Showing posts with label Pemberdayaan Masyarakat. Show all posts
Showing posts with label Pemberdayaan Masyarakat. Show all posts

Thursday, August 20, 2026

Pemberdayaan Masyarakat Adat melalui Pengelolaan Hutan Berkelanjutan dan Pemetaan Partisipatif untuk Mendukung Pembangunan Kampung Berbasis Kearifan Lokal di Kampung Klasari, Distrik Moisegen, Kabupaten Sorong

 Adi Nugroho1, Andriani Karto2, Arnold F. Binter3, Fanda Djitmau4, Wahyu Widyanti5, Alfin Seme6

1-6Universitas Nani Bili Nusantara

Email: myoffice.an@gmail

 

Abstrak

Program Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan di Kampung Klasari, Distrik Moisegen, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, dengan tujuan meningkatkan kapasitas masyarakat adat dalam pengelolaan hutan berkelanjutan dan pemetaan partisipatif guna mendukung pembangunan kampung berbasis kearifan lokal. Kelompok sasaran kegiatan ini meliputi masyarakat adat, pemerintah kampung, tokoh adat, kelompok pemuda, dan kelompok perempuan Kampung Klasari. Program dilaksanakan melalui pendekatan partisipatif (Participatory Rural Appraisal) yang mencakup tahap persiapan, penyuluhan, pelatihan penggunaan Global Positioning System (GPS) dan Sistem Informasi Geografis (SIG) dasar, praktik pemetaan partisipatif, pendampingan, serta evaluasi. Hasil pelaksanaan program menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan hutan berkelanjutan, meningkatnya keterampilan dalam melakukan pemetaan partisipatif dan penggunaan teknologi sederhana, serta meningkatnya partisipasi tokoh adat, pemuda, dan kelompok perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam. Kegiatan ini menghasilkan peta partisipatif dan data potensi Kampung Klasari yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan pembangunan kampung. Secara keseluruhan, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini menunjukkan dampak awal yang positif terhadap penguatan kapasitas masyarakat adat serta menjadi model sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah kampung, dan masyarakat adat dalam mendukung pembangunan kampung yang berkelanjutan.

Kata kunci : Masyarakat Adat, Pengelolaan Hutan Berkelanjutan, Pemetaan Partisipatif, Pemberdayaan Masyarakat, Kearifan Lokal

Abstract

This Community Service program was conducted in Klasari Village, Moisegen District, Sorong Regency, Southwest Papua Province, to strengthen the capacity of the indigenous community in sustainable forest management and participatory mapping to support village development based on local wisdom. The target groups were the indigenous community, village government, customary leaders, youth groups, and women's groups of Klasari Village. The program was implemented through a Participatory Rural Appraisal (PRA) approach comprising preparation, counseling, training in the use of Global Positioning System (GPS) and basic Geographic Information System (GIS), participatory mapping practice, mentoring, and evaluation. The results show an improvement in community knowledge of sustainable forest management, increased skills in participatory mapping and the use of simple technology, and greater participation of customary leaders, youth, and women's groups in natural resource management. The activity produced a participatory map and potential data for Klasari Village that can be used as a basis for village development planning. Overall, the program demonstrated positive initial impacts on strengthening indigenous community capacity and serves as a model of synergy between higher education, village government, and the indigenous community in supporting sustainable village development.

Keywords : Indigenous Community, Sustainable Forest Management, Participatory Mapping, Community Empowerment, Local Wisdom.

 

Article Info

Received date: 15 July   2026                                         Revised date: 20 July   2026                                        Accepted date: 28 July 2026

 

PENDAHULUAN

Kampung Klasari yang berada di Distrik Moisegen, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, merupakan salah satu kampung yang memiliki kekayaan sumber daya alam berupa kawasan hutan, lahan pertanian, dan sumber air, yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat adat setempat. Bagi masyarakat adat Papua, hutan tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga nilai sosial, budaya, sejarah, dan spiritual yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari identitas dan keberlangsungan kehidupan mereka. Dokumen AMAHUTA Papua menegaskan bahwa wilayah adat merupakan ruang hidup masyarakat adat yang perlu dikelola dan dilindungi secara berkelanjutan melalui penguatan kapasitas masyarakat dan kolaborasi multipihak.

Potensi sumber daya alam dan kearifan lokal yang dimiliki Kampung Klasari sesungguhnya dapat menjadi modal pembangunan kampung. Namun demikian, agar potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, diperlukan penguatan kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber daya alam tanpa mengabaikan prinsip konservasi dan nilai-nilai adat. Pengelolaan wilayah adat juga perlu didukung oleh pemetaan partisipatif sebagai instrumen untuk mendokumentasikan batas wilayah, potensi sumber daya alam, serta pola penggunaan ruang oleh masyarakat, sekaligus memperkuat posisi tawar masyarakat adat dalam perencanaan pembangunan.

Di tingkat kampung, masih terdapat sejumlah tantangan dalam pengelolaan sumber daya alam, antara lain terbatasnya pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan hutan berkelanjutan, belum optimalnya kapasitas masyarakat dalam melakukan pemetaan partisipatif, terbatasnya pemanfaatan teknologi sederhana seperti Global Positioning System (GPS) dan Sistem Informasi Geografis (SIG) dasar dalam pendokumentasian potensi wilayah, serta belum optimalnya keterlibatan pemuda dan kelompok perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam. Selain itu, penguatan kelembagaan masyarakat dan kolaborasi antara pemerintah kampung, tokoh adat, masyarakat, dan perguruan tinggi juga masih memerlukan wadah kerja sama yang lebih kuat.

Sebagai institusi pendidikan tinggi, Universitas Nani Bili Nusantara memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat. Kegiatan ini menjadi sarana penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membantu menyelesaikan permasalahan nyata yang dihadapi masyarakat. Melalui pelibatan dosen, mahasiswa, pemerintah kampung, tokoh adat, pemuda, dan kelompok perempuan, diharapkan tercipta proses pemberdayaan yang partisipatif sehingga masyarakat mampu mengelola potensi kampung secara mandiri dan berkelanjutan.

Berdasarkan kondisi tersebut, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dirancang dengan pendekatan yang mengintegrasikan peningkatan pengetahuan masyarakat adat mengenai pengelolaan hutan berkelanjutan, penguatan keterampilan pemetaan partisipatif, dan penguatan kelembagaan serta kolaborasi multipihak secara simultan. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat, menghasilkan data spasial berbasis partisipasi masyarakat, memperkuat kelembagaan kampung, serta mendorong pembangunan kampung yang selaras dengan nilai-nilai kearifan lokal dan prinsip pembangunan berkelanjutan di Kampung Klasari, Distrik Moisegen, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya.

 

METODE

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan di Kampung Klasari, Distrik Moisegen, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, selama tiga bulan, dengan sasaran masyarakat adat, pemerintah kampung, tokoh adat, kelompok pemuda, kelompok perempuan, dan mahasiswa pendamping, dengan jumlah peserta sekitar 30-40 orang. Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif (Participatory Rural Appraisal/PRA) sehingga masyarakat berperan aktif dalam seluruh tahapan kegiatan, yang diuraikan melalui beberapa metode berikut.

1. Metode Persiapan dan Identifikasi Kebutuhan

Tahap ini dilakukan melalui koordinasi dengan Pemerintah Kampung Klasari dan tokoh adat, survei lapangan, identifikasi potensi dan permasalahan kampung, serta penyusunan modul pelatihan dan jadwal kegiatan. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa masyarakat telah memiliki pengetahuan lokal yang baik mengenai pemanfaatan hutan, namun masih memerlukan penguatan dalam aspek dokumentasi potensi wilayah, pemetaan partisipatif, dan pemanfaatan teknologi sederhana.

2. Metode Penyuluhan dan Pelatihan

Penyuluhan dilaksanakan dengan metode ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan tanya jawab, dengan materi meliputi konsep masyarakat adat, fungsi ekologis hutan, pengelolaan hutan berkelanjutan, dan pembangunan kampung berbasis kearifan lokal. Pelatihan dilakukan secara teori dan praktik, mencakup pengenalan Global Positioning System (GPS), penggunaan aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) dasar, teknik pengambilan titik koordinat, serta teknik pemetaan partisipatif.

3. Metode Praktik Lapangan dan Pendampingan

Peserta melakukan praktik lapangan untuk mengidentifikasi batas wilayah kampung, kawasan hutan, sumber mata air, lahan pertanian, serta lokasi-lokasi yang memiliki nilai budaya dan fasilitas umum kampung. Tim pengabdian selanjutnya mendampingi masyarakat dalam menyusun peta partisipatif, data potensi kampung, serta rekomendasi pengelolaan hutan berbasis masyarakat.

4. Metode Monitoring dan Evaluasi

Evaluasi dilakukan melalui pre-test sebelum pelatihan, evaluasi proses selama kegiatan berlangsung (tingkat kehadiran, keaktifan diskusi, keterlibatan praktik lapangan), serta post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta. Indikator keberhasilan program mencakup jumlah dan kehadiran peserta, peningkatan nilai pre-test ke post-test, tersusunnya peta dan data potensi kampung, kepuasan peserta, serta publikasi hasil kegiatan.

5. Metode Pendampingan Berkelanjutan dan Diseminasi

Sebagai upaya keberlanjutan, dilakukan pendampingan lanjutan kepada masyarakat agar peta dan data potensi kampung dapat dimanfaatkan secara mandiri. Hasil dan dampak kegiatan pengabdian didiseminasikan melalui laporan, publikasi ilmiah, dan penyampaian hasil kepada Pemerintah Kampung Klasari dan Universitas Nani Bili Nusantara sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik.

 

HASIL, PEMBAHASAN, DAN DAMPAK

Pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Kampung Klasari, Distrik Moisegen, memberikan hasil yang positif dan sejalan dengan tujuan utama program, yaitu penguatan kapasitas masyarakat adat dalam pengelolaan hutan berkelanjutan dan pemetaan partisipatif. Pendekatan partisipatif yang diterapkan terbukti mampu mendorong keterlibatan aktif masyarakat, tokoh adat, pemerintah kampung, pemuda, dan kelompok perempuan sepanjang pelaksanaan kegiatan.

Pada aspek peningkatan pengetahuan, kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan melalui ceramah interaktif dan diskusi kelompok berkontribusi pada peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian hutan, fungsi ekologis hutan, konsep pembangunan berkelanjutan, pengelolaan wilayah adat, serta pentingnya pemetaan partisipatif. Tingginya antusiasme peserta tercermin dari aktifnya diskusi mengenai pengelolaan wilayah adat, perlindungan kawasan hutan, dan pemanfaatan data spasial untuk mendukung pembangunan kampung.

Pada aspek pemetaan partisipatif dan pemanfaatan teknologi, pelatihan penggunaan Global Positioning System (GPS) dan Sistem Informasi Geografis (SIG) dasar memberikan pengalaman baru bagi peserta dalam mendokumentasikan potensi wilayah secara lebih sistematis. Dalam praktik lapangan, masyarakat berhasil mengidentifikasi batas wilayah kampung, kawasan hutan, sumber mata air, lahan pertanian, lokasi bernilai budaya, serta fasilitas umum kampung. Hasil praktik tersebut selanjutnya diolah menjadi peta partisipatif Kampung Klasari yang dapat digunakan sebagai dokumen pendukung pembangunan kampung.

Pada aspek partisipasi dan kelembagaan, program berhasil mendorong keterlibatan berbagai unsur masyarakat, yaitu pemerintah kampung, tokoh adat, tokoh agama, kelompok perempuan, kelompok pemuda, dan mahasiswa Universitas Nani Bili Nusantara. Kelompok perempuan berkontribusi memberikan informasi mengenai pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, tanaman lokal, dan sumber pangan keluarga, sedangkan kelompok pemuda menunjukkan kemampuan yang baik dalam mengoperasikan perangkat GPS dan melakukan pengumpulan data lapangan. Kolaborasi ini memperkuat komunikasi antar pemangku kepentingan dalam pengelolaan sumber daya alam.

Secara keseluruhan, hasil kegiatan menunjukkan adanya keterkaitan yang erat antara peningkatan pengetahuan, penguatan keterampilan pemetaan partisipatif, dan penguatan partisipasi serta kelembagaan masyarakat dalam mendukung pemberdayaan masyarakat adat. Keberhasilan kegiatan turut dipengaruhi oleh keterlibatan tokoh adat dalam menjaga nilai-nilai budaya dan menggerakkan partisipasi masyarakat, serta dukungan pemerintah kampung melalui fasilitasi koordinasi dan penyediaan ruang diskusi. Hasil kegiatan ini juga sejalan dengan pendekatan yang dikembangkan dalam dokumen AMAHUTA Papua, yang menekankan pentingnya penguatan kapasitas masyarakat adat, pemetaan partisipatif, dan kolaborasi multipihak sebagai dasar pengelolaan hutan berbasis kearifan lokal.

Dampak awal kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini terlihat dari peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan masyarakat dalam mengelola sumber daya hutan serta mendokumentasikan potensi wilayah. Kegiatan ini juga menghasilkan sejumlah luaran, yaitu modul pelatihan pengelolaan hutan berkelanjutan, modul pelatihan pemetaan partisipatif, peta partisipatif Kampung Klasari, data potensi sumber daya alam kampung, artikel ilmiah, serta laporan akhir kegiatan. Dalam jangka menengah dan panjang, kegiatan ini berpotensi menjadi dasar penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kampung (RPJMK) dan Rencana Kerja Pemerintah Kampung (RKP Kampung), sekaligus memperkuat kemitraan berkelanjutan antara Universitas Nani Bili Nusantara, Pemerintah Kampung Klasari, dan masyarakat adat dalam mendukung pembangunan kampung berbasis kearifan lokal.

 

SIMPULAN

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan di Kampung Klasari, Distrik Moisegen, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, telah berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Program ini difokuskan pada peningkatan kapasitas masyarakat adat dalam pengelolaan hutan berkelanjutan dan pemetaan partisipatif sebagai upaya mendukung pembangunan kampung berbasis kearifan lokal. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan hutan berkelanjutan, meningkatnya keterampilan dalam pemetaan partisipatif dan pemanfaatan teknologi sederhana seperti GPS dan SIG dasar, serta menguatnya partisipasi tokoh adat, pemerintah kampung, pemuda, dan kelompok perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam.

Keterlibatan aktif masyarakat sasaran dalam seluruh tahapan kegiatan, mulai dari persiapan, penyuluhan, pelatihan, praktik lapangan, hingga pendampingan, menjadi faktor pendukung utama keberhasilan program. Secara keseluruhan, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini memberikan kontribusi positif terhadap penguatan kapasitas masyarakat adat Kampung Klasari serta menjadi model sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah kampung, dan masyarakat adat. Meskipun demikian, keberlanjutan dan dampak jangka panjang dari kegiatan ini memerlukan pendampingan lanjutan, pengembangan Sistem Informasi Geografis (SIG) kampung, serta dukungan dari berbagai pihak agar hasil yang telah dicapai dapat terus dikembangkan dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

 

 

 

REFERENSI

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara. (2021). Statuta Aliansi Masyarakat Adat Nusantara. Jakarta: AMAN.

AMAHUTA Papua. (2024). Dokumen Penguatan Masyarakat Adat dan Pengelolaan Hutan Berkelanjutan.

Brundtland Commission. (1987). Our Common Future. Oxford University Press.

Chambers, R. (1994). Participatory rural appraisal (PRA): Analysis of experience. World Development, 22(9), 1253-1268.

Chambers, R. (2006). Participatory mapping and geographic information systems: Whose map? Who is empowered and who disempowered? The Electronic Journal of Information Systems in Developing Countries, 25(2), 1-11.

Food and Agriculture Organization. (2012). Voluntary Guidelines on the Responsible Governance of Tenure of Land, Fisheries and Forests in the Context of National Food Security. Rome: FAO.

Food and Agriculture Organization. (2020). Global Forest Resources Assessment 2020: Main Report. Rome: FAO.

Ife, J. (2013). Community Development in an Uncertain World: Vision, Analysis and Practice (2nd ed.). Cambridge University Press.

McCall, M. K., & Dunn, C. E. (2012). Geo-information tools for participatory spatial planning: Fulfilling the criteria for “good” governance? Geoforum, 43(1), 81-94.

Ostrom, E. (1990). Governing the Commons: The Evolution of Institutions for Collective Action. Cambridge University Press.

Rambaldi, G., Chambers, R., McCall, M. K., & Fox, J. (2006). Practical ethics for PGIS practitioners, facilitators, technology intermediaries and researchers. Participatory Learning and Action, 54, 106-113.

Republik Indonesia. (1945). Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Republik Indonesia. (1999). Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

Republik Indonesia. (2012). Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

Republik Indonesia. (2021). Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Kehutanan.

Siscawati, M. (2014). Masyarakat Adat dan Perebutan Penguasaan Hutan. Jakarta: HuMa.

Slamet, M. (2003). Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan. Bogor: IPB Press.