Kegel Exercise Modality
Therapy at Wisma Anggrek, Budi Sejahtera Nursing Home for Social Protection and
Rehabilitation of Older Adults (PPRSLU), Banjarbaru
Nabilla Junianti1*,
Muhammad Fahmi2, Wahdatun Nisa3, Widia4, Wina
El Lisya5
1-5 Program Studi Profesi Ners,
Universitas Sari Mulia Banjarmasin
*Email korespondesi: nabillajunianti13@gmail.com1,
miimhmmdf@gmail.com2, wahdatunbungas@gmail.com3,
widiawidia3084@gmail.com4,
winaellisya33@gmail.com5
Abstrak
Inkontinensia urin merupakan
salah satu masalah kesehatan yang sering dialami lansia, terutama perempuan,
akibat melemahnya otot dasar panggul. Kondisi ini tidak hanya mengganggu fungsi
fisik, tetapi juga dapat menurunkan rasa percaya diri dan kualitas hidup
lansia. Salah satu upaya non-farmakologis yang dapat dilakukan untuk mengurangi
keluhan tersebut adalah senam Kegel. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini
bertujuan untuk meningkatkan kekuatan otot dasar panggul dan mengurangi tingkat
inkontinensia urin pada lansia melalui terapi modalitas senam Kegel. Kegiatan
dilaksanakan di Wisma Anggrek Panti Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Lanjut
Usia (PPRSLU) Budi Sejahtera Banjarbaru pada 27 Oktober 2025 dan diikuti oleh 8
orang lansia perempuan berusia 60–78 tahun. Metode kegiatan meliputi tahap
persiapan, edukasi mengenai inkontinensia urin dan senam Kegel, pelaksanaan
latihan, serta evaluasi menggunakan Revised Urinary Incontinence Scale
(RUIS) sebelum dan sesudah intervensi. Latihan dilakukan dalam posisi duduk dan
berbaring dengan kontraksi otot dasar panggul selama 5 detik dan relaksasi
selama 10 detik sebanyak 10 kali per sesi. Hasil evaluasi menunjukkan adanya
penurunan rata-rata skor RUIS dari 8,0 dengan kategori inkontinensia sedang
menjadi 5,0 dengan kategori inkontinensia ringan, atau terjadi penurunan skor
sebesar 37,5%. Selain perubahan kondisi fisik, peserta juga menunjukkan respons
positif berupa peningkatan kenyamanan, kepercayaan diri, dan motivasi untuk
melanjutkan latihan secara mandiri.
Kata kunci: Terapi Modalitas, Senam Kegel, Lansia,
Perlindungan, Rehabilitas Sosial
Abstract
Urinary incontinence is one of the common health
problems experienced by older adults, particularly women, due to weakening of
the pelvic floor muscles. This condition not only affects physical function but
may also reduce self-confidence and quality of life among older adults. One
non-pharmacological approach that can be used to reduce urinary incontinence
symptoms is Kegel exercises. This community service activity aimed to improve
pelvic floor muscle strength and reduce the severity of urinary incontinence
among older adults through Kegel exercise modality therapy. The activity was
conducted at Wisma Anggrek, Panti Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Lanjut
Usia (PPRSLU) Budi Sejahtera Banjarbaru, on October 27, 2025, and was attended
by eight female older adults aged 60–78 years. The activity consisted of
preparation, education on urinary incontinence and Kegel exercises, exercise
implementation, and evaluation using the Revised Urinary Incontinence Scale
(RUIS) before and after the intervention. The exercises were performed in
sitting and lying positions, consisting of pelvic floor muscle contractions for
5 seconds followed by 10 seconds of relaxation, repeated 10 times per session.
The evaluation results showed a decrease in the mean RUIS score from 8.0,
categorized as moderate urinary incontinence, to 5.0, categorized as mild
urinary incontinence, representing a 37.5% reduction in the score. In addition
to physical improvements, the participants also demonstrated positive
responses, including increased comfort, self-confidence, and motivation to
continue the exercises independently.
Keywords: Modality Therapy, Kegel Exercises, Older
Adults, Protection, Social Rehabilitation
Article Info
Received date: 20 August 2026 Revised date: 28 August 2026 Accepted date: 7
September 2026
PENDAHULUAN
Proses menua
merupakan fase alami yang ditandai dengan penurunan fungsi fisik, psikologis,
dan sosial yang memengaruhi kualitas hidup lansia. Salah satu masalah umum pada
lansia, khususnya perempuan, adalah inkontinensia urin, yaitu keluarnya urin
tanpa disadari akibat melemahnya otot dasar panggul (Rahmawati et al., 2022).
Kondisi ini berdampak pada kesehatan fisik dan menimbulkan gangguan psikologis
seperti rasa malu dan rendah diri. Menurut Kemenkes RI (2023), prevalensi
inkontinensia urin pada lansia mencapai 25–45%, terutama pada wanita
pascamenopause. Salah satu intervensi non-farmakologis yang efektif untuk
mengatasinya adalah senam Kegel, yang bertujuan memperkuat otot dasar panggul
dan meningkatkan kontrol berkemih (Sari et al., 2023). Penelitian Indriyani et
al. (2024) membuktikan bahwa latihan ini dapat menurunkan frekuensi
inkontinensia urin hingga 60% bila dilakukan rutin selama empat minggu.
Pelaksanaan
terapi modalitas senam Kegel di panti lansia diharapkan dapat membantu
mengurangi keluhan berkemih, meningkatkan kekuatan otot panggul, serta
memperbaiki kepercayaan diri dan kualitas hidup lansia dalam menjalani
aktivitas sehari-hari. Tujuan pelaksaan
Terapi modalitas senam kegel adalah untuk meningkatkan kesehatan fisik dan
kualitas hidup lansia melalui penguatan otot dasar panggul dengan latihan Senam
Kegel sebagai upaya pencegahan dan penanganan masalah inkontinensia urin serta
menjaga fungsi sistem perkemihan
METODE
Pada tahap
persiapan terdiri dari, analisis masalah, penyusunan proposal, pemantapan tim dan perijinan koordinasi. Tempat
kegiatan ini dilakukan di PPRSLU pada tanggal senin 27 Oktober 2025 pada jam
10.00 WITA-Selesai, sasaran kegiatan ini pada lansia di Wisma Anggrek.
Dilakukan yaitu
sebelum penyusunan proposal terapi modalitas yang akan dilakukan. Analisis
masalah yang akan dilakukan terdiri dari mengkaji permasalahan yang terjadi
pada wilayah mitra yaitu dengan survey, Berdasarkan hasil survei yang kami
lakukan pada lansia di panti terutama diwisma anggrek, Berdasarkan hasil survei
yang kami lakukan pada lansia di panti, diketahui bahwa sebagian besar lansia
mengalami keluhan sering berkemih, terutama pada malam hari, dan beberapa di
antaranya mengalami inkontinensia urin ringan hingga sedang. Hasil wawancara
menunjukkan bahwa sebagian besar lansia belum mengetahui tentang senam Kegel
sebagai salah satu metode sederhana untuk memperkuat otot dasar panggul dan
mencegah kebocoran urin. Selain itu, aktivitas fisik lansia di panti cenderung
rendah karena sebagian besar menghabiskan waktu dengan duduk atau berbaring.
Kondisi tersebut
menunjukkan perlunya upaya promotif dan preventif yang dapat meningkatkan
kesadaran serta kemampuan lansia dalam menjaga kesehatan sistem perkemihan.
Oleh karena itu, kegiatan Terapi modalitas Senam Kegel dipilih sebagai
intervensi yang sesuai, karena selain mudah dilakukan, latihan ini juga tidak
memerlukan alat khusus dan dapat dilakukan secara rutin di lingkungan panti. Melalui
kegiatan ini diharapkan lansia dapat memahami pentingnya menjaga fungsi otot
dasar panggul, mampu mempraktikkan senam Kegel dengan benar, serta merasakan
manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pelaksanaan
terapi modalitas melibatkan tim yang terdiri dari lansia, mahasiswa, dan dosen
yang mendampingi mahasiswa. Pemantapan tim dilakukan berupa kegiatan penyampaian pelaksanaan program secara
teknis, dan
persamaan persepsi tentang program terapi modalitas tersebut, sehingga tim dapat bekerja sama dengan melaksanakan perannya masing masing dan tujuan
terapi modalitas pun terlaksana sesuai dengan capaian target luaran. Perizinan dan koordinasi, setelah tim siap, maka
koordinasi dapat langsung dilaksanakan oleh tim, baik mulai dari pengurusan
perizinan sampai dengan koordinasi dilapangan terkait pelaksanaan secara
teknis. Media yang digunakan dalam kegiatan ini adalah speaker dan musik
relaksasi, poster, alat tulis dan lembar observasi, dan matras atau alas duduk.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan terapi modalitas senam Kegel dilaksanakan di Wisma Anggrek Panti
Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia (PPRSLU) Budi Sejahtera
Banjarbaru dan diikuti oleh 8 orang lansia perempuan dengan rentang usia 60–78
tahun. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan kekuatan otot dasar panggul dan
mengurangi keluhan inkontinensia urin melalui latihan senam Kegel secara
teratur.
Pelaksanaan kegiatan terdiri atas beberapa tahap:
1.
Tahap pertama: Kontrak waktu dan
perizinan.
Sebelum
pelaksanaan senam, dilakukan pengukuran tingkat inkontinensia urin menggunakan
Revised Urinary Incontinence Scale (RUIS). Penilaian ini meliputi frekuensi
kebocoran urin, banyaknya rembesan, dan kondisi saat kebocoran terjadi.
2.
Tahap kedua: Pelaksanaan senam kegel.
Lansia diberikan
edukasi mengenai pengertian, manfaat, dan langkah-langkah senam Kegel. Latihan
dilakukan dalam posisi duduk dan berbaring dengan panduan instruktur, terdiri
dari kontraksi otot dasar panggul selama 5 detik dan relaksasi 10 detik
sebanyak 10 kali per sesi. Musik relaksasi digunakan untuk meningkatkan
konsentrasi dan kenyamanan selama latihan.
3.
Tahap ketiga: Post test
Setelah
pelaksanaan terapi, lansia kembali dinilai menggunakan instrumen RUIS untuk
mengetahui adanya perubahan tingkat inkontinensia urin.
4.
Tahap keempat: Refleksi dan umpan balik
Lansia
menyampaikan kesan positif terhadap kegiatan, merasa lebih percaya diri dan
nyaman, serta berkomitmen untuk melanjutkan latihan di rumah.
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
Gambar 1. Pelaksanaan kegiatan
Untuk menilai efektivitas kegiatan,
dilakukan pre-test dan post-test menggunakan instrumen Revised Urinary
Incontinence Scale (RUIS) sebagai alat ukur tingkat inkontinensia urin pada
lansia. Instrumen ini menilai beberapa aspek, antara lain frekuensi kebocoran
urin, jumlah rembesan, dan kondisi saat kebocoran terjadi. Hasil pengukuran
perubahan tingkat inkontinensia urin sebelum dan sesudah pelaksanaan terapi
ditampilkan pada tabel berikut:
Tabel 1. Hasil Tingkat Inkontinensia
Urin Sebelum dan Sesudah Pelaksanaan Terapi
|
Responden |
Jenis Kelamin |
Skor Pre-test |
Kategori |
Skor Post-test |
Kategori |
|
Tn.I |
L |
8 |
Inkontinensia sedang |
5 |
Inkontinensia ringan |
|
Tn.S |
L |
7 |
Inkontinensia
sedang |
4 |
Inkontinensia
ringan |
|
Tn.M |
L |
9 |
Inkontinensia
sedang |
6 |
Inkontinensia
ringan |
|
Tn.A |
L |
8 |
Inkontinensia
sedang |
5 |
Inkontinensia
ringan |
|
Tn.M |
L |
7 |
Inkontinensia
sedang |
4 |
Inkontinensia
ringan |
|
Tn.R |
L |
9 |
Inkontinensia
sedang |
6 |
Inkontinensia
ringan |
|
Tn.F |
L |
8 |
Inkontinensia
sedang |
5 |
Inkontinensia
ringan |
|
Tn.S |
L |
8 |
Inkontinensia
sedang |
5 |
Inkontinensia
ringan |
|
Rata-rata |
8.0 |
Sedang |
5.0 |
Ringan |
|
Berdasarkan hasil tersebut, rata-rata skor RUIS menurun dari 8 (kategori
sedang) menjadi 5 (kategori ringan) setelah intervensi, yang berarti terdapat
penurunan gejala inkontinensia urin sebesar 37,5%. Perubahan ini menunjukkan
bahwa senam Kegel efektif memperkuat otot dasar panggul dan meningkatkan
kontrol berkemih pada lansia di Wisma Anggrek.
PEMBAHASAN
Hasil kegiatan menunjukkan bahwa terapi modalitas senam Kegel efektif dalam
meningkatkan kekuatan otot dasar panggul dan mengurangi gejala inkontinensia
urin pada lansia di Wisma Anggrek PPRSLU Budi Sejahtera Banjarbaru. Rata-rata
skor RUIS menurun secara signifikan, menunjukkan adanya peningkatan kemampuan
lansia dalam menahan urin dan mengontrol buang air kecil.
Latihan Kegel bekerja dengan cara meningkatkan tonus dan koordinasi otot
pelvic floor, yang menopang kandung kemih, uretra, dan organ reproduksi.
Latihan kontraksi dan relaksasi otot secara berulang mampu memperkuat refleks
menahan buang air kecil serta memperbaiki aliran urin. Selain manfaat
fisiologis, latihan ini juga memberikan efek psikologis positif, seperti
meningkatkan rasa percaya diri, mengurangi rasa malu, dan menumbuhkan semangat
lansia untuk menjaga kesehatan mandiri.
Hasil ini sejalan dengan penelitian Wijaya et al. (2024) yang menyatakan
bahwa senam Kegel yang dilakukan secara rutin selama dua minggu dapat
menurunkan tingkat inkontinensia urin hingga 40–60% pada lansia. Demikian pula,
penelitian Jepisa et al. (2022) menemukan adanya peningkatan kontrol berkemih
yang signifikan setelah terapi Kegel dilakukan secara teratur.
Dari perspektif teori keperawatan Orem (Self-Care Deficit Theory), kegiatan
ini membantu lansia memenuhi kebutuhan dasar dalam menjaga fungsi eliminasi
melalui peningkatan kemampuan mandiri. Selain itu, menurut Health Promotion
Model (Pender, 2011), kegiatan berbasis kelompok yang menyenangkan dan bermakna
meningkatkan motivasi untuk menerapkan perilaku hidup sehat. Secara
keseluruhan, kegiatan ini menunjukkan bahwa senam Kegel merupakan intervensi
non-farmakologis yang sederhana, murah, dan efektif untuk diterapkan di
lingkungan panti sosial sebagai bagian dari program pemeliharaan kesehatan
lansia.
SIMPULAN
Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)
dengan tema “Terapi Modalitas Senam Kegel untuk Mengurangi Inkontinensia Urin
pada Lansia di Wisma Anggrek PPRSLU Budi Sejahtera Banjarbaru” berjalan dengan
baik dan mendapat respon positif dari peserta maupun pihak panti. Berdasarkan
hasil evaluasi menggunakan Revised Urinary Incontinence Scale (RUIS), diperoleh
penurunan rata-rata skor dari 8 (kategori inkontinensia sedang) menjadi 5
(kategori inkontinensia ringan) setelah pelaksanaan terapi. Hasil ini
menunjukkan bahwa senam Kegel efektif dalam memperkuat otot dasar panggul dan
meningkatkan kontrol berkemih pada lansia.
Selain memberikan manfaat fisiologis, kegiatan
ini juga berdampak positif pada aspek psikologis lansia. Peserta tampak lebih
percaya diri, nyaman, dan aktif selama latihan. Terapi ini juga meningkatkan
motivasi lansia untuk menjaga kesehatan diri dan berpartisipasi dalam kegiatan
kelompok. Dengan demikian, senam Kegel dapat dijadikan salah satu intervensi
non-farmakologis sederhana dan efektif untuk meningkatkan kesehatan fisik dan
kualitas hidup lansia, terutama dalam mengatasi keluhan inkontinensia urin di
lingkungan panti sosial.
REFERENSI
Candra, I. W., Sumirta, I. N., & Dewi, N. L. G. A. K. (2024). Jurnal
Peduli Masyarakat. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (JPKM) - Aphelion,
6(September), 171–178. Link
Jepisa, T., Intani, T. M., Husni, H., Rasyid, W., & Ilmaskal, R.
(2022). The Effect of Kegel Exercise on Elderly With Urine Incontinence.
Eduvest - Journal of Universal Studies, 2(3), 610–615.
https://doi.org/10.59188/eduvest.v2i3.389
Khan, F. M., Gul, T., Naqvi, S. F., Obaid, S., & Shahid, M. H.
(2021). Frequency Of Stress Urinary Incontinence In Pregnant Females, 215–219.
Nirmala, A. R. (2022). Penerapan senam Kegel terhadap inkontinensia urin
pada lansia di Kelurahan Pulisen Kabupaten Boyolali. IGJ, 1(3), 97-101.
https://doi.org/10.56359/igj.v1i3.81
Sari, N. I. Y., & Lestari, A. (2024). Inkontinensia urin, latihan
Kegel, lansia. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa, ¹ . (Note: Lengkapi
volume/nomor/halaman jika tersedia)
Wati, D. N. K., Eriska, W., & Rachmawati, U. (2021). Asuhan
keperawatan pada lansia dengan inkontinensia urin. (Hak cipta/Patent No.
EC00202257679).
Wijaya, D. N., Ramli, R., & Agus, A. I. (2024). Pengaruh senam Kegel
terhadap inkontinensia urin pada lansia. Window of Nursing Journal, 5(1),
32-39. https://doi.org/10.33096/won.v5i1.634
No comments:
Post a Comment