Adi Nugroho1, Andriani Karto2, Arnold F. Binter3, Fanda Djitmau4, Wahyu Widyanti5, Alfin Seme6
1-6Universitas Nani Bili Nusantara
Email: myoffice.an@gmail
Abstrak
Program Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan
di Kampung Klasari, Distrik Moisegen, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat
Daya, dengan tujuan meningkatkan kapasitas masyarakat adat dalam pengelolaan
hutan berkelanjutan dan pemetaan partisipatif guna mendukung pembangunan
kampung berbasis kearifan lokal. Kelompok sasaran kegiatan ini meliputi
masyarakat adat, pemerintah kampung, tokoh adat, kelompok pemuda, dan kelompok
perempuan Kampung Klasari. Program dilaksanakan melalui pendekatan partisipatif
(Participatory Rural Appraisal) yang mencakup tahap persiapan, penyuluhan,
pelatihan penggunaan Global Positioning System (GPS) dan Sistem Informasi
Geografis (SIG) dasar, praktik pemetaan partisipatif, pendampingan, serta
evaluasi. Hasil pelaksanaan program menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan
masyarakat mengenai pengelolaan hutan berkelanjutan, meningkatnya keterampilan
dalam melakukan pemetaan partisipatif dan penggunaan teknologi sederhana, serta
meningkatnya partisipasi tokoh adat, pemuda, dan kelompok perempuan dalam
pengelolaan sumber daya alam. Kegiatan ini menghasilkan peta partisipatif dan
data potensi Kampung Klasari yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan
pembangunan kampung. Secara keseluruhan, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat
ini menunjukkan dampak awal yang positif terhadap penguatan kapasitas
masyarakat adat serta menjadi model sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah
kampung, dan masyarakat adat dalam mendukung pembangunan kampung yang
berkelanjutan.
Kata kunci : Masyarakat Adat,
Pengelolaan Hutan Berkelanjutan, Pemetaan Partisipatif, Pemberdayaan
Masyarakat, Kearifan Lokal
Abstract
This Community Service program was conducted in
Klasari Village, Moisegen District, Sorong Regency, Southwest Papua Province,
to strengthen the capacity of the indigenous community in sustainable forest
management and participatory mapping to support village development based on
local wisdom. The target groups were the indigenous community, village
government, customary leaders, youth groups, and women's groups of Klasari
Village. The program was implemented through a Participatory Rural Appraisal
(PRA) approach comprising preparation, counseling, training in the use of
Global Positioning System (GPS) and basic Geographic Information System (GIS),
participatory mapping practice, mentoring, and evaluation. The results show an
improvement in community knowledge of sustainable forest management, increased
skills in participatory mapping and the use of simple technology, and greater
participation of customary leaders, youth, and women's groups in natural
resource management. The activity produced a participatory map and potential
data for Klasari Village that can be used as a basis for village development
planning. Overall, the program demonstrated positive initial impacts on
strengthening indigenous community capacity and serves as a model of synergy
between higher education, village government, and the indigenous community in supporting
sustainable village development.
Keywords : Indigenous Community, Sustainable Forest Management,
Participatory Mapping, Community Empowerment, Local Wisdom.
Article Info
Received date: 15 July 2026 Revised date:
20 July 2026
Accepted date: 28 July 2026
PENDAHULUAN
Kampung
Klasari yang berada di Distrik Moisegen, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat
Daya, merupakan salah satu kampung yang memiliki kekayaan sumber daya alam
berupa kawasan hutan, lahan pertanian, dan sumber air, yang menjadi penyangga
kehidupan masyarakat adat setempat. Bagi masyarakat adat Papua, hutan tidak
hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga nilai sosial, budaya, sejarah, dan
spiritual yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari identitas dan
keberlangsungan kehidupan mereka. Dokumen AMAHUTA Papua menegaskan bahwa
wilayah adat merupakan ruang hidup masyarakat adat yang perlu dikelola dan
dilindungi secara berkelanjutan melalui penguatan kapasitas masyarakat dan
kolaborasi multipihak.
Potensi sumber
daya alam dan kearifan lokal yang dimiliki Kampung Klasari sesungguhnya dapat
menjadi modal pembangunan kampung. Namun demikian, agar potensi tersebut dapat
dimanfaatkan secara berkelanjutan, diperlukan penguatan kapasitas masyarakat
dalam mengelola sumber daya alam tanpa mengabaikan prinsip konservasi dan
nilai-nilai adat. Pengelolaan wilayah adat juga perlu didukung oleh pemetaan
partisipatif sebagai instrumen untuk mendokumentasikan batas wilayah, potensi
sumber daya alam, serta pola penggunaan ruang oleh masyarakat, sekaligus
memperkuat posisi tawar masyarakat adat dalam perencanaan pembangunan.
Di tingkat
kampung, masih terdapat sejumlah tantangan dalam pengelolaan sumber daya alam,
antara lain terbatasnya pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan hutan
berkelanjutan, belum optimalnya kapasitas masyarakat dalam melakukan pemetaan
partisipatif, terbatasnya pemanfaatan teknologi sederhana seperti Global
Positioning System (GPS) dan Sistem Informasi Geografis (SIG) dasar dalam
pendokumentasian potensi wilayah, serta belum optimalnya keterlibatan pemuda
dan kelompok perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam. Selain itu,
penguatan kelembagaan masyarakat dan kolaborasi antara pemerintah kampung,
tokoh adat, masyarakat, dan perguruan tinggi juga masih memerlukan wadah kerja sama
yang lebih kuat.
Sebagai
institusi pendidikan tinggi, Universitas Nani Bili Nusantara memiliki tanggung
jawab untuk melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui kegiatan
Pengabdian kepada Masyarakat. Kegiatan ini menjadi sarana penerapan ilmu
pengetahuan dan teknologi untuk membantu menyelesaikan permasalahan nyata yang
dihadapi masyarakat. Melalui pelibatan dosen, mahasiswa, pemerintah kampung,
tokoh adat, pemuda, dan kelompok perempuan, diharapkan tercipta proses
pemberdayaan yang partisipatif sehingga masyarakat mampu mengelola potensi
kampung secara mandiri dan berkelanjutan.
Berdasarkan
kondisi tersebut, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dirancang dengan
pendekatan yang mengintegrasikan peningkatan pengetahuan masyarakat adat
mengenai pengelolaan hutan berkelanjutan, penguatan keterampilan pemetaan
partisipatif, dan penguatan kelembagaan serta kolaborasi multipihak secara
simultan. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan masyarakat, menghasilkan data spasial berbasis partisipasi
masyarakat, memperkuat kelembagaan kampung, serta mendorong pembangunan kampung
yang selaras dengan nilai-nilai kearifan lokal dan prinsip pembangunan
berkelanjutan di Kampung Klasari, Distrik Moisegen, Kabupaten Sorong, Provinsi
Papua Barat Daya.
METODE
Kegiatan
Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan di Kampung Klasari, Distrik
Moisegen, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, selama tiga bulan,
dengan sasaran masyarakat adat, pemerintah kampung, tokoh adat, kelompok
pemuda, kelompok perempuan, dan mahasiswa pendamping, dengan jumlah peserta
sekitar 30-40 orang. Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif
(Participatory Rural Appraisal/PRA) sehingga masyarakat berperan aktif dalam
seluruh tahapan kegiatan, yang diuraikan melalui beberapa metode berikut.
1. Metode Persiapan
dan Identifikasi Kebutuhan
Tahap ini
dilakukan melalui koordinasi dengan Pemerintah Kampung Klasari dan tokoh adat,
survei lapangan, identifikasi potensi dan permasalahan kampung, serta
penyusunan modul pelatihan dan jadwal kegiatan. Hasil identifikasi menunjukkan
bahwa masyarakat telah memiliki pengetahuan lokal yang baik mengenai
pemanfaatan hutan, namun masih memerlukan penguatan dalam aspek dokumentasi
potensi wilayah, pemetaan partisipatif, dan pemanfaatan teknologi sederhana.
2. Metode Penyuluhan dan
Pelatihan
Penyuluhan
dilaksanakan dengan metode ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan tanya
jawab, dengan materi meliputi konsep masyarakat adat, fungsi ekologis hutan,
pengelolaan hutan berkelanjutan, dan pembangunan kampung berbasis kearifan
lokal. Pelatihan dilakukan secara teori dan praktik, mencakup pengenalan Global
Positioning System (GPS), penggunaan aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG)
dasar, teknik pengambilan titik koordinat, serta teknik pemetaan partisipatif.
3. Metode Praktik Lapangan
dan Pendampingan
Peserta
melakukan praktik lapangan untuk mengidentifikasi batas wilayah kampung,
kawasan hutan, sumber mata air, lahan pertanian, serta lokasi-lokasi yang
memiliki nilai budaya dan fasilitas umum kampung. Tim pengabdian selanjutnya
mendampingi masyarakat dalam menyusun peta partisipatif, data potensi kampung,
serta rekomendasi pengelolaan hutan berbasis masyarakat.
4. Metode Monitoring dan
Evaluasi
Evaluasi
dilakukan melalui pre-test sebelum pelatihan, evaluasi proses selama kegiatan
berlangsung (tingkat kehadiran, keaktifan diskusi, keterlibatan praktik
lapangan), serta post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan
keterampilan peserta. Indikator keberhasilan program mencakup jumlah dan
kehadiran peserta, peningkatan nilai pre-test ke post-test, tersusunnya peta
dan data potensi kampung, kepuasan peserta, serta publikasi hasil kegiatan.
5. Metode Pendampingan
Berkelanjutan dan Diseminasi
Sebagai upaya
keberlanjutan, dilakukan pendampingan lanjutan kepada masyarakat agar peta dan
data potensi kampung dapat dimanfaatkan secara mandiri. Hasil dan dampak
kegiatan pengabdian didiseminasikan melalui laporan, publikasi ilmiah, dan
penyampaian hasil kepada Pemerintah Kampung Klasari dan Universitas Nani Bili
Nusantara sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik.
HASIL, PEMBAHASAN, DAN
DAMPAK
Pelaksanaan
kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Kampung Klasari, Distrik Moisegen,
memberikan hasil yang positif dan sejalan dengan tujuan utama program, yaitu
penguatan kapasitas masyarakat adat dalam pengelolaan hutan berkelanjutan dan
pemetaan partisipatif. Pendekatan partisipatif yang diterapkan terbukti mampu
mendorong keterlibatan aktif masyarakat, tokoh adat, pemerintah kampung,
pemuda, dan kelompok perempuan sepanjang pelaksanaan kegiatan.
Pada aspek
peningkatan pengetahuan, kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan melalui ceramah
interaktif dan diskusi kelompok berkontribusi pada peningkatan pemahaman
masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian hutan, fungsi ekologis
hutan, konsep pembangunan berkelanjutan, pengelolaan wilayah adat, serta
pentingnya pemetaan partisipatif. Tingginya antusiasme peserta tercermin dari
aktifnya diskusi mengenai pengelolaan wilayah adat, perlindungan kawasan hutan,
dan pemanfaatan data spasial untuk mendukung pembangunan kampung.
Pada aspek
pemetaan partisipatif dan pemanfaatan teknologi, pelatihan penggunaan Global
Positioning System (GPS) dan Sistem Informasi Geografis (SIG) dasar memberikan
pengalaman baru bagi peserta dalam mendokumentasikan potensi wilayah secara
lebih sistematis. Dalam praktik lapangan, masyarakat berhasil mengidentifikasi
batas wilayah kampung, kawasan hutan, sumber mata air, lahan pertanian, lokasi
bernilai budaya, serta fasilitas umum kampung. Hasil praktik tersebut
selanjutnya diolah menjadi peta partisipatif Kampung Klasari yang dapat
digunakan sebagai dokumen pendukung pembangunan kampung.
Pada aspek
partisipasi dan kelembagaan, program berhasil mendorong keterlibatan berbagai
unsur masyarakat, yaitu pemerintah kampung, tokoh adat, tokoh agama, kelompok
perempuan, kelompok pemuda, dan mahasiswa Universitas Nani Bili Nusantara. Kelompok
perempuan berkontribusi memberikan informasi mengenai pemanfaatan hasil hutan
bukan kayu, tanaman lokal, dan sumber pangan keluarga, sedangkan kelompok
pemuda menunjukkan kemampuan yang baik dalam mengoperasikan perangkat GPS dan
melakukan pengumpulan data lapangan. Kolaborasi ini memperkuat komunikasi antar
pemangku kepentingan dalam pengelolaan sumber daya alam.
Secara
keseluruhan, hasil kegiatan menunjukkan adanya keterkaitan yang erat antara
peningkatan pengetahuan, penguatan keterampilan pemetaan partisipatif, dan
penguatan partisipasi serta kelembagaan masyarakat dalam mendukung pemberdayaan
masyarakat adat. Keberhasilan kegiatan turut dipengaruhi oleh keterlibatan
tokoh adat dalam menjaga nilai-nilai budaya dan menggerakkan partisipasi
masyarakat, serta dukungan pemerintah kampung melalui fasilitasi koordinasi dan
penyediaan ruang diskusi. Hasil kegiatan ini juga sejalan dengan pendekatan
yang dikembangkan dalam dokumen AMAHUTA Papua, yang menekankan pentingnya
penguatan kapasitas masyarakat adat, pemetaan partisipatif, dan kolaborasi
multipihak sebagai dasar pengelolaan hutan berbasis kearifan lokal.
Dampak awal
kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini terlihat dari peningkatan
pengetahuan, sikap, dan keterampilan masyarakat dalam mengelola sumber daya
hutan serta mendokumentasikan potensi wilayah. Kegiatan ini juga menghasilkan
sejumlah luaran, yaitu modul pelatihan pengelolaan hutan berkelanjutan, modul
pelatihan pemetaan partisipatif, peta partisipatif Kampung Klasari, data
potensi sumber daya alam kampung, artikel ilmiah, serta laporan akhir kegiatan.
Dalam jangka menengah dan panjang, kegiatan ini berpotensi menjadi dasar
penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kampung (RPJMK) dan Rencana
Kerja Pemerintah Kampung (RKP Kampung), sekaligus memperkuat kemitraan
berkelanjutan antara Universitas Nani Bili Nusantara, Pemerintah Kampung
Klasari, dan masyarakat adat dalam mendukung pembangunan kampung berbasis
kearifan lokal.
SIMPULAN
Kegiatan
Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan di Kampung Klasari, Distrik
Moisegen, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, telah berjalan dengan
baik dan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Program ini difokuskan pada
peningkatan kapasitas masyarakat adat dalam pengelolaan hutan berkelanjutan dan
pemetaan partisipatif sebagai upaya mendukung pembangunan kampung berbasis
kearifan lokal. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan
masyarakat mengenai pengelolaan hutan berkelanjutan, meningkatnya keterampilan
dalam pemetaan partisipatif dan pemanfaatan teknologi sederhana seperti GPS dan
SIG dasar, serta menguatnya partisipasi tokoh adat, pemerintah kampung, pemuda,
dan kelompok perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam.
Keterlibatan
aktif masyarakat sasaran dalam seluruh tahapan kegiatan, mulai dari persiapan,
penyuluhan, pelatihan, praktik lapangan, hingga pendampingan, menjadi faktor
pendukung utama keberhasilan program. Secara keseluruhan, kegiatan Pengabdian
kepada Masyarakat ini memberikan kontribusi positif terhadap penguatan
kapasitas masyarakat adat Kampung Klasari serta menjadi model sinergi antara
perguruan tinggi, pemerintah kampung, dan masyarakat adat. Meskipun demikian,
keberlanjutan dan dampak jangka panjang dari kegiatan ini memerlukan
pendampingan lanjutan, pengembangan Sistem Informasi Geografis (SIG) kampung,
serta dukungan dari berbagai pihak agar hasil yang telah dicapai dapat terus
dikembangkan dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
REFERENSI
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara. (2021). Statuta Aliansi Masyarakat
Adat Nusantara. Jakarta: AMAN.
AMAHUTA Papua. (2024). Dokumen Penguatan Masyarakat Adat dan
Pengelolaan Hutan Berkelanjutan.
Brundtland Commission. (1987). Our Common Future. Oxford
University Press.
Chambers, R. (1994). Participatory rural appraisal (PRA): Analysis of
experience. World Development, 22(9), 1253-1268.
Chambers, R. (2006). Participatory mapping and geographic information
systems: Whose map? Who is empowered and who disempowered? The Electronic
Journal of Information Systems in Developing Countries, 25(2), 1-11.
Food and Agriculture Organization. (2012). Voluntary Guidelines on the
Responsible Governance of Tenure of Land, Fisheries and Forests in the Context
of National Food Security. Rome: FAO.
Food and Agriculture Organization. (2020). Global Forest Resources
Assessment 2020: Main Report. Rome: FAO.
Ife, J. (2013). Community Development in an Uncertain World: Vision,
Analysis and Practice (2nd ed.). Cambridge University Press.
McCall, M. K., & Dunn, C. E. (2012). Geo-information tools for
participatory spatial planning: Fulfilling the criteria for “good” governance? Geoforum,
43(1), 81-94.
Ostrom, E. (1990). Governing the Commons: The Evolution of
Institutions for Collective Action. Cambridge University Press.
Rambaldi, G., Chambers, R., McCall, M. K., & Fox, J. (2006).
Practical ethics for PGIS practitioners, facilitators, technology
intermediaries and researchers. Participatory Learning and Action, 54,
106-113.
Republik Indonesia. (1945). Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.
Republik Indonesia. (1999). Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan.
Republik Indonesia. (2012). Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang
Pendidikan Tinggi.
Republik Indonesia. (2021). Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2021
tentang Penyelenggaraan Kehutanan.
Siscawati, M. (2014). Masyarakat Adat dan Perebutan Penguasaan Hutan.
Jakarta: HuMa.
Slamet, M. (2003). Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan.
Bogor: IPB Press.
No comments:
Post a Comment