Wednesday, April 22, 2026

Analisis Kadar Amonia (NH3) pada Air Limbah Industri Rokok di Kabupaten Pasuruan sebagai Pemantauan Kualitas Lingkungan Menggunakan Spektrofotometer Secara Fenat

Analysis of Ammonia (NH₃) Levels in Cigarette Industry Wastewater in Pasuruan Regency as Environmental Quality Monitoring Using the Phenate Spectrophotometric Method

Analysis of Ammonia (NH3) Levels in Cigarette Industry Wastewater in Pasuruan Regency as Environmental Quality Monitoring Using the Phenate Spectrophotometric Method | Dewi | Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin 

Reka Driananta Tresna Dewi1, Indah Ardiningsih2, Rinto Erwin Handoko3

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kadar amonia (NH₃) pada air limbah industri rokok sebagai upaya pemantauan kualitas lingkungan di UPT Laboratorium Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pasuruan. Metode yang digunakan adalah spektrofotometri secara fenat berdasarkan standar SM APHA 24 rd Ed. 5240 C.2023, di mana amonia bereaksi dengan fenol dan hipoklorit membentuk senyawa kompleks indofenol berwarna biru yang diukur pada panjang gelombang 640 nm. Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif dengan menggunakan kurva kalibrasi sebagai dasar penentuan konsentrasi amonia dalam sampel. Hasil analisis menunjukkan bahwa kurva kalibrasi memiliki hubungan linear yang baik dengan nilai koefisien determinasi (R²) yang memenuhi syarat validitas metode. Data yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan baku mutu air limbah sesuai peraturan yang berlaku untuk menilai tingkat pencemaran. Secara umum, analisis kadar amonia ini penting dalam mendukung pengendalian pencemaran lingkungan serta memastikan kualitas air limbah yang dibuang telah sesuai standar yang ditetapkan.

Kata Kunci: Amonia (NH₃), Air limbah, Industri rokok, Spektrofotometri fenat.

Abstract

This study aims to analyze the ammonia (NH₃) levels in cigarette industry wastewater as an effort to monitor environmental quality at the Environmental Laboratory Unit of the Environmental Agency of Pasuruan Regency. The method used is phenate spectrophotometry based on the SM APHA 24 rd Ed. 5240 C.2023 standard, in which ammonia reacts with phenol and hypochlorite to form a blue indophenol complex compound measured at a wavelength of 640 nm. This research is descriptive quantitative in nature, utilizing a calibration curve as the basis for determining ammonia concentration in the samples. The analysis results show that the calibration curve has a good linear relationship with a coefficient of determination (R²) that meets the method validity requirements. The obtained data were then compared with wastewater quality standards according to applicable regulations to assess the level of pollution. Overall, the analysis of ammonia levels is important in supporting environmental pollution control and ensuring that discharged wastewater meets the established standards.

Keywords: Ammonia (NH₃), Wastewater, Cigarette industry, Phenate spectrophotometry.

 

Article Info

Received date: 10 April 2026                                      Revised date: 15 April 2026                                       Accepted date: 20 April  2026

 

PENDAHULUAN

Air merupakan sumber daya alam yang diperlukan untuk kebutuhan hidup orang banyak, bahkan oleh semua mahkluk hidup. Sumber daya air harus dilindungi agar tetap dapat dimanfaatkan dengan baik oleh manusia serta mahkluk hidup yang lain, pemanfaatan air untuk berbagai kepentingan harus dilakukan secara bijaksana (Azizah & Humairoh, 2015). Namun, peningkatan aktivitas manusia yang tidak diimbangi dengan pengelolaan limbah yang baik telah menyebabkan pencemaran air dan menurunkan kualitas lingkungan (Rosmeiliyana & Wardhani, 2021).

Pencemaran air dapat terjadi dari berbagai macam sumber, yaitu dari kegiatan manusia ataupun dari alam sekitar (Hussein, 2021). Namun,  salah satu sumber pencemaran berasal dari limbah industri, termasuk industri rokok yang menghasilkan limbah cair mengandung senyawa kimia seperti amonia (Mason, 2002). Amonia dalam konsentrasi tinggi bersifat toksik, dapat menyebabkan eutrofikasi, menurunkan kadar oksigen terlarut, serta berdampak buruk bagi organisme perairan dan kesehatan manusia (Davis, 1999).

Untuk mengendalikan pencemaran, pemerintah menetapkan baku mutu air limbah dengan berbagai parameter, termasuk amonia, yang umumnya dianalisis secara ex situ di laboratorium (Ramadhan & Hamidah, 2024). Oleh karena itu, analisis kadar amonia pada air limbah industri rokok penting dilakukan sebagai upaya pemantauan kualitas lingkungan dan memastikan kesesuaian dengan standar yang berlaku.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2025 di UPT Laboratorium Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pasuruan.

Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalahspektrofotometer, timbangan analitik, erlenmeyer, labu ukur, gelas ukur, pipet volumetrik, pipet ukur, dan gelas piala.

Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah amonium klorida (NH4Cl), larutan fenol (C6H5OH), natrium nitroprusida (C5FeN6Na2O) 0,5%, larutan alkali sitrat (C6H5Na3O7), natrium hipoklorit (NaClO) 5%, dan larutan pengoksidasi.

Rancangan Penelitian

Adapun rancangan penelitian yang dilakukan adalah pembuatan larutan induk amonia, pembuatan larutan baku amonia, pembuatan larutan kerja amonia, pembuatan kurva kalibrasi, dan pengujian kadar amonia.

Pembuatan Larutan Induk Amonia

Larutkan 3.189 g amonium klorida (telah dikeringkan pada suhu 100o C) dimasukkan dalam labu ukur 1000 mL, dan diencerkan dengan air suling sampai tanda tera kemudian dihomogenkan.

Pembuatan Larutan Baku Amonia

Larutan baku amonia 100 mg N/L dibuat dengan memipet 10 mL larutan baku, kemudian diencerkan dengan air suling hingga volume 100 mL dan dihomogenkan.

Pembuatan Larutan Kerja Amonia

Larutan standar dibuat dengan memipet masing-masing 0,0; 1,0; 2,0; 3,0; dan 5,0 mL larutan baku amonia 10 mg N/L ke dalam labu ukur 100 mL, kemudian diencerkan dengan air suling hingga tanda tera dan dihomogenkan.

Pembuatan Kurva Kalibrasi

Pengukuran kadar amonia dilakukan dengan mencampurkan 25 mL larutan kerja dengan reagen fenol, natrium nitroprusid, dan pengoksidasi, kemudian didiamkan selama 1 jam. Selanjutnya, larutan diukur serapannya pada panjang gelombang 640 nm menggunakan spektrofotometer, dan data yang diperoleh digunakan untuk membuat kurva kalibrasi.

Pengujian Kadar Amonia

Sebanyak 25 mL sampel ditambahkan reagen fenol, natrium nitroprusid, dan pengoksidasi, kemudian didiamkan selama 1 jam sebelum diukur absorbansinya pada 640 nm dengan spektrofotometer.

Perhitungan

a.       Amonia total (NH3 – N)

Kadar Amonia (Mg/L) = C x fp

Dengan pengertian:

C adalah kadar yang di dapat dari hasil pengukuran (Mg/L),

Fp adalah faktor pengenceran.

b.       Amonia bebas (NH3)

Kadar Amonia =

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pembuatan Kurva Kalibrasi

Sebelum melakukan pengukuran konsentrasi ammonium dalam sampel limbah cair industri rokok diperlukan kurva kalibrasi. Kurva kalibrasi merupakan grafik hubungan antara variasi konsentrasi ammonium standar dengan absorbansi yang dihasilkan pada panjang gelombang Visible (Nie dkk., 2020). Output dari kurva kalibrasi ini adalah suatu persaman garis linear y = ax + b yang akan digunakan untuk mencari konsentrasi ammonium dalam sampel. Konsentrasi yang digunakan untuk larutan standar yaitu 0 ppm; 0,02 ppm; 0,1 ppm; 0,5 ppm; 1,0 ppm; 1,5 ppm; dan 2,0 ppm. Untuk larutan kerja 0 ppm hanya menggunakan aquades. Pemilihan rentang konsentrasi dalam penelitian ini didasarkan pada batas maksimum konsentrasi ammonium yang diperbolehkan sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 05 Tahun 2014 yaitu (≤10 mg/L NH₃-N). Berdasarkan hasil pengukuran maka diperoleh absorbansi larutan standar yang disajikan pada Tabel 1.

    Tabel 1. Absorbansi larutan standar amonia

Standar ke-

Konsentrasi mg/L

Absorbansi

0

0,000

0,000

1

0,020

0,043

2

0,100

0,210

3

0,500

0,571

4

1,000

0,987

5

1,500

1,474

6

2,000

1,960

 

Berdasarkan data pada Tabel 1. diperoleh kurva kalibrasi seperti yang disajikan pada Gambar 1.

Berdasarkan kurva kalibrasi diperoleh persamaan regresi linier 0,95314x + 0,05222 dengan nilai R² = 0,99719, yang digunakan untuk menentukan konsentrasi amonia. Nilai tersebut memenuhi syarat keberterimaan koefisien korelasi (r ≥ 0,97) menurut SM APHA 24 rd Ed. 5240 C.2023. Diketahui bahwa nilai R2 pada Gambar 4.2 yakni 0,99719, dengan demikian nilai r yaitu 0,99855 sehingga hasil dari kurva kalibrasi yang dibuat memenuhi syarat dan dapat digunakan untuk proses analisis. Selain itu, hubungan antara konsentrasi amonium dan absorbansi bersifat linear, di mana peningkatan konsentrasi diikuti dengan peningkatan nilai absorbansi (Safitri, 2014).

Pengujian Kadar Amonia

Pada penelitian ini jumlah sampel yang akan diuji yaitu 3 sampel limbah cair industri rokok (sampel X, Y, dan Z), dan dilakukan pengulangan perlakuan sebanyak tiga kali. Pengujian parameter amonia diawali dengan pembuatan reagen. Pertama yakni pembuatan reagen fenol. Fungsi dari reagen fenol dalam pengujian amonia dengan metode fenat yakni untuk membentuk kompleks berwarna biru yang dapat mengindikasikan keberadaan amonia dalam larutan (Murti & Purwanti, 2014).

Tahap kedua yaitu pembuatan larutan pengoksidasi. Fungsi dari larutan pengoksidasi yakni untuk mengubah amonia (NH3) menjadi ion amonium (NH4+). Natrium hipoklorit bertinda sebagai oksidator dalam reaksi dengan amonia. Ketika larutan NaOCl ditambahkan ke dalam larutan yang mengandung amonia, ia bereaksi dengan amonia untuk membentuk ion amonium (NH₄⁺) dan ion klorida (Cl) (Paramita., 2023). Reaksinya yaitu:

NH3 +NaOCl + H2O → NH4+ + Cl- + NaOH

Tahap ketiga yaitu menyiapkan natrium nitroprusida (C5FeN6Na2O) 0,5%. Fungsi dari larutan nitroprusida yakni sebagai katalis (Alkindi dkk., 2023) untuk mempercepat reaksi dengan cara menyediakan alternatif jalur dengan energi aktivasi yang lebih rendah (Lolowang et al., 2017), sehingga reaksi dapat berjalan lebih cepat dan efisien.

Kemudian sampel diambil dengan pipet volume 25 mL dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 50 mL kemudian ditambahkan 1 mL larutan fenol dan dihomogenkan lalu ditambahkan 1 mL natrium nitroprusid, dihomogenkan dan ditambahkan 2,5 mL larutan pengoksidasi, dihomogenkan. Erlenmeyer ditutup dengan aluminium foil lalu ditunggu selama 1 jam untuk pembentukan warna (biru). Reaksi pembentukan warna biru membentuk senyawa indofenol. Pada reaksi ini amonia yang terkandung dalam sampel akan bereaksi dengan natrium hipoklorit yang berasal dari larutan pengoksidasi membentuk senyawa monokloramin. Reaksinya yaitu:

NH3 + NaOCl → NH2Cl + NaOH

Setelah 1 jam warna yang terbentuk sudah maksimal dan siap dilakukan pengukuran absorbansi menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Pengukuran dengan spektrofotometer UV-Vis dilakukan pada panjang gelombang 640 nm. Berikut hasil pengukuran kadar amonia dengan spektrofotometer UV-Vis yang dilakukan pada panjang gelombang 640 nm.

Sampel IDE

Absorbansi

Baku Mutu (mg/L)

Konsentrasi (mg/L)

Sampel X

0,0712

10

0,0199

Sampel Y

0,1226

10

0, 0738

Sampel Z

0,0685

10

0,0170

Sampel Z dp

0,0687

10

0,0173

 

Berdasarkan hasil pengukuran dengan instrument spektrofotometer UV-Vis diperoleh hasil nilai absorbansi pada sampel industri rokok X sebesar ; pada sampel industri rokok Y sebesar ; pada sampel industri rokok Z sebesar ; dan pada sampel industri rokok Z secara duplo sebesar L. Hasil tersebut kemudian dihitung dengan persamaan linear yang telah didapatkan, sehingga diperoleh konsentrasi amonia total dalam sampel limbah cair industri rokok X, Y, Z, Z duplo secara berturut-turut adalah 0,0199 mg/L; 0,0738 mg/L; 0,0170 mg/L; dan 0,0173 mg/L. Dikarenakan sampel limbah cair industri rokok Z dilakukan pengulangan (duplo) maka konsentrasi amonia pada sampel Z dirata-rata terlebih dahulu dan didapatkan hasil sebesar 0,01715 mg/L.

Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 05 Tahun 2014, baku mutu air limbah bagi industri rokok kategori II sebesar 10 mg/L. Pada sampel yang diujikan konsentrasi amonia tidak melebihi baku mutu. Jika kadar amonia dalam limbah industri rokok tidak melebihi baku mutu yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 05 Tahun 2014 untuk Kategori II (≤10 mg/L NH₃-N), maka limbah tersebut dianggap aman terhadap lingkungan, baik bagi ekosistem air maupun kesehatan masyarakat.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan baku mutu air limbah industri rokok yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 05 Tahun 2014, semua sampel air limbah industri rokok yang telah diuji memenuhi baku mutu parameter amonia, dimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 05 Tahun 2014 untuk Kategori II yaitu (≤10 mg/L NH₃-N).

 

UCAPAN TERIMAKASIH

Pada kesempatan ini, peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu terwujudnya penelitian ini yaitu UPT Laboratorium Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pasuruan.

 

REFERENSI

Alkindi, F. F., Budiono, R., & Al-Islami, F. N. (2023). Pengujian Analisis Kadar Amonia Dalam Air Sungai Di Daerah Industri Sier Surabaya Menggunakan Metode Fenat Secara Spektrofotometri Visible. MEDFARM: Jurnal Farmasi Dan Kesehatan, 12(2), 181–189. https://doi.org/10.48191/medfarm.v12i2.234

Azizah, M., & Humairoh, M. (2015). Analisis Kadar Amonia (NH3) Dalam Air Sungai Cileungsi. Nusa Sylva, 15(82), 47–54.

Hussein, S. (2021). Pencemaran perairan akibat kadar amonia yang tinggi dari limbah cair industri tempe. Jurnal Akuatika, 4(2), 183–194.

Lolowang, F., Suryanto, E., & Citraningtyas, G. (2017). Aktivitas Antioksidan Dari Ekstrak Residu Empelur Batang Sagu Baruk (Arenga microcarpha). PHARMACON Jurnal Ilmiah Farmasi-UNSRAT, 6(4), 139–148.

Mason C, Lehman D, M. G. (2002). Texbook of diagnostic microbiologi 4th ed. Saunders Elsevier, 12(2), 420-853P.

Murti, R. S., & Purwanti, C. M. H. (2014). Optimasi waktu reaksi pembentukan kompleks indofenol biru stabil pada uji n-amonia air limbah industri penyamakan kulit dengan metode fenat. Majalah Kulit, Karet, Dan Plastik, 30(1), 29. https://doi.org/10.20543/mkkp.v30i1.121

Nie, J., Gao, Q., Fu, J., & He, Y. (2020). Grafting of 3D Bioprinting to In Vitro Drug Screening: A Review. Advanced Healthcare Materials, 9(7), 1–18. https://doi.org/10.1002/adhm.201901773

Paramita., R. A. (2023). Analisis Total Suspended Solid (TSS) Dan Amonia Total (NH3-N) Pada Aliran Air Sungai Bedaung Di Daerah Arjasa Jember. Inovasi Teknik Kimia, 8(2), 77–82.

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia. (2014). Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 05 Tahun 2014 tentang peraturan baku mutu air limbah.

Ramadhan, M. N., & Hamidah, L. N. (2024). Eksplorasi Kualitas Air Limbah Domestik pada Kawasan Perhotelan. Kerja Praktek Teknik Lingkungan, 1(1), 1–10. https://journal.unusida.ac.id/index.php/kptl/

Rosmeiliyana, T. K., & Wardhani, F. (2021). Uji Kualitas Air Sumur Dengan Menggunakan Metode Mpn (Most Probable Numbers) Di Desa Dayah Tanoh Kecamatan Glumpang Tiga Kabupaten Pidie Tahun 2020. Jurnal Real Riset, 3(2), 118. https://doi.org/10.47647/jrr

Safitri, W, R. (2014). Analisis Korelasi Dalam Menentukan Hubungan Antara Kejadian Demam Berdarah Dengue Dengan Kepadatan Penduduk Di Kota Surabaya Pada Tahun 2012 - 2014. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 1(3), 1–9.

 


Tuesday, April 21, 2026

Pelatihan Pembuatan Susu Jagung di Kelompok PKK Desa Rempoah Kecamatan Baturraden

 


Training on Corn Milk Production for the PKK Group in Rempoah Village, Baturraden District

 

Bivannie Luhsarandini1*, Hikmah Yuliasari2, Vairus Akmala Putri3, Hanis Adila Lestari4, Hanifah Tsurayya Ayu Wardhani5, Dwi Andita6, Dean Aria Ghofi7

*Email korespondesi: bivannieluhsarandini@gmail.com

 Pelatihan Pembuatan Susu Jagung di Kelompok PKK Desa Rempoah Kecamatan Baturraden | Luhsarandini | Nanggroe: Jurnal Pengabdian Cendikia

Abstrak

Desa Rempoah memiliki potensi jagung yang melimpah, namun pemanfaatannya masih terbatas pada penjualan bahan mentah atau olahan tradisional sehingga nilai tambah ekonomi belum optimal. Selain itu, anggota Kelompok PKK masih memiliki keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dalam mengolah pangan lokal menjadi produk inovatif yang bernilai jual. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota PKK dalam mengolah jagung menjadi susu jagung sebagai produk pangan bernilai tambah. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi tahap sosialisasi dan pelatihan praktik langsung. Sosialisasi dilakukan dengan pemberian materi mengenai kandungan gizi jagung, manfaat susu jagung, serta prinsip sanitasi dan higienitas. Selanjutnya, pelatihan dilakukan melalui praktik pembuatan susu jagung mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, hingga pengemasan sederhana. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam mengolah jagung menjadi susu jagung. Peserta mampu menghasilkan produk dengan karakteristik warna, rasa, dan tekstur yang baik serta menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan. Dampak dari kegiatan ini adalah meningkatnya kapasitas anggota PKK dalam diversifikasi pangan lokal, serta terbukanya peluang usaha rumahan yang berpotensi menambah pendapatan keluarga. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong pemanfaatan sumber daya lokal dalam mendukung ketahanan pangan.

Kata kunci: PKK, susu jagung, pemberdayaan masyarakat, pangan lokal

Abstract

Rempoah Village has abundant corn potential; however, its utilization is still limited to the sale of raw materials or traditional processed products, resulting in suboptimal economic value. In addition, members of the PKK (Family Welfare Empowerment Group) still have limited knowledge and skills in processing local food into innovative, marketable products. This community service activity aims to improve the knowledge and skills of PKK members in processing corn into corn milk as a value-added food product.The implementation method consists of a socialization stage and hands-on training. The socialization stage includes the delivery of materials on the nutritional content of corn, the benefits of corn milk, and principles of sanitation and hygiene. Furthermore, the training stage involves practical sessions on making corn milk, starting from selecting raw materials, processing, to simple packaging. The results show an increase in participants’ knowledge and skills in processing corn into corn milk. Participants were able to produce products with good color, taste, and texture characteristics, and demonstrated high enthusiasm throughout the activity. The impact of this program is an increase in the capacity of PKK members in local food diversification, as well as the emergence of home-based business opportunities that have the potential to increase family income. In addition, this activity encourages the utilization of local resources to support food security.

Keywords: PKK, corn milk, community empowerment, local food

 

Article Info

Received date: 9 April 2026                                            Revised date: 15 April  2026                                       Accepted date: 20 April 2026 

 

 

 

PENDAHULUAN

Kelompok PKK Desa Rempoah saat ini memiliki semangat tinggi dalam berorganisasi dan menjalankan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Namun, dalam hal pemberdayaan ekonomi, khususnya melalui pemanfaatan potensi pangan lokal, kelompok ini masih menghadapi berbagai keterbatasan. Salah satu kendala utama adalah belum adanya program pelatihan atau pendampingan yang berkelanjutan dalam mengolah hasil pertanian lokal menjadi produk olahan bernilai ekonomi. Desa Rempoah memiliki produksi jagung yang cukup melimpah dan belum dimanfaatkan secara maksimal.

Permasalahan lain yang dihadapi mitra adalah rendahnya keterampilan dan pengetahuan anggota PKK dalam menciptakan inovasi produk pangan berbasis jagung. Sebagian besar anggota belum memiliki pengalaman dalam pengolahan jagung menjadi produk turunan seperti susu jagung, yogurt, atau makanan ringan sehat. Selain itu, masih terbatasnya wawasan mengenai teknik pengemasan, pengawetan alami, serta strategi pemasaran produk menjadi hambatan dalam mengembangkan usaha berbasis pangan lokal ini.

Belum adanya peralatan sederhana pendukung pengolahan produk pangan juga menjadi kendala teknis yang memperlambat inisiasi usaha olahan pangan berbasis jagung. Minimnya akses terhadap informasi pasar, pelatihan kewirausahaan, serta belum adanya branding produk menyebabkan kelompok PKK belum siap untuk mengembangkan potensi jagung menjadi produk komersial. Oleh karena itu, diperlukan program pemberdayaan yang menyeluruh untuk menjawab berbagai permasalahan tersebut dan mengarahkan mitra agar lebih mandiri dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus peningkatan ekonomi keluarga.

Kelompok PKK di Desa Rempoah tergolong aktif dalam kegiatan sosial dan ekonomi, namun masih terbatas pada kegiatan rutin seperti arisan, kerja bakti, dan pelatihan-pelatihan dasar. Potensi ibu-ibu PKK ini untuk diberdayakan dalam pengolahan pangan sangat besar, mengingat mereka berperan langsung dalam pengelolaan konsumsi rumah tangga. Namun demikian, minimnya pengetahuan dan keterampilan dalam mengolah hasil pertanian menjadi produk yang bernilai jual menyebabkan potensi tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal.

Pelatihan pembuatan susu jagung di Kelompok PKK Desa Rempoah Kecamatan Bautrraden sebagai bentuk pemberdayaan kelompok. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dari peserta dalam mengolah dan memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah di Desa. Selain itu, dengan adanya kegiatan ini dapat memberdayakan pemuda desa untuk membuat produk yang memiliki nilai tambah dan memiliki nilai ekonomi.

 

METODE

Penerapan yang dilakukan kepada mitra sasaran adalah berupa pelatihan pembuatan susu jagung. Jagung menjadi salah satu produk yang banyak dihasilkan di Desa Rempoah, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas. Pengolahan yang masih sederhana membuat jagung hanya dijual secara langsung atau pengolahan makanan tradisional. Susu jagung berbahan dasar jagung yang merupakan hasil pertanian di desa setempat. Kegiatan yang dilaksanakan pada pengabdian ini melalui beberapa tahapan diantaranya sebagai berikut :

1. Sosialisasi

Sosialisasi dilakukan dengan memberikan pemaparan tentang jagung, manfaat susu jagung dan cara mengolah jagung menjadi susu jagung. Diskusi dan pemaparan diberikan untuk menambah ilmu pengetahuan bagi mitra sasaran.

2. Pelatihan Pembuatan Susu Jagung

Praktik pembuatan susu jagung dilakukan oleh mitra PKK dan dibantu oleh tim pelaksana. Pelatihan dilakukan dari tahap grading jagung, pengupasan, pemotongan, perebusan, pengolahan, dan pengemasan.

 

HASIL, PEMBAHASAN, DAN DAMPAK

Hasil

Kegiatan pelatihan pembuatan susu jagung yang dilaksanakan di Kelompok PKK Desa Rempoah berjalan dengan lancar dan mendapat respon yang sangat positif dari peserta. Jumlah peserta yang hadir sebanyak 30 orang, terdiri dari ibu-ibu anggota PKK dengan latar belakang sebagian besar ibu rumah tangga. Hasil dari kegiatan ini meliputi:

1.       Peningkatan Pengetahuan Peserta

Sebelum pelatihan, sebagian besar peserta belum mengetahui bahwa jagung dapat diolah menjadi minuman bernilai ekonomi seperti susu jagung. Setelah pelatihan, peserta memahami tentang kandungan gizi jagung, Proses pengolahan susu jagung dan Teknik sanitasi dan higienitas dalam produksi pangan

2.       Peningkatan Keterampilan Praktis

Peserta mampu mempraktikkan langsung proses pembuatan susu jagung, mulai dari pemilihan bahan baku jagung, proses perebusan dan penghalusan, enyaringan, penambahan bahan tambahan pangan, dan pengemasan sederhana.

3.       Produk Hasil Pelatihan       
Dihasilkan produk susu jagung dengan karakteristik warna kuning cerah alami, rasa manis dan aroma khas jagung, tekstur halus dan homogen

4.       Antusiasme Peserta

Peserta menunjukkan antusiasme tinggi, ditunjukkan dengan keaktifan dalam sesi diskusi, tanya jawab, serta minat untuk mencoba usaha mandiri berbasis produk susu jagung.

Pembahasan

Sebelum dilakukan kegiatan pelatihan para peserta mengikuti tes awal yang berisikan beberapa pertanyaan tentang pemahaman tentang jagung dan pembuatan susu jagung. Pelatihan diawali dengan pembukaan dan perkenalan yang disampaikan oleh moderator. Kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab sebelum penjelasan materi. Penjelasan materi tentang jagung dan proses pembuatan susu jagung. Setelah pemaparan selesai dilakukan sesi post test untuk mengukur tingkat pngetahuan dari kelompok PKK. Kemudian dilakukan praktik langsung pembuatan susu jagung dari pengupasan hingga pengemasan.

 

Gambar 1. Proses Pembuatan Susu Jagung

       

Gambar 2.  Tim PKM  Pembuatan Susu Jagung

 

Pelatihan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan bahan pangan lokal seperti jagung memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah. Jagung yang selama ini hanya dimanfaatkan sebagai bahan pangan pokok atau pakan ternak, dapat diolah menjadi minuman fungsional yang memiliki daya tarik pasar.

Dari sisi teknologi pangan, proses pembuatan susu jagung tergolong sederhana dan mudah diaplikasikan pada skala rumah tangga. Hal ini menjadi keunggulan karena tidak memerlukan peralatan yang kompleks maupun biaya produksi yang tinggi. Selain itu, bahan baku jagung relatif mudah diperoleh di wilayah Desa Rempoah. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta menunjukkan bahwa metode pelatihan berbasis praktik langsung (learning by doing) efektif dalam mentransfer teknologi tepat guna kepada masyarakat. Peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga mengalami langsung proses produksi, sehingga pemahaman menjadi lebih mendalam.

Dampak

            Pelaksanaan kegiatan pelatihan ini memberikan dampak yang cukup signifikan, baik dalam aspek pengetahuan, ekonomi, maupun sosial masyarakat. Dampak dari pengabdian ini adalah warga Desa Rempoah yaitu dapat memberikan nilai tambah pada pangan lokal seperti jagung dan terjadinya peningkatan pengetahuan serta keterampilan. Kegiatan ini membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, khususnya ibu-ibu PKK, untuk mengembangkan usaha rumahan (home industry) berbasis susu jagung. Produk ini berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan keluarga. Adanya minat peserta untuk melanjutkan produksi susu jagung secara mandiri maupun kelompok menjadi indikator bahwa program ini memiliki potensi untuk berkelanjutan, terutama jika didukung dengan pendampingan lanjutan dalam aspek produksi dan pemasaran.

 

SIMPULAN

Kegiatan pelatihan pembuatan susu jagung di Kelompok PKK Desa Rempoah Kecamatan Baturraden telah berjalan dengan baik dan efektif dalam meningkatkan pengetahuan serta keterampilan peserta. Pelatihan ini mampu memberikan pemahaman kepada peserta mengenai potensi jagung sebagai bahan baku produk olahan bernilai tambah, serta membekali mereka dengan kemampuan teknis dalam proses pembuatan susu jagung secara sederhana dan higienis. Selain itu, kegiatan ini juga membuka peluang pengembangan usaha rumahan berbasis pangan lokal yang berpotensi meningkatkan pendapatan keluarga. Antusiasme dan partisipasi aktif peserta menunjukkan bahwa program ini relevan dengan kebutuhan masyarakat dan memiliki potensi untuk dikembangkan secara berkelanjutan. Dengan demikian, pelatihan ini tidak hanya memberikan manfaat dalam aspek edukasi, tetapi juga berkontribusi terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat serta mendukung diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal.

 

UCAPAN TERIMAKASIH

Ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada UNU Purwokerto yang telah memberikan dana pengabdian melalui Program Hibah Internal 2025.

 

REFERENSI

Aini, N. (2018). Peningkatan nilai tambah produk jagung melalui inovasi pangan lokal. Jurnal Teknologi Pangan Lokal, 5(2), 55–62.

Astuti, S., & Nugroho, H. (2021). Pemberdayaan perempuan melalui pelatihan produk olahan pangan lokal. Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 7(1), 33–41.

Badan Ketahanan Pangan. (2020). Pedoman ketahanan pangan keluarga. Jakarta: Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Badan Pusat Statistik. (2023). Produksi jagung nasional. Jakarta: BPS.

Sari, M. P. (2016). Manajemen usaha mikro dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga di desa. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan, 14(1), 40–48.

Setiawan, B. (2019). Kewirausahaan pangan lokal dan pengembangan UMKM desa. Jurnal Manajemen UMKM, 5(1), 15–25.

Sulastri, E., & Wibowo, A. (2021). Pengemasan dan branding produk pangan skala rumah tangga. Jurnal Teknologi Industri Pangan, 8(2), 90–99.

Sutrisno, A. (2018). Penerapan good manufacturing practices pada industri pangan rumah tangga. Jurnal Keamanan Pangan, 4(2), 66–74.

Utami, N. W., & Handayani, S. (2020). Inovasi produk pangan berbasis jagung sebagai pangan alternatif. Jurnal Pangan dan Gizi, 7(3), 120–128.

Wahyuni, S. (2019). Pengembangan usaha pangan lokal berbasis potensi desa. Jurnal Ekonomi Pedesaan, 6(1), 50–60.

Yuliana, D., & Prabowo, R. (2018). Peningkatan kapasitas kelompok PKK melalui pelatihan kewirausahaan. Jurnal Pemberdayaan Sosial, 5(1), 30–38.

Yuniarti, L. (2022). Strategi pemasaran digital untuk produk pangan lokal. Jurnal Manajemen Pemasaran, 9(2), 77–85.

Zulkarnain, A. (2020). Ketahanan pangan keluarga berbasis sumber daya lokal. Jurnal Pembangunan Berkelanjutan, 8(1), 60–69.

 

Monday, April 20, 2026

Inovasi Pelayanan Publik Melalui Elektronik Pendaftaran Totol Dewe (E-Pentole) di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya


Innovation in Public Service Through the Electronic Self-Registration System (E-Pentole) at Bhayangkara Hospital Surabaya

 

Mochamad Farros Pambudi Luhur1, Trenda Aktiva Oktariyanda2*, Eva Hany Fanida3, Meirinawati4

Innovation in Public Service Through the Electronic Self-Registration System (E-Pentole) at Bhayangkara Hospital Surabaya | Pambudi Luhur | Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin

Abstract

Public services in the health sector are required to be more effective, efficient, and responsive to community needs. One effort to improve service quality is through information technology-based innovation. This study aims to analyze public service innovation through the Electronic Total Dewe Registration (E-Pentole) system at Bhayangkara Hospital Surabaya. This study uses a qualitative approach with descriptive methods. Data collection techniques were carried out through interviews, observation, and documentation. The research analysis uses Everett M. Rogers' Diffusion of Innovation theory, which includes five indicators: relative advantage, suitability, complexity, trialability, and visibility of results. The results show that the implementation of E-Pentole can improve the efficiency of the patient registration process, reduce service queues, and simplify the management of hospital administrative data. This system is considered to have advantages over manual systems because it is faster, more practical, and integrated with patient medical records. However, challenges remain, such as varying levels of patient technology literacy and the need for increased public outreach. Therefore, continuous system development is needed through increased staff training, system maintenance, and the development of digital service features to support more optimal health services.

Keywords: public service innovation, e-government, E-Pentole, health services

Abstrak

Pelayanan publik di sektor kesehatan dituntut untuk semakin efektif, efisien, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Salah satu upaya peningkatan kualitas pelayanan dilakukan melalui inovasi berbasis teknologi informasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis inovasi pelayanan publik melalui sistem Elektronik Pendaftaran Totol Dewe (E-Pentole) di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis penelitian menggunakan teori Difusi Inovasi Everett M. Rogers yang meliputi lima indikator yaitu keunggulan relatif, kesesuaian, kerumitan, kemungkinan uji coba, dan keterlihatan hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan E-Pentole mampu meningkatkan efisiensi proses pendaftaran pasien, mengurangi antrean pelayanan, serta mempermudah pengelolaan data administrasi rumah sakit. Sistem ini dinilai memiliki keunggulan dibanding sistem manual karena lebih cepat, praktis, dan terintegrasi dengan data rekam medis pasien. Meskipun demikian, masih terdapat tantangan berupa tingkat literasi teknologi pasien yang beragam serta kebutuhan peningkatan sosialisasi kepada masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan sistem secara berkelanjutan melalui peningkatan pelatihan petugas, pemeliharaan sistem, dan pengembangan fitur layanan digital untuk mendukung pelayanan kesehatan yang lebih optimal.

Kata kunci: inovasi pelayanan publik, e-government, E-Pentole, pelayanan kesehatan

 

Article Info

Received date: 10 April 2026                                      Revised date: 15 April 2026                                      Accepted date: 20 April  2026

 

PENDAHULUAN

Pelayanan publik merupakan salah satu fungsi utama pemerintah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat serta mewujudkan kesejahteraan umum. Pelayanan publik mencakup berbagai sektor, salah satunya adalah pelayanan kesehatan yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik menyatakan bahwa pelayanan publik merupakan kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Pelayanan publik adalah setiap kegiatan pemerintah terhadap sejumlah orang yang memiliki setiap kegiatan yang menguntungkan dalam suatu kumpulan atau kesatuan, dan menawarkan kepuasan meskipun hasilnya tidak terikat secara fisik terhadap suatu produk, Sinambela (2019:5).

Perkembangan teknologi informasi mendorong pemerintah untuk melakukan transformasi digital dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Pelayanan publik, menurut Hardiansyah (2020:10), adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan landasan faktor material dalam rangka memenuhi kebutuhan orang lain sesuai dengan hakhaknya melalui sistem, prosedur, dan metode tertentu. Sementara itu, Dwiyanto (2021) menyatakan bahwa salah satu alat penting untuk mengevaluasi kinerja birokrasi pemerintahan adalah pelayanan publik. Menurutnya, kualitas pelayanan publik yang baik mencerminkan kemampuan pemerintah untuk memenuhi permintaan masyarakat untuk pelayanan yang efisien, profesional, dan berfokus pada kepentingan publik. Transformasi ini didukung melalui kebijakan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) yang bertujuan meningkatkan efisiensi, transparansi, serta kualitas pelayanan kepada masyarakat. Dalam konteks pelayanan kesehatan, digitalisasi menjadi langkah penting untuk mempercepat proses administrasi dan meningkatkan kualitas
layanan pasien.

 

Gambar 1 Perbandingan Tingkat Kematangan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Sumber: KemenpanRB, 2022

 

Namun pada kenyataannya, banyak rumah sakit masih menggunakan sistem pendaftaran manual yang menyebabkan antrean panjang, waktu tunggu yang lama, serta potensi kesalahan administrasi. Kondisi tersebut menimbulkan ketidaknyamanan bagi pasien dan dapat menghambat proses pelayanan medis. Oleh karena itu, inovasi pelayanan publik berbasis teknologi menjadi solusi yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.


Gambar 2 Antrean Pasien Yang Mendaftar Secara Manual

Sumber: Heloindonesia.com. 2023

Pada gambar di atas ada antrean pasien yang menumpuk di Rumah sakit dikarenakan masih melakukan pendaftaran secara manual. Tidak heran Banyak rumah sakit pemerintah masih mengandalkan sistem manual dalam proses pendaftaran, pencatatan, dan pengelolaan data pasien. Hal ini menyebabkan antrean panjang, waktu tunggu lama, dan risiko kesalahan administrasi yang tinggi. Dalam laporan Ombudsman RI (2022), disebutkan bahwa sektor kesehatan merupakan salah satu bidang dengan tingkat pengaduan pelayanan publik tertinggi, di mana keluhan utama berasal dari sistem pelayanan yang lambat dan tidak efisien. keterbatasan anggaran, kekurangan tenaga IT, dan kurangnya pelatihan staf pelayanan, sebagian rumah sakit daerah tidak dapat menerapkan inovasi digital. Selain itu, infrastruktur jaringan internet yang tidak merata menghalangi penerapan sistem digital secara keseluruhan. Namun, digitalisasi rumah sakit dapat memiliki banyak manfaat, seperti mempercepat pelayanan medis, mempermudah pendaftaran pasien, dan meningkatkan akurasi data kesehatan.

Inovasi digital rumah sakit juga merupakan wujud nyata dari transformasi birokrasi dalam konteks pelayanan publik. Dengan demikian, inovasi pelayanan kesehatan tidak hanya berfokus pada efisiensi teknis, tetapi juga pada peningkatan kualitas hubungan antara pemerintah dan masyarakat sebagai pengguna layanan. Salah satu kota terbaik di Indonesia untuk mengembangkan inovasi pelayanan publik adalah Surabaya. Berbagai sistem digital telah dikembangkan oleh Dinas Kesehatan dan Dinas komunikasi dan informatika Pemerintah Kota Surabaya untuk membantu sektor kesehatan dan layanan publik lainnya. Pemerintah Kota Surabaya juga mendorong integrasi data kesehatan antar rumah sakit, puskesmas, dan klinik melalui program Surabaya Smart City (Qatrunnada et al, 2023).

Dalam menganalisis inovasi pelayanan publik, teori difusi inovasi yang dikemukakan oleh Rogers (2003) dapat digunakan untuk melihat bagaimana suatu inovasi diterapkan dan diterima oleh pengguna. Rogers menjelaskan bahwa keberhasilan suatu inovasi dapat dilihat melalui lima karakteristik utama yaitu keunggulan relatif, kesesuaian, kerumitan, kemungkinan uji coba, dan keterlihatan hasil.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Pendekatan ini digunakan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai implementasi inovasi pelayanan publik melalui sistem E-Pentole di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya.

Lokasi Penelitian adalah tempat yang akan digunakan oleh peneliti sebagai objek penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan data yang akurat sesuai dengan realita pada tempat yang telah dipilih sebagai lokasi penelitian, lokasi penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya yang terletak pada Jalan Ahmad Yani Nomor 116, Ketintang, Gayungan, Kota Surabaya, Jawa Timur 60231. Alasan memilih lokasi ini karena Rumah Sakit Bhayangkara merupakan tempat terjadinya inovasi pelayanan publik saya bisa melihat proses masyarakat yang berkunjung untuk melakukan cek kesehatan melalui digital tanpa perlu ke mengantri lama di loket pendaftaran.

Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan yang dipilih secara purposive, yaitu Ibu Dyah Suprihatin (Kaursim Rs Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya), Ibu Jasmine Annisa P.C (Staf Pelayanan), Bapak Bernard Guna P Hariaja (Admin IT E-Pentole), Pasien yang berobat di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya (Bapak Rudy Fadil , Ibu Sulistiyowati, Ibu Soeharijati dan bapak Agung. Wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai pelaksanaan layanan, kendala yang dihadapi, serta persepsi pengguna terhadap kualitas pelayanan. Sementara itu, data sekunder diperoleh melalui studi dokumentasi, seperti peraturan perundang-undangan, laporan instansi, arsip pelayanan, serta literatur ilmiah yang relevan dengan topik penelitian.

Menurut John W. Creswell (2014), metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif bertujuan memahami fenomena sosial melalui interaksi langsung, pengamatan, dan analisis dokumen. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan tiga teknik utama, yaitu wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Wawancara mendalam dilakukan secara semi-terstruktur untuk menggali pengalaman, perspektif, dan perasaan informan secara lebih rinci (Michael Quinn Patton, 2002). Observasi partisipatif memungkinkan peneliti mengamati secara langsung aktivitas dan interaksi dalam lingkungan alami, seperti interaksi pasien dengan kios digital, interaksi pasien dengan petugas, waktu pelayanan, serta kendala teknis yang muncul saat sistem digunakan (James P. Spradley, 1980). Selain itu, studi dokumentasi dilakukan dengan menelaah berbagai dokumen pendukung seperti SOP, laporan evaluasi sistem, catatan log pengguna, dan data survei kepuasan pasien untuk melengkapi serta memverifikasi temuan penelitian (Glenn A. Bowen, 2009).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis penerapan E-Pentole dalam penelitian ini difokuskan pada unsur-unsur utama teori difusi inovasi, yaitu inovasi, saluran komunikasi, jangka waktu, dan sistem sosial, serta karakteristik inovasi yang meliputi keunggulan relatif, kesesuaian, kerumitan, kemungkinan uji coba, dan keterlihatan hasil untuk diamati. Pendekatan ini digunakan untuk mengkaji bagaimana E-Pentole dipersepsikan oleh pasien dan petugas, bagaimana proses adopsi berlangsung dalam lingkungan Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya, serta sejauh mana inovasi ini memberikan manfaat nyata dalam mendukung peningkatan kualitas pelayanan pendaftaran pasien.

1. Keunggulan Relatif

Sistem E-Pentole memberikan keunggulan dibandingkan sistem pendaftaran manual. Melalui sistem ini, pasien dapat melakukan pendaftaran secara lebih cepat sehingga waktu tunggu menjadi lebih singkat. Selain itu, sistem ini membantu petugas dalam mengelola data pasien secara lebih efisien. Hal ini sejalan dengan konsep inovasi pelayanan publik yang menekankan peningkatan efisiensi dan kualitas pelayanan (Muluk, 2008). Penerapan sistem E-Pentole memberikan dampak positif bagi rumah sakit dan pengguna layanan karena mampu mempercepat proses pendaftaran sehingga waktu tunggu dan antrean pasien berkurang. Sistem ini juga membuat alur kerja lebih tertata karena data pendaftaran langsung terintegrasi dengan SIMRS, sehingga petugas dapat bekerja lebih efisien tanpa melakukan input ulang. Selain mempermudah pengelolaan data dan mengurangi kesalahan pencatatan bagi pihak manajemen dan IT, E-Pentole juga memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi pasien, sehingga secara keseluruhan berkontribusi terhadap peningkatan kepuasan pasien dan kinerja pelayanan di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya. Hal ini selaras dengan perkataan Ibu Sulistiyowati selaku pasien yang merasakan manfaat pengunaan E-Pentole, “Manfaat yang paling saya rasakan setelah ada E-Pentole itu pendaftarannya jadi lebih cepat dan tidak perlu antre lama. Alurnya juga lebih jelas, jadi saya tidak bingung harus ke mana. Kalau ada yang belum paham, biasanya dibantu petugas, jadi prosesnya terasa lebih mudah dan nyaman.” (Wawancara, 23 Januari 2026)

 

2. Kesesuaian

Implementasi E-Pentole dinilai sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta prosedur pelayanan rumah sakit. Sistem ini mendukung digitalisasi pelayanan kesehatan dan sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam pengembangan e-government di sektor publik (Indrajit, 2016). Penerapan sistem E-Pentole di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya dinilai selaras dengan visi pengembangan pelayanan berbasis digital. Sistem ini mempercepat dan menertibkan proses pendaftaran serta dapat diintegrasikan dengan sistem lain seperti SIMRS sehingga alur pelayanan menjadi lebih efisien. Bagi pegawai, E-Pentole sesuai dengan alur kerja dan SOP yang ada sehingga memudahkan proses adaptasi dan membuat pekerjaan lebih tertata. Sementara bagi pasien, sistem ini cukup mudah digunakan dan membantu proses pendaftaran, meskipun pasien lanjut usia masih memerlukan pendampingan. Secara keseluruhan, E-Pentole mendukung terciptanya pelayanan rumah sakit yang lebih efektif dan tertib. Hal ini disampaikan oleh Admin IT terkait Sistem E- Pentole mudah diintegrasikan dengan sistem pelayanan lain, “E-Pentole cukup mudah diintegrasikan dengan sistem pelayanan lain. Sejak awal sistem ini memang disiapkan untuk mendukung pelayanan berbasis digital di rumah sakit, jadi bisa langsung terhubung dengan SIMRS. Dengan begitu, data pendaftaran bisa langsung digunakan dan alur pelayanan jadi lebih tertata.” (Wawancara, 21 Januari 2026).

 

3. Kerumitan


Meskipun memberikan berbagai manfaat, sebagian pasien masih mengalami kesulitan dalam menggunakan sistem E-Pentole, terutama bagi pasien yang kurang familiar dengan teknologi digital. Oleh karena itu, diperlukan upaya sosialisasi dan pendampingan kepada pengguna agar sistem dapat dimanfaatkan secara optimal. Penerapan sistem E-Pentole di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya dapat dikelola dengan baik meskipun pada tahap awal terdapat beberapa kendala dalam proses adaptasi staf dan pasien terhadap sistem baru. Namun, kendala tersebut tidak berlangsung lama karena tampilan dan alur penggunaan sistem dinilai cukup sederhana serta sesuai dengan proses kerja yang ada. Hal tersebut diungkapkan oleh Staf Pelayanan RS Bhayangkara “Di awal memang ada sedikit kesulitan karena sistemnya baru. Tapi tampilannya cukup sederhana dan ada pendampingan dari tim IT, jadi tidak lama kemudian kami terbiasa. Setelah itu, penggunaan E-Pentole justru terasa lebih membantu pekerjaan.” (Wawancara, 21 Januari 2026). Dukungan sosialisasi, pendampingan dari tim IT, dan bantuan petugas kepada pasien turut membantu proses penyesuaian, sehingga seiring waktu staf dan pasien semakin terbiasa menggunakan E-Pentole dan sistem dapat dimanfaatkan secara optimal dalam mendukung pelayanan pendaftaran di rumah sakit.

Gambar 3 Tampilan Input Nomor Booking. (Sumber: Dokumentasi, 2026)

            Gambar diatas menampilkan tampilan input nomor booking pada sistem E-Pentole yang digunakan dalam proses pendaftaran pasien, di mana pada tahap ini masih berpotensi muncul kendala teknis seperti gangguan jaringan atau kesalahan input. Penerapan sistem E-Pentole di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya berjalan cukup baik dan dapat dikelola dengan efektif. Kendala yang muncul umumnya terjadi pada tahap awal, baik terkait teknis maupun pemahaman pengguna, namun dapat diminimalkan melalui sosialisasi, pendampingan staf, koordinasi dengan tim IT, dan bantuan langsung dari petugas kepada pasien. Tampilan dan alur sistem yang sederhana serta kesesuaian dengan proses kerja yang sudah ada memudahkan staf dalam mengoperasikan E-Pentole, sementara pasien pun dapat beradaptasi secara bertahap.

 

4. Kemungkinan Uji Coba

Sistem E-Pentole telah diuji coba sebelum diterapkan secara penuh di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya. Proses uji coba ini memungkinkan pihak rumah sakit untuk melakukan evaluasi serta perbaikan sistem sehingga dapat digunakan secara lebih efektif oleh pasien. Hal tersebut diungkapkan oleh Kaursimrs “Iya, sebelum E-Pentole diterapkan sepenuhnya, sistem ini dicoba dulu. Staf ikut mencoba dan memberikan masukan, jadi  kita bisa tahu kendala yang muncul. Dari situ, perbaikan bisa dilakukan supaya saat digunakan di seluruh unit, sistemnya lebih lancar dan sesuai kebutuhan pelayanan.” (Wawancara, 20 Januari 2026). Penerapan E-Pentole dilakukan melalui proses evaluasi, uji coba, pelatihan, dan pendampingan bagi staf maupun pasien. Pada tahap ini, berbagai masukan terkait kendala penggunaan dikumpulkan dan dikaji bersama tim IT untuk menyempurnakan alur, tampilan, dan fitur sistem agar lebih mudah digunakan. Pelatihan membantu staf beradaptasi dengan penggunaan sistem sehingga pekerjaan menjadi lebih tertata, sementara pasien dapat memahami cara penggunaan melalui bantuan petugas hingga akhirnya mampu mengoperasikan E-Pentole secara mandiri. Ibu Sulistiyowati memberikan pernyataan setelah mencoba “Iya, kesempatan mencoba itu sangat membantu saya memahami cara pakainya. Awalnya memang masih bingung, tapi setelah dicoba langsung dan dibantu petugas, jadi lebih paham langkah-langkahnya. Setelah beberapa kali mencoba, saya jadi lebih terbiasa dan tidak terlalu kesulitan lagi.” (Wawancara, 22 Januari 2026). Proses tersebut memastikan bahwa ketika sistem diterapkan secara penuh, operasionalnya dapat berjalan lebih lancar, efektif, dan minim kendala.

 

5. Keterlihatan Hasil

Hasil dari penerapan sistem E-Pentole dapat terlihat dari berkurangnya antrean pasien serta meningkatnya efisiensi proses pelayanan pendaftaran. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi tersebut memberikan dampak positif terhadap kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit. Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Kaursimrs RS Bhayangkara Surabaya terkait perubahan E-Pentole “Perubahan yang paling terlihat setelah E- Pentole dijalankan adalah proses pendaftaran jadi lebih cepat dan tertib. Antrean pasien lebih teratur, data langsung masuk ke sistem, dan staf bisa bekerja lebih efisien. Pasien juga merasa lebih nyaman karena alurnya jelas dan tidak perlu menunggu lama, jadi dampak positifnya langsung terasa.” (Wawancara, 20 Januari 2026).  Penerapan E-Pentole di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya memberikan dampak positif terhadap pelayanan, terutama dalam mempercepat proses pendaftaran, menata antrean pasien, serta memudahkan pengelolaan data karena langsung tersimpan dalam sistem. Sistem ini juga dinilai berjalan efektif berdasarkan indikator teknis seperti kecepatan sistem, stabilitas jaringan, kesesuaian alur kerja dengan SOP, serta minimnya kesalahan input. Dampaknya, pasien merasakan waktu tunggu yang lebih singkat, alur pelayanan yang lebih jelas, dan kenyamanan yang meningkat, sehingga secara keseluruhan E-Pentole mampu meningkatkan efisiensi, keteraturan, dan kepuasan dalam pelayanan rumah sakit. Hal tersebut selaras oleh pernyataan pasien Rudy Fadil memberikan pernyataan terkait perubahan setelah diterapkan E-Pentole “Ya, saya memang merasakan perubahan setelah E-Pentole diterapkan. Proses pendaftaran jadi lebih cepat, antreannya tidak terlalu panjang, dan alurnya lebih jelas. Jadi saya tidak perlu menunggu lama, dan semuanya terasa lebih rapi. Secara keseluruhan, pelayanan sekarang terasa lebih nyaman.” (Wawancara, 22 Januari 2026). Penerapan E-Pentole di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya membawa perubahan yang nyata bagi pelayanan. Sistem ini membuat pekerjaan staf lebih efisien, pendaftaran pasien lebih cepat, antrean lebih tertata, dan kesalahan input berkurang. Pasien juga merasakan manfaatnya, dengan alur pelayanan yang lebih jelas, waktu tunggu lebih singkat, dan kenyamanan yang meningkat, sehingga mereka bersedia menggunakan sistem ini kembali. Selain meningkatkan pelayanan saat ini, E-Pentole juga menjadi dasar untuk evaluasi dan pengembangan layanan di masa depan, sehingga secara keseluruhan mendukung peningkatan kualitas pelayanan rumah sakit.

 

SIMPULAN

Inovasi pelayanan publik melalui sistem Elektronik Pendaftaran Totol Dewe (E-Pentole) di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan analisis menggunakan teori difusi inovasi Rogers, sistem ini memiliki keunggulan relatif dibandingkan sistem manual, sesuai dengan kebutuhan pengguna, serta mampu meningkatkan efisiensi proses pelayanan. Meskipun demikian, masih terdapat beberapa kendala seperti keterbatasan pemahaman teknologi pada sebagian pasien serta perlunya peningkatan sosialisasi penggunaan sistem. Oleh karena itu, pengembangan dan evaluasi sistem secara berkelanjutan perlu dilakukan agar inovasi pelayanan ini dapat memberikan manfaat yang lebih optimal bagi masyarakat.

 

SARAN

Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya terus meningkatkan efektivitas penerapan sistem Elektronik Pendaftaran Totol Dewe (E-Pentole) melalui peningkatan sosialisasi kepada masyarakat mengenai tata cara penggunaan sistem tersebut. Selain itu, pihak rumah sakit perlu melakukan pengembangan dan evaluasi sistem secara berkala agar lebih mudah digunakan oleh berbagai kalangan masyarakat serta dapat meminimalisir kendala teknis yang mungkin terjadi. Penyediaan layanan pendampingan bagi pasien yang mengalami kesulitan dalam menggunakan sistem juga perlu diperhatikan agar pelayanan tetap berjalan optimal. Dengan upaya tersebut, diharapkan inovasi E-Pentole dapat semakin meningkatkan kualitas dan efisiensi pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

 

REFERENSI

Sinambela, L. P. (2019). Reformasi Pelayanan Publik: Teori, Kebijakan dan Implementasi. Bumi Aksara.

Hardiansyah. (2020). Kualitas Pelayanan Publik: Konsep, Dimensi, dan Implementasinya. Gava Media.

Dwiyanto, A. (2021). Reformasi Birokrasi dan Pelayanan Publik di Indonesia. Gadjah Mada University Press.

Qatrunnada, A. F., Taufiqurrohman, T., & Rachmawati, I. (2023).

Rogers, E. M. (2020). Diffusion of Innovations. New York: Free Press.

Creswell, J. W. (2021). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (5th ed.). SAGE Publications.

Spradley, J. P. (dalam Paramita, R., 2021). Metode Etnografi dalam Penelitian Sosial. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Indrajit, R. E. (2018). E-Government: Strategi Pengembangan dan Implementasi di Indonesia. Andi Offset.