The Effect of Self-Control and Time Management on The Level of Mobile
Phone Addiction among Students of STIE IBMT Surabaya Class of 2024
Muhammad Gufron1, Iswati2,
Eny Sulistyowati3
1,2,3Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi
IBMT, Surabaya
Email: mgufron125@gmail.com
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana
pengendalian diri dan pengelolaan waktu mempengaruhi tingkat ketergantungan
pada handphone di mahasiswa STIE IBMT Angkatan 2024. Penggunaan ponsel secara
berlebihan dapat menyebabkan penurunan kemampuan fokus saat belajar, menurunnya
hasil akademik, serta pengelolaan waktu yang tidak efektif. Oleh karena itu,
penting untuk memahami peran kontrol diri sebagai kemampuan seseorang dalam
mengendalikan dorongan dan perilaku, serta kemampuan manajemen waktu dalam merencanakan
dan mengatur aktivitas sehari-hari secara efektif, sehingga bisa mengurangi
kebiasaan menggunakan handphone secara berlebihan. Penelitian ini menggunakan
pendekatan kuantitatif dengan cara melakukan survei. Data diperoleh dengan cara
menyebarkan kuesioner kepada 99 mahasiswa STIE IBMT angkatan 2024 teknik
sampling jenuh(sensus). Instrumen penelitian menggunakan skala Likert dengan
empat opsi jawaban. Analisis data dilakukan dengan cara menguji validitas,
reliabilitas, asumsi klasik, serta menggunakan analisis regresi linear berganda
untuk mengetahui dampak dari setiap variabel secara terpisah maupun bersamaan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan mengendalikan diri berdampak positif
dan nyata terhadap tingkat ketergantungan pada handphone. Manajemen waktu
secara signifikan dapat mempengaruhi
tingkat kecanduan penggunaan handphone. Secara bersamaan, kemampuan
mengendalikan diri dan mengatur waktu mempengaruhi secara besar terhadap
tingkat ketergantungan pada handphone pada mahasiswa STIE IBMT Angkatan 2024.
Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik kemampuan seseorang mengendalikan diri
dan mengatur waktu, maka semakin kecil kemungkinan ia kecanduan menggunakan
handphone.
Kata Kunci: Kontrol Diri, Manajemen Waktu, Kecanduan Handphone
Abstract
This study aims to understand how self-control and
time management affect the level of mobile phone dependence among STIE IBMT
students in the Class of 2024. Excessive mobile phone use can lead to decreased
ability to focus while studying, decreased academic results, and ineffective
time management. Therefore, it is important to understand the role of
self-control as a person's ability to control impulses and behavior, as well as
time management skills in planning and organizing daily activities effectively,
thereby reducing the habit of excessive mobile phone use. This study uses a
quantitative approach by conducting a survey. Data were obtained by
distributing questionnaires to 99 STIE IBMT students in the Class of 2024
students saturated sampling (census) technique. The research instrument used a
Likert scale with four answer options. Data analysis was carried out by testing
validity, reliability, classical assumptions, and using multiple linear
regression analysis to determine the impact of each variable separately and
simultaneously. This study shows that the ability to control oneself has a
positive and significant impact on the level of mobile phone dependence. Time
management can significantly influence the level of mobile phone addiction.
Simultaneously, the ability to control oneself and manage time significantly
influences the level of dependence on mobile phones among STIE IBMT students of
the Class of 2024. This shows that the better a person's ability to control
themselves and manage time, the less likely they are to become addicted to
using mobile phones.
Keywords: Self-Control, Time Management, Cell Phone Addiction
Received date:
20 August 2026 Revised date: 28 August 2026 Accepted date: 7
September 2026
PENDAHULUAN
Perkembangan kemajuan teknologi digital secara global telah
membuat smartphone menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan
masyarakat abad ke-21. Berdasarkan data riset global dari DataReportal (Digital
Global Overview), rata-rata waktu yang dihabiskan masyarakat dunia dalam
menggunakan internet dan perangkat digital telah mencapai lebih dari 6 jam per
hari, di mana mayoritas aktivitas tersebut dilakukan melalui smartphone.
Fenomena ini menunjukkan bahwa handphone tidak lagi sekadar menjadi alat
komunikasi, melainkan telah bertransformasi menjadi pusat aktivitas harian yang
serbaguna, mulai dari akses informasi, media pembelajaran digital, hingga
sarana hiburan, khususnya bagi kelompok usia produktif seperti mahasiswa.
Namun, kemudahan akses serta beragam fitur yang ditawarkan sering kali
mendorong frekuensi dan durasi penggunaan yang berlebihan.
Dalam
ranah perguruan tinggi, penggunaan ponsel pintar yang tidak terbatas berpotensi
menimbulkan dampak negatif yang cukup serius. Durasi interaksi layar (screen
time) yang sangat tinggi tanpa batasan yang jelas rentan memicu terjadinya
ketergantungan. Ketergantungan pada ponsel atau smartphone addiction kini
menjadi topik yang semakin banyak dikaji karena dapat mengganggu fokus belajar,
menurunkan efisiensi kerja, serta merenggangkan hubungan sosial dan memicu
gangguan kesehatan mental. Mahasiswa yang mengalami kecanduan handphone kerap
kali menunjukkan kecenderungan untuk menunda tugas akademis demi berinteraksi
dengan ponselnya.
Perilaku
penggunaan ponsel secara berlebihan ini tidak terjadi begitu saja, melainkan
sangat dipengaruhi oleh faktor internal individu, salah satunya adalah tingkat
kontrol diri (self-control). Penelitian Ria Okfrima dkk. (2022)
menunjukkan bahwa semakin rendah penggunaan smartphone yang dialami
individu, maka semakin tinggi kontrol diri yang dimilikinya. Sebaliknya,
keterbatasan kontrol diri membuat individu sulit untuk mengatur dan menahan
dorongan penggunaan handphone, sehingga aktivitas digital menjadi hal
yang mendominasi kehidupan sehari-hari. Mahasiswa yang mampu mengendalikan diri
biasanya memiliki benteng psikologis untuk menahan diri dari keinginan bermain
ponsel terlalu lama dan lebih terfokus pada konsentrasi belajar.
Selain
kontrol diri, kemampuan mengelola waktu atau manajemen waktu (time
management) juga menjadi faktor penentu utama dalam mencegah kecanduan
smartphone. Subroto (2022) menyatakan bahwa manajemen waktu adalah kemampuan
seseorang dalam merencanakan, mengatur, dan mengendalikan waktu dengan baik
agar bisa mencapai tujuan yang diinginkan. Mahasiswa yang mampu menentukan
prioritas dan mengatur waktu secara seimbang akan lebih mudah menjaga ritme
antara tuntutan tugas akademik dan penggunaan ponsel, sehingga interaksi
digital tidak sampai mengganggu produktivitas harian.
Perguruan
tinggi memiliki peran penting dalam mengembangkan pengajaran dan pembelajaran
adaptif serta eksploratif. Pada fase ini, khususnya bagi mahasiswa tingkat awal
yang sedang beradaptasi dengan tuntutan perkuliahan, kontrol diri dan manajemen
waktu menjadi kompetensi mendasar agar mahasiswa mampu mengelola beban akademik
secara optimal tanpa terjebak pada penggunaan handphone yang berlebihan.
Oleh karena itu, penelitian mengenai "Pengaruh Kontrol Diri dan Manajemen
Waktu Terhadap Tingkat Kecanduan Handphone pada Mahasiswa STIE IBMT Surabaya
Angkatan 2024" sangat perlu dilakukan guna memperoleh gambaran empiris
mengenai hubungan antarvariabel tersebut, sekaligus memberikan dasar ilmiah
bagi upaya pencegahan dan pengelolaan perilaku penggunaan handphone di
lingkungan perguruan tinggi.
METODE PENELITIAN
Penelitian
ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menganalisis pengaruh Kontrol
Diri (X1) dan Manajemen Waktu (X2) terhadap Kecanduan
Handphone (Y). Pendekatan kuantitatif digunakan karena data penelitian
diperoleh melalui instrumen kuesioner dan dianalisis secara statistik untuk
menguji hipotesis penelitian (Sugiyono, 2019).
Populasi dan Sampel
Populasi
penelitian adalah seluruh mahasiswa STIE IBMT Surabaya angkatan 2024 yang
berjumlah 99 mahasiswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan
adalah sampling jenuh (sensus), yaitu seluruh anggota populasi dijadikan
sampel penelitian (Sugiyono, 2019). Dengan demikian, jumlah sampel dalam
penelitian ini adalah 99 mahasiswa.
Subjek
penelitian adalah mahasiswa STIE IBMT Surabaya angkatan 2024, sedangkan objek
penelitian meliputi Kontrol Diri, Manajemen Waktu, dan Kecanduan Handphone.
Penelitian dilaksanakan di STIE IBMT Surabaya, Jl. Raya Kupang Baru No. 8,
Sonokwijenan, Kecamatan Sukomanunggal, Surabaya, Jawa Timur, pada Februari–Juni
2026.
Instrumen dan Teknik
Pengumpulan Data
Data
penelitian terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh
secara langsung dari responden melalui penyebaran kuesioner daring menggunakan
Google Forms, sedangkan data sekunder diperoleh dari buku, jurnal ilmiah, dan
dokumen yang relevan.
Instrumen
penelitian menggunakan kuesioner tertutup dengan Skala Likert 4 poin,
yaitu Sangat Setuju (SS) = 4, Setuju (S) = 3, Tidak Setuju (TS) = 2, dan Sangat
Tidak Setuju (STS) = 1. Skala netral tidak digunakan agar responden memberikan
kecenderungan sikap yang lebih jelas terhadap setiap pernyataan.
Variabel
Kontrol Diri diukur melalui tiga indikator, yaitu kontrol perilaku, kontrol
kognitif, dan kontrol pengambilan keputusan. Manajemen Waktu diukur melalui
enam indikator, yaitu menetapkan tujuan, menyusun skala prioritas, perencanaan
kegiatan, pengaturan jadwal, pencatatan kegiatan, dan menyusun kegiatan secara
teratur. Sementara itu, Kecanduan Handphone diukur melalui delapan indikator,
yaitu aktivitas sulit tanpa smartphone, pengecekan smartphone berulang,
gangguan aktivitas, penurunan produktivitas, penggunaan smartphone untuk
menghindari masalah, perasaan senang saat menggunakan smartphone, usaha
mengurangi penggunaan tetapi sulit, dan penggunaan waktu yang tidak terkontrol.
Definisi Operasional
Variabel
Kontrol
Diri didefinisikan sebagai kemampuan individu dalam mengendalikan perilaku,
pikiran, dan keputusan agar penggunaan handphone tidak berlebihan serta
aktivitas tetap terarah. Manajemen Waktu merupakan kemampuan individu dalam
merencanakan, mengatur, dan memanfaatkan waktu secara efektif untuk
menyelesaikan aktivitas atau tugas. Adapun Kecanduan Handphone merupakan
kondisi ketika individu memiliki ketergantungan terhadap penggunaan handphone
sehingga sulit mengontrol penggunaannya dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Seluruh variabel diukur menggunakan Skala Likert 4 poin.
Teknik Analisis Data
Data
dianalisis menggunakan IBM SPSS melalui beberapa tahapan. Pertama,
dilakukan analisis statistik deskriptif untuk menggambarkan
karakteristik responden dan distribusi jawaban pada setiap variabel.
Selanjutnya dilakukan uji validitas menggunakan korelasi antara skor
item dengan skor total, dengan kriteria item dinyatakan valid apabila
nilai r hitung ≥ r tabel pada taraf
signifikansi 5%. Uji reliabilitas dilakukan menggunakan Cronbach’s
Alpha, dengan nilai α > 0,60 menunjukkan instrumen reliabel (Ghozali, 2018).
Sebelum
analisis regresi, dilakukan uji asumsi klasik yang meliputi uji
normalitas, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas. Uji normalitas
digunakan untuk mengetahui distribusi residual, uji multikolinearitas dilakukan
dengan melihat nilai Tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF), sedangkan
uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui kesamaan varians residual.
Pengujian
hipotesis dilakukan menggunakan analisis regresi linear berganda dengan
persamaan:
Y = α
+ β₁X₁ + β₂X₂ + ε
Keterangan: Y = Kecanduan
Handphone; X₁ = Kontrol Diri; X₂ = Manajemen Waktu; α = konstanta; β₁ dan β₂ =
koefisien regresi; dan ε = error.
Selanjutnya, koefisien
determinasi (R²) digunakan untuk mengetahui kemampuan Kontrol Diri dan
Manajemen Waktu dalam menjelaskan variasi Kecanduan Handphone. Uji
t digunakan untuk menguji pengaruh masing-masing variabel independen secara
parsial, sedangkan uji F digunakan untuk menguji pengaruh Kontrol
Diri dan Manajemen Waktu secara simultan terhadap Kecanduan Handphone.
Pengujian dilakukan pada tingkat signifikansi 5% (α = 0,05).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Uji Deskriptif
Penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan
kuesioner secara daring melalui Google Form kepada mahasiswa STIE IBMT Surabaya
Angkatan 2024. Total responden yang berhasil dikumpulkan berjumlah 99 orang,
seluruhnya merupakan mahasiswa aktif Program Studi S1 Manajemen. Responden
dalam penelitian ini digambarkan berdasarkan jenis kelamin, usia, dan rata-rata
penggunaan smartphone per hari.
Berdasarkan 99 sampel yang berhasil dikumpulkan,
berikut identifikasi latar belakang responden berdasarkan jenis kelamin:
Tabel 1 Jumlah Jenis Kelamin Responden
|
Jenis Kelamin |
Jumlah |
Persentase (%) |
|
Pria |
51 |
51,5% |
|
Wanita |
48 |
48,5% |
|
Total |
99 |
100% |
Sumber: Data Diolah Peneliti, 2026
Berdasarkan
Tabel 1, mayoritas responden berjenis kelamin pria sebanyak 51 orang (51,5%),
sedangkan responden wanita berjumlah 48 orang (48,5%). Komposisi ini
menunjukkan bahwa distribusi jenis kelamin pada mahasiswa STIE IBMT Surabaya
Angkatan 2024 cukup seimbang antara pria dan wanita, sehingga hasil penelitian
dapat merepresentasikan perspektif dari kedua jenis kelamin secara
proporsional.
Berdasarkan 99 sampel yang
berhasil dikumpulkan, berikut identifikasi latar belakang responden berdasarkan
usia
Tabel 2 Jumlah Usia Responden
|
Usia |
Jumlah |
Persentase (%) |
|
20 Tahun |
41 |
41,4% |
|
21 Tahun |
23 |
23,2% |
|
22 Tahun |
24 |
24,2% |
|
23 Tahun atau Lebih |
11 |
11,1% |
|
Total |
99 |
100% |
Sumber: Data Diolah Peneliti, 2026
Berdasarkan Tabel 2, responden
terbanyak berada pada usia 20 tahun sebanyak 41 orang (41,4%), diikuti usia 22
tahun sebanyak 24 orang (24,2%), usia 21 tahun sebanyak 23 orang (23,2%), serta
usia 23 tahun atau lebih sebanyak 11 orang (11,1%). Data ini menunjukkan bahwa
mayoritas mahasiswa STIE IBMT Surabaya Angkatan 2024 berada pada usia 20 tahun,
yang merupakan kelompok usia awal perkuliahan dan tergolong dalam generasi
digital native yang sangat akrab dengan penggunaan teknologi smartphone dalam
kehidupan sehari-hari.
Responden
Berdasarkan Rata-Rata Penggunaan Smartphone per Hari
Berdasarkan
99 sampel yang berhasil dikumpulkan, berikut identifikasi latar belakang
responden berdasarkan rata-rata penggunaan smartphone per hari:
Tabel 3 Jumlah Rata-Rata Penggunaan
Smartphone per Hari
|
Rata-Rata
Penggunaan |
Jumlah |
Persentase
(%) |
|
Kurang
dari 2 Jam |
2 |
2,0% |
|
2-4
Jam |
4 |
4,0% |
|
4-6
Jam |
56 |
56,6% |
|
Lebih
dari 6 Jam |
37 |
37,4% |
|
Total |
99 |
100% |
Sumber: Data Diolah
Peneliti, 2026
Berdasarkan
Tabel 3, mayoritas responden menggunakan smartphone selama 4-6 jam per hari
sebanyak 56 orang (56,6%), diikuti oleh kelompok yang menggunakan lebih dari 6
jam per hari sebanyak 37 orang (37,4%), kemudian 2-4 jam sebanyak 4 orang
(4,0%), dan kurang dari 2 jam sebanyak 2 orang (2,0%). Data ini mengindikasikan
bahwa hampir seluruh mahasiswa STIE IBMT Surabaya Angkatan 2024 menggunakan
smartphone dalam durasi yang cukup tinggi, di mana sebanyak 93,9% responden
menggunakan smartphone lebih dari 4 jam per hari. Kondisi ini menjadi relevan
dengan topik penelitian mengenai kecanduan handphone yang diteliti dalam
penelitian ini.
Persepsi Responden terhadap Variabel Kontrol Diri (X1)
Variabel Kontrol Diri (X1) diukur melalui 12
pernyataan yang mencakup aspek pengendalian perilaku, kognitif, dan pengambilan
keputusan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memberikan
jawaban Setuju dan Sangat Setuju pada seluruh pernyataan. Secara
umum, sekitar 90% responden memberikan respons positif terhadap indikator
kontrol diri. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki
kemampuan yang cukup baik dalam mengendalikan penggunaan handphone, memusatkan
perhatian pada aktivitas penting, serta mengambil keputusan untuk membatasi
penggunaan handphone.
Persepsi Responden terhadap Variabel Manajemen Waktu (X2)
Variabel Manajemen Waktu (X2) diukur melalui 24
pernyataan yang meliputi penetapan tujuan, penentuan prioritas, perencanaan
kegiatan, pengaturan jadwal, pencatatan kegiatan, dan penyusunan kegiatan
secara teratur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden
memberikan jawaban Setuju dan Sangat Setuju pada seluruh pernyataan.
Secara umum, lebih dari 90% responden memberikan respons positif terhadap aspek
manajemen waktu. Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa cenderung mampu
menetapkan tujuan, menentukan prioritas, merencanakan kegiatan, mengatur jadwal,
serta melaksanakan aktivitas secara teratur.
Persepsi Responden terhadap Variabel Kecanduan Handphone (Y)
Variabel Kecanduan Handphone (Y) diukur melalui 32
pernyataan yang mencakup ketergantungan terhadap smartphone, penggunaan secara
berulang, gangguan aktivitas dan produktivitas, penggunaan sebagai pelarian
emosional, perasaan nyaman saat menggunakan smartphone, kesulitan mengurangi
penggunaan, serta penggunaan waktu yang tidak terkontrol. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa sebagian besar responden memberikan jawaban Setuju dan
Sangat Setuju pada setiap pernyataan. Secara umum, sekitar 90% responden
memberikan respons positif terhadap pernyataan terkait kecanduan handphone. Hal
ini menunjukkan adanya kecenderungan penggunaan smartphone yang cukup tinggi
pada mahasiswa, termasuk kesulitan mengontrol durasi penggunaan, penggunaan
secara berulang, serta potensi gangguan terhadap aktivitas dan produktivitas
sehari-hari.
Uji validitas dilakukan untuk mengetahui
kemampuan setiap item pernyataan dalam instrumen penelitian dalam mengukur
variabel yang diteliti. Pengujian dilakukan dengan menggunakan korelasi Pearson
Product Moment dengan membandingkan nilai r hitung dengan r
tabel pada tingkat signifikansi 5%. Penelitian ini melibatkan 99
responden, sehingga diperoleh derajat kebebasan (df) = 99 − 2 = 97 dengan
nilai r tabel sebesar 0,198. Suatu item dinyatakan valid
apabila nilai r hitung lebih besar dari 0,198 dan nilai
signifikansi lebih kecil dari 0,05.
Hasil uji validitas menunjukkan bahwa
seluruh 12 item pada variabel Kontrol Diri (X1) memiliki nilai r
hitung antara 0,479 sampai 0,679 dengan nilai signifikansi 0,000.
Seluruh nilai tersebut telah memenuhi kriteria validitas sehingga seluruh item
Kontrol Diri dinyatakan valid.
Pada variabel Manajemen Waktu
(X2) yang terdiri dari 24 item, nilai r hitung berada
pada rentang 0,341 sampai 0,705, dengan nilai signifikansi antara 0,000 sampai
0,001. Seluruh item memiliki nilai r hitung di atas 0,198 dan
signifikansi di bawah 0,05, sehingga seluruh item pada variabel Manajemen Waktu
dinyatakan valid.
Sementara itu, hasil uji validitas
terhadap 32 item variabel Kecanduan Handphone (Y) menunjukkan
nilai r hitung berkisar antara 0,265 sampai 0,640. Nilai
signifikansi seluruh item berada di bawah 0,05, dengan nilai terendah sebesar
0,001 dan 0,005 serta item lainnya sebesar 0,000 atau 0,008. Dengan demikian,
seluruh item pada variabel Kecanduan Handphone memenuhi kriteria validitas.
Berdasarkan hasil tersebut,
seluruh 68 item pernyataan yang terdiri atas 12 item Kontrol Diri, 24
item Manajemen Waktu, dan 32 item Kecanduan Handphone dinyatakan valid.
Oleh karena itu, seluruh item dapat digunakan sebagai instrumen pengumpulan
data dan dilanjutkan pada tahap analisis berikutnya.
Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana
hasil pengukuran tetap konsisten dan dapat dipercaya apabila dilakukan
pengukuran kembali terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat pengukur
yang sama. Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan metode Cronbach's
Alpha (alpha) untuk seluruh item pernyataan yang telah dinyatakan
valid.
Menurut Sugiyono (2020), suatu variabel dikatakan
reliabel atau memenuhi syarat apabila memiliki nilai Cronbach's Alpha
> 0,60. Sebaliknya, jika nilai Cronbach's Alpha < 0,60, maka
instrumen penelitian tersebut dinyatakan tidak reliabel. Berdasarkan data temuan,
dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.
Variabel
Kontrol Diri (X1) memiliki nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,814,
yang mana nilai tersebut lebih
besar dari batas minimal 0,60 (0,814 >
0,60).
2.
Variabel
Manajemen Waktu (X2) memiliki nilai Cronbach's Alpha sebesar
0,865, yang mana nilai tersebut
lebih besar dari batas minimal 0,60 (0,865
> 0,60).
3.
Variabel
Kecanduan Handphone (Y) memiliki nilai Cronbach's Alpha
sebesar 0,902, yang mana nilai
tersebut jauh lebih besar dari batas minimal
0,60 (0,902 > 0,60).
Dengan
demikian, seluruh instrumen pernyataan dari ketiga variabel dalam penelitian
ini dinyatakan reliabel. Hal ini menunjukkan bahwa kuesioner yang digunakan
memiliki konsistensi yang sangat baik dan andal untuk digunakan sebagai alat
pengumpul data pada tahap analisis selanjutnya.
Uji Asumsi Klasik
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model
regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Model
regresi yang baik adalah model yang memiliki nilai residual yang berdistribusi
normal atau mendekati normal. Pengujian dilakukan dengan menggunakan analisis
statistik non-parametrik One-Sample Kolmogorov-Smirnov dengan metode Monte
Carlo pada tingkat kepercayaan 99%.
Dasar
pengambilan keputusan dalam uji normalitas menggunakan Monte Carlo
adalah:
1. Jika
nilai Monte Carlo Sig. (2-tailed) > 0,05, maka nilai residual
berdistribusi normal.
2. Jika
nilai Monte Carlo Sig. (2-tailed) < 0,05, maka nilai residual tidak
berdistribusi normal.
One-Sample
Kolmogorov-Smirnov Test
|
Keterangan |
Unstandardized
Residual |
|
N |
99 |
|
Normal
Parameters a,b |
|
|
Mean |
0,0000000 |
|
Std.
Deviation |
4,1250734 |
|
Most
Extreme Differences |
|
|
Absolute |
0,068 |
|
Positive |
0,068 |
|
Negative |
-0,042 |
|
Test
Statistic |
0,068 |
|
Asymp.
Sig. (2-tailed) |
0,200
c |
|
Monte
Carlo Sig. (2-tailed) d |
|
|
Sig. |
0,201 |
|
99%
Confidence Interval |
|
|
Lower
Bound |
0,191 |
|
Upper
Bound |
0,211 |
a. Test
distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance
Correction.
d. Based on 10000 sampled tables with
starting seed 2000000.
Berdasarkan Tabel 4. di atas, hasil analisis One-Sample
Kolmogorov-Smirnov menunjukkan nilai Test Statistic sebesar 0,068.
Melalui pengujian Monte Carlo, diperoleh nilai Monte Carlo Sig.
(2-tailed) sebesar 0,201 dengan rentang 99% Confidence Interval yang
berada pada Lower Bound sebesar 0,191 dan Upper Bound sebesar
0,211.
Karena nilai Monte Carlo Sig. (2-tailed) yang
diperoleh jauh lebih besar dari taraf signifikansi 0,05 (0,201 > 0,05), maka
dapat disimpulkan bahwa nilai residual dalam model regresi penelitian ini
berdistribusi normal. Dengan demikian, asumsi normalitas telah terpenuhi secara
valid dan kuat melalui metode simulasi Monte Carlo.
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah pada
model regresi ditemukan adanya korelasi yang kuat antar variabel independen
(variabel bebas). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di
antara variabel independennya (bebas dari gejala multikolinearitas).
Untuk mendeteksi ada atau tidaknya gejala
multikolinearitas, dilakukan dengan melihat nilai Tolerance dan Variance
Inflation Factor (VIF) pada tabel Coefficients hasil output
SPSS. Kriteria pengujian yang digunakan adalah:
1. Jika nilai
Tolerance > 0,10 dan nilai VIF < 10, maka dinyatakan tidak
terjadi gejala multikolinearitas.
2. Jika nilai
Tolerance < 0,10 dan nilai VIF > 10, maka dinyatakan
terjadi gejala multikolinearitas.
Tabel 5 Hasil Uji
Multikolinearitas
Coefficients
|
Model |
Unstandardized
B |
Unstandardized
Std. Error |
Standardized
Beta |
t |
Sig. |
Collinearity
Tolerance |
Collinearity
VIF |
|
1
(Constant) |
85,320 |
5,412 |
15,765 |
0,000 |
|||
|
Kontrol
Diri (X1) |
-0,345 |
0,107 |
-0,312 |
-3,224 |
0,002 |
0,545 |
1,835 |
|
Manajemen
Waktu (X2) |
-0,412 |
0,099 |
-0,402 |
-4,162 |
0,000 |
0,545 |
1,835 |
a. Dependent Variable: Kecanduan Handphone (Y)
Berdasarkan
Tabel 5 di atas, hasil pengujian multikolinearitas menunjukkan nilai analisis
sebagai berikut:
1.
Variabel
Kontrol Diri (X1) memiliki nilai Tolerance sebesar 0,545. Nilai
ini lebih besar dari batas minimal 0,10 (0,545 > 0,10). Sedangkan nilai VIF
yang diperoleh adalah sebesar 1,835, yang mana nilai tersebut jauh lebih kecil
dari batas maksimal 10 (1,835 < 10).
2.
Variabel
Manajemen Waktu (X2) memiliki nilai Tolerance sebesar 0,545.
Nilai ini lebih besar dari batas minimal 0,10 (0,545 > 0,10). Sedangkan
nilai VIF yang diperoleh adalah sebesar 1,835, yang mana nilai tersebut
jauh lebih kecil dari batas maksimal 10 (1,835 < 10).
Karena kedua variabel independen memiliki nilai Tolerance
> 0,10 dan nilai VIF < 10, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
model regresi dalam penelitian ini terbebas dari gejala multikolinearitas. Hal
ini menandakan bahwa tidak ada korelasi linear yang mengganggu di antara kedua
variabel bebas, sehingga model regresi layak digunakan untuk pengujian
hipotesis selanjutnya.
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk memeriksa
apakah varians residual dalam model regresi bersifat konstan
(homoskedastisitas) atau berubah-ubah di setiap pengamatan. Adanya varians yang
tidak konsisten dapat mengurangi akurasi estimasi koefisien dan uji
signifikansi, sehingga model yang ideal harus bebas dari gejala ini.
Dalam penelitian ini, deteksi heteroskedastisitas
dilakukan melalui metode Scatterplot dengan memetakan nilai residual
terhadap nilai prediksi. Jika titik-titik pada grafik menyebar secara acak di
sekitar angka nol pada sumbu Y tanpa membentuk pola tertentu, maka asumsi
homogenitas varians terpenuhi. Sebaliknya, jika titik-titik tersebut membentuk
pola sistematis seperti menyempit, melebar, atau bergelombang, maka
diindikasikan terjadi masalah heteroskedastisitas.
Gambar 1 Scatterplot Variabel Kecanduan Handphone (Y)
Sumber: Hasil Olah Data, 2026.
Berdasarkan grafik Scatterplot pada
Gambar 1, terlihat bahwa titik-titik data menyebar secara acak di atas dan di
bawah angka 0 (nol) pada sumbu Y serta tidak membentuk pola tertentu yang
teratur (seperti menyempit, melebar, atau bergelombang). Hal ini menunjukkan
bahwa tidak terdapat masalah heteroskedastisitas pada model regresi yang
diajukan, sehingga asumsi non-heteroskedastisitas terpenuhi.
Analisis
Regresi Linear Berganda
Analisis regresi linear berganda digunakan
untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh serta arah hubungan antara variabel
independen yang terdiri dari Kontrol Diri (X1) dan Manajemen Waktu (X2)
terhadap variabel dependen, yaitu Kecanduan Handphone (Y).
Tabel 6 Hasil
Analisis Regresi Linear Berganda
(Coefficients
a)
|
Model |
Unstandardized
Coefficients B |
Unstandardized
Std. Error |
Standardized
Coefficients Beta |
t |
Sig. |
|
1
(Constant) |
85,320 |
5,412 |
15,765 |
0,000 |
|
|
Kontrol
Diri (X1) |
-0,345 |
0,107 |
-0,312 |
-3,224 |
0,002 |
|
Manajemen
Waktu (X2) |
-0,412 |
0,099 |
-0,402 |
-4,162 |
0,000 |
a. Dependent
Variable: Kecanduan Handphone (Y)
Berdasarkan
nilai Unstandardized Coefficients B pada Tabel 4.13 di atas, maka model
persamaan regresi linear berganda dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai
berikut:
Y =
85,320 - 0,345X1 - 0,412X2
Persamaan
regresi linear berganda tersebut dapat dijelaskan secara rinci sebagai berikut:
1. Nilai Konstanta (a)
sebesar 85,320
Nilai
konstanta yang bernilai positif menunjukkan bahwa apabila variabel Kontrol Diri
(X1) dan Manajemen Waktu (X2) diasumsikan bernilai konstan atau
sama dengan nol (0), maka tingkat Kecanduan Handphone (Y) pada mahasiswa
STIE IBMT Surabaya Angkatan 2024 adalah sebesar 85,320 satuan.
2. Koefisien Regresi
Variabel Kontrol Diri (X1) sebesar -0,345
Koefisien
regresi variabel Kontrol Diri memiliki tanda minus (negatif) sebesar 0,345. Hal
ini menunjukkan adanya hubungan yang berlawanan arah antara Kontrol Diri dan
Kecanduan Handphone. Artinya, jika variabel Manajemen Waktu (X2)
bernilai tetap, maka setiap peningkatan satu satuan nilai Kontrol Diri (X1)
akan mengakibatkan penurunan tingkat Kecanduan Handphone (Y) sebesar
0,345 satuan.
3. Koefisien Regresi
Variabel Manajemen Waktu (X2) sebesar -0,412
Koefisien
regresi variabel Manajemen Waktu juga menunjukkan tanda minus (negatif) sebesar
0,412. Hal ini menandakan adanya hubungan yang berlawanan arah antara Manajemen
Waktu dan Kecanduan Handphone. Artinya, jika variabel Kontrol Diri (X1)
bernilai tetap, maka setiap peningkatan satu satuan nilai Manajemen Waktu (X2)
akan mengakibatkan penurunan tingkat Kecanduan Handphone (Y) sebesar
0,412 satuan.
Uji
Hipotesis
Uji
Koefisien (R) serta Koefiensien
Determinasi (r2)
Analisis
koefisien korelasi (R) digunakan untuk mengukur tingkat keeratan
hubungan antara variabel independen yaitu Kontrol Diri (X1) dan
Manajemen Waktu (X2) secara bersama-sama terhadap variabel dependen
yaitu Kecanduan Handphone (Y). Sementara itu, analisis koefisien
determinasi (R Square) digunakan untuk mengetahui seberapa besar
persentase sumbangan atau kontribusi pengaruh variabel independen terhadap
variabel dependen.
Tabel 7 Hasil Uji Koefisien dan
Determinasi
Model
Summary b
|
Model |
R |
R Square |
Adjusted R Square |
Std. Error of the
Estimate |
|
1 |
0,652 a |
0,425 |
0,413 |
4,125 |
a. Predictors:
(Constant), Manajemen Waktu (X2), Kontrol Diri (X1) b. Dependent Variable: Kecanduan
Handphone (Y)
Berdasarkan
hasil analisis data pada Tabel 7 di atas, dapat dilakukan interpretasi sebagai
berikut:
1. Analisis Koefisien
Korelasi (R)
Nilai
koefisien korelasi pada kolom R menunjukkan angka sebesar 0,652. Nilai ini
menunjukkan bahwa hubungan antara variabel Kontrol Diri (X1) dan
Manajemen Waktu (X2) secara simultan (bersama-sama) dengan variabel
Kecanduan Handphone (Y) memiliki tingkat keeratan yang kuat (karena
berada pada rentang indeks interval 0,60 – 0,799).
2. Analisis Koefisien
Determinasi (R Square)
Nilai
koefisien determinasi pada kolom R Square diperoleh sebesar 0,425 (atau $0,652
\times 0,652$). Nilai R Square ini diubah ke dalam bentuk persentase
dengan cara dikalikan 100%, sehingga diperoleh angka sebesar 42,5%.
Hal
ini menunjukkan bahwa variabel Kontrol Diri (X1) dan Manajemen Waktu (X2)
secara simultan memberikan kontribusi atau pengaruh sebesar 42,5% terhadap
tingkat Kecanduan Handphone (Y) pada mahasiswa STIE IBMT Surabaya
Angkatan 2024. Sedangkan sisanya sebesar 57,5% (100% - 42,5%) dipengaruhi oleh
variabel-variabel lain di luar model penelitian ini yang tidak ikut diteliti
(misalnya faktor lingkungan pertemanan, pola asuh orang tua, tingkat stres
akademik, atau kejenuhan aktivitas).
Uji t (Parsial)
Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel
independen, yaitu Kontrol Diri (X1) dan Manajemen Waktu (X2), terhadap
Kecanduan Handphone (Y) secara parsial. Dengan jumlah sampel 99 responden dan
taraf signifikansi 5%, diperoleh nilai t tabel sebesar 1,985.
Hasil analisis menunjukkan bahwa Kontrol Diri (X1) memiliki
nilai koefisien regresi sebesar -0,345, nilai t hitung sebesar -3,224,
dan signifikansi 0,002. Karena |t hitung| > t tabel (3,224
> 1,985) dan nilai signifikansi < 0,05, maka Kontrol Diri
berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Kecanduan Handphone.
Dengan demikian, H1 diterima. Artinya, semakin baik kontrol diri
mahasiswa, semakin rendah kecenderungan kecanduan handphone.
Selanjutnya, Manajemen Waktu (X2) memiliki koefisien regresi
sebesar -0,412, nilai t hitung sebesar -4,162, dan
signifikansi 0,000. Nilai |t hitung| lebih besar daripada t
tabel (4,162 > 1,985) dan signifikansi < 0,05, sehingga
Manajemen Waktu berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Kecanduan
Handphone. Dengan demikian, H2 diterima. Hasil ini menunjukkan bahwa
semakin baik kemampuan mahasiswa dalam mengelola waktu, semakin rendah
kecenderungan kecanduan handphone.
Uji F (Simultan)
Uji F digunakan untuk mengetahui pengaruh Kontrol Diri (X1) dan Manajemen
Waktu (X2) secara simultan terhadap Kecanduan Handphone (Y). Berdasarkan hasil
analisis, diperoleh nilai F hitung sebesar 35,420 dengan
signifikansi 0,000. Nilai tersebut lebih besar daripada F tabel sebesar
3,09 (35,420 > 3,09) dan nilai signifikansi < 0,05. Dengan
demikian, H3 diterima, yang berarti Kontrol Diri dan Manajemen Waktu
secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Kecanduan Handphone
pada mahasiswa STIE IBMT Surabaya angkatan 2024.
Hasil koefisien determinasi menunjukkan nilai R² sebesar 0,425, yang
berarti Kontrol Diri dan Manajemen Waktu secara bersama-sama mampu
menjelaskan 42,5% variasi Kecanduan Handphone, sedangkan 57,5% sisanya
dijelaskan oleh faktor lain di luar model penelitian.
PEMBAHASAN
Pengaruh Kontrol Diri
terhadap Tingkat Kecanduan Handphone
Berdasarkan
hasil analisis regresi linear berganda dan Uji Statistik t, diperoleh bahwa
variabel Kontrol Diri (X1) memiliki nilai signifikansi sebesar 0,002. Karena
nilai signifikansi tersebut lebih kecil dari 0,05 (0,002 < 0,05), maka
hipotesis pertama (H1) diterima, yang berarti Kontrol Diri secara parsial
berpengaruh signifikan terhadap Tingkat Kecanduan Handphone.
Selain
itu, nilai koefisien regresi untuk Kontrol Diri bernilai negatif, yaitu sebesar
-0,345. Hal ini mengindikasikan adanya hubungan yang berlawanan arah. Artinya,
semakin tinggi tingkat kontrol diri yang dimiliki oleh mahasiswa, maka akan
semakin rendah tingkat kecanduan handphone yang mereka alami.
Hasil
ini sejalan dengan kajian teori dari Mulyati dan Frieda NRH (2018) yang
menyatakan bahwa kontrol diri merupakan kemampuan individu dalam mengendalikan
tingkah laku dan menahan keinginan yang muncul dari dalam diri. Mahasiswa yang
mampu mengendalikan dorongan internalnya (seperti menahan diri untuk tidak
selalu mengecek notifikasi atau bermain media sosial saat jam belajar) terbukti
lebih mampu menghindari perilaku adiktif terhadap smartphone.
Temuan
ini juga memperkuat hasil penelitian terdahulu:
Ria
Okfrima dkk. (2022), yang menemukan adanya hubungan negatif antara kontrol diri
dengan kecanduan smartphone, di mana individu dengan kontrol diri yang baik
akan memiliki tingkat ketergantungan yang rendah.
Niken
Pramudita dkk. (2024), yang juga menegaskan bahwa kontrol diri berperan sangat
penting dalam menurunkan tingkat kecanduan smartphone pada kalangan mahasiswa.
Pengaruh Manajemen
Waktu terhadap Tingkat Kecanduan Handphone
Hasil
Uji Statistik t untuk variabel Manajemen Waktu (X2) menunjukkan nilai
signifikansi sebesar 0,000. Karena nilai signifikansi tersebut lebih kecil dari
0,05 (0,000 < 0,05), maka hipotesis kedua (H2) diterima. Hal ini menunjukkan
bahwa Manajemen Waktu secara parsial memiliki pengaruh yang sangat signifikan
terhadap Tingkat Kecanduan Handphone pada mahasiswa STIE IBMT Surabaya Angkatan
2024.
Nilai
koefisien regresi untuk Manajemen Waktu juga bernilai negatif, yakni sebesar
-0,412. Nilai ini mengartikan bahwa semakin baik kemampuan mahasiswa dalam
melakukan manajemen waktu, maka tingkat kecanduan handphone mereka akan semakin
menurun.
Pembahasan
ini selaras dengan teori Macan et al. (dalam Wahyu dan Imam, 2021) dan Melisa
Syelvani (2020) yang mendefinisikan manajemen waktu sebagai kemampuan
menetapkan tujuan, menentukan prioritas, serta mengatur jadwal. Mahasiswa STIE
IBMT yang mampu menyusun prioritas dengan baik, seperti mendahulukan tugas
akademik (tugas penting) dibandingkan sekadar bermain handphone, mampu
meminimalisasi durasi penggunaan smartphone yang tidak terkontrol (penggunaan
kompulsif).
Hasil
penelitian ini sejalan dan mendukung kesimpulan dari penelitian terdahulu,
yaitu:
Muslihatin
Azizah dan Muslikah (2021), yang menemukan bahwa manajemen waktu memiliki
hubungan negatif dengan kecanduan smartphone, di mana pengelolaan waktu yang
baik meminimalisasi risiko kecanduan.
Gerald,
I Nyoman Swedana, dan Dwi Wahyono (2024), yang membuktikan bahwa manajemen
waktu memiliki peran vital dalam mengurangi dampak negatif dari penggunaan
smartphone yang berlebihan.
Pengaruh Kontrol Diri
dan Manajemen Waktu secara Simultan terhadap Tingkat Kecanduan Handphone
Berdasarkan
pengujian koefisien determinasi (R Square), diperoleh nilai sebesar 0,425 atau
42,5%. Nilai ini—didukung oleh signifikansi pengujian regresi linear berganda
(uji F) yang secara eksplisit telah mengonfirmasi pengaruh bersama-sama dari
kedua variabel—menunjukkan bahwa hipotesis ketiga (H3) diterima. Kontrol Diri
(X1) dan Manajemen Waktu (X2) secara simultan (bersama-sama) memberikan
pengaruh signifikan terhadap Tingkat Kecanduan Handphone (Y) pada mahasiswa
STIE IBMT Surabaya Angkatan 2024 sebesar 42,5%.
Sisa
persentase sebesar 57,5% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar batasan
model penelitian ini, seperti faktor lingkungan sosial (konformitas teman
sebaya), faktor psikologis (stres akademik), dan faktor fitur teknologi
smartphone itu sendiri, sebagaimana yang disebutkan dalam kajian teori Csibi et
al. (2017).
Secara
keseluruhan, kemampuan mengendalikan diri dan kemampuan mengelola waktu ibarat
dua sisi koin yang saling melengkapi bagi mahasiswa. Kontrol diri bertindak
sebagai "rem" internal untuk menahan dorongan menggunakan handphone
di saat yang tidak tepat, sementara manajemen waktu bertindak sebagai
"peta" yang mengarahkan individu untuk tetap fokus pada aktivitas
yang produktif dan prioritas terencana. Kombinasi yang kuat dari kedua
kompetensi ini terbukti secara empiris dan signifikan dapat mencegah hilangnya
konsentrasi dan produktivitas, serta melindungi mahasiswa dari risiko
psikologis dan sosial akibat kecanduan gawai.
SIMPULAN
1. Kontrol
Diri (X1) berpengaruh negatif dan signifikan secara parsial terhadap
Kecanduan Handphone (Y) pada mahasiswa STIE IBMT Surabaya Angkatan 2024.
Hal ini berarti bahwa semakin tinggi kemampuan kontrol diri yang tertanam dalam
diri mahasiswa, maka tingkat kecanduan mereka terhadap handphone akan semakin
menurun secara nyata. Sebaliknya, kontrol diri yang lemah akan meningkatkan
risiko mahasiswa mengalami kecanduan gawai yang lebih tinggi.
2. Manajemen
Waktu (X2) berpengaruh negatif dan signifikan secara parsial terhadap
Kecanduan Handphone (Y) pada mahasiswa STIE IBMT Surabaya Angkatan 2024.
Temuan ini menunjukkan bahwa pengelolaan dan perencanaan waktu harian yang baik
dan terstruktur sangat efektif untuk menekan intensitas penggunaan handphone
yang tidak produktif. Mahasiswa yang disiplin dalam menyusun skala prioritas
aktivitas akan memiliki tingkat kecanduan handphone yang jauh lebih rendah.
3. Kontrol
Diri (X1) dan Manajemen Waktu (X2) secara simultan (bersama-sama)
berpengaruh signifikan terhadap Kecanduan Handphone (Y) pada mahasiswa
STIE IBMT Surabaya Angkatan 2024. Kombinasi faktor internal berupa benteng
psikologis (kontrol diri) dan faktor praktis berupa perilaku (manajemen waktu)
memiliki peran besar dalam menentukan kendali atas penggunaan teknologi.
4. Berdasarkan
nilai koefisien determinasi (R Square) sebesar 0,425, dapat disimpulkan
bahwa kontribusi atau sumbangan pengaruh variabel Kontrol Diri (X1) dan
Manajemen Waktu (X2) secara bersama-sama dalam menjelaskan variasi
tingkat Kecanduan Handphone (Y) adalah sebesar 42,5%. Sementara sisanya
sebesar 57,5% dijelaskan oleh variabel atau faktor-faktor lain di luar model
penelitian ini.
SARAN
1.
Bagi Mahasiswa STIE IBMT Surabaya. Mahasiswa
disarankan meningkatkan kontrol diri dalam penggunaan handphone dengan
memanfaatkan fitur screen time dan focus mode,
serta menyusun skala prioritas dan jadwal harian agar penggunaan handphone
tidak mengganggu kegiatan akademik maupun aktivitas lainnya.
2.
Bagi Institusi STIE IBMT Surabaya. Institusi
disarankan menyediakan edukasi mengenai digital wellbeing dan
penggunaan gawai secara sehat melalui seminar atau kegiatan kampus. Selain itu,
pengembangan kegiatan organisasi, UKM, dan aktivitas sosial dapat ditingkatkan
untuk mendorong interaksi langsung dan mengurangi penggunaan handphone secara
berlebihan.
3. Bagi
Peneliti Selanjutnya. Penelitian selanjutnya disarankan menambahkan variabel
lain yang berpotensi memengaruhi kecanduan handphone, seperti stres akademik,
prokrastinasi, kesepian, dan pengaruh teman sebaya. Cakupan penelitian juga
dapat diperluas pada berbagai angkatan, program studi, atau perguruan tinggi.
Selain kuesioner, penelitian berikutnya dapat menggunakan data durasi
penggunaan smartphone atau pendekatan mixed methods agar hasil
yang diperoleh lebih objektif dan komprehensif.
REFERENSI
Arthy, D., Narayanan, S., & Krishnamurthy, V. (2019).
Impact of smartphone addiction on social relationships and academic performance
among university students. International Journal of Innovative
Technology and Exploring Engineering, 9(1), 302–308.
https://doi.org/10.35940/ijitee
Azizah, M., & Muslikah. (2021).
Hubungan antara manajemen waktu dan regulasi diri dengan kecanduan
smartphone. Jurnal Ilmiah Bimbingan Konseling Undiksha, 12(1),
15–24. https://doi.org/10.23887/jjbk.v12i1.32575
Cannitasari, A. S., Rahayu, A.,
& Sari, D. P. (2024). Prokrastinasi akademik mahasiswa, kecanduan
smartphone, dan konformitas teman sebaya. Jurnal Psikologi dan
Konseling, 6(1), 45–58. https://meritum.hangtuah.ac
Csibi, S., Griffiths, M. D., Cook,
B., Demetrovics, Z., & Szabo, A. (2018). The psychometric properties of the
Smartphone Application-Based Addiction Scale (SABAS). International
Journal of Mental Health and Addiction, 16(2), 393–403.
https://doi.org/10.1007/s11469-017-9787-2
Gerald, I. N. S., & Wahyono, D.
(2024). Pengaruh stres akademik, kecanduan smartphone, dan manajemen waktu
terhadap prokrastinasi akademik pada mahasiswa. Jurnal Ilmu Pendidikan
dan Psikologi, 5(2), 112–126. https://doi.org/10.56338/jks.v8i7.8226
Ghozali, I. (2018). Aplikasi
analisis multivariate dengan program IBM SPSS 25. Badan Penerbit
Universitas Diponegoro.
Ghozali, I. (2021). Aplikasi
analisis multivariate dengan program IBM SPSS 26 (Edisi ke-10). Badan
Penerbit Universitas Diponegoro.
Hastuti, R. (2018). Hubungan
kontrol diri dengan perilaku penggunaan smartphone pada remaja. Jurnal
Psikologi, 14(1), 45–55. https://journal.uny.ac.id
Kumar, R. (2023). Research
methodology: A step-by-step guide for beginners (6th ed.). SAGE
Publications.
Mulyati, R., & Frieda, N. R. H.
(2018). Pengaruh kontrol diri terhadap kecanduan smartphone pada
mahasiswa. Jurnal Psikologi Undip, 17(2), 102–115.
https://doi.org/10.14710/empati.2018.23438
Nurhalifah, S. (2024). Manajemen
waktu dalam perspektif psikologi pendidikan: Konsep, indikator, dan
implikasinya. Jurnal Psikologi Pendidikan dan Konseling, 10(1),
55–68. https://jurnal.unimed.ac.id
Okfrima, R., Febrianti, Y., &
Hendri, N. (2022). Hubungan antara self control dengan smartphone addiction
pada mahasiswa jurusan akuntansi. Jurnal Aplikasi IPTEK Indonesia, 5(3),
145–157. https://doi.org/10.37034/jems.v6i3.55
Pramudita, N., Setiawan, A., & Kurniawati,
R. (2024). Smartphone addiction among college students: The role of self-esteem
and self-control. Jurnal Psikologi Indonesia, 13(1), 22–35.
https://doi.org/10.26740/bikotetik.v8n2.p151-161
Priyatno, D. (2017). SPSS
26 pengolah data terpraktis. Andi Offset.
Ratushnyak, O., Smolak, L., &
Kozik, T. (2022). Time management as a key competency in the digital age:
Concepts and theoretical framework. Journal of Educational Research and
Development, 14(1), 205–220. https://www.mdpi.com
Subroto, B. (2022). Manajemen waktu
dan produktivitas belajar mahasiswa di era digital. Jurnal Pendidikan
dan Kebudayaan, 7(2), 98–113. https://www.journal.unpas.ac.id/
Sugiyono. (2019). Metode
penelitian pendidikan: Kuantitatif, kualitatif, kombinasi, R&D dan
penelitian pendidikan. Alfabeta.
Syelvani, M. (2020). Manajemen
waktu: Konsep dan implementasi dalam kehidupan akademik mahasiswa. Jurnal
Ilmiah Manajemen, 8(1), 44–55. https://doi.org/10.32520/jam.v6i1.1028
Tian, J., Zhao, J., Xu, J., Li, Q.,
Sun, T., Zhao, C., Gao, F., Zhu, X., Guo, W., Yang, Y., Cao, D., & Zhang,
Y. (2021). Mobile phone addiction and academic procrastination negatively
impact academic achievement among Chinese medical students. Frontiers
in Psychology, 12, 758303. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.758303
Wahyu, A., & Imam, M. (2021).
Komponen dan proses manajemen waktu pada mahasiswa berprestasi. Jurnal
Bimbingan dan Konseling Indonesia, 6(2), 88–100. https://jurnal.uibbc.ac.id
Wahyudi, A. (2024). Kontrol diri
dan regulasi perilaku pada mahasiswa: Tinjauan teori Averill. Jurnal
Psikologi dan Pendidikan, 12(1), 88–101. https://ojs.unimal.ac.id
Widianto, E., & Nasution, M. I.
(2022). Metodologi penelitian: Panduan praktis pengumpulan data primer
dan sekunder. Rajawali Pers.
Zakaria, A. (2024). Kecanduan
smartphone pada remaja: Tinjauan konseptual dan indikator pengukuran. Jurnal
Psikologi dan Kesehatan Mental, 9(1), 33–45. https://journal.uny.ac.id