Saturday, June 13, 2026

Penerapan Media Pembelajaran Puzzle Pecahan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pada Siswa Kelas IV MI At-Taufiq Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2024/2025

Alya Ghaitsa Zahirashafa¹, Nur Asyiffa Amalia Yasmin²

Penerapan Media Pembelajaran Puzzle Pecahan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pada Siswa Kelas IV MI At-Taufiq Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2024/2025 | Zahirashafa | Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin

Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda

Email: syiffaamalia.2005@gmail.com

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan media pembelajaran puzzle pecahan serta menganalisis dampaknya terhadap peningkatan hasil belajar matematika pada materi pecahan di kelas IV MI At-Taufiq. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing mencakup tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian terdiri dari 20 siswa kelas IV. Pengumpulan data dilakukan melalui tes evaluasi tertulis, observasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan: nilai rata-rata kelas meningkat dari 68 pada pra siklus menjadi 78 pada Siklus I dan mencapai 85 pada Siklus II. Ketuntasan belajar berkembang dari 35% menjadi 70% dan akhirnya mencapai 90% pada akhir penelitian. Temuan ini menegaskan bahwa media pembelajaran puzzle pecahan terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep dan hasil belajar matematika siswa pada materi pecahan.

Kata Kunci: puzzle pecahan, hasil belajar matematika, penelitian tindakan kelas, pecahan, sekolah dasar

Abstract

This study aims to describe the implementation of fraction puzzle learning media and analyze its impact on improving mathematics learning outcomes, specifically on fraction material, among fourth-grade students at MI At-Taufiq. The research employed a Classroom Action Research (CAR) design using the Kemmis and McTaggart model, conducted over two cycles, each comprising planning, action, observation, and reflection stages. The subjects were 20 fourth-grade students. Data were collected through written evaluation tests, observation, and interviews. Results revealed significant improvements: the class average rose from 68 in the pre-cycle to 78 in Cycle I and further to 85 in Cycle II. Learning mastery rates increased from 35% to 70% and ultimately reached 90%. These findings confirm that fraction puzzle learning media is effective in enhancing students' conceptual understanding and mathematics learning outcomes on fraction material.

Keywords: fraction puzzle, mathematics learning outcomes, classroom action research, fractions, elementary school.

PENDAHULUAN

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran inti dalam jenjang pendidikan dasar yang berperan strategis dalam membentuk kemampuan berpikir logis, kritis, sistematis, dan kreatif peserta didik. Penguasaan konsep matematika di tingkat sekolah dasar menjadi fondasi penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada jenjang pendidikan berikutnya. Di antara berbagai topik matematika, pecahan merupakan salah satu materi yang paling menantang bagi siswa sekolah dasar karena sifatnya yang abstrak—mencakup pemahaman tentang bagian dari keseluruhan, perbandingan nilai, serta operasi hitung sederhana.[1]

Hasil observasi awal di kelas IV MI At-Taufiq mengungkapkan kondisi yang mengkhawatirkan. Proses pembelajaran masih didominasi oleh metode ceramah dan penggunaan buku teks tanpa dukungan media pembelajaran konkret yang menarik. Kondisi ini menyebabkan siswa cenderung bersikap pasif dan mengalami kesulitan memvisualisasikan konsep pecahan. Dari 20 siswa kelas IV, hanya 7 siswa (35%) yang berhasil melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 75, sementara 13 siswa lainnya memperoleh nilai antara 50 hingga 65 dengan rata-rata kelas 68. Penelitian terdahulu mengkonfirmasi bahwa kesulitan memahami pecahan umumnya muncul ketika pembelajaran masih bersifat konvensional tanpa dukungan media konkret.[2]

Karakteristik perkembangan kognitif siswa sekolah dasar yang masih berada pada tahap operasional konkret menuntut adanya objek nyata atau media visual untuk membantu pemahaman konsep abstrak. Penggunaan metode pembelajaran yang monoton terbukti berkontribusi pada rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa, khususnya pada materi pecahan.[3]

Media puzzle pecahan dipilih sebagai solusi inovatif untuk mengatasi permasalahan tersebut. Puzzle pecahan merupakan media manipulatif yang menyajikan representasi visual pecahan dalam bentuk potongan-potongan yang dapat disusun langsung oleh siswa, memungkinkan mereka belajar sambil bermain secara aktif. Penggunaan media ini telah terbukti mampu meningkatkan partisipasi aktif siswa sekaligus memperkuat pemahaman mereka terhadap konsep pecahan secara konkret dan interaktif.[4]

Sejumlah penelitian terdahulu telah membuktikan efektivitas media puzzle dalam pembelajaran pecahan. Ulfainna dkk. (2025) melaporkan bahwa penggunaan media puzzle mampu meningkatkan pemahaman konsep pecahan siswa sekolah dasar secara signifikan. Pratiwi dkk. (2024) menemukan bahwa media puzzle pecahan mampu meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa selama pembelajaran matematika.  Kholifah dkk. (2024) membuktikan bahwa puzzle pecahan dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa sekolah dasar secara bertahap melalui pembelajaran aktif dan kolaboratif.[5] Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan: (1) mendeskripsikan penerapan media pembelajaran puzzle pecahan dalam pembelajaran matematika materi pecahan di kelas IV MI At-Taufiq; dan (2) menganalisis peningkatan hasil belajar matematika siswa setelah diterapkannya media pembelajaran puzzle pecahan.[6]

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dalam kerangka Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan McTaggart yang terdiri atas empat tahapan berulang: perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Penelitian dilaksanakan di MI At-Taufiq Samarinda pada semester ganjil tahun pelajaran 2024/2025 (Agustus–September 2024) dengan subjek 20 siswa kelas IV yang dipilih berdasarkan rendahnya capaian belajar pada materi pecahan.[7]

Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing terdiri atas satu pertemuan. Pada setiap siklus, peneliti menyusun modul ajar, menyiapkan media puzzle pecahan, merancang LKPD, serta mempersiapkan instrumen observasi dan asesmen, kemudian melaksanakan pembelajaran, melakukan pengamatan terhadap aktivitas guru dan siswa, dan merefleksikan hasilnya sebagai dasar perbaikan siklus berikutnya. Data dikumpulkan melalui tiga teknik: (1) asesmen berupa tes tertulis pilihan ganda dan uraian pada akhir setiap siklus; (2) observasi menggunakan lembar pengamatan terstruktur; serta (3) wawancara semi-terstruktur kepada guru kelas dan perwakilan siswa. Data kemudian dianalisis secara deskriptif menggunakan tiga rumus berikut.

1.       Nilai Hasil Belajar Siswa

Nilai =  Skor yang Diperoleh  ÷  Skor Maksimal  ×  100

Keterangan: Skor yang diperoleh = jumlah jawaban benar; Skor maksimal = total skor keseluruhan.

2.       Nilai Rata-rata Kelas

X̅ = ΣX ÷ N

Keterangan: X̅ = nilai rata-rata kelas; ΣX = jumlah seluruh nilai siswa; N = jumlah siswa.

3.       Persentase Ketuntasan Belajar

P = F ÷ N × 100%

Keterangan: P = persentase ketuntasan; F = jumlah siswa yang tuntas; N = jumlah seluruh siswa.

Penelitian dinyatakan berhasil apabila minimal 80% siswa memperoleh nilai ≥ 75 sesuai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan sekolah.

 

HASIL PENELITIAN

A. Kondisi Pra Siklus

Sebelum tindakan dilaksanakan, peneliti mengadakan tes awal untuk mengetahui kondisi kemampuan awal siswa. Pembelajaran pada tahap ini sepenuhnya menggunakan metode ceramah tanpa dukungan media visual yang memadai, sehingga siswa cenderung pasif dan mengalami kesulitan memahami konsep pecahan yang bersifat abstrak. Hasil tes pra siklus menunjukkan bahwa nilai rata-rata kelas hanya mencapai 68 dengan tingkat ketuntasan sebesar 35% (7 dari 20 siswa). Sebanyak 13 siswa masih berada di bawah KKM dengan rentang nilai antara 50 hingga 65.[8]

Tabel 1. Rekapitulasi Ketuntasan Hasil Belajar Pra Siklus

Kriteria

Jumlah Siswa

Persentase

Tuntas (≥ 75)

7

35%

Belum Tuntas (< 75)

13

65%

Jumlah

20

100%

Nilai Rata-rata

68

-

B. Hasil Siklus I

Pelaksanaan Siklus I dilakukan dalam satu pertemuan dengan menerapkan media puzzle pecahan. Guru memperkenalkan media, membagi siswa ke dalam kelompok kecil, dan setiap kelompok menyusun potongan puzzle sesuai nilai dan bentuk pecahan yang benar. Pada akhir siklus, tes evaluasi dilaksanakan untuk mengukur pemahaman siswa.

Hasil evaluasi Siklus I menunjukkan peningkatan yang signifikan: nilai rata-rata kelas naik menjadi 78 dan tingkat ketuntasan meningkat menjadi 70% (14 dari 20 siswa). Meskipun demikian, masih terdapat 6 siswa yang belum mencapai KKM, sehingga diperlukan perbaikan pada Siklus II. Berdasarkan observasi, siswa terlihat lebih aktif dan antusias, namun masih terdapat beberapa siswa yang pasif dalam diskusi dan kesulitan dalam menghubungkan simbol dengan bentuk pecahan.[9]

Tabel 2. Rekapitulasi Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I

Kriteria

Jumlah Siswa

Persentase

Tuntas (≥ 75)

14

70%

Belum Tuntas (< 75)

6

30%

Jumlah

20

100%

Nilai Rata-rata

78

-

 

C. Hasil Siklus II

Berdasarkan refleksi Siklus I, sejumlah perbaikan diterapkan pada Siklus II: pemberian bimbingan yang lebih intensif kepada siswa yang belum tuntas, pembentukan kelompok secara heterogen, penambahan variasi latihan soal, serta pemberian penghargaan bagi kelompok yang aktif. Guru juga menjelaskan penggunaan puzzle dengan lebih rinci dan memperagakan cara menyusun puzzle sebelum siswa memulai kegiatan.

Hasil evaluasi Siklus II menunjukkan capaian yang sangat memuaskan: nilai rata-rata kelas meningkat menjadi 85 dan tingkat ketuntasan mencapai 90% (18 dari 20 siswa). Seluruh siswa tampak lebih aktif, percaya diri, dan mampu menggunakan media puzzle secara mandiri. Hasil ini telah melampaui indikator keberhasilan yang ditetapkan (minimal 80%), sehingga penelitian dinyatakan berhasil.[10]

Tabel 3. Rekapitulasi Ketuntasan Hasil Belajar Siklus II

Kriteria

Jumlah Siswa

Persentase

Tuntas (≥ 75)

18

90%

Belum Tuntas (< 75)

2

10%

Jumlah

20

100%

Nilai Rata-rata

85

-

 

Tabel 4. Rekapitulasi Peningkatan Hasil Belajar Antarsiklus

Tahap

Nilai Rata-rata

Ketuntasan (%)

Pra Siklus

68

35%

Siklus I

78

70%

Siklus II

85

90%

 

PEMBAHASAN

Hasil penelitian secara keseluruhan memperlihatkan pola peningkatan hasil belajar yang konsisten pada setiap tahapan. Peningkatan nilai rata-rata dari 68 (pra siklus) menjadi 78 (Siklus I) dan 85 (Siklus II) menunjukkan bahwa media puzzle pecahan berperan penting dalam membantu siswa memahami konsep pecahan yang sebelumnya dianggap abstrak dan sulit dipahami melalui pembelajaran konvensional.

Efektivitas media ini dapat dijelaskan melalui teori belajar konstruktivisme yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa melalui pengalaman belajar yang bermakna. Dalam proses pembelajaran menggunakan puzzle pecahan, siswa tidak sekadar menerima informasi dari guru, melainkan aktif menemukan konsep melalui kegiatan manipulatif yang dilakukan secara langsung—menyusun, mencocokkan, dan mendiskusikan bentuk serta nilai pecahan bersama teman kelompoknya.

Peningkatan juga tampak dari dimensi keaktifan siswa. Selama Siklus II, hampir seluruh siswa terlibat aktif dalam diskusi kelompok, mengajukan pertanyaan, dan berani mempresentasikan hasil kerja kelompok—suatu perubahan yang signifikan dari kondisi pra siklus di mana siswa cenderung pasif. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang menyimpulkan bahwa media pembelajaran yang menarik mampu meningkatkan motivasi belajar siswa dan menciptakan suasana pembelajaran yang lebih aktif serta menyenangkan.[11]

Temuan ini juga didukung oleh teori perkembangan kognitif Piaget yang menempatkan siswa usia sekolah dasar pada tahap operasional konkret. Pada tahap ini, pemahaman konsep akan lebih mudah dicapai melalui interaksi langsung dengan objek nyata atau media yang dapat dimanipulasi.[12] Puzzle pecahan memenuhi kriteria tersebut karena memungkinkan siswa belajar melalui pengalaman konkret—mengamati, menyusun, dan mencocokkan bentuk pecahan secara nyata.[13]

Temuan penelitian ini juga selaras dengan sejumlah penelitian terdahulu. Wahyuni dan Nasution (2025) melaporkan bahwa penggunaan alat peraga puzzle secara signifikan meningkatkan hasil belajar matematika pada materi pecahan di sekolah dasar. Sari dkk. (2024) menemukan peningkatan keaktifan, antusiasme, dan hasil belajar siswa melalui penggunaan puzzle pecahan. Kesesuaian temuan lintas berbagai konteks ini memperkuat validitas kesimpulan penelitian.[14]

 

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus, dapat ditarik dua simpulan utama.

Pertama, penerapan media pembelajaran puzzle pecahan pada pembelajaran matematika materi pecahan di kelas IV MI At-Taufiq dapat terlaksana dengan baik melalui tahapan PTK yang sistematis. Penggunaan media ini terbukti mampu meningkatkan perhatian, keaktifan, dan motivasi belajar siswa secara signifikan dibandingkan kondisi sebelum tindakan. Siswa lebih aktif berdiskusi, berani bertanya, dan berpartisipasi dalam setiap tahapan pembelajaran.

Kedua, media pembelajaran puzzle pecahan terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar matematika materi pecahan. Nilai rata-rata kelas meningkat dari 68 (pra siklus) menjadi 78 (Siklus I) dan 85 (Siklus II), dengan persentase ketuntasan belajar meningkat dari 35% menjadi 70% dan mencapai 90% pada Siklus II. Dengan demikian, media pembelajaran puzzle pecahan direkomendasikan sebagai salah satu alternatif media inovatif yang dapat dimanfaatkan guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran matematika, khususnya pada materi pecahan, di sekolah dasar.

 

 

 

 

REFERENSI

Ajizah, S. N., Andjariani, E. W., & Dewi, G. K. (2023). Pengembangan kartu domino pecahan sebagai media pembelajaran matematika kelas II sekolah dasar. JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 6(12).

Arsyad, A. (2017). Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.

Hamalik, O. (2019). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Kholifah, U., Mukti, L. I., & Ermawati, D. (2024). Penerapan model problem based learning berbantuan puzzle pecahan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa sekolah dasar. Fraktal: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, 5(2), 27–36.

Nurhayati, S., Rahmawati, D., & Lestari, P. (2024). Pembelajaran matematika sekolah dasar dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara, 9(1), 45–53.

Pratiwi, S. S., Dewi, C., & Hayati, N. (2024). Penerapan media pembelajaran puzzle pecahan untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik kelas II pada pembelajaran matematika di SDN 01 Mojorejo Kota Madiun. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 9(4).

Ridho’i, M., & Fauzi, M. (2025). Pengembangan media puzzle pecahan terintegrasi HOTS dalam pembelajaran matematika untuk siswa sekolah dasar. Jurnal Evaluasi dan Kajian Strategis Pendidikan Dasar, 2(2), 34–39.

Sari, T. K., Nugraheni, N., & Murti, T. S. D. (2024). Meningkatkan hasil belajar matematika materi pecahan melalui puzzle pecahan siswa kelas II SDN Sampangan 02. Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI), 2(1), 30–32.

Slavin, R. E. (2018). Psikologi Pendidikan: Teori dan Praktik (Edisi Bahasa Indonesia). Jakarta: Indeks.

Suprijono, A. (2019). Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tukan, A. C. K., Puang, D. M. E., & Timba, F. N. S. (2025). Pengaruh penggunaan media puzzle pecahan terhadap hasil belajar matematika kelas 4 sekolah dasar. Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, 11(4).

Ulfainna, N., Mulk, M. T., Nurizza, A., Satriani, S., Abira, A., & Madjid, T. (2025). Efektivitas media puzzle dalam meningkatkan pemahaman konsep pecahan matematika pada siswa sekolah dasar. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar (JIPDAS), 5(1), 540–548.

Wahyuni, R., & Nasution, H. A. (2025). Pengaruh penggunaan alat peraga puzzle terhadap hasil belajar matematika pada materi pecahan di sekolah dasar. MES: Journal of Mathematics Education and Science, 10(2).



[1]Ulfainna, N., Mulk, M. T., Nurizza, A., Satriani, S., Abira, A., & Madjid, T. (2025). Efektivitas media puzzle dalam meningkatkan pemahaman konsep pecahan matematika pada siswa sekolah dasar. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar (JIPDAS), 5(1), 540–548.

[2]Tukan, A. C. K., Puang, D. M. E., & Timba, F. N. S. (2025). Pengaruh penggunaan media puzzle pecahan terhadap hasil belajar matematika kelas 4 sekolah dasar. Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, 11(4).

[3]Ajizah, S. N., Andjariani, E. W., & Dewi, G. K. (2023). Pengembangan kartu domino pecahan sebagai media pembelajaran matematika kelas II sekolah dasar. JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 6(12).

[4]Ridho'i, M., & Fauzi, M. (2025). Pengembangan media puzzle pecahan terintegrasi HOTS dalam pembelajaran matematika untuk siswa sekolah dasar. Jurnal Evaluasi dan Kajian Strategis Pendidikan Dasar, 2(2), 34–39.

[5]Pratiwi, S. S., Dewi, C., & Hayati, N. (2024). Penerapan media pembelajaran puzzle pecahan untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik kelas II pada pembelajaran matematika di SDN 01 Mojorejo Kota Madiun. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 9(4).

[6] Kholifah, U., Mukti, L. I., & Ermawati, D. (2024). Penerapan model problem based learning berbantuan puzzle pecahan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa sekolah dasar. Fraktal: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, 5(2), 27–36.

[7]Nurhayati, S., Rahmawati, D., & Lestari, P. (2024). Pembelajaran matematika sekolah dasar dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara, 9(1), 45–53.

[8]Sari, T. K., Nugraheni, N., & Murti, T. S. D. (2024). Meningkatkan hasil belajar matematika materi pecahan melalui puzzle pecahan siswa kelas II SDN Sampangan 02. Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI), 2(1), 30–32.

 

 

[10] Suprijono, A. (2019). Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

[11]Arsyad, A. (2017). Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.

[12] Hamalik, O. (2019). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

[13]Slavin, R. E. (2018). Psikologi Pendidikan: Teori dan Praktik (Edisi Bahasa Indonesia). Jakarta: Indeks.

[14]Wahyuni, R., & Nasution, H. A. (2025). Pengaruh penggunaan alat peraga puzzle terhadap hasil belajar matematika pada materi pecahan di sekolah dasar. MES: Journal of Mathematics Education and Science, 10(2).

Penerapan Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPAS Materi Wujud Zat dan Perubahannya Pada Siswa Kelas IV MI/SD

 

Penerapan Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPAS Materi Wujud Zat dan Perubahannya Pada Siswa Kelas IV MI/SD

Penerapan Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPAS Materi Wujud Zat dan Perubahannya Pada Siswa Kelas IV MI/SD | Kadir | Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin 

Marniati Kadir, 1 Lusiana Amanda Lestari2, Sheilla Oktaviani3

1,2, 3Program Studi PGMI, UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda

E-mail : lusianaa447@gmail.com, sheillaoktaviani56@gmail.com

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPAS materi wujud zat dan perubahannya melalui penerapan model Problem Based Learning (PBL) pada siswa kelas IV MI Darus Sakinah Tenggarong Seberang. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 24 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketuntasan belajar meningkat dari 16,67% pada pra siklus menjadi 66,67% pada siklus I dan mencapai 83,33% pada siklus II. Selain meningkatkan hasil belajar, model PBL juga meningkatkan keaktifan siswa dalam berdiskusi, bertanya, bekerja sama, dan mempresentasikan hasil pembelajaran.

Kata Kunci: Problem Based Learning, hasil belajar, IPAS.

Abstrak

This study aimed to improve students' learning outcomes on the topic of states of matter and their changes through the implementation of the Problem-Based Learning model. This classroom action research was conducted in two cycles. The results showed that learning mastery increased from 16.67% in the pre-cycle to 66.67% in Cycle I and 83.33% in Cycle II. The implementation of PBL also improved students’ participation, collaboration, and problem-solving abilities during the learning process.

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar yang memungkinkan peserta didik mengembangkan potensi dirinya secara optimal. Melalui pendidikan, peserta didik diharapkan mampu memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai yang diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satu mata pelajaran yang berperan penting dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah peserta didik adalah Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS).

Pembelajaran IPAS di sekolah dasar tidak hanya bertujuan memberikan pemahaman konsep kepada peserta didik, tetapi juga membantu mereka memahami berbagai fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu materi yang dipelajari pada kelas IV adalah wujud zat dan perubahannya. Materi ini memiliki keterkaitan yang erat dengan berbagai peristiwa yang sering dijumpai siswa dalam kehidupan sehari-hari, seperti mencairnya es, menguapnya air, dan mengembunnya uap air. Oleh karena itu, pembelajaran materi wujud zat dan perubahannya memerlukan keterlibatan aktif siswa agar konsep yang dipelajari dapat dipahami secara optimal.

Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan di kelas IV MI Darus Sakinah Tenggarong Seberang, ditemukan bahwa hasil belajar siswa pada materi wujud zat dan perubahannya masih belum mencapai hasil yang diharapkan. Sebagian siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep perubahan wujud zat karena pembelajaran masih didominasi oleh metode ceramah. Kondisi tersebut menyebabkan siswa cenderung pasif dan kurang terlibat dalam proses pembelajaran.

Dampaknya, hasil belajar siswa masih rendah dan belum memenuhi target ketuntasan yang ditetapkan. Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah penerapan model Problem Based Learning (PBL). Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan menjadikan masalah sebagai titik awal pembelajaran. Melalui model ini, siswa didorong untuk berpikir kritis, bekerja sama, mencari informasi, serta menemukan solusi terhadap permasalahan yang diberikan. Dengan keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran, siswa diharapkan mampu membangun pemahamannya sendiri sehingga hasil belajar menjadi lebih baik. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar, keaktifan, serta kemampuan pemecahan masalah siswa. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana penerapan model Problem Based Learning dalam meningkatkan hasil belajar IPAS materi wujud zat dan perubahannya pada siswa kelas IV MI Darus Sakinah Tenggarong Seberang.

Berdasarkan uraian tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar IPAS materi wujud zat dan perubahannya melalui penerapan model Problem Based Learning pada siswa kelas IV MI Darus Sakinah Tenggarong Seberang.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPAS materi wujud zat dan perubahannya melalui penerapan model Problem Based Learning (PBL). Penelitian dilaksanakan di MI Darus Sakinah Tenggarong Seberang pada semester genap tahun pelajaran 2025/2026.

Subjek penelitian adalah siswa kelas IV MI Darus Sakinah Tenggarong Seberang yang berjumlah 24 siswa, terdiri atas 14 siswa laki-laki dan 10 siswa perempuan. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri atas empat tahap, yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), observasi (observation), dan refleksi (reflection).

Pada tahap perencanaan, peneliti menyusun perangkat pembelajaran yang meliputi modul ajar, lembar kerja peserta didik (LKPD), media pembelajaran, instrumen observasi, dan soal evaluasi. Tahap pelaksanaan tindakan dilakukan dengan menerapkan model Problem Based Learning sesuai langkah-langkah yang telah direncanakan. Tahap observasi dilakukan untuk mengamati aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Selanjutnya, tahap refleksi dilakukan untuk mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan sebagai dasar perbaikan pada siklus berikutnya.

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi tes, observasi, dan wawancara. Tes digunakan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada setiap siklus. Observasi digunakan untuk mengamati aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran. Wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi pendukung terkait pelaksanaan pembelajaran dan kendala yang dihadapi selama penelitian.

Data hasil belajar dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan menghitung nilai rata-rata dan persentase ketuntasan belajar siswa. Adapun data hasil observasi dan wawancara dianalisis secara deskriptif kualitatif untuk menggambarkan aktivitas siswa serta pelaksanaan pembelajaran menggunakan model Problem Based Learning. Indikator keberhasilan penelitian ditetapkan apabila minimal 80% siswa mencapai ketuntasan belajar sesuai dengan KKM yang telah ditentukan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 Hasil Penelitian

Penerapan model Problem Based Learning (PBL) menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa pada setiap siklus. Rekapitulasi hasil belajar siswa dapat dilihat pada Tabel 1.

     Tabel 1. Rekapitulasi  Hasil Belajar Siswa

Tahap

Rata-rata Nilai

Jumlah Tuntas

Persentase Ketuntasan

Pra Siklus

75

4 Siswa

16, 67%

Siklus I

85

16 Siswa

66, 67%

Siklus II

90

20 Siswa

83, 33%

         

Data tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang signifikan. Persentase ketuntasan belajar meningkat dari 16,67% pada pra siklus menjadi 66,67% pada siklus I dan mencapai 83,33% pada siklus II.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Peningkatan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Problem Based Learning

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning mampu meningkatkan hasil belajar siswa pada materi wujud zat dan perubahannya. Pada tahap pra siklus, pembelajaran masih didominasi metode ceramah sehingga siswa cenderung pasif dan kurang memahami materi secara mendalam. Kondisi ini berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa. Setelah penerapan model Problem Based Learning pada siklus I, hasil belajar siswa mulai menunjukkan peningkatan. Melalui kegiatan pemecahan masalah, siswa diberikan kesempatan untuk mengidentifikasi masalah, berdiskusi dalam kelompok, mencari informasi, dan menemukan solusi terhadap masalah yang diberikan. Aktivitas tersebut membantu siswa membangun pemahamannya sendiri terhadap konsep yang dipelajari.

Peningkatan hasil belajar semakin terlihat pada siklus II. Ketuntasan belajar mencapai 83,33% sehingga indikator keberhasilan penelitian telah tercapai. Hasil ini menunjukkan bahwa model Problem Based Learning mampu membantu siswa memahami materi secara lebih mendalam melalui pengalaman belajar yang bermakna.

Peningkatan Keaktifan Siswa Melalui Model Problem Based Learning

Selain meningkatkan hasil belajar, penerapan model Problem Based Learning juga meningkatkan keaktifan siswa selama proses pembelajaran. Pada tahap pra siklus, siswa lebih banyak mendengarkan penjelasan guru dan kurang terlibat dalam kegiatan pembelajaran.

Pada siklus I, siswa mulai aktif bertanya, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat selama proses pembelajaran. Siswa terlihat lebih antusias ketika diberikan permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Pada siklus II, keaktifan siswa meningkat secara signifikan. Sebagian besar siswa mampu bekerja sama dalam kelompok, mengemukakan pendapat, menjawab pertanyaan, dan mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas. Kondisi ini menunjukkan bahwa model Problem Based Learning mampu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih interaktif dan berpusat pada siswa.

Efektivitas Model Problem Based Learning pada Materi Wujud Zat dan Perubahannya

Materi wujud zat dan perubahannya sangat sesuai diajarkan menggunakan model Problem Based Learning karena berkaitan erat dengan fenomena yang ditemui siswa dalam kehidupan sehari-hari. Melalui model ini, siswa dapat menghubungkan konsep yang dipelajari dengan pengalaman nyata sehingga pemahaman mereka menjadi lebih baik.

Penerapan model Problem Based Learning memungkinkan siswa belajar melalui kegiatan penyelidikan, pengamatan, diskusi, dan pemecahan masalah. Kegiatan tersebut membantu siswa memahami konsep secara lebih konkret dibandingkan hanya menerima informasi dari guru. Oleh karena itu, model Problem Based Learning dapat dijadikan salah satu alternatif pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPAS.

 

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa penerapan model Problem Based Learning (PBL) mampu meningkatkan hasil belajar IPAS pada materi wujud zat dan perubahannya pada siswa kelas IV MI Darus Sakinah Tenggarong Seberang. Peningkatan hasil belajar terlihat dari persentase ketuntasan belajar siswa yang mengalami peningkatan pada setiap siklus, yaitu dari 16,67% pada pra siklus menjadi 66,67% pada Siklus I dan mencapai 83,33% pada Siklus II.

Selain meningkatkan hasil belajar, penerapan model Problem Based Learning (PBL) juga mampu meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Siswa menjadi lebih aktif dalam bertanya, menjawab pertanyaan, mengemukakan pendapat, berdiskusi, bekerja sama dalam kelompok, serta mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas. Melalui kegiatan pemecahan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna sehingga pemahaman terhadap materi menjadi lebih baik. Dengan demikian, model Problem Based Learning (PBL) dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa pada pembelajaran IPAS, khususnya materi wujud zat dan perubahannya di sekolah dasar.

 

REFERENSI

Anggelina, P., & Harjono, N. Perbedaan Efektivitas Model Problem Based Learning dan Discovery Learning dalam Meningkatkan Hasil Belajar IPA Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu (2022).

Arrends, R. I. Learning to Teach (9 th ed.). New York : McGraw-Hill Education (2012).

D.Pratiwi dan A. Nugraha, Analisis Kesulitan Belajar Siswa pada Materi Wujud Zat dan Perubahannya di Sekolah Dasar, Jurnal Basicedu 7, no. 1 (2023).

Dita Asendra Marcesa, Nur Samsiyah, dan Yuyun Arif Hidayati, “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPAS Melalui Model Problem Based Learning Materi Wujud Zat dan Perubahannya,” Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, Vol. 8, No. 1, (2023).

Dita Rahmayanti, Fitria Meilina, dan Alda Zahara Islamyati, Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPAS melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning Materi Wujud Zat dan Perubahannya pada Siswa Kelas IV Sekolah Dasar, Jurnal Basicedu 8, no. 2 (2024).

Fatah, P. R., Kisai, A. A., Nurkholis, N., & Labudasari, E. Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) sebagai Peningkatan Hasil Belajar IPAS pada Siswa Sekolah Dasar. Paedagogi, Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (2023).

Fitriani, N. Penerapan Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Dasar 7, no. 2 (2022).

 Hasriana, Afdhal Fatawuri Syamsuddin, dan Herawati, “Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Muatan IPAS Materi Wujud Zat  dan Perubahannya Kelas IV UPTD SD Negeri 117 Barru,” Global Journal Teaching  Professional, Vol. 3, No. 2, (2023.

Hosnan. Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor: Ghalia Indonesia (2014).

I Rahmawati, Y. Suryana, dan R. Putra, Pengaruh Metode Ceramah terhadap Keaktifan Belajar Siswa Sekolah Dasar,  Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar 6, no. 3 (2022).

L. Utami dan U. Hasanah, Efektivitas Model Problem Based Learning terhadap Hasil Belajar IPAS Siswa Sekolah Dasar, Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar 9, no. 1 (2024).

N. Fitriani,  Penerapan Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Sekolah Dasar,  Jurnal Pendidikan Dasar 7, no. 2 (2022).

Nurrita, Teni. Pengembangan Pembelajaran IPAS di Sekolah Dasar dalam Kurikulum Merdeka. Jurnal Pendidikan dan Konseling 4, no. 5 (2022).

Pratiwi, D., dan A. Nugraha. Analisis Kesulitan Belajar Siswa pada Materi Wujud Zat dan Perubahannya di Sekolah Dasar.  Jurnal Basicedu 7, no. 1 (2023).

Putri Nuryani, Kamaruddin Hasan, dan Hairuddin Hairuddin,  Peningkatkan Hasil Belajar IPA Melalui Penerapan Model Problem Based Learning di Sekolah Dasar, Pinisi Journal of Education 2, no. 1 (2022).

Rahmawati, I., Y. Suryana, dan R. Putra. Pengaruh Metode Ceramah terhadap Keaktifan Belajar Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar 6, no. 3 (2022).

Rahmayanti, D., Meilina, F., & Islamyati, A. Z.  Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPAS melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning Materi Wujud Zat dan Perubahannya pada Siswa Kelas IV Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu (2024).

Rusman. Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajawali Pers (2018).

Sanjaya, W. Strategi Pembelajaran Beriorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana (2016).

Sari, M., dan R. Wahyuni. Pentingnya Pembelajaran Kontekstual pada Materi Wujud Zat dan Perubahannya di Sekolah Dasar. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar 8, no. 1 (2023).

Setiawan, T., Sumilat, J. M., Paruntu, N. M., & Monigir, N. N. Analisis Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning dan Problem Based Learning pada Peserta Didik Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu (2022).

Trianto. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif, dan Kontekstual. Jakarta: Kencana (2017).

Utami, L., dan U. Hasanah. Efektivitas Model Problem Based Learning terhadap Hasil Belajar IPAS Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar 9, no. 1 (2024).

Wiyoko, T. Upaya Meningkatkan Proses dan Hasil Belajar IPA Melalui Model Problem Based Learning Kelas III Sekolah Dasar. Jurnal Gentala Pendidikan Dasar (2022).

Yuristia, F., Hidayati, A., & Ratih, M. Pengembangan Modul Pembelajaran IPA Berbasis Problem Based Learning pada Pembelajaran Tematik Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu (2022).