The Impact of Final Project Workload on the Mental Health of
Final-Year Students at Palangka Raya University (UPR)
Yohanes Aditya Pratama, Christiano
Jagero Pratama, Fitriana Selvia, Peronika Simanjuntak
Ilmu Admiinistrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial &
Ilmu Politik, Universitas Palangka Raya
Email Penulis: yohanesadityapratama8@gmail.com, jagero0801@gmail.com
Abstract
In their final semesters,
university students often face significant academic pressure, particularly
during the process of writing their final assignments or theses. This prolonged
pressure can often trigger stressful conditions that negatively impact their
psychological well-being. This study aims to examine the effect of final
assignment workload on the mental health conditions of final-semester students
at the University of Palangka Raya. The research method utilized is a
descriptive and causal quantitative approach. Data collection techniques
involved structural questionnaires using the Perceived Stress Scale (PSS-10)
and Self-Rating Questionnaire (SRQ-20) distributed online via Google Forms to
final-semester students. The results of the simple linear regression analysis
confirmed that the final assignment process had a significant negative effect
on student mental health, characterized by academic burnout, massive anxiety,
and mild depressive symptoms caused by extensive revisions and post-graduation
anxiety. This study provides a comprehensive overview to serve as an
institutional evaluation base for enhancing campus psychological support
systems.
Keywords: Health, Mentall, College students.
Abstrak
Pada
fase semester akhir, mahasiswa di perguruan tinggi kerap kali dihadapkan pada
tekanan akademis yang signifikan, khususnya dalam proses penyusunan tugas akhir
atau skripsi. Tekanan yang berkepanjangan ini seringkali dapat memicu kondisi
stres yang berdampak negatif pada kesejahteraan psikologis mereka. Penelitian
ini bertujuan untuk menguji pengaruh beban penyelesaian tugas akhir terhadap
kondisi kesehatan mental pada mahasiswa semester akhir di Universitas Palangka
Raya. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif deskriptif
dan kausal. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner terstruktur
mengadopsi instrumen Perceived Stress Scale (PSS-10) dan Self-Rating
Questionnaire (SRQ-20) yang didistribusikan secara daring melalui Google Form.
Hasil analisis uji regresi linear sederhana mengonfirmasi bahwa tugas akhir
berpengaruh secara signifikan negatif terhadap kesehatan mental mahasiswa.
Tingginya beban akademik secara linear memicu kelelahan emosional (burnout),
kecemasan masif, dan gejala depresi ringan yang didominasi oleh intensitas
revisi serta kecemasan pasca-kelulusan. Studi ini memberikan gambaran
komprehensif sebagai landasan evaluasi institusi dalam penguatan sistem layanan
pendampingan psikologis di lingkungan kampus.
Kata Kunci : Kesehatan, Mental, Mahasiswa.
Pendidikan tinggi merupakan fase krusial bagi mahasiswa semester akhir
dalam mengembangkan kapasitas intelektual, profesional, dan emosional. Namun,
dalam realitas akademis, fase akhir dari perjalanan perkuliahan sering kali
menjadi periode yang paling rentan bagi kesejahteraan psikologis mahasiswa. Di
berbagai perguruan tinggi di Indonesia, termasuk di Universitas Palangka Raya
(UPR), mahasiswa tingkat akhir diwajibkan untuk menyelesaikan tugas akhir atau
skripsi sebagai salah satu prasyarat mutlak untuk memperoleh gelar sarjana.
Kewajiban akademik ini dirancang untuk menguji kemampuan sintesis, metodologis,
dan penalaran ilmiah mahasiswa. Sayangnya, proses penyusunan skripsi ini tidak
jarang bertransformasi dari sebuah tantangan intelektual menjadi sumber tekanan
psikologis yang sangat berat.Te kanan yang dihadapi oleh mahasiswa semester
akhir bersifat multidimensional. Di satu sisi, mereka dihadapkan pada tingginya
ekspektasi akademik, tuntutan metodologi yang rumit, serta proses bimbingan
dengan dosen penasihat yang memerlukan ketahanan mental tinggi. Di sisi lain,
kendala non-akademik seperti keterbatasan literatur, kesulitan dalam manajemen
waktu antara riset dan kehidupan pribadi, serta tuntutan finansial turut
memperparah beban yang dipikul. Lebih jauh lagi, tekanan ini sering kali
diamplifikasi oleh kecemasan personal akan masa depan, seperti ketidakpastian
dalam memasuki pasar kerja setelah kelulusan (post-graduation anxiety),
serta ekspektasi sosial dari lingkungan keluarga.
Akumulasi dari berbagai faktor stresor ini
menempatkan mahasiswa tingkat akhir pada risiko tinggi mengalami penurunan
kualitas kesehatan mental. Urgensi mengenai fenomena penurunan kesehatan mental
ini bukan lagi sekadar asumsi teoritis, melainkan sebuah realitas empiris yang
memerlukan perhatian mendesak. Kondisi burnout (kejenuhan akademis
total) dan kelelahan emosional yang tidak tertangani dengan baik tidak hanya
menghambat progres akademik mahasiswa, tetapi juga dapat merusak fungsi
kognitif dan stabilitas emosional mereka dalam jangka panjang. Ketika mahasiswa
terjebak dalam pusaran stres tanpa adanya mekanisme koping (coping mechanism)
yang efektif atau sistem pendukung (support system) yang memadai dari
lingkungan kampus, konsekuensinya dapat berdampak fatal bagi kesejahteraan
hidup mereka.
Institusi pendidikan tinggi sering kali
cenderung lebih berfokus pada aspek capaian akademis dan angka kelulusan,
sementara aspek kesehatan mental mahasiswa yang menjadi motor penggerak proses
tersebut rentan terabaikan. Penelitian
terdahulu mengenai stress akademik lokal di Kalimantan Tengah menunjukkan
tingginya urgensi ketahanan psikologis pada mahasiswa, seperti pada studi
manajemen stres di FEB UPR serta analisis beban tugas terhadap stres belajar.
Namun, masih diperlukannya analisis kausal yang spesifik menghubungkan beban
prosedural tugas akhir dengan status kesehatan mental klinis. Oleh karena itu,
penelitian ini menjadi sangat penting dan krusial untuk dilaksanakan.
Diperlukan sebuah kajian ilmiah yang komprehensif untuk menganalisis dampak
nyata dari proses penyelesaian skripsi terhadap stabilitas kesehatan mental
mahasiswa di Universitas Palangka Raya. Dengan mengeksplorasi faktor-faktor
dominan penyebab stres, gejala psikologis yang muncul, serta bagaimana
mahasiswa berupaya merespons tekanan tersebut, penelitian ini diharapkan dapat
memberikan kontribusi nyata sebagai landasan evaluasi dan rekomendasi konkret
bagi para pihak pengambil kebijakan di Universitas Palangka Raya.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan
jenis penelitian deskriptif dan kausal untuk menguji secara empiris pengaruh
penyelesaian tugas akhir terhadap kesehatan mental mahasiswa. Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh mahasiswa semester akhir di lingkungan
Universitas Palangka Raya (UPR). Pengambilan sampel dilakukan menggunakan
teknik purposive sampling dengan kriteria mahasiswa aktif yang sedang
memprogram dan menyusun skripsi/tugas akhir. Pengumpulan data dilakukan secara
daring melalui penyebaran kuesioner terstruktur via Google Form untuk
menjangkau responden dari berbagai fakultas di UPR. Pengukuran variabel tingkat
stres akademik mengadopsi instrumen Perceived Stress Scale (PSS-10) yang
menggunakan skala Likert untuk mengukur persepsi stres individu. Sementara itu,
instrumen Self-Rating Questionnaire (SRQ-20) dari WHO digunakan untuk
mengidentifikasi indikasi gangguan kesehatan mental dan gejala neurotik minor
mahasiswa. Data kuantitatif yang telah terkumpul kemudian ditabulasikan dan
dianalisis menggunakan metode analisis statistik uji regresi linear sederhana
melalui perangkat lunak statistik guna menentukan nilai signifikansi dan arah
pengaruh antar variabel yang diteliti.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengumpulan data dan analisis deskriptif,
ditemukan bahwa mayoritas mahasiswa semester akhir di Universitas Palangka Raya
(UPR) berada pada kategori tingkat stres akademik sedang hingga berat selama
proses penyusunan skripsi. Berdasarkan tabulasi instrumen PSS-10, indikator
utama yang mendominasi persepsi stres mahasiswa mencakup beban tugas penulisan
yang menumpuk secara konstan, tingginya intensitas revisi substansi materi,
hambatan komunikasi dan keterbatasan waktu bimbingan bersama dosen pembimbing,
serta kecemasan yang masif terkait masa depan pasca-kelulusan. Kondisi ini
diperparah oleh kelelahan fisik akibat rusaknya pola tidur mahasiswa yang
memicu kejenuhan akademis total (burnout). Untuk menguji hipotesis
mengenai pengaruh tugas akhir ($X$) terhadap penurunan kesehatan mental ($Y$),
dilakukan uji regresi linear sederhana.
Hasil analisis statistik
mengonfirmasi adanya pengaruh yang signifikan dengan arah negatif antara proses
pengerjaan tugas akhir terhadap stabilitas psikologis mahasiswa. Berdasarkan
output pemodelan, diperoleh nilai signifikansi koefisien regresi sebesar $0,000
< 0,05$. Hal ini membuktikan secara empiris bahwa peningkatan beban,
hambatan birokrasi, dan tekanan prosedural dalam penyelesaian tugas akhir
secara linear berkontribusi nyata terhadap penurunan kualitas kesehatan mental
mahasiswa, yang diidentifikasi melalui munculnya gejala kecemasan masif hingga
indikasi depresi ringan pada instrumen SRQ-20. Temuan kausal tersebut diperkuat
oleh hasil wawancara mendalam (in-depth interview) yang dilakukan
peneliti dengan salah satu alumni Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UPR
angkatan 2017 selaku informan transisi akademik. Informan menyatakan bahwa pada
fase semester akhir, seluruh perkuliahan tatap muka di kelas memang telah selesai,
sehingga fokus kehidupan mahasiswa sepenuhnya tercurah pada penyelesaian tugas
akhir.
Kondisi ini menuntut peluangan waktu,
konsentrasi, serta energi fisik dan mental yang sangat besar. Lebih lanjut,
proses ini tidak lagi hanya sekadar berupa aktivitas mandiri di meja belajar,
melainkan melibatkan jejaring interaksi sosial yang kompleks dan intens, baik
dengan Dosen Pembimbing (DosPem) maupun dengan pihak eksternal seperti warga
sekolah atau instansi tempat pengambilan sampel penelitian. Aktivitas
interaktif yang menyita waktu dan menuntut dedikasi tinggi tersebut sering kali
memicu stresor sekunder. Menurut penuturan informan, ketika harus berurusan
dengan pihak luar atau orang asing dalam dinamika riset, terdapat banyak
variabel dan situasi di lapangan yang berada benar-benar di luar kendali
mahasiswa. Hambatan berupa rencana penelitian yang tidak berjalan semestinya di
lapangan inilah yang menjadi faktor utama yang menambah beban pikiran dan
mengeskalasi stres psikologis secara signifikan.
Temuan ini sejalan dengan realitas
empiris dan literatur lokal di lingkungan Universitas Palangka Raya. Tekanan
akademis yang tidak diimbangi oleh coping mechanism yang adaptif memicu
distres psikologis yang mengkhawatirkan. Hambatan dalam proses bimbingan,
ketidakpastian kendala lapangan, dan tingginya ekspektasi sosial menuntut
adanya intervensi kelembagaan yang komprehensif. Hasil penelitian ini
memberikan penegasan kuat bahwa institusi tidak boleh hanya bertumpu pada
indikator kuantitatif kelulusan, melainkan wajib membangun ekosistem akademik
yang humanis melalui penguatan sistem dukungan psikologis dan manajemen stres
terpadu di tingkat universitas.
|
No |
Faktor Beban Tugas Akhir |
Frekuensi |
Persentase (%) |
|
|
|
|
|
|
1 |
Tekanan penyelesaian skripsi tepat waktu |
45 |
45% |
|
2 |
Kesulitan konsultasi dengan dosen pembimbing |
20 |
20% |
|
3 |
Kesulitan memperoleh data penelitian |
15 |
15% |
|
4 |
Manajemen waktu yang buruk |
10 |
10% |
|
5 |
Faktor ekonomi dan biaya penelitian |
10 |
10% |
|
Total |
100 |
100% |
Tekanan menyelesaikan skripsi ████████████████████████████████████████
45%
Kesulitan konsultasi dosen ██████████████████ 20%
Kesulitan memperoleh data █████████████ 15%
Interaksi responden/instansi ████████ 10%
Manajemen waktu ████ 5%
Biaya penelitian ████ 5%
Persentase Kumulatif:
45% → 65% → 80% → 90% → 95% → 100%
Untuk diagram Pareto, urutkan faktor dari yang terbesar
hingga terkecil:
- Tekanan penyelesaian skripsi tepat
waktu (45%)
- Kesulitan konsultasi dengan dosen
pembimbing (20%)
- Kesulitan memperoleh data penelitian
(15%)
- Manajemen waktu yang buruk (10%)
- Faktor ekonomi dan biaya penelitian
(10%)
Diagram ini menunjukkan bahwa faktor
yang paling dominan memengaruhi kesehatan mental mahasiswa semester akhir
adalah tekanan menyelesaikan skripsi
tepat waktu, disusul oleh kesulitan konsultasi dengan dosen pembimbing.
SIMPULAN
Penelitian ini membuktikan secara empiris bahwa proses penyelesaian
tugas akhir berpengaruh signifikan secara negatif terhadap kondisi kesehatan
mental mahasiswa semester akhir Universitas Palangka Raya. Mayoritas mahasiswa
tingkat akhir berada pada kategori stres akademik tingkat sedang hingga berat.
Faktor-faktor dominan yang bertindak sebagai stresor utama meliputi beban
revisi yang intens, kendala komunikasi adaptif dengan dosen pembimbing,
akumulasi kendala administratif birokrasi, serta kecemasan psikososial terkait
ketidakpastian masa depan pasca-kelulusan. Dampak dari tekanan multidimensional
ini berwujud pada munculnya fenomena burnout akademis akut, gangguan
pola tidur, hingga manifestasi gejala depresi ringan di kalangan responden.
Sebagai implikasi praktis dan
solutif, Universitas Palangka Raya direkomendasikan untuk segera memperkuat
kapasitas dan aksesibilitas Pusat Layanan Konseling Kampus serta merancang
program intervensi psikologis preventif seperti pelatihan resiliensi mental.
Pihak fakultas dan dosen pembimbing diharapkan mampu membangun pola komunikasi
bimbingan yang lebih empatik, adaptif, dan terstruktur. Di sisi lain, mahasiswa
semester akhir disarankan untuk mengoptimalkan manajemen waktu, menerapkan coping
mechanism yang sehat, serta aktif memanfaatkan support system baik
dari lingkungan sosial maupun teman sebaya guna menjaga stabilitas kesehatan
mental selama menempuh transisi akademis ini.
REFERENSI
Aprilita, A., Damayanti, N. E., & Widyaningsih, D.
S. (2025). Manajemen Stres Akademik untuk Penguatan Resiliensi Mahasiswa FEB
Universitas Palangka Raya. I-Com: Indonesian Community Journal, 5(4),
2611-2623.
Sukmaputra, R. K., Nugroho, S., & Prakoso, R. S.
(2025). Pengaruh Beban Tugas Akademik Dan Kecemasan Terhadap Stres Belajar
Mahasiswa Manajemen Universitas Palangka Raya. Balance: Jurnal Akuntansi Dan
Manajemen, 4(3), 1534-1544.
Sukriani, W., & Mawaddah, S. (2026, March).
Hubungan Stress Akademik Terhadap Kesehatan Mental: The Relationship Between
Academic Stress and Mental Health in Students of the Ministry of Health
Polytechnic of Palangka Raya. In Jurnal Forum Kesehatan: Media Publikasi
Kesehatan Ilmiah (Vol. 16, No. 1, pp. 1-6).
No comments:
Post a Comment