Thursday, September 10, 2026

Hubungan Antara Konsumsi Tuak Terhadap Kadar Asam Urat Pada Orang Dewasa di Desa Saronda Kec. Bajo Barat Kabupaten Luwu Tahun 2025

 Hubungan Antara Konsumsi Tuak Terhadap Kadar Asam Urat Pada Orang Dewasa di Desa Saronda Kec. Bajo Barat Kabupaten Luwu Tahun 2025 | Asri | Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin


The Relationship Between Tuak Consumption and Uric Acid Levels Among Adults in Saronda Village, Bajo Barat District, Luwu Regency, 2025

 

Muhammad Asri1, Iskandar2, Hadija3, Indah Sari4

1,2,3,4Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Datu Kamanre

email: muh.asri2422@gmail.com1, nurseiskandar@gmail.com2, hadijahzaenal@gmail.com3,  ndahhsarii448@gmail.com4

 

ABSTRAK

Asam urat adalah senyawa yang dihasilkan tubuh sebagai hasil dari pemecahan purin, suatu zat yang ditemukan dalam berbagai makanan dan minuman. Tuak manis mengandung kadar alkohol 4-5%. Alkohol dapat meningkatkan kadar asam urat di dalam serum melalui penurunan ekskresi asam urat dan peningkatan produksi asam urat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara konsumsi tuak dan kadar asam urat pada dewasa di desa Saronda Kec. Bajo barat Tahun 2025. Desain penelitian yang digunakan yaitu eksperimen Quasy dengan menggunakan design klasual komparatif. Dengan teknik total sampling didapatkan sampel sebanyak 30 responden, variabel independent konsumsi tuak terhadap variabel dependent kadar asam urat pada dewasa. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi, kuesioner dengan menggunakan uji statistik Mann Whitney. Berdasarkan hasil penelitian pada kadar asam urat peminum tuak menunjukkan nilai P- Value 0,000 < 0,05 berarti Ha diterima yang artinya ada hubungan konsumsi tuak terhadap kadar asam urat pada peminum tuak.  Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan konsumsi tuak terhadap kadar asam urat dewasa 35-40 tahun di Desa Saronda Kecamatan Bajo Barat Kabupaten Luwu Tahun 2025.

Kata Kunci: Konsumsi Tuak, Kadar Asam Urat

ABSTRACK

Uric acid is a compound produced by the body as a result of the breakdown of purines, a substance found in various foods and beverages. Palm wine contains 4-5% alcohol. Alcohol can increase serum uric acid levels by decreasing uric acid excretion and increasing uric acid production. The purpose of this study was to determine the relationship between palm wine consumption and uric acid levels in adults in Saronda Village, West Bajo District, 2025. The research design used was a quasi-experimental study using a comparative classifier design. Using total sampling, a sample of 30 respondents was obtained. The independent variable was palm wine consumption and the dependent variable was uric acid levels in adults. Data collection used observation sheets and questionnaires, using the Mann Whitney statistical test. Based on the results of the study, the uric acid levels of palm wine drinkers showed P-value of 0.000 <0.05, indicating that Ha was accepted, indicating a relationship between palm wine consumption and uric acid levels in palm wine drinkers. It can be concluded that there is a relationship between palm wine consumption and uric acid levels in adults aged 35-40 years in Saronda Village, West Bajo District, Luwu Regency in 2025.

Keywords: Palm Wine Consumption and Uric Acid Levels

 

Article Info

Received date: 20 August 2026                             Revised date: 28 August 2026                             Accepted date: 7 September 2026

 

PENDAHULUAN

Asam urat merupakan hasil akhir dari metabolisme purin merupakan salah satu komponen penyusun dalam asam nukleat yang terdapat pada inti sel tubuh. Purin adalah turunan dari protein terkandung di dalam tubuh dan dari makanan yang dikonsumsi. Hiperurisemia yang tidak ditangani akan menyebabkan asam urat dalam darah berlebihan sehingga menimbulkan terjadinya penumpukan kristal asam urat. Apabila kristal berada dalam cairan sendi maka akan menyebabkan penyakit gout (Diantari & Candra, 2013 dalam Juliantini, N. K., et al 2022).

Asam urat adalah senyawa yang dihasilkan tubuh sebagai hasil dari pemecahan purin, suatu zat yang ditemukan dalam berbagai makanan dan minuman. Dalam kondisi normal, tubuh mampu membuang kelebihan asam urat melalui ginjal dan kemudian dikeluarkan bersama urine. Namun, pada beberapa orang, kadar asam urat dapat meningkat secara berlebihan, baik karena produksi yang berlebihan maupun karena gangguan dalam ekskresi oleh ginjal. Kondisi ini berpotensi menumpuk dalam tubuh dan membentuk kristal pada sendi, menyebabkan peradangan dan rasa nyeri yang dikenal sebagai artritis gout atau asam urat. Gout merupakan salah satu bentuk artritis yang sering ditemukan pada kelompok usia produktif, yang dapat memengaruhi kualitas hidup dan produktivitas individu yang terkena (Ernawati et al., 2023; Sari et al., 2024; Widjaja et al., 2023).

Adapun Nilai normal asam urat pada wanita ialah 2,4-6,0 mg/dl dan pria 3,0-7,0 mg/dl Hiperurisemia adalah sebutan dari meningkatnya kadar asam urat lebih normal. Adanya hiperurisemia akan menimbulkan penyakit asam urat. Kemudian, terjadi penumpukan kristal asam urat pada sendi yang dapat menimbulkan masalah pada struktur sendi sehingga timbul radang berupa bengkak kemerahan ataupun nyeri terjadinya proses kristal asam urat apabila rentang kadar asam urat senilai 9-10 mg/dl (Noviyanti, 2015 dalam Septianingrum, D., et al 2024).

Tuak segar mengandung alkohol dengan kadar sekitar 4-5%. Namun kadar ini dapat meningkat seiring dengan waktu penyimpanan karena proses fragmentasi yang terus berlangsung. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kadar alkohol di dalam tuak dapat mencapai 12% atau bahkan lebih setelah beberapa hari penyimpanan (Juliantini dkk, 2022).

Tuak manis mengandung kadar alkohol 4-5%. Alkohol dapat meningkatkan kadar asam urat di dalam serum melalui penurunan ekskresi asam urat dan peningkatan produksi asam urat. Penurunan ekskresi asam urat dari ginjal terjadi karena alkohol dapat meningkatkan asam laktat pada darah yang menghambat ekskresi asam urat (Doherty, 2019). Alkohol juga dapat mempercepat proses pemecahan adenosin trifosfat dan produksi asam urat (Zhang, 2019). Metabolisme etanol menjadi acetyl CoA menjadi adenin nukleotida meningkatkan terbentuknya adenosin monofosfat yang merupakan prekursor pembentuk asam urat (Neogi et al.,2014).

Prevalensi Asam urat terus meningkat di seluruh dunia berkisar 1-2%. Prevalensi asam urat di negara maju bervariasi, dengan perkiraan mulai dari 3,9% di Amerika Serikat hingga 0,3% di Republik Ceko dan Portugal, kadar asam urat serum yang tinggi secara luas diyakini sebagai penyebab utama penyakit asam urat (Syed dkk., 2022 dalam Sumual, C. E., et al 2023). Prevalensi penderita penyakit hiperurisemia di dunia mengalami kenaikan hingga dua kali lipat mulai tahun 1990-2010 (Riswana & Mulyani, 2022 dalam Arifuddin, M., et al 2024). Menurut World Health Organization (WHO), penderita gout arthritis mencapai 230 juta dan angka tersebut meningkat tajam setiap tahunnya (Purba, et al, 2021 dalam Arifuddin, M., et al 2024).

Dari Data Indonesia menyatakan bahwa Prevalensi Asam Urat meningkat seiring bertambahnya usia. Pada kelompok usia 15-24 tahun prevalensinya sekitar (1,2%), sedangkan pada kelompok usia di atas 75 tahun prevalensinya bisa mencapai (18,9%) atau bahkan lebih. Prevalensi yang didiagnosis oleh tenaga kesehatan lebih tinggi pada perempuan (13,4%) dibanding laki-laki (10,3%) dan yang bergejala lebih tinggi pada perempuan (27,5%) dibandingkan laki-laki (21,8%). Prevalensi lebih tinggi pada penduduk yang tidak bersekolah baik yang terdiagnosis oleh tenaga kesehatan (24,1%) maupun yang terdiagnosis atau bergejala oleh tenaga kesehatan (45,7%). valensi tertinggi pada pekerjaan petani/nelayan/buruh baik yang didiagnosis tenaga kesehatan (15,3%) maupun diagnosis tenaga kesehatan atau bergejala (31,2%). Prevalensi didiagnosis oleh tenaga kesehatan di perdesaan (13,8%) lebih tinggi dari perkotaan (10,0%), begitu pula diagnosis tenaga kesehatan atau bergejala di perdesaan (27,4%) dan di perkotaan (22,1%) (Riskesdas,2020).

Berdasarkan Profil Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2020, prevalensi penderita asam urat di Kepulauan Selayar tercatat sebesar 3,99%. Prevalensi tertinggi ditemukan pada kelompok usia 65–74 tahun sebesar 17,1%, serta lebih banyak terjadi pada perempuan sebesar 7,43%. Selain itu, individu dengan tingkat pendidikan tidak atau belum pernah sekolah memiliki prevalensi sebesar 11,37%, sedangkan pada kelompok yang tidak bekerja sebesar 8,57%. Dari segi tempat tinggal, masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan menunjukkan prevalensi sebesar 6,56% (Profil Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2020). Data ini menunjukkan bahwa faktor usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pekerjaan, dan lingkungan tempat tinggal memiliki peran dalam distribusi kasus asam urat di wilayah tersebut.

Berdasarkan data dari Kabupaten Luwu pada tahun 2020, orang terkena Asam Urat sebanyak 1823 (0,51%) orang, pada tahun 2021 orang yang terkena Asam Urat sebanyak 2204 (0,61%) orang, pada tahun 2022 orang terkena Asam Urat sebanyak 2054 (0,56%) orang, sedangkan tahun 2023 orang yang terkena Asam urat sebanyak 2055 (0,56%) pada tahun 2024 (0,64%) prevalensi penderita asam urat mengalami peningkatan yang sangat pesat yaitu sebanyak 2387 (0,64%) orang (Profil Dinas Kesehatan 2024).

Berdasarkan data dari Puskesmas Bajo Barat tahun 2020, penyakit asam urat termasuk dalam sepuluh besar penyakit terbanyak yang tercatat di wilayah kerja puskesmas tersebut. Jumlah penderita asam urat pada tahun 2025 dari bulan Januari - Mei mencapai 58 orang, dengan distribusi berdasarkan jenis kelamin yaitu 10 orang perempuan dan 18 orang laki-laki. Kondisi ini menunjukkan bahwa asam urat merupakan masalah kesehatan yang cukup signifikan, khususnya pada perempuan. Sementara itu, data tahun 2025 menunjukkan adanya perubahan dalam jumlah kasus, yang mengindikasikan tren yang perlu diteliti lebih lanjut, terutama berkaitan dengan faktor risiko yang mungkin memengaruhi peningkatan kasus, seperti kebiasaan konsumsi minuman tradisional (misalnya tuak), pola makan, dan gaya hidup masyarakat di Desa Saronda.

Adapun fakta-fakta penelitian sebelumnya tentang Hubungan konsumsi tuak terhadap kadar asam urat pada orang dewasa yang dikemukakan oleh Pratama, Gede Aditya yang merupakan mahasiswa Poltekes Kemenkes Denpasar Jurusan Teknologi Laboratorium Medis dalam journal skripsinya yang berjudul “Gambaran kadar asam urat pada peminum tuak di desa Jinengdalem Kabupaten Buleleng Tahun 2024”.

Sebagaimana fenomena-fenomena yang terjadi dengan mengonsumsi tuak yang berlebihan dapat meningkakan resiko asam urat pada peminumnya. Hal ini disebabkan oleh kandungan purin dalam tuak yang dapat meningkatkan kadar asam urat dalam darah, serta alkohol dalam tuak yang dapat mengganggu metabolisme purin dan fungsi ginjal.

Walaupun konsumsi alkohol tuak memiliki nilai budaya dan tradisional yang signifikan, penelitian telah mengungkapkan bahwa perilaku konsumsi alkohol tuak secara berlebihan dapat memiliki dampak negatif terhadap sistem kekebalan tubuh individu. Kekebalan tubuh merupakan mekanisme pertahanan alami yang dimiliki oleh tubuh untuk melawan infeksi dan penyakit. Sistem kekebalan tubuh berperan penting dalam melindungi tubuh dari serangan patogen dan menjaga kesehatan secara keseluruhan. Sistem kekebalan tubuh yang sehat sangat penting bagi kesehatan individu dan komunitas secara keseluruhan. Berbagai faktor, termasuk pola makan, gaya hidup, dan kebiasaan konsumsi, dapat memengaruhi tingkat kekebalan tubuh seseorang (Misra, 2022 dalam Errisya, M. K. 2024).

Berdasarkan uraian dan penjelasan dari latar belakang di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul "Hubungan Konsumsi Tuak Terhadap Kadar Asam Urat Pada orang Dewasa Di Desa Saronda Kec. Bajo Barat Tahun 2025" karena saya ingin membuktikan bahwa teori tentang kandungan tuak yang dapat mempengaruhi kadar asam urat dalam darah. Tuak manis atau yang dikenal dengan istilah "nira" mengandung air sebesar glukosa, protein, lemak, dan asam asam organik seperti asam sitrat, asam tartarat, asam malat, asam suksinat, asam laktat, asam fumarat dan asam piroglutam, Sedangkan Tuak pahit merupakan nira yang difermentasi dengan bantuan bakteri Saccharomyces sp sehingga mengandung air, protein, lemak, mineral, karbohidrat, dan alkohol (Ritonga, 2018).

METODE

Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan comparative causal (kausal komparatif) untuk membandingkan kadar asam urat antara kelompok peminum tuak dan bukan peminum tuak. Pendekatan ini digunakan untuk mengetahui perbedaan kadar asam urat berdasarkan status konsumsi tuak tanpa melakukan randomisasi penuh terhadap responden (Munte et al., 2023).

Lokasi, Populasi, dan Sampel

Penelitian dilaksanakan di Desa Saronda, Kecamatan Bajo Barat, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, pada Juli–September 2025. Populasi penelitian adalah seluruh penduduk dewasa berusia 35–40 tahun yang berdomisili di Desa Saronda, dengan jumlah sekitar 280 orang. Sampel terdiri atas 30 responden, yaitu 15 orang peminum tuak dan 15 orang bukan peminum tuak.

Pemilihan responden dilakukan menggunakan stratified random sampling berdasarkan dua kelompok konsumsi tuak (Sugiyono, 2019). Kriteria inklusi meliputi usia 35–40 tahun, berdomisili di Desa Saronda, bersedia menjadi responden dengan menandatangani informed consent, serta memiliki riwayat konsumsi tuak bagi kelompok peminum. Responden yang memiliki penyakit kronis yang dapat memengaruhi kadar asam urat, sedang mengonsumsi obat penurun asam urat, atau dalam kondisi khusus yang dapat memengaruhi metabolisme dikeluarkan dari penelitian.

Variabel dan Instrumen Penelitian

Variabel independen dalam penelitian ini adalah konsumsi tuak, sedangkan variabel dependen adalah kadar asam urat darah. Data konsumsi tuak diperoleh melalui lembar observasi, sedangkan kadar asam urat diukur secara langsung menggunakan alat Uric Acid Meter Autocheck 3-in-1. Pengukuran dilakukan pada kelompok peminum dan bukan peminum tuak untuk memperoleh data kadar asam urat masing-masing kelompok.

Pengumpulan dan Pengolahan Data

Data primer diperoleh melalui observasi dan pemeriksaan kadar asam urat secara langsung terhadap responden. Data sekunder diperoleh dari profil kesehatan Desa Saronda, kantor desa, serta fasilitas kesehatan setempat. Data yang terkumpul selanjutnya melalui tahap editingcoding, dan tabulating sebelum dilakukan analisis statistik (Notoatmodjo, 2018).

Analisis Data

Analisis univariat digunakan untuk menggambarkan karakteristik responden dan distribusi kadar asam urat pada masing-masing kelompok. Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui perbedaan kadar asam urat antara kelompok peminum dan bukan peminum tuak. Karena data dibandingkan pada dua kelompok independen, analisis dilakukan menggunakan uji Mann–Whitney. Pengambilan keputusan didasarkan pada tingkat signifikansi 5% (α = .05). Nilai p < .05 menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok, sedangkan p ≥ .05 menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan.

 

HASIL

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Desa Saronda Kecamatan Bajo Barat Kabupaten Luwu Tahun 2025. Penelitian ini dilakukan dari bulan Juli - Agustus tahun 2025. Responden pada penelitian ini diambil dari masyarakat Desa Saronda.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara komsumsi tuak dan kadar asam urat pada dewasa di desa Saronda Kecamatan Bajo barat Kabupaten Luwu Tahun 2025. Pengumpulan data dilaksanakan selama 3 pertemuan mulai bulan Juli-Agustus Tahun 2025. Data yang dikumpulkan adalah data primer yang didapat langsung dari responden dan pengumpulan data dilakukan di Desa Saronda Kecamatan Bajo Barat Kabupaten Luwu, setelah data terkumpul maka selanjutnya melakukan pengolahan data mulai dari tabulasi sampai dengan hasil uji Eksperimental (design kasual komparatif). Penelitian kasual-komparatif, juga dikenal sebagai penelitian ex post facto, adalah jenis penelitian yang memungkinkan para peneliti untuk menyelidiki hubungan antara variabel-variabel tertentu tanpa memanipulasi variabel tersebut secara eksperimental. Penelitian kasual-komparatif sangat berguna ketika eksperimen sejati tidak dapat dilakukan karena alasan etika, praktis, atau lainnya. Misalnya, dalam konteks kesehatan, kita tidak dapat secara etis memanipulasi faktor-faktor seperti jenis kelamin, status sosial, atau lifestile seseorang. Namun, kita dapat menggunakan penelitian kasual-komparatif untuk memahami bagaimana faktor-faktor ini mungkin mempengaruhi kesehatan tanpa mengubahnya (memberikan perlakuan) secara eksperimental.

Seperti dalam penelitian ini, kasual-komparatif efektif dipakai karena kita ingin memahami apakah faktor kebiasaan minum tuak memiliki pengaruh terhadap kadar asam urat. Melalui penelitian kasual-komparatif, kita dapat membandingkan kadar asam urat dari kelompok yang memiliki kebiasaan minum tuak dan kelompok yang tidak pernah sama sekali menyentuh tanpa harus mengubah kebiasaan mereka secara sengaja. Dengan demikian, penelitian ini membantu dalam mengidentifikasi apakah ada korelasi atau hubungan antara faktor  minum tuak dan kadar asam urat.

 Dari hasil yang diperoleh, data tidak terdistribusi dengan normal sehinggan uji Komparatif tidak berpasangan (Uji T tidak berpasangan) tidak dapat dilakukan sehingga menempuh uji alternatif yaitu Uji Mann Whitney. Hasil uji statistik terbagi kedalam 2 analisa yaitu Analisa univariat dana analisa bivariat. Hasil uji tersebut disajikan sebagai berikut

Data Demografi

Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin

Semua responden yang ada dalam penelitian ini adalah jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 30 responden (100%).

Karakteristik responden berdasarkan usia

Tabel 1 Karakteristik responden berdasarkan umur di Kecamatan Bajo Barat

Kabupaten Luwu Tahun 2025

Umur

Frekuensi

%

35-37 tahun

17

56,7%

38-40 tahun

13

43,3%

Total

30

100%

                     Sumber: Data Primer 2025

Pada tabel 1 diatas dapat diketahui bahwa dari 30 responden terdapat 17 orang (56,7%) responden yang berumur 35-37 tahun yang merupakan responden yang paling banyak sedangkan responden yang paling sedikit terdapat 13 orang (43,3%) yaitu responden yang berumur 38-40 tahun.

Karakteristik responden berdasarkan pendidikan

Tabel 2. Karakteristik responden berdasarkan pendidikan di Kecamatan

 Bajo Barat Kabupaten Luwu Tahun 2025

Pendidikan

Frekuensi

%

SD

13

43,3%

SMA

11

36,7%

SMP

6

20,0%

Total

30

100%

                Sumber: Data Primer 2025

Pada tabel 2 diatas dapat diketahui bahwa dari 30 responden terdapat 13 (43,3%) responden yang paling terbanyak dengan pendidikan SD, responden dengan pendidikan SMA sebanyak 11 (36,7%), dan responden yang paling sedikit dengan pendidikan SMP yaitu 6 (20,0%).

 

Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan

Semua responden yang ada dalam penelitian ini adalah memeliki pekerjaan sebagai petani yaitu sebanyak 30 responden (100%).

Variabel yang diteliti

a.    Analisa univariat

1.    Distribusi frekuensi kadar asam urat Peminum Tuak

Tabel 3. Distribusi frekuensi kadar asam urat peminum tuak di

Kecamatan Bajo Barat Kabupaten Luwu Tahun 2025

Kadar Asam Urat Peminum Tuak

Frekuensi

%

Tinggi

11

36,7%

Ringan

4

13,3 %

Total

15

100%

                             Sumber: Data Primer 2025

 

Pada tabel 3 diatas dapat diketahui bahwa dari 15 responden terdapat 11 responden (36,7%) yang menderita penyakit asam urat tinggi dan 4 responden (13,3%) yang menderita penyakit asam urat ringan.

Distribusi Frekuensi kadar asam urat Bukan Peminum Tuak

Tabel 4. Distribusi frekuensi asam urat bukan peminum tuak di

Kecamatan Bajo Barat Kabupaten Luwu Tahun 2025

Kadar Asam Urat Bukan Peminum Tuak

Frekuensi

%

Ringan

9

20%

Normal

6

30%

Total

15

100%

                             Sumber: Data Primer 2025

Pada tabel 4 diatas menunjukkan bahwa dari 15 responden terdapat 9 responden (20%) yang menderita penyakit asam urat ringan dan 6 responden (30%) dengan kadar asam urat normal.

Analisa Bivariat

Tabel 5. Hasil Uji Mann Whitney Hubungan Konsumsi Tuak Terhadap Kadar Asam Urat Pada Dewasa 35-40 Tahun Di Desa Saronda Kecamatan Bajo Barat Kabupaten Luwu Tahun 2025

Kadar Asam Urat

Mean

Mann Whitney

Peminum Tuak

22,37

.000

Bukan Peminum Tuak

8,63

     Sumber: Data Primer 2025

Berdasarkan tabel 5 diatas menjelaskan bahwa hasil uji Mann Whitney pada kadar asam urat peminum tuak menunjukkan nilai P- Value 0,000 < 0,05 berarti Ha diterima yang artinya ada perbedaan signifikan kadar asam urat antara responden yang mengkonsumsi tuak dan yang bukan peminum tuak. Hal ini juga jelas terlihat pada perbedaan nilai mean. Nilai mean peminum tuak 22,37 dan nilai mean bukan peminum tuak 8,63 memperlihatkan perbedaan yang signifikan.

 

PEMBAHASAN

Hasil dari penelitian terdapat kadar asam urat pada peminum tuak dan bukan peminum tuak di Desa Saronda, Kecamatan Bajo barat, Kabupaten Luwu pada bulan September 2025 dengan jumlah sampel 15 orang peminum tuak dan 15 orang yang bukan peminum tuak.

Dalam penelitian ini diasumsikan bahwa tuak yang digunakan pada penelitian ini, memiliki karakteristik khas hasil fermentasi nira yang dicampur dengan berbagai bahan herbal seperti akar-akaran, kulit kayu, dan rempah. Fermentasi alami pada tuak pahit tersebut diasumsikan menghasilkan perubahan komposisi kimia, terutama terbentuknya etanol dan asam-asam organik, yang turut memengaruhi warna, aroma, dan rasa. Selain itu, bahan herbal yang ditambahkan dianggap mengandung senyawa bioaktif seperti fenolik dan flavonoid yang berperan terhadap rasa pahit sekaligus memberikan potensi aktivitas antioksidan. Tuak pahit yang digunakan dalam penelitian juga diasumsikan memiliki variasi kadar alkohol yang dipengaruhi oleh lamanya fermentasi serta kemungkinan kontaminasi mikroba, sehingga aspek kualitas dan keamanan tetap menjadi pertimbangan. Berdasarkan asumsi tersebut, tuak pahit dalam penelitian ini dipandang sebagai minuman fermentasi tradisional yang memiliki nilai ilmiah untuk diteliti dari aspek kimia, mikrobiologi, maupun sensori.

Jenis Kelamin

Tidak ada perempuan yang mempunyai kebiasaan minum tuak di lokasi penelitian sehingga semua responden yang ada dalam penelitian ini adalah jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 30 responden (100%).

Berdasarkan hasil penelitian, penelitian terkait dan teori, peneliti berpendapat bahwa laki-laki dominan cenderung asam urat karena Tuak manis mengandung kadar alkohol 4-5%. Alkohol dapat meningkatkan kadar asam urat di dalam serum melalui penurunan eksresi asam urat dan peningkatan produksi asam urat.

Alkohol juga dapat mempercepat proses pemecahan adenosin trifosfat dan produksi asam urat (Zhang, 2019 dalam A Subhan - 2022). Metabolisme etanol menjadi acetyl CoA menjadi adenin nukleotida meningkatkan terbentuknya adenosin monofosfat yang merupakan prekursor pembentuk asam urat (Neogi et al.,2014 dalam A Subhan - 2022).

Umur

Hasil penelitian berdasarkan umur yang dijelaskan Pada tabel 4.2 diatas dapat diketahui bahwa dari 30 responden terdapat 17 orang (56,7%) responden yang berumur 35-37 tahun yang merupakan responden yang paling banyak sedangkan responden yang paling sedikit terdapat 13 orang (43,3%) yaitu responden yang berumur 38-40 tahun.

Dari Data Indonesia menyatakan bahwa Prevalensi Asam Urat meningkat seiring bertambahnya usia. Pada kelompok usia 15-24 tahun prevalensinya sekitar (1,2%), sedangkan pada kelompok usia di atas 75 tahun prevalensinya bisa mencapai (18,9%) atau bahkan lebih. Semakin tinggi usia maka semakin besar peluangnya untuk terkena asam urat.

Dalam penelitian ini yang diteliti adalah kelompok usia 35-40 tahun kemudian dibagi menjadi dua kelompok lagi yaitu kelompok usia 35-37 tahun dan kelompok usia 38-40 tahun. Dari 30 responden, 13 orang berada pada rentang usian 38-40 tahun (tabel 4.1), jika di corosscheck ke master tabel, kelompok usia tersebut rata-rata memiliki kadar asam urat tinggi dibandingkan dengan kelompok usia 35-37 tahun. Hal ini sudah sesuai dengan pernyataan diatas, bahwa semakin tinggi usia, maka kadar asam urat cenderung meningkat.

Pendidikan

Hasil penelitian berdasarkan Pendidikan yang dijelaskan Pada tabel 4.3 diatas dapat diketahui bahwa dari 30 responden terdapat 13 (43,3%) responden yang paling terbanyak dengan pendidikan SD, responden dengan pendidikan SMA sebanyak 11 (36,7%), dan responden yang paling sedikit dengan pendidikan SMP yaitu 6 (20,0%).

Berdasarkan data penelitian, diasumsikan bahwa tingkat pendidikan berpengaruh terhadap pemahaman dan sikap responden terkait kesehatan, termasuk konsumsi tuak. Responden dengan pendidikan lebih tinggi cenderung memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang risiko kesehatan akibat konsumsi tuak, sedangkan responden dengan pendidikan lebih rendah mungkin memiliki pemahaman terbatas dan lebih rentan terhadap pola konsumsi yang berisiko. Dengan asumsi ini, pendidikan dapat menjadi faktor yang memengaruhi perilaku konsumsi tuak dan berpotensi berdampak pada kadar asam urat di antara responden. Sangat jelas dalam penelitian ini bahawa persentase terbanyak yang mempunyai kebiasaan minum tuak adalah yang berpendidikan rendah (SD) jika dibandingkan dengan yang berpendidikan SMP dan SMA.

Tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi nilai-nilai yang dianutnya, cara berfikir, cara pandang, bahkan persepsinya terhadap sesuatu. Mereka yang level pendidikannya lebih tinggi cenderung memiliki keinginan literasi yang tinggi sehingga cenderung untuk mencaritau risiko apa yang akan diperolehnya jika melakukan suatu tindakan apalagi tindakan yang berbau negatif. Mereka yang level pendidikannya lebih tinggi cenderung memiliki banyak pertimbangan untuk berperilaku negatif.

Pekerjaan

Semua responden yang ada dalam penelitian ini adalah memiliki pekerjaan sebagai petani yaitu sebanyak 30 responden (100%).

Prervalensi tertinggi menderita hiperurisemia pada pekerjaan petani/nelayan/buruh baik yang didiagnosis tenaga kesehatan (15,3%) maupun diagnosis tenaga kesehatan atau bergejala (31,2%). pada kelompok yang tidak bekerja sebesar 8,57%. Dari segi tempat tinggal, masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan menunjukkan prevalensi sebesar 6,56% (Profil Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2020).

Berdasarkan hasil penelitian, peneliti berpendapat bahwa petani cenderung menderita hiperurisemia karena asam urat adalah senyawa yang dihasilkan tubuh sebagai hasil dari pemecahan purin, suatu zat yang ditemukan dalam berbagai makanan dan minuman. Kondisi ini berpotensi menumpuk dalam tubuh dan membentuk kristal pada sendi, menyebabkan peradangan dan rasa nyeri yang dikenal sebagai artritis gout atau asam urat. Namun dalam penelitian ini tidak ada yang bisa dibandingkan karena semua yang diteliti adalah petani.

Kadar Asam Urat Peminum Tuak

Pada tabel 4.3 diatas dapat diketahui bahwa dari 15 responden peminum tuak, terdapat 11 responden (36,7%) yang menderita penyakit asam urat tinggi dan 4 responden (13,3%) yang menderita penyakit asam urat ringan.

Hiperurisemia didefinisikan sebagai peningkatan kadar asam urat dalam darah. Batasan hiperurisemia untuk pria dan wanita tidak sama. Seorang pria dikatakan menderita hiperurisemia bila kadar asam urat serumnya lebih dari 7,0 mg/dL. Sedangkan hiperurisemia pada wanita terjadi bila kadar asam urat serum di atas 6,0 mg/dL (Kemenkes, 2017).

Asam urat muncul sebagai serangan dari radang sendi yang timbul secara berulang. Gejala yang muncul biasanya baru menyerang satu sendi saja, seperti pembengkakan, kemerahan, nyeri yang sangat hebat, panas dan gangguan gerak dari sendi yang terserang secara mendadak, yang mencapai puncaknya kurang dari 24 jam.

Tuak manis mengandung kadar alkohol 4-5%. Alkohol dapat meningkatkan kadar asam urat di dalam serum melalui penurunan eksresi asam urat dan peningkatan produksi asam urat. Penurunan ekskresi asam urat dari ginjal terjadi karena alkohol dapat meningkatkan asam laktat pada darah yang menghambat ekskresi asam urat (Doherty, 2019 dalam A Subhan, 2022). Alkohol juga dapat mempercepat proses pemecahan adenosin trifosfat dan produksi asam urat (Zhang, 2019 dalam A Subhan, 2022).

Adanya hiperurisemia akan menimbulkan penyakit asam urat. Kemudian, terjadi penumpukan kristal asam urat pada sendi yang dapat menimbulkan masalah pada struktur sendi sehingga timbul radang berupa bengkak kemerahan ataupun nyeri terjadinya proses kristal asam urat apabila rentang kadar asam urat senilai 9-10 mg/dl (Noviyanti, 2015 dalam Septianingrum, D., et al 2024).

Berdasarkan hasil penelitian dan teori maka peneliti menyimpulkan bahwa peminum tuak memiliki hubungan dengan kadar asam urat karena asam urat adalah senyawa yang dihasilkan tubuh sebagai hasil dari pemecahan purin, suatu zat yang ditemukan dalam berbagai makanan dan minuman. Dalam kondisi normal, tubuh mampu membuang kelebihan asam urat melalui ginjal dan kemudian dikeluarkan bersama urin, namun karena selalu diberi asupan alkohol dengan kadar yang tinggi maka terjadi penurunan ekskresi asam urat dari ginjal terjadi karena alkohol dapat meningkatkan asam laktat pada darah yang menghambat ekskresi asam urat.

Kadar Asam Urat Bukan Peminum Tuak

Pada tabel 6. dapat diketahui bahwa dari 15 responden terdapat 9 responden (20%) yang menderita penyakit asam urat ringan dan 6 responden (30%) yang kadar asam urat normal. Tidak ditemukan responden dengan kadar asam urat tinggi. Dari sini sudah bisa kita bandingkan dan nampak jelas bahwa sudah ada perbedaan kadar asam urat antara peminum tuak dan bukan peminum tuak. Kadar asam urat peminum tuak berada pada rentan sedang-tinggi, sedangkan kadar asam urat bukan peminum tuak berada pada rentan normal-sedang. Tanpa olah data pun sudah terlihat perbedaan yang jelas seperti tabel berikut:

Tabel 6. Perbandingan kadar asam urat peminum tuak dan bukan peminum

tuak di Kecamatan Bajo Barat Kabupaten Luwu Tahun 2025

Kadar Asam Urat

Kategori

Frekuensi

%

Peminum Tuak

Tinggi

11

36,7%

Ringan

4

13,3 %

Bukan Peminum Tuak

Ringan

9

20%

Normal

6

30%

 

Hasil Uji Mann Whitney

Hubungan Konsumsi Tuak Terhadap Kadar Asam Urat Pada Dewasa 35-40 Tahun Di Desa Saronda Kecamatan Bajo Barat Kabupaten Luwu Tahun 2025.

Berdasarkan tabel 4.5 diatas menjelaskan bahwa hasil uji Mann Whitney pada kadar asam urat peminum tuak menunjukkan nilai P- Value 0,000 < 0,05 berarti Ha diterima yang artinya ada perbedaan signifikan kadar asam urat antara responden yang mengkonsumsi tuak dan yang bukan peminum tuak. Hal ini juga jelas terlihat pada perbedaan nilai mean. Nilai mean peminum tuak 22,37 dan nilai mean bukan peminum tuak 8,63 memperlihatkan perbedaan yang signifikan.

Tuak adalah jenis minuman yang di buat dari hasil fermentasi bermacam-macam buah, tuak terbuat dari cairan yang di ambil dari tanaman seperti nira aren (Nira rasanya manis, tidak berwarna serta harum bila dalam keadaan segar) atau legen dari pohon siwalan, atau bahan minuman/buah yang mengandung gula (Aisyah, 2018 dalam Yesi Iryani Milamau, Y. 2024).

Sebagaimana fenomena-fenomena yang terjadi dengan mengonsumsi tuak yang berlebihan dapat meningkakan resiko asam urat pada peminumnya. Hal ini disebabkan oleh kandungan purin dalam tuak yang dapat meningkatkan kadar asam urat dalam darah, serta alcohol dalam tuak yang dapat mengganggu metabolisme purin dan fungsi ginjal.

Dalam penelitian terdapat hambatan yang ditemukan saat penelitian berlangsung, hambatan pada penelitian ini adalah sulitnya menemukan responden yang tepat, karena tuak pahit hanya diproduksi dan dikonsumsi oleh kelompok masyarakat tertentu, serta beberapa calon responden enggan berpartisipasi. Untuk mengatasi hal ini, digunakan teknik Stratified Random Sampling, di mana populasi dibagi menjadi beberapa strata berdasarkan karakteristik penting seperti lokasi produksi atau pengalaman produsen, kemudian responden dipilih secara acak dari tiap strata. Metode ini memastikan setiap kelompok terwakili, meningkatkan representativitas sampel, dan membantu menjaga validitas hasil penelitian meskipun jumlah responden terbatas.

 

SIMPULAN

Berdasarkan data hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti tentang hubungan antara komsumsi tuak dan kadar asam urat pada dewasa di desa Saronda Kecamatan Bajo barat Kabupaten Luwu Tahun 2025, dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian pada kadar asam urat peminum tuak menunjukkan  P- Value 0,000 < 0,05 berarti Ha diterima yang artinya ada hubungan konsumsi tuak terhadap kadar asam urat pada peminum tuak.

 

SARAN

1.         Bagi Responden di harapkan mampu menjadi sebuah motivasi sekaligus evaluasi untuk lebih menjaga kesehatan dengan pola hidup sehat, mengurangi perilaku kebiasaan konsumsi tuak dan saling mengingatkan tentang bahaya kadar asam urat yang tinggi.

2.         Bagi Institusi Kesehatan. Peneliti diharapkan dapat meningkatkan perhatian tenaga Kesehatan dalam mengedukasikan tentang bahaya konsumsi tuak terhadap kadar asam urat.

3.         Bagi Institusi STIKes Datu Kamanre. Diharapkan dengan adanya skripsi ini dapat dijadikan referensi dan digunakan bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian selanjutnya unutk mempermudah sehaingga mahasiswa akan mampu mnegetahui mengenai pembelajaran tentang Hubungan Antara Konsumsi Tuak Dengan Kadar Asam Urat Pada Orang Dewasa.

4.         Bagi Tempat Peneliti. Diharapkan pemerintah setempat dapat bekerja sama dengan pihak Kesehatan untuk meningkatkan kesadaran Masyarakat tentang bahaya konsumsi tuak yang berlebihan dan memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga Kesehatan .

5.         Bagi Peneliti. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian berikutnya tentang hubungan konsusmsi tuak terhadap kadar asam urat pada dewasa

 

REFERENSI

Amrullah, A. A. A., Fatimah, K. S., Nandy, N. P., et al. (2023). Gambaran asam urat pada lansia di Posyandu Melati Kecamatan Cipayung Jakarta Timur. Jurnal Ventilator, 1(2), 162–175. https://doi.org/10.59680/ventilator.v1i2.317

AR, A. R., & Wahab, A. (2022). Gambaran peminum tuak (Studi kasus pada warga Sawere Bontoraja Bulukumba). Jurnal Berita Sosial, 7(1), 51–60.

Annisya, P. (2019). Hubungan kadar LDL kolesterol dengan asam urat pada laki-laki penderita arthritis urika di RSU Mayjen H. A. Thalib Kerinci [Skripsi, STIKes Perintis Padang].

Cahyani, S. D. (2023). Pengaruh profitabilitas dan ukuran perusahaan terhadap audit delay pada perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2019–2021 [Skripsi, STIE Malangkucecwara].

Dewi, P. C. (2023). Pengaruh pemberian jus nanas (Ananas comosus L. Merr) terhadap kadar asam urat pada tikus jantan galur Wistar (Rattus norvegicus) hiperurisemia [Karya ilmiah, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta].

Dharma, S. (2022). Pengaruh kecakapan literasi digital terhadap kinerja guru sekolah menengah kejuruan di Kabupaten Gowa. Manajemen Pendidikan, 17(2), 117–129.

Emilia, V., Widiastuti, S. K., & Asnindari, L. N. (2021). Hubungan aktivitas fisik dengan kadar asam urat pada lansia: Literature review [Karya ilmiah, Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta].

Fentiana, N. (2019). Kebiasaan mengkonsumsi tuak dan persepsi sehat masyarakat Desa Bukit Selamat Kecamatan Besitang Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 19(3), 620–622.

Fidayanti, S. M. A. S. (2019). Perbedaan jenis kelamin dan usia terhadap kadar asam urat pada penderita hiperurisemia. Jurnal Medika Udayana, 8(12). https://ojs.unud.ac.id

Juliantini, N. K., Fihiruddin, & Jiwantoro, Y. A. (2022). Pengaruh konsumsi tuak terhadap kadar asam urat pada masyarakat dewasa di Desa Jagaraga Timur. Jurnal Analis Medika Biosains, 9(1), 15. https://doi.org/10.32807/jambs.v9i1.256

Munte, R. S., Jailani, M. S., & Siregar, I. (2023). Jenis penelitian eksperimen dan noneksperimen (Design kausal komparatif dan design korelasional). Jurnal Pendidikan Tambusai, 7(3), 1–5.

Ngadiman, A. T. W. (2022). Hubungan pola makan dan kadar glukosa darah dengan kadar asam urat pada pasien diabetes melitus tipe II di Puskesmas Tamalanrea [Skripsi, Universitas Hasanuddin].

Nu'man, M. (2023). Gambaran kadar asam urat pada peminum alkohol di Desa Melaya Kecamatan Melaya Kabupaten Jembrana [Karya ilmiah].

Nuranti, Z., Maimaznah, & Anggraini, A. A. (2020). Pengaruh pendidikan kesehatan dan pemberian daun salam pada pasien dengan asam urat di wilayah RT 10 Kelurahan Murni. Jurnal Abdimas Kesehatan, 2(1), 50. https://doi.org/10.36565/jak.v2i1.90

Pratama, G. A. (2024). Gambaran kadar asam urat pada peminum tuak di Desa Jinengdalem Kabupaten Buleleng [Karya ilmiah, Poltekkes Kemenkes Denpasar].

Septianingrum, D., Sabrina, & Fikri, A. M. (2024). Hubungan frekuensi pangan tinggi purin, aktivitas fisik, dan status gizi dengan kadar asam urat pada pra-lansia di Cikarang Barat. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 10(8), 347–358. https://doi.org/10.5281/zenodo.11095993

Singh, A., Santoso, A. H., Kawi, J. S., & Destra, E. (2025). Pemeriksaan rutin asam urat dalam rangka pencegahan timbulnya arthritis gout pada kelompok usia produktif di wilayah Krendang. [Nama jurnal tidak dicantumkan], 45–54.

Sumual, C., & Katuuk, M. (2023). Gambaran kadar asam urat pada pria dengan kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol di Desa Noongan II Kecamatan Langowan Barat. Mapalus Nursing Science Journal, 1(2), 78–83.

Susilawati, & Ginting, S. O. B. (2023). [Judul artikel tidak dicantumkan]Indonesian Journal of Public Health, 1(1), 70–78. https://jurnal.academiacenter.org/index.php/IJOH

 

No comments:

Post a Comment