Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Volume
3, Nomor 12, January 2026, P. 777-783
E-ISSN:
2986-6340
DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.18667209
Optimization of Growth and Yield of Eggplant (Solanum melongena L.) Through the Application of Cow Manure and Eco Enzyme
Wiwik Yunidawati
Universitas Amir Hamzah
Email : wiwikynidawati@icloud.com
Abstrak
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk
kotoran sapi dan Eco enzyme terhadap pertumbuhan dan produksi terung ungu (Solanum melongena L.) beserta
interaksinya. Metode penelitian ini
menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial terdiri dari 2 faktor.
Faktor pertama adalah pemberian pupuk kotoran sapi yang terbagi menjadi 3 taraf
yaitu K0 = kontrol (tanpa perlakuan), K1 = 2 kg/plot, K2 = 4
kg/ plot. Faktor kedua adalah Eco enzyme terbagi menjadi 3 taraf yaitu E0
= kontrol (tanpa perlakuan), E1 = 400 ml/tanaman, E2 =
800 ml/tanaman. Adapun parameter yang diamati
adalah jumlah daun (helai), tinggi tanaman (cm), jumlah bunga (kuntum), jumlah
buah per sampel (buah), jumlah buah per plot (buah), berat produksi per sampel
(gram), berat produksi per plot (gram).Dari hasil
analisis secara statistik menunjukan bahwa respon pemberian pupuk kotoran sapi
terhadap pertumbuhan dan produksi terung ungu (Solanum melongena L.) memberikan pengaruh tidak nyata terhadap umur
berbunga, tetapi berpengaruh nyata dan berpengaruh sangat sangat nyata terhadap
jumlah daun, tinggi tanaman, jumlah buah per sampel, jumlah buah per plot,
berat buah per sampel dan berat buah per plot, dimana perlakuan terbaik
terdapat pada K2 (4 kg/plot). Berdasarkan analisis data secara statistik
menunjukan bahwa respon pemberian Eco enzyme terhadap pertumbuhan dan produksi
terung ungu (Solanum melongena L.)
memberikan pengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun, tinggi tanaman, umur
berbunga, tetapi berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah buah per sampel,
jumlah buah per plot, berat buah per sampel (gram), dan berat buah per plot
(gram). Respon interaksi antara pemberian pupuk kotoran sapi dan Eco enzyme
terhadap pertumbuhan dan produksi terung ungu (Solanum melongena L.) memberikan pegaruh tidak nyata terhadap
parameter jumlah daun (helai), tinggi tanaman (cm), umur berbunga (hari),
jumlah buah per plot (buah), berat per sampel (gram), tetapi berpengaruh nyata
terhadap parameter jumlah per sampel (buah), dan berat per plot (gram).
Kata kunci : : Pupuk
kotoran sapi, Eco enzyme dan Solanum melongena L
Abstract
The aim of this study was to determine the effect of
cow manure and eco enzyme application on the growth and yield of eggplant (Solanum
melongena L.), as well as their interaction. This study used a Factorial
Randomized Block Design (RBD) consisting of two factors. The first factor was
cow manure application, divided into three levels: K0 = control (no treatment),
K1 = 2 kg/plot, and K2 = 4 kg/plot. The second factor was eco enzyme
application, divided into three levels: E0 = control (no treatment), E1 = 400
ml/plant, and E2 = 800 ml/plant. The observed parameters included number of
leaves (leaves), plant height (cm), number of flowers (buds), number of fruits
per sample (fruits), number of fruits per plot (fruits), fruit weight per
sample (grams), and fruit weight per plot (grams). Statistical analysis showed
that the application of cow manure had no significant effect on flowering time,
but had a significant and highly significant effect on number of leaves, plant
height, number of fruits per sample, number of fruits per plot, fruit weight
per sample, and fruit weight per plot. The best treatment was K2 (4 kg/plot). Statistical
analysis also indicated that eco enzyme application had no significant effect
on number of leaves, plant height, and flowering time, but had a highly
significant effect on number of fruits per sample, number of fruits per plot,
fruit weight per sample (grams), and fruit weight per plot (grams). The
interaction between cow manure and eco enzyme application showed no significant
effect on number of leaves (leaves), plant height (cm), flowering time (days),
number of fruits per plot (fruits), and fruit weight per sample (grams), but
had a significant effect on number of fruits per sample (fruits) and fruit
weight per plot (grams).
Keywords: Cow manure, eco enzyme, Solanum melongena L.
PENDAHULUAN
Tanaman terung ungu (Solanum melongena L.) adalah jenis
tanaman yang banyak dibudidayakan di Indonesia dan hampir menyebar kesegala
penjuru Nusantara. Buah terung adalah jenis sayuran yang di senangi oleh setiap
orang sebagai lalapan segar ataupun di olah berbagai jenis masakan yang lezat
dan menggugah selera, Terung ungu (Solanum
melongena L.) digunakan sebagai sayuran karena terung mengandung protein,
Vitamin A, Vitamin B, Vitamin C (Saparinto, 2013). Terung
merupakan salah satu jenis sayuran yang sangat populer dan di sukai oleh banyak
orang di karenakan rasanya yang enak dan bisa di jadikan lalapan. Terung
mengandung gizi yang tinggi, terutama seperti Vitamin Adan Fosor (Muldiana dan
Rosdiana, 2017).
Terong adalah
tanaman yang banyak mengandung vitamin dan gizi yang tinggi. seperti vitamin B-kompleks, Thiamin,
Pyridoxine, Riboflavin, zat Besi. Phosporus dan Potassium. Terung merupakan salah satu sumber makanan yang
sangat dikenal oleh semua kalangan masyarakat. Terong sudah menjadi salah satu menu yang paling
diminati berbagai kalangan masyarakat (Hendri, dkk., 2015). Rendahnya
Hasil tanaman terung ungu (Solanum
melongena L,) yang disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya adalah tanah
yang kurang subur, tindakan budidaya yang kurang baikan kondisi iklim yang
kurang baik, serta luas lahan yang digunakan untuk budidaya terung ungu masih
sedikit dan bentuk kultur budidaya yang bersifat sampingan dan juga belum
intensif.
Upaya untuk meningkatkan produksi
terung ungu perlu diterapkan suatu teknologi yang murah, murah, tepat guna dan
juga mudah tersedia pada kalangan petani, khusus nya dengan memanfaatkan
seluruh potensi sumber dayaalam lingkungan pertanian yaitu dengan salah satu
alternatif untuk meningkatkan kesuburan pada tanah ialah dengan melalui
penggunaan pupuk organik seperti pupuk kandang kotoran sapi. Beberapa kelebihan
dari pupuk kandang kotoran sapi ialah untuk memperbaiki struktur tanah dan juga
berperan sebagai pengurai bahan organik oleh mikro organisme tanah (Pranata,
2010). Pertumbuhan penduduk yang pesat harus
diiringi dengan pemenuhan pangan bergizi yang berupa karbohidrat, Vitamin,
mineral, zat besi dan kebutuhan lainnya. Gizi tersebut dapat diperoleh dari
berbagai jenis pangan seperti sayuran dan buah. Sayuran dengan kandungan gizi
yang baik dan cenderung di budidayakan masyarakat baik petani dalam skala besar
atau skala kecil salah satunya merupakan terung ungu (Solanum melongena L.)
(Sakri, 2012).
Berdasarkan
data BPS SUMUT 2017 yang menunjukkan bahwa pada tahun 2014 produksi terung ungu
di Sumatra Utara sebesar 3,847 ton/ha, kemudianpada tahun 2015 produksi terung
ungu di Sumatra mengalami kenaikan yaitu sebesar 3,940 ton/ha. Hal ini
menunjukan adanya kenaikan produksi terung ungu dari tahun 2014 ke 2015.
Kemudian tahun 2016 produksi terung ungu menurun menjadi 3,63 ton/ha. Dari data
BPS SUMUT 2017 menunjukan adanya ketidak stabilan produksi dari tanaman terung
ungu di Sumatra Utara. Dimana permintaan terhadap buah terung ungu selama ini
terus meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk yang diikuti dengan
meningkatnya kesadaran akan manfaat sayur-sayuran dalam memenuhi kebutuhan gizi
keluarga, sehingga produksi tanaman terung perlu di tingkatkan. Untuk
meningkatkan produksi dari tanaman
terung dapat dilakukan melalui program ekstensifikasi dan intensifikasi, namun
dalam usaha peningkatan produktifitas dan efisiensi pengguna tanah, cara
intensifikasilah adalah pilihan yang tepat untuk diterapkan salah satunya
adalah penggunaan pupuk (Ayu 2011 dalam Hanura dan Ajang, 2015).
KAJIAN PUSTAKA
Produk Eco
enzyme merupakan produk ramah lingkungan yang sangat fungisional, mudah
digunakan, dan juga mudah dibuat. Setiap orang dapat membuat produk ini dengan
mudah. Bahan-bahan yang digunakan pun sederhana dan banyak tersedia di sekitar
kita. Pembuatan produk ini hanya membutuhkan air, gula sebagai sumber karbon,
serta sampah organik sayur dan buah. Gula yang digunakan adalah gula merah yang
belum mengalami proses bleaching (pemutihan) seperti gula pasir sehingga dapat
meminimalkan kemungkinan adanya residu senyawa kimia yang yang digunakan dalam
proses bleaching. Selain itu, secara ekonomis harga gula merah lebih murah
disbandingkan harga gula pasir. Pemanfaatan sampah organik untuk pembuatan Eco
enzyme sangat sesuai untuk mengurangi jumlah sampah rumah tangga sebab jenis
sampah organic rumah tangga menempati proporsi paling besar daritotal produksi
sampah. Rat-rata komposisi samapah dibeberapa kota besar di Indonesia adalah:
organik (25%), kertas (10%), plastic (18%), kayu (!2%), logam (11%), kain
(11%), gelas (!!%), lain-lain (!2%). Produksi rumah tangga sendiri sekitar
70-90% dari total produksi sampah di Indonesia (Retno, 2010). Berdasarkan uraian tersebut diatas maka penulis berkeinginan untuk
melakukan penelitian dengan judul “Optimasi Pertumbuhan dan Produksi Terung
Ungu (Solanum melongena L.) Melalui Aplikasi Pupuk Kotoran Sapi dan Eco
Enzyme”.
Pestisida Nabati
Pestisida
nabati adalah pestisida yang bahan aktifnya berasal dari tanmanan atau tumbuhan
dan bahan organik lainnya yang berkhasiat mengendalikan serangan hama pada
tanaman, pengaplikasian pestisida nabati dilakukan dengan jarak waktu 1 minggu
sekali pada tanaman terung ungu. Bahan
aktif yang saya gunakan adalah bawang putih (Allium sativum), daun pepaya (Carica papaya), lidah buaya (Aloe
vera), daun sirsak (Annona muricata).
Bawang putih (Allium sativum)
Bawang
putih bermanfaat sebagai penurun kolestrol. Hal ini karena bawang putih
memiliki zat ajoene yang terkandung didalamnya, yaitu suatu senyawa yang
bersipat anti kolestrol dan membantu mencegah penggumpalan darah. Ada pula
penelitian yang menemukan bahwa mengonsumsi bawang putih secara teratur 2-3
siung setiap hari dapat membantu mencegah serangan jantung. Hal ini karena
bawang putih bermanfaat membantu mengecilkan sumbatan pada arteri jantung
sehingga meminimalkan terjadinya serangan jantung (Untari, 2010).
Daun Pepaya (Carica papaya)
Tanaman pepaya adalah tanaman yang tumbuh di
daerah tropis. Daun pepaya bisa di gunakan secara langsung yaitu sebagai
makanan lalapan untuk menambah nafsu makan, secara tidak langsung misalnya
dengan cara diperas atau diseduh sebagai obat perut atau diare, serta dapat
juga dibuat ekstrak, pil, atau kapsul, cairan dan dikemas modern menjadi suatu
bahan produk sehinga orang lebih memilih pengobatan herbal dari pada pengobatan
kimia (Suparni dan
Ari, 2012).
Daun Lidah Buaya (Aloe vera)
Daging daun lidah buaya dapat di buat herbal drink, yang di konsumsi langsung setelah diolah dengan campuran aroma sirup. Lidah buaya bila di belah terlihat daging berwarna hijau, bening, jernih, dingin dan banyak mengandung lendir (Muhlisah, 2011).
METODE
PENELITIAN
Tempat dan waktu
penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari
sampai bulan Mei 2025 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Amir
Hamzah, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara.
Alat dan Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah Benih Terung ungu (Varietas LEZATA F1) Cap Panah Merah, kulit buah
nanas, kulit buah semangka, kulit buah jeruk, air sumur, dan gula merah.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah
tong penampung, pisau cutter, cangkul, babat, garpu, meteran, gembor dan alat
tulis.
Metode Penelitian
Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK)
Faktorial yang terdiri atas 2 Faktor yaitu:
A.
Faktor pertama yaitu Pupuk Kotoran Sapi yang di beri
simbol (K)yang terdiri atas 3 taraf yaitu:
K0 = 0 kg/plot (Tanpa Perlakuan).
K1 = 2 kg/plot.
K2 = 4 kg /plot.
B.
Faktor
kedua yaitu Eco enzyme yang di beri simbol (E) yang terdiri atas 3 taraf yaitu
:
E0 = 0 ml/tanaman (tanpa perlakuan)
E1 = 400 ml/tanaman
E2 =
800 ml/tanaman
Kombinasi perlakuan terdiri dari 9 kombinasi :
K0E0 K1E0 K2E0
K0E1 K1E1 K2E1
K0E2 K1E2 K2E2
Jumlah ulangan :
(k-1) (n-1) ≥15
(9-1)(n-1) ≥ 15
8
(n-1) ≥ 15
8n
- 8 ≥ 15
8n ≥ 15+8
8n ≥ 23
n ≥ 23/8
n ≥ 2.87 = 3 ulangan.
Metode
Analisa Penelitian
Setelah data hasil penelitian di peroleh maka
akan dilakukan analisis data dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK)
faktorial dengan rumus sebagai berikut:
Yijk = μ + αi + βj + (αβ)ij + ρk + εijk
dengan :
i =1,2…,r;
j = 1,2,…,a
k = 1,2,…,b
Yijk = Pengamatan pada satuan percobaan ke-i yang memperoleh
kombinasi perlakuan taraf ke-j dari faktor A dan taraf ke-k dari faktor B.
μ
= Mean populasi.
Ρk =
Pengaruh taraf ke-k dari faktor Kelompok.
αi = Pengaruh taraf ke-i dari faktor
A.
βj = Pengaruh taraf ke-j dari faktor
B.
(αβ)ij = Pengaruh taraf ke-i dari faktor A
dan taraf ke-j dari faktor B.
Εijk = Pengaruh acak dari satuan
percobaan ke-k yang memperoleh kombinasi
perlakuan ij. εijk ~ N(0,σ2).
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Respon
Pemberian Pupuk Kotoran Sapi terhadap Pertumbuhan dan Produksi Terung Ungu
(Solanum melongena L.)
Hasil analisa data secara
statistik menunjukan bahwa respon pemberian pupuk kotoran sapi terhadap
pertumbuhan dan produksi terung ungu (Solanum melongena L.) memberikan pengaruh
tidak nyata terhadap parameter jumlah daun (helai). pada umur 2 MSPT tetapi pada
umur 4 MSPT berpengaruh sangat nyata kemudian pada umur 6 dan 8 MSPT
berpengaruh nyata. Pemberian pupuk kotoran sapi berpengaruh tidak nyata
terhadap parameter tinggi tanaman (cm) umur 2, 4 dan 6 sedangkan pada umur 8
MSPT berpengaruh sangat nyata.
Pemberian pupuk kotoran sapi
berpengaruh tidak nyata terhadap pertumbuhan tanaman terung ungu pada awal
pertumbuhan disebabkan karena tanaman terung masih dalam masa adaptasi terhadap
lingkungan yang baru sehingga unsur hara yang terdapat pada kotoran sapi belum
di serap secara maksimal, pupuk kotoran sapi memiliki kandungan nitrogen yang
tinggi, tetapi tidak berdampak secara langsung ketanaman seperti pupuk
anorganik, serta melepaskan nutrisi dalam jangka waktu yang lebih lama (Gbenou,
et al., 2017. Pemberian pupuk kotoran sapi berpengaruh sangat nyata terhadap
pertumbuhan tanaman terung ungu pada umur 6 dan 8 minggu setelah tanam hal
tersebut disebabkan karena pupuk kotoran sapi sebagai pupuk dasar yang di
aplikasikan sebelum melalukan penanaman terung ungu dapat meningkatkan
kesuburan tanah, menambah unsur hara dan nutrisi yang dibutuhkan tanaman selama
masa vegetative dan generative. Tanah yang baik untuk pertumbuhan dan produksi
terung ungu merupakan jenis tanah regosol, latasol dan andosol, karena ketiga
jenis tanah tersebut merupakan jenis tanah lempung berpasir atau lempung ringan dan memiliki drainase yang baik. Pada
masa pertumbuhan tanaman membutuhkan unsur hara dan nutrisi agar tanaman dapat
tumbuh dan berkembang dengan baik. Penambahan unsur hara dan nutrisi dapat
dilakukan dengan memberikan pupuk kotoran sapi.Dosis pupuk kotoran sapi terbaik
yang diperoleh pada perlakuan (K2) yaitu4 kg/plot pada semua parameter
pengamatan.Hal ini disebabkan karena unsur hara yang terkandung didalam pupuk
kotoran sapi bermanfaat didalam proses miniralisasi melepaskan hara dengan
lengkap (N,P,K,Ca, Mg, S, serta unsur hara mikro) pemberian pupuk kotoran sapi
semakin tinggi akan semakin efektif
untuk merangsang pertumbuhan tanaman, baik jumlah daun, tinggi tanaman,
jumlah buah per sampel, jumlah buah per plot, berat buah per sampel, dan berat
buah per plot, khususnya nitrogen yang merupakan bahan baku penyusun klorofil
pada proses potosintesa, klorofil yang berfungsi menangkap energi matahari akan
menggalakan proses penggandaan energi yang digunakan untuk sintesa makro
molekul didalam sel, misalnya karbohidrat. Intensitas cahaya yang cukup dapat
membantu pertumbuhan tanaman dengan baik, seperti jumlah daun, tinggi tanaman,
jumlah buah, dan berat buah terung ungu. batas yang normal intensitas cahaya
akan memberikan pengaruh yang baik terhadap pertumbuhan terung ungu terutama
pada pembentukan warna buah yang diperlukan tanaman terung ungu yakni 60%.
Kelembapan udara yang dibutuhkan untuk tanaman terung ungu berkisar 80% lahan
penanaman harus subur, air tanahnya tidak menggenang dan pH tanah 5-6 (Arsyad,
2010).
Pemberian pupuk kotoran sapi
berpengaruh tidak nyata terhadap parameter umur berbunga (hari) tanaman terung
ungu hal tersebut disebabkan karena proses pembentukan atau tumbuhnya bunga
tidak hanya dipengaruhi oleh kandungan pupuk kotoran sapi tetapi lebih dominan
di pengaruhi oleh faktor genetik tanaman yang dapat menerima respon dari
lingkungan tersebut atau tidak. Dimana gen tanaman tidakakan menyebabkan
berkembangnya suatu respon terkecuali mereka dalam kondisi yang sesuai. Jika
berada dalam kondisi yang tidak sesuai maka tidak ada pengaruh gen terhadap
karakteristik dengan mengubah tingkat keadaan lingkungan (Simanjuntak dan
Lahay, 2013).
Pemberian pupuk kotoran sapi
berpengaruh sangat nyata terhadap parameter jumlah buah per sampel (buah),
jumlah buah per plot (buah), berat buah per sampel (gram), dan berat per plot
(gram) hal tersebut disebabkan karena penggunaan pupuk kotoran sapi pada
dasarnya mampu meningkatkan hasil produksi tanaman terung ungu, karena Pupuk
kotoran sapi dapat menyediakan bahanunsur hara mikro seperzi Zn, Cu, Fe, Mn,
dan Mg pada tingkat yang optimal. Penggunaan pupuk kotoran sapi dengan begitu
akan membantu aktifitas metabolisme tanaman dalam masa pertumbuhan produksi.
Pupuk kotoran sapi juga dapat memperbaiki sifat fisik tanah, memperbaiki
struktur tanah, dan juga berperan sebagai pengurai bahan organik oleh mikro
organisme tanah. Pupuk organik juga mempunyai fungsi yang penting dibandingkan
dengan penggunaan pupuk anorganik yaitu dapat menggemburkan lapisan permukaan
tanah (topsoil), meningkatkan populasi jasad renik, mempertinggi daya serap dan
daya simpan air yang secara keselurahan dapat meningkatkan kesuburan tanah dan
merangsang tanaman terung ungu (Pranata, 2010).
Peranan pupuk kotoran sapi
terhadap sifat biologi tanah diantaranya menyediakan makanan dan tempat hidup
(habitat) untuk organisme (termasuk microba tanah), menyediakan energi untuk
proses-proses biologi tanah dan memberikan
kontribusi pada daya tanah pada sifat kimia kimia tanah, bahan organik berperan
dalam meningkatkan kapasitas tukar katoin atau ketersediaan hara, penting untuk
daya pulih tanah akibat perubahan pH tanah dan menyimpan cadangan hara penting
khsusnya N dan K (Safitri, 2017).
Pengaruh
Pemberian Eco enzyme terhadap Pertumbuhan dan Produksi Terung Ungu (Solanum
melongena L.)
Berdasarkan analisis data secara
statistik menunjukan bahwa respon pemberian Eco enzyme terhadap pertumbuhan dan
produksi terung ungu (Solanum melongena L.) memberikan pengaruhtidak nyata
terhadap jumlah daun, tinggi tanaman, umur berbunga, tetapi berpengaruh sangat
nyata terhadap jumlah buah per sampel, jumlah buah per plot, berat buah per
sampel, dan berat buah per plot.
Pemberian Eco enzyme berpengaruh
tidak nyata terhadap pertumbuhan terung ungu khusunya pada parameter jumlah
daun, tinggi tanaman dan umur berbunga. Hal tersebut disebabkan karena Eco
enzyme yang diberikan pada tanaman terung ungu merupakan cairan atau larutan
mikro organisme yang berfungsi untuk membantu proses penguraian bahan organik
dan pelepasan unsur hara sehingga pemberian eco enzyme pada tanaman terung ungu
belum mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman. Eco enzyme juga merupakan larutan
yang pH nya rendah sebagaimana telah dikemukakan oleh penelitian terdahulu yang
menyatakan bahwa kecenderungan larutan Eco enzyme yang dihasilkan dari bahan
organik berupa buah yang menghasilkan parameter kimia yang bersifat asam yang
memiliki pH rendah Sebagaimana hasil penelitian untuk buah nenas, diperoleh pH
3,15 dan pepaya 3,29 hal ini lah yang menyebabkan tanaman belum mampu menyerap
kandungan yang terdapat pada Eco enzyme dengan baik pada masa vegetative
(Rochyani et al., 2020)
Pemberian Eco enzyme memberikan
pengaruh sangat nyata terhadap produksi tanaman terung ungu terutama pada
parameter jumlah buah per sampel, jumlah buah per plot, berat buah per sampel
dan berat buah per plot. Hal ini karena Eco enzyme yang dihasilkan dengan
dengan bahan organik berupa limbah buah atau limbah padat organik kemudian
ditambahkan dengan molase substrat dalam proses permentasi mendorong faktor TDS
yang tinggi pada Eco enzyme. Kandungan Eco enzyme beupa Lipase, Tripsin,
Amilase yang berfungsi untuk mencegah bakteri patogen sehingga untuk membantu
proses penguraian bahan organik dan pelepasan unsur hara sehingga tanaman pada
masa generative mampu menyerap nutrisi yang ada pada Eco enzyme dengan baik
kemudian memberikan dampak yang sangat baik ketanaman untuk jumlah buah per
sampel, jumlah buah per plot, berat buah per sampel dan berat buah per plot
(Selvakumar, 2015).
Pengaruh
Interaksi antara Pemberian Pupuk Kotoran Sapi dan Eco enzyme Terhadap
Pertumbuhan dan Produksi Terung Ungu (Solanum melongena L.)
Berdasarkan analisis data secara statistik menunjukan bahwa respon interaksi antara pemberian pupuk kotoran sapi dan Eco enzyme terhadap pertumbuhan dan produksi terung ungu (Solanum melongena L.) memberikan pegaruhtidak nyata terhadap jumlah daun, tinggi tanaman, umur berbunga, jumlah buah per sampel, jumlah buah per plot, berat buah per sampel, tetapi berpengaruh nyata pada jumlah buat per plot dan berat buah per plot. Hal ini disebkan karena dari masing-masing perlakuan antara pupuk kotoran sapi dan Eco enzyme telah memberikan pengaruh terbaiknya pada tanaman tetapi tidak saling mempengaruhi perlakuan satu dengan yang lainnya terhadap semua parameter kecuali berat buah per plot yang memberikan interaksi pengaruh nyata terhadap pemberian pupuk kotoran sapi dan Eco enzyme. Dalam budidaya terung ungu (Solanum melongena L.) dengan menggunakan pupuk kotoran sapi sebagai pupuk dasar sebelum dilakukan penanaman jauh lebih baik. Hal ini dikarenakan pupuk kotoran sapi sangat baik bagi tanaman terung ungu, karena pupupk kotoran sapi selain dapat memenuhi kebutuhan unsur hara juga dapat memperbaiki sifat fisik tanah, struktur tanah diantaranya kemantapan agregat, total ruang pori, daya ikat air dan meningkatkan kehidupan mikroganisme pengurai sehingga sangat baik untuk pertumbuhan terung ungu (Solanum melongena L.). Unsur hara yang terkandung didalam pupuk kotoran sapi antara lain N, P, dan K yang dibutuhkan oleh tanaman terung ungu (Solanum melongena L.) (Riyani, Islami dan Sumarni, 2015).
SIMPULAN
1. Pemberian pupuk kotoran sapi berpengaruh tidak
nyata terhadap umur berbunga (hari), tetapi berpengaruh nyata terhadap jumlah
daun (helai) dan berpengaruh sangat sangat nyata terhadap tinggi tanaman (cm),
jumlah buah per sampel (buah), jumlah buah per plot (buah), berat buah per
sampel (gram) dan berat buah per plot (gram), dimana perlakuan terbaik terdapat
pada K2 (4 kg/plot)
2. Pemberian Eco enzyme berpengaruh tidak nyata terhadap
jumlah daun (daun), tinggi tanaman (cm), umur berbunga (hari), tetapi
berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah buah per sampel (buah), jumlah buah
per plot (buah), berat buah per sampel (gram) dan berat buah per plot (gram),
dimana perlakuan terbaik terdapat pada E2 (800 ml/tanaman).
3. Interaksi antara pemberian pupuk kotoran sapi dan
Eco enzyme berpengaruh tidak nyata pada jumlah daun, tinggi tanaman, umur
berbunga, jumlah buah per plot, dan berat buah per sampel tetapi
berpengaruh nyata pada jumlah buah per
sampel, dan berat buah per plot.
REFERENSI
Adji, S. (2007). Rancangan
percobaan praktis bidang pertanian. Kanisius.
Alex, S. (2013). Sayuran
dalam pot: Sayuran konsumsi tak harus beli. Pustaka Baru Press.
Ashari, S. (2006). Hortikultura:
Aspek budidaya. Universitas Indonesia Press.
Arsyad, S. (2010). Ilmu
iklim dan pengairan. CV. Yasaguna.
Fitria. (2015). Perlindungan
hukum terhadap pemulia dan varietas tanaman terong putih (Kania F1)
(Skripsi). Universitas Jember.
Gbenou, B.,
Adjolohoun, S., Ahoton, L., & Hounjdo, D. B. M. (2017). Animal dung
availability and their fertilizer values in a context of low soil fertility
conditions in southwestern Nigeria. Agricultural and Biology Journal of
North America, 2(7), 1117–1125.
Herwindo, R. (2014). Kajian
jenis kemasan dan simulasi pengangkutan terhadap mutu fisik buah terung
(Solanum melongena L.) (Skripsi). Institut Pertanian Bogor.
Hendri, M., Marisi,
& Akas, P. S. (2015). Pengaruh pupuk kandang sapi dan pupuk NPK Mutiara
terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman terung ungu (Solanum melongena L.). Jurnal
Agrifor, 14(2).
Huruna, B., &
Ajang, M. (2015). Pertumbuhan dan produksi tanaman terung (Solanum melongena
L.) pada berbagai dosis pupuk organik limbah biogas kotoran sapi. Jurnal
Agroforestri, 10(3).
Mujaju, C. (2009). Diversity
of landraces and wild forms of watermelon (Citrullus lanatus) in southern
Africa (Doctoral dissertation). Swedish University of Agricultural
Sciences.
Muldiana, S., &
Rosdiana. (2017). Respon tanaman terung (Solanum melongena L.) terhadap
interval pemberian pupuk organik cair dengan interval waktu yang berbeda. In Prosiding
Seminar Nasional Fakultas Pertanian UMJ 2017 (pp. 155–162). Fakultas
Pertanian UMJ.
No comments
Post a Comment