Sunday, September 6, 2026

Pustaka Pelangi: Revitalisasi Perpustakaan Interaktif Berbasis Digital Storytelling bagi Anak di Desa Waled Kota Kabupaten Cirebon


Pustaka Pelangi: Revitalisasi Perpustakaan Interaktif Berbasis Digital Storytelling bagi Anak di Desa Waled Kota Kabupaten Cirebon | Rohida | Nanggroe: Jurnal Pengabdian Cendikia 

Leni Rohida*1, Riski Maulana2, Nalandha Fatra Palemba3, Arya Rizalulhaq4, Prayoga5, Rosi Malaika Bella6

1,2,3 Program Studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon

4 Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis,  Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon

5, 6 Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon

*Corresponding Author: leni.rohida@ugj.ac.id

 

Abstrak

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini ditujukan untuk merevitalisasi Perpustakaan Desa Waled Kota, Kabupaten Cirebon, agar bertransformasi menjadi perpustakaan interaktif berbasis digital storytelling yang lebih menarik bagi anak-anak, sekaligus meningkatkan kemampuan pengelolaan koleksi dan kemudahan akses informasi bagi masyarakat setempat.  Persoalan yang dihadapi mencakup koleksi buku yang belum tertata rapi dan tidak sesuai dengan sistem klasifikasi, pojok baca yang kurang menarik minat pengunjung, serta belum tersedianya akun perpustakaan digital untuk mempermudah penelusuran koleksi. Pelaksanaan kegiatan mengadopsi pendekatan partisipatif yang terdiri atas beberapa tahap, yaitu persiapan, observasi, koordinasi, pelaksanaan, evaluasi, dan peresmian. Kegiatan berlangsung selama periode 3 hingga 22 Agustus 2026, meliputi kegiatan pembersihan dan pengklasifikasian buku sesuai sistem klasifikasi yang berlaku, penomoran serta pelabelan terhadap 979 eksemplar buku bantuan dari Perpustakaan Nasional, penginputan data koleksi ke dalam website Taman Pustaka, penataan ulang buku pada rak, penghiasan pojok baca dengan kerajinan origami, penambahan fasilitas berupa pagar dan karpet, hingga peresmian perpustakaan sebagai penutup rangkaian kegiatan.  Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan membandingkan kondisi perpustakaan sebelum dan sesudah kegiatan, serta menilai sejauh mana target yang direncanakan dapat tercapai.   Hasil kegiatan menunjukkan bahwa seluruh tahapan berhasil dilaksanakan sesuai jadwal dengan tingkat ketercapaian mencapai 100 persen. Koleksi buku kini tertata sesuai klasifikasi sehingga lebih mudah ditelusuri melalui katalog digital, pojok baca tampil lebih menarik, dan fasilitas perpustakaan menjadi lebih lengkap, sehingga mendukung terwujudnya perpustakaan interaktif berbasis digital storytelling bagi anak-anak.  Melalui kegiatan ini, diharapkan tingkat kunjungan, minat baca, serta budaya literasi masyarakat Desa Waled Kota dapat terus meningkat secara berkelanjutan.

Kata Kunci: Perpustakaan Desa; Digital Storytelling, Revitalisasi; Literasi Anak; Klasifikasi Koleksi

Abstract

This community service activity aimed to revitalize the Waled Kota Village Library, Cirebon Regency, by transforming it into a more engaging digital storytelling-based interactive library for children, while also improving collection management and facilitating access to information for the local community. The problems encountered included poorly organized book collections that did not conform to the applicable classification system, a reading corner that was less attractive to visitors, and the absence of a digital library account to facilitate collection searches. The activity was implemented using a participatory approach consisting of several stages, namely preparation, observation, coordination, implementation, evaluation, and inauguration. The activities were conducted from August 3 to 22, 2026, and included cleaning and classifying books according to the applicable classification system, numbering and labeling 979 copies of books donated by the National Library of Indonesia, entering collection data into the Taman Pustaka website, rearranging books on the shelves, decorating the reading corner with origami crafts, adding facilities such as a fence and carpets, and inaugurating the library as the closing activity. Data were analyzed using a descriptive qualitative approach by comparing the condition of the library before and after the activities and assessing the extent to which the planned targets were achieved. The results showed that all stages were successfully completed according to schedule, with an achievement rate of 100 percent. The book collection is now organized according to the classification system, making it easier to search through the digital catalog. The reading corner has also become more attractive, and the library facilities have been improved, supporting the development of an interactive digital storytelling-based library for children. Through this activity, it is expected that library visits, reading interest, and the literacy culture of the Waled Kota Village community will continue to increase sustainably.

Keywords: Village Library; Digital Storytelling; Revitalization; Children's Literacy; Collection Classification

 

Article Info

Received date: 15 Auguts    2026                                    Revised date: 20 August   2026                                Accepted date: 25 August 2026

 

PENDAHULUAN

Literasi menjadi salah satu unsur utama dalam pengembangan sumber daya manusia sekaligus penentu kemajuan suatu bangsa, sehingga penanaman kebiasaan membaca sejak dini semestinya menjadi tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Sayangnya, tingkat minat baca masyarakat Indonesia hingga kini masih memprihatinkan.  Data UNESCO mencatat bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya berada pada angka 0,001 persen, yang berarti dari setiap seribu penduduk, hanya satu orang yang memiliki kebiasaan membaca secara rutin (Rokmanah dkk., 2024).

Kondisi yang tidak jauh berbeda juga terjadi pada anak usia dini. Survei Badan Pusat Statistik pada tahun 2012 mengungkapkan bahwa hanya 17,66 persen anak Indonesia yang memiliki ketertarikan terhadap kegiatan membaca, sementara sebagian besar lainnya, yakni 91,67 persen, justru lebih menggemari kegiatan menonton (Kurniawati dkk., 2021).  Fakta ini turut diperkuat oleh hasil kajian Central Connecticut State University dalam laporan World's Most Literate Nations tahun 2016, yang menempatkan Indonesia pada peringkat kedua terbawah dari 61 negara yang menjadi objek penelitian (Kurniawati dkk., 2021).

Rendahnya minat baca tersebut turut berdampak pada lemahnya budaya literasi di kalangan generasi muda, yang terlihat dari rata-rata jumlah halaman buku yang dibaca dalam setahun yang hanya mencapai 17 halaman (Setiadi dkk., 2023).  Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa dunia pendidikan Indonesia akan semakin tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga (Saadati & Sadli, 2019).

Salah satu lembaga yang memiliki peran strategis dalam menumbuhkan budaya membaca adalah perpustakaan.  Berdasarkan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007, perpustakaan didefinisikan sebagai institusi yang mengelola secara profesional berbagai jenis koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam melalui sistem yang baku, dengan tujuan memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, maupun rekreasi masyarakat (Lestari dkk., 2022).

Pada skala yang lebih kecil, Taman Bacaan Masyarakat hadir sebagai ruang belajar alternatif yang dikelola langsung oleh masyarakat. Namun demikian, dalam praktiknya masih banyak ditemukan Taman Bacaan Masyarakat yang belum melakukan pengelolaan koleksi bahan pustaka secara memadai, baik dari sisi inventarisasi, klasifikasi, maupun katalogisasi (Putri dkk., 2023).  Padahal, pengelolaan bahan pustaka yang dilakukan dengan baik dan benar akan sangat membantu proses penyimpanan koleksi sekaligus memudahkan pemustaka dalam menemukan bahan pustaka yang mereka butuhkan (Rosyid & Rukiyah, 2019).

Persoalan serupa juga ditemukan pada Perpustakaan Desa Waled Kota, Kecamatan Waled, Kabupaten Cirebon.  Hasil observasi awal memperlihatkan bahwa perpustakaan desa ini belum dikelola dengan baik: koleksi buku masih berantakan dan belum tersusun sesuai sistem klasifikasi, pojok baca kurang menarik sehingga belum mampu mengundang minat anak-anak untuk membaca, fasilitas pendukung masih terbatas, serta belum tersedianya akun perpustakaan digital.  Padahal, desa ini sebelumnya telah menerima bantuan sebanyak 979 eksemplar buku dari Perpustakaan Nasional yang hingga saat itu belum dikelola maupun diinput ke dalam sistem katalog digital.  Kondisi ini mengakibatkan pengunjung, terutama anak-anak, mengalami kesulitan dalam menemukan buku yang ingin dibaca, sehingga fungsi perpustakaan sebagai pusat layanan literasi masyarakat belum berjalan secara optimal.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penataan perpustakaan serta pengelolaan koleksi yang baik dapat berkontribusi pada peningkatan minat baca masyarakat.  Proses penataan perpustakaan desa yang dilakukan melalui tahapan observasi, diskusi, pelaksanaan, dan sosialisasi terbukti mampu meningkatkan budaya literasi di lingkungan masyarakat desa (Rustiarini & Dewi, 2021).  Pengolahan bahan pustaka melalui sistem klasifikasi berdasarkan bagan Dewey Decimal Classification memungkinkan buku ditempatkan sesuai subjeknya, disertai penyelesaian fisik berupa pemberian label pada punggung buku serta penataan pada rak, sehingga koleksi menjadi lebih mudah disimpan maupun ditelusuri (Rosyid & Rukiyah, 2019).   Selain itu, upaya digitalisasi perpustakaan yang menggabungkan koleksi fisik dengan katalog digital juga terbukti mampu memfasilitasi tumbuhnya minat baca di kalangan masyarakat (Kusumo dkk., 2021).

Khusus bagi anak-anak, keberadaan pojok baca yang dirancang secara nyaman, mudah diakses terhadap bahan bacaan, dan memiliki daya tarik visual dapat membantu menanamkan kebiasaan membaca sejak usia dini (Janawati & Riantini, 2024).  Hal ini sejalan dengan temuan yang menyebutkan bahwa kemudahan akses terhadap beragam bahan bacaan yang menarik dapat meningkatkan ketertarikan sekaligus motivasi siswa untuk membaca (Nuraini dkk., 2024).

Lebih jauh, kemajuan teknologi informasi turut membuka peluang bagi hadirnya pendekatan baru dalam menumbuhkan literasi anak, salah satunya melalui digital storytelling, yaitu penyampaian cerita yang memadukan unsur teknologi dengan narasi tradisional sehingga pengalaman membaca dan mendongeng menjadi jauh lebih menarik (Isnaini dkk., 2024).  Pendekatan digital storytelling ini telah diidentifikasi sebagai salah satu strategi baru yang efektif dalam meningkatkan minat literasi di kalangan generasi muda (Fadillah dkk., 2021), sekaligus menjadi tren yang terus berkembang dalam dunia pendidikan anak usia dini di Indonesia (Purnama dkk., 2022). Sejumlah tinjauan literatur juga menunjukkan bahwa penerapan digital storytelling terbukti efektif dalam mendukung kemampuan literasi anak usia dini (Hendrica & Yudha, 2023).  Oleh karena itu, upaya revitalisasi perpustakaan desa idealnya tidak hanya menyentuh aspek fisik dan pengelolaan koleksi semata, tetapi juga perlu diarahkan agar bertransformasi menjadi perpustakaan interaktif berbasis digital storytelling yang ramah bagi anak-anak.

Berbagai program revitalisasi perpustakaan desa melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat telah banyak dilakukan dan terbukti memberikan dampak yang positif.   Revitalisasi perpustakaan desa, misalnya, telah terbukti menjadi salah satu sarana efektif dalam meningkatkan minat baca masyarakat (Karyanto & Ekasari, 2024), sekaligus menjadi bentuk inovasi dalam pemberdayaan masyarakat berbasis literasi (Latifah dkk., 2025).   Penataan perpustakaan desa yang dilaksanakan dalam kerangka Kuliah Kerja Nyata juga terbukti mampu memperbaiki pengelolaan perpustakaan sebagai bagian dari upaya meningkatkan budaya literasi di tengah masyarakat (Rustiarini & Dewi, 2021), sementara pengembangan perpustakaan desa itu sendiri turut menjadi salah satu strategi penting dalam pemberdayaan masyarakat secara lebih luas (Srirahayu dkk., 2023).

Berdasarkan berbagai persoalan tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dirancang melalui empat rencana pemecahan masalah.   Pertama, kegiatan pembersihan dan pengklasifikasian koleksi buku agar tersusun sesuai sistem klasifikasi yang berlaku.   Kedua, proses penomoran dan pelabelan buku sehingga 979 eksemplar buku bantuan dari Perpustakaan Nasional dapat lebih mudah diidentifikasi.  Ketiga, digitalisasi koleksi melalui pembuatan akun serta penginputan data buku ke dalam website Taman Pustaka.  Keempat, revitalisasi dari sisi fisik berupa penghiasan pojok baca dengan kerajinan origami serta penambahan fasilitas pagar dan karpet, yang kemudian ditutup dengan peresmian perpustakaan sebagai wujud nyata perpustakaan interaktif berbasis digital storytelling bagi anak-anak.

 

METODE

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menerapkan pendekatan partisipatif melalui metode Participatory Action Research, yaitu suatu pendekatan yang menempatkan masyarakat dan mahasiswa sebagai subjek aktif dalam menggali permasalahan yang ada, sekaligus merumuskan dan menjalankan strategi pemecahannya secara bersama-sama.  Pendekatan ini sejalan dengan praktik pengabdian sejenis yang melibatkan peran aktif aparatur pemerintah desa, civitas akademika, serta masyarakat dalam membenahi pengelolaan perpustakaan desa (Rustiarini & Dewi, 2021).  Implementasi program literasi melalui perpustakaan desa juga terbukti dapat menjadi wahana peningkatan kompetensi bagi masyarakat (Nadila Ayulia Nurfadillah dkk., 2025), sebagaimana terlihat pula pada transformasi perpustakaan sekolah menjadi pusat literasi di desa pesisir melalui pelibatan aktif warga setempat (Niswariyana dkk., 2025).

Kegiatan ini berlokasi di Perpustakaan Desa Waled Kota, Kecamatan Waled, Kabupaten Cirebon, dan dilaksanakan pada rentang waktu 3 hingga 22 Agustus 2026, dengan sasaran utama meliputi pengelola perpustakaan, perangkat desa, serta anak-anak selaku pengguna perpustakaan.  Pelaksanaan kegiatan ini terbagi ke dalam lima tahapan, yaitu: (1) persiapan dan observasi terhadap kondisi perpustakaan guna mengidentifikasi berbagai permasalahan yang ada; (2) koordinasi dengan pemerintah desa, pengelola perpustakaan, serta pemangku kepentingan terkait lainnya; (3) pelaksanaan program yang mencakup enam agenda utama; (4) evaluasi untuk mengukur sejauh mana target dari setiap agenda tercapai; serta (5) peresmian hasil revitalisasi perpustakaan desa sebagai bentuk sosialisasi dan publikasi kepada masyarakat luas.  Pola tahapan yang meliputi observasi, diskusi, pelaksanaan, dan sosialisasi ini merujuk pada tahapan penataan perpustakaan desa yang telah diterapkan pada kegiatan pengabdian sejenis sebelumnya (Rustiarini & Dewi, 2021).  Alur pelaksanaan kegiatan secara keseluruhan disajikan pada Gambar 1.

 

Gambar 1: Alur Tahapan Revitalisasi Perpustakaan Desa Waled Kota

Sumber: KKN-13, 2026

Tabel 1. Jadwal Pelaksanaan Revitalisasi Perpustakaan Desa Waled Kota

No.

Tanggal

Kegiatan

Luaran

1.

3–6 Agustus 2026

Pembersihan dan klasifikasi buku

Koleksi bersih dan terklasifikasi sesuai bidang

2.

18 Agustus 2026

Pendataan penomoran buku

Seluruh buku memiliki nomor klasifikasi (contoh: PKN nomor 30)

3.

19 Agustus 2026

Penempelan label pada buku

979 buku berlabel sesuai kode klasifikasi

4.

20 Agustus 2026

Penginputan buku ke website Taman Pustaka

Katalog digital terisi koleksi perpustakaan

5.

21 Agustus 2026

Penataan buku di rak perpustakaan desa

Buku tersusun rapi dan sistematis

6.

22 Agustus 2026

Peresmian revitalisasi perpustakaan desa

Perpustakaan resmi beroperasi secara penuh

 

Pengumpulan data dilakukan melalui tiga cara, yaitu observasi langsung, wawancara dengan pengelola perpustakaan maupun perangkat desa, serta dokumentasi selama kegiatan berlangsung.  Selanjutnya, data yang terkumpul dianalisis menggunakan teknik deskriptif kualitatif, dengan membandingkan kondisi perpustakaan sebelum dan sesudah pelaksanaan kegiatan, kemudian dilanjutkan dengan penilaian tingkat ketercapaian target berdasarkan kelengkapan luaran dari setiap agenda yang telah ditetapkan sebelumnya.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Agenda pertama yang dilaksanakan pada tanggal 3 hingga 6 Agustus 2026 adalah pembersihan ruang perpustakaan sekaligus pengklasifikasian koleksi buku.  Seluruh koleksi, termasuk 979 eksemplar buku bantuan dari Perpustakaan Nasional, dibersihkan dan dikelompokkan berdasarkan bidang ilmu sesuai dengan sistem klasifikasi yang berlaku di perpustakaan.  Langkah ini sejalan dengan prinsip pengolahan bahan pustaka melalui klasifikasi yang bertujuan memberikan subjek pada setiap buku agar tersaji rapi di rak dan mudah dilayankan kepada pemustaka (Rosyid & Rukiyah, 2019).  Proses klasifikasi dilakukan dengan memberikan kode bidang pada setiap kelompok buku, misalnya seluruh buku Pendidikan Kewarganegaraan diberi kode 30, sehingga memudahkan pengelola maupun pemustaka dalam mengenali subjek buku secara cepat.   Pentingnya pengelolaan klasifikasi koleksi secara sistematis juga ditegaskan melalui analisis sistem klasifikasi koleksi pada Taman Baca Masyarakat Rimba Bulan, yang menunjukkan bahwa penataan semacam ini membantu koleksi lebih mudah disimpan sekaligus ditelusuri kembali (Wahyuni, 2023). Selanjutnya, pada tanggal 18 Agustus 2026 dilakukan pendataan penomoran seluruh buku sesuai kode klasifikasi, yang kemudian dilanjutkan dengan proses penempelan label pada tanggal 19 Agustus 2026, sehingga seluruh 979 buku bantuan Perpustakaan Nasional memiliki label yang berurutan sesuai kode masing-masing. Kegiatan pelabelan ini merupakan bagian penting dari proses penyelesaian fisik bahan pustaka yang perlu dilakukan sebelum koleksi ditempatkan di rak (Rosyid & Rukiyah, 2019).   Setelah seluruh buku diberi label, penataan koleksi di rak dilaksanakan pada tanggal 21 Agustus 2026, sehingga koleksi buku menjadi tersusun rapi, sistematis, dan mudah ditemukan oleh pemustaka. 

Capaian ini sekaligus memperbaiki kondisi awal perpustakaan yang sebelumnya belum mengolah koleksinya secara inventaris, klasifikasi, maupun katalogisasi (Putri dkk., 2023).  Keberhasilan dalam pengelolaan koleksi ini juga sejalan dengan hasil penataan perpustakaan desa pada kegiatan pengabdian sejenis, yang terbukti mampu membenahi pengelolaan perpustakaan melalui proses inventarisasi, klasifikasi, dan administrasi perpustakaan secara menyeluruh (Rustiarini & Dewi, 2021).

Gambar 2: Kegiatan Pembersihan serta Klasifikasi Buku, Sumber : KKN-13, 2026

 

Persoalan kedua yang menjadi perhatian dalam kegiatan ini adalah pojok baca yang kurang menarik.  Revitalisasi fisik dilakukan dengan menghias ruang perpustakaan menggunakan kerajinan origami sebagai elemen dekorasi yang ramah anak, serta menambahkan fasilitas berupa pagar dan karpet guna menciptakan ruang baca yang lebih nyaman, aman, dan atraktif. Pendekatan ini sejalan dengan karakteristik pojok baca yang idealnya dirancang sebagai ruang yang nyaman untuk membaca, dekat dengan bahan bacaan, sekaligus mampu menarik perhatian pengunjung (Janawati & Riantini, 2024).  Unsur dekorasi yang menarik minat anak juga menjadi salah satu kunci penting agar aktivitas membaca dapat dirasakan sebagai kegiatan yang menyenangkan (Janawati & Riantini, 2024).

Penataan lingkungan perpustakaan yang menarik terbukti mampu mendorong anak menjadi lebih termotivasi untuk membaca, karena kemudahan akses terhadap beragam bahan bacaan yang menarik turut memengaruhi ketertarikan mereka (Nuraini dkk., 2024).  Hasil serupa juga terlihat pada program revitalisasi perpustakaan desa lain, yang berhasil meningkatkan minat baca masyarakat setelah dilakukan pembenahan fasilitas maupun pengelolaannya secara menyeluruh (Karyanto & Ekasari, 2024).

Gambar 3: Kegiatan Dekorasi Perpustakaan, Sumber: KKN-13, 2026

Persoalan ketiga yang menjadi perhatian dalam kegiatan ini adalah belum tersedianya akun perpustakaan digital, sehingga menyulitkan pengunjung dalam mencari buku yang diinginkan.  Pada tanggal 20 Agustus 2026, tim mulai menginisiasi pembuatan akun Taman Pustaka dan menginput seluruh koleksi perpustakaan, termasuk 979 buku bantuan Perpustakaan Nasional, ke dalam website Taman Pustaka.  Dengan langkah ini, koleksi perpustakaan tidak hanya tertata secara fisik, tetapi juga terepresentasikan dalam bentuk katalog digital yang dapat diakses untuk mempermudah penelusuran koleksi.  Upaya digitalisasi ini sejalan dengan praktik yang dilakukan Taman Bacaan Masyarakat Dusun Karangmojo, yang menghadirkan perpustakaan fisik sekaligus perpustakaan digital sebagai upaya memfasilitasi tumbuhnya minat baca masyarakat (Kusumo dkk., 2021).  Pendampingan pengelolaan perpustakaan digital juga terbukti mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pengelola dalam mengoperasikan aplikasi perpustakaan digital, yang pada gilirannya memudahkan pemustaka dalam mengakses berbagai jenis e-book (Lestari dkk., 2022).  Bahkan, layanan digital dapat menjadi penentu keberlangsungan layanan perpustakaan, sebab ketika server perpustakaan digital mengalami gangguan, masyarakat akan kehilangan akses terhadap bahan bacaan dan minat baca pun ikut menurun (Setiadi dkk., 2023).  Upaya optimalisasi perpustakaan desa melalui digitalisasi juga menjadi salah satu langkah penting dalam menjadikan perpustakaan sebagai pusat edukasi bagi masyarakat (Yanti dkk., 2025), sekaligus bagian dari upaya membangun desa cerdas di era modern saat ini (Muzakkiy dkk., 2025).

Keberadaan katalog digital ini menjadikan Perpustakaan Desa Waled Kota semakin siap untuk berkembang menjadi perpustakaan interaktif berbasis digital storytelling bagi anak-anak.  Platform digital yang telah tersedia dapat diperkaya dengan berbagai fitur interaktif, seperti animasi, suara, dan gambar bergerak, yang dapat membantu anak-anak lebih terlibat dalam cerita sekaligus meningkatkan motivasi mereka untuk membaca (Isnaini dkk., 2024).  

Arah pengembangan semacam ini didukung oleh berbagai temuan yang menunjukkan bahwa digital storytelling merupakan strategi yang efektif dalam meningkatkan minat literasi generasi muda (Fadillah dkk., 2021), bahwa metode bercerita terbukti efektif digunakan dalam pembelajaran untuk memperkuat literasi siswa sekolah dasar (Putri Hana Pebriana dkk., 2026), serta bahwa digital storytelling yang mengangkat unsur budaya lokal terbukti mampu menjadi sarana efektif dalam meningkatkan literasi membaca peserta didik (Safinaturrahmah dkk., 2024).

Seluruh agenda revitalisasi dituntaskan melalui peresmian yang dilaksanakan pada tanggal 22 Agustus 2026 di Perpustakaan Desa Waled Kota.  Peresmian ini menjadi puncak dari seluruh rangkaian kegiatan, sekaligus menjadi bentuk sosialisasi kepada masyarakat bahwa perpustakaan desa telah kembali berfungsi secara penuh sebagai pusat layanan literasi.  Hasil evaluasi ketercapaian target menunjukkan bahwa seluruh agenda berhasil dilaksanakan hingga 100 persen sesuai jadwal yang telah direncanakan, sebagaimana dirangkum pada Tabel 2.

Tabel 2. Ketercapaian Target Revitalisasi Perpustakaan Desa Waled Kota

No.

Aspek

Indikator Ketercapaian

Target

Hasil

Status

1.

Klasifikasi koleksi

Buku terkelompokkan sesuai kode bidang

979 eksemplar terklasifikasi

979 buku diklasifikasikan (contoh: PKN kode 30)

Tercapai

2.

Penomoran dan pelabelan

Buku memiliki nomor dan label sesuai kode

979 buku berlabel

Seluruh buku berlabel berurutan

Tercapai

3.

Digitalisasi koleksi

Koleksi terinput dalam katalog online

Akun Taman Pustaka aktif

Akun dibuat, seluruh koleksi terinput

Tercapai

4.

Penataan rak

Buku tersusun sistematis

100% koleksi tertata

Seluruh koleksi tersusun rapi

Tercapai

5.

Revitalisasi fisik

Pojok baca atraktif dan nyaman

Dekorasi dan fasilitas penunjang

Origami, pagar, dan karpet terpasang

Tercapai

6.

Peresmian

Perpustakaan beroperasi penuh

Peresmian terlaksana

Resmi dioperasikan 22 Agustus 2026

Tercapai

Kondisi perpustakaan setelah kegiatan menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan dibandingkan kondisi sebelumnya, sebagaimana dirangkum pada Tabel 3.  Temuan ini menunjukkan bahwa upaya revitalisasi perpustakaan desa, yang mencakup pengelolaan koleksi, perbaikan fasilitas, serta digitalisasi, mampu mengembalikan fungsi perpustakaan sebagai pusat pembelajaran bagi masyarakat, sejalan dengan pandangan bahwa pengembangan perpustakaan desa merupakan salah satu strategi penting dalam pemberdayaan masyarakat (Srirahayu dkk., 2023).  Kegiatan sosialisasi terkait revitalisasi perpustakaan desa juga terbukti menjadi sarana efektif dalam meningkatkan minat baca di kalangan masyarakat (Mulia Sarif dkk., 2024).

Lebih lanjut, revitalisasi perpustakaan yang berbasis literasi merupakan salah satu bentuk inovasi dalam pemberdayaan masyarakat, yang sekaligus memperkuat peran perpustakaan desa sebagai pusat gerakan literasi (Latifah dkk., 2025), sebagaimana diharapkan dapat terus berlanjut di Perpustakaan Desa Waled Kota.

Tabel 3. Solusi Permasalahan Perpustakaan Desa Waled Kota

No.

Permasalahan

Solusi

1.

Koleksi buku tidak terurus dan tidak sesuai klasifikasi

Pembersihan, klasifikasi, penomoran, dan pelabelan 979 buku sesuai kode klasifikasi

2.

Pojok baca kurang menarik

Penghiasan pojok baca dengan kerajinan origami serta penambahan fasilitas pagar dan karpet

3.

Belum tersedia sistem katalog digital

Pembuatan akun dan penginputan koleksi buku ke website Taman Pustaka

4.

Pengunjung kesulitan mencari buku yang ingin dibaca

Penataan buku di rak sesuai klasifikasi yang didukung katalog digital online

Sumber: KKN-13, 2026

Gambar 4: Peresmian Revitalisasi Perpustakaan Desa Waled Kota

Sumber: KKN-13, 2026

SIMPULAN

Kegiatan revitalisasi Perpustakaan Desa Waled Kota melalui program Pustaka Pelangi telah berhasil dituntaskan sesuai jadwal, yaitu pada rentang waktu 3 hingga 22 Agustus 2026, dengan tingkat ketercapaian target mencapai 100 persen.  Melalui kegiatan ini, empat permasalahan utama yang selama ini dihadapi perpustakaan desa berhasil diatasi, yaitu pengelolaan koleksi yang belum terklasifikasi, pojok baca yang kurang menarik, belum tersedianya sistem katalog digital, serta kesulitan pengunjung dalam menemukan koleksi yang dibutuhkan.

Luaran dari kegiatan ini mencakup 979 buku bantuan Perpustakaan Nasional yang telah dibersihkan, diklasifikasikan, diberi nomor dan label sesuai kode klasifikasinya, ditata rapi pada rak, serta diinput ke dalam website Taman Pustaka.  Selain itu, pojok baca kini tampil lebih menarik dengan dekorasi origami serta dilengkapi fasilitas pagar dan karpet, dan yang tidak kalah penting, telah tersedia pula akun katalog digital bagi perpustakaan desa.

Dengan terwujudnya pengelolaan koleksi yang lebih sistematis serta dukungan platform digital yang telah dibangun, Perpustakaan Desa Waled Kota kini siap dikembangkan lebih lanjut menjadi perpustakaan interaktif berbasis digital storytelling bagi anak-anak.  Ke depan, disarankan agar pengelola perpustakaan memperoleh pendampingan yang berkelanjutan dalam mengoperasikan sistem katalog digital, dikembangkan konten digital storytelling untuk anak melalui platform yang telah tersedia, serta diselenggarakan kegiatan literasi secara rutin dengan melibatkan pihak sekolah maupun orang tua.  Agar fungsi perpustakaan desa dapat terus berjalan secara berkelanjutan, pemerintah desa sebaiknya menugaskan staf perangkat desa untuk mengelola perpustakaan secara lebih profesional (Rustiarini & Dewi, 2021), sehingga minat baca masyarakat Desa Waled Kota dapat terus meningkat dari waktu ke waktu.

 

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih disampaikan kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Swadaya Gunung Jati atas dukungan penyelenggaraan kegiatan, Pemerintah Desa Waled Kota Kabupaten Cirebon dan kepada dosen pembimbing lapangan Dr. Hj Leni Rohida S.Sos. M.Si, dan seluruh anggota tim KKN Literasi Tematik  Kelompok-13 yang berjumlah lima belas mahasiswa atas kerja sama dalam pelaksanaan kegiatan, serta kepada seluruh masyarakat di Desa Waled Kota yang telah menerima dan berpartisipasi aktif selama proses pendampingan berlangsung.

 

REFERENSI

Fadillah, Dini, K., & Ika. (2021). Digital storytelling sebagai strategi baru meningkatkan minat literasi generasi muda. 81–98.

Hendrica, M., & Yudha, R. P. (2023). Tinjauan Literatur Efektivitas Penerapan Digital Story Telling di PAUD pada Kemampuan Literasi Anak Usia Dini di Indonesia. JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 6(12), 10144–10147. https://doi.org/10.54371/jiip.v6i12.2496

Isnaini, R., Kurniawan, A., Marjito, M., & Pratiwi, V. U. (2024). Perpustakaan Digital Meningkatkan Literasi Dongeng pada Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan, 33(2), 525–536. https://doi.org/10.32585/jp.v33i2.4955

Janawati, D. P. A., & Riantini, N. N. S. (2024). Analisis Minat Baca Siswa Kelas 6 Melalui Pojok Baca. Jurnal Basicedu, 8(1), 119–126. https://doi.org/10.31004/basicedu.v8i1.6975

Karyanto, B., & Ekasari, N. (2024). Revitalisasi Perpustakaan Kampung Markisa untuk Peningkatan Minat Baca Masyarakat. Jurnal Igakerta, 1(2), 6–10. https://doi.org/10.70234/0964xn63

Kurniawati, N., Adawiyah, A., & Munsi, M. F. (2021). Memadukan Inovasi dan Kearifan Lokal Dalam Pengajaran Literasi pada Anak Usia Dini. Journal of Empowerment, 2(1), 125. https://doi.org/10.35194/je.v2i1.1229

Kusumo, Y. W., Widyaningsih, R., P., R. R., K., D. N., & Zuhaira, I. (2021). Memfasilitasi Minat Baca Masyarakat Melalui Perpustakaan Fisik dan Digital Dusun Karangmojo. Dharma LPPM, 2(2). https://doi.org/10.31315/dlppm.v2i2.6216

Latifah, Y. D., Labib, M., Syahri, Z., & Husna, H. I. (2025). Inovasi Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Literasi (Revitalisasi Perpustakaan Kelud Indah Desa Sugihwaras, Kec. Ngancar, Kab. Kediri). Etos : Jurnal Pengabdian Masyarakat, 7(2). https://doi.org/10.47453/etos.v7i2.3620

Lestari, D., Supartini, N. L., Sulasmini, N. M. A., & Putra, I. P. E. S. (2022). Assisting the management of digital library in Tegal Harum Village Denpasar. Community Empowerment, 7(8), 1416–1423. https://doi.org/10.31603/ce.7613

Mulia Sarif, A., Ridha, R., & Ilham, I. (2024). Meningkatkan Minat Baca Dengan Sosialisasi Revitalisasi Perpustakaan Desa Siambo Kabupaten Enrekang. JDISTIRA, 4(2), 201–212. https://doi.org/10.58794/jdt.v4i2.1050

Muzakkiy, M., Ridwan, M. E., Ilyas, M. D., & Triyanto, W. A. (2025). Pembuatan Perpustakaan Digital Untuk Membangun Desa Cerdas di Era Modern. Muria Jurnal Layanan Masyarakat, 7(2), 117–125. https://doi.org/10.24176/mjlm.v7i2.15975

Nadila Ayulia Nurfadillah, Gherine Margareta Pakpahan, Lailatul Husna, Sinta Nur Aidah, Thalal Atha Nabil, & Luthfy Alamsyah. (2025). Implementasi Program Literasi Melalui Perpustakaan Desa untuk Peningkatan Kompetensi Masyarakat di Desa Sindangsari. J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 5(4), 991–1000. https://doi.org/10.53625/jabdi.v5i4.11264

Niswariyana, A. K., Anas, H., Ismawati, I., Nurhidayah, N., Ramadanti, A., Sari, K. N., Kartini, K., & Kamis, J. (2025). TRANSFORMASI PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEBAGAI PUSAT LITERASI DESA PESISIR. Journal of Community Empowerment, 4(2), 753. https://doi.org/10.31764/jce.v4i2.34013

Nuraini, T., Zakiah, L., & Syarif Sumantri, M. (2024). Pengadaan Pojok Baca Sebagai Upaya Meningkatkan Minat Baca Siswa Sekolah Dasar.. Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, (Volume 09 No. 1 Maret 2024). https://doi.org/10.23969/jp.v9i1.13145

Purnama, S., Ulfah, M., Ramadani, L., Rahmatullah, B., & Ahmad, I. F. (2022). Digital Storytelling Trends in Early Childhood Education in Indonesia: A Systematic Literature Review. JPUD - Jurnal Pendidikan Usia Dini, 16(1), 17–31. https://doi.org/10.21009/JPUD.161.02

Putri Hana Pebriana, Fadila Gunizal Putri, Annisa Rizki Yanti, Aisyah Purnama, Angela Maulidta, Nur Alfi Zahri, Gema Rezki, & Nabila Putri. (2026). Systematic Literature Review:: Efektivitas Metode Bercerita Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD Untuk Penguatan Literasi Siswa. Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, 12(01), 165–177. https://doi.org/10.36989/didaktik.v12i01.11614

Putri, S. A., Rukmana, E. N., & Rohman, A. S. (2023). Katalogisasi Bahan Pustaka di Perpustakaan Tanda Baca Pustaka Kabupaten Tangerang. Pustabiblia: Journal of Library and Information Science, 7(1), 23–43. https://doi.org/10.18326/pustabiblia.v7i1.23-43

Rokmanah, S., Rakhman, P. A., & Zahra Putri, A. S. (2024). Revitalisasi Peran Perpustakaan Sekolah Dalam Menumbuh Kembangkan Minat Baca Peserta Didik. Indonesian Journal of Elementary Education (IJOEE), 5(2), 1. https://doi.org/10.31000/ijoee.v5i2.10028

Rosyid, S. F., & Rukiyah, R. (2019). Pengelolaan Koleksi Local Content (Muatan Lokal) Banten Corner di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten. Jurnal Ilmu Perpustakaan, 7(1), 61–70. https://doi.org/10.14710/jip.v7i1.61-70

Rustiarini, N. W., & Dewi, N. K. C. (2021). Penataan Perpustakaan Desa untuk Meningkatkan Literasi Membaca. LOSARI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 3(1), 8–15. https://doi.org/10.53860/losari.v3i1.35

Saadati, B. A., & Sadli, M. (2019). Analis Pengembangan Budaya Literasi Dalam Meningkatkan Minat Membaca Siswa di Sekolah Dasar. Terampil: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Dasar, 6(2), 151–164. https://doi.org/10.24042/terampil.v6i2.4829

Safinaturrahmah, Wardatul Uyub, Siharani, Fardiansyah, Malida Rahmawati, & Dwi Novitasari. (2024). Digital Storytelling Berbasis Budaya Sasak untuk Meningkatkan Literasi Peserta Didik SDN Sulin. Rengganis Jurnal Pengabdian Masyarakat, 4(2), 337–347. https://doi.org/10.29303/rengganis.v4i2.495

Setiadi, N. F., Fadly, W., & Sidiq, U. (2023). Melek Baca: Optimalisasi Perpustakaan Desa Sebagai Rumah Literasi Berbasis P&E Bagi Masyarakat Desa Glinggang. InEJ: Indonesian Engagement Journal, 4(2). https://doi.org/10.21154/inej.v4i2.7269

Srirahayu, D. P., Anugrah, E. P., Kusumaningtiyas, T., Septriana, M., & Putri, T. E. (2023). Village Library Development for Community Empowerment in Moyoketen Village Boyolangu District, Tulungagung Regency. Darmabakti Cendekia: Journal of Community Service and Engagements, 5(2), 134–146. https://doi.org/10.20473/dc.V5.I2.2023.134-146

Wahyuni, S. (2023). Analisis Sistem Klasifikasi Koleksi Pada Taman Baca Masyarakt (TBM) Rimba Bulan. Maktabatuna, 5(1), 15–26. https://doi.org/10.15548/mj.v5i1.6336

Yanti, S. R., Dailami, D., Dewi, N. W., Saleh, K., & Dani, A. (2025). PKM Literasi Cerdas: Optimalisasi Perpustakaan Desa Ambalutu sebagai Pusat Edukasi Berbasis Digitalisasi. Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 10(4), 1430–1442. https://doi.org/10.36312/5yxaw338

 

 

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment