Alya Ghaitsa Zahirashafa¹,
Nur Asyiffa Amalia Yasmin²
Program Studi Pendidikan
Guru Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas
Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda
Email: syiffaamalia.2005@gmail.com
Abstrak
Penelitian ini bertujuan
untuk mendeskripsikan penerapan media pembelajaran puzzle pecahan serta
menganalisis dampaknya terhadap peningkatan hasil belajar matematika pada
materi pecahan di kelas IV MI At-Taufiq. Metode yang digunakan adalah
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan
dalam dua siklus, masing-masing mencakup tahap perencanaan, pelaksanaan
tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian terdiri dari 20 siswa
kelas IV. Pengumpulan data dilakukan melalui tes evaluasi tertulis, observasi,
dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan: nilai
rata-rata kelas meningkat dari 68 pada pra siklus menjadi 78 pada Siklus I dan
mencapai 85 pada Siklus II. Ketuntasan belajar berkembang dari 35% menjadi 70%
dan akhirnya mencapai 90% pada akhir penelitian. Temuan ini menegaskan bahwa
media pembelajaran puzzle pecahan terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman
konsep dan hasil belajar matematika siswa pada materi pecahan.
Kata Kunci: puzzle pecahan, hasil
belajar matematika, penelitian tindakan kelas, pecahan, sekolah dasar
Abstract
This study aims to
describe the implementation of fraction puzzle learning media and analyze its
impact on improving mathematics learning outcomes, specifically on fraction
material, among fourth-grade students at MI At-Taufiq. The research employed a
Classroom Action Research (CAR) design using the Kemmis and McTaggart model,
conducted over two cycles, each comprising planning, action, observation, and
reflection stages. The subjects were 20 fourth-grade students. Data were
collected through written evaluation tests, observation, and interviews.
Results revealed significant improvements: the class average rose from 68 in
the pre-cycle to 78 in Cycle I and further to 85 in Cycle II. Learning mastery
rates increased from 35% to 70% and ultimately reached 90%. These findings
confirm that fraction puzzle learning media is effective in enhancing students'
conceptual understanding and mathematics learning outcomes on fraction
material.
Keywords: fraction puzzle, mathematics learning outcomes, classroom action research, fractions, elementary school.
PENDAHULUAN
Matematika
merupakan salah satu mata pelajaran inti dalam jenjang pendidikan dasar yang
berperan strategis dalam membentuk kemampuan berpikir logis, kritis,
sistematis, dan kreatif peserta didik. Penguasaan konsep matematika di tingkat
sekolah dasar menjadi fondasi penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi pada jenjang pendidikan berikutnya. Di antara berbagai topik
matematika, pecahan merupakan salah satu materi yang paling menantang bagi
siswa sekolah dasar karena sifatnya yang abstrak—mencakup pemahaman tentang
bagian dari keseluruhan, perbandingan nilai, serta operasi hitung sederhana.[1]
Hasil
observasi awal di kelas IV MI At-Taufiq mengungkapkan kondisi yang
mengkhawatirkan. Proses pembelajaran masih didominasi oleh metode ceramah dan
penggunaan buku teks tanpa dukungan media pembelajaran konkret yang menarik.
Kondisi ini menyebabkan siswa cenderung bersikap pasif dan mengalami kesulitan
memvisualisasikan konsep pecahan. Dari 20 siswa kelas IV, hanya 7 siswa (35%)
yang berhasil melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 75, sementara
13 siswa lainnya memperoleh nilai antara 50 hingga 65 dengan rata-rata kelas 68.
Penelitian terdahulu mengkonfirmasi bahwa kesulitan memahami pecahan umumnya
muncul ketika pembelajaran masih bersifat konvensional tanpa dukungan media
konkret.[2]
Karakteristik
perkembangan kognitif siswa sekolah dasar yang masih berada pada tahap
operasional konkret menuntut adanya objek nyata atau media visual untuk
membantu pemahaman konsep abstrak. Penggunaan metode pembelajaran yang monoton
terbukti berkontribusi pada rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa,
khususnya pada materi pecahan.[3]
Media puzzle
pecahan dipilih sebagai solusi inovatif untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Puzzle pecahan merupakan media manipulatif yang menyajikan representasi visual
pecahan dalam bentuk potongan-potongan yang dapat disusun langsung oleh siswa,
memungkinkan mereka belajar sambil bermain secara aktif. Penggunaan media ini
telah terbukti mampu meningkatkan partisipasi aktif siswa sekaligus memperkuat
pemahaman mereka terhadap konsep pecahan secara konkret dan interaktif.[4]
Sejumlah
penelitian terdahulu telah membuktikan efektivitas media puzzle dalam
pembelajaran pecahan. Ulfainna dkk. (2025) melaporkan bahwa penggunaan media
puzzle mampu meningkatkan pemahaman konsep pecahan siswa sekolah dasar secara
signifikan. Pratiwi dkk. (2024) menemukan bahwa media puzzle pecahan mampu
meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa selama pembelajaran matematika. Kholifah dkk. (2024) membuktikan bahwa puzzle
pecahan dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa sekolah dasar secara
bertahap melalui pembelajaran aktif dan kolaboratif.[5]
Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan: (1)
mendeskripsikan penerapan media pembelajaran puzzle pecahan dalam pembelajaran
matematika materi pecahan di kelas IV MI At-Taufiq; dan (2) menganalisis
peningkatan hasil belajar matematika siswa setelah diterapkannya media
pembelajaran puzzle pecahan.[6]
METODE PENELITIAN
Penelitian ini
menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dalam kerangka Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan McTaggart yang terdiri atas empat
tahapan berulang: perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (acting),
pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Penelitian
dilaksanakan di MI At-Taufiq Samarinda pada semester ganjil tahun pelajaran
2024/2025 (Agustus–September 2024) dengan subjek 20 siswa kelas IV yang dipilih
berdasarkan rendahnya capaian belajar pada materi pecahan.[7]
Penelitian
dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing terdiri atas satu pertemuan. Pada
setiap siklus, peneliti menyusun modul ajar, menyiapkan media puzzle pecahan,
merancang LKPD, serta mempersiapkan instrumen observasi dan asesmen, kemudian
melaksanakan pembelajaran, melakukan pengamatan terhadap aktivitas guru dan
siswa, dan merefleksikan hasilnya sebagai dasar perbaikan siklus berikutnya.
Data dikumpulkan melalui tiga teknik: (1) asesmen berupa tes tertulis pilihan
ganda dan uraian pada akhir setiap siklus; (2) observasi menggunakan lembar
pengamatan terstruktur; serta (3) wawancara semi-terstruktur kepada guru kelas
dan perwakilan siswa. Data kemudian dianalisis secara deskriptif menggunakan
tiga rumus berikut.
1.
Nilai Hasil Belajar Siswa
Nilai = Skor yang Diperoleh ÷ Skor
Maksimal × 100
Keterangan: Skor yang diperoleh =
jumlah jawaban benar; Skor maksimal = total skor keseluruhan.
2.
Nilai Rata-rata Kelas
X̅ = ΣX ÷ N
Keterangan: X̅ = nilai rata-rata
kelas; ΣX = jumlah seluruh nilai siswa; N = jumlah siswa.
3.
Persentase Ketuntasan Belajar
P = F ÷ N × 100%
Keterangan: P = persentase
ketuntasan; F = jumlah siswa yang tuntas; N = jumlah seluruh siswa.
Penelitian
dinyatakan berhasil apabila minimal 80% siswa memperoleh nilai ≥ 75 sesuai
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan sekolah.
HASIL PENELITIAN
A. Kondisi Pra Siklus
Sebelum
tindakan dilaksanakan, peneliti mengadakan tes awal untuk mengetahui kondisi
kemampuan awal siswa. Pembelajaran pada tahap ini sepenuhnya menggunakan metode
ceramah tanpa dukungan media visual yang memadai, sehingga siswa cenderung
pasif dan mengalami kesulitan memahami konsep pecahan yang bersifat abstrak.
Hasil tes pra siklus menunjukkan bahwa nilai rata-rata kelas hanya mencapai 68
dengan tingkat ketuntasan sebesar 35% (7 dari 20 siswa). Sebanyak 13 siswa
masih berada di bawah KKM dengan rentang nilai antara 50 hingga 65.[8]
Tabel 1. Rekapitulasi
Ketuntasan Hasil Belajar Pra Siklus
|
Kriteria |
Jumlah Siswa |
Persentase |
|
Tuntas (≥ 75) |
7 |
35% |
|
Belum Tuntas (< 75) |
13 |
65% |
|
Jumlah |
20 |
100% |
|
Nilai Rata-rata |
68 |
- |
B. Hasil Siklus I
Pelaksanaan
Siklus I dilakukan dalam satu pertemuan dengan menerapkan media puzzle pecahan.
Guru memperkenalkan media, membagi siswa ke dalam kelompok kecil, dan setiap
kelompok menyusun potongan puzzle sesuai nilai dan bentuk pecahan yang benar.
Pada akhir siklus, tes evaluasi dilaksanakan untuk mengukur pemahaman siswa.
Hasil evaluasi
Siklus I menunjukkan peningkatan yang signifikan: nilai rata-rata kelas naik
menjadi 78 dan tingkat ketuntasan meningkat menjadi 70% (14 dari 20 siswa).
Meskipun demikian, masih terdapat 6 siswa yang belum mencapai KKM, sehingga
diperlukan perbaikan pada Siklus II. Berdasarkan observasi, siswa terlihat
lebih aktif dan antusias, namun masih terdapat beberapa siswa yang pasif dalam
diskusi dan kesulitan dalam menghubungkan simbol dengan bentuk pecahan.[9]
Tabel 2. Rekapitulasi
Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I
|
Kriteria |
Jumlah Siswa |
Persentase |
|
Tuntas (≥ 75) |
14 |
70% |
|
Belum Tuntas (< 75) |
6 |
30% |
|
Jumlah |
20 |
100% |
|
Nilai Rata-rata |
78 |
- |
C. Hasil Siklus II
Berdasarkan
refleksi Siklus I, sejumlah perbaikan diterapkan pada Siklus II: pemberian
bimbingan yang lebih intensif kepada siswa yang belum tuntas, pembentukan
kelompok secara heterogen, penambahan variasi latihan soal, serta pemberian
penghargaan bagi kelompok yang aktif. Guru juga menjelaskan penggunaan puzzle
dengan lebih rinci dan memperagakan cara menyusun puzzle sebelum siswa memulai
kegiatan.
Hasil evaluasi
Siklus II menunjukkan capaian yang sangat memuaskan: nilai rata-rata kelas
meningkat menjadi 85 dan tingkat ketuntasan mencapai 90% (18 dari 20 siswa).
Seluruh siswa tampak lebih aktif, percaya diri, dan mampu menggunakan media
puzzle secara mandiri. Hasil ini telah melampaui indikator keberhasilan yang
ditetapkan (minimal 80%), sehingga penelitian dinyatakan berhasil.[10]
Tabel 3. Rekapitulasi
Ketuntasan Hasil Belajar Siklus II
|
Kriteria |
Jumlah Siswa |
Persentase |
|
Tuntas (≥ 75) |
18 |
90% |
|
Belum Tuntas (< 75) |
2 |
10% |
|
Jumlah |
20 |
100% |
|
Nilai Rata-rata |
85 |
- |
Tabel 4. Rekapitulasi
Peningkatan Hasil Belajar Antarsiklus
|
Tahap |
Nilai Rata-rata |
Ketuntasan (%) |
|
Pra Siklus |
68 |
35% |
|
Siklus I |
78 |
70% |
|
Siklus II |
85 |
90% |
PEMBAHASAN
Hasil
penelitian secara keseluruhan memperlihatkan pola peningkatan hasil belajar
yang konsisten pada setiap tahapan. Peningkatan nilai rata-rata dari 68 (pra
siklus) menjadi 78 (Siklus I) dan 85 (Siklus II) menunjukkan bahwa media puzzle
pecahan berperan penting dalam membantu siswa memahami konsep pecahan yang
sebelumnya dianggap abstrak dan sulit dipahami melalui pembelajaran
konvensional.
Efektivitas
media ini dapat dijelaskan melalui teori belajar konstruktivisme yang
menekankan bahwa pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa melalui pengalaman
belajar yang bermakna. Dalam proses pembelajaran menggunakan puzzle pecahan,
siswa tidak sekadar menerima informasi dari guru, melainkan aktif menemukan
konsep melalui kegiatan manipulatif yang dilakukan secara langsung—menyusun,
mencocokkan, dan mendiskusikan bentuk serta nilai pecahan bersama teman
kelompoknya.
Peningkatan
juga tampak dari dimensi keaktifan siswa. Selama Siklus II, hampir seluruh
siswa terlibat aktif dalam diskusi kelompok, mengajukan pertanyaan, dan berani
mempresentasikan hasil kerja kelompok—suatu perubahan yang signifikan dari
kondisi pra siklus di mana siswa cenderung pasif. Hal ini sejalan dengan hasil
penelitian yang menyimpulkan bahwa media pembelajaran yang menarik mampu
meningkatkan motivasi belajar siswa dan menciptakan suasana pembelajaran yang
lebih aktif serta menyenangkan.[11]
Temuan ini
juga didukung oleh teori perkembangan kognitif Piaget yang menempatkan siswa
usia sekolah dasar pada tahap operasional konkret. Pada tahap ini, pemahaman
konsep akan lebih mudah dicapai melalui interaksi langsung dengan objek nyata
atau media yang dapat dimanipulasi.[12]
Puzzle pecahan memenuhi kriteria tersebut karena memungkinkan siswa belajar
melalui pengalaman konkret—mengamati, menyusun, dan mencocokkan bentuk pecahan
secara nyata.[13]
Temuan
penelitian ini juga selaras dengan sejumlah penelitian terdahulu. Wahyuni dan
Nasution (2025) melaporkan bahwa penggunaan alat peraga puzzle secara
signifikan meningkatkan hasil belajar matematika pada materi pecahan di sekolah
dasar. Sari dkk. (2024) menemukan peningkatan keaktifan, antusiasme, dan hasil
belajar siswa melalui penggunaan puzzle pecahan. Kesesuaian temuan lintas
berbagai konteks ini memperkuat validitas kesimpulan penelitian.[14]
SIMPULAN
Berdasarkan
hasil penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus, dapat
ditarik dua simpulan utama.
Pertama,
penerapan media pembelajaran puzzle pecahan pada pembelajaran matematika materi
pecahan di kelas IV MI At-Taufiq dapat terlaksana dengan baik melalui tahapan
PTK yang sistematis. Penggunaan media ini terbukti mampu meningkatkan
perhatian, keaktifan, dan motivasi belajar siswa secara signifikan dibandingkan
kondisi sebelum tindakan. Siswa lebih aktif berdiskusi, berani bertanya, dan
berpartisipasi dalam setiap tahapan pembelajaran.
Kedua, media
pembelajaran puzzle pecahan terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar
matematika materi pecahan. Nilai rata-rata kelas meningkat dari 68 (pra siklus)
menjadi 78 (Siklus I) dan 85 (Siklus II), dengan persentase ketuntasan belajar
meningkat dari 35% menjadi 70% dan mencapai 90% pada Siklus II. Dengan
demikian, media pembelajaran puzzle pecahan direkomendasikan sebagai salah satu
alternatif media inovatif yang dapat dimanfaatkan guru dalam meningkatkan
kualitas pembelajaran matematika, khususnya pada materi pecahan, di sekolah
dasar.
REFERENSI
Ajizah, S. N., Andjariani, E. W., & Dewi, G. K. (2023). Pengembangan
kartu domino pecahan sebagai media pembelajaran matematika kelas II sekolah
dasar. JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 6(12).
Arsyad, A. (2017). Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.
Hamalik, O. (2019). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Kholifah, U., Mukti, L. I., & Ermawati, D. (2024). Penerapan model
problem based learning berbantuan puzzle pecahan untuk meningkatkan hasil
belajar matematika siswa sekolah dasar. Fraktal: Jurnal Matematika dan
Pendidikan Matematika, 5(2), 27–36.
Nurhayati, S., Rahmawati, D., & Lestari, P. (2024). Pembelajaran
matematika sekolah dasar dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.
Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara, 9(1), 45–53.
Pratiwi, S. S., Dewi, C., & Hayati, N. (2024). Penerapan media
pembelajaran puzzle pecahan untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik
kelas II pada pembelajaran matematika di SDN 01 Mojorejo Kota Madiun. Pendas:
Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 9(4).
Ridho’i, M., & Fauzi, M. (2025). Pengembangan media puzzle pecahan
terintegrasi HOTS dalam pembelajaran matematika untuk siswa sekolah dasar.
Jurnal Evaluasi dan Kajian Strategis Pendidikan Dasar, 2(2), 34–39.
Sari, T. K., Nugraheni, N., & Murti, T. S. D. (2024). Meningkatkan
hasil belajar matematika materi pecahan melalui puzzle pecahan siswa kelas II
SDN Sampangan 02. Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI), 2(1), 30–32.
Slavin, R. E. (2018). Psikologi Pendidikan: Teori dan Praktik (Edisi
Bahasa Indonesia). Jakarta: Indeks.
Suprijono, A. (2019). Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tukan, A. C. K., Puang, D. M. E., & Timba, F. N. S. (2025). Pengaruh
penggunaan media puzzle pecahan terhadap hasil belajar matematika kelas 4
sekolah dasar. Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, 11(4).
Ulfainna, N., Mulk, M. T., Nurizza, A., Satriani, S., Abira, A., &
Madjid, T. (2025). Efektivitas media puzzle dalam meningkatkan pemahaman konsep
pecahan matematika pada siswa sekolah dasar. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar
(JIPDAS), 5(1), 540–548.
Wahyuni, R., & Nasution, H. A. (2025). Pengaruh penggunaan alat
peraga puzzle terhadap hasil belajar matematika pada materi pecahan di sekolah
dasar. MES: Journal of Mathematics Education and Science, 10(2).
[1]Ulfainna, N., Mulk, M. T., Nurizza, A.,
Satriani, S., Abira, A., & Madjid, T. (2025). Efektivitas media puzzle
dalam meningkatkan pemahaman konsep pecahan matematika pada siswa sekolah
dasar. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar (JIPDAS), 5(1), 540–548.
[2]Tukan, A. C. K., Puang, D. M. E., &
Timba, F. N. S. (2025). Pengaruh penggunaan media puzzle pecahan terhadap hasil
belajar matematika kelas 4 sekolah dasar. Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP
Subang, 11(4).
[3]Ajizah, S. N., Andjariani, E. W., &
Dewi, G. K. (2023). Pengembangan kartu domino pecahan sebagai media
pembelajaran matematika kelas II sekolah dasar. JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu
Pendidikan, 6(12).
[4]Ridho'i, M., & Fauzi, M. (2025).
Pengembangan media puzzle pecahan terintegrasi HOTS dalam pembelajaran
matematika untuk siswa sekolah dasar. Jurnal Evaluasi dan Kajian Strategis
Pendidikan Dasar, 2(2), 34–39.
[5]Pratiwi, S. S., Dewi, C., & Hayati, N.
(2024). Penerapan media pembelajaran puzzle pecahan untuk meningkatkan motivasi
belajar peserta didik kelas II pada pembelajaran matematika di SDN 01 Mojorejo
Kota Madiun. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 9(4).
[6] Kholifah, U., Mukti, L. I., & Ermawati,
D. (2024). Penerapan model problem based learning berbantuan puzzle pecahan
untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa sekolah dasar. Fraktal:
Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, 5(2), 27–36.
[7]Nurhayati, S., Rahmawati, D., & Lestari,
P. (2024). Pembelajaran matematika sekolah dasar dalam meningkatkan kemampuan
berpikir kritis siswa. Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara, 9(1), 45–53.
[8]Sari, T. K., Nugraheni, N., & Murti, T.
S. D. (2024). Meningkatkan hasil belajar matematika materi pecahan melalui
puzzle pecahan siswa kelas II SDN Sampangan 02. Jurnal Penelitian Pendidikan
Indonesia (JPPI), 2(1), 30–32.
[10] Suprijono, A. (2019). Cooperative Learning:
Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
[11]Arsyad, A. (2017). Media Pembelajaran.
Jakarta: Rajawali Pers.
[12] Hamalik, O. (2019). Proses Belajar
Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
[13]Slavin, R. E. (2018). Psikologi Pendidikan:
Teori dan Praktik (Edisi Bahasa Indonesia). Jakarta: Indeks.
[14]Wahyuni, R., & Nasution, H. A. (2025).
Pengaruh penggunaan alat peraga puzzle terhadap hasil belajar matematika pada
materi pecahan di sekolah dasar. MES: Journal of Mathematics Education and
Science, 10(2).