Friday, May 8, 2026

Pelatihan Pemanfaatan Youtube Sebagai Media Pembelajaran Interaktif Bagi Guru TKQ Al Falah

Training on the Utilization of YouTube as an Interactive Learning Media for TKQ Al Falah Teachers 

Siti Khotijah, Dewi Driyani, Muhamad Haikal, Juliana

Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknik Dan Ilmu Komputer, Universitas Indraprasta PGRI

Email Korespondensi: sitik2805@gmail.com

 

Abstrak

Kemajuan teknologi yang terus berkembang mengakibatkan berbagai bentuk pekerjaan memerlukan komputer untuk mendukung kegiatannya. Dengan komputer, teknologi dapat dikembangkan melalui jaringan internet sehingga mempermudah manusia dalam memperoleh dan menyebarkan informasi. Internet dapat digunakan untuk mengembangkan proses pembelajaran. Dengan menggunakan internet, bahan ajar untuk siswa dapat dibuat lebih menarik, interaktif, dan bervariasi. Salah satu teknologi internet yang sering digunakan oleh anak-anak usia taman kanak-kanak adalah YouTube. YouTube merupakan media sosial yang banyak diminati oleh masyarakat karena menyediakan berbagai macam konten edukatif, hiburan, dan informasi. Dalam konteks pembelajaran, YouTube dapat dimanfaatkan sebagai salah satu media pembelajaran yang mampu meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa di taman kanak-kanak. Melalui video pembelajaran yang menarik, siswa dapat lebih mudah memahami materi yang diberikan oleh guru. Oleh karena itu, pelatihan pembuatan dan penggunaan YouTube sebagai media pembelajaran bagi guru TK Al Falah menjadi penting untuk dilakukan. Kegiatan ini bertujuan agar para guru mampu memanfaatkan teknologi digital secara optimal dalam proses belajar mengajar sehingga tercipta pembelajaran yang lebih inovatif, kreatif, dan menyenangkan bagi anak-anak.

Kata Kunci: Pelatihan, Youtube, Media Pembelajaran Interaktif,  Guru TKQ Al Falah

Abstract

The advancement of technology continues to grow, resulting in various forms of work requiring computers to support their activities. With computers, technology can be developed through internet networks, making it easier for people to obtain and disseminate information. The internet can also be used to develop learning processes. By utilizing the internet, teaching materials for students can be made more interesting, interactive, and varied. One of the internet technologies frequently used by kindergarten-age children is YouTube. YouTube is a social media platform that is highly popular among the public because it provides a wide range of educational, entertainment, and informational content. In the context of learning, YouTube can be utilized as a learning medium capable of increasing students’ interest and motivation in kindergarten education. Through engaging learning videos, students can more easily understand the material delivered by teachers. Therefore, training in the creation and use of YouTube as a learning medium for teachers at TKQ Al Falah is important to conduct. This activity aims to enable teachers to optimally utilize digital technology in the teaching and learning process, thereby creating learning experiences that are more innovative, creative, and enjoyable for children.

Keywords: Training, YouTube, Interactive Learning Media, TKQ Al Falah Teachers


PENDAHULUAN

Perkembangan YouTube sebagai salah satu media sosial yang paling diminati masyarakat saat ini terus mengalami peningkatan seiring dengan pesatnya transformasi digital dan meningkatnya konsumsi konten berbasis video di berbagai kalangan. Platform ini tidak hanya digunakan sebagai sarana hiburan, tetapi juga telah berkembang menjadi salah satu sumber belajar utama dalam ekosistem pendidikan digital. Kondisi ini membuka peluang yang sangat besar dalam dunia pendidikan untuk memanfaatkan teknologi berbasis video sebagai media pembelajaran yang lebih efektif dan relevan dengan karakteristik peserta didik masa kini.

Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas, kreatif, adaptif, serta mampu mengikuti perkembangan teknologi di era digital dan Revolusi Industri 4.0 hingga Society 5.0. Dalam perkembangan saat ini, integrasi teknologi seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), pembelajaran berbasis digital, serta platform video edukasi semakin mendorong perubahan cara belajar yang lebih fleksibel, mandiri, dan berbasis kebutuhan individu. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi informasi dalam proses pembelajaran menjadi langkah yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara berkelanjutan.

Dalam konteks pembelajaran modern, YouTube dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang efektif, interaktif, dan adaptif terhadap kebutuhan peserta didik. Platform berbagi video ini mendukung konsep pembelajaran berbasis digital dan microlearning, di mana siswa dapat belajar dalam bentuk potongan materi singkat yang mudah dipahami. Melalui YouTube, siswa dapat mencari, mempelajari, mengulang, serta membagikan informasi berupa pengetahuan maupun praktik secara mandiri kapan saja dan di mana saja. Selain itu, penggunaan media audiovisual seperti YouTube membantu meningkatkan pemahaman siswa melalui kombinasi gambar, suara, animasi, serta video edukatif yang lebih menarik dan sesuai dengan gaya belajar anak usia dini yang cenderung visual dan audio-visual.

Seiring perkembangan teknologi pendidikan saat ini, YouTube juga semakin terintegrasi dengan berbagai fitur digital lainnya seperti subtitle otomatis, rekomendasi berbasis algoritma, serta dukungan pembelajaran berbasis kecerdasan buatan yang dapat membantu pengguna menemukan konten yang lebih relevan. Hal ini menjadikan YouTube sebagai salah satu media pembelajaran yang tidak hanya inovatif, tetapi juga personal dan adaptif terhadap kebutuhan belajar masing-masing individu.

Pemanfaatan YouTube dalam proses pembelajaran juga membantu guru dalam menciptakan suasana belajar yang lebih kreatif, menyenangkan, dan tidak monoton. Guru dapat memanfaatkan berbagai konten edukatif yang telah tersedia secara luas, maupun mengembangkan sendiri video pembelajaran sesuai dengan kurikulum dan kebutuhan peserta didik. Dengan pendekatan ini, guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator dan kreator konten pembelajaran digital. Hal ini secara langsung dapat meningkatkan minat, motivasi, serta partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan hasil observasi, mitra yaitu TKQ Al-Falah masih menerapkan metode pembelajaran manual dengan sistem tatap muka konvensional. Pemanfaatan media pembelajaran berbasis teknologi digital masih belum optimal, sehingga proses pembelajaran cenderung kurang variatif dan kurang mampu mengikuti perkembangan kebutuhan belajar anak di era digital saat ini. Kondisi ini juga menyebabkan siswa lebih cepat merasa bosan karena keterbatasan media pembelajaran yang digunakan.

Oleh karena itu, diperlukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan penggunaan YouTube sebagai media pembelajaran bagi guru TKQ Al-Falah. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kesiapan guru dalam memanfaatkan teknologi digital secara optimal dalam proses pembelajaran. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan guru mampu menciptakan pembelajaran yang lebih inovatif, kreatif, efektif, serta sesuai dengan perkembangan teknologi pendidikan di era digital saat ini.

Permasalahan Mitra

Berdasarkan analisis situasi yang telah dijelaskan, dapat diidentifikasi beberapa permasalahan utama yang dihadapi oleh mitra, yaitu sebagai berikut:

  1. Proses pembelajaran masih menggunakan alat bantu yang sangat terbatas dan masih bersifat manual, sehingga belum mendukung penerapan pembelajaran berbasis teknologi informasi secara optimal.
  2. Guru masih belum terbiasa dan belum memiliki pengalaman yang cukup dalam menggunakan komputer sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran.
  3. Guru masih belum memiliki keterampilan yang memadai dalam memanfaatkan internet, khususnya YouTube, sebagai media pembelajaran yang dapat menunjang proses belajar mengajar secara lebih interaktif dan menarik.

Solusi

Berdasarkan permasalahan yang dihadapi oleh mitra, kami sebagai dosen di bidang Informatika menawarkan beberapa solusi yang diharapkan dapat membantu meningkatkan kompetensi dan kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi informasi dalam proses pembelajaran. Solusi yang diberikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praktis sehingga dapat langsung diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Adapun solusi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Memberikan penyuluhan serta pelatihan penggunaan komputer kepada guru untuk meningkatkan kemampuan dasar teknologi informasi yang diperlukan dalam mendukung kegiatan pembelajaran berbasis digital. Pelatihan ini diharapkan dapat membantu guru dalam mengoperasikan komputer secara lebih efektif dan percaya diri.
  2. Memberikan penyuluhan dan pelatihan mengenai penggunaan internet, khususnya YouTube, sebagai sarana pembelajaran berbasis digital yang interaktif. Guru akan dibimbing untuk memahami cara mengakses, memanfaatkan, serta memilih konten edukatif yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.
  3. Mengadakan pelatihan pembuatan media pembelajaran berbasis YouTube agar guru mampu mengembangkan konten pembelajaran sendiri yang lebih kreatif, inovatif, dan menarik bagi siswa. Dengan demikian, guru tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga dapat menjadi kreator media pembelajaran digital.

Target

Target dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini disusun untuk memberikan arah yang jelas terhadap hasil yang ingin dicapai. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan terjadi peningkatan kompetensi guru dalam pemanfaatan teknologi informasi, khususnya dalam proses pembelajaran di TKQ Al-Falah. Adapun target yang ingin dicapai adalah sebagai berikut:

  1. Meningkatkan pengetahuan guru-guru di TKQ Al-Falah mengenai penggunaan komputer sebagai alat bantu dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari.
  2. Memberikan pelatihan penggunaan internet dan YouTube sebagai media pembelajaran yang dapat membantu guru dalam menyampaikan materi secara lebih menarik, interaktif, dan mudah dipahami oleh siswa.
  3. Memberikan pelatihan pembuatan media pembelajaran berbasis internet dan YouTube yang dapat digunakan secara langsung dalam proses belajar mengajar di kelas maupun sebagai bahan pembelajaran mandiri.

 

METODE

Metode Pelaksanaan

Metode pelaksanaan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan melalui beberapa tahapan sebagai berikut:

  1. Survei. Survei dilakukan untuk mengidentifikasi, mengamati, dan memahami secara langsung permasalahan yang dihadapi oleh mitra. Tahap ini bertujuan untuk memperoleh data awal sebagai dasar dalam merancang kegiatan pelatihan yang tepat sasaran.
  2. Perencanaan Pelatihan. Berdasarkan hasil survei, selanjutnya dilakukan perencanaan kegiatan pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan mitra. Pada tahap ini ditentukan materi, metode pelaksanaan, serta media yang akan digunakan dalam kegiatan pelatihan.
  3. Pembuatan Materi Pelatihan. Materi pelatihan disusun berdasarkan hasil perencanaan yang telah ditetapkan. Penyusunan materi dilakukan dengan memperhatikan tingkat pemahaman peserta agar mudah dipahami dan dapat diterapkan secara langsung dalam kegiatan pembelajaran.
  4. Pelaksanaan Pelatihan. Pelatihan dilaksanakan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru-guru dalam memanfaatkan teknologi informasi sebagai media pembelajaran. Kegiatan ini dilakukan secara daring menggunakan aplikasi Zoom. Pelaksanaan diawali dengan pemaparan materi oleh narasumber, kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab untuk memperdalam pemahaman peserta. Selanjutnya, peserta diberikan pendampingan secara langsung dalam praktik pembuatan media pembelajaran menggunakan YouTube sehingga peserta dapat mengaplikasikan materi yang telah disampaikan secara mandiri. Bottom of Form

Bahan dan Peralatan

Dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini digunakan media daring (online) melalui aplikasi Zoom, sehingga pelaksanaan dilakukan secara jarak jauh. Metode yang digunakan adalah drill and practice, yaitu peserta mendengarkan arahan dari narasumber terlebih dahulu, kemudian langsung mempraktikkan materi yang telah disampaikan secara mandiri maupun terbimbing.

Adapun peralatan yang digunakan untuk menunjang kegiatan ini meliputi handphone, komputer, serta ruang yang kondusif untuk mendukung kelancaran proses pelatihan. Seluruh persiapan dan pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini telah dikoordinasikan melalui rapat antara tim pengabdian masyarakat dan mitra, yaitu guru-guru di TKQ Al-Falah.

 

HASIL KEGIATAN

Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan secara daring melalui media online berjalan dengan lancar dan sesuai dengan rencana yang telah disusun. Kegiatan pelatihan penggunaan internet dan YouTube kepada guru-guru TKQ Al-Falah Depok diharapkan dapat meningkatkan pemahaman serta keterampilan peserta dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai media pembelajaran, khususnya dalam mendukung proses belajar mengajar yang lebih inovatif dan interaktif.

Gambar 1. Tim PKM

Keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini dapat dilihat dari beberapa aspek sebagai berikut:

  1. Peserta pelatihan memberikan respon yang sangat positif terhadap kegiatan ini. Hal ini terlihat dari antusiasme peserta dalam mengikuti setiap sesi pelatihan, keseriusan dalam memperhatikan materi, serta keaktifan dalam bertanya ketika mengalami kesulitan. Selain itu, peserta juga menyediakan waktu, tempat, serta perangkat seperti handphone dan koneksi internet sebagai sarana untuk mengikuti pelatihan yang diberikan oleh tim pengabdian masyarakat.
  2. Keterampilan peserta setelah mengikuti pelatihan mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan peserta dalam memahami materi dan menyelesaikan tugas atau latihan secara mandiri dengan lebih baik dibandingkan sebelum pelatihan dilaksanakan.
  3. Peserta pelatihan menjadi lebih memahami pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran, khususnya pada kondisi pembelajaran yang menuntut penggunaan media berbasis internet. Guru-guru juga mulai mampu merancang pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik dengan memanfaatkan YouTube sebagai media edukasi bagi anak-anak di TKQ Al-Falah.
  4. Secara umum, kegiatan ini memberikan dampak positif dalam meningkatkan wawasan dan kesiapan guru dalam menghadapi perkembangan teknologi pendidikan, sehingga pembelajaran dapat menjadi lebih efektif, kreatif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik di era digital.

Luaran yang Dicapai

Pada pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang telah dilakukan, luaran yang dihasilkan berupa modul pelatihan dan artikel ilmiah bagi peserta pelatihan. Modul pelatihan disusun secara sistematis dan praktis agar mudah dipahami oleh peserta, sehingga dapat digunakan sebagai panduan dalam mengikuti setiap tahapan kegiatan yang diberikan oleh instruktur.

Gambar 2. Kegiatan PKM

Dengan adanya modul tersebut, diharapkan peserta dapat lebih mudah memahami materi pelatihan, mulai dari pengenalan dasar penggunaan komputer, pemanfaatan internet, hingga penggunaan YouTube sebagai media pembelajaran. Modul ini juga dapat digunakan kembali oleh peserta sebagai referensi mandiri ketika menerapkan pembelajaran berbasis digital di lingkungan sekolah.

Selain itu, artikel ilmiah yang dihasilkan berfungsi sebagai bentuk dokumentasi akademik dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang telah dilaksanakan. Artikel ini juga dapat menjadi referensi bagi kegiatan serupa di masa mendatang serta memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan di bidang pemanfaatan teknologi informasi dalam pendidikan.

Kedua luaran tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan, tidak hanya selama kegiatan pelatihan berlangsung, tetapi juga setelah kegiatan selesai. Guru-guru diharapkan dapat meningkatkan kompetensinya dalam memanfaatkan internet dan YouTube sebagai media pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan interaktif bagi peserta didik, khususnya di TKQ Al-Falah Depok. Dengan demikian, proses pembelajaran di sekolah dapat menjadi lebih menarik, efektif, dan sesuai dengan perkembangan teknologi di era digital saat ini.

 

SIMPULAN

Simpulan yang diperoleh dari kegiatan pelatihan bagi guru-guru di TKQ Al-Falah Depok adalah sebagai berikut:

  1. Para peserta menjadi lebih memahami penggunaan internet dan YouTube sebagai media pembelajaran, baik dari aspek pengoperasian dasar, pemanfaatan fitur, maupun penerapannya dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Pemahaman ini mencakup kemampuan dalam mengakses, memilih, serta memanfaatkan konten edukatif yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.
  2. Para peserta mampu memanfaatkan internet dan YouTube untuk mendukung proses pembelajaran kepada siswa-siswi didiknya, sehingga penyampaian materi menjadi lebih menarik, interaktif, variatif, dan lebih mudah dipahami oleh anak usia dini. Penggunaan media visual dan audio dari YouTube juga membantu meningkatkan perhatian serta minat belajar siswa.
  3. Kegiatan pelatihan ini juga memberikan peningkatan keterampilan bagi guru dalam menggunakan teknologi informasi, khususnya dalam penggunaan komputer, internet, dan platform YouTube. Keterampilan ini diharapkan dapat terus diterapkan, dikembangkan, dan disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah secara berkelanjutan.
  4. Secara keseluruhan, pelatihan ini memberikan dampak positif dalam meningkatkan kesiapan guru dalam menghadapi perkembangan teknologi pendidikan. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan guru dapat menjadi lebih kreatif, inovatif, dan adaptif dalam memanfaatkan media digital untuk mendukung proses belajar mengajar di TKQ Al-Falah Depok, baik pada pembelajaran tatap muka maupun pembelajaran berbasis teknologi.
  5. Hasil dari kegiatan ini diharapkan dapat terus digunakan secara berkelanjutan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari, sehingga ilmu dan keterampilan yang diperoleh tidak hanya berhenti pada saat pelatihan, tetapi juga dapat diterapkan secara langsung dalam memberikan pengajaran kepada siswa-siswi didik, khususnya di lingkungan TKQ Al-Falah Depok.

Saran

            Saran dalam kegiatan pelatihan bagi guru-guru di TKQ Al-Falah Depok adalah sebagai berikut:

  1. Diperlukan peningkatan fasilitas perangkat teknologi, seperti komputer dengan spesifikasi yang lebih baik dan jaringan internet yang stabil, agar proses pelatihan maupun pembelajaran dapat berjalan lebih optimal dan efektif.
  2. Diperlukan pelatihan lanjutan secara berkala mengenai pengembangan teknologi pembelajaran, sehingga guru-guru di TKQ Al-Falah dapat menambah wawasan dan keterampilan dalam memanfaatkan berbagai media digital lainnya yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran, tidak hanya terbatas pada YouTube, terutama dalam menghadapi kebutuhan pembelajaran di era digital seperti saat ini.
  3. Diharapkan adanya dukungan dari pihak sekolah untuk terus mendorong guru dalam mengembangkan kemampuan teknologi informasi melalui kegiatan workshop atau pelatihan rutin agar kompetensi guru semakin meningkat dan sesuai dengan perkembangan zaman.

 

REFERENSI

Himawan, H., Saefullah, A., & Santoso, S. (2014). Analisa dan perancangan sistem informasi penjualan online (e-commerce) pada CV Selaras Batik menggunakan analisis deskriptif. Scientific Journal of Informatics, 1(1).

Haerulah, E., & Ismiyatih, S. (2017). Aplikasi e-commerce penjualan suvenir pada Toko “XYZ”. Jurnal PROSISKO, 4(1).

Utomo, J. T. (2010). Lingkungan bisnis dan persaingan bisnis ritel. Fokus Ekonomi, 5(1), 70–80.

Pratisti, R. (2020, February 17). Inilah perbedaan online shop, e-commerce dan marketplace yang perlu kamu ketahui. Teknonisme.

 

Thursday, May 7, 2026

Studi Tingkat Kesadaran Mahasiswa Terhadap Etika Profesional Akuntansi Berdasarkan Q.S Al Baqarah (2):282-284


A Study of Students’ Awareness Level of Professional Accounting Ethics Based on Q.S. Al-Baqarah (2): 282–284

A Study of Students’ Awareness Level of Professional Accounting Ethics Based on Q.S. Al-Baqarah (2): 282–284 | Khotami | Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin 

Hanifa Nurul K.¹, Irma Khairunisa², Jamiludin Saepul Bahri³, Nur Aisah⁴, Salsabilla⁵, Ulya Khairunnisa K. D.⁶, Edi Suresman⁷

¹²³⁴⁵⁶⁷Universitas Pendidikan Indonesia

Abstrak

Etika profesional dalam profesi akuntansi merupakan hal yang sangat krusial bagi para akuntan dalam mengelola keuangan guna menghindari perbuatan tidak etis dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan. Akan tetapi, dalam praktiknya tidak sedikit akuntan yang melanggar etika profesionalnya karena alasan materialisme individu. Yang di mana tidak sesuai dengan ketentuan dan syariah islam. Maka dari itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kesadaran mahasiswa Akuntansi berlandaskan nilai-nilai islam sebagaimana yang terkandung dalam Q.S. Al-Baqarah (2): 282-284 dan hadits Rasulullah Saw. Metode penelitian yang digunakan adalah statistik deskriptif dengan pendekatan kuantitatif guna mengetahui tingkat kesadaran mahasiswa terhadap etika profesi akuntan berlandaskan syariah islam menggunakan instrumen kuesioner tertutup. Uji coba instrumen menunjukkan hasil yang valid dan reliabel dengan data statistik yang menunjukkan tingkat kesadaran mahasiswa yang tinggi terhadap etika profesional hal ini menunjukkan bukti empiris bahwa muatan etika dalam pengajaran akuntansi berpengaruh signifikan terhadap perkembangan moral mahasiswa.

Kata kunci: Etika Profesi, Akuntansi, Al-Qur’an, Hadits

Abstract

Professional ethics in the accounting profession are crucial for accountants in managing financial matters to prevent unethical actions in the preparation and presentation of financial statements. However, in practice, many accountants still violate professional ethics due to individual materialistic motives, which are not in accordance with Islamic provisions and sharia principles. Therefore, this study aims to determine the level of awareness among Accounting students based on Islamic values as contained in Q.S. Al-Baqarah (2): 282–284 and the hadith of the Prophet Muhammad (peace be upon him), which are derived from the Al-Qur'an. The research method used is descriptive statistics with a quantitative approach to examine the level of students’ awareness of accounting professional ethics based on Islamic sharia, using a closed-ended questionnaire as the instrument. The instrument testing results indicate that the data are valid and reliable. Statistical results show that students have a high level of awareness of professional ethics. This provides empirical evidence that the inclusion of ethical content in accounting education significantly influences the moral development of students.

Keywords: Professional Ethics, Accounting, Al-Qur’an, Hadith

PENDAHULUAN

Akuntan merupakan profesi yang sangat dibutuhkan pada masa kini. Banyak bidang perusahaan yang membutuhkan seorang Akuntan untuk mengelola keuangannya. Namun, pada prakteknya masih banyak akuntan yang melanggar etika profesionalitas. Munculnya pelanggaran etika akuntan publik diantaranya disebabkan tujuan materialisme individu, sehingga tidak mengindahkan etika. Akuntan yang dalam prakteknya dihadapkan pada dilema etis, meskipun telah dibekali kode etik dan standar profesi tetap saja akan bertindak tidak etis bila dia hanya percaya pada alam materi saja (Putri et al, 2023). Dengan begitu, diperlukannya kesadaran untuk bisa menerapkan etika profesional tersebut, salah satunya adalah dengan menerapkan nilai-nilai syariat Islam. Nilai pada syariat Islam akan membantu Akuntan untuk lebih memahami arti dalam menjaga profesionalismenya pada pekerjaan seperti nilai kejujuran, tanggung jawab, amanah dan transparansi. Penerapan nilai-nilai Islam tersebut bukan hanya meningkatkan efisiensi laporan keuangan saja, namun juga dapat memperkuat nilai-nilai Islam dalam aktivitas ekonomi (Aminanda et al, 2024). Hal ini bisa dilakukan dengan cara meningkatkan kesadaran mahasiswa khususnya mahasiswa program studi Akuntansi atau program studi serumpun lainnya untuk mempelajari dan menerapkan ajaran-ajaran Islam dalam menjalani pekerjaannya sebagai seorang Akuntan.

Penerapan nilai syariat ini menjadi sangat penting karena sudah diatur dalam QS. Al-Baqarah ayat 282-284, yang pada dasarnya menekankan prinsip tanggung jawab dan keterbukaan dalam ekonomi. Dalam pandangan Islam, akuntansi bukan hanya sebatas kegiatan mencatat angka, tapi juga bentuk pertanggungjawaban kita kepada Allah SWT. Hal ini sejalan dengan konsep itqan atau bekerja secara profesional, serta nilai kejujuran yang menjadi kunci integritas seorang akuntan.

Penelitian ini menggunakan Teori Perilaku Terencana (Ajzen, 1991) yang menjelaskan bahwa tindakan seseorang dipengaruhi oleh niat, yang terbentuk dari sikap, norma subjektif, dan persepsi kendali perilaku. Teori ini dikaitkan dengan kode etik profesi akuntansi serta nilai-nilai Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits. Sangat penting untuk menggabungkan nilai-nilai Islam ini dengan aturan resmi dari organisasi profesi seperti IAI (Ikatan Akuntansi Indonesia) dan IAPI (Institut Akuntan Publik Indonesia), yang mencakup prinsip objektivitas, kompetensi, dan menjaga rahasia. Dengan memadukan etika profesi dan kesadaran spiritual, seorang akuntan diharapkan bisa bekerja dengan jujur dan amanah.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kesadaran Mahasiswa Akuntansi terhadap etika profesional Akuntansi yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Mahasiswa diharapkan dapat memahami mengenai konsep etika profesional seperti kejujuran (sidq), tanggung jawab (mas’uliyyah), amanah, dan transparansi dalam perspektif Islam. Kemudian penelitian ini juga bertujuan untuk mengkaji relevansi ajaran Al-Qur’an dan Hadits sebagai landasan normatif dalam pembentukan sikap dan perilaku etis mahasiswa akuntansi sebagai calon profesional di bidang Akuntansi, serta memberikan gambaran kontribusi nilai-nilai Islam terhadap pembentukan etika profesional Akuntansi, khususnya dalam meningkatkan kesadaran etis mahasiswa dalam menghadapi praktik dan tantangan profesi di masa depan.

Maka dari itu, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai kontribusi untuk pengembangan kajian etika profesional Akuntansi dengan mengintegrasikan nilai-nilai syariat Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits. Temuan dari penelitian ini juga diharapkan mampu memperkaya kajian literatur akademik terkait dengan profesi Akuntansi, khususnya berkaitan dengan kesadaran etis mahasiswa akuntansi. Adapun secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi perguruan tinggi dalam pengembangan etika pembelajaran Akuntansi berbasis nilai-nilai yang sesuai dengan syariat Islam. Selain itu, dengan adanya penelitian ini kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya penerapan etika profesionalitas yang dilandaskan atas kejujuran, tanggung jawab, amanah dan transparan diharapkan dapat meningkat sebagai bekal dalam menjalankan profesi akuntan di masa mendatang.

 

 

METODE

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode statistik deskriptif dengan pendekatan kuantitatif pengumpulan data dalam penelitian ini dilaksanakan secara sistematis untuk menilai pemahaman mahasiswa mengenai etika profesi akuntan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Alat utama yang digunakan adalah kuesioner tertutup yang disebarkan kepada responden melalui platform digital. Kuesioner ini dirancang dengan Skala Likert empat poin untuk mengubah pandangan subjektif responden menjadi data numerik yang bisa dianalisis secara statistik. Butir-butir pernyataan dalam instrumen ini dibuat dengan menurunkan dari prinsip-prinsip etika profesi yang disesuaikan secara teologis dengan nilai-nilai dalam Q.S. Al-Baqarah (2): 282-284 dan Hadits. Selain kuesioner, peneliti juga melakukan analisis dokumen terhadap literatur tafsir serta Standar Kode Etik Profesi untuk memastikan kevalidan isi dari instrumen yang dipakai. Semua data yang dikumpulkan selanjutnya akan diuji dengan uji validitas dan reliabilitas untuk memastikan ketepatan hasil penelitian sebelum memasuki fase analisis data.

Teknis pengumpulan data dalam penelitian ini dirancang untuk memperoleh data yang valid, reliabel, dan relevan dengan tujuan studi mengenai tingkat kesadaran mahasiswa terhadap etika profesional akuntansi berbasis nilai Islam. Peneliti menggunakan kombinasi dua teknik utama, yaitu:

a.      Instrumen Kuesioner (Data Primer)

Data utama diperoleh secara langsung dari responden melalui penyebaran kuesioner terstruktur berbasis digital dalam bentuk Google Form. Langkah-langkah dalam teknik ini meliputi:

1)    Identifikasi Responden: Sasaran responden adalah mahasiswa aktif program studi Akuntansi atau rumpun ekonomi syariah yang telah menempuh mata kuliah Etika Profesi atau Akuntansi Dasar, guna memastikan responden memiliki pemahaman dasar terhadap objek penelitian.

2)    Konstruksi Butir Pernyataan: Pernyataan dalam kuesioner tidak hanya merujuk pada Standar Kode Etik Akuntan Indonesia (IAI), tetapi dikonstruksikan dari nilai-nilai teologis dalam Q.S. Al-Baqarah (2): 282-284 dan hadist Nabi. Misalnya, prinsip pencatatan transaksi yang detail dalam ayat 282 diubah menjadi indikator perilaku “Ketelitian dan Transparansi dalam Pelaporan”.

3)    Sistem Skala Likert: Peneliti menggunakan Skala Likert 4 point (Sangat Setuju, Setuju, Tidak Setuju, dan Sangat Tidak Setuju). Pemilihan empat poin ini bertujuan untuk mengeliminasi jawaban “Netral” atau “Ragu-ragu”, sehingga responden dipaksa untuk menentukan kecenderungan sikap mereka secara tegas terhadap etika profesional yang ditanyakan.

b.      Prosedur Operasional Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data diawali dengan tahap pra-penelitian untuk menyelaraskan indikator etika profesi dengan nilai-nilai syariat dalam Q.S Al-Baqarah: 282-284. Selanjutnya, instrumen kuesioner disebarkan melalui platform Google Forms untuk menjangkau responden secara efisien dan memastikan data terekam secara sistematis dalam format spreadsheet. Pengumpulan data dilakukan selama periode waktu tertentu hingga mencapai jumlah responden yang representatif. Data yang masuk kemudian melalui tahap data cleaning (pembersihan data) untuk memastikan tidak ada jawaban yang ganda atau tidak lengkap sebelum memasuki tahap analisis deskriptif.

c.      Studi Literatur dan Dokumentasi (Data Sekunder)

Teknik ini digunakan untuk memperkuat landasan normatif dalam menganalisis data primer. Peneliti mengumpulkan dan menelaah sumber-sumber tertulis yang relevan, di antaranya:

a.     Tafsir Al-Qur’an: Khususnya penafsiran ayat-ayat Mudayanah (transaksi utang-piutang) dalam Q.S Al-Baqarah: 282-284 untuk menarik benang merah antara kewajiban syar’i dan kewajiban profesional akuntan.

b.    Kodifikasi Hadits: Menelaah hadis riwayat Bukhari, Muslim, dan Thabrani mengenai kejujuran (Sidq) dan profesionalisme (Iqtan)

c.     Regulasi Profesi: Mengacu pada Kode Etik Akuntan yang diterbitkan oleh IAI, IAMI, dan IAPI sebagai pembanding antara standar duniawi (profesi) dengan standar ukhrawi (agama).

HASIL

Uji Coba Instrumen

Uji validitas dan uji reliabilitas dilakukan dengan jumlah responden 76 mahasiswa yang tersebar di Jawa Barat untuk reliabel. Uji validitas dan reliabilitas dilakukan pada satu kelompok angket, yaitu pada variabel X. Untuk menguji validitas dari item instrumen, maka digunakan Pearson Product Moment dengan melihat nilai signifikansi atau hasil r hitung (Tambalitan dan Aseng, 2023). Instrumen dikatakan valid apabila nilai signifikansi <0.05 atau hasil dari r hitung >0.227. Hasil uji validitas pada variabel X menunjukkan signifikansi sebesar 0.000 atau <0.05 dan hasil dari r hitung adalah sebesar 0.487 hingga 0.879 yang di mana >0.227. Data tersebut mengindikasikan bahwa setiap item dari instrumen dapat dikatakan valid.

Sementara itu, uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten. Sugiono (2020) menyatakan bahwa reliabilitas adalah indeks yang menyatakan sejauh mana suatu alat pengukur dapat diandalkan atau dipercaya. Hal ini menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten apabila dilakukan dua kali hingga lebih terhadap gejala yang sama dan dengan alat ukur yang sama. Suatu data dianggap reliabel apabila Cronbach Alpha >0.60. Hasil uji reliabilitas pada variabel X menyatakan Cronbach Alpha sebesar 0.969 (Gambar 1) dengan jumlah pertanyaan 25 item. Nilai r tabel sebesar 0.60, dengan demikian 0.969 > 0.60 sehingga item instrumen dapat dikatakan reliabel. Dengan begitu, hasil uji validitas dan reliabilitas sudah memenuhi.


Gambar 1. Hasil Uji Reliabilitas

 


Uji Statistik Deskriptif

Gambar 2. Uji Statistik Deskriptif

Statistik Deskriptif merupakan metode analisis data yang penting dalam menggambarkan dan menganalisis data. Dengan menggunakan ukuran pemusatan seperti mean, median, modus, serta ukuran penyebaran seperti deviasi standar, varians dan rentang memungkinkan statistik deskriptif menggambarkan pola dan tren utama dalam data secara sistematis (Subhaktiyasa et al., 2023). Jumlah responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 76 mahasiswa. Analisis Statistik Deskriptif dalam penelitian ini digunakan untuk melihat gambaran tingkat kesadaran mahasiswa terhadap etika profesional akuntansi berdasarkan beberapa empat dimensi, yaitu kejujuran, profesionalisme, amanah dan ketelitian.

1.       Dimensi Kejujuran

Hasil analisis menunjukkan bahwa dimensi kejujuran memiliki nilai mean (rata-rata) sebesar 19.0132 dengan nilai minimum 14 dan nilai maksimum 20. Nilai standar deviasi sebesar 1.40943 yang menunjukkan bahwa tingkat variasi jawaban responden relatif kecil. Hal ini berarti sebagian besar responden memiliki tingkat kesadaran yang tinggi terhadap nilai kejujuran dalam etika profesional akuntansi.

2.       Dimensi Profesionalisme

Hasil analisis menunjukkan bahwa dimensi kejujuran memiliki nilai mean (rata-rata) sebesar 18.6974 dengan nilai minimum 15 dan nilai maksimum 20. Nilai standar deviasi sebesar 1.85487 yang menunjukkan bahwa tingkat variasi jawaban responden sedikit lebih besar dibanding dimensi kejujuran. Namun secara umum, hasil ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran mahasiswa terhadap profesionalisme tergolong tinggi.

3.       Dimensi Amanah

Dimensi amanah memiliki nilai rata-rata sebesar 19.0526. dengan nilai minimum 15 dan maksimum 20. Standar deviasi sebesar 1.68835 menunjukkan bahwa jawaban responden cukup konsisten. Hal ini mengindikasi bahwa mahasiswa memiliki pemahaman yang tinggi mengenai pentingnya sikap amanah dalam profesi akuntansi.

4.       Dimensi Ketelitian

Pada dimensi ketelitian diperoleh nilai mean (rata-rata) sebesar 18.7500 dengan nilai minimum 15 dan maksimal 20. Standar deviasi berada di nomor 1.72143 menunjukkan variasi jawaban yang tidak terlalu besar. Hasil ini menunjukkan bahwa mahasiswa juga memiliki tingkat kesadaran yang cukup tinggi terhadap ketelitian dalam menjalankan tugas profesional.

Hasil dari analisis Statistik Deskriptif menunjukkan bahwa tingkat kesadaran mahasiswa terhadap etika profesional akuntansi pada seluruh dimensi tergolong tinggi sebab rata-rata masing-masing dimensi mendekati skor maksimum yaitu 20. Selain itu, standar deviasi yang relatif kecil menunjukkan bahwa jawaban responden cenderung homogen atau tidak terlalu bervariasi.

 

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil pengolahan data yang diperoleh dari penyebaran kuesioner di media sosial menunjukkan bahwa mahasiswa yang sedang menempuh jenjang pendidikan sarjana khususnya pada rumpun akuntansi memiliki tingkat kesadaran yang tinggi terhadap etika profesional akuntansi berlandaskan dengan nilai-nilai Islam. Hal ini terlihat dari nilai standar deviasi pada setiap dimensi, yaitu kejujuran, profesionalisme, amanah, dan ketelitian yang relatif kecil sehingga menunjukkan bahwa jawaban responden cenderung homogen dan konsisten. Selain itu, nilai rata-rata pada masing-masing dimensi mendekati skor maksimum, yang mengindikasikan bahwa sebagian besar mahasiswa memberikan respons positif terhadap pernyataan-pernyataan yang berkaitan dengan etika profesional. Tingginya tingkat kesadaran pada dimensi kejujuran dan amanah mencerminkan bahwa mahasiswa telah memahami pentingnya integritas dan tanggung jawab dalam praktik akuntansi. Hal ini sejalan dengan prinsip dalam Q.S. Al-Baqarah (2): 282–284 yang menekankan pencatatan transaksi secara benar, jelas, dan penuh tanggung jawab. Sementara itu, dimensi profesionalisme dan ketelitian menunjukkan bahwa mahasiswa menyadari pentingnya kompetensi, kehati-hatian, dan kecermatan dalam menyusun serta menyajikan laporan keuangan.

Temuan ini juga didukung oleh penelitian Febriana et al (2026) yang menyatakan bahwa nilai-nilai Islam memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan etika bagi seluruh umat manusia. Manusia tidak hanya dibekali dengan pengetahuan tentang ajaran islam saja, tetapi juga diarahkan untuk menerapkan nilai-nilai moral dan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan kampus maupun di masyarakat. Nantinya manusia diharapkan bisa membedakan tindakan ataupun perilaku yang menyimpang dari nilai-nilai islam itu sendiri. Pemahaman ini menjadi dasar terbentuknya etika yang baik. Melalui proses internalisasi tersebut, individu diharapkan mampu membedakan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Islam dan perilaku yang menyimpang darinya. Pemahaman inilah yang kemudian menjadi pondasi terbentuknya karakter dan etika yang baik.   

Dalam konteks mahasiswa akuntansi, internalisasi nilai-nilai tersebut berperan dalam membentuk sikap jujur, amanah, profesional, dan teliti sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual. Ketika nilai agama tidak hanya dipahami sebagai teori, tetapi juga dijadikan pedoman dalam pengambilan keputusan, maka kesadaran etis akan tumbuh secara lebih mendalam dan berkelanjutan. Dengan demikian, integrasi antara pendidikan akuntansi dan nilai-nilai Islam menjadi langkah strategis dalam mencetak calon akuntan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki integritas dan tanggung jawab moral yang kuat.

Selain daripada itu penting adanya pengembangan pembelajaran terkait etika akuntansi ini, menurut penelitian Sinta & Nujmatul (2021) ini memberikan bukti empiris bahwa muatan etika dalam pengajaran akuntansi berpengaruh signifikan terhadap perkembangan moral mahasiswa. Temuan ini mengindikasikan bahwa intensitas pemberian materi etika dalam proses belajar mengajar berdampak positif pada sensitivitas etis calon akuntan. Secara teologis, penguatan moral melalui pendidikan ini sejalan dengan spirit QS. Al-Baqarah (2): 282, di mana Allah SWT menekankan pentingnya ketaatan penulis (akuntan) untuk mencatat transaksi secara benar sebagaimana yang telah diajarkan-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi teknis akuntansi harus senantiasa dibarengi dengan integritas moral yang kokoh.

Dalam konteks kesadaran profesional, mahasiswa yang dilatih secara konsisten dengan studi kasus dilema etis menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam pengambilan keputusan yang adil. Hal ini merefleksikan perintah dalam QS. Al-Baqarah (2): 282 agar seorang penulis tidak enggan mencatat dan tidak mengurangi sedikitpun dari hak orang lain. Pelatihan etika tersebut berfungsi sebagai sarana internalisasi nilai ketaatan dan kejujuran, sehingga mahasiswa tidak hanya memahami akuntansi sebagai prosedur administratif, tetapi sebagai amanah transendental yang menuntut transparansi mutlak.

 

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada 76 responden mahasiswa akuntansi di Jawa Barat, dapat disimpulkan bahwa tingkat kesadaran mahasiswa terhadap etika profesional akuntansi yang berlandaskan nilai-nilai islam dapat dikategorikan tinggi. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji validitas dan reliabilitas bahwa seluruh instrumen dinyatakan valid ditunjukan dengan nilai Cronbach Alpha mencapai 0,969. Dengan demikian instrumen penelitian layak digunakan untuk mengukur variabel yang diteliti. Berdasarkan analisis statistik deskriptif yang telah dilakukan, kesadaran mahasiswa tercermin secara merata pada empat dimensi utama, yaitu amanah dengan rata-rata 19,05, kejujuran dengan rata-rata 19,01, ketelitian dengan rata-rata 18,75, dan profesionalisme dengan rata-rata 18,69, di mana seluruh nilai tersebut mendekati skor maksimum dengan standar deviasi yang kecil. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar responden memiliki pemahaman dan kesadaran yang tinggi serta jawaban yang cenderung homogen terhadap pentingnya penerapan etika profesional dalam praktik akuntansi.

Secara konseptual penelitian ini sangat sejalan dengan ajaran islam sebagaimana tercermin dalam QS. Al-Baqarah (2): 282-284 dan berbagai hadits Rasulullah SAW yang menekankan pentingnya kejujuran, akuntabilitas, profesionalisme (itqan) serta tanggung jawab moral. Dengan demikian integrasi antara pendidikan akuntansi dan internalisasi nilai islam terbukti memiliki peran strategis dalam membentuk calon akuntan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki integritas, kejujuran, tanggung jawab, sikap profesional, dan sikap spiritual yang kuat. Temuan ini memberikan bukti empiris bahwa integrasi pendidikan etika berbasis syariat Islam dalam kurikulum akuntansi berperan strategis dalam membentuk karakter calon akuntan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki integritas moral dan tanggung jawab spiritual yang kuat untuk menghadapi tantangan profesi di masa depan.

 

REFERENSI

       Al Shabuni, Muhammad Ali. Shafwatu Al Tafasir. Kairo: Dar Al Shabuni, 2010.

Aminanda, A. A. F., Khalnaya, Y., Zuhuriyyah, N. N., Wikan, A. A., Puspitasari, A. D., & Wijaya, S. B. (2024). Membangun Kesadaran Finansial Islami: Sosialisasi Konsep Dasar Akuntansi Syariah di Pondok Pesantren Fathul Hidayah. Welfare: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2(3), 634-639.

Elasrag, Hussein. Islamic Finance: New Issues and Steps Forward. London: Hussein Elasrag, 2010.

Febriani, E., Faizah, S. R., Lingga, Y. M., Sari, S. N., Fatimah, S., & Kumaidi, M. (2026). ANALISIS PENGARUH MATA KULIAH PENDIDIKAN NILAI DAN KARAKTER ISLAMI TERHADAP ETIKA MAHASISWA TERHADAP ETIKA MAHASISWA PAI SEBAGAI CALON GURU. Kreatif: Jurnal Pemikiran Pendidikan Agama Islam, 24(1), 1-10.

Fina, S. A., & Laily, N. (2021). Muatan Etika Dalam Pengajaran Akuntansi Serta Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Moral Mahasiswa Akuntansi. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JUPE), 9(1), 43–47.

Hambali, M. R., Da, M., Ilmiyah, N., Kurniawati, N., Cahyaningrum, V. D., Fatoni, M., ... & Rohmah, R. (2021). Etika Profesi. Agrapana Media.

Pasaribu, S., & Radikun, T. B. S. (2021). Penerapan Teori Perilaku Terencana dalam Pengambilan Keputusan Etis. Psychocentrum Review, 3(2), 164-173.

Putri, M. A. V., Muhammad, E., & Kurniawan, F. A. (2023). Membangun Etika Profesi Akuntan Publik dari Sudut Pandang Maqasid Al-Shariah. Jurnal Ekonomi Syariah Pelita Bangsa, 8(01), 83-94.

Ramadhea Jr, S. (2022). Literature review: etika dan kode etik profesi akuntan publik. Jurnal Akuntansi Kompetif, 5(3), 373-380.

Subhaktiyasa, P. G., Ayu, S., Candrawati, K., Sumaryani, N. P., Sunita, W., & Syakur, A. (2023). Penerapan statistik deskriptif: Perspektif kuantitatif dan kualitatif. Jurnal Edukasi Matematika dan Sains P-ISSN, 2302, 2124.

Tambalitan, P. C., & Aseng, A. C. (2023). Kajian hubungan motivasi dan minat belajar siswa SMA pada mata pelajaran ekonomi. Journal of Education Research, 4(4), 2632 2637.

Wahyuningsih, S. (2022). Konsep etika dalam Islam. JURNAL AN-NUR: Kajian Ilmu-Ilmu Pendidikan dan Keislaman, 8(01).

Waluya, A. H., & Mulauddin, A. (2020). Akuntansi: akuntabilitas dan transparansi dalam qs. al baqarah (2): 282-284. Muamalatuna, 12(2), 15-35

 

 

 


Wednesday, May 6, 2026

Pelatihan Pembuatan Aplikasi Media Pembelajaran Interaktif Menggunakan Microsoft Power Point Pada Anggota Resimen IV Demlat Korps Brimob Polri Kelapa Dua Cimanggis, Depok

Training on Developing Interactive Learning Media Applications Using Microsoft PowerPoint for Members of the IV Demlat Regiment, Mobile Brigade Corps (Brimob), Indonesian National Police, Kelapa Dua Cimanggis, Depok | Amalia | Nanggroe: Jurnal Pengabdian Cendikia


Rini Amalia, Sri Melati Sagita, Intan Mutia, Ahmad Faisal

Universitas Indraprasta PGRI

Email : 61tamelati2013@gmail.com 


Abstrak

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan instruktur dalam mengembangkan media pembelajaran interaktif menggunakan Microsoft PowerPoint pada anggota Resimen IV Demlat Korps Brimob Polri Kelapa Dua Cimanggis, Depok. Latar belakang kegiatan ini adalah masih terbatasnya penggunaan media pembelajaran yang interaktif, di mana proses pelatihan cenderung menggunakan metode ceramah dan buku sebagai sumber utama sehingga kurang menarik dan kurang efektif. Metode pelaksanaan yang digunakan adalah workshop dengan pendekatan praktik langsung, meliputi pemberian materi dasar, demonstrasi, serta pendampingan dalam pembuatan aplikasi pembelajaran interaktif. Peserta terdiri dari staf Pengujian dan Pengembangan (Ujibang) serta staf Koordinator Instruktur (Korins). Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta sangat antusias dalam mengikuti pelatihan dan mulai mampu mengembangkan media pembelajaran berbasis PowerPoint, meskipun masih terdapat keterbatasan pada sebagian peserta dalam penguasaan dasar komputer. Secara keseluruhan, pelatihan ini berhasil meningkatkan pemahaman dan keterampilan instruktur dalam menyajikan materi pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pelatihan di lingkungan Brimob.

Kata kunci: media pembelajaran interaktif, Microsoft PowerPoint, e-learning, pelatihan instruktur, Brimob Polri

Abstract

This community service activity aims to improve instructors’ ability to develop interactive learning media using Microsoft PowerPoint for members of the IV Demlat Regiment of the Mobile Brigade Corps (Brimob) of the Indonesian National Police in Kelapa Dua, Cimanggis, Depok. The background of this activity is the limited use of interactive learning media, where the training process tends to rely on lecture methods and books as the main sources, making it less engaging and less effective. The implementation method used was a workshop with a hands-on practice approach, including the delivery of basic materials, demonstrations, and mentoring in developing interactive learning applications. Participants consisted of staff from the Testing and Development Unit (Ujibang) and the Instructor Coordinator Unit (Korins). The results showed that participants were highly enthusiastic in attending the training and began to be able to develop PowerPoint-based learning media, although some participants still had limitations in basic computer skills. Overall, this training succeeded in improving instructors’ understanding and skills in presenting more engaging and interactive learning materials, which is expected to enhance the quality of the training process within Brimob.

Keywords: interactive learning media, Microsoft PowerPoint, e-learning, instructor training, Brimob Polri


PENDAHULUAN

Demlat Korps Brimob Polri merupakan Demonstrasi dan Latihan Brigade Mobil atau sering disingkat Brimob adalah unit (Korps) tertua di dalam Kepolisian Republik Indonesia (Polri) karena mengawali pembentukan kepolisian Indonesia pada tahun 1945. Korps ini dikenal sebagai Korps Baret Biru Tua. Brimob termasuk satuan elit (pasukan khusus) dalam jajaran kesatuan Polri, Brimob juga tergolong ke dalam sebuah unit paramiliter ditinjau dari tanggung jawab dan lingkup tugas kepolisian. 

Pelaksanaan pelatihan yang diselenggarakan meliputi kegiatan tatap muka di kelas, pelatihan di lapangan dan ujian dari materi pelatihan yang telah dilaksanakan. Sebagai Pusat Pelatihan, kualitas seorang instruktur/ pelatih merupakan salah satu nilai tambah bagi Demlat Korps Brimob Polri untuk mampu memberikan pelatihan sehingga menghasilkan anggota Brimob yang terlatih. Instruktur / pelatih memiliki peranan penting dalam terciptanya budaya belajar / pelatihan yang terampil, praktis serta mampu mengikuti perkembangan jaman. Materi ajar merupakan salah satu alat bagi Demlat Korps Brimob Polri untuk melakukan proses belajar/ pelatihan. 

Dari hasil observasi awal yang dilakukan tim pengusul sebelum dilaksanakan tindakan pada proses pembelajaran / pelatihan bagi anggota Korps Brimob Polri, instruktur sebagai penyampai materi pada saat mengajar di ruang kelas tidak menggunakan media dan menyampaikan materi belum dilakukan secara maksimal dalam menggunakan alat-alat pendukung yang sebenarnya sudah ada, sedangkan buku referensi digunakan sebagai satu-satunya sumber dalam menyampaikan materi. Instruktur juga tidak menggunakan metode atau pun media yang memungkinkan materi pelatihan dapat disampaikan secara lebih optimal dalam meningkatkan aktivitas anggota pelatihan pada kegiatan belajar/ pelatihan. Keadaan ini tentu saja mempengaruhi minat maupun aktivitas anggota itu sendiri. Tidak dapat dipungkiri bahwa anggota sudah terbiasa dengan metode pembelajaran yang digunakan oleh instruktur selama ini. Pembelajaran yang hanya mengutamakan buku sumber dan metode ceramah di ruang kelas saja memberikan kesan bahwa pelatihan merupakan kegiatan yang kurang menarik dan kurang bermakna. Melihat kenyataan tersebut maka instruktur dituntut untuk mengembangkan satu model pembelajaran / pelatihan yang  melibatkan anggota pelatihan secara aktif dalam kegiatan pembelajaran / pelatihan. Oleh karena itu tim pelaksana mengusulkan menggunakan salah satu model pembelajaran adalah dengan media komputer berbasis Microsoft Power Point. 


METODE PELAKSANAAN

Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada Resimen IV Demlat Korps Brimob Polri , Jl. Akses UI Kelapa Dua Cimanggis Depok 16451. Diikuti  oleh staf Pengujian dan Pengembangan (Ujibang) sebanyak 20 peserta dan staf Koordinator Instruktur (Korins) sebanyak 20 peserta. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 6 Desember 2016 dan 13 Desember 2016.

Metode Pelaksanaan

Berikut akan disampaikan metode yang telah ditempuh dalam pelaksanaan program pengabdian masyarakat (IbM). Implementasi e-learning sebagai media pembelajaran interaktif menggunakan Microsoft Power Point diselenggarakan di  staf Pengujian dan Pengembangan (Ujibang) dan staf Koordinator Instruktur (Korins) Resimen IV Demlat Korps Brimob Polri Kelapa Dua Cimanggis Depok dengan menggunakan pendekatan workshop. Pendekatan ini memungkinkan para peserta untuk mempraktikkan langsung materi pelatihan yang diberikan oleh tim pelaksana dari UNINDRA.  Dalam kesempatan tersebut para peserta pelatihan (Instruktur staf Ujibang dan staf Korins) mempelajari dan mendapat pendampingan secara intensif mengenai cara-cara menggunakan Microsoft Power Point. 

Microsoft PowerPoint berfungsi sebagai media Presentasi para instruktur dalam pemberian pembelajaran / pelatihan bagi peserta didik..Para instruktur  dapat membuat bahan pembelajaran dengan Microsoft Power Point dengan bentuk Interaktif dan Menarik. Didalam Microsoft Power Point disediakan Slide – Slide yang mana setiap Slide dapat diisi dengan materi pembelajaran yang hendak disampaikan.Oleh karenanya dalam pelatihan ini akan digunakan Microsoft Office Power Point sebagai software utama dalam pelatihan ini. Pemilihan Microsoft Power Point sebagai software utama adalah karena pengoperasiannya mudah dan relatif mudah diakses oleh masyarakat. Fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh Microsoft Power Point pun sudah dikembangkan sedemikian rupa sehingga lebih mudah untuk digunakan untuk membuat materi ajar yang menarik. 

Pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. Tim pelaksana memberikan pengetahuan dasar mengenai Microsoft Power Point 2. Tim pelaksana memberikan contoh produk yang dibuat dalam Microsoft Power Point  3. Tim pelaksana menjelaskan langkah-langkah kerja dalam pembuatan produk  kepada peserta pelatihan. 4. Tim pelaksana meminta peserta pelatihan untuk melakukan langkah-langkah yang telah dicontohkan 5. Tim pelaksana melakukan pendampingan kepada seluruh peserta pada saat  membuat produk.   


HASIL DAN PEMBAHASAN

Kegiatan sosialisasi dan wawancara 

kegiatan sosialisasi dan wawancara secara lisan kepada stock holder dalam hal ini instruktur / pelatih di staf Pengujian dan Pengembangan (Ujibang) dan staf Koordinator Instruktur (Korins) Resimen IV Demlat Korps Brimob Polri Kelapa Dua Cimanggis, Depok diperoleh informasi kegiatan pembelajaran dan pelatihan bagi anggota Resimen IV Demlat masih dilakukan secara manual dan bertahap sehingga setiap kegiatan pelatihan membutuhkan waktu proses yang cukup lama sehingga dianggap perlu untuk menerapkan e-learning yang merupakan media pembelajaran interaktif yang memiliki nilai efektifitas dan efisiensi yang tinggi dan dianggap mampu memberikan kontribusi yang tinggi dalam kegiatan pembelajaran dan pelatihan bagi anggota Resimen IV Demlat Korps Brimob Polri. Oleh karena itu disepakati jenis media pembelajaran yang dibutuhkan oleh instruktur / pelatih adalah media pembelajaran interaktif menggunakan Microsoft Power Point.

      

Gambar 1 Lokasi Pelatihan

Menyiapkan Peralatan Kegiatan

Dari hasil wawancara di awal, tim pelaksana menyiapkan materi pelatihan dengan memperhatikan usulan dari pihak Brimob atau sesuai kebutuhan instruktur / pelatih. Materi yang diberikan dalam pelatihan adalah media pembelajaran interaktif menggunakan Microsoft Power Point.

                 

Gambar 2 Persiapan Perangkat Pelatihan

Pelaksanaan Kegiatan 

Pada pelaksaan kegiatan tim memberikan pengetahuan dasar tentang pembelajaran interaktif, pengetahuan dasar Microsoft Power Point kemudian melakukan implementasi e-learning sebagai media pembelajaran interaktif menggunakan Microsoft Power Point pada staf Pengujian dan Pengembangan (Ujibang) dan staf Koordinasi Instruktur (Korins) Resimen IV Demlat Korps Brimob Polri Kelapa Dua Cimanggis, Depok. Tim Pelaksana memberikan contoh pembuatan aplikasi pembelajaran interaktif menggunakan Microsoft Power Point seperti pembuatan slide master, penambahan gambar dan video, import excel, penambahan animasi dan transisi pada teks dan gambar, penambahan hyperlink, dan penambahan animasi bergerak. Para peserta pelatihan mencoba mempraktekan materi  yang sudah diberikan dengan di dampingi oleh tim pelaksana. Pemberian materi dijelaskan langkah demi langkah, diikuti atau dipraktekan langsung oleh peserta pelatihan. Pelatihan berjalan dengan baik sampai dengan langkah pembuatan aplikasi yang terakhir. Kemudian pada sesi berikutnya para peserta pelatihan diminta membuat aplikasi sendiri sesuai dengan kemampuang masing-masing. Pada sesi pembuatan aplikasi sendiri, tidak semua peserta bisa menyelesaikan dengan sempurna. Hanya beberapa peserta yang dapat menyelesaikan dengan baik.


              

Gambar 3 Peserta Pelatihan

 Evaluasi Kegiatan

Evaluasi kegiatan dilakukan evaluasi keseluruhan proses kegiatan IbM, mencakup mengevaluasi kelebihan dan kekurangan dari produk aplikasi pembelajaran interaktif menggunakan Microsoft power point yang telah dibuat oleh peserta pelatihan. Secara keseluruhan tidak ada kendala yang berarti, dalam pelaksanaan para peserta pelatihan sangat antusias dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan. Dan pada saat mencoba membuat aplikasi, masih banyak yang belum mengetahui dasar-dasar penggunaan komputer dan penggunanan Microsoft Power point.. Dibutuhkan kesabaran dalam menjelaskan materi dan dalam pembuatan aplikasi pembelajaran menggunakan Microsoft power point. Akan tetapi ada beberapa peserta pelatihan yang sudah menguasai Microsoft power point dan mampu membuat kembali aplikasi sesuai kemampuannya.


   

Gambar 4 Tim Pelaksana dan Peserta Pelatihan



SIMPULAN 

Pada Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan pada staf Pengembangan dan Pengujian (Ujibang) dan staf Koordinasi Instruktur (Korins) Resimen IV Demlat Korps Brimob Polri Kelapa Dua Depok dapat dilaksanakan dengan baik. Para peserta sangat antusias dalam melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat yang diberikan oleh tim. Dengan kegiatan pelatihan ini, para instruktur dapat menggunakan produk aplikasi pembelajaran interaktif  dalam proses pembelajaran / pelatihan kepada peserta didik dan membantu peningkatan mutu instruktur dalam penyajian materi. Luaran pengabdian masyarakat dalam bentuk modul media pembelajaran interaktif menggunakan Microsoft Power Point dapat digunakan secara umum atau bagi staf Pengembangan dan Pengujian (Ujibang) dan staf Koordinasi dan instruktur (Korins) Resimen IV Demlat Korps Brimob Polri Kelapa Dua Depok.


REFERENSI

Abdul Kadir. (2011). PowerPoint 2010 for Teen. Yogyakarta: CV Andi Offset.

Allen, Michael. (2013). Michael Allen’s Guide to E-Learning. Canada: John Wiley & Sons.

Arsyad, Azhar. (2007). Learning Media. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

England, Elaine, & Finney, Andy. (2002). Interactive Media – What’s That? Who’s Involved? Interactive Media UK, ATSF.

Enterprise, J. (2010). Complete Guide to PowerPoint 2010. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Heinich, R., et al. (1996). Instructional Media and Technology for Learning. New Jersey: Prentice Hall, Englewood Cliffs.

Wahono, Romi Satria. Introduction to E-Learning and Its Development. Retrieved from http://ilmukomputer.org (accessed May 25, 2016).

Soekartawi. (2003). Basic Principles of E-Learning: Theory and Its Application in Indonesia. Jurnal Teknodik, Issue No. 12/VII/October/2003, 28–43.

Warsita, Bambang. (2008). Learning Technology: Foundations and Applications. Jakarta: Rineka.