self-regulated learning environment. Heliyon, 10(8), e29526. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2024.e29526

Saturday, May 23, 2026

Upaya Peningkatan Minat Calon Siswa melalui Publikasi Program Sekolah Alam CEFA

 Efforts to Increase Prospective Students’ Interest through the Publication of the CEFA Nature School Program

Upaya Peningkatan Minat Calon Siswa melalui Publikasi Program Sekolah Alam CEFA | Alfita | Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin 

Adinta Alfita1, Emilda Pirdaus2, Indi Rahmat Saputra2, Sahrul Amanda4

1Universitas Riau

Email: emilda.pirdaus1467@student.unri.ac.i

Abstrak

Penelitian ini mengkaji kegiatan publikasi dan pengenalan pendidikan yang dilakukan di Sekolah Alam CEFA, sebuah lembaga yang menerapkan pembelajaran akademik berbasis proyek di luar ruangan serta pendidikan karakter intensif melalui program asrama. Sekolah ini menghadapi kebutuhan untuk menarik calon siswa baru pada tahun ajaran mendatang, meningkatkan minat masyarakat untuk melakukan kunjungan, serta menyebarluaskan informasi terkait fasilitas, kurikulum, dan program asrama. Kegiatan yang dilakukan meliputi pengamatan lingkungan belajar, partisipasi dalam sesi pembelajaran luar ruang, serta pendokumentasian model pendidikan yang diterapkan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa Sekolah Alam CEFA secara aktif berupaya memperluas visibilitas publik melalui peningkatan keterlibatan masyarakat dan strategi promosi yang lebih terarah. Artikel ini menyajikan gambaran tentang pendekatan pembelajaran sekolah, tantangan dalam rekrutmen siswa baru, serta upaya meningkatkan perhatian publik melalui kegiatan pengenalan dan publikasi.

Kata kunci: pembelajaran luar ruang, pendidikan karakter, promosi sekolah, program asrama.

PENDAHULUAN

Sekolah berbasis alam menjadi salah satu alternatif pendidikan yang semakin diminati karena menawarkan pengalaman belajar yang lebih kontekstual, aktif, dan dekat dengan kehidupan nyata. Model pembelajaran ini menempatkan aktivitas luar ruang sebagai bagian inti dari proses pendidikan, sehingga mampu meningkatkan motivasi, kreativitas, dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Menurut Prasetyo dan Indrawati (2020), pembelajaran berbasis alam memberikan ruang bagi anak untuk mengembangkan rasa ingin tahu serta kemampuan pemecahan masalah melalui aktivitas eksploratif. Pendekatan ini juga relevan dengan kebutuhan pendidikan masa kini yang mendorong pembelajaran bermakna dan berbasis pengalaman nyata.

Sekolah Alam CEFA mengintegrasikan pembelajaran akademik berbasis proyek (project-based outdoor learning) dengan pendidikan karakter yang diperkuat melalui program asrama. Integrasi akademik dan karakter ini sesuai dengan temuan Wardani dan Suprihatin (2021) yang menjelaskan bahwa pendidikan karakter menjadi lebih efektif ketika dilaksanakan melalui aktivitas langsung dan interaksi sosial yang intens, bukan sekadar pembelajaran di kelas. Program asrama di Sekolah Alam CEFA memberi kesempatan kepada siswa untuk membangun kedisiplinan, kemandirian, serta tanggung jawab melalui kegiatan harian yang terstruktur. Kombinasi ini menjadikan CEFA bukan hanya sebagai lembaga pendidikan akademik, tetapi juga sebagai pusat pembentukan karakter.

Namun, di tengah persaingan antar lembaga pendidikan, sekolah berbasis alam menghadapi tantangan dalam meningkatkan visibilitas dan menarik minat calon peserta didik. Sekolah Alam CEFA membutuhkan strategi publikasi yang lebih terarah untuk memperkenalkan kurikulum, fasilitas, serta keunggulan program asrama kepada masyarakat luas. Hal ini sejalan dengan penelitian Sari dan Luthfiyah (2022) yang menunjukkan bahwa promosi yang efektif dan penggunaan media publikasi yang tepat dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat dan minat untuk mendaftarkan anak ke lembaga pendidikan tertentu. Pada konteks CEFA, kurangnya informasi publik menjadi salah satu faktor yang membatasi jangkauan calon siswa baru.

Pembelajaran di Sekolah Alam CEFA dilaksanakan secara langsung di ruang terbuka, di mana siswa terlibat dalam diskusi, aktivitas proyek, dan interaksi kelompok yang dipandu oleh pendidik. Suasana pembelajaran yang alami ini terlihat pada Gambar 1, yang menunjukkan proses belajar bersama di area terbuka yang berfungsi sebagai kelas alam. Lingkungan belajar seperti ini memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemandirian, keberanian berpendapat, serta kemampuan sosial melalui interaksi langsung dalam kelompok kecil.

 

Gambar 1. Kegiatan Pembelajaran Luar Ruang di Sekolah Alam CEFA

 

Gambar 1 memperlihatkan suasana pembelajaran luar ruang di Sekolah Alam CEFA, di mana sekelompok siswa duduk melingkar bersama pendidik dalam sebuah ruang belajar terbuka yang menyerupai saung atau gazebo. Lingkungan alami yang mengelilingi tempat tersebut mendukung konsep outdoor learning yang diterapkan sekolah, memungkinkan siswa belajar dengan lebih rileks namun tetap fokus. Aktivitas diskusi yang terlihat di dalam gambar menunjukkan partisipasi aktif siswa, sejalan dengan prinsip pembelajaran berbasis proyek yang menekankan kolaborasi dan eksplorasi. Setting belajar seperti ini memberikan pengalaman belajar yang kontekstual dan mendorong perkembangan karakter melalui kebiasaan berdiskusi, menyimak, dan bekerja sama.

 

METODE PELAKSANAAN

Metode pelaksanaan kegiatan publikasi dan pengenalan Sekolah Alam CEFA dirancang dengan pendekatan deskriptif kualitatif yang berfokus pada pengamatan langsung, interaksi lapangan, dan pendokumentasian proses pembelajaran luar ruang. Pendekatan ini dipilih karena mampu memberikan gambaran yang lebih mendalam terkait suasana belajar, pola interaksi siswa, serta keunikan kurikulum yang diterapkan di sekolah berbasis alam. Menurut Ramadhani dan Pramesti (2021), metode observasi langsung sangat relevan digunakan pada penelitian pendidikan alternatif karena memungkinkan peneliti memahami konteks belajar secara nyata dan komprehensif.

Tahapan pelaksanaan kegiatan dimulai dari orientasi lingkungan sekolah, yaitu pengenalan fasilitas pembelajaran luar ruang, ruang asrama, area proyek, serta titik-titik kegiatan yang sering digunakan siswa dalam proses belajar. Proses ini dilakukan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai karakteristik ruang belajar CEFA. Hal ini selaras dengan temuan Supriyadi dan Astutik (2020) yang menyatakan bahwa analisis ruang belajar merupakan langkah penting dalam memahami efektivitas pembelajaran berbasis alam. Setelah orientasi, dilakukan observasi aktivitas pembelajaran seperti diskusi kelompok, pembelajaran berbasis proyek, dan kegiatan karakter yang berlangsung dalam suasana alami.

Tahap berikutnya adalah dokumentasi kegiatan yang meliputi pengambilan foto, pencatatan aktivitas siswa, serta pengumpulan informasi mengenai kurikulum, program asrama, dan pedoman pembelajaran. Dokumentasi ini digunakan sebagai bahan utama dalam mengenalkan Sekolah Alam CEFA kepada masyarakat. Menurut Putri dan Herlambang (2022), dokumentasi visual memiliki pengaruh besar dalam meningkatkan daya tarik publik terhadap program sekolah, terutama ketika menyangkut model pendidikan alternatif yang belum banyak dikenal. Dokumentasi lapangan kemudian diolah menjadi bahan publikasi seperti poster, artikel, dan konten media sosial untuk memperluas jangkauan informasi.

Pada tahap akhir, dilakukan publikasi dan penyebaran informasi melalui berbagai saluran komunikasi, baik secara langsung kepada masyarakat maupun melalui platform digital. Strategi penyebaran informasi bertujuan meningkatkan minat kunjungan sekolah dan menarik calon siswa baru untuk tahun ajaran mendatang. Temuan Azizah dan Prakoso (2023) menunjukkan bahwa publikasi berbasis pengalaman nyata dan visualisasi kegiatan belajar memiliki dampak signifikan dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan. Melalui tahapan ini, Sekolah Alam CEFA berupaya memperkuat citra sekolah dan memperluas visibilitasnya sebagai lembaga yang menawarkan pendidikan karakter dan pembelajaran luar ruang yang terintegrasi.

Untuk memperjelas tahapan pelaksanaan kegiatan publikasi dan pengenalan Sekolah Alam CEFA, proses kerja disusun dalam rangkaian alur sistematis mulai dari orientasi lapangan hingga publikasi. Alur ini digunakan sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan agar setiap tahap berjalan terstruktur dan menghasilkan keluaran yang sesuai dengan tujuan peningkatan minat calon siswa.

Orientasi Lingkungan Sekolah

Observasi Aktivitas Pembelajaran Luar Ruang

Dokumentasi Kegiatan

Pengolahan Materi Publikasi

 

 

 

 


Publikasi dan Penyebaran Informasi kepada Masyarakat

­­­

 

 

 

Gambar 2. Alur Pelaksanaan Teras Belajar

Alur pelaksanaan kegiatan dimulai dari orientasi lingkungan sekolah, yaitu pengamatan awal terhadap fasilitas, area pembelajaran luar ruang, dan program asrama. Tahap ini dilanjutkan dengan observasi aktivitas pembelajaran, di mana peneliti mengamati pola interaksi siswa, metode pembelajaran berbasis proyek, dan kegiatan karakter yang berlangsung dalam lingkungan alami. Setelah itu dilakukan dokumentasi kegiatan, mencakup foto, catatan lapangan, dan informasi kurikulum sebagai bahan promosi sekolah. Seluruh data kemudian diolah pada tahap pengolahan materi publikasi menjadi konten informatif yang siap disebarkan. Tahap terakhir adalah publikasi dan penyebaran informasi, yang dilakukan melalui media sosial, artikel, dan interaksi langsung dengan masyarakat untuk meningkatkan minat calon siswa terhadap Sekolah Alam CEFA.

     HASIL PELAKSANAAN

Pelaksanaan kegiatan publikasi dan pengenalan Sekolah Alam CEFA menunjukkan bahwa proses observasi, dokumentasi, dan interaksi lapangan memberikan gambaran yang jelas mengenai model pembelajaran luar ruang dan pendidikan karakter yang diterapkan sekolah. Selama kegiatan, tim dapat menyaksikan secara langsung bagaimana siswa belajar melalui diskusi, eksplorasi alam, dan aktivitas proyek yang melibatkan kerja sama kelompok. Lingkungan belajar yang terbuka, sebagaimana tampak pada kegiatan di gazebo atau saung, menciptakan suasana yang rileks namun tetap fokus sehingga anak-anak terlihat aktif memberikan pendapat dan terlibat dalam proses pembelajaran. Program asrama juga memperlihatkan rutinitas pendidikan karakter yang terstruktur, mencakup pembiasaan kedisiplinan, penyelesaian tugas harian, serta interaksi sosial yang positif antar siswa.

Hasil dokumentasi visual yang dikumpulkan selama kegiatan memperkuat pemahaman mengenai daya tarik utama Sekolah Alam CEFA, yaitu integrasi antara pembelajaran akademik dan pembentukan karakter dalam lingkungan alami. Materi publikasi yang disusun dari dokumentasi tersebut menunjukkan antusiasme siswa, keaktifan dalam kegiatan proyek, serta suasana belajar yang berbeda dari sekolah formal pada umumnya. Seluruh temuan lapangan ini kemudian diolah menjadi konten informatif untuk memperluas visibilitas sekolah. Informasi mengenai fasilitas, kurikulum, dan aktivitas siswa berhasil dirumuskan secara lebih sistematis sehingga dapat digunakan oleh pihak sekolah untuk meningkatkan minat calon siswa dan menarik perhatian masyarakat. Secara keseluruhan, hasil pelaksanaan menunjukkan bahwa kegiatan publikasi mampu mendukung upaya peningkatan penerimaan siswa baru bagi Sekolah Alam CEFA.

 

PEMBAHASAN

Hasil pelaksanaan menunjukkan bahwa strategi publikasi melalui observasi langsung dan dokumentasi lapangan menjadi langkah efektif dalam mengenalkan karakteristik Sekolah Alam CEFA kepada masyarakat. Pembelajaran luar ruang yang menjadi ciri utama CEFA terbukti memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan sekolah formal, terutama karena pendekatan yang digunakan menekankan interaksi langsung dengan lingkungan, aktivitas fisik, serta pembelajaran berbasis proyek. Ketika dokumentasi visual dari kegiatan tersebut disusun menjadi materi publikasi, sekolah memiliki nilai jual yang kuat: masyarakat dapat melihat bukti nyata proses belajar yang aktif, natural, dan menyenangkan. Publikasi visual seperti ini sangat efektif karena memperlihatkan esensi pembelajaran alam yang sulit ditangkap hanya melalui deskripsi teks.

Kegiatan pengenalan melalui dokumentasi juga memperlihatkan bagaimana siswa membangun kemampuan sosial dan karakter melalui program asrama yang dijalankan CEFA. Informasi seputar rutinitas kedisiplinan, aktivitas mandiri, serta interaksi antarsiswa menjadi daya tarik tersendiri bagi orang tua yang mencari pendidikan karakter yang lebih intensif. Dengan mengolah dokumentasi kegiatan tersebut menjadi narasi publikasi, sekolah dapat menampilkan gambaran komprehensif mengenai pengalaman belajar siswa, tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga pembentukan karakter. Hal ini menjadikan publikasi yang dilakukan lebih kredibel dan mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap proses pendidikan yang ditawarkan.

Dari sisi penyebaran informasi, hasil pelaksanaan menunjukkan bahwa publikasi yang disiapkan sekolah dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas melalui konten visual, poster edukasi, dan penjelasan mengenai fasilitas serta kurikulum. Publikasi yang terstruktur mempermudah masyarakat memahami apa yang membedakan sekolah alam dengan sekolah umum, terutama pada aspek pendekatan belajar, intensitas pembinaan karakter, dan pengalaman konteks alam yang tidak dimiliki sekolah konvensional. Informasi yang disusun secara sistematis ini juga membantu memperkuat citra sekolah sebagai lembaga yang transparan mengenai proses pembelajaran dan program pendidikan yang dijalankan.

Selanjutnya, kegiatan lapangan menunjukkan bahwa publikasi berbasis pengalaman nyata mampu meningkatkan antusiasme masyarakat untuk berkunjung langsung ke sekolah. Ketertarikan ini muncul karena publik dapat melihat bukti konkret dari kegiatan belajar, bukan sekadar promosi verbal atau poster umum. Dokumentasi yang menunjukkan siswa sedang bekerja sama dalam proyek, berdiskusi di ruang terbuka, atau menjalani kegiatan karakter harian menciptakan persepsi bahwa CEFA adalah lingkungan belajar yang aman, sehat, dan menginspirasi. Peningkatan minat kunjungan ini menjadi indikator keberhasilan strategi publikasi yang digunakan.

Secara keseluruhan, pembahasan ini menunjukkan bahwa kegiatan publikasi yang dirancang melalui pendekatan observasi langsung, dokumentasi visual, dan penyampaian informasi komprehensif menjadi faktor penting dalam mendukung upaya peningkatan penerimaan siswa baru. Sekolah Alam CEFA memperoleh manfaat dari pendekatan ini karena publik dapat memahami nilai-nilai yang ditawarkan sekolah, mulai dari pengalaman belajar luar ruang, penguatan karakter, hingga suasana asrama. Integrasi seluruh aspek ini dalam publikasi membuat sekolah memiliki posisi kompetitif yang lebih kuat di mata masyarakat dan berpotensi meningkatkan minat calon siswa untuk mendaftar pada tahun ajaran mendatang.

 

SIMPULAN

Kegiatan publikasi dan pengenalan Sekolah Alam CEFA menunjukkan bahwa dokumentasi lapangan, observasi langsung, dan penyusunan materi informasi mampu meningkatkan visibilitas sekolah di mata masyarakat. Integrasi pembelajaran luar ruang dan pendidikan karakter melalui program asrama menjadi nilai keunggulan yang dapat ditonjolkan dalam strategi promosi sekolah. Publikasi yang menampilkan bukti nyata proses belajar terbukti mampu menarik minat masyarakat, mendorong kunjungan, serta mendukung upaya peningkatan calon siswa baru untuk tahun ajaran mendatang. Secara keseluruhan, pelaksanaan kegiatan publikasi memberikan kontribusi positif bagi penguatan citra dan daya tarik Sekolah Alam CEFA sebagai lembaga pendidikan alternatif.

 

SARAN

Sekolah disarankan untuk memperluas strategi publikasi dengan memanfaatkan platform digital secara lebih konsisten, termasuk media sosial, video edukatif, dan konten visual yang menonjolkan aktivitas luar ruang serta program karakter. Penguatan kolaborasi dengan komunitas dan peningkatan frekuensi kegiatan kunjungan publik juga berpotensi memperluas jangkauan informasi. Untuk penelitian dan pengembangan selanjutnya, disarankan agar evaluasi dampak publikasi dilakukan secara lebih terukur, misalnya melalui survei minat masyarakat atau analisis peningkatan jumlah pendaftar, sehingga efektivitas strategi promosi dapat dinilai secara lebih sistematis.

 

REFERENSI

Azizah, L., & Prakoso, D. (2023). Efektivitas publikasi digital dalam meningkatkan minat masyarakat terhadap lembaga pendidikan. Jurnal Komunikasi Pendidikan, 7(2), 89–98.

Prasetyo, R., & Indrawati, N. (2020). Outdoor learning dalam meningkatkan keterlibatan dan kreativitas siswa sekolah dasar. Jurnal Pendidikan Dasar, 11(2), 145–154.

Putri, S., & Herlambang, A. (2022). Dokumentasi visual sebagai strategi promosi sekolah alternatif. Jurnal Pendidikan dan Media, 5(1), 44–53.

Ramadhani, R., & Pramesti, W. (2021). Metode observasi lapangan dalam penelitian pendidikan nonformal. Jurnal Penelitian Pendidikan, 13(2), 120–130.

Supriyadi, G., & Astutik, N. (2020). Analisis ruang belajar pada model sekolah alam dan implikasinya terhadap aktivitas siswa. Jurnal Pendidikan Lingkungan, 9(3), 211–220.

 

Sari, M., & Luthfiyah, S. (2022). Strategi promosi lembaga pendidikan dalam meningkatkan minat masyarakat. Jurnal Manajemen Pendidikan, 14(1), 55–66.

Wardani, A., & Suprihatin, T. (2021). Penguatan pendidikan karakter melalui pembelajaran berbasis pengalaman. Jurnal Pendidikan Karakter, 12(3), 389–400.

Wulandari, F. (2023). Pengaruh kunjungan edukatif terhadap persepsi masyarakat terhadap sekolah alternatif. Jurnal Inovasi Pendidikan, 7(1), 28–37.