Analysis
of the Optimum Performance of Asphalt Concrete Wearing Course
(AC-WC) Mixtures for Airport Runway Pavements Using PG 76 Asphalt
Andi
Rahmadani Suryanto1, Irfan Zhain2, Yogie Risdianto3
1,2,3Program
Studi S1 Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya
Email:
andirahmadani011203@gmail.com
Abstrak
Transportasi udara di Indonesia mengalami
perkembangan pesat. Berdasarkan Badan Pusat Statistik terjadi kenaikan
penumpang domestik sebanyak 5,5 juta penumpang dan penumpang internasional
sebanyak 1,84 juta penumpang pada periode Desember 2024 – 2025. Peningkatan
penumpang dan perkembangan pesat transportasi udara tersebut harus ditunjang
oleh prasarana bandar udara terutama perkerasan pada sisi runway yang
melayani proses lepas landas dan pendaratan pesawat untuk menjamin keamanan dan
kenyamanan perjalanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja dan
karakteristik parameter marshall pada campuran Asphalt Concrete Wearing
Course (AC–WC) menggunakan aspal PG 76 untuk perkerasan runway
bandara. Metode yang digunakan adalah eksperimental di laboratorium dengan
pengujian berdasarkan KP DJPU 74 Tahun 2026. Hasil Trial Gradasi Combine
menunjukkan bahwa trial 3 menghasilkan kinerja terbaik diantara trial lainnya. Hasil
Kadar Aspal Optimum (KAO) pada campuran AC – WC yang didapatkan sebesar 5,70%. Berat material yang digunakan pada kondisi KAO
mulai dari agregat fraksi 10 – 15 sebesar 328,2 gram, agregat fraksi 5 – 10
sebesar 271,6 gram, agregat fraksi 0 – 5 sebesar 520,5 gram, filler sebesar
11,3 gram, dan aspal sebesar 68,4 gram.
Kata
Kunci: AC – WC, Aspal PG 76, Runway, KP DJPU 74 Tahun
2026
Abstract
Air
transportation in Indonesia is experiencing rapid growth. According to
Statistics Indonesia (BPS), there was an increase of 5.5 million domestic
passengers and 1.84 million international passengers during the period from
December 2024 to 2025. This surge in passenger volume and the rapid growth of
air transport must be supported by robust airport infrastructure, particularly
runway pavement that accommodates aircraft take-off and landing operations to
guarantee safe and comfortable travel. This study aims to analyze the
performance and Marshall parameter characteristics of an Asphalt Concrete –
Wearing Course (AC–WC) mixture utilizing PG 76 polymer-modified asphalt binder
for airport runway pavement. A laboratory experimental method was employed,
with testing procedures conducted in accordance with the Decree of the Director
General of Civil Aviation (KP DJPU) No. 74 of 2026. The results of the combined
gradation trials indicate that Trial 3 achieved the optimum performance
compared to the other trial formulations. The resulting Optimum Asphalt Content
(OAC) for the AC–WC mixture was determined to be 5.70%. The material
proportions utilized under the OAC condition comprised 328.2 grams of 10–15 mm
aggregate fraction, 271.6 grams of 5–10 mm aggregate fraction, 520.5 grams of
0–5 mm aggregate fraction, 11.3 grams of mineral filler, and 68.4 grams of PG
76 asphalt binder.
Keywords: AC–WC, PG 76 Asphalt Binder, Runway, KP DJPU No. 74
of 2026
Article
Info
Received
date: 20 August 2026 Revised date: 28 August 2026 Accepted date: 7
September 2026
PENDAHULUAN
Transportasi
udara pada masa ini mengalami perkembangan yang sangat pesat dibuktikan dengan
kenaikan jumlah penggunanya. Berdasarkan berita resmi dari data Badan Pusat Statistik
(2026), terdapat kenaikan jumlah pengguna transportasi udara
di Indonesia baik penumpang atau barang pada periode Desember 2024 – Desember
2025. Penumpang udara domestik mengalami kenaikan sebanyak 5,5 juta orang atau
naik sebesar 9,02%. Penumpang udara internasional mengalami kenaikan sebanyak
1,8 juta orang atau naik sebesar 8,54%. Angkutan barang udara domestik mengalami
kenaikan sebesar 57,0 ribu ton atau naik sebesar 4,97%.
Kenaikan
pada transportasi udara tersebut didasarkan pada aspek pada penggunanya yang mempertimbangkan
biaya, waktu perjalanan lebih singkat, tingkat keamanan tinggi, dan kenyamanan
yang disediakan (Susilawati, 2024). Transportasi udara tergolong dalam sarana
trasportasi yang cepat, efektif, efisien, aman dan nyaman. Kenaikan penumpang
dan perkembangan pesat dalam bidang transportasi udara ini harus ditunjang oleh
prasarana bandar udaranya (Atmaja &
Puspitasari, 2023).
Bandara merupakan prasarana utama dalam
pelaksanaan transportasi udara di bidang penerbangan. Menurut ICAO (International
Civil Aviation Organization), bandara atau bandar udara adalah suatu
kawasan yang berada di daratan atau perairan (mulai dari instalasi, bangunan,
hingga peralatan pengoperasian bandar udara) yang digunakan dalam menyeluruh
atau sebagian diperuntukkan bagi kedatangan, keberangkatan serta perpindahan
pesawat (Mahyuddin dkk., 2021).
Prasarana
bandara dalam melaksanakan fungsinya dibagi menjadi beberapa sisi. Berdasarkan
Permenhub PM Nomor 77 Tahun 2015 prasarana bandara terbagi menjadi dua jenis
yaitu prasarana sisi darat dan prasarana sisi udara. Pada bagian sisi udara prasarana
bandara landasan pacu (runway) merupakan aspek yang penting dan krusial
dalam pelaksanaan penerbangan baik lepas landas ataupun pendaratan (Gunawan, 2024).
Landasan
pacu (runway) adalah bidang berbentuk persegi yang jalur perkerasannya
digunakan pesawat untuk melakukan pendaratan (landing) serta lepas
landas (take off). Perkerasan pada landasan pacu harus direncanakan
untuk dapat menahan beban dari pesawat yang beroperasi baik saat pendaratan
maupun lepas landas, manuver pesawat, stabilitas, kriteria dimensi dan
operasional lainnya (Zahra, 2023).
Berdasarkan
Keputusan Direktur
Jenderal Perhubungan Udara Nomor KP DJPU 74 Tahun 2026 Tentang Spesifikasi
Teknis Pekerjaan Fasilitas Sisi Udara Bandar Udara, perkerasan bandara dibedakan menjadi
perkerasan lentur (flexible pavement) dan perkerasan kaku (rigid
pavement). Namun perkerasan yang digunakan pada landasan pacu (runway)
umumnya adalah perkerasan lentur. Perkerasan lentur digunakan karena perkerasan
pada runway membutuhkan fleksibilitas yang tinggi serta tekstur yang
kasar. Umumnya jenis perkerasan lentur
yang digunakan pada runway adalah beton aspal (Laston) atau dengan nama
lain Asphalt Concrete (AC).
Berdasarkan
Sukirman (2010) Beton aspal atau Asphalt Concrete (AC)
adalah lapis permukaan yang menggunakan agregat bergradasi baik pada
campurannya. Lapis ini digunakan pada jalur dengan beban lalu lintas yang berat
yang sesuai dengan kebutuhan perkerasan runway yang harus mampu menahan
beban berat pesawat saat lepas landas ataupun mendarat.
Lapisan
aspal beton berdasarkan fungsinya dibagi menjadi tiga jenis yaitu laston
berfungsi sebagai lapis yang dikenal dengan nama AC-WC (Asphalt Concrete –
Wearing Course), laston sebagai lapis pengikat yang dikenal dengan nama
AC-BC (Asphalt Concrete – Binder Course), dan laston sebagai lapisan
pondasi yang dikenal dengan nama AC-Base (Asphlat Concrete - Base) (Akbar, 2013). Lapis perkerasan AC-WC pada runway
bandara harus direncanakan dengan matang dimana lapisan ini harus memiliki
fleksibilitas tinggi dan kekasaran permukaan yang mencukupi. Lapisan AC-WC termasuk
pada lapisan permukaan yang langsung bersentuhan dengan roda pesawat sehingga
kondisi lapisan ini sangat penting dalam menentukan keamanan dan keberhasilan
pesawat saat melaksanakan proses lepas landas dan pendaratan.
ICAO
menyatakan dari tahun 2006 hingga 2012 kecelakaan pada penerbangan di bandar
udara seluruh dunia 59% terjadi akibat landasan pacu yang kurang memadai (Pakan, 2014). Salah satu penyebab kurang memadainya
landasan pacu adalah adanya kerusakan pada perkerasan landasan pacu.
Berdasarkan Karma (2020) kerusakan pada perkerasan lentur landasan
pacu dapat digolongkan menjadi keretakan (cracking),
lepas-lepas/kerontokan (disintegration), perubahan permukaan kosntruksi
(distortion), dan kehilangan kekesatan (loss of skid resistance).
Berdasarkan pernyataan tersebut maka diperlukan perencanaan landasan pacu (runway)
secara matang termasuk perkerasan yang direncanakan. Perkerasan runway
yang memadai dapat ditinjau dari hasil uji stabilitas marshall yang ada.
Stabilitas
marshall adalah kemampuan benda uji dalam menerima beban lalu lintas atau
kendaraan tanpa mengalami perubahan bentuk tetap (deformasi secara permanen)
seperti alur (rutting), gelombang, maupun bleeding. Nilai
stabilitas marshall dipengaruhi oleh kadar aspal, kohesi aspal, gesekan (internal
friction), sifat saling mengunci (interlocking) dari
partikel-partikel agregat, bentuk serta tekstur dari permukaan gradasi
agregatnya (Putra dkk., 2023).
Oleh
karena itu, penelitian “Analisa Kinerja Campuran Optimum Lapis Aus (AC-WC)
Untuk Perkerasan Runway Bandara Menggunakan Aspal PG 76” bertujuan untuk
menganalisis kinerja campuran AC-WC yang paling efektif untuk perkerasan runway
bandara yang ditinjau pada aspek kinerja pada setiap parameter marshallnya
dengan aspal PG 76 sebagai pengikat antar agregatnya. Penggunaan aspal PG 76
dimaksudkan agar hasil nilai stabilitas marshall dapat memenuhi standart yang
ada dan mengacu pada Keputusan Direktur
Jenderal Perhubungan Udara Nomor KP DJPU 74 Tahun 2026 Tentang Spesifikasi
Teknis Pekerjaan Fasilitas Sisi Udara Bandar Udara.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar
belakang yang ada, maka rumusan masalah yang didapatkan sebagai berikut:
a.
Bagaimana hasil trial gradasi combine
pada campuran AC-WC menggunakan aspal PG 76 untuk perkerasan runway
bandara?
b.
Bagaimana hasil uji marshall pada
parameter Stabilitas, Flow, Kepadatan, MQ, VIM, VMA, dan VFB terhadap benda
uji variasi kadar aspal dari campuran AC-WC menggunakan aspal PG 76 untuk
perkerasan runway bandara?
c.
Berapa Kadar Aspal Optimum (KAO) yang
dihasilkan pada campuran AC-WC menggunakan aspal PG 76 untuk perkerasan runway
bandara?
METODE
PENELITIAN
Material yang digunakan terdiri atas
agregat kasar, agregat halus, filler berupa abu batu dari PT Bumindo Sakti,
serta aspal modifikasi polimer PG 76 dari PT Buntara Megah Inti. Pengujian
material meliputi karakteristik agregat, filler, dan aspal yang mengacu pada
standar ASTM, SNI, serta Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor KP
DJPU 74 Tahun 2026.
Perencanaan campuran dilakukan dengan
menentukan gradasi agregat dan proporsi masing-masing fraksi melalui
metode trial and error, kemudian menentukan kadar aspal rencana (Pb).
Digunakan lima variasi kadar aspal, yaitu Pb−1,0%; Pb−0,5%; Pb; Pb+0,5%;
dan Pb+1,0%, dengan tiga benda uji pada setiap variasi. Sebanyak sembilan benda
uji digunakan untuk trial gradasi dan 15 benda uji untuk penentuan
Kadar Aspal Optimum (KAO), sehingga total benda uji sebanyak 24 buah.
Pembuatan dan pengujian benda uji mengacu
pada SNI 06-2489-1991. Campuran agregat dan aspal dipanaskan serta
dicampur pada temperatur yang ditentukan, kemudian dipadatkan menggunakan
Marshall compactor sebanyak 75 tumbukan pada masing-masing sisi benda uji untuk
kondisi lalu lintas berat. Pengujian Marshall dilakukan untuk memperoleh
nilai stabilitas, flow, Marshall Quotient (MQ), VIM, VMA, dan VFB.
Data hasil pengujian dianalisis secara
kuantitatif dengan membuat hubungan antara kadar aspal dan parameter Marshall.
KAO ditentukan berdasarkan kadar aspal yang memenuhi seluruh persyaratan
parameter Marshall dan volumetrik sesuai spesifikasi yang digunakan. Hasil
analisis selanjutnya dibandingkan dengan standar teknis sebagai dasar penarikan
kesimpulan.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Hasil
Pengujian Agregat
Agregat yang
digunakan dalam penelitian ini berasal dari AMP PT. Bumindo Sakti. Agregat ini
merupakan batuan pecah serta pasir yang berasal dari proses pemecahan batuan
dengan mesin stone crusher. Pengujian agregat dibagi menjadi dua yaitu
agregat halus dan agregat kasar. Pengujian agregat dilaksanakan sesuai pedoman
berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor KP
DJPU 74 Tahun 2026 Tentang Spesifikasi Teknis Pekerjaan Fasilitas Sisi Udara
Bandar Udara.
Hasil
Pengujian Agregat Kasar
Agregat kasar yang
digunakan pada penelitian merupakan batuan pecah yang dikelompokkan menjadi agregat
fraksi 5 – 10 dan fraksi 10 – 15. Pengujian agregat kasar dilaksanakan sesuai
dengan pedoman yang ada.
Hasil pengujian
agregat kasar telah memenuhi persyaratan pada pedoman berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor KP
DJPU 74 Tahun 2026 Tentang Spesifikasi Teknis Pekerjaan Fasilitas Sisi Udara
Bandar Udara.
A.
Abrasi dengan mesin Los Angeles
Pengujian abrasi dengan mesin los
angeles berpedoman pada ASTM C131 dan SNI 2417:2008. Pengujian ini mendapatkan
nilai sebesar 16,40%. Berdasarkan persyaratan pada pedoman KP DJPU 74 Tahun
2026, hasil pengujian material agregat kasar dapat melayani pesawat dengan
berat layan lebih dari atau sama dengan 60.000 lbs atau 27.200 kg dengan
persyaratan nilai maksimum 30%.
B.
Gumpalan lempung dan bahan mudah
pecah/rapuh dalam agregat (Clay lumps and friable particles)
Pengujian gumpalan
lempung dan bahan mudah pecah/rapuh dalam agregat berpedoman kepada ASTM C142
dan SNI 4141:2015. Pengujian ini menghasilkan nilai sebesar 0,25%. Hasil
pengujian ini berdasarkan pedoman KP DJPU 74 Tahun 2026 dengan persyaratan
nilai maksimum 0,3% dapat disimpulkan bahwa material agregat kasar telah
memenuhi persyaratan.
C.
Persentase partikel pecah pada agregat
kasar (Percentage of Fractured Particles)
Pengujian persentase partikel pecah
pada agregat kasar berpedoman pada ASTM D 5821 dan SNI 7619: 2012. Pengujian
ini menghasilkan nilai sebesar 100% dikarenakan agregat kasar yang digunakan
dalam penelitian ini merupakan batu pecah yang dihasilkan dari stone crusher.
Berdasarkan persyaratan pada pedoman KP DJPU 74 Tahun 2026, hasil pengujian
material agregat kasar dapat melayani pesawat dengan berat layan lebih dari
atau sama dengan 60.000 lbs atau 27.200 kg dengan persyaratan 85% agregat
memiliki bidang pecah satu atau lebih dan 75% agregat memiliki bidang pecah dua
atau lebih.
D.
Partikel pipih (rasio lebar dan tebal
lebih dari 5 dan lonjong (rasio panjang dan lebar lebih dari 5)
Pengujian partikel pipih berpedoman pada
ASTM D 4791 dan SNI 8287-2016. Pengujian ini menghasilkan nilai sebesar 5,13%.
Hasil pengujian ini berdasarkan pedoman KP DJPU 74 Tahun 2026 dengan
persyaratan nilai maksimum 8% dapat disimpulkan material agregat kasar telah
memenuhi persyaratan.
Berdasarkan
beberapa hasil pengujian yang ada, maka dapat disimpulkan bahwa material
agregat kasar dari PT Bumindo Sakti dapat digunakan sebagai material pembentuk
campuran lapis AC-WC untuk perkerasan runway bandara.
Pengujian diatas
merupakan pengujian yang dipersyaratkan dalam pedoman KP DJPU 47 Tahun 2026.
Selain pengujian diatas, peneliti juga melaksanakan pengujian untuk mengetahui
berat jenis agregat kasar. Hasil pengujian agregat kasar didapatkan hasil
sebagai berikut.
Tabel
1 Hasil Pengujian
Berat Jenis Agregat Kasar
|
Pengujian
Berat Jenis |
Hasil
Uji |
|
Berat jenis curah kering |
2,676
gr/cm3 |
|
Berat jenis curah jenuh kering
permukaan |
2,712
gr/cm3 |
|
Berat jenis semu |
2,776
gr/cm3 |
|
Penyerapan air |
1,339 % |
Sumber: Data Peneliti (2026)
Hasil pengujian
berat jenis agregat kasar digunakan dalam perhitungan volumetrik campuran aspal
dalam parameter marshall nantinya sehingga pegujian ini harus dilaksanakan.
Pengujian berat jenis ini tidak memiliki persyaratan besaran nilai yang harus
dipenuhi dalam pedoman KP DJPU 74 Tahun 2026.
Hasil
Pengujian Agregat Halus dan Filler
Agregat halus dan
bahan pengisi (filler) yang digunakan pada penelitian merupakan agregat
fraksi 0 – 5. Pengujian agregat halus serta filler dilaksanakan sesuai
dengan pedoman yang ada. Terdapat beberapa jenis pengujian yang dilakukan dalam
pengujian ini.
Hasil pengujian agregat halus dan filler
telah memenuhi persyaratan pada pedoman berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor KP
DJPU 74 Tahun 2026 Tentang Spesifikasi Teknis Pekerjaan Fasilitas Sisi Udara
Bandar Udara.
A.
Pengujian Lolos Saringan 200
Pengujian lolos saringan 200
berpedoman pada ASTM C4079. Pengujian ini menghasilkan nilai sebesar 4,53%. Hasil
pengujian ini berdasarkan pedoman KP DJPU 74 Tahun 2026 dengan persyaratan
hasil pengujian pada rentang 3% – 6% disimpulkan material agregat halus telah
memenuhi persyaratan.
B.
Pengujian kandungan lempung, material
organik dan bahan mudah pecah dalam agregat (Clay lumps and friable
particles)
Pengujian
kandungan lempung, material organik dan bahan mudah pecah dalam agregat (clay
lumps and friable particles) berperdoman kepada ASTM C142 dan SNI
4141:2015. Pengujian ini memperoleh hasil sebesar 0,14%. Hasil pengujian ini
berdasarkan pedoman KP DJPU 74 Tahun 2026 dengan persyaratan nilai maksimum
0,3% dapat disimpulkan material agregat halus telah memenuhi persyatan.
Berdasarkan beberapa
hasil pengujian yang ada, maka dapat disimpulkan bahwa agregat fraksi 0 – 5 dari
PT Bumindo Sakti dapat digunakan sebagai material agregat halus dan filler
pembentuk campuran lapis AC-WC untuk perkerasan runway bandara.
Pengujian diatas
merupakan pengujian yang dipersyaratkan dalam pedoman KP DJPU 47 Tahun 2026.
Selain pengujian diatas, peneliti juga melaksanakan pengujian untuk mengetahui
berat jenis agregat halus. Hasil pengujian agregat halus didapatkan hasil
sebagai berikut.
Tabel 2 Hasil Pengujian Berat Jenis Agregat Halus
|
Pengujian
Berat Jenis |
Hasil
Uji |
|
Berat jenis curah kering |
2,717 |
|
Berat jenis curah jenuh kering
permukaan |
2,744 |
|
Berat jenis semu |
2,793 |
|
Penyerapan air |
1,0% |
Sumber: Data Peneliti (2026)
Hasil pengujian
agregat halus digunakan dalam perhitungan volumetrik campuran aspal dalam
parameter marshall nantinya sehingga pegujian ini harus dilaksanakan. Pengujian
berat jenis ini tidak memiliki persyaratan besaran nilai yang harus dipenuhi
dalam pedoman KP DJPU 74 Tahun 2026.
Hasil
Pengujian Analisis Saringan
Hasil analisis saringan menunjukkan karakteristik gradasi yang berbeda
pada setiap fraksi agregat yang digunakan dalam campuran AC-WC. Pengujian
dilakukan terhadap dua sampel pada masing-masing fraksi, kemudian hasilnya
dirata-ratakan.
Agregat fraksi 0–5 memiliki persentase lolos saringan No. 4
(4,75 mm) sebesar 99,31%, sehingga berdasarkan KP DJPU 74 Tahun 2026
dikategorikan sebagai agregat halus dan memenuhi penggunaannya sebagai material
campuran AC-WC.
Agregat fraksi 5–10 memiliki persentase lolos saringan No. 4
sebesar 54,49%, sedangkan material yang tertahan sebesar 45,51%.
Komposisi tersebut menunjukkan karakteristik agregat yang berada pada rentang
sedang hingga kasar, sehingga dapat digunakan sebagai salah satu fraksi
pembentuk campuran AC-WC. Nilai modulus kehalusan yang diperoleh
sebesar 6,41.
Sementara itu, agregat fraksi 10–15 memiliki persentase
material yang tertahan saringan No. 4 sebesar 98,68%, sehingga
dikategorikan sebagai agregat kasar sesuai KP DJPU 74 Tahun 2026. Agregat ini
memiliki nilai modulus kehalusan sebesar 7,66 dan dapat digunakan
sebagai fraksi agregat kasar dalam campuran AC-WC.
Secara keseluruhan, hasil analisis saringan menunjukkan bahwa fraksi
0–5, 5–10, dan 10–15 memiliki distribusi ukuran butiran yang sesuai untuk
digunakan sebagai material penyusun campuran AC-WC.
Hasil
Pengujian Aspal PG 76
Aspal yang
digunakan pada penelitian ini adalah aspal modifikasi Performance Grade
76 (PG 76) berasal dari PT Buntara Megah Inti. Pengujian material aspal
dilaksanakan sesuai dengan pedoman berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor KP
DJPU 74 Tahun 2026 Tentang Spesifikasi Teknis Pekerjaan Fasilitas Sisi Udara
Bandar Udara.
Hasil pengujian
material aspal modifikasi PG 76 telah memenuhi persyaratan pada pedoman
berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor KP
DJPU 74 Tahun 2026 Tentang Spesifikasi Teknis Pekerjaan Fasilitas Sisi Udara
Bandar Udara. Adapun
penjelasan lebih lanjut mengenai pengujian sebagai berikut.
A.
Pengujian Penetrasi 100g, 5 detik, 25 °C,
0,1 mm
Pengujian penetrasi aspal
modifikasi PG 76 berpedoman kepada ASTM D5 dan SNI 2456:2011. Pengujian ini
mengasilkan nilai 55,3. Berdasarkan pedoman pada KP DJPU 74 Tahun 2026,
pengujian penetrasi tidak memiliki persyaratan besaran nilai secara spesifik
namun harus dilaporkan.
B.
Pengujian Titik Lembek, °C
Pengujian titik lembek pada aspal
modifikasi PG 76 berpedoman kepada ASTM D36 dan SNI 2432:2011. Pengujian ini mengasilkan
suhu titik lembek sebesar 80°C. Hasil pengujian titik lembek sudah sesuai
dengan persyaratan dasar dari aspal modifikasi setara PG 76 dimana aspal ini
harus memiliki titik lembek sekitar 76°C. Berdasarkan pedoman pada KP DJPU 74
Tahun 2026, pengujian penetrasi tidak memiliki persyaratan besaran nilai secara
spesifik namun harus dilaporkan.
C.
Pengujian Titik Nyala, °C
Pengujian titik nyala aspal
modifikasi PG 76 berpedoman pada ASTM D92 dan SNI 2433:2011. Pengujian ini
menghasilkan suhu titik nyala sebesar 308°C. Hasil pengujian ini berdasarkan
pedoman KP DJPU 74 Tahun 2026 dengan persyaratan suhu minimum 230°C dapat
disimpulkan material aspal telah memenuhi persyatan.
D.
Pengujian Daktilitas, cm
Pengujian daktilitas aspal
modifikasi PG 76 berpedoman pada SNI 2432:2011. Pengujian ini menghasilkan
regangan sepanjang (145+) cm. Pengujian daktilitas ini tidak dilaksanakan
hingga titik putus aspal dikarenakan keterbatasan dari alat yang digunakan,
sehingga penulisan hasil uji (145+) cm. Pengujian ini tidak dipersyaratkan pada
pedoman KP DJPU 74 Tahun 2026. sehingga tidak ada besaran nilai yang harus
dicapai dalam pengujian ini.
E.
Pengujian Berat Jenis
Pengujian berat jenis aspal
modifikasi PG 76 berpedoman pada SNI 2441:2011. Pengujian menghasilkan nilai
sebesar 1,028. Pengujian ini tidak dipersyaratkan pada pedoman KP DJPU 74 Tahun
2026 sehingga tidak ada besaran nilai yang harus dicapai dalam pengujian ini.
Namun hasil pengujian ini digunakan dalam perhitungan volumetrik campuran dan
parameter marshall nantinya sehingga pengujian ini dilaksanakan oleh peneliti.
Berdasarkan seluruh hasil pengujian yang telah
memenuhi spesifikasi atau persyaratan pada pedoman KP DJPU 74 Tahun 2026, maka
dapat disimpulkan bahwa aspal modifikasi PG 76 dari PT Buntara Megah Inti dapat
digunakan sebagai material pembentuk campuran lapis AC-WC untuk perkerasan runway
bandara.
Trial
Gradasi Combine
Trial gradasi combine dilakukan untuk menentukan proporsi
agregat yang paling sesuai sebelum penyusunan design mix formula. Tiga
variasi gradasi dirancang menggunakan metode trial and error berdasarkan
batas gradasi AC-WC pada KP DJPU 74 Tahun 2026. Proporsi agregat pada Trial 1,
Trial 2, dan Trial 3 berturut-turut terdiri atas fraksi 10–15 sebesar 32%, 30%,
dan 29%; fraksi 5–10 sebesar 30%, 27%, dan 24%; fraksi 0–5 sebesar 36%, 42%,
dan 46%; serta filler sebesar 2%, 1%, dan 1%. Ketiga variasi tersebut berada
dalam rentang gradasi yang dipersyaratkan.
Hasil pengujian Marshall menunjukkan bahwa Trial 1, Trial 2, dan Trial 3
masing-masing menghasilkan stabilitas sebesar 1.143,1 kg; 1.132,3 kg; dan
1.399,7 kg. Nilai flow berturut-turut sebesar 4,39; 6,44; dan 3,75 mm,
sedangkan VMA sebesar 18,66%; 20,27%; dan 18,96%. Seluruh variasi memenuhi
persyaratan stabilitas minimum 980 kg dan VMA minimum 15%, tetapi nilai VIM
seluruh trial masih berada di atas rentang spesifikasi 3,3–4%.
Berdasarkan hasil tersebut, Trial 3 dipilih sebagai gradasi yang
digunakan dalam penyusunan design mix formula karena menghasilkan
stabilitas tertinggi (1.399,7 kg), flow sebesar 3,75 mm yang memenuhi
spesifikasi, serta VMA sebesar 18,96%. Meskipun nilai VIM belum memenuhi
persyaratan, parameter tersebut selanjutnya dioptimalkan melalui variasi kadar
aspal dalam penentuan Kadar Aspal Optimum (KAO).
Design
Mixed Formula Lapisan
AC-WC Runway
Berdasarkan gradasi tersebut,
diperoleh komposisi material berupa agregat kasar (CA) sebesar 56,84%,
agregat halus (FA) sebesar 38,56%, dan filler sebesar 4,60%.
Perhitungan kadar aspal rencana menghasilkan nilai Pb sebesar 5,1%, yang
selanjutnya digunakan sebagai kadar aspal tengah dalam penentuan variasi kadar
aspal.
Lima variasi kadar aspal yang
digunakan adalah 4,1%; 4,6%; 5,1%; 5,6%; dan 6,1%, dengan interval 0,5%.
Setiap variasi dibuat sebanyak tiga benda uji dengan berat
masing-masing 1.200 gram, sehingga total benda uji untuk penentuan Kadar
Aspal Optimum (KAO) sebanyak 15 buah. Pembuatan benda uji dilakukan berdasarkan
proporsi agregat yang telah ditentukan dan mengacu pada SNI 06-2489-1991.
Pengujian Marshall
Pengujian marshall
merupakan tahapan yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan kinerja atau
performa dari campuran aspal. Pengujian marshall dilaksanakan untuk mendapatkan
nilai parameter-parameter yang diperlukan. Hasil dari pengujian marshall
campuran AC-WC pada setiap parameter menjadi acuan peneliti untuk memutuskan
apakah rancangan design mixed formulla yang telah dibuat sudah memenuhi
persyaratan ataupun standar untuk perkerasan bandara.
Gambar 1. Perendaman Water Bath
Sumber:
Analisis Peneliti (2026)
Gambar 2. Pengujian Marshall
Sumber:
Analisis Peneliti (2026)
Pengujian marshall
yang dilakukan oleh peneliti di laboratorium berpedoman pada SNI 06-2489-1991 Tentang Metode Pengujian Campuran
Aspal Dengan Alat Marshall. Pengujian marshall dilaksanakan setelah
benda uji dilepas dari cetakan (mold) dan diukur volumetrik (berat
kering, berat SSD, serta berat dalam air). Setelah diukur berat untuk keperluan
analisis volumetrik, benda uji direndam pada water bath selama 30 – 40
menit untuk pengujian marshall normal seperti pada Gambar 4.7. Pengujian
marshall dilakukan menggunakan alat uji marshall seperti pada Gambar 4.8.
Pengujian menggunakan alat marshall menghasilkan nilai stabilitas (stability)
pada dial atas dan kelelehan (flow) pada dial bawah. Adapun hasil
pengujian marshall serta volumetrik dari benda uji campuran AC-WC menggunakan
aspal PG-76 untuk perkerasan runway bandara disajikan sebagai berikut.
Parameter
Uji Marshall
Parameter
pengujian marshall terdiri dari beberapa parameter pengujian yang dijadikan
sebagai acuan penilaian terhadap kualitas dan kinerja dari campuran aspal yang
ada. Adapun hasil pengujian marshall campuran berdasarkan setiap parameter
pengujian disajikan sebagai berikut.
A.
Stabilitas (Stability)
Stabilitas merupakan kemampuan lapis
perkerasan dalam menahan beban lalulintas tanpa mengalami deformasi atau
perubahan bentuk permanen (permanent deformation). Hasil pengujian
stabilitas dari campuran aspal berdasarkan variasi kadar aspal disajikan
sebagai berikut.
Tabel 3. Hasil Pengujian Stabilitas (Stability)
|
Kadar Aspal (%) |
Stabilitas (kg) |
Spesifikasi |
|
4,1 |
1740,57 |
Min. 980 Berdasarkan KP DJPU 74 Tahun
2026 |
|
4,6 |
1779,05 |
|
|
5,1 |
1806,04 |
|
|
5,6 |
1737,01 |
|
|
6,1 |
1621,45 |
Sumber: Data Peneliti (2026)
Hasil pengujian stabilitas
berdasarkan rata-rata benda uji pada setiap variasi aspal disajikan dalam
bentuk grafik sebagai berikut.
Gambar 3 Grafik Hasil Pengujian Stabilitas (kg)
Sumber: Data Peneliti (2026)
Hasil stabilitas berdasarkan grafik
membentuk tren garis parabolik yang naik secara bertahap hingga mencapai titik
puncak lalu turun seiring dengan penambahan kadar aspal. Hasil stabilitas pada
titik puncak (optimum) berada pada kadar aspal 5,1% dengan nilai stabilitas sebesar
1806,04 kg.
Hasil pengujian stabilitas (stability)
menunjukkan bahwa campuran AC-WC yang telah dibuat pada seluruh variasi kadar
aspal memiliki nilai stabilitas yang melampaui spesifikasi yang ada dengan
syarat minimal 980 kg berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor KP
DJPU 74 Tahun 2026 Tentang Spesifikasi Teknis Pekerjaan Fasilitas Sisi Udara
Bandar Udara. Berdasarkan
hasil data yang didapatkan maka dapat disimpulkan bahwa stabilitas campuran
naik berbanding lurus dengan penambahan kadar aspal dan memiliki nilai
tertinggi saat campuran mencapai variasi titik aspal optimum lalu turun kembali
seiring penambahan kadar aspal. Saat campuran mencapai kadar aspal optimum,
maka ikatan antara aspal dengan agregat pada benda uji telah terikat secara
penuh dimana campuran akan mencapai kekuatan stabilitas maksimum dan tidak akan
terjadi retak (cracking) saat kekurangan aspal aupun bleeding
saat kadar aspal berlebih.
B.
Kelelehan (flow)
Kelelehan (flow) adalah nilai dari
besarnya perubahan bentuk plastis (deformasi) dari campuran aspal padat yang
merupakan akibat dari adanya beban hingga batas keruntuhan. Pengujian kelelehan
diukur dengan menggunakan alat marhsall bersamaan dengan pengukuran stabilitas
dengan menggunakan arloji pengukur kelelehan (flow meter). Hasil
pengujian kelelehan (flow) dari campuran aspal berdasarkan variasi kadar
aspal didapatkan sebagai berikut.
Tabel
5 Hasil Pengujian
Kelelehan (flow)
|
Kadar Aspal (%) |
Kelelehan (flow) (mm) |
Spesifikasi |
|
4,1 |
3,40 |
(2 – 4) mm Berdasarkan KP DJPU 74 Tahun
2026 |
|
4,6 |
3,45 |
|
|
5,1 |
3,52 |
|
|
5,6 |
3,69 |
|
|
6,1 |
3,82 |
Sumber: Data Peneliti (2026)
Hasil pengujian kelelehan (flow)
berdasarkan hasil dari rata-rata benda uji pada setiap variasi aspal disajikan
dalam bentuk grafik sebagai berikut.
Gambar 4. Grafik Hasil Pengujian Kelelehan/Flow (mm)
Sumber: Data Peneliti (2026)
Hasil kelelehan (flow)
berdasarkan grafik membentuk tren garis cekung keatas yang naik secara bertahap
seiring dengan penambahan kadar aspal. Hasil pengujian kelelehan (flow)
menunjukkan bahwa campuran AC-WC yang telah dibuat pada seluruh variasi kadar
aspal memiliki nilai stabilitas yang memenuhi spesifikasi yang ada dengan
syarat kelelehan pada rentang (2 – 4) mm berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor KP
DJPU 74 Tahun 2026 Tentang Spesifikasi Teknis Pekerjaan Fasilitas Sisi Udara
Bandar Udara. Berdasarkan
hasil data yang didapatkan maka dapat disimpulkan bahwa nilai kelelehan (flow)
meningkat berbanding lurus dengan penambahan kadar aspal dikarenakan semakin
banyak aspal maka akan semakin banyak lekatan antara aspal dengan agreat yang
menyebabkan campuran aspal akan dapat meregang dan melunak tanpa mengalami
retak (elastis).
C.
Kepadatan (density)
Kepadatan (density) adalah tingkat
kerapatan campuran setelah campuran dipadatkan. Hasil pengujian kepadatan (density)
dari campuran aspal berdasarkan variasi kadar aspal didapatkan sebagai berikut.
Tabel 6. Hasil Pengujian Kepadatan (Density)
|
Kadar Aspal (%) |
Kepadatan(density) (gr/cc) |
Spesifikasi |
|
4,1 |
2,33 |
Tidak
Dipersyaratkan pada KP DJPU 74 Tahun 2026 |
|
4,6 |
2,34 |
|
|
5,1 |
2,37 |
|
|
5,6 |
2,38 |
|
|
6,1 |
2,39 |
Sumber: Data Peneliti (2026)
Hasil pengujian kepadatan (density)
berdasarkan hasil dari rata-rata benda uji pada setiap variasi aspal disajikan
dalam bentuk grafik sebagai berikut.
Gambar 5 Grafik Hasil Pengujian Kepadatan (gr/cc)
Sumber: Data Peneliti (2026)
Hasil kepadatan (density)
berdasarkan grafik membentuk tren garis linear keatas yang naik secara bertahap
seiring dengan penambahan kadar aspal. Ketentuan atau persyaratan nilai hasil pengujian
kepadatan (density) tidak dipersyaratkan pada pedoman Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor KP
DJPU 74 Tahun 2026 Tentang Spesifikasi Teknis Pekerjaan Fasilitas Sisi Udara
Bandar Udara, sehingga hasil
pengujian kepadatan campuran AC-WC setiap variasi kadar aspal dapat digunakan.
Berdasarkan hasil data yang didapatkan maka dapat disimpulkan bahwa peningkatan
nilai kepadatan (density) berbanding lurus dengan penambahan kadar aspal
dikarenakan aspal berfungsi sebagai bahan pengikat sekaligus menjadi bahan
pengisi terhadap rongga pada campuran yang melumasi partikel agregat saat
pemadatan sehingga nilai kepadatan campuran dapat meningkat seiring penambahan
kadar aspal.
D.
Marshall Quotient (MQ)
Marshall Quotient (MQ) merupakan nilai pendekatan yang hampir
menunjukkan nilai kekakuan dari campuran beraspal dalam menerima beban terhadap
deformasi plastis akibat beban lalu lintas. Hasil pengujian Marshall
Quotient (MQ) dari campuran aspal berdasarkan variasi kadar aspal
didapatkan sebagai berikut.
Tabel 7 Hasil Pengujian Marshall
Quotient (MQ)
|
Kadar Aspal (%) |
Marshall
Quotient (MQ) (kg/mm) |
Spesifikasi |
|
4,1 |
513,32 |
Tidak
Dipersyaratkan pada KP DJPU 74 Tahun 2026 |
|
4,6 |
513,99 |
|
|
5,1 |
516,30 |
|
|
5,6 |
473,63 |
|
|
6,1 |
427,66 |
Sumber: Data Peneliti (2026)
Hasil pengujian Marshall
Quotient (MQ) berdasarkan hasil dari rata-rata benda uji pada setiap
variasi aspal disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut.
Gambar 6 Grafik Hasil Pengujian Marshall
Quotient (kg/mm)
Sumber: Data Peneliti (2026)
Hasil Marshall Quotient (MQ)
berdasarkan grafik membentuk tren garis parabolik (cembung) yang naik secara
bertahap hingga mencapai titik puncak lalu turun seiring dengan penambahan
kadar aspal. Hasil MQ pada titik puncak (optimum) berada pada kadar aspal 5,1%
dengan nilai MQ sebesar 516,30 kg/mm.
Ketentuan atau persyaratan nilai hasil
pengujian Marshall Quotient (MQ) tidak tercantum atau dipersyaratkan
pada pedoman Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor KP
DJPU 74 Tahun 2026 Tentang Spesifikasi Teknis Pekerjaan Fasilitas Sisi Udara
Bandar Udara, sehingga hasil
pengujian kepadatan campuran AC-WC setiap variasi kadar aspal dapat digunakan.
Berdasarkan hasil data yang didapatkan maka dapat disimpulkan bahwa kenaikan
nilai Marshall Quotient (MQ) dari
campuran AC-WC berbanding lurus dengan penambahan kadar aspal dan memiliki
nilai tertinggi saat campuran mencapai variasi titik aspal optimum lalu turun
kembali seiring penambahan kadar aspal.
Fase grafik naik terjadi pada kadar
aspal yang relatif rendah, penambahan kadar aspal akan meningkatkan ikatan
antar agregat sehingga nilai stabilitas juga naik sedangkan kelelehan (flow)
memiliki nilai yang masih relatif rendah. Hal tersebut menyebabkan grafik MQ
bergerak naik pada saat kadar relatif rendah. Saat campuran mencapai variasi
titik aspal optimum, maka nilai stabilitas dan nilai kelelehan (flow)
memiliki rasio pembagian yang terbaik (optimum) sehingga nilai MQ mencapai
titik tertinggi serta mengartikan bahwa campuran aspal pada titik tersebut
memiliki tingkat kekakuan tertinggi. Fase grafik turun terjadi pada kadar aspal
yang relatif tinggi dikarenakan setelah melewati titik optimum, penambahan
kadar aspal akan mengakibatkan selimut aspal pada agregat menjadi lebih tebal
yang berpengaruh terhadap penurunan tingkat kekakuan (campuran aspal menjadi
elastis) ditandai dengan peningkatan kelelehan (flow) dan penurunan
stabilitas (stability).
E.
VIM (Void in Mix)
Void In The Mix (VIM)
adalah presentase rongga yang terdapat dalam total campuran yang berhubungan
dengan keawetan dari campuran dimana semakin tinggi nilainya maka semakin besar
dan banyak rongga dalam campuran yang mengakibatkan campuran menjadi kurang
rapat sehingga air dan udara dapat dengan mudah memasuki rongga dalam campuran
yang menyebabkan aspal mudah teroksidasi(Ahya, 2022). Hasil pengujian Void
In The Mix (VIM) dari
campuran aspal berdasarkan variasi kadar aspal didapatkan sebagai berikut.
Tabel 8 Hasil Pengujian Void in
Mix (VIM)
|
Kadar Aspal (%) |
Void In
Mix (VIM) (%) |
Spesifikasi |
|
4,1 |
7,99 |
(3,3 – 4) %
Berdasarkan KP DJPU 74 Tahun 2026 |
|
4,6 |
7,16 |
|
|
5,1 |
5,27 |
|
|
5,6 |
3,94 |
|
|
6,1 |
2,90 |
Sumber: Data Peneliti (2026)
Hasil pengujian Void in Mix
(VIM) berdasarkan hasil dari rata-rata benda uji pada setiap variasi aspal
disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut.
Gambar 7 Grafik Hasil Pengujian Void In
Mix (VIM)
Sumber: Data Peneliti (2026)
Hasil Void in Mix (VIM)
berdasarkan grafik membentuk tren garis linear yang turun secara bertahap
seiring dengan penambahan kadar aspal. Hasil pengujian Void in Mix (VIM)
menunjukkan bahwa campuran AC-WC yang telah dibuat pada seluruh variasi kadar
aspal memiliki nilai persentase VIM yang bervariasi dimana variasi kadar aspal
4,1%, 4,6%, 5,1%, serta 6,1% belum memenuhi spesifikasi yang ada. Sedangkan,
hanya pada variasi kadar aspal 5,6% yang
telah memenuhi spesifikasi yang ada dengan syarat Void in Mix (VIM)
harus pada rentang (3,3 - 4)% berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor KP
DJPU 74 Tahun 2026 Tentang Spesifikasi Teknis Pekerjaan Fasilitas Sisi Udara
Bandar Udara. Berdasarkan
hasil data yang didapatkan maka dapat disimpulkan bahwa penurunan nilai VIM berbanding
lurus dengan penambahan kadar aspal dikarenakan semakin banyak aspal maka
rongga kosong diantara partikel agregat akan terisi oleh aspal sehingga
mengurangi presentase rongga dalam campuran. Kuantitas aspal yang bertambah
akan mengakibatkan lapisan aspal pada agregat semakin tebal sehingga campuran
aspal akan tersusun lebih rapat setelah dipadatkan.
F.
VMA (Void Mineral Agregate)
Void In Mineral Agregate (VMA)
merupakan rongga udara yang terdapat diantara butiran agregat pada campuran
aspal padat meliputi rongga udara serta volume aspal efektif (tidak termasuk aspal
yang tidak terserap kedalam pori-pori agregat). VMA menunjukkan persentase
total ruang kosong yang terdapat pada struktur campuran. Hasil pengujian Void
In Mineral Agregate (VMA) dari campuran aspal berdasarkan variasi kadar
aspal didapatkan sebagai berikut.
Tabel
9 Hasil Pengujian Void In
Mineral Agregate (VMA)
|
Kadar Aspal (%) |
Void In
Mineral Agregate (VMA) (%) |
Spesifikasi |
|
4,1 |
16,95 |
Min. 15%
Berdasarkan KP DJPU 74 Tahun 2026 |
|
4,6 |
17,27 |
|
|
5,1 |
16,66 |
|
|
5,6 |
16,56 |
|
|
6,1 |
16,72 |
Sumber: Data Peneliti (2026)
Hasil pengujian Void in Mineral
Agregate (VMA) berdasarkan hasil dari rata-rata benda uji pada setiap
variasi aspal disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut.
Gambar 8 Grafik Hasil Pengujian Void In
Mineral Agregate (VMA)
Sumber: Data Peneliti (2026)
Hasil Void in Mineral Agregate
(VMA) berdasarkan grafik membentuk tren
garis cekung keatas yang relatif stabil pada setiap variasi kadar aspal
dikarenakan perubahannya hanya berkisar pada angka desimal. Hasil pengujian Void
in Mineral Agregate (VMA)
menunjukkan bahwa campuran AC-WC yang telah dibuat pada seluruh variasi
kadar aspal telah memenuhi spesifikasi yang ada dengan syarat Void in Mix
(VIM) harus memiliki nilai minimum sebesar 15% untuk gradasi 2 berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor KP
DJPU 74 Tahun 2026 Tentang Spesifikasi Teknis Pekerjaan Fasilitas Sisi Udara
Bandar Udara. Berdasarkan
hasil data yang didapatkan maka dapat disimpulkan bahwa grafik hubungan antara
kadar aspal dan VMA membentuk tren kurva parabolik yang cekung keatas. Pada
fase penurunan grafik terjadi pada saat kadar aspal awal (kadar aspal rendah)
yang mempermudah antar butiran agregat untuk saling mengunci dengan rapat sehingga
rongga VMA menurun seiring penambahan kadar aspal. Pada fase naiknya grafik
terjadi pada kadar aspal akhir (kadar aspal tinggi/berlebih) yang menyebabkan
terjadinya pemisahan (displacement effect) dikarenakan lapisan film
aspal pada agregat yang terlalu tebal sehingga mendesak partikel agregat untuk
saling menjauh dan meningkatkan rongga pada VMA.
G.
VFB (Void Filled by Bitumen)
Void Filled by Bitumen (VFB)
adalah persen dari rongga yang terisi aspal pada campuran setelah proses
pemadatan. Hasil pengujian Void Filled by Bitumen (VFB) dari campuran
aspal berdasarkan variasi kadar aspal didapatkan sebagai berikut.
Tabel
10 Hasil Pengujian Void
Filled by Bitumen (VFB)
|
Kadar Aspal (%) |
Void Filled
by Bitumen (VFB) (%) |
Spesifikasi |
|
4,1 |
52,90 |
Tidak
Dipersyaratkan Pada KP DJPU 74 Tahun 2026 |
|
4,6 |
58,62 |
|
|
5,1 |
68,38 |
|
|
5,6 |
76,33 |
|
|
6,1 |
82,70 |
Sumber: Data Peneliti (2026)
Hasil pengujian Void Filled by
Bitumen (VFB) berdasarkan hasil dari rata-rata benda uji pada setiap
variasi aspal disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut.
Gambar 9 Grafik Hasil Pengujian Void
Filled by Bitumen (VFB)
Sumber: Data Peneliti (2026)
Hasil Void Filled by Bitumen (VFB)
berdasarkan grafik membentuk tren garis linear yang naik seiring dengan penambahan variasi kadar aspal.
Ketentuan atau persyaratan nilai hasil pengujian Void Filled by Bitumen
(VFB) tidak tercantum atau dipersyaratkan pada pedoman Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor KP
DJPU 74 Tahun 2026 Tentang Spesifikasi Teknis Pekerjaan Fasilitas Sisi Udara
Bandar Udara, sehingga hasil
pengujian kepadatan campuran AC-WC setiap variasi kadar aspal dapat digunakan.
Berdasarkan hasil data yang didapatkan maka dapat disimpulkan bahwa Void
Filled by Bitumen (VFB) akan meningkat berbanding lurus dengan penambahan
kadar aspal. Semakin banyak kadar aspal pada campuran maka akan semakin banyak
aspal yang mengisi rongga pada campuran. Namun, kadar aspal yang berlebih dapat
mengakibatkan perkerasan aspal mengalami bleeding (naiknya aspal ke
permukaan) sehingga kadar aspal perlu dikontrol dengan parameter volumetrik
lainnya seperti VIM, VMA, dan VFB.
Kadar
Aspal Optimum (KAO)
Kadar Aspal
Optimum (KAO) merupakan kadar aspal paling efektif diantara variasi kadar aspal
dari benda uji yang ada. Kadar aspal optimum didapatkan dari kadar aspal tengah
dari rentang kadar aspal yang memenuhi semua persyaratan pada grafik hubungan
antara kadar aspal dengan parameter marshall. Berdasarkan hasil pengujian,
didapatkan rentang kadar aspal yang memenuhi pada setiap parameter marshall
sebagai berikut.
a.
Stabilitas (stability)
Nilai pengujian stabilitas
berdasarkan pedoman KP DJPU 74 Tahun 2026 harus memiliki nilai minimum 980 kg.
Hasil pengujian stabilitas dari variasi kadar aspal yang memenuhi persyaratan
adalah seluruh varasi kadar aspal mulai dari 4,1%, 4,6%, 5,1%, 5,6%, dan 6,6%.
b.
Kelelehan (flow)
Nilai pengujian kelelehan (flow)
berdasarkan pedoman KP DJPU 74 Tahun 2026 harus memiliki nilai pada rentang (2
– 4)mm. Hasil pengujian kelelehan (flow) dari variasi kadar aspal yang
memenuhi persyaratan adalah seluruh varasi kadar aspal mulai dari 4,1%, 4,6%,
5,1%, 5,6%, dan 6,6%.
c.
Kepadatan (density)
Nilai pengujian kepadatan tidak
dipersyaratkan pada pedoman KP DJPU 74 Tahun 2026. Sehingga seluruh hasil
pengujian kepadatan dari variasi kadar aspal dapat digunakan serta memenuhi mulai
dari 4,1%, 4,6%, 5,1%, 5,6%, dan 6,6%.
d.
Marshall Quotient (MQ)
Nilai pengujian Marshall
Quotient (MQ) tidak dipersyaratkan pada pedoman KP DJPU 74 Tahun 2026.
Sehingga seluruh hasil pengujian MQ dari variasi kadar aspal dapat digunakan
serta memenuhi mulai dari 4,1%, 4,6%, 5,1%, 5,6%, dan 6,6%.
e.
Void in Mix (VIM)
Nilai pengujian Void In Mix
(VIM) berdasarkan pedoman KP DJPU 74 Tahun 2026 harus memiliki nilai pada
rentang (3,3 – 4)mm. Hasil pengujian VIM dari variasi kadar aspal yang memenuhi
persyaratan adalah varasi kadar aspal 5,6% sedangkan variasi kadar aspal
lainnya 4,1%, 4,6%, 5,1%, 6,6% tidak memenuhi persyaratan. Berdasarkan grafik
hubungan antara VIM dan kadar aspal pada Gambar 4. 13, terdapat garis trendline
yang masuk spesifikasi (2 – 4 mm) yaitu garis pada rentang kadar aspal 5,6% -
5,8%.
f.
Void in Mineral Agregate (VMA)
Nilai pengujian Void In Mineral
Agregate (VMA) berdasarkan pedoman KP DJPU 74 Tahun 2026 harus memiliki
nilai minimum 15%. Hasil pengujian VMA dari variasi kadar aspal yang memenuhi
persyaratan adalah varasi kadar aspal 5,6% sedangkan variasi kadar aspal
lainnya 4,1%, 4,6%, 5,1%, 6,6% tidak memenuhi persyaratan.
g.
Void Filled by Bitumen (VFB)
Nilai pengujian Void Filled by
Bitumen (VFB) tidak dipersyaratkan pada pedoman KP DJPU 74 Tahun 2026.
Sehingga seluruh hasil pengujian VFB dari variasi kadar aspal dapat digunakan
serta memenuhi mulai dari 4,1%, 4,6%, 5,1%, 5,6%, dan 6,6%.
Hasil pengujian parameter marshall diatas
menentukan rentang kadar aspal dalam penentuan Kadar Aspal Optimum (KAO). Hasil
pengujian parameter marshall berdasarkan rentang yang memenuhi persyaratan
divisualisasikan dalam bentuk grafik untuk memperoleh KAO sebagai berikut.
VIM Kepadatan Stabilitas VMA VFB Kelelehan MQ 5,70%
Gambar 10 Grafik Irisan Kadar Aspal Optimum (KAO)
Sumber:
Analisis Data Peneliti (2026)
Grafik irisan kadar aspal optimum di atas
ditentukan berdasarkan rentang kadar aspal pada setiap parameter pengujian yang
memenuhi spesifikasi berdasarkan pedoman KP DJPU 74 Tahun 2026. Dikarenakan
mayoritas dari parameter pengujian telah memenuhi persyaratan dan hanya pada
parameter VIM yang memiliki variasi kadar aspal yang tidak memenuhi maka
rentang kadar aspal untuk penentuan kadar aspal optimum ditentukan berdasarkan
parameter tersebut. Batas minimum (garis biru kiri) dari rentang yang memenuhi
terdapat pada kadar aspal 5,6%. Batas maksimum (garis biru kanan) dari rentang
yang memenuhi terdapat pada kadar aspal 5,8%. Hasil batas maksimum dan minimum
pada rentang kadar aspal tersebut selanjutnya digunakan dalam perhitungan kadar
aspal optimum.
Perhitungan penentuan Kadar Aspal Optimum
(KAO) berdasarkan batas minimum dan batas maksimum kadar aspal yang memenuhi
spesifikasi dijelaskan dengan persamaan sebagai berikut.
Perhitungan
Kadar Aspal Optimum (KAO) menghasilkan kadar aspal sebesar 5,70%. Berdasarkan
hasil perhitungan tersebut, disimpulkan bahwa Kadar Aspal Optimum (KAO)
dari campuran AC-WC menggunakan aspal PG-76 untuk perkerasan runway
bandara pada penelitian ini sebesar 5,70%.
Kadar
Aspal Optimum (KAO) yang telah ditetapkan merupakan kadar aspal acuan dalam
pengaplikasian langsung dilapangan. Adapun berat setiap material penyusun benda
uji berdasarkan Kadar Aspal Optimum (KAO) disajikan dalam tabel berikut.
Tabel 11 Komposisi Campuran KAO
|
Material
AC – WC |
%
Campuran |
% Berat
Total Campuran KAO
5,70% (gram) |
|
Agregat Fraksi 10 – 15 (Kasar) |
29,0% |
328,2 |
|
Agregat Fraksi 5 – 10 (Sedang) |
24,0% |
271,6 |
|
Agregat
Fraksi 0 – 5 (Halus) |
46,0% |
520,5 |
|
Filler (Abu
Batu) |
1,0% |
11,3 |
|
Aspal |
|
68,4 |
|
Total |
100% |
1200 |
Sumber:
Analisis Data Peneliti (2026)
SIMPULAN
1. Trial gradasi 3 merupakan gradasi terbaik dengan proporsi agregat
fraksi 10–15 sebesar 29%, fraksi 5–10 sebesar 24%, fraksi 0–5 sebesar 46%, dan
filler sebesar 1%. Trial 3 menghasilkan stabilitas tertinggi sebesar 1.399,7
kg, flow 3,75 mm, MQ 438,4 kg/mm, dan VMA 18,96%, sehingga
dipilih sebagai gradasi untuk design mix formula.
2. Hasil pengujian variasi kadar aspal menunjukkan bahwa peningkatan kadar
aspal memengaruhi karakteristik Marshall. Stabilitas mencapai nilai
maksimum 1.806,04 kg pada kadar aspal 5,1%, sedangkan VIM menurun dan
VFB meningkat seiring bertambahnya kadar aspal. Berdasarkan seluruh parameter
Marshall dan volumetrik, diperoleh rentang kadar aspal yang memenuhi
spesifikasi sebesar 5,6–5,8%.
3. Kadar Aspal Optimum (KAO) diperoleh sebesar 5,70%, yang merupakan nilai
tengah dari rentang kadar aspal yang memenuhi seluruh persyaratan. Pada kadar
tersebut, komposisi material untuk benda uji seberat 1.200 gram terdiri atas
agregat fraksi 10–15 sebesar 328,2 gram, fraksi 5–10 sebesar 271,6
gram, fraksi 0–5 sebesar 520,5 gram, filler sebesar 11,3 gram, dan
aspal sebesar 68,4 gram.
SARAN
Saran yang bisa
diberikan oleh peneliti berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan
mengenai analisis campuran Asphalt Concrete Wearing Course (AC-WC)
menggunakan aspal PG 76 untuk perkerasan runway bandara sebagai berikut.
1.
Pada penelitian selanjutnya, disarankan
untuk melaksanakan pengujian lebih lengkap yaitu pengujian Tensile Strength
Ratio (TSR) dan Tracking Test dengan Asphalt Pavement Analyzer (APA)
atau Hamburg Wheel Track Test (HWTT)
2.
Dikarenakan penelitian ini memiliki
keterbatasan pada alat pengujian di laboratorium, disarankan untuk penelitian
selanjutnya melaksanakan pengujian material yang lebih lengkap sesuai dengan
peraturan KP DJPU 74 Tahun 2026 baik untuk pengujian aspal ataupun agregat yang
digunakan.
REFERENSI
Ahya, M. S. (2022). Karakteristik Marshall
pada campuran polyethylene terephthalate sebagai pengganti sebagian agregat
kasar terhadap Laston lapis AC-WC [Skripsi, Universitas Tidar].
Akbar, S. J. (2013). Teknis evaluasi runway
bandara menurut parameter Marshall (Bandara Malikussaleh Lhokseumawe).
Anwar, M. N. R., Akhmadali, & Sumiyattinah.
(2020). Perbandingan hasil ekstraksi kadar aspal pada campuran aspal AC-BC
gradasi kasar terhadap Job Mix Formula.
Arif, M. I. (2023). Karakteristik campuran
aspal porus dengan limbah plastik polyethylene terephthalate (PET) sebagai
bahan tambah pada aspal [Skripsi, Universitas Lampung].
Asyraf, M. S. N., Irianto, & Riswanto, S. (2025).
Analisa karakteristik Marshall campuran AC-WC menggunakan agregat halus dari
Kabupaten Sarmi, 109–118.
Atmaja, R. A., & Puspitasari, Y. A. (2023). Studi
revitalisasi fasilitas ruang tunggu terminal penumpang domestik Bandar Udara
Internasional El Tari Kupang pasca Badai Seroja. El-Mal: Jurnal Kajian
Ekonomi & Bisnis Islam, 5(1), 243–259.
https://doi.org/10.47467/elmal.v5i1.3512
Badan Pusat Statistik. (2026, February 2). Perkembangan
transportasi Indonesia 2025 (Berita Resmi Statistik No. 14/02/Th.
XXIX). Badan Pusat Statistik.
Bamher, B. G. (2020). Analisis tebal
perkerasan lentur menggunakan metode Manual Desain Perkerasan Jalan 2017 pada
proyek jalan baru batas kota Singaraja–Mengwitani, Buleleng [Laporan
tugas akhir].
Basuki, H. (1990). Merancang dan merencana
bandar udara. Penerbit Alumni.
Gunawan, I. (2024). Perhitungan pavement
classification number landasan pacu untuk pesawat tipe A330-300 [Skripsi,
Universitas Batanghari Jambi].
Hardani, Auliya, N. H., Andriani, H., Fardani, R. A.,
Ustiawaty, J., Utami, E. F., Sukmana, D. J., & Istiqomah, R. R.
(2020). Metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Pustaka Ilmu.
Juananda, A. (2023). Pengaruh penambahan serat
serabut kelapa pada campuran AC-BC penetrasi 60/70 terhadap karakteristik
Marshall [Skripsi, Universitas Sangga Buana].
Karma, M. (2020). Sistem manajemen pemeliharaan
perkerasan landasan di bandar udara. 9066, 133–146.
Karyawan, I. D. M. A. (2020). Potensi
penggunaan agregat buatan berbahan limbah batu bara dalam campuran aspal beton
untuk mengurangi rubber deposit pada permukaan runway [Tesis, Institut
Teknologi Sepuluh Nopember].
Kurnia, R. (2016). Perbandingan kepadatan Marshall dan
kepadatan mutlak (PRD) pada campuran beraspal. Potensi: Jurnal Sipil
Politeknik, 18(2), 97–104. https://doi.org/10.35313/potensi.v18i2.536
Mahyuddin, Rangan, P. R., Nur, N. K., Halim, H.,
Tumpu, M., Sudirman, Sugiyanto, G., Lapian, F. E. P., & Katjo, S.
(2021). Perancangan bandar udara. Yayasan Kita Menulis.
Masherni, Surandono, A., & Saputra, A. A. (2020).
Analisis perencanaan pelaksanaan pekerjaan perkerasan kaku/rigid pavement ruas
Padang Ratu–Kalirejo (Link.032) STA. 0+000 s/d 0+685 KM Kabupaten Lampung
Tengah. TAPAK: Teknologi Aplikasi Konstruksi: Jurnal Program Studi
Teknik Sipil, 9(2).
Mukhlis, Lusyana, Suardi, E., & Adibroto, F.
(2019). Analisis kinerja indeks kekuatan sisa (IKS) campuran Asphalt Concrete
Wearing Course (AC-WC) dengan proses penghamparan sehingga mudah. Jurnal
Fondasi, 8(1), 70–76.
Nabilla. (2024). Pengaruh penambahan polimer
reaktif Elvaloy dan asam polifosfat terhadap sifat fisik aspal Pertamina [Skripsi,
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah].
Nurokhman, Suryanto, & Tsany, A. R. (2022). Studi
kadar aspal, kepadatan dan tebal lapisan Laston AC-BC hasil coredrill pada ruas
Jalan KSPN Borobudur. CivETech, 4(2), 53–64.
https://doi.org/10.47200/civetech.v4i2.1303
Pakan, W. (2014). Faktor penyebab kecelakaan
penerbangan di landas pacu. Warta Penelitian Perhubungan, 26(3),
169. https://doi.org/10.25104/warlit.v26i3.879
Purnama, R. A. (2021). Kinerja campuran
beraspal dengan menggunakan aspal Starbit E-55 dan aspal PG 76 FR berdasarkan
gradasi Asphalt Concrete (AC) bandar udara.
Putra, M. T., Destania, H. R., & Febryandi, F.
(2023). Analisis karakteristik Marshall campuran aspal modifikasi pada Asphalt
Concrete–Wearing Course (AC-WC) dengan penambahan serbuk ban kendaraan. Jurnal
Teknik Sipil, 19(2), 335–350. https://doi.org/10.28932/jts.v19i2.5580
Putri, V. V. Y. D., Ahyudanari, E., & Rochmah, A.
W. (2026). Effect of FAA and BBA aggregate gradations on the Marshall
performance of asphalt concrete mixtures for airport runway applications. 5(1),
363–372.
Qadafi, M. R. (2021). Tinjauan perencanaan
perkerasan lentur ruas Jalan Simpang Pasar Pariaman sampai dengan Simpang
Kelling Kota Pariaman [Skripsi, Universitas Muhammadiyah Sumatera
Barat].
Ra, A. R., Putra, S., Sulistyorini, R., &
Herianto, D. (2022). Karakteristik uji Marshall pada campuran Split Mastic
Asphalt (SMA). Jurnal Rekayasa Sipil dan Desain, 10(3), 465–478.
https://doi.org/10.23960/jrsdd.v10i3.2704
Ramadhan, M. A. (2023). Pengaruh fluktuasi
gradasi terhadap daya dukung agregat kelas A [Skripsi, Universitas
Lampung].
Rifansyah, M. (2023). Pengaruh penambahan
styrofoam pada campuran AC-BC (Asphalt Concrete–Binder Course) penetrasi 60/70
terhadap karakteristik Marshall [Skripsi, Universitas Sangga Buana
YPKP Bandung].
Rohman, M. F., Hasanuddin, A., & Wicaksono, L. A.
(2020). Penggunaan filler arang kayu pada aspal HRS-WC dan aspal AC-WC. 10(2).
Sitepu, S. A. (2021). Strategi pelaksanaan
program pemeliharaan runway di Bandar Udara Soekarno-Hatta [Tesis,
Institut Teknologi Bandung].
Situmorang, A., & Pratomo, P. (2016). Variasi
jumlah tumbukan terhadap uji karakteristik Marshall untuk campuran Laston
(AC-BC). 4(1), 89–98.
Sugiyono. (2013). Metode penelitian
kuantitatif, kualitatif dan R&D (Ed. 19). Alfabeta.
Sukirman, S. (2024). Rekayasa bandar udara (Ed.
3). Penerbit Itenas.
Susilawati, T. (2024). Analisis faktor-faktor yang
mempengaruhi pemilihan moda transportasi udara pada masyarakat Kab. Kapuas Hulu
Kalimantan Barat. Jurnal Humaniora, Sosial dan Bisnis, 2,
1083–1093.
Utama, D. (2006). Analisis struktur perkerasan runway,
taxiway dan apron Bandar Udara Dr. F. L. Tobing menggunakan metode United
States of American Practice. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia, 8,
81–91.
Wibowo, M. R. F., Lindawati, & Said, B. F.
(2025). Konstruksi perkerasan jalan: Standar, material, dan teknik
lapangan. PT Media Penerbit Indonesia.
Wijaya, I. W. A. P., Indriani, M. N., & Wirahaji,
I. B. (2023). Analisis kondisi perkerasan jalan dengan metode Bina Marga dan
Pavement Condition Index (PCI): Studi kasus ruas Jalan Kutapang–Maos di
Kecamatan Nusa Penida Kabupaten Klungkung. Jurnal Widya Teknik, 9(1).
Yamali, F. R. (2017). Pengaruh penambahan limbah karet
ban luar pada lapis tipis aspal pasir (Latasir) terhadap karakteristik
Marshall. Jurnal Media Teknik Sipil, 2.
Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor
PM 77 Tahun 2015 tentang Standardisasi dan Sertifikasi Fasilitas Bandar Udara. (2015).
RSNI M-01-2003 tentang metode pengujian campuran
beraspal panas dengan alat Marshall. (2003).
SNI 06-2489-1991 tentang metode pengujian campuran
aspal dengan alat Marshall. (1991).
Spesifikasi umum 2025 untuk pekerjaan konstruksi jalan
dan jembatan Bina Marga. (2025). (Pub. L. No.
07/SE/Db/2025).
No comments:
Post a Comment