Saturday, June 13, 2026

Penerapan Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPAS Materi Wujud Zat dan Perubahannya Pada Siswa Kelas IV MI/SD

 

Penerapan Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPAS Materi Wujud Zat dan Perubahannya Pada Siswa Kelas IV MI/SD

Penerapan Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPAS Materi Wujud Zat dan Perubahannya Pada Siswa Kelas IV MI/SD | Kadir | Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin 

Marniati Kadir, 1 Lusiana Amanda Lestari2, Sheilla Oktaviani3

1,2, 3Program Studi PGMI, UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda

E-mail : lusianaa447@gmail.com, sheillaoktaviani56@gmail.com

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPAS materi wujud zat dan perubahannya melalui penerapan model Problem Based Learning (PBL) pada siswa kelas IV MI Darus Sakinah Tenggarong Seberang. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 24 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketuntasan belajar meningkat dari 16,67% pada pra siklus menjadi 66,67% pada siklus I dan mencapai 83,33% pada siklus II. Selain meningkatkan hasil belajar, model PBL juga meningkatkan keaktifan siswa dalam berdiskusi, bertanya, bekerja sama, dan mempresentasikan hasil pembelajaran.

Kata Kunci: Problem Based Learning, hasil belajar, IPAS.

Abstrak

This study aimed to improve students' learning outcomes on the topic of states of matter and their changes through the implementation of the Problem-Based Learning model. This classroom action research was conducted in two cycles. The results showed that learning mastery increased from 16.67% in the pre-cycle to 66.67% in Cycle I and 83.33% in Cycle II. The implementation of PBL also improved students’ participation, collaboration, and problem-solving abilities during the learning process.

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar yang memungkinkan peserta didik mengembangkan potensi dirinya secara optimal. Melalui pendidikan, peserta didik diharapkan mampu memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai yang diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satu mata pelajaran yang berperan penting dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah peserta didik adalah Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS).

Pembelajaran IPAS di sekolah dasar tidak hanya bertujuan memberikan pemahaman konsep kepada peserta didik, tetapi juga membantu mereka memahami berbagai fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu materi yang dipelajari pada kelas IV adalah wujud zat dan perubahannya. Materi ini memiliki keterkaitan yang erat dengan berbagai peristiwa yang sering dijumpai siswa dalam kehidupan sehari-hari, seperti mencairnya es, menguapnya air, dan mengembunnya uap air. Oleh karena itu, pembelajaran materi wujud zat dan perubahannya memerlukan keterlibatan aktif siswa agar konsep yang dipelajari dapat dipahami secara optimal.

Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan di kelas IV MI Darus Sakinah Tenggarong Seberang, ditemukan bahwa hasil belajar siswa pada materi wujud zat dan perubahannya masih belum mencapai hasil yang diharapkan. Sebagian siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep perubahan wujud zat karena pembelajaran masih didominasi oleh metode ceramah. Kondisi tersebut menyebabkan siswa cenderung pasif dan kurang terlibat dalam proses pembelajaran.

Dampaknya, hasil belajar siswa masih rendah dan belum memenuhi target ketuntasan yang ditetapkan. Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah penerapan model Problem Based Learning (PBL). Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan menjadikan masalah sebagai titik awal pembelajaran. Melalui model ini, siswa didorong untuk berpikir kritis, bekerja sama, mencari informasi, serta menemukan solusi terhadap permasalahan yang diberikan. Dengan keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran, siswa diharapkan mampu membangun pemahamannya sendiri sehingga hasil belajar menjadi lebih baik. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar, keaktifan, serta kemampuan pemecahan masalah siswa. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana penerapan model Problem Based Learning dalam meningkatkan hasil belajar IPAS materi wujud zat dan perubahannya pada siswa kelas IV MI Darus Sakinah Tenggarong Seberang.

Berdasarkan uraian tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar IPAS materi wujud zat dan perubahannya melalui penerapan model Problem Based Learning pada siswa kelas IV MI Darus Sakinah Tenggarong Seberang.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPAS materi wujud zat dan perubahannya melalui penerapan model Problem Based Learning (PBL). Penelitian dilaksanakan di MI Darus Sakinah Tenggarong Seberang pada semester genap tahun pelajaran 2025/2026.

Subjek penelitian adalah siswa kelas IV MI Darus Sakinah Tenggarong Seberang yang berjumlah 24 siswa, terdiri atas 14 siswa laki-laki dan 10 siswa perempuan. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri atas empat tahap, yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), observasi (observation), dan refleksi (reflection).

Pada tahap perencanaan, peneliti menyusun perangkat pembelajaran yang meliputi modul ajar, lembar kerja peserta didik (LKPD), media pembelajaran, instrumen observasi, dan soal evaluasi. Tahap pelaksanaan tindakan dilakukan dengan menerapkan model Problem Based Learning sesuai langkah-langkah yang telah direncanakan. Tahap observasi dilakukan untuk mengamati aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Selanjutnya, tahap refleksi dilakukan untuk mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan sebagai dasar perbaikan pada siklus berikutnya.

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi tes, observasi, dan wawancara. Tes digunakan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada setiap siklus. Observasi digunakan untuk mengamati aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran. Wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi pendukung terkait pelaksanaan pembelajaran dan kendala yang dihadapi selama penelitian.

Data hasil belajar dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan menghitung nilai rata-rata dan persentase ketuntasan belajar siswa. Adapun data hasil observasi dan wawancara dianalisis secara deskriptif kualitatif untuk menggambarkan aktivitas siswa serta pelaksanaan pembelajaran menggunakan model Problem Based Learning. Indikator keberhasilan penelitian ditetapkan apabila minimal 80% siswa mencapai ketuntasan belajar sesuai dengan KKM yang telah ditentukan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 Hasil Penelitian

Penerapan model Problem Based Learning (PBL) menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa pada setiap siklus. Rekapitulasi hasil belajar siswa dapat dilihat pada Tabel 1.

     Tabel 1. Rekapitulasi  Hasil Belajar Siswa

Tahap

Rata-rata Nilai

Jumlah Tuntas

Persentase Ketuntasan

Pra Siklus

75

4 Siswa

16, 67%

Siklus I

85

16 Siswa

66, 67%

Siklus II

90

20 Siswa

83, 33%

         

Data tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang signifikan. Persentase ketuntasan belajar meningkat dari 16,67% pada pra siklus menjadi 66,67% pada siklus I dan mencapai 83,33% pada siklus II.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Peningkatan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Problem Based Learning

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning mampu meningkatkan hasil belajar siswa pada materi wujud zat dan perubahannya. Pada tahap pra siklus, pembelajaran masih didominasi metode ceramah sehingga siswa cenderung pasif dan kurang memahami materi secara mendalam. Kondisi ini berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa. Setelah penerapan model Problem Based Learning pada siklus I, hasil belajar siswa mulai menunjukkan peningkatan. Melalui kegiatan pemecahan masalah, siswa diberikan kesempatan untuk mengidentifikasi masalah, berdiskusi dalam kelompok, mencari informasi, dan menemukan solusi terhadap masalah yang diberikan. Aktivitas tersebut membantu siswa membangun pemahamannya sendiri terhadap konsep yang dipelajari.

Peningkatan hasil belajar semakin terlihat pada siklus II. Ketuntasan belajar mencapai 83,33% sehingga indikator keberhasilan penelitian telah tercapai. Hasil ini menunjukkan bahwa model Problem Based Learning mampu membantu siswa memahami materi secara lebih mendalam melalui pengalaman belajar yang bermakna.

Peningkatan Keaktifan Siswa Melalui Model Problem Based Learning

Selain meningkatkan hasil belajar, penerapan model Problem Based Learning juga meningkatkan keaktifan siswa selama proses pembelajaran. Pada tahap pra siklus, siswa lebih banyak mendengarkan penjelasan guru dan kurang terlibat dalam kegiatan pembelajaran.

Pada siklus I, siswa mulai aktif bertanya, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat selama proses pembelajaran. Siswa terlihat lebih antusias ketika diberikan permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Pada siklus II, keaktifan siswa meningkat secara signifikan. Sebagian besar siswa mampu bekerja sama dalam kelompok, mengemukakan pendapat, menjawab pertanyaan, dan mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas. Kondisi ini menunjukkan bahwa model Problem Based Learning mampu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih interaktif dan berpusat pada siswa.

Efektivitas Model Problem Based Learning pada Materi Wujud Zat dan Perubahannya

Materi wujud zat dan perubahannya sangat sesuai diajarkan menggunakan model Problem Based Learning karena berkaitan erat dengan fenomena yang ditemui siswa dalam kehidupan sehari-hari. Melalui model ini, siswa dapat menghubungkan konsep yang dipelajari dengan pengalaman nyata sehingga pemahaman mereka menjadi lebih baik.

Penerapan model Problem Based Learning memungkinkan siswa belajar melalui kegiatan penyelidikan, pengamatan, diskusi, dan pemecahan masalah. Kegiatan tersebut membantu siswa memahami konsep secara lebih konkret dibandingkan hanya menerima informasi dari guru. Oleh karena itu, model Problem Based Learning dapat dijadikan salah satu alternatif pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPAS.

 

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa penerapan model Problem Based Learning (PBL) mampu meningkatkan hasil belajar IPAS pada materi wujud zat dan perubahannya pada siswa kelas IV MI Darus Sakinah Tenggarong Seberang. Peningkatan hasil belajar terlihat dari persentase ketuntasan belajar siswa yang mengalami peningkatan pada setiap siklus, yaitu dari 16,67% pada pra siklus menjadi 66,67% pada Siklus I dan mencapai 83,33% pada Siklus II.

Selain meningkatkan hasil belajar, penerapan model Problem Based Learning (PBL) juga mampu meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Siswa menjadi lebih aktif dalam bertanya, menjawab pertanyaan, mengemukakan pendapat, berdiskusi, bekerja sama dalam kelompok, serta mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas. Melalui kegiatan pemecahan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna sehingga pemahaman terhadap materi menjadi lebih baik. Dengan demikian, model Problem Based Learning (PBL) dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa pada pembelajaran IPAS, khususnya materi wujud zat dan perubahannya di sekolah dasar.

 

REFERENSI

Anggelina, P., & Harjono, N. Perbedaan Efektivitas Model Problem Based Learning dan Discovery Learning dalam Meningkatkan Hasil Belajar IPA Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu (2022).

Arrends, R. I. Learning to Teach (9 th ed.). New York : McGraw-Hill Education (2012).

D.Pratiwi dan A. Nugraha, Analisis Kesulitan Belajar Siswa pada Materi Wujud Zat dan Perubahannya di Sekolah Dasar, Jurnal Basicedu 7, no. 1 (2023).

Dita Asendra Marcesa, Nur Samsiyah, dan Yuyun Arif Hidayati, “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPAS Melalui Model Problem Based Learning Materi Wujud Zat dan Perubahannya,” Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, Vol. 8, No. 1, (2023).

Dita Rahmayanti, Fitria Meilina, dan Alda Zahara Islamyati, Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPAS melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning Materi Wujud Zat dan Perubahannya pada Siswa Kelas IV Sekolah Dasar, Jurnal Basicedu 8, no. 2 (2024).

Fatah, P. R., Kisai, A. A., Nurkholis, N., & Labudasari, E. Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) sebagai Peningkatan Hasil Belajar IPAS pada Siswa Sekolah Dasar. Paedagogi, Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (2023).

Fitriani, N. Penerapan Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Dasar 7, no. 2 (2022).

 Hasriana, Afdhal Fatawuri Syamsuddin, dan Herawati, “Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Muatan IPAS Materi Wujud Zat  dan Perubahannya Kelas IV UPTD SD Negeri 117 Barru,” Global Journal Teaching  Professional, Vol. 3, No. 2, (2023.

Hosnan. Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor: Ghalia Indonesia (2014).

I Rahmawati, Y. Suryana, dan R. Putra, Pengaruh Metode Ceramah terhadap Keaktifan Belajar Siswa Sekolah Dasar,  Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar 6, no. 3 (2022).

L. Utami dan U. Hasanah, Efektivitas Model Problem Based Learning terhadap Hasil Belajar IPAS Siswa Sekolah Dasar, Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar 9, no. 1 (2024).

N. Fitriani,  Penerapan Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Sekolah Dasar,  Jurnal Pendidikan Dasar 7, no. 2 (2022).

Nurrita, Teni. Pengembangan Pembelajaran IPAS di Sekolah Dasar dalam Kurikulum Merdeka. Jurnal Pendidikan dan Konseling 4, no. 5 (2022).

Pratiwi, D., dan A. Nugraha. Analisis Kesulitan Belajar Siswa pada Materi Wujud Zat dan Perubahannya di Sekolah Dasar.  Jurnal Basicedu 7, no. 1 (2023).

Putri Nuryani, Kamaruddin Hasan, dan Hairuddin Hairuddin,  Peningkatkan Hasil Belajar IPA Melalui Penerapan Model Problem Based Learning di Sekolah Dasar, Pinisi Journal of Education 2, no. 1 (2022).

Rahmawati, I., Y. Suryana, dan R. Putra. Pengaruh Metode Ceramah terhadap Keaktifan Belajar Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar 6, no. 3 (2022).

Rahmayanti, D., Meilina, F., & Islamyati, A. Z.  Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPAS melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning Materi Wujud Zat dan Perubahannya pada Siswa Kelas IV Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu (2024).

Rusman. Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajawali Pers (2018).

Sanjaya, W. Strategi Pembelajaran Beriorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana (2016).

Sari, M., dan R. Wahyuni. Pentingnya Pembelajaran Kontekstual pada Materi Wujud Zat dan Perubahannya di Sekolah Dasar. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar 8, no. 1 (2023).

Setiawan, T., Sumilat, J. M., Paruntu, N. M., & Monigir, N. N. Analisis Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning dan Problem Based Learning pada Peserta Didik Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu (2022).

Trianto. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif, dan Kontekstual. Jakarta: Kencana (2017).

Utami, L., dan U. Hasanah. Efektivitas Model Problem Based Learning terhadap Hasil Belajar IPAS Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar 9, no. 1 (2024).

Wiyoko, T. Upaya Meningkatkan Proses dan Hasil Belajar IPA Melalui Model Problem Based Learning Kelas III Sekolah Dasar. Jurnal Gentala Pendidikan Dasar (2022).

Yuristia, F., Hidayati, A., & Ratih, M. Pengembangan Modul Pembelajaran IPA Berbasis Problem Based Learning pada Pembelajaran Tematik Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu (2022).

Monday, June 8, 2026

Pengaruh Beban Tugas Akhir Terhadap Kesehatan Mental Mahasiswa Semester Akhir Universitas Palangka Raya (UPR)


The Impact of Final Project Workload on the Mental Health of Final-Year Students at Palangka Raya University (UPR)

 

Yohanes Aditya Pratama, Christiano Jagero Pratama, Fitriana Selvia, Peronika Simanjuntak

Ilmu Admiinistrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik, Universitas Palangka Raya

Email Penulis: yohanesadityapratama8@gmail.com, jagero0801@gmail.com

 

Abstract

In their final semesters, university students often face significant academic pressure, particularly during the process of writing their final assignments or theses. This prolonged pressure can often trigger stressful conditions that negatively impact their psychological well-being. This study aims to examine the effect of final assignment workload on the mental health conditions of final-semester students at the University of Palangka Raya. The research method utilized is a descriptive and causal quantitative approach. Data collection techniques involved structural questionnaires using the Perceived Stress Scale (PSS-10) and Self-Rating Questionnaire (SRQ-20) distributed online via Google Forms to final-semester students. The results of the simple linear regression analysis confirmed that the final assignment process had a significant negative effect on student mental health, characterized by academic burnout, massive anxiety, and mild depressive symptoms caused by extensive revisions and post-graduation anxiety. This study provides a comprehensive overview to serve as an institutional evaluation base for enhancing campus psychological support systems.

Keywords: Health, Mentall, College students.

Abstrak

Pada fase semester akhir, mahasiswa di perguruan tinggi kerap kali dihadapkan pada tekanan akademis yang signifikan, khususnya dalam proses penyusunan tugas akhir atau skripsi. Tekanan yang berkepanjangan ini seringkali dapat memicu kondisi stres yang berdampak negatif pada kesejahteraan psikologis mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh beban penyelesaian tugas akhir terhadap kondisi kesehatan mental pada mahasiswa semester akhir di Universitas Palangka Raya. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif deskriptif dan kausal. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner terstruktur mengadopsi instrumen Perceived Stress Scale (PSS-10) dan Self-Rating Questionnaire (SRQ-20) yang didistribusikan secara daring melalui Google Form. Hasil analisis uji regresi linear sederhana mengonfirmasi bahwa tugas akhir berpengaruh secara signifikan negatif terhadap kesehatan mental mahasiswa. Tingginya beban akademik secara linear memicu kelelahan emosional (burnout), kecemasan masif, dan gejala depresi ringan yang didominasi oleh intensitas revisi serta kecemasan pasca-kelulusan. Studi ini memberikan gambaran komprehensif sebagai landasan evaluasi institusi dalam penguatan sistem layanan pendampingan psikologis di lingkungan kampus.

Kata Kunci : Kesehatan, Mental, Mahasiswa.

 PENDAHULUAN

     Pendidikan tinggi merupakan fase krusial bagi mahasiswa semester akhir dalam mengembangkan kapasitas intelektual, profesional, dan emosional. Namun, dalam realitas akademis, fase akhir dari perjalanan perkuliahan sering kali menjadi periode yang paling rentan bagi kesejahteraan psikologis mahasiswa. Di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, termasuk di Universitas Palangka Raya (UPR), mahasiswa tingkat akhir diwajibkan untuk menyelesaikan tugas akhir atau skripsi sebagai salah satu prasyarat mutlak untuk memperoleh gelar sarjana. Kewajiban akademik ini dirancang untuk menguji kemampuan sintesis, metodologis, dan penalaran ilmiah mahasiswa. Sayangnya, proses penyusunan skripsi ini tidak jarang bertransformasi dari sebuah tantangan intelektual menjadi sumber tekanan psikologis yang sangat berat.Te kanan yang dihadapi oleh mahasiswa semester akhir bersifat multidimensional. Di satu sisi, mereka dihadapkan pada tingginya ekspektasi akademik, tuntutan metodologi yang rumit, serta proses bimbingan dengan dosen penasihat yang memerlukan ketahanan mental tinggi. Di sisi lain, kendala non-akademik seperti keterbatasan literatur, kesulitan dalam manajemen waktu antara riset dan kehidupan pribadi, serta tuntutan finansial turut memperparah beban yang dipikul. Lebih jauh lagi, tekanan ini sering kali diamplifikasi oleh kecemasan personal akan masa depan, seperti ketidakpastian dalam memasuki pasar kerja setelah kelulusan (post-graduation anxiety), serta ekspektasi sosial dari lingkungan keluarga.

Akumulasi dari berbagai faktor stresor ini menempatkan mahasiswa tingkat akhir pada risiko tinggi mengalami penurunan kualitas kesehatan mental. Urgensi mengenai fenomena penurunan kesehatan mental ini bukan lagi sekadar asumsi teoritis, melainkan sebuah realitas empiris yang memerlukan perhatian mendesak. Kondisi burnout (kejenuhan akademis total) dan kelelahan emosional yang tidak tertangani dengan baik tidak hanya menghambat progres akademik mahasiswa, tetapi juga dapat merusak fungsi kognitif dan stabilitas emosional mereka dalam jangka panjang. Ketika mahasiswa terjebak dalam pusaran stres tanpa adanya mekanisme koping (coping mechanism) yang efektif atau sistem pendukung (support system) yang memadai dari lingkungan kampus, konsekuensinya dapat berdampak fatal bagi kesejahteraan hidup mereka.

Institusi pendidikan tinggi sering kali cenderung lebih berfokus pada aspek capaian akademis dan angka kelulusan, sementara aspek kesehatan mental mahasiswa yang menjadi motor penggerak proses tersebut rentan terabaikan.   Penelitian terdahulu mengenai stress akademik lokal di Kalimantan Tengah menunjukkan tingginya urgensi ketahanan psikologis pada mahasiswa, seperti pada studi manajemen stres di FEB UPR serta analisis beban tugas terhadap stres belajar. Namun, masih diperlukannya analisis kausal yang spesifik menghubungkan beban prosedural tugas akhir dengan status kesehatan mental klinis. Oleh karena itu, penelitian ini menjadi sangat penting dan krusial untuk dilaksanakan. Diperlukan sebuah kajian ilmiah yang komprehensif untuk menganalisis dampak nyata dari proses penyelesaian skripsi terhadap stabilitas kesehatan mental mahasiswa di Universitas Palangka Raya. Dengan mengeksplorasi faktor-faktor dominan penyebab stres, gejala psikologis yang muncul, serta bagaimana mahasiswa berupaya merespons tekanan tersebut, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata sebagai landasan evaluasi dan rekomendasi konkret bagi para pihak pengambil kebijakan di Universitas Palangka Raya.

 

METODE PENELITIAN

      Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif dan kausal untuk menguji secara empiris pengaruh penyelesaian tugas akhir terhadap kesehatan mental mahasiswa. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa semester akhir di lingkungan Universitas Palangka Raya (UPR). Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria mahasiswa aktif yang sedang memprogram dan menyusun skripsi/tugas akhir. Pengumpulan data dilakukan secara daring melalui penyebaran kuesioner terstruktur via Google Form untuk menjangkau responden dari berbagai fakultas di UPR. Pengukuran variabel tingkat stres akademik mengadopsi instrumen Perceived Stress Scale (PSS-10) yang menggunakan skala Likert untuk mengukur persepsi stres individu. Sementara itu, instrumen Self-Rating Questionnaire (SRQ-20) dari WHO digunakan untuk mengidentifikasi indikasi gangguan kesehatan mental dan gejala neurotik minor mahasiswa. Data kuantitatif yang telah terkumpul kemudian ditabulasikan dan dianalisis menggunakan metode analisis statistik uji regresi linear sederhana melalui perangkat lunak statistik guna menentukan nilai signifikansi dan arah pengaruh antar variabel yang diteliti.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

       Berdasarkan hasil pengumpulan data dan analisis deskriptif, ditemukan bahwa mayoritas mahasiswa semester akhir di Universitas Palangka Raya (UPR) berada pada kategori tingkat stres akademik sedang hingga berat selama proses penyusunan skripsi. Berdasarkan tabulasi instrumen PSS-10, indikator utama yang mendominasi persepsi stres mahasiswa mencakup beban tugas penulisan yang menumpuk secara konstan, tingginya intensitas revisi substansi materi, hambatan komunikasi dan keterbatasan waktu bimbingan bersama dosen pembimbing, serta kecemasan yang masif terkait masa depan pasca-kelulusan. Kondisi ini diperparah oleh kelelahan fisik akibat rusaknya pola tidur mahasiswa yang memicu kejenuhan akademis total (burnout). Untuk menguji hipotesis mengenai pengaruh tugas akhir ($X$) terhadap penurunan kesehatan mental ($Y$), dilakukan uji regresi linear sederhana.

Hasil analisis statistik mengonfirmasi adanya pengaruh yang signifikan dengan arah negatif antara proses pengerjaan tugas akhir terhadap stabilitas psikologis mahasiswa. Berdasarkan output pemodelan, diperoleh nilai signifikansi koefisien regresi sebesar $0,000 < 0,05$. Hal ini membuktikan secara empiris bahwa peningkatan beban, hambatan birokrasi, dan tekanan prosedural dalam penyelesaian tugas akhir secara linear berkontribusi nyata terhadap penurunan kualitas kesehatan mental mahasiswa, yang diidentifikasi melalui munculnya gejala kecemasan masif hingga indikasi depresi ringan pada instrumen SRQ-20. Temuan kausal tersebut diperkuat oleh hasil wawancara mendalam (in-depth interview) yang dilakukan peneliti dengan salah satu alumni Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UPR angkatan 2017 selaku informan transisi akademik. Informan menyatakan bahwa pada fase semester akhir, seluruh perkuliahan tatap muka di kelas memang telah selesai, sehingga fokus kehidupan mahasiswa sepenuhnya tercurah pada penyelesaian tugas akhir.

Kondisi ini menuntut peluangan waktu, konsentrasi, serta energi fisik dan mental yang sangat besar. Lebih lanjut, proses ini tidak lagi hanya sekadar berupa aktivitas mandiri di meja belajar, melainkan melibatkan jejaring interaksi sosial yang kompleks dan intens, baik dengan Dosen Pembimbing (DosPem) maupun dengan pihak eksternal seperti warga sekolah atau instansi tempat pengambilan sampel penelitian. Aktivitas interaktif yang menyita waktu dan menuntut dedikasi tinggi tersebut sering kali memicu stresor sekunder. Menurut penuturan informan, ketika harus berurusan dengan pihak luar atau orang asing dalam dinamika riset, terdapat banyak variabel dan situasi di lapangan yang berada benar-benar di luar kendali mahasiswa. Hambatan berupa rencana penelitian yang tidak berjalan semestinya di lapangan inilah yang menjadi faktor utama yang menambah beban pikiran dan mengeskalasi stres psikologis secara signifikan.

Temuan ini sejalan dengan realitas empiris dan literatur lokal di lingkungan Universitas Palangka Raya. Tekanan akademis yang tidak diimbangi oleh coping mechanism yang adaptif memicu distres psikologis yang mengkhawatirkan. Hambatan dalam proses bimbingan, ketidakpastian kendala lapangan, dan tingginya ekspektasi sosial menuntut adanya intervensi kelembagaan yang komprehensif. Hasil penelitian ini memberikan penegasan kuat bahwa institusi tidak boleh hanya bertumpu pada indikator kuantitatif kelulusan, melainkan wajib membangun ekosistem akademik yang humanis melalui penguatan sistem dukungan psikologis dan manajemen stres terpadu di tingkat universitas.

No

Faktor Beban Tugas Akhir

Frekuensi

Persentase (%)

 

 

 

 

1

Tekanan penyelesaian skripsi tepat waktu

45

45%

2

Kesulitan konsultasi dengan dosen pembimbing

20

20%

3

Kesulitan memperoleh data penelitian

15

15%

4

Manajemen waktu yang buruk

10

10%

5

Faktor ekonomi dan biaya penelitian

10

10%

Total

100

100%

Tekanan menyelesaikan skripsi                         ████████████████████████████████████████             45%

Kesulitan konsultasi dosen        ██████████████████                     20%

Kesulitan memperoleh data         █████████████                         15%

Interaksi responden/instansi      ████████                              10%

Manajemen waktu                   ████                                  5%

Biaya penelitian                  ████                                  5%

Persentase Kumulatif:

45% → 65% → 80% → 90% → 95% → 100%

Untuk diagram Pareto, urutkan faktor dari yang terbesar hingga terkecil:

  1. Tekanan penyelesaian skripsi tepat waktu (45%)
  2. Kesulitan konsultasi dengan dosen pembimbing (20%)
  3. Kesulitan memperoleh data penelitian (15%)
  4. Manajemen waktu yang buruk (10%)
  5. Faktor ekonomi dan biaya penelitian (10%)

Diagram ini menunjukkan bahwa faktor yang paling dominan memengaruhi kesehatan mental mahasiswa semester akhir adalah tekanan menyelesaikan skripsi tepat waktu, disusul oleh kesulitan konsultasi dengan dosen pembimbing.

 

SIMPULAN

     Penelitian ini membuktikan secara empiris bahwa proses penyelesaian tugas akhir berpengaruh signifikan secara negatif terhadap kondisi kesehatan mental mahasiswa semester akhir Universitas Palangka Raya. Mayoritas mahasiswa tingkat akhir berada pada kategori stres akademik tingkat sedang hingga berat. Faktor-faktor dominan yang bertindak sebagai stresor utama meliputi beban revisi yang intens, kendala komunikasi adaptif dengan dosen pembimbing, akumulasi kendala administratif birokrasi, serta kecemasan psikososial terkait ketidakpastian masa depan pasca-kelulusan. Dampak dari tekanan multidimensional ini berwujud pada munculnya fenomena burnout akademis akut, gangguan pola tidur, hingga manifestasi gejala depresi ringan di kalangan responden.

Sebagai implikasi praktis dan solutif, Universitas Palangka Raya direkomendasikan untuk segera memperkuat kapasitas dan aksesibilitas Pusat Layanan Konseling Kampus serta merancang program intervensi psikologis preventif seperti pelatihan resiliensi mental. Pihak fakultas dan dosen pembimbing diharapkan mampu membangun pola komunikasi bimbingan yang lebih empatik, adaptif, dan terstruktur. Di sisi lain, mahasiswa semester akhir disarankan untuk mengoptimalkan manajemen waktu, menerapkan coping mechanism yang sehat, serta aktif memanfaatkan support system baik dari lingkungan sosial maupun teman sebaya guna menjaga stabilitas kesehatan mental selama menempuh transisi akademis ini.

 

REFERENSI

Aprilita, A., Damayanti, N. E., & Widyaningsih, D. S. (2025). Manajemen Stres Akademik untuk Penguatan Resiliensi Mahasiswa FEB Universitas Palangka Raya. I-Com: Indonesian Community Journal, 5(4), 2611-2623.

Sukmaputra, R. K., Nugroho, S., & Prakoso, R. S. (2025). Pengaruh Beban Tugas Akademik Dan Kecemasan Terhadap Stres Belajar Mahasiswa Manajemen Universitas Palangka Raya. Balance: Jurnal Akuntansi Dan Manajemen, 4(3), 1534-1544.

Sukriani, W., & Mawaddah, S. (2026, March). Hubungan Stress Akademik Terhadap Kesehatan Mental: The Relationship Between Academic Stress and Mental Health in Students of the Ministry of Health Polytechnic of Palangka Raya. In Jurnal Forum Kesehatan: Media Publikasi Kesehatan Ilmiah (Vol. 16, No. 1, pp. 1-6).

Sunday, June 7, 2026

Pemanfaatan Ekstrak Daun Beluntas (Pluchea Indica Less) Dalam Air Minum Terhadap Kualitas Daging Ayam Broiler

Utilization of Beluntas Leaf Extract (Pluchea Indica Less) In Drinking Water on The Quality of Broiler Chicken Meat 

Mihrani1, Nurfitri Aqizah2, Herlina

1Universitas Negeri Makassar, Jurusan Teknologi Pertanian

1Jurusan Penyuluhan Peternakan dan Kesejahteraan Hewan, Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa

2 Program Studi Magister Pendidikan Biologi, Universitas Patompo

Email : mihrani@unm.ac.id, nurfitriaqizah96@gmail.com, Herlina161987@gmail.com

 

Abstrak

Kajian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan ekstrak daun beluntas (Pluchea Indica Less) terhadap kualitas daging ayam broiler. Kajian ini dilaksanakan di Instalasi Ternak Unggas Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa dan pengujian kualitas daging dilaksanakan di Laboratorium Kesehatan Hewan Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa. Kajian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan dimana setiap ulangan terdiri dari 4 ekor ayam broiler. Pemberian ekstrak daun beluntas diberikan 2 kali sehari dengan dosis yang berbeda yaitu, 0 ml (P0), 5 ml (P1), 10 ml (P2), 15 ml (P3). Parameter yang diamati meliputi tekstur daging ayam broiler, warna daging ayam broiler, bau/aroma daging ayam broiler, rasa daging ayam broiler. Data analisis menggunakan analisis ragam dan uji lanjut menggunakan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun beluntas memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap kualitas daging ayam broiler. Berdasarkan data setiap parameter dengan berbagai perlakuan, maka dapat direkomendasikan perlakuan terbaik adalah P3.dengan pemberian daun beluntas 15 ml/l

Kata kunci: daun beluntas, ayam broiler, kualitas daging

Abstract

This study aims to determine the effectiveness of beluntas leaf extract (Pluchea indica Lesser) on broiler meat quality. The study was conducted at the Poultry Installation of the Gowa Agricultural Development Polytechnic, and meat quality testing was conducted at the Animal Health Laboratory of the Gowa Agricultural Development Polytechnic. A Completely Randomized Design (CRD) was used in this study, with four treatments and four replications, each consisting of four broiler chickens. The beluntas leaf extract was administered twice daily at different doses: 0 ml (P0), 5 ml (P1), 10 ml (P2), and 15 ml (P3). Parameters observed included broiler meat texture, color, odor, and flavor. Data were analyzed using analysis of variance, followed by Duncan's test. The results showed that beluntas leaf extract significantly affected broiler meat quality (P<0.05). Based on the data for each parameter with various treatments, the best treatment is P3, with the administration of 15 ml/l of beluntas leaves.

Keywords: beluntas leaves, broiler chickens, meat quality

 

Article Info

Received date: 25 May  2026                                      Revised date: 30 May  2026                                            Accepted date: 03 June  2026


 

PENDAHULUAN

Peternakan ayam broiler mempunyai prospek yang cukup baik untuk dikembangkan, baik dalam usaha kecil maupun dalam skala besar. Hal ini terlihat dari jumlah peningkatan populasi ternak ayam broiler di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Peningkatan populasi ayam broiler di Sulawesi Selatan semakin meningkat dapat dilihat dari data BPS Sul Sel pada tahun 2022 yaitu sekitar 86.421.820 ekor, Keunggulan yang dimiliki ayam broiler, antara lain masa produksi yang relatif pendek yaitu kurang lebih 32-35 hari, harga relatif murah, permintaan yang semakin meningkat serta berbagai keunggulan lainnya dibandingkan unggas lain (Rasyid dan Sirajuddin, 2010).

Daging unggas merupakan sumber protein hewani yang baik, karena mengandung asam amino esensial yang lengkap dan perbandingan yang seimbang. Selain itu, daging unggas lebih diminati oleh konsumen karena mudah dicerna, dapat diterima oleh mayoritas orang (Yashoda dkk. 2001) dan memiliki harga yang relatif murah (Cohen dkk. 2007). Mengingat tingginya kewaspadaan masyarakat terhadap keamanan pangan, menuntut produsen bahan pangan termasuk pengusaha peternakan untuk meningkatkan kualitas produk akan daging, dengan karkas yang layak konsumsi dan kualitas mutu yang baik, beberapa hal yang menjadi patokan kualitas daging diantaranya aroma daging, tekstur daging , rasa khas daging, dan warna daging. Hal-hal tersebut menjadi indikator akan mutu daging yang dikonsumsi.

Daun beluntas (Pluchea indica Less) merupakan tanaman yang bersifat antibakteri, antioksidan serta mengandung flavonoid, minyak atsiri, dan alkaloid. Flavonoid pada ekstrak daun beluntas mengandung senyawa fenol yang bersifat asam mampu menghambat perkembangan bakteri Escherichia coli dalam saluran pencernaan.

 

METODE PELAKSANAAN

Kajian ini dilaksanakan di Instalasi Ternak Unggas Kampus Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa, pada bulan Maret sampai dengan Mei 2024, Pengujian Kualitas Daging dilaksanakan di Laboratorium Kesehatan Hewan Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa.Kajian ini dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL ) ( 4x4 ) dengan jumlah populasi 64 ekor ayam broiler ditempatkan pada 16 petak kandang, setiap petak kandang berisi 4 ekor ayam broiler dengan 4 perlakuan masing-masing terdiri dari 4 kali ulangan.

Adapun perlakuan yang diberikan dalam kajian ini sebagai berikut :

P0 = Air minum tanpa penambahan   ekstrak daun beluntas (kontrol)

P1 =  Air minum dengan penambahan 5 ml ekstrak daun beluntas / 1 liter air

P2 = Air minum dengan penambahan 10 ml ekstrak daun beluntas/1 liter air

P3 = Air minum dengan penambahan 15 ml ekstrak daun beluntas/1 liter air

Proses pembuatan ekstrak daun beluntas dengan menyediakan alat dan bahan yang telah disediakan pada pelaksanaan kajian yaitu:Pertama daun beluntas segar (tua/muda) ditimbang sebanyak 100 gram kemudian dicacah dengan ukuran 2-3 cm dengan menggunakan pisau, selanjutnya masukkan beluntas yang telah dicacah kedalam blender kemudian ditambahkan air mineral 150 ml,daun beluntas 100 gram yang telah diblender kemudian disaring kedalam wadah yang telah disiapkan dan pisahkan serat daun beluntas dan ekstrak daun beluntas yang telah di blender. Setelah serat daun dan ektsrak daun beluntas dipisahkan, kemudian larutan ekstrak daun beluntas dimasukkan kedalam gelas ukur. Selanjutnya ukurlah ekstrak daun beluntas dalam gelas ukur. Setelah ekstrak daun beluntas di ukur,  maka ekstrak daun beluntas dipisahkan ke dalam wadah yang berbeda sesuai dengan perlakuan yang akan diberikan pada yam broiler. Ekstrak daun beluntas siap diberikan pada ayam broiler sesuai dengan masing-masing perlakuan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tekstur

Tekstur daging ayam dapat dirasakan dengan cara menekankan jari kepermukaan. Daging ayam yang baik mempunyai tesktur yang padat, kompak dengan daging yang tebal. Tekstur daging ayam broiler dilihat keempukan setelah karkas dibersihkan. Soeparno (2009) menyatakan bahwa keempukan dan tekstur daging merupakan parameter yang penting dalam kualitas daging. Berdasarkan hasil penelitian pemanfaatan ekstrak daun beluntas dalam air minum terhadap kualitas daging ayam broiler menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan terhadap tekstur memberikan pengaruh nyata. Berdasarkan uji Duncan dapat terlihat bahwa perlakuan P3 memberikan hasil tertinggi = 87.00 dibandingkan perlakuan lainnya yaitu pada perlakuan P0 = 55.00, P1 = 51.00 dan P2 =69.50.Dari hasil uji Duncan menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun beluntas memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05).

Warna

Berdasarkan hasil penelitian dengan pemanfaatan ekstrak daun beluntas terhadap kualitas daging ayam broiler menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan terhadap warna memberikan pengaruh berbeda nyata, pada rataan warna daging ayam broiler dari hasil pemberian ekstrak daun beluntas dalam air minum  selama pemeliharaan. Asmara et.al (2006) menyebutkan warna daging ayam segar adalah putih kekuningan. Berdasarkan uji Duncan dapat terlihat bahwa perlakuan P3 memberikan hasil tertinggi = 94.50 dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya yaitu pada perlakuan PO = 64.50, P1 = 53.50 dan P2 = 94.50, menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun beluntas memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05).

Aroma/Bau

Berdasarkan hasil penelitian pemanfaatan ekstrak daun beluntas terhadap kualitas daging ayam broiler menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan terhadap Aroma/Bau memberikan pengaruh berbeda  nyata, pada rataan Aroma/Bau daging ayam broiler dari hasil pemberian ekstrak daun beluntas pada air minum ayam broiler.  Aroma yang berbeda pada daging ayam dikarenakan adanya protein dan lemak. Lemak akan menghasilkan komponen volatil pada saat dipanaskan dan akan keluar bersama uap. Hal ini sesuai dengan pendapat Soeparno (1992), bahwa bau dan rasa daging banyak ditentukan oleh precursor yang larut dalam lemak, dan pembebasan substansi atsiri (volatil) yang terdapat dalam daging. Berdasarkan uji Duncan dapat terlihat bahwa perlakuan P3 memberikan hasil tertinggi = 91.50 dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya yaitu pada perlakuan PO = 49,50, P1 = 55.50 dan P2 = 69.50. Hasil uji Duncan  menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun beluntas memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05).

Rasa

Berdasarkan hasil penelitian dengan pemanfaatan ekstrak daun beluntas terhadap kualitas daging ayam broiler menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan terhadap rasa memberikan pengaruh berbeda nyata, pada rataan rasa daging ayam broiler dari hasil pemberian ekstrak daun beluntas dalam air minum  selama pemeliharaan. Berdasarkan uji Duncan dapat terlihat bahwa perlakuan P3 memberikan hasil tertinggi = 94.00 dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya yaitu pada perlakuan PO = 40.50, P1 = 54.00 dan P2 = 68.00. Suherman (1998) menyebutkan bahwa faktor yang mempengaruhi rasa daging antara lain adalah perlemakan, bangsa, umur dan pakan. Hasil pengujian organoleptik menunjukan bahwa pemberian dosis 15 ml dapat meningkatkan rasa daging ayam broiler dibandingkan dengan pemberian dosis 5 ml dan 10 ml. Hasil uji Duncan pada  menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun beluntas memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05).

 

SIMPULAN

Pemanfaatan ekstrak daun beluntas pada air minum ayam broiler dapat meningkatkan kualitas daging ayam broiler. Hasil rata-rata pengujian kualitas daging yang paling berpengaruh nyata adalah P3 yaitu pemberian ekstrak daun beluntas sebanyak 15 ml/ 1liter air minum. Pengujian Kualitas daging (tekstur, warna, aroma dan rasa) menunjukkan hasil yang signifikan dimana (P<0,05) sehingga dapat diartikan bahwa ada pengaruh yang nyata dari pemberian ekstrak daun beluntas. Perlu kajian lebih lanjut terkait pemanfaatan ekstrak daun beluntas (Pluchea Indica Less) sebagai tanaman yang dapat meningkatkan kualitas daging ayam broiler dan pengolahannya untuk mendapatkan hasil yang efektif.

 

REFERENSI  

Ardiansyah. 2002. Daun Beluntas Sebagai Bahan Antibakteri  dan Antioksidan.http://www.kamusilmiah.com/pangan/daun-beluntas -sebagai-bahan-antibakteri-dan-antioksidan. diakses pada tanggal 02 Maret 2019

Asmara.AS.ABZ.Zuki,BM.Hair, & AI Awang Evaluation of fresh chicken carcass:comparison between slaughted and cervical dislocated methods. Journal of Animal and Veterinary Adcances 5 (11);1039-1042

Cohen N, Ennaji H, Bouchrif B, Hassar M, Karib H. 2007. Comparative Study of Microbiological Quality of Raw Poultry Meat at Various Seasons and for Different Slaughtering Processes in Casablanca (Morocco). The Journal of Applied Poultry Research 16(4):502-508. doi:10.3382/japr.2006-00061

Kasih,N.S.;a.Jaelani & N.Firahmi.2012 .Pengaruh Lama Penyimpanan Daging Ayam Segar Dalam Refrigator Terhadap pH, Susut Masak dan Organoleptik. Media Sains,Volume 4 nomor 2:154-159

Mardikanto. 2009. Sistem Penyuluhan Pertanian. Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) UNS dan UPT Penerbitan dan Pencetakan UNS (UNS Press). Surakarta.

 

Minhatun N, dan Tukiran. 2017. Uji Antioksidan dan Identifikasi Senyawa Aktif dari Ekstrak Kloroform Daun Tanaman Beluntas (Pluchea indica L.). UNESA Journalof Chemistry, 6(2).

Nugraheni,Muntiara. 2012.Pengetahuan Bahan Pangan Hewani. Graha Ilmu.Yogyakarta

Nurhalimah N, dkk. 2015. Efek Antidiare Ekstrak Daun Beluntas pada Mencit Jurnal Pangan dan Agroindustri, 3(3): 1083-1094.

Priyatno, M. A. 2003. Mendirikan Usaha Pemotongan Ayam. Penebar Swadaya. Jakarta

Soeparno,1992.Ilmu dan Teknologi Daging.Edisi 1.Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

-------------, 2009 .Ilmu dan Teknologi Daging.Cetakan II. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Rasyid dan Sirajuddin.2010.Peranan Pola Kemitraan Inti Plasma Pada Peternak Usaha Ayam Broiler (Buletin Ilmu Peternakan). Dinas Peternakan Makassar

 

Suherman,D.1998. Cara Pemasakan terhadap Rasa Daging Ayam Broiler.         Majalah Poltry Indonesia 104:26-27

Yashoda K, Sachindra N, Sakhare P, RAO DN. 2001. Microbiological quality of broiler chicken carcasses processed hygienically in a small scale poultry processing unit. Journal of food quality 24(3):249-259.