Sunday, June 7, 2026

Pemanfaatan Ekstrak Daun Beluntas (Pluchea Indica Less) Dalam Air Minum Terhadap Kualitas Daging Ayam Broiler

Utilization of Beluntas Leaf Extract (Pluchea Indica Less) In Drinking Water on The Quality of Broiler Chicken Meat 

Mihrani1, Nurfitri Aqizah2, Herlina

1Universitas Negeri Makassar, Jurusan Teknologi Pertanian

1Jurusan Penyuluhan Peternakan dan Kesejahteraan Hewan, Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa

2 Program Studi Magister Pendidikan Biologi, Universitas Patompo

Email : mihrani@unm.ac.id, nurfitriaqizah96@gmail.com, Herlina161987@gmail.com

 

Abstrak

Kajian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan ekstrak daun beluntas (Pluchea Indica Less) terhadap kualitas daging ayam broiler. Kajian ini dilaksanakan di Instalasi Ternak Unggas Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa dan pengujian kualitas daging dilaksanakan di Laboratorium Kesehatan Hewan Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa. Kajian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan dimana setiap ulangan terdiri dari 4 ekor ayam broiler. Pemberian ekstrak daun beluntas diberikan 2 kali sehari dengan dosis yang berbeda yaitu, 0 ml (P0), 5 ml (P1), 10 ml (P2), 15 ml (P3). Parameter yang diamati meliputi tekstur daging ayam broiler, warna daging ayam broiler, bau/aroma daging ayam broiler, rasa daging ayam broiler. Data analisis menggunakan analisis ragam dan uji lanjut menggunakan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun beluntas memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap kualitas daging ayam broiler. Berdasarkan data setiap parameter dengan berbagai perlakuan, maka dapat direkomendasikan perlakuan terbaik adalah P3.dengan pemberian daun beluntas 15 ml/l

Kata kunci: daun beluntas, ayam broiler, kualitas daging

Abstract

This study aims to determine the effectiveness of beluntas leaf extract (Pluchea indica Lesser) on broiler meat quality. The study was conducted at the Poultry Installation of the Gowa Agricultural Development Polytechnic, and meat quality testing was conducted at the Animal Health Laboratory of the Gowa Agricultural Development Polytechnic. A Completely Randomized Design (CRD) was used in this study, with four treatments and four replications, each consisting of four broiler chickens. The beluntas leaf extract was administered twice daily at different doses: 0 ml (P0), 5 ml (P1), 10 ml (P2), and 15 ml (P3). Parameters observed included broiler meat texture, color, odor, and flavor. Data were analyzed using analysis of variance, followed by Duncan's test. The results showed that beluntas leaf extract significantly affected broiler meat quality (P<0.05). Based on the data for each parameter with various treatments, the best treatment is P3, with the administration of 15 ml/l of beluntas leaves.

Keywords: beluntas leaves, broiler chickens, meat quality

 

Article Info

Received date: 25 May  2026                                      Revised date: 30 May  2026                                            Accepted date: 03 June  2026


 

PENDAHULUAN

Peternakan ayam broiler mempunyai prospek yang cukup baik untuk dikembangkan, baik dalam usaha kecil maupun dalam skala besar. Hal ini terlihat dari jumlah peningkatan populasi ternak ayam broiler di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Peningkatan populasi ayam broiler di Sulawesi Selatan semakin meningkat dapat dilihat dari data BPS Sul Sel pada tahun 2022 yaitu sekitar 86.421.820 ekor, Keunggulan yang dimiliki ayam broiler, antara lain masa produksi yang relatif pendek yaitu kurang lebih 32-35 hari, harga relatif murah, permintaan yang semakin meningkat serta berbagai keunggulan lainnya dibandingkan unggas lain (Rasyid dan Sirajuddin, 2010).

Daging unggas merupakan sumber protein hewani yang baik, karena mengandung asam amino esensial yang lengkap dan perbandingan yang seimbang. Selain itu, daging unggas lebih diminati oleh konsumen karena mudah dicerna, dapat diterima oleh mayoritas orang (Yashoda dkk. 2001) dan memiliki harga yang relatif murah (Cohen dkk. 2007). Mengingat tingginya kewaspadaan masyarakat terhadap keamanan pangan, menuntut produsen bahan pangan termasuk pengusaha peternakan untuk meningkatkan kualitas produk akan daging, dengan karkas yang layak konsumsi dan kualitas mutu yang baik, beberapa hal yang menjadi patokan kualitas daging diantaranya aroma daging, tekstur daging , rasa khas daging, dan warna daging. Hal-hal tersebut menjadi indikator akan mutu daging yang dikonsumsi.

Daun beluntas (Pluchea indica Less) merupakan tanaman yang bersifat antibakteri, antioksidan serta mengandung flavonoid, minyak atsiri, dan alkaloid. Flavonoid pada ekstrak daun beluntas mengandung senyawa fenol yang bersifat asam mampu menghambat perkembangan bakteri Escherichia coli dalam saluran pencernaan.

 

METODE PELAKSANAAN

Kajian ini dilaksanakan di Instalasi Ternak Unggas Kampus Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa, pada bulan Maret sampai dengan Mei 2024, Pengujian Kualitas Daging dilaksanakan di Laboratorium Kesehatan Hewan Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa.Kajian ini dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL ) ( 4x4 ) dengan jumlah populasi 64 ekor ayam broiler ditempatkan pada 16 petak kandang, setiap petak kandang berisi 4 ekor ayam broiler dengan 4 perlakuan masing-masing terdiri dari 4 kali ulangan.

Adapun perlakuan yang diberikan dalam kajian ini sebagai berikut :

P0 = Air minum tanpa penambahan   ekstrak daun beluntas (kontrol)

P1 =  Air minum dengan penambahan 5 ml ekstrak daun beluntas / 1 liter air

P2 = Air minum dengan penambahan 10 ml ekstrak daun beluntas/1 liter air

P3 = Air minum dengan penambahan 15 ml ekstrak daun beluntas/1 liter air

Proses pembuatan ekstrak daun beluntas dengan menyediakan alat dan bahan yang telah disediakan pada pelaksanaan kajian yaitu:Pertama daun beluntas segar (tua/muda) ditimbang sebanyak 100 gram kemudian dicacah dengan ukuran 2-3 cm dengan menggunakan pisau, selanjutnya masukkan beluntas yang telah dicacah kedalam blender kemudian ditambahkan air mineral 150 ml,daun beluntas 100 gram yang telah diblender kemudian disaring kedalam wadah yang telah disiapkan dan pisahkan serat daun beluntas dan ekstrak daun beluntas yang telah di blender. Setelah serat daun dan ektsrak daun beluntas dipisahkan, kemudian larutan ekstrak daun beluntas dimasukkan kedalam gelas ukur. Selanjutnya ukurlah ekstrak daun beluntas dalam gelas ukur. Setelah ekstrak daun beluntas di ukur,  maka ekstrak daun beluntas dipisahkan ke dalam wadah yang berbeda sesuai dengan perlakuan yang akan diberikan pada yam broiler. Ekstrak daun beluntas siap diberikan pada ayam broiler sesuai dengan masing-masing perlakuan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tekstur

Tekstur daging ayam dapat dirasakan dengan cara menekankan jari kepermukaan. Daging ayam yang baik mempunyai tesktur yang padat, kompak dengan daging yang tebal. Tekstur daging ayam broiler dilihat keempukan setelah karkas dibersihkan. Soeparno (2009) menyatakan bahwa keempukan dan tekstur daging merupakan parameter yang penting dalam kualitas daging. Berdasarkan hasil penelitian pemanfaatan ekstrak daun beluntas dalam air minum terhadap kualitas daging ayam broiler menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan terhadap tekstur memberikan pengaruh nyata. Berdasarkan uji Duncan dapat terlihat bahwa perlakuan P3 memberikan hasil tertinggi = 87.00 dibandingkan perlakuan lainnya yaitu pada perlakuan P0 = 55.00, P1 = 51.00 dan P2 =69.50.Dari hasil uji Duncan menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun beluntas memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05).

Warna

Berdasarkan hasil penelitian dengan pemanfaatan ekstrak daun beluntas terhadap kualitas daging ayam broiler menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan terhadap warna memberikan pengaruh berbeda nyata, pada rataan warna daging ayam broiler dari hasil pemberian ekstrak daun beluntas dalam air minum  selama pemeliharaan. Asmara et.al (2006) menyebutkan warna daging ayam segar adalah putih kekuningan. Berdasarkan uji Duncan dapat terlihat bahwa perlakuan P3 memberikan hasil tertinggi = 94.50 dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya yaitu pada perlakuan PO = 64.50, P1 = 53.50 dan P2 = 94.50, menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun beluntas memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05).

Aroma/Bau

Berdasarkan hasil penelitian pemanfaatan ekstrak daun beluntas terhadap kualitas daging ayam broiler menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan terhadap Aroma/Bau memberikan pengaruh berbeda  nyata, pada rataan Aroma/Bau daging ayam broiler dari hasil pemberian ekstrak daun beluntas pada air minum ayam broiler.  Aroma yang berbeda pada daging ayam dikarenakan adanya protein dan lemak. Lemak akan menghasilkan komponen volatil pada saat dipanaskan dan akan keluar bersama uap. Hal ini sesuai dengan pendapat Soeparno (1992), bahwa bau dan rasa daging banyak ditentukan oleh precursor yang larut dalam lemak, dan pembebasan substansi atsiri (volatil) yang terdapat dalam daging. Berdasarkan uji Duncan dapat terlihat bahwa perlakuan P3 memberikan hasil tertinggi = 91.50 dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya yaitu pada perlakuan PO = 49,50, P1 = 55.50 dan P2 = 69.50. Hasil uji Duncan  menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun beluntas memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05).

Rasa

Berdasarkan hasil penelitian dengan pemanfaatan ekstrak daun beluntas terhadap kualitas daging ayam broiler menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan terhadap rasa memberikan pengaruh berbeda nyata, pada rataan rasa daging ayam broiler dari hasil pemberian ekstrak daun beluntas dalam air minum  selama pemeliharaan. Berdasarkan uji Duncan dapat terlihat bahwa perlakuan P3 memberikan hasil tertinggi = 94.00 dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya yaitu pada perlakuan PO = 40.50, P1 = 54.00 dan P2 = 68.00. Suherman (1998) menyebutkan bahwa faktor yang mempengaruhi rasa daging antara lain adalah perlemakan, bangsa, umur dan pakan. Hasil pengujian organoleptik menunjukan bahwa pemberian dosis 15 ml dapat meningkatkan rasa daging ayam broiler dibandingkan dengan pemberian dosis 5 ml dan 10 ml. Hasil uji Duncan pada  menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun beluntas memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05).

 

SIMPULAN

Pemanfaatan ekstrak daun beluntas pada air minum ayam broiler dapat meningkatkan kualitas daging ayam broiler. Hasil rata-rata pengujian kualitas daging yang paling berpengaruh nyata adalah P3 yaitu pemberian ekstrak daun beluntas sebanyak 15 ml/ 1liter air minum. Pengujian Kualitas daging (tekstur, warna, aroma dan rasa) menunjukkan hasil yang signifikan dimana (P<0,05) sehingga dapat diartikan bahwa ada pengaruh yang nyata dari pemberian ekstrak daun beluntas. Perlu kajian lebih lanjut terkait pemanfaatan ekstrak daun beluntas (Pluchea Indica Less) sebagai tanaman yang dapat meningkatkan kualitas daging ayam broiler dan pengolahannya untuk mendapatkan hasil yang efektif.

 

REFERENSI  

Ardiansyah. 2002. Daun Beluntas Sebagai Bahan Antibakteri  dan Antioksidan.http://www.kamusilmiah.com/pangan/daun-beluntas -sebagai-bahan-antibakteri-dan-antioksidan. diakses pada tanggal 02 Maret 2019

Asmara.AS.ABZ.Zuki,BM.Hair, & AI Awang Evaluation of fresh chicken carcass:comparison between slaughted and cervical dislocated methods. Journal of Animal and Veterinary Adcances 5 (11);1039-1042

Cohen N, Ennaji H, Bouchrif B, Hassar M, Karib H. 2007. Comparative Study of Microbiological Quality of Raw Poultry Meat at Various Seasons and for Different Slaughtering Processes in Casablanca (Morocco). The Journal of Applied Poultry Research 16(4):502-508. doi:10.3382/japr.2006-00061

Kasih,N.S.;a.Jaelani & N.Firahmi.2012 .Pengaruh Lama Penyimpanan Daging Ayam Segar Dalam Refrigator Terhadap pH, Susut Masak dan Organoleptik. Media Sains,Volume 4 nomor 2:154-159

Mardikanto. 2009. Sistem Penyuluhan Pertanian. Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) UNS dan UPT Penerbitan dan Pencetakan UNS (UNS Press). Surakarta.

 

Minhatun N, dan Tukiran. 2017. Uji Antioksidan dan Identifikasi Senyawa Aktif dari Ekstrak Kloroform Daun Tanaman Beluntas (Pluchea indica L.). UNESA Journalof Chemistry, 6(2).

Nugraheni,Muntiara. 2012.Pengetahuan Bahan Pangan Hewani. Graha Ilmu.Yogyakarta

Nurhalimah N, dkk. 2015. Efek Antidiare Ekstrak Daun Beluntas pada Mencit Jurnal Pangan dan Agroindustri, 3(3): 1083-1094.

Priyatno, M. A. 2003. Mendirikan Usaha Pemotongan Ayam. Penebar Swadaya. Jakarta

Soeparno,1992.Ilmu dan Teknologi Daging.Edisi 1.Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

-------------, 2009 .Ilmu dan Teknologi Daging.Cetakan II. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Rasyid dan Sirajuddin.2010.Peranan Pola Kemitraan Inti Plasma Pada Peternak Usaha Ayam Broiler (Buletin Ilmu Peternakan). Dinas Peternakan Makassar

 

Suherman,D.1998. Cara Pemasakan terhadap Rasa Daging Ayam Broiler.         Majalah Poltry Indonesia 104:26-27

Yashoda K, Sachindra N, Sakhare P, RAO DN. 2001. Microbiological quality of broiler chicken carcasses processed hygienically in a small scale poultry processing unit. Journal of food quality 24(3):249-259.

 

Saturday, June 6, 2026

Analisis Kualitas Air dan Tingkat Pencemaran Limbah Cair Industri Tahu di Aliran Sungai Desa Ngumpul Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang



Indah Nur Fadhilah, Bambang Hariyanto

Analisis Kualitas Air dan Tingkat Pencemaran Limbah Cair Industri Tahu di Aliran Sungai Desa Ngumpul Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang | Fadhilah | Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin

Prodi S1 Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Negeri Surabaya, email: indah.19017@mhs.unesa.ac.id, bambanghariyanto@unesa.ac.id 


Abstrak 

Industri tahu merupakan salah satu sektor usaha yang berkembang pesat di Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, khususnya di Desa Ngumpul, Desa Sumbermulyo, dan Desa Mayangan. Namun, aktivitas produksi tahu menghasilkan limbah cair dengan kandungan bahan organik yang tinggi sehingga berpotensi mencemari badan air apabila dibuang tanpa pengolahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air dan menganalisis tingkat pencemaran limbah cair industri tahu di aliran Sungai Desa Ngumpul, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang.  Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan teknik purposive sampling pada tiga titik pengamatan, yaitu B1 (500 m sebelum lokasi pembuangan limbah), B2 (tepat pada titik pembuangan limbah), dan B3 (900 m setelah titik pembuangan limbah). Parameter yang dianalisis meliputi TSS, pH, BOD, dan COD. Penentuan tingkat pencemaran dilakukan menggunakan metode Indeks Pencemaran (IP) berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 dan KepMenLH Nomor 115 Tahun 2003. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas air pada titik B1 masih memenuhi baku mutu dengan nilai IP 0,99 (kategori baik). Pada titik B2 terjadi peningkatan pencemaran yang signifikan dengan nilai IP 28,52 (kategori tercemar berat), sedangkan titik B3 menunjukkan pemulihan alami sungai namun masih tergolong tercemar berat dengan nilai IP 10,59. Temuan ini menunjukkan bahwa limbah cair industri tahu berpengaruh signifikan terhadap penurunan kualitas air sungai, terutama pada parameter BOD, COD, TSS, dan pH. Dampaknya dapat mengganggu ekosistem perairan, aktivitas pertanian, dan kesehatan masyarakat, sehingga diperlukan pengelolaan limbah yang lebih efektif melalui pembangunan IPAL dan pengawasan kualitas air secara berkala, dan peningkatan kesadaran lingkungan pelaku industri tahu.

Kata Kunci: Kualitas Air, Limbah Cair Industri Tahu, Pencemaran Air, Indeks Pencemaran Sungai Desa Ngumpul

Abstract

The tofu industry is one of the business sectors that has developed rapidly in Jogoroto District, Jombang Regency, particularly in Ngumpul Village, Sumbermulyo Village, and Mayangan Village. However, tofu production activities generate wastewater containing high levels of organic matter, which has the potential to pollute water bodies if discharged without proper treatment. This study aimed to determine water quality and analyze the level of pollution caused by tofu industry wastewater in the Ngumpul Village River, Jogoroto District, Jombang Regency. This study employed a quantitative descriptive method using a purposive sampling technique at three observation points: B1 (500 m upstream from the wastewater discharge point), B2 (at the wastewater discharge point), and B3 (900 m downstream from the discharge point). The parameters analyzed included Total Suspended Solids (TSS), pH, Biochemical Oxygen Demand (BOD), and Chemical Oxygen Demand (COD). The pollution level was determined using the Pollution Index (PI) method based on Government Regulation Number 22 of 2021 and the Decree of the Minister of Environment Number 115 of 2003. The results showed that water quality at point B1 still met the established quality standards, with a PI value of 0.99 (good category). At point B2, a significant increase in pollution was observed, with a PI value of 28.52 (heavily polluted category), while point B3 indicated a natural recovery process of the river but remained in the heavily polluted category, with a PI value of 10.59. These findings indicate that wastewater from the tofu industry has a significant impact on the decline of river water quality, particularly in the BOD, COD, TSS, and pH parameters. The impacts may disrupt aquatic ecosystems, agricultural activities, and public health. Therefore, more effective wastewater management is required through the construction of Wastewater Treatment Plants (WWTPs), regular water quality monitoring, and increased environmental awareness among tofu industry operators.

Keywords: Tofu Industry Wastewater, Water Quality, Pollution Index, River Pollution, Jombang Regency


Article Info

Received date: 15 May  2026        Revised date: 20 May  2026                                         Accepted date: 02 June 2026 

PENDAHULUAN 

Air merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Air permukaan, khususnya sungai, dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan seperti irigasi, perikanan, peternakan, industri, serta aktivitas domestik masyarakat. Namun, ketersediaan air bersih yang layak masih menjadi permasalahan karena banyak sumber air mengalami penurunan kualitas akibat pencemaran (Pratiwi, 2021).

Pencemaran air terjadi pada berbagai sumber perairan seperti sungai, danau, laut, dan air tanah. Berdasarkan PP Nomor 82 Tahun 2001, pencemaran air merupakan menurunnya kualitas air akibat masuknya zat, energi, atau komponen lain. Kondisi ini berdampak pada berkurangnya ketersediaan air bersih dan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap sumber air alternatif yang lebih aman (Yuliasti, 2011). Sektor industri berperan penting dalam meningkatkan perekonomian dan menyediakan lapangan kerja, kegiatan industri juga berpotensi menimbulkan dampak lingkungan berupa pencemaran air, penurunan kualitas sumber daya alam, dan gangguan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, pengelolaan limbah menjadi aspek penting dalam mendukung pembangunan industri yang berkelanjutan (Sandi, 2019).

Industri tahu merupakan salah satu industri pangan yang berkembang pesat di Indonesia karena tingginya permintaan masyarakat terhadap produk berbahan kedelai. Dalam proses produksinya, industri tahu menghasilkan limbah padat dan limbah cair. Dibandingkan limbah padat yang masih dapat dimanfaatkan kembali, limbah cair memiliki potensi pencemaran yang lebih besar karena mengandung bahan organik dalam konsentrasi tinggi. Jika dibuang langsung ke badan air tanpa pengolahan, limbah cair dapat meningkatkan beban pencemar organik dan menurunkan kualitas perairan (Kaswinarni & Fibria, 2007). Limbah cair dari industri tahu dikategorikan sebagai air limbah domestik. Limbah cair tahu yang berpotensi mencemari badan air dan lingkungan jika tidak diolah terlebih dahulu. Para pelaku usaha kurang menyadari dan memiliki sedikit pengetahuan mengenai pengelolaan limbah cair tahu, yang dapat berdampak negatif pada lingkungan (Nasir & Saputro, 2015).

Pembuangan air yang berasal dari irigasi mengalir melewati sungai membawa sisa atau larutan bahan organik mengakibatkan nutrien dalam sungai bertambah. Jika dibandingkan dengan pencemaran air permukaan, pencemaran air tanah relatif lebih sulit. Setiap jenis tanah memiliki kemampuan dalam menahan gerak pemasukan bahan pencemar. Kegiatan industri, pertanian, serta pertambangan secara umum mengakibatkan permasalahan lingkungan misalnya pencemaran air, menurunnya kualitas sumber daya alam, gangguan kesehatan, penurunan potensi sumber daya alam hayati, bencana alam, serta sedimentasi di bagian hilir. Sumber daya alam perairan mengalami penurunan kualitas dan kuantitas air salah satunya adalah sungai (Kamalia & Sudarti, 2022).

Sungai merupakan sumber air yang penting bagi masyarakat sehingga kualitasnya perlu dijaga. Sungai yang tercemar umumnya ditandai dengan perubahan warna, bau tidak sedap, serta meningkatnya kandungan bahan pencemar. Semakin tinggi tingkat pencemaran yang terjadi, semakin rendah kualitas air sungai dan semakin terbatas pula pemanfaatannya sebagai sumber air yang aman bagi masyarakat (Astuti, 2018).

Kualitas air sungai dipengaruhi oleh kondisi alam, tata guna lahan, serta aktivitas manusia di sekitarnya. Berdasarkan PP Nomor 22 Tahun 2021, penilaian kualitas air dapat dilakukan melalui parameter fisika dan kimia seperti pH, Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), dan Total Suspended Solid (TSS). Oleh karena itu, analisis terhadap parameter-parameter tersebut diperlukan untuk mengetahui tingkat pencemaran air Sungai Desa Ngumpul akibat aktivitas industri tahu serta sebagai dasar dalam upaya pengelolaan dan pengendalian pencemaran lingkungan (Pohan et al., 2017).




METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif untuk menganalisis kualitas air dan tingkat pencemaran limbah cair industri tahu di aliran Sungai Desa Ngumpul, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang. Lokasi penelitian dipilih secara purposive karena merupakan kawasan sentra industri tahu yang berpotensi memberikan dampak terhadap kualitas air sungai.

Populasi penelitian adalah air sungai yang terpengaruh limbah cair industri tahu di aliran Sungai Desa Ngumpul. Sampel diambil menggunakan teknik purposive sampling pada tiga titik pengamatan, yaitu B1 (500 m sebelum titik pembuangan limbah), B2 (tepat pada titik pembuangan limbah), dan B3 (900 m setelah titik pembuangan limbah). Parameter yang dianalisis meliputi Total Suspended Solids (TSS), derajat keasaman (pH), Biochemical Oxygen Demand (BOD), dan Chemical Oxygen Demand (COD). Data diperoleh melalui observasi lapangan, pengambilan sampel air, dan pengujian laboratorium.

Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif dan komparatif dengan membandingkan hasil uji laboratorium terhadap baku mutu air Kelas III berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021. Status mutu air ditentukan menggunakan metode Indeks Pencemaran (IP) berdasarkan KepMenLH Nomor 115 Tahun 2003 untuk mengklasifikasikan kondisi perairan ke dalam kategori memenuhi baku mutu, tercemar ringan, tercemar sedang, atau tercemar berat.


HASIL 

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Desa Ngumpul merupakan salah satu desa di Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, yang terletak pada koordinat sekitar 7°33’03,6” LS dan 112°16’26,8” BT. Desa ini memiliki luas wilayah sekitar 2,98 km² yang didominasi oleh lahan pertanian, serta didukung oleh kawasan permukiman dan industri rumahan yang berkembang di wilayah tersebut.

Penelitian dilakukan pada aliran Sungai Desa Ngumpul yang menjadi tempat pembuangan limbah cair beberapa industri tahu. Pengambilan sampel air dilakukan pada tiga titik, yaitu:

Titik B1 : Lokasi sampel berada 500 meter sebelum aliran sungai terkena limbah industri tahu

Titik B2 : Lokasi ini berada 0 meter tepat pada lokasi pembuangan limbah cair dari industri tahu

Titik B3 : Lokasi ini berada 900 meter setelah titik limbah yang mengalir pada aliran sungai bercampur dengan limbah cair.

 

Gambar 1. Lokasi Penelitian

Hasil Pengukuran Parameter Kualitas Air

Total Suspended Solid (TSS)

Hasil pengukuran parameter kualitas air merujuk pada baku mutu air sungai yang tertera pada PP No.22 Tahun 2021. Berikut adalah hasil pengujian (TSS) dilakukan di laboratorium dengan menggunakan pengujian SNI 06-6989.3-2004. Pengujian dilakukan di Laboratorium Riset dan Standarisasi Industri Surabaya. Hasil uji laboratoratorium menunjukkan sebagai berikut:


Tabel 1. Hasil Pengukuran TSS

No Titik Sampel Satuan Zat Padatan Tersuspensi (TSS) Baku Mutu 

(PP No 22/2021) Kelas III

1. B1 mg/L 11 100

2. B2 mg/L 37 100

3. B3 mg/L 19 100

Sumber: Data Olahan Peneliti 2025

Berdasarkan hasil pengujian laboratorium mengacu pada PP No. 22 Tahun 2021 Kelas III, nilai Total Suspended Solid (TSS) di Sungai Ngumpul menunjukkan variasi pada setiap titik pengamatan, yaitu 11 mg/L pada B1, 37 mg/L pada B2, dan 19 mg/L pada B3. Nilai TSS terendah pada B1 mengindikasikan kondisi perairan yang relatif baik dengan tingkat kekeruhan rendah dan pengaruh limbah yang masih minimal. Sebaliknya, tingginya nilai TSS pada B2 menunjukkan adanya peningkatan beban pencemar akibat masuknya limbah cair industri tahu yang membawa partikel organik dan sedimen tersuspensi ke badan sungai. Sementara itu, nilai TSS pada B3 mengalami penurunan dibandingkan B2, yang menunjukkan terjadinya proses pengenceran dan pengendapan partikel sepanjang aliran sungai. Meskipun seluruh nilai TSS masih berada di bawah baku mutu 100 mg/L, pola peningkatan pada B2 mengindikasikan adanya pengaruh aktivitas industri tahu terhadap kualitas perairan yang berpotensi meningkatkan kekeruhan serta mengganggu keseimbangan ekosistem akuatik.

Chemical Oxygen Demand (COD)

Pengujian parameter COD dilakukan di laboratorium dengan menggunakan pengujian SNI 6989.2-2009. Pengujian dilakukan di Laboratorium Riset dan Standarisasi Industri Surabaya. Hasil uji laboratoratorium menunjukkan sebagai berikut:

Tabel 2. Hasil Pengukuran Chemical Oxygen Demand (COD)

No Titik Sampel Satuan Chemical Oxygen Demand (COD) Baku Mutu

(PP No 22/2021) Kelas III

1. B1 Mg/L <9,8652 40

2. B2 Mg/L 459,44 40

3. B3 Mg/L 138,01 40

Sumber: Data Olahan Peneliti 2025

Berdasarkan hasil pengujian, nilai Chemical Oxygen Demand (COD) menunjukkan perbedaan tingkat pencemaran organik yang cukup mencolok di sepanjang Sungai Ngumpul. Pada titik B1, nilai COD kurang dari 9,8652 mg/L yang mengindikasikan kondisi perairan masih baik dan belum mengalami pencemaran organik yang signifikan. Sebaliknya, titik B2 memiliki nilai COD tertinggi yaitu 459,44 mg/L, jauh melampaui baku mutu PP No. 22 Tahun 2021 sebesar 40 mg/L, yang menunjukkan tingginya kandungan bahan organik dari limbah cair industri tahu. Sementara itu, nilai COD pada B3 sebesar 138,01 mg/L menunjukkan adanya penurunan dibandingkan B2 akibat proses pengenceran dan degradasi alami, namun masih berada di atas baku mutu yang ditetapkan. 

Power of Hydrogen (pH)

Pengujian Parameter pH dilakukan du Laboratorium dengan menggunakan pengujian SNI 06-6989.11-2004. Pengujian dilakukan di Laboratorium Riset dan Standarisasi Industri Surabaya. Hasil uji laboratoratorium menunjukkan sebagai berikut:

Tabel 3. Hasil Pengukuran pH

No Titik Sampel Satuan pH Baku Mutu

(PP No 22/2021)

Kelas III

1. B1 - 7,13 6-9

2. B2 - 5,18 6-9

3. B3 - 6,77 6-9

Sumber: Data Olahan Peneliti 2025

Berdasarkan hasil pengukuran, nilai pH di Sungai Ngumpul menunjukkan adanya pengaruh limbah cair industri tahu terhadap kondisi kimia perairan. Nilai pH pada titik B1 sebesar 7,13 masih berada dalam rentang baku mutu PP No. 22 Tahun 2021 untuk air Kelas III (6–9), sehingga menunjukkan kondisi perairan yang relatif baik dan belum terdampak pencemaran secara signifikan. Sebaliknya, titik B2 memiliki nilai pH sebesar 5,18 yang berada di bawah baku mutu, menandakan meningkatnya tingkat keasaman akibat masuknya limbah organik yang menghasilkan senyawa asam selama proses dekomposisi. Sementara itu, nilai pH pada B3 sebesar 6,77 menunjukkan adanya perbaikan kualitas air melalui proses pengenceran dan self purification, meskipun masih lebih rendah dibandingkan B1. 

Biologycal Oxygen Demand (BOD)

Biologycal Oxygen Demand (BOD) adalah indikator yang digunakan untuk menilai banyaknya bahan organik yang dapat terurai melalui proses oksidasi oleh mikroorganisme aerob. Pengujian kandungan BOD dilakukan di laboratorium dengan pengujian SNI 6989.72:2009. Pengujian dilakukan di Laboratorium Riset dan Standarisasi Industri Surabaya. Hasil uji laboratoratorium menunjukkan sebagai berikut: 

Tabel 4. Hasil Pengukuran BOD

No Titik Sampel Satuan Biological Oxygen Demand (BOD) Baku Mutu 

(PP No 22/2021) 

Kelas III

1. B1 mg/L 3,61 6

2. B2 mg/L 112,92 6

3. B3 mg/L 60,2 6

Sumber: Data Olahan Peneliti 2025

Berdasarkan hasil pengukuran, nilai Biological Oxygen Demand (BOD) di Sungai Ngumpul menunjukkan adanya peningkatan pencemaran organik yang dipengaruhi oleh limbah cair industri tahu. Nilai BOD pada titik B1 sebesar 3,61 mg/L masih mendekati baku mutu air Kelas III PP No. 22 Tahun 2021, yang mengindikasikan beban organik relatif rendah. Sebaliknya, titik B2 memiliki nilai BOD tertinggi yaitu 112,92 mg/L, jauh melampaui baku mutu dan menunjukkan tingginya kandungan bahan organik dari limbah industri tahu yang memerlukan oksigen dalam jumlah besar untuk proses penguraian. Sementara itu, nilai BOD pada B3 sebesar 60,2 mg/L menunjukkan penurunan dibandingkan B2 akibat proses pengenceran dan dekomposisi alami, namun masih berada jauh di atas baku mutu. 

Perhitungan Indeks Pencemaran (IP)

Penentuan tingkat pencemaran air dilakukan menggunakan metode Indeks Pencemaran (IP) berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003 dengan membandingkan hasil pengukuran parameter TSS, COD, BOD, dan pH terhadap baku mutu air Kelas III sesuai PP No. 22 Tahun 2021. Metode ini digunakan untuk menilai kondisi kualitas air secara menyeluruh dan menentukan tingkat pencemaran yang terjadi pada badan sungai. Nilai Indeks Pencemaran dihitung menggunakan rumus:

IP_j=√((〖((C_i)⁄(L_ij))〗_( M)^2+〖(C_i⁄L_ij )〗_( R)^2  )/2)

Keterangan:

IP_j     : Indeks Pencemaran air

C_i      : Konsentrasi parameter kualitas air 

L_ij      : Baku mutu air

C_i⁄L_ij   M  ∶ Nilai terbesar dari semua parameter

C_i⁄L_ij   R   ∶ Nilai rata-rata dari semua parameter

Baku mutu air sungai Kelas III peruntukkan air sungai sesuai dengan PP No.21 Tahun 2021 sebagai acuan sebagai berikut :

Tabel 5. Parameter Baku Mutu Air Sungai Kelas III

Parameter Baku Mutu

TSS >100 mg/L

COD >40 mg/L

BOD >6 mg/L

pH 6-9

Sumber: Peraturan Pemerintah No 21 Tahun 2021 

Perhitungan setiap titik sampel sebagai berikut :

Titik B1

Rasio:

TSS/BM=11/5O=0,22

COD/BM=9,8652/25=0,39

BOD/BM=3,61/3=1,20

pH     = 7,13 ⇒ 1

Nilai :

〖(C〗_i⁄L_ij  )_M=1,20

〖(C_i⁄L_ij )〗_( R)^  = (0,22+0,39+1,20+1)/4= 0,70

Substitusi ke rumus:

IP_j=√((〖(1,20)〗_ ^2+〖(0,70)〗_ ^2  )/2)

IP_j=√((1,44+0,49 )/2)

IP_j=√((1,93 )/2)

〖IP〗_j=√0,965

    〖IP〗_j= 0,99

Titik B2

Rasio :

TSS/BM=37/5O=0,74

COD/BM=459,44/25=18,38

BOD/BM=112,92/3=37,64

pH     = 5,18 ⇒   6/5,18 = 1,16

Nilai:

〖(C〗_i⁄L_ij  )_M=37,64

〖(C_i⁄L_ij )〗_( R)^  = (0,74+18,38+37,64+1,16)/4= 14,48

Substitusi :

IP_j=√((〖(37,64)〗_ ^2+〖(14,48)〗_ ^2  )/2)

IP_j=√((1,416,77+209,67 )/2)

IP_j=√((1626,44 )/2)

〖IP〗_j=√813,22

〖IP〗_j= 28,52

Titik B3

Rasio :

TSS/BM=19/5O=0,38

COD/BM=138,01/25=5,52

BOD/BM=60,2/3=20,07

pH     = 6,77 ⇒ 1

Nilai:

〖(C〗_i⁄L_ij  )_M=20,07

〖(C_i⁄L_ij )〗_( R)^  = (0,38+5,52+20,07+1)/4= 6,74

Substitusi:

IP_j=√((〖(20,07)〗_ ^2+〖(6,74)〗_ ^2  )/2)

IP_j=√((402,80+45,43 )/2)

IP_j=√((224,11 )/2)

〖IP〗_j=√112,055

〖IP〗_j= 10,59

Status mutu air ditetapkan berdasarkan baku mutu air Kelas III sesuai PP No. 22 Tahun 2021, karena Sungai Desa Ngumpul dimanfaatkan untuk irigasi, perikanan, peternakan, dan kebutuhan domestik. Nilai IP yang masih memenuhi baku mutu menunjukkan kondisi perairan relatif baik, sedangkan nilai IP di atas 1,0 mengindikasikan adanya penurunan kualitas air akibat masuknya bahan pencemar. Melalui analisis terpadu terhadap parameter TSS, COD, BOD, dan pH, metode ini mampu mengidentifikasi lokasi dengan tingkat pencemaran tertinggi, mengevaluasi pengaruh limbah industri tahu terhadap kualitas sungai, serta menjadi dasar dalam upaya pengendalian pencemaran dan pengelolaan lingkungan perairan.

Tabel 6. Tingkat Pencemaran Air

Titik Sampel Hasil Perhitungan IP Tingkat Pencemaran

Titik B1 0,99 Baik (Memenuhi Baku Mutu)

Titik B2 28,52 Tercemar Berat

Titik B3 10,59 Tercemar Berat

 

Gambar 2. Grafik Tingkat Pencemaran Air

Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 6 dan Gambar 2, tingkat pencemaran air di Sungai Desa Ngumpul menunjukkan variasi yang cukup signifikan antar titik pengamatan. Perbedaan ini dipengaruhi oleh jarak lokasi dari sumber pembuangan limbah cair industri tahu serta tingginya kandungan bahan pencemar organik yang masuk ke sungai. Pada titik B1, nilai Indeks Pencemaran (IP) sebesar 0,99 menunjukkan kondisi air masih baik dan memenuhi baku mutu, dengan parameter seperti TSS, COD, BOD, dan pH yang masih mendekati standar sehingga masih mendukung fungsi ekologis perairan. Sementara itu, pada titik B2 terjadi lonjakan pencemaran dengan nilai IP 28,52 yang termasuk kategori tercemar berat, disertai tingginya COD, BOD, serta pH yang berada di bawah baku mutu, sehingga menunjukkan lokasi ini sebagai sumber dampak utama limbah industri tahu. Kondisi pencemaran masih berlanjut hingga titik B3 dengan IP 10,59 yang juga tergolong tercemar berat, meskipun terjadi sedikit penurunan akibat proses pengenceran dan self purification. Secara keseluruhan, pola ini menunjukkan bahwa limbah cair industri tahu memberikan dampak besar terhadap penurunan kualitas air sungai, sehingga diperlukan pengolahan limbah sebelum dibuang, pemantauan berkala, serta peningkatan kesadaran pelaku industri dalam menjaga kualitas lingkungan perairan.


PEMBAHASAN

Analisis Spasial Tingkat Pencemaran Limbah Cair Industri Tahu di Aliran Sungai Desa Ngumpul, Keacmatan Jogoroto, Kabupaten Jombang

Berdasarkan analisis spasial peta lokasi penelitian, terlihat adanya perbedaan kualitas air yang cukup signifikan antara titik B1, B2, dan B3. Pola sebaran Indeks Pencemaran menunjukkan penurunan kualitas air dari arah hulu menuju hilir sungai yang melintasi kawasan industri dan permukiman. Titik B1 memiliki nilai IP sebesar 0,99 dan termasuk kategori baik (memenuhi baku mutu). Secara spasial, B1 berada di bagian utara sungai yang masih relatif sedikit menerima akumulasi limbah, sehingga kualitas airnya masih tergolong baik dan belum banyak terpengaruh aktivitas industri maupun permukiman.

Sementara itu, titik B2 menunjukkan nilai IP 28,52 yang termasuk kategori tercemar berat dan berada pada bagian tengah sungai yang dekat dengan konsentrasi industri serta titik pembuangan limbah, sehingga menerima akumulasi beban pencemar yang tinggi. Kondisi serupa juga terjadi pada titik B3 dengan nilai IP 10,59 yang tetap tergolong tercemar berat, meskipun lebih rendah dibandingkan B2. Secara spasial, B3 berada di hilir sungai yang menerima limpasan pencemar dari bagian hulu dan tengah, serta tambahan beban dari aktivitas permukiman di sekitarnya. 

Analisis Korelasi Parameter COD, BOD, pH, dan TSS terhadap Tingkat Pencemaran Air Sungai

Limbah cair industri tahu memiliki karakteristik utama berupa tingginya kandungan senyawa organik terlarut dan tersuspensi serta pH yang cenderung asam. Parameter TSS, pH, BOD, dan COD saling berkaitan dan berkontribusi terhadap penurunan kualitas ekosistem sungai. Tingginya TSS yang berasal dari sisa protein dan karbohidrat kedelai meningkatkan kekeruhan air, menghambat penetrasi cahaya matahari, sehingga proses fotosintesis tumbuhan air terganggu dan sebagian material mengendap menjadi lumpur organik di dasar sungai.

Selain itu, sifat limbah yang asam akibat fermentasi menghasilkan penurunan pH air sungai yang melemahkan kapasitas penyangga (buffer) dan mengganggu kehidupan mikroorganisme pengurai. Kondisi ini memperlambat proses self-purification sehingga terjadi akumulasi polutan organik. Meskipun sebagian besar limbah bersifat biodegradable, tingginya beban BOD dan COD menyebabkan konsumsi oksigen meningkat tajam hingga melampaui kemampuan reaerasi sungai, sehingga terjadi penurunan DO yang drastis bahkan menuju kondisi anoksik. Pada kondisi ini, proses dekomposisi beralih menjadi anaerobik yang menghasilkan gas beracun seperti H₂S, NH₃, dan CH₄, yang pada akhirnya menyebabkan perubahan warna air menjadi gelap, bau menyengat, serta kematian biota perairan akibat kekurangan oksigen dan toksisitas.

Analisis Kualitas Air di Aliran Sungai Desa Ngumpul, Jogoroto, Jombang

Kualitas air Sungai di Desa Ngumpul, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang dianalisis berdasarkan parameter fisika dan kimia yang meliputi Total Suspended Solids (TSS), Chemical Oxygen Demand (COD), Biological Oxygen Demand (BOD), serta derajat keasaman (pH). Pengambilan sampel dilakukan pada tiga titik, yaitu B1, B2, dan B3 yang merepresentasikan kondisi sebelum, tepat di sumber pembuangan, dan sesudah pembuangan limbah cair industri tahu. Hasil uji laboratorium menunjukkan adanya variasi nilai pada setiap titik yang mencerminkan perbedaan tingkat pencemaran air. Berdasarkan hasil penelitian, pembuangan limbah industri tahu di sungai Desa Ngumpul umumnya dilakukan tanpa pengolahan terlebih dahulu untuk menghindari biaya tambahan, padahal kondisi ini dapat menimbulkan dampak negatif terhadap biota perairan serta sifat fisika dan kimia air (Badu et al, 2023).

Berdasarkan parameter fisik, nilai TSS menunjukkan peningkatan dari 11 mg/L pada B1 menjadi 37 mg/L pada B2 dan 19 mg/L pada B3. Peningkatan ini menunjukkan adanya akumulasi padatan tersuspensi dari limbah cair industri tahu yang mengurangi penetrasi cahaya matahari dan menghambat proses fotosintesis organisme akuatik (Ruhmawati et al, 2017). Sifat fisik lainnya seperti suhu, warna, bau, dan kekeruhan juga mengalami perubahan akibat adanya bahan organik terlarut dan tersuspensi. Perubahan warna dan bau air mengindikasikan adanya proses penguraian bahan organik secara mikrobiologis yang berdampak pada penurunan kualitas air sungai di wilayah penelitian (Yohannes, 2019).

Selain parameter fisik, kualitas air juga dipengaruhi oleh nilai COD, BOD, dan pH. Nilai COD meningkat tajam dari <9,8652 mg/L pada B1 menjadi 459,44 mg/L pada B2 dan 138,01 mg/L pada B3, sedangkan BOD meningkat dari 3,61 mg/L pada B1 menjadi 112,92 mg/L pada B2 dan 60,2 mg/L pada B3. Tingginya COD dan BOD menunjukkan tingginya kandungan bahan organik yang membutuhkan oksigen dalam jumlah besar untuk proses oksidasi dan penguraian, sehingga menyebabkan penurunan oksigen terlarut di perairan (Idrus & Dewa, 2017; Ayu et al, 2024). Sementara itu, pH menunjukkan kondisi dari 7,13 (B1), menurun menjadi 5,18 (B2), dan kembali naik menjadi 6,77 (B3), yang mengindikasikan adanya gangguan keseimbangan kimia perairan akibat proses dekomposisi limbah organik. 

Tingkat Pencemaran Limbah Cair Industri Tahu di Aliran Sungai desa Ngumpul

Limbah cair industri tahu merupakan salah satu sumber pencemar perairan yang berasal dari rangkaian proses produksi seperti pencucian kedelai, perebusan, penggumpalan, penyaringan, hingga pencetakan tahu. Proses tersebut menghasilkan limbah cair dengan kandungan bahan organik tinggi seperti protein, karbohidrat, lemak, serta sisa padatan kedelai yang mudah terurai. Limbah ini umumnya berwarna keruh kekuningan, berbau menyengat, dan memiliki potensi besar menurunkan kualitas air jika langsung dibuang ke sungai tanpa pengolahan terlebih dahulu. Kondisi ini sejalan dengan penelitian (Ayu et al, 2024) yang menyatakan bahwa limbah cair industri tahu memiliki kandungan pencemar organik tinggi yang menjadi salah satu penyebab utama pencemaran air sungai.

Karakteristik limbah cair tahu dapat diketahui melalui parameter kualitas air seperti Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), Total Suspended Solid (TSS), serta derajat keasaman (pH). Tingginya nilai BOD menunjukkan besarnya kebutuhan oksigen mikroorganisme untuk menguraikan bahan organik, sedangkan COD menggambarkan total oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi seluruh zat pencemar dalam air. Nilai BOD dan COD yang tinggi menunjukkan beban pencemar yang besar dan penurunan kualitas perairan, sebagaimana dijelaskan dalam penelitian (Suharini et al, 2020). Selain itu, tingginya TSS meningkatkan kekeruhan air akibat partikel tersuspensi seperti sisa kedelai dan lumpur organik yang menghambat penetrasi cahaya matahari, sedangkan pH yang cenderung asam akibat proses fermentasi dapat mengganggu kestabilan kimia perairan (Ayu et al, 2024).

Berdasarkan hasil perhitungan Indeks Pencemaran (IP), kualitas air di Sungai Desa Ngumpul menunjukkan perbedaan yang jelas antar titik pengamatan. Titik B1 memiliki IP 0,99 yang termasuk kategori baik karena berada sekitar 500 meter sebelum area industri sehingga masih dipengaruhi proses self purification. Proses ini merupakan kemampuan alami sungai dalam menurunkan beban pencemar melalui pengenceran, sedimentasi, aerasi, dan aktivitas mikroorganisme, sebagaimana dijelaskan oleh (Mardhia & Abdullah, 2018). Sementara itu, titik B2 dan B3 masing-masing memiliki IP 28,52 dan 10,59 yang termasuk kategori tercemar berat, menunjukkan bahwa masuknya limbah cair industri tahu menyebabkan penurunan kualitas air secara signifikan di sepanjang aliran sungai hingga ke hilir.




Analisis Dampak Pembuangan Limbah Cair Industri Tahu terhadap Ekosistem Perairan Desa Ngumpul

Degradasi Kualitas Air dan Fluktuasi Indeks Pencemaran (IP)

Aktivitas pembuangan limbah cair dari industri tahu tanpa melalui proses pengolahan yang optimal secara signifikan telah mendegradasi struktur dan mutu ekosistem perairan di Desa Ngumpul, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang. Berdasarkan hasil pengukuran laboratorium, dinamika penurunan kualitas air di aliran sungai desa Ngumpul terlihat sangat signifikan di antara titik-titik pengambilan sampel. Pada titik kontrol B1, kondisi perairan cenderung stabil, alami, dan memenuhi baku mutu dengan nilai Indeks Pencemaran (IP) sebesar 0,99 yang termasuk dalam kategori baik. Namun, tingkat kualitas tersebut merosot tajam begitu memasuki titik pembuangan limbah yaitu titik B2 dengan nilai IP melonjak drastis hingga 28,52, serta tetap menunjukkan kondisi tercemar berat di titik B3 dengan nilai IP sebesar 10,59. Lonjakan nilai IP pada titik B2 dan B3 mengonfirmasi adanya tekanan antropogenik yang kuat dari limbah cair tahu. Tingginya konsentrasi senyawa makromolekul organik seperti protein, karbohidrat, dan lemak sisa pemrosesan kedelai memaksa mikroorganisme serta biota air beraktivitas di luar kapasitas daya dukung alami lingkungannya.

Dinamika Parameter Kimia Air: Implikasi BOD, COD, dan Fenomena Anoksik

Bukti empiris degradasi ekologis ini ditunjukkan oleh tingginya nilai Biological Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) di titik pembuangan (B2), yang masing-masing mencapai 112,92 mg/L dan 459,44 mg/L. Meskipun terjadi penurunan di titik B3 dengan nilai BOD 60,2 mg/L dan COD 138,01 mg/L, akumulasi zat organik ini secara keseluruhan telah melampaui baku mutu air Kelas III yang ditetapkan dalam PP No. 22 Tahun 2021. Kandungan organik yang pekat ini menstimulasi ledakan populasi bakteri aerob untuk melakukan dekomposisi massal. Proses pembusukan ini mengonsumsi oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO) di dalam air secara masif, hingga memicu kondisi anoksik (kelangkaan oksigen) yang ekstrem. Akibatnya, biota air seperti ikan lokal yang bersifat intolerant mengalami gagal napas (asfiksia) dan mati. Lebih lanjut, struktur komunitas makroinvertebrata mengalami pergeseran ekstrem, di mana zona tersebut mulai didominasi oleh organisme tolerant yang adaptif terhadap polusi, seperti larva Chironomus dan Tubifex (cacing rambut). 

Pengaruh Karakteristik Hidrologis Musiman dan Penurunan pH

Kerusakan habitat air ini diperparah oleh faktor hidrologis spesifik di Desa Ngumpul, khususnya saat musim kemarau ketika debit air sungai menyusut drastis. Penurunan debit air ini secara otomatis melumpuhkan kapasitas pengenceran alami sungai (self-purification capacity). Akibat ketiadaan suplai air bersih dari hulu, limbah cair pekat langsung terakumulasi di badan air. Efek sinergetik antara pasokan limbah yang kontinu dan debit sungai yang minimal menyebabkan zat pencemar mengendap lebih lama, memperluas jangkauan polusi, serta mempercepat pembentukan zona mati (dead zone) lokal di sepanjang aliran sungai.

Tekanan fisiologis terhadap biota akuatik semakin fatal akibat penurunan derajat keasaman yang ekstrem. Nilai pH di titik B2 merosot tajam hingga menyentuh angka 5,18 (kondisi asam, di bawah baku mutu pemerintah), sebelum akhirnya naik sedikit di titik B3 menjadi 6,77. Kondisi asam di titik B2 dipicu oleh akumulasi asam-asam organik hasil fermentasi anaerobik dari sisa karbohidrat tahu yang mengendap di dasar sungai. Secara ekologis, fluktuasi pH yang ekstrem ini bersifat toksik bagi organisme air karena dapat:

Merusak jaringan mukus pada insang ikan.

Mengganggu sistem osmoregulasi (keseimbangan ion tubuh).

Menghambat aktivitas enzim pencernaan.

Menggagalkan penetasan telur sehingga merusak siklus reproduksi alami biota air.

Hal ini memperkuat argumen (Ulfi Hanum, 2022) bahwa fluktuasi parameter fisik-kimia seperti pH dan material organik berkorelasi langsung terhadap penurunan kualitas lingkungan perairan secara makro.

Gangguan Fisik (TSS) dan Kelumpuhan Produktivitas Primer

Selain kerusakan kimiawi, aspek produktivitas primer perairan ikut lumpuh akibat kenaikan nilai Total Suspended Solids (TSS) dari 11 mg/L di hulu (B1) menjadi 37 mg/L di titik pembuangan (B2). Keberadaan flok organik dan sisa bubur kedelai sebagai zat padat tersuspensi mengubah kondisi fisik air menjadi keruh, berwarna gelap, dan memicu dekomposisi anaerobik yang menghasilkan gas-gas berbau menyengat seperti amonia (NH₃) dan hidrogen sulfida (H₂S). Pada musim kemarau, arus air yang lambat membuat material padat ini tertahan lama di kolom air sehingga menghalangi penetrasi cahaya matahari. Terganggunya masuknya sinar matahari ini menghambat proses fotosintesis produsen primer seperti fitoplankton, yang pada gilirannya memicu kelumpuhan rantai makanan lokal. Secara keseluruhan, fenomena ini mengubah status trofik perairan Desa Ngumpul secara drastis dari oligotrofik menjadi hiper-eutrofik.

Penurunan Kualitas Lingkungan Permukiman dan Risiko Kesehatan

Dampak dari pembuangan limbah ini meluas hingga ke ranah sosial dan kesehatan masyarakat di sekitar aliran sungai. Secara estetika, akumulasi gas amonia (NH₃) dan H₂S. menimbulkan bau menyengat yang menurunkan kenyamanan serta kualitas lingkungan permukiman secara signifikan dalam jangka panjang. Pembusukan bahan organik limbah tahu memicu perubahan fisik air berupa warna dan bau yang merusak higienitas lingkungan.

Pencemaran ini juga mengancam kesehatan masyarakat Desa Ngumpul yang masih bergantung pada air sungai maupun air sumur di sekitarnya untuk keperluan sanitasi dasar (mandi dan mencuci). Akibat rembesan polutan cair ke dalam tanah, air sumur warga mulai mengalami perubahan warna dan bau. Karena keterbatasan sumber air alternatif, masyarakat terpaksa tetap memanfaatkannya, sehingga mempertinggi risiko gangguan kesehatan seperti:

Iritasi kulit dan gatal-gatal (akibat kondisi air yang asam pada pH 5,18).

Diare dan gangguan pencernaan akut.

Infeksi akibat kontaminasi mikroorganisme patogen serta zat pencemar organik.

Degradasi Sektor Pertanian Lahan Basah

Sektor pertanian yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat Desa Ngumpul turut terdampak akibat penggunaan air sungai yang tercemar sebagai sumber irigasi. Pengairan lahan menggunakan air ber-pH rendah (asam) secara terus-menerus berpotensi merusak struktur agregat tanah dan menghambat efisiensi penyerapan unsur hara oleh tanaman. Di samping itu, tingginya kandungan TSS (37 mg/L) memicu pengendapan material padat di saluran irigasi dan lahan persawahan, yang lambat laun menyebabkan pendangkalan saluran air serta menurunkan produktivitas lahan. Tingginya beban organik juga merangsang pertumbuhan mikroorganisme patogen serta gulma air yang berkompetisi dengan tanaman budidaya. Dalam jangka panjang, akumulasi dampak ini berpotensi menurunkan hasil panen dan merugikan ekonomi petani lokal.


SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian mengenai analisis kualitas air dan tingkat pencemaran limbah cair industri tahu di aliran Sungai Desa Ngumpul, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, dapat disimpulkan bahwa aktivitas industri tahu memberikan pengaruh signifikan terhadap penurunan kualitas air sungai. Hasil pengujian parameter kualitas air menunjukkan adanya perbedaan kondisi pada setiap titik pengambilan sampel, terutama pada titik yang berdekatan dengan lokasi pembuangan limbah. Parameter Total Suspended Solid (TSS) menunjukkan nilai B1 sebesar 11 mg/L, B2 sebesar 37 mg/L, dan B3 sebesar 19 mg/L yang masih berada di bawah baku mutu air Kelas III (PP No. 22 Tahun 2021), namun peningkatan pada B2 menunjukkan adanya akumulasi partikel tersuspensi yang meningkatkan kekeruhan air dan berpotensi mengganggu proses fotosintesis organisme akuatik.

Pada parameter Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biological Oxygen Demand (BOD), hasil pengujian menunjukkan nilai COD pada B1 < 9,8652 mg/L, B2 sebesar 459,44 mg/L, dan B3 sebesar 138,01 mg/L, sedangkan nilai BOD masing-masing sebesar 3,61 mg/L, 112,92 mg/L, dan 60,2 mg/L. Nilai tersebut menunjukkan bahwa B2 dan B3 telah melebihi baku mutu, yang mengindikasikan tingginya kandungan bahan organik yang membutuhkan oksigen dalam jumlah besar untuk proses oksidasi dan penguraian sehingga menurunkan kadar oksigen terlarut di perairan. Pada parameter pH, B1 memiliki nilai 7,13 (normal), B2 sebesar 5,18 (asam), dan B3 sebesar 6,77 (mulai pulih), yang menunjukkan adanya gangguan kestabilan kimia perairan akibat limbah cair industri tahu.

Berdasarkan perhitungan Indeks Pencemaran (IP), nilai IP pada B1 sebesar 0,99 termasuk kategori baik, sedangkan B2 sebesar 28,52 dan B3 sebesar 10,59 termasuk kategori tercemar berat, yang menunjukkan bahwa tingkat pencemaran tertinggi berada pada area dekat sumber pembuangan limbah. Dampak pencemaran ini tidak hanya memengaruhi kualitas air, tetapi juga kesehatan masyarakat dan sektor pertanian, seperti air sungai yang tidak layak digunakan untuk sanitasi, penurunan kualitas air sumur, serta gangguan ekosistem perairan akibat penurunan oksigen terlarut. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan limbah cair industri tahu yang lebih optimal agar pencemaran tidak terus berlanjut dan kualitas lingkungan perairan dapat terjaga secara berkelanjutan.


REFERENSI

Astuti, A. D. (2018). Kualitas Air Irigasi Ditinjau Dari Parameter DHL, TDS, pH Pada Lahan Sawah Desa Bulumanis Kidul Kecamatan Margoyoso. Jurnal Litbang: Media Informasi Penelitian, Pengembangan Dan IPTEK, 10(1), 35–42. https://doi.org/10.33658/jl.v10i1.75

Ayu, D., Retnowati, P., Yudhastuti, R., & Fatah, M. Z. (2024). Studi Pustaka : Pengaruh Keberadaan Limbah Industri. 5, 4546–4556.

Badu, M. M., Badu, R. R., Paramata, M. Z., Gonibal, F., Ladua, S. M., Ningsih, T. W. R., Hamzah, N., Biga, K. P., Usman, S. C., & Pambi, M. (2023). Analisis Kandungan TDS dan Ph Untuk Mengetahui Kualitas Air Sungai Bone. Journal of Environmental Engineering Research. 1(1), 1–4.

Idrus, S., & Dewa, R. P. (2017). Identifikasi Cemaran Air Limbah Industri Tahu Di Kota Ambon. Majalah BIAM, 13(02), 11–15.

Juariah, S., & Sari, W. (2018). Pemanfaatan Limbah Cair Industri Tahu Sebagai Media Alternatif Pertumbuhan Bacillus sp. Lontar Physics Today, 1(1), 38–44.

Kamalia, D., & Sudarti, S. (2022). Analisis Pencemaran Air Sungai Akibat Dampak Limbah Industri Batu Alam di Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon. Jurnal Enviscience, 6(1), 1–13. https://doi.org/10.30736/6ijev.v6iss1.309

Kaswinarni, & Fibria. (2007). Industri Tahu Program Pascasarjana. Universitas Stuttgart.

Mardhia, D., & Abdullah, V. (2018). Jurnal Biologi Tropis Studi Analisis Kualitas Air Sungai Brangbiji Sumbawa Besar sungai. Biologi Tropis, 18(2), 182–189.

Nasir, M., & Saputro, E. (2015). Manajemen pengelolaan limbah industri. Benefit: Jurnal Manajemen Dan Bisnis, 19(2), 143–149.

Pohan, D. A. S., Budiyono, B., & Syafrudin, S. (2017). Analisis Kualitas Air Sungai Guna Menentukan Peruntukan Ditinjau Dari Aspek Lingkungan. Jurnal Ilmu Lingkungan, 14(2), 63. https://doi.org/10.14710/jil.14.2.63-71

Pratiwi, S. (2021). Analisis Dampak Sumber Air Sungai Akibat Pencemaran Pabrik Gula Dan Pabrik Pembuatan Sosis. Journal of Research and Education Chemistry, 3(2), 122. https://doi.org/10.25299/jrec.2021.vol3(2).7774

Ruhmawati, T., Sukandar, D., Karmini, M., S, T. R., Kesehatan, J., Politeknik, L., Kemenkes, K., Kaliki, P., & Bandung, K. (2017). Penurunan Kadar Total Suspended Solid ( Tss ) Air Limbah Pabrik Tahu Dengan Metode Fitoremediasi Reduction of Total Suspended Solid Levels Wastewater in Tofu Factory with Phytoremediation Method. 12(1), 25–32.

Sandi, R. D. (2019). Analisis Kualitas Air Dan Distribusi Limbah Cair Industri Tahu Di Sungai Murong Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang. Swara Bhumi, 5(82), 59–66.

Suhairin, S., Muanah, M., & Dewi, E. S. (2020). Pengolahan Limbah Cair Tahu Menjadi Pupuk Organik Cair Di Lombok Tengah Ntb. SELAPARANG Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan, 4(1), 374. https://doi.org/10.31764/jpmb.v4i1.3144

Yohannes, B. (2019). Kajian Kualitas Air Sungai Dan Upaya Pengendalian Pencemaran Air ( Studi Di Sungai Krukut , Jakarta Selatan ). 4(2), 136–155.

Yuliasti, E. (2011). Kajian Kualitas Air Sungai Ngringo Karanganyar Dalam Upaya Pengendalian. In Thesis Magister Ilmu Lingkungan Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro.


Thursday, June 4, 2026

Implementasi Program Indonesia Pintar (PIP) Dalam Mendukung Pemerataan Pendidikan di Kota Palangka Raya

 

Implementation of the Indonesia Smart Program (PIP) in Supporting Educational Equity in Palangka Raya City

 Implementasi Program Indonesia Pintar (PIP) Dalam Mendukung Pemerataan Pendidikan di Kota Palangka Raya | D | Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin

Delpin, Billy Agustino

Program Studi Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Palangka Raya

Email : delpindel5@gmail.com billyagustino34@gmail.com

 

Abstrak

Program Indonesia Pintar (PIP) merupakan pilar kebijakan strategis pemerintah yang dirancang untuk memperluas aksesibilitas dan menciptakan pemerataan layanan pendidikan bagi peserta didik dari kelompok keluarga prasejahtera melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP). Di tingkat daerah, Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya memegang peranan krusial sebagai fasilitator dan pengawas jalannya program ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika implementasi PIP oleh Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, mengukur efektivitasnya dalam mendorong ekuitas pendidikan, serta mengidentifikasi berbagai faktor pendukung dan penghambat di lapangan. Melalui metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan menggunakan teknik studi kepustakaan dan dokumentasi terhadap jurnal ilmiah, regulasi pemerintah, serta laporan otoritas resmi. Hasil telaah menunjukkan bahwa penyaluran PIP di Kota Palangka Raya berkontribusi positif dalam meringankan beban finansial siswa dan menekan angka putus sekolah. Namun, efisiensi program di tingkat daerah masih tereduksi oleh kendala klasik seperti ketidaktepatan data usulan (inklusi-eksklusi), birokrasi perbankan, keterlambatan pencairan, dan minimnya jangkauan sosialisasi ke wilayah pinggiran kota. Upaya sinkronisasi data Dapodik secara real-time, pengetatan supervisi oleh Dinas Pendidikan, dan optimalisasi koordinasi multipihak mutlak diperlukan agar akselerasi pemerataan pendidikan di Kota Palangka Raya dapat tercapai secara maksimal.

Kata Kunci: Program Indonesia Pintar (PIP), Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, Pemerataan Pendidikan, Akses Pendidikan.

Abstract

The Program Indonesia Pintar (PIP) represents a strategic government initiative designed to expand educational accessibility and foster equity for students from economically disadvantaged backgrounds through the Kartu Indonesia Pintar (KIP). At the local level, the Palangka Raya City Education Office plays a crucial role as a facilitator and supervisor of this program. This study aims to analyze the dynamics of PIP's implementation by the Palangka Raya City Education Office, evaluate its effectiveness in promoting educational equity, and identify the driving and hindering factors encountered in the field. Utilizing a descriptive qualitative approach, data were gathered through literature and documentation studies of scientific journals, government regulations, and official institutional reports. The findings indicate that the distribution of PIP in Palangka Raya City has generated a positive impact by alleviating students' financial burdens and mitigating dropout risks. Nevertheless, the program's efficiency at the local level remains constrained by classic issues such as data inaccuracies in student proposals (inclusion-exclusion errors), banking bureaucracies, delayed disbursements, and a lack of socialization to suburban areas. Continuous refinement of Dapodik data systems, stringent supervision by the Education Office, and enhanced multi-stakeholder coordination are imperative to ensure the optimal acceleration of educational equity in Palangka Raya City.

Keywords: Program Indonesia Pintar (PIP), Palangka Raya City Education Office, Educational Equity, Education Access.

 

Article Info

Received date: 15 May  2026                                        Revised date: 20 May  2026                                         Accepted date: 02 June 2026

 

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan determinan utama dalam mentransformasi kualitas sumber daya manusia (SDM) dan mengeskalasi roda pembangunan daerah. Melalui akses pendidikan yang inklusif dan merata, masyarakat dapat mengaktualisasikan kapasitas intelektual, mengasah keterampilan, serta memutus rantai kemiskinan struktural. Namun, tantangan geografis dan ketimpangan sosio-ekonomi sering kali menjadi batu sandungan bagi masyarakat prasejahtera untuk mendapatkan layanan pendidikan yang layak.

Di Kota Palangka Raya, urusan pendidikan dasar menjadi kewenangan penuh Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya. Sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat, Dinas Pendidikan bertanggung jawab memastikan bahwa setiap anak usia sekolah di wilayah ini mendapatkan haknya untuk belajar tanpa terhalang kendala finansial. Kebijakan jaring pengaman sosial yang menjadi instrumen utama dalam mengintervensi masalah ini adalah Program Indonesia Pintar (PIP). Melalui pemberian bantuan tunai via Kartu Indonesia Pintar (KIP), PIP dirancang untuk meringankan biaya personal peserta didik, seperti pembelian seragam, alat tulis, dan transportasi.

Secara faktual, Kota Palangka Raya memiliki tantangan tersendiri dalam pemerataan pendidikan, terutama pada wilayah urban fringe (pinggiran kota) seperti di Kecamatan Rakumpit dan Bukit Batu. Ketimpangan akses ini tecermin dari fluktuasi Angka Partisipasi Murni (APM) dan risiko putus sekolah yang didominasi oleh faktor keterbatasan ekonomi keluarga prasejahtera.

Dalam konteks lokal, Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya memegang peran sentral dalam melakukan verifikasi data usulan sekolah melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik), melakukan pembinaan, serta mengawasi proses penyaluran agar tepat sasaran dan tepat guna. Meskipun program ini telah berjalan, realisasi di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan operasional. Dinamika kependudukan dan kendala teknis di Kota Palangka Raya acap kali memicu terjadinya masalah salah sasaran (inclusion and exclusion error), keterlambatan pencairan dana oleh bank penyalur, hingga minimnya literasi orang tua siswa di kawasan pinggiran kota mengenai mekanisme aktivasi rekening. Oleh karena itu, penelitian mengenai implementasi PIP oleh Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya penting dilakukan guna mengukur sejauh mana program ini efektif mendukung pemerataan pendidikan di daerah tersebut.

Rumusan Masalah

1.       Bagaimanakah implementasi Program Indonesia Pintar (PIP) oleh Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya dalam mendukung pemerataan pendidikan?

2.       Sejauh mana efektivitas Program Indonesia Pintar dalam membantu siswa kurang mampu di Kota Palangka Raya?

3.       Faktor-faktor apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya dalam pelaksanaan program tersebut?

 

TINJAUAN PUSTAKA

Program Indonesia Pintar (PIP)

Program Indonesia Pintar (PIP) adalah bantuan uang tunai, perluasan akses, dan kesempatan belajar dari pemerintah yang diberikan kepada peserta didik yang berasal dari keluarga miskin atau rentan miskin untuk membiayai pendidikan.

Peran Dinas Pendidikan dalam Otonomi Daerah

Berdasarkan sistem desentralisasi, Dinas Pendidikan tingkat kabupaten/kota bertindak sebagai pengelola, pelaksana, dan pengawas teknis kebijakan pendidikan nasional di tingkat daerah, termasuk dalam proses validasi data siswa penerima bantuan sosial pendidikan.

Pemerataan Pendidikan

Pemerataan pendidikan adalah upaya penyediaan kesempatan yang sama bagi seluruh lapisan masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang bermutu, sehingga meminimalkan disparitas antarkelompok masyarakat dan antarwilayah.

Teori Implementasi Kebijakan George C. Edwards III

Untuk membedah keberhasilan suatu kebijakan, teori George C. Edwards III menetapkan empat indikator krusial yang menentukan keberhasilan implementasi, yaitu:

  1. Komunikasi: Kejelasan dan konsistensi penyampaian informasi kepada pelaksana dan masyarakat.
  2. Sumber Daya: Ketersediaan staf yang kompeten, sarana, dan wewenang.
  3. Disposisi: Sikap, komitmen, dan kecenderungan para implementor.
  4. Struktur Birokrasi: Kesesuaian Standar Operasional Prosedur (SOP) dan koordinasi antarlembaga.

 

METODE PENELITIAN

Riset ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif untuk mengeksplorasi fenomena implementasi kebijakan secara mendalam. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh melalui teknik studi kepustakaan (library research) dan studi dokumentasi. Peneliti menganalisis jurnal ilmiah terakreditasi, dokumen regulasi, serta laporan resmi yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan maupun dokumen publikasi terkait dari Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya.

Batasan waktu literatur dan dokumen resmi yang ditelaah dalam studi kepustakaan ini dibatasi pada produk ilmiah dan laporan yang diterbitkan dalam rentang waktu tahun 2019 hingga 2026 demi menjaga aktualitas data. Teknik analisis data mengikuti model interaktif yang meliputi tiga tahapan mendasar:

1.    Reduksi Data: Memilah, menyederhanakan, dan memfokuskan data yang relevan dengan fokus peran Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya.

2.    Penyajian Data: Menyusun data ke dalam teks naratif dan tabel komparatif agar sistematis dan mudah dipahami.

3.    Penarikan Kesimpulan: Merumuskan hasil akhir penelitian berdasarkan verifikasi data yang telah disintesis.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Implementasi PIP oleh Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya

Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya bertindak sebagai intermedian yang menjembatani kebijakan Kementerian Pendidikan Pusat dengan pihak sekolah selaku garda terdepan. Implementasi program ini meliputi proses validasi usulan siswa kurang mampu yang diinput oleh operator sekolah ke dalam sistem Dapodik. Dinas Pendidikan juga bertugas menerbitkan surat rekomendasi aktivasi rekening bagi siswa yang ditetapkan sebagai penerima SK Nominasi, serta melakukan monitoring berkala terhadap serapan dana di bank penyalur yang telah ditunjuk oleh pemerintah.

Ditinjau dari dimensi Struktur Birokrasi, koordinasi formal telah berjalan baik, namun koordinasi eksternal (dengan bank penyalur) masih membutuhkan penguatan karena SOP pencairan bank sering kali kurang sinkron dengan kebutuhan cepat pihak sekolah.

Efektivitas Program dalam Pemerataan Pendidikan

Secara umum, intervensi PIP di Kota Palangka Raya dinilai cukup efektif dalam menekan angka putus sekolah (dropout). Stimulus finansial yang diterima siswa mampu memenuhi kebutuhan personal sekolah yang tidak tercover oleh dana BOS, seperti pembelian buku penunjang dan ongkos transportasi harian. Keberadaan program ini secara tidak langsung meningkatkan Angka Partisipasi Murni (APM) di Kota Palangka Raya dan membantu mewujudkan ekuitas akses pendidikan bagi anak-anak di daerah marginal/pinggiran kota.

Faktor Pendukung dan Penghambat

Faktor Pendukung

1.    Komitmen Anggaran dan Kebijakan (Disposisi): Adanya komitmen anggaran dan regulasi yang kuat dari pemerintah pusat dan daerah untuk menjamin keberlanjutan program.

2.    Kemudahan Teknologi (Sumber Daya): Integrasi sistem Dapodik digital yang memudahkan pihak sekolah dalam mengusulkan data siswa prasejahtera secara cepat.

3.    Kemitraan Internal: Sinergi yang baik antara pengawas sekolah, kepala sekolah, dan komite dalam pengawalan hak siswa di lapangan.

Faktor Penghambat:

1.    Asimetri Informasi (Komunikasi): Kurangnya sosialisasi yang masif dan inklusif dari dinas ke wilayah pelosok/pinggiran Kota Palangka Raya, membuat banyak orang tua tidak paham cara aktivasi rekening buku tabungan SimPel (Simpanan Pelajar).

2.    Validitas Data (Sumber Daya Informasi): Masih ditemukan ketidaktepatan sasaran akibat data DTKS Kemensos yang belum sepenuhnya sinkron dengan kondisi riil ekonomi siswa di lapangan (inclusion and exclusion error).

3.    Kendala Birokrasi Perbankan (Struktur Birokrasi): Antrean yang panjang dan syarat administrasi perbankan yang kaku sering kali memperlambat proses pencairan dana oleh orang tua siswa. Hal ini diperparah oleh keterbatasan perangkat digital dan waktu operasional orang tua siswa prasejahtera yang bekerja di sektor informal

 

SIMPULAN

Implementasi Program Indonesia Pintar (PIP) yang difasilitasi oleh Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya memiliki kontribusi besar dalam mendukung pemerataan pendidikan di wilayah tersebut. Program ini berhasil meringankan hambatan finansial dan memberikan jaminan keberlanjutan sekolah bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.  Meskipun demikian, capaian efektivitasnya di tingkat daerah masih membentur kendala berupa ketidaktepatan sasaran penerima bantuan dan keterlambatan pencairan dana akibat hambatan birokrasi perbankan serta asimetri komunikasi. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan pengawasan, reformasi sistem pemutakhiran data secara berkala, serta penguatan koordinasi yang lebih fleksibel antara Dinas Pendidikan, pihak sekolah, lembaga perbankan, dan masyarakat agar tujuan keadilan pendidikan dapat tercapai secara maksimal di Kota Palangka Raya.

 

SARAN

1.       Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya perlu memperluas jangkauan sosialisasi program secara masif ke wilayah pinggiran kota agar meminimalkan asimetri informasi dan mencegah hangusnya dana bantuan akibat keterlambatan aktivasi.

2.       Pihak Sekolah disarankan untuk lebih selektif, objektif, dan faktual saat melakukan verifikasi kondisi ekonomi siswa sebelum melakukan input usulan ke dalam sistem Dapodik.

3.       Otoritas terkait perlu meningkatkan koordinasi dengan Pihak Perbankan Penyalur demi menciptakan simplifikasi prosedur birokrasi penarikan dana tanpa mengabaikan prinsip akuntabilitas.

4.       Diperlukan penguatan sinergi antara RT/RW atau kelurahan setempat bersama komite sekolah untuk mendampingi orang tua siswa prasejahtera yang memiliki keterbatasan literasi administrasi perbankan

 

REFERENSI

Agustina, L., & Wardani, A. K. (2021). Efektivitas penyaluran bantuan operasional Program Indonesia Pintar (PIP) dalam menekan angka putus sekolah. Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik, 25(2), 112–126.

Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya. (2024). Laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (LAKIP) Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya. Pemerintah Kota Palangka Raya.

Fitriani, S., & Nugroho, B. (2022). Peran dinas pendidikan dalam pengawasan jaring pengaman sosial bidang pendidikan di tingkat daerah. Jurnal Administrasi Publik Daerah, 14(1), 35–48.

Hidayat, R. (2020). Akurasi data Dapodik dalam penentuan sasaran penerima bantuan sosial pendidikan: Masalah inclusion dan exclusion error. Jurnal Tata Kelola Pendidikan, 8(3), 201–215.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia & Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya. (2025). Petunjuk teknis pelaksanaan dan pengawasan Program Indonesia Pintar (PIP) daerah. Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya.

Lestari, P., & Supriadi, D. (2023). Analisis implementasi kebijakan Program Indonesia Pintar (PIP) menggunakan teori George C. Edwards III. Jurnal Ilmu Administrasi Negara, 11(2), 89–104.

Murni, S. (2022). Strategi dinas pendidikan dalam pemerataan akses pendidikan di wilayah urban fringe (pinggiran kota). Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Daerah, 10(4), 145–158.

Nugraha, A. P., et al. (2023). Hambatan birokrasi perbankan dan administrasi sekolah dalam pencairan dana bantuan siswa prasejahtera. Jurnal Manajemen Pendidikan, 17(2), 76–88.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2020 tentang Program Indonesia Pintar.

Prasetyo, E. (2021). Dampak sosiologis bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP) terhadap motivasi belajar siswa dari keluarga miskin. Jurnal Sosio-Humaniora, 9(1), 12–25.

Putra, R. A., & Sari, M. M. (2024). Disparitas akses pendidikan dan tantangan pemerataan mutu sekolah dasar di Kalimantan Tengah. Jurnal Penelitian Pendidikan Kebudayaan, 19(2), 130–144.

Putri, M., et al. (2022). Pendidikan sebagai upaya memutus rantai kemiskinan masyarakat. Jurnal Sosial Humaniora, 7(2), 88–97.

Rifa’i, A., & Afriansyah, H. (2019). Proses pengambilan keputusan. ResearchGate, 1–12.

Rosita, H. (2023). Evaluasi Program Indonesia Pintar dalam upaya pemerataan pendidikan. Epistemik: Indonesian Journal of Social and Political Science, 4(1), 52–66.

Saputra, H., et al. (2022). Evaluasi efektivitas Program Indonesia Pintar dalam meningkatkan angka partisipasi murni (APM). Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Publik, 13(1), 57–71.

Sukarma, I. K., Karyasa, T. B., Hasim, H., et al. (2022). Peran bantuan pendidikan dalam meningkatkan akses pendidikan masyarakat kurang mampu. Jurnal Pendidikan dan Sosial, 5(2), 45–56.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Zaidah, A., et al. (2021). Pengaruh pendidikan terhadap motivasi generasi muda dalam melanjutkan pendidikan tinggi. Jurnal Pendidikan Indonesia, 3(1), 20–29.