Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia
Volume 4, Nomor 10, January 2026, P. 208-212Licenced by CC BY-SA 4.0
e-ISSN: 2986-7002
DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.18667552
Education on the Administration of Katuk Leaves to
Increase Breast Milk Production in Postpartum Mothers at Pasar X Community
Health Center, Bandar Khalipah Village, Percut Sei Tuan District, 2025
Sri Putriani Sinaga1,
Desikawali Pardede2, Meria Turnip3
1,2,3Institut
Kesehatan Medistra Lubuk Pakam
Email: putrisinaga222@gmail.com
Abstrak
Produksi air susu ibu (ASI) pada masa postpartum menjadi fenomena fisiologis yang
ditentukan oleh sinergi regulasi hormonal, stabilitas psikis ibu, serta
kecukupan asupan nutrisi. Kegiatan PkM ini bertujuan untukmeningkatkan
pemberian daun katuk sebagai upaya untuk menstimulasi volume ASI. Peserta terdiri dari 12
ibu postpartum yang telah dipilih berdasarkan kriteria inklusi yang ditetapkan.
Pengukuran produksi ASI dilakukan berdasarkan hasil observasi dan laporan
subjektif dari ibu. Metode pelaksanaan meliputi pretest-posttest menunjukkan bahwa sebelum intervensi, sebanyak
7 responden (58,3%) mengalami penurunan produksi ASI dan tidak ditemukan
responden dengan peningkatan produksi ASI. Setelah diberikan intervensi daun
katuk selama periode tertentu, sebanyak 5 peserta (41,7%) mengalami peningkatan
produksi ASI, 4 peserta (33,3%) tidak mengalami perubahan, dan 3 peserta
(25,0%) mengalami penurunan. Nilai rata-rata skor produksi ASI sebelum intervensi
sebesar 2,58 (SD = 0,515) dan menurun menjadi 1,83 (SD = 0,835) setelah
intervensi. Temuan ini menguatkan peran daun katuk sebagai agen laktagogum yang
efektif dalam menstimulasi peningkatan volume ASI ibu postpartum dan dapat
digunakan sebagai alternatif nonfarmakologis dalam mendukung keberhasilan
laktasi.
Kata kunci: Daun Katuk, Produksi ASI, Ibu Post Partum,
Galaktagogum, Laktasi.
Abstract
Breast milk production
during the postpartum period is a physiological phenomenon determined by the
synergy of hormonal regulation, maternal psychological stability, and adequate
nutritional intake. This community service activity (PkM) aimed to increase the
use of katuk leaves as an effort to stimulate breast milk volume. The
participants consisted of 12 postpartum mothers selected based on predetermined
inclusion criteria. Breast milk production was measured based on observational
results and mothers’ subjective reports.The implementation method used a
pretest–posttest design. The results showed that before the intervention, 7
respondents (58.3%) experienced a decrease in breast milk production, and no
respondents showed an increase. After being given katuk leaf intervention for a
certain period, 5 participants (41.7%) experienced an increase in breast milk
production, 4 participants (33.3%) experienced no change, and 3 participants
(25.0%) experienced a decrease. The mean breast milk production score before
the intervention was 2.58 (SD = 0.515) and decreased to 1.83 (SD = 0.835) after
the intervention. These findings reinforce the role of katuk leaves as an
effective lactagogue agent in stimulating increased breast milk volume in
postpartum mothers and suggest that it can be used as a non-pharmacological
alternative to support successful lactation.
Keywords: Katuk leaves, breast milk production,
postpartum mothers, lactagogue, lactation.
PENDAHULUAN
WHO bersama UNICEF menekankan pentingnya masa
laktasi eksklusif pada semester pertama kehidupan bayi, diikuti dengan
pemberian ASI berkelanjutan hingga usia 24 bulan. Laporan global tahun 2022
menunjukkan bahwa hanya 44% bayi di dunia yang mendapatkan ASI eksklusif.
Walaupun terdapat pertumbuhan positif, persentase ini diklasifikasikan belum
memenuhi target strategis WHO yang mengharuskan pencapaian minimal sebesar 50%.
Rendahnya angka pemberian ASI eksklusif ini berpotensi memberikan dampak
negatif terhadap kualitas kesehatan dan daya tahan hidup generasi penerus di
masa mendatang (WHO, 2020).
Berdasarkan data Profil Kesehatan Indonesia
tahun 2021, cakupan pemberian ASI eksklusif di Provinsi Jawa Barat menunjukkan
tren peningkatan, yaitu dari 71,11% pada tahun 2019 menjadi 76,11% pada tahun
2021. Sementara itu, data Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat tahun 2021 menunjukkan
adanya peningkatan tren pemberian ASI eksklusif di Kabupaten Bekasi ke angka
65,5% dari semula 58,3% pada tahun 2020. Kendati demikian, pencapaian ini
dinilai belum optimal karena masih terdapat kesenjangan terhadap target yang
diproyeksikan oleh Kementerian Kesehatan RI. Merujuk pada Keputusan Menteri
Kesehatan No. 450/2004, target cakupan ASI eksklusif nasional ditetapkan
sebesar 80%, sehingga hasil di Kabupaten Bekasi masih memerlukan eskalasi lebih
lanjut (Pendidikan et al., 2023).
Meskipun berbagai upaya telah dilakukan,
pemerintah belum sepenuhnya mampu mencapai target yang telah ditetapkan karena Praktik
pemberian ASI tidak sepenuhnya diterapkan oleh seluruh ibu karena adanya
determinan yang bersifat multifaktorial, misalnya kekhawatiran terhadap
perubahan bentuk tubuh, tuntutan pekerjaan, serta anggapan bahwa menyusui dapat
menyebabkan payudara menjadi kendur. Di sisi lain, terdapat pula ibu yang
memiliki keinginan untuk menyusui bayinya, namun menghadapi berbagai kendala, terutama
produksi ASI tidak lancar atau jumlahnya relatif sedikit. Kondisi tersebut
mendorong ibu untuk memberikan susu formula sebagai alternatif pemenuhan
kebutuhan nutrisi bayi (Queen Westi Isnaini & Nuzuliana, 2023).
Pemanfaatan daun katuk sebagai upaya
peningkatan produksi ASI telah banyak diteliti, terutama melalui pengolahan
sebagai sayuran maupun lalapan (Rahmanisa, 2016). Situmorang dan Singarimbun
(2019) menyatakan bahwa kandungan protein dalam daun katuk berperan dalam
merangsang pengeluaran air susu ibu. Selain itu, senyawa steroid dan polifenol
yang terkandung di dalamnya berfungsi meningkatkan kadar hormon prolaktin. Daun
katuk juga mengandung senyawa laktagogum yang mampu menstimulasi hormon
prolaktin dan oksitosin, seperti polifenol, alkaloid, steroid, dan flavonoid,
yang efektif dalam meningkatkan proses sekresi serta pengeluaran ASI. Namun
demikian, Suwanti, Endang, dan Kuswati (2016) mengungkapkan konsumsi daun katuk
secara berlebihan, khususnya dalam keadaan mentah, dapat menimbulkan efek
samping berupa keracunan papaverin. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan
gangguan pernapasan akibat penyumbatan udara di paru-paru hingga berisiko
menyebabkan kematian (Sagala & Choirunnisa, 2022).
Hasil wawancara 10 ibu postpartum di wilayah
kerja Puskesmas Pasar X, Desa Bandar Khalipah, Kabupaten Deli Serdang,
diperoleh data bahwa hanya 30% ibu postpartum yang memberikan ASI secara
eksklusif, sedangkan 70% lainnya memberikan susu formula, karena produksi ASI
yang masih sedikit. Selain itu, ibu juga mengungkapkan adanya kekhawatiran
tidak mampu merawat bayinya dengan baik serta kurangnya asupan nutrisi bisa
menghambat produksi ASI. Pada masa nifas, sebagian besar ibu juga menyatakan
jarang mengonsumsi sayur-sayuran hijau yang berperan penting dalam mendukung
kecukupan nutrisi selama menyusui.
METODE
Kegiatan PkM ini dilaksanakan
melalui metode edukasi
dan praktik langsung
tentang manfaat dan
penerapan ini adalah daun katuk segar (Sauropus androgynus) yang diolah
menjadi sayur rebus sesuai dengan SOP. Daun katuk diberikan kepada peserta
dengan dosis 300 gram per hari yang dikonsumsi dua kali sehari selama 7 hari
berturut-turut.
Alat yang digunakan meliputi lembar SOP pemberian daun
katuk, lembar observasi produksi ASI, timbangan gelar ukur untuk estimasi
volume produksi ASI, serta lembar persetujuan menjadi responden untuk
memastikan etika PkM tetap terjaga.
Prosedur kegiatan PkM diawali dengan pemberian penjelasan
kepada ibu postpartum mengenai manfaat yang diperoleh, serta tata cara konsumsi
daun katuk. Setelah peserta menyatakan persetujuan untuk peserta dalam PkM, PkM
melakukan pengukuran awal (pretest) melalui observasi dan self-report
guna mengetahui kondisi produksi ASI sebelum diberikan intervensi. Selanjutnya,
responden diberikan intervensi berupa konsumsi daun katuk sesuai dengan standar
operasional prosedur (SOP). Setelah intervensi berlangsung selama tujuh hari,
dilakukan kembali pengukuran produksi ASI (posttest) dengan metode yang
sama.
HASIL
Hasil PKM menunjukkan frekuensi & persentase
peserta berdasarkan karakteristik ibu di Puskesmas Pasar X Bandar
Khalipah
|
Karakteristik |
N |
% |
|
Usia Ibu |
|
|
|
20-25 Tahun |
5 |
41.7 |
|
26-30 Tahun |
4 |
33.3 |
|
> 30 Tahun |
3 |
25.0 |
|
Total |
12 |
100.0 |
|
Pendidikan
Ibu |
|
|
|
SD |
1 |
8.3 |
|
SMP |
2 |
16.7 |
|
SMA |
5 |
41.7 |
|
S1 |
4 |
33.3 |
|
Total |
12 |
100.0 |
|
Pekerjaan |
|
|
|
IRT |
8 |
66.7 |
|
PNS |
3 |
25.0 |
|
Peìgawai Swasta |
1 |
8.3 |
|
Total |
12 |
100.0 |
Jumlah
peserta dalam PKM ini sebanyak 12 orang. Berdasarkan distribusi usia, sebagian
besar peserta pada rentang usia 20–25 tahun, 5 peserta (41,7%), usia 26–30
tahun sebanyak 4 peserta (33,3%), serta usia di atas 30 tahun sebanyak 3 peserta
(25,0%). Ditinjau dari tingkat pendidikan, mayoritas peserta memiliki
pendidikan terakhir SMA, yaitu sebanyak 5 perserta (41,7%), disusul oleh
pendidikan S1 sebanyak 4 peserta (33,3%), pendidikan SMP sebanyak 2 peserta
(16,7%), dan pendidikan SD sebanyak 1 peserta (8,3%). Sementara itu,
berdasarkan karakteristik pekerjaan, mayoritas berprofesi sebagai IRT, yaitu 8 peserta
(66,7%), diikuti oleh PNS 4 peserta (33,3%), serta pegawai swasta sebanyak 1 peserta
(8,3%). Selain itu, frekuensi & persentase peserta berdasarkan
produksi ASI sebelum intervensi.
|
Produksi ASI
|
N |
% |
|
Naik |
0 |
0 |
|
Teìtap |
5 |
41.7 |
|
Turun |
7 |
58.3 |
|
Total |
12 |
100.0 |
Berdasarkan
tabel 2 sebelum pemberian daun katuk, mayoritas ibu post partum
mengalami produksi ASI turun, 7 peserta (58.3%), diikuti oleh produksi ASI
tetap sebanyak 5 peserta (58.3%), dan produksi ASI naik sebanyak 0 peserta
(0%).
Tabel 3 frekuensi & persentase peserta berdasarkan
produksi ASI setelah dilakukan pemberian daun katuk.
|
Produksi ASI
|
n |
% |
|
Naik |
5 |
41.7 |
|
Teìtap |
4 |
33.3 |
|
Turun |
3 |
25.0 |
|
Total |
12 |
100.0 |
Berdasarkan
tabel 3 diketahui bahwa setelah pemberian daun katuk, mayoritas
ibu post partum mengalami produksi ASI naik, yaitu sebanyak 5 peserta (41.7%),
diikuti oleh produksi ASI tetap sebanyak 4 peserta (33.3%), dan produksi ASI
turun seìbanyak 3 peserta (25.0%).
Temuan
ini mengindikasikan adanya perbedaan yang bermakna secara statistik pada volume
produksi ASI ibu postpartum antara fase pra-intervensi dan pasca-intervensi
melalui pemberian daun katuk. Data mencatat rerata produksi ASI awal sebesar
2,58 (SD = 0,515), yang kemudian bertransformasi menjadi 1,83 (SD = 0,835)
setelah perlakuan diberikan. Perubahan nilai rata-rata ini memberikan indikasi
kuat bahwa suplementasi daun katuk memiliki efektivitas dalam mengoptimalkan
capaian ASI. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa intervensi tersebut
menghasilkan diferensiasi produksi ASI yang bermakna secara signifikan.
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil PKM yang dilakukan terhadap 12 ibu postpartum di
Puskesmas Pasar X, Desa Bandar Khalipah, Kecamatan Percut Sei Tuan pada tahun
2025, diperoleh hasil bahwa sebelum diberikan intervensi berupa konsumsi daun
katuk, mayoritas peserta mengalami penurunan produksi ASI.
Dari
total 12 responden, sebanyak 7 ibu postpartum (58,3%) melaporkan adanya
penurunan produksi ASI. Penurunan tersebut rata-rata mencapai sekitar 30 ml per
hari, yaitu dari produksi awal sekitar 100 ml per hari menjadi kurang lebih 70
ml per hari. Kondisi ini menunjukkan adanya hambatan atau gangguan dalam proses
laktasi yang dialami oleh sebagian besar ibu postpartum pada periode sebelum
intervensi. Sementara itu, sebanyak 5 peserta (41,7%) menyatakan bahwa produksi
ASI mereka berada dalam kondisi tetap, tanpa mengalami peningkatan maupun
penurunan yang bermakna, dengan kisaran produksi sekitar 100 ml per hari. Selain
itu, tidak terdapat peserta (0%) yang mengalami peningkatan produksi ASI
sebelum dilakukan intervensi.
Sebelum, rata-rata skor produksi ASI pada 12 ibu postpartum sebesar 2,58 dengan standar deviasi 0,515. Setelah di rata-rata skor produksi ASI menurun menjadi 1,83 dengan standar deviasi 0,835. Penurunan skor tersebut secara statistik menunjukkan adanya peningkatan produksi ASI, mengingat sistem penilaian dalam penelitian ini menetapkan bahwa semakin rendah skor yang diperoleh, semakin tinggi volume atau kelancaran produksi ASI. Dengan demikian, perubahan rerata dari 2,58 menjadi 1,83 dapat diinterpretasikan sebagai bukti efektivitas pemberian daun katuk sebagai agen laktagogum yang berperan penting dalam memicu produktivitas laktasi pada masa postpartum.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengapresiasi INKES
Medistra Lubuk Pakam sebagai instansi naungan yang telah memfasilitasi terselenggaranya
program PkM ini, dan berterima kasih kepada SMA Swasta Nusantara Lubuk Pakam
atas kerja sama dan penyediaan sarana pendukung, yang memungkinkan keterlibatan
sejumlah siswi sebagai partisipan program.
REFERENSI
Ade Indriyani, A.,
Besmaya, B. M., Komalasari, K., & Isnaini, M. (2022). Efektivitas simplisia
daun katuk terhadap produksi ASI pada ibu postpartum di PMB Siti Juwariyah, S.
St Kabupaten Tanggamus. Jurnal Maternitas Aisyah (JAMAN Aisyah).
Universitas Aisyah Pringsewu.
Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia. (2004). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 450/Menkes/SK/IV/2004 tentang pemberian ASI eksklusif pada bayi di
Indonesia. Kemenkes RI.
Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia. (2021). Profil kesehatan Indonesia tahun 2021.
Kemenkes RI.
Khotimah, K., Satillah,
S. A., Fitriani, V., Miranti, M., Maulida, M., Hasmalena, H., Pagarwati, L. D.
A., & Zulaiha, D. (2024). Analisis manfaat pemberian ASI eksklusif bagi ibu
menyusui dan perkembangan anak. PAUDIA: Jurnal Penelitian dalam Bidang
Pendidikan Anak Usia Dini, 13(2), 254–266. https://doi.org/10.26877/paudia.v13i2.505
Mawaddah, S., &
Karlawaty, N. (2021). Efektivitas teh daun katuk terhadap produksi ASI pada ibu
postpartum hari ke 4–7. Jurnal Surya Medika (JSM), 6(2), 167–171.
Pendidikan, H. T.,
Pekerjaan, D., & Pengetahuan Ibu. (2023). Hubungan tingkat pendidikan,
pekerjaan, dan pengetahuan ibu terhadap pemberian ASI eksklusif pada bayi usia
0–6 bulan. Jurnal Kesehatan, 7(2), 2–7.
Queen Westi Isnaini, Q.
W., & Nuzuliana, R. (2023). Asuhan kebidanan pada ibu nifas normal. In Prosiding
Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat LPPM Universitas
’Aisyiyah Yogyakarta (Vol. 1, pp. 308–316).
Rahmanisa, S. (2016).
Pemanfaatan daun katuk sebagai galaktagogum untuk meningkatkan produksi ASI. Jurnal
Kesehatan Masyarakat.
Sagala, K., &
Choirunnisa, R. (2022). Efektivitas pemberian daun katuk terhadap produksi ASI
pada ibu postpartum di BPM Bidan Y Bekasi Timur. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 14(1),
117–126. https://doi.org/10.37012/jik.v14i1.810
Saraswati, D. E.
(2024). Pengaruh daun katuk terhadap produksi ASI pada ibu nifas: Studi
literatur. Jurnal Ilmu Kesehatan MAKIA, 14(2), 1–11.
Silaban, V. F.,
Panjaitan, A. G., Yanti, A. R., Pohan, A., & Tampubolon, D. H. (2023).
Efektivitas pemberian ekstrak daun katuk terhadap produksi air susu ibu di
praktik bidan Lasmaria Batangkuis. Malahayati Nursing Journal, 5(5),
1487–1497. https://doi.org/10.33024/mnj.v5i5.8577
World Health
Organization. (2020). Infant and young child feeding. WHO.
World Health
Organization, & United Nations Children’s Fund. (2022). Global
breastfeeding scorecard. WHO & UNICEF.
No comments
Post a Comment