Gerak
Eco: Edukasi dan Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pemanfaatan Sampah Organik
Menjadi Eco-Enzyme
GERAK
ECO: Community Education and Empowerment for Transforming Organic Waste into
Eco-Enzyme
Popy
Irawati1, Imas yoyoh2, Abdul Haris3, Khurairah4,
Muhamad Riski Rahmatullah5
1,2,4Fakultas Ilmu
Kesehatan Universitas Muhammadiyah Tangerang
3,5Fakultas Ilmu
Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Tangerang
Email:
popyners@gmail.com
ABSTRAK
Permasalahan
sampah organik rumah tangga masih menjadi tantangan lingkungan yang membutuhkan
keterlibatan aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.
Sampah organik seperti kulit buah, sisa sayuran, dan bahan organik rumah tangga
lainnya memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang lebih bernilai guna,
salah satunya eco-enzyme. Eco-enzyme merupakan cairan hasil fermentasi bahan
organik, sumber gula, dan air yang telah dikembangkan sebagai salah satu
alternatif pemanfaatan limbah organik. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat
(PkM) ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat
dalam pengelolaan sampah organik melalui program GERAK ECO (Gerakan Edukasi dan
Aksi Komunitas melalui Eco-Enzyme). Kegiatan dilaksanakan di Desa Kayu Agung
Kabupaten Tangerang pada Juli 2026 dan melibatkan 25 peserta. Metode kegiatan
menggunakan pendekatan edukatif dan partisipatif melalui identifikasi masalah,
pre-test, edukasi pengelolaan sampah dan prinsip 3R, demonstrasi, praktik
pembuatan eco-enzyme, pendampingan proses fermentasi, serta evaluasi
menggunakan post-test dan observasi keterampilan. Hasil kegiatan menunjukkan 88%
peserta terjadi peningkatan pengetahuan dan 65 % peserta mampu mendemontrasikan
keterampilan dalam melakukan pemilahan sampah serta pembuatan eco-enzyme.
Pendekatan edukasi yang dikombinasikan dengan praktik langsung mendorong
keterlibatan aktif masyarakat dan meningkatkan pemahaman mengenai pemanfaatan
sampah organik. Program GERAK ECO berpotensi menjadi strategi pemberdayaan
masyarakat dalam mendukung pengelolaan sampah berbasis sumber dan perilaku
lingkungan yang lebih berkelanjutan.
Kata
Kunci: eco-enzyme; edukasi; sampah
organik; pengelolaan sampah
ABSTRACT
Household
organic waste remains a significant environmental challenge that requires
active community involvement in waste management at the source. Organic waste,
such as fruit peels, vegetable residues, and other household organic materials,
has the potential to be processed into value-added products, one of which is
eco-enzyme. Eco-enzyme is a liquid product produced through the fermentation of
organic materials, a sugar source, and water, and has been developed as an
alternative approach to organic waste utilization. This Community Service
Program aimed to improve community knowledge and skills in organic waste
management through the GERAK ECO (Community Education and Action Movement
through Eco-Enzyme) program. The activity was conducted in Kayu Agung Village,
Tangerang Regency, in July 2026, involving 23 participants. The program
employed an educational and participatory approach consisting of problem
identification, a pre-test, education on waste management and the 3R principles
(reduce, reuse, and recycle), demonstrations, hands-on eco-enzyme production,
fermentation process mentoring, and evaluation through a post-test and skills
observation. The results showed that 88% of participants demonstrated an
improvement in knowledge, while 65% were able to demonstrate skills in waste
segregation and eco-enzyme production. The combination of educational
activities and hands-on practice encouraged active community participation and
enhanced participants' understanding of organic waste utilization. The GERAK
ECO program has the potential to serve as a community empowerment strategy to
promote source-based waste management and more sustainable environmental
practices.
Keywords: community
empowerment; eco-enzyme; waste management; environmental education.
Article Info
Received date: 25
July 2026 Revised date: 1 August 2026 Accepted date: 10 August 2026
PENDAHULUAN
Permasalahan sampah merupakan salah satu
tantangan lingkungan yang memerlukan penanganan secara komprehensif dan
berkelanjutan. Peningkatan jumlah penduduk, aktivitas konsumsi, dan perubahan
pola kehidupan masyarakat berkontribusi terhadap meningkatnya timbulan sampah,
termasuk sampah yang berasal dari aktivitas rumah tangga. Pengelolaan sampah
tidak hanya berorientasi pada kegiatan pengumpulan dan pembuangan, tetapi perlu
dimulai dari upaya pengurangan dan pengolahan sampah sejak dari sumbernya
(Republik Indonesia, 2008). Pada tingkat global, limbah makanan dan bahan
organik menjadi perhatian penting dalam agenda pembangunan berkelanjutan. Food
Waste Index Report 2024 melaporkan bahwa limbah makanan masih terjadi dalam
jumlah besar pada tingkat rumah tangga, pelayanan makanan, dan ritel. Kondisi
tersebut menunjukkan pentingnya perubahan perilaku dan pengembangan strategi
pengurangan serta pemanfaatan kembali limbah organik (United Nations
Environment Programme (UNEP), 2024).
Di Indonesia, pengelolaan sampah telah
memiliki dasar hukum melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang
Pengelolaan Sampah. Undang-undang tersebut menekankan pengelolaan sampah secara
komprehensif dari hulu sampai hilir, termasuk pengurangan sampah dan
peningkatan peran masyarakat. Oleh karena itu, pengelolaan sampah rumah tangga
perlu diarahkan pada pemilahan, pengurangan, penggunaan kembali, dan pengolahan
sampah yang masih memiliki nilai manfaat. Salah satu permasalahan yang sering
ditemukan di tingkat masyarakat adalah belum optimalnya pemilahan sampah.
Sampah organik dan anorganik masih sering dicampur dan kemudian dibuang tanpa
melalui proses pemanfaatan. Kondisi tersebut menyebabkan sampah organik yang
sebenarnya dapat diolah kembali menjadi produk bermanfaat kehilangan
potensinya.
Pembuatan eco-enzyme adalah salah satu
inovasi yang dapat diperkenalkan kepada masyarakat. Eco-enzyme merupakan produk
hasil fermentasi limbah organik, terutama limbah buah dan sayuran, dengan air
dan sumber gula. Kajian mengenai produksi, karakteristik, dan aplikasi
eco-enzyme menunjukkan bahwa bahan organik rumah tangga dapat dimanfaatkan
melalui proses fermentasi, meskipun karakteristik produk dapat dipengaruhi oleh
jenis bahan dan proses yang digunakan (Gumilar et al., 2023).
Kajian terbaru mengenai eco-enzyme juga
menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah organik melalui fermentasi memiliki
potensi sebagai salah satu pendekatan pengelolaan sampah yang lebih
berkelanjutan. Namun, hasil dan karakteristik produk dapat berbeda bergantung
pada bahan baku, formulasi, dan proses fermentasi, sehingga standardisasi
prosedur dan evaluasi produk tetap diperlukan (Agustin & Widyaningrum,
2026). Penerapan eco-enzyme dalam kegiatan berbasis masyarakat telah dilakukan
di berbagai wilayah di Indonesia. Abidin et al. mengembangkan kegiatan
pemanfaatan sampah organik menjadi eco-enzyme untuk meningkatkan literasi
lingkungan masyarakat. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa edukasi mengenai
pengelolaan sampah dapat dikombinasikan dengan kegiatan praktik yang
menghasilkan produk bernilai guna (Abidin et al., 2023).
Kegiatan pengembangan eco-enzyme berbasis
eco-community juga menunjukkan peningkatan pemahaman masyarakat setelah
dilakukan pelatihan. Hanum et al. (2022) melaporkan peningkatan rata-rata
pemahaman peserta berdasarkan hasil pre-test dan post-test setelah pelaksanaan
program pengolahan limbah organik menjadi eco-enzyme. Selain itu, kegiatan
pelatihan eco-enzyme di kawasan urban menunjukkan bahwa sampah organik dapat
diperkenalkan sebagai sumber daya yang dapat diolah menjadi produk multifungsi
melalui pendekatan sosialisasi dan pelatihan kepada masyarakat (Budiyanto et
al., 2022).
Penelitian dan kegiatan pengabdian lainnya
juga memperlihatkan bahwa pengolahan sampah organik menjadi eco-enzyme dapat
menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan
masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga (Sudaryantiningsih et al.,
2023). Kegiatan serupa yang lebih baru juga melaporkan penggunaan pendekatan
edukasi dan aksi masyarakat dalam pemanfaatan limbah organik rumah tangga
menjadi eco-enzyme sebagai bagian dari upaya keberlanjutan lingkungan
(Sutiharni et al., 2025).
Program pengabdian mengenai eco-enzyme
tidak hanya berpotensi meningkatkan aspek pengetahuan, tetapi juga dapat
diarahkan pada perubahan praktik dan pembentukan perilaku pengelolaan sampah.
Hal tersebut terlihat pada kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasis eco-enzyme
yang menggunakan pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kapasitas
masyarakat dalam mengolah limbah organik rumah tangga (Haq et al., 2026).
Berdasarkan permasalahan tersebut, diperlukan kegiatan pemberdayaan yang tidak
hanya memberikan edukasi, tetapi juga membangun keterampilan masyarakat melalui
pengalaman langsung. Oleh karena itu, program ini dikembangkan dengan nama
GERAK ECO (Gerakan Edukasi dan Aksi Komunitas melalui Eco-Enzyme). Program
GERAK ECO mengintegrasikan kegiatan edukasi pengelolaan sampah, pemilahan
sampah organik, penerapan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle), praktik
pembuatan eco-enzyme, dan pendampingan masyarakat. Kegiatan ini bertujuan
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola sampah
organik secara lebih produktif dan berkelanjutan.
METODE
Desain
dan Lokasi Kegiatan
Kegiatan ini merupakan program Pengabdian
kepada Masyarakat menggunakan pendekatan edukatif dan partisipatif. Kegiatan
dilaksanakan di Desa Kayu Agung, kecamatan Sepatan kabupaten Tangerang .
Sasaran kegiatan adalah ibu rumah tangga, kader
kesehatan dan Masyarakat umum sebanyak 25 orang.
Tahapan
Kegiatan
Pelaksanaan
program GERAK ECO terdiri atas lima tahap;
Tahap
1. Identifikasi Masalah dan Persiapan
Tahap awal dilakukan melalui koordinasi
dengan perangkat Desa dan RW dan RT setempat melaksanakan identifikasi
permasalahan terkait pengelolaan sampah. Persiapan meliputi penyusunan materi,
instrumen pre-test dan post-test, media edukasi, serta alat dan bahan praktik.
Tahap
2. Pre-test
Peserta diberikan pre-test untuk
mengetahui tingkat pengetahuan awal mengenai:jenis sampah;sampah organik dan
anorganik;dampak sampah terhadap lingkungan;prinsip 3R;pemilahan sampah; dan pemanfaatan
sampah organik menjadi eco-enzyme.
Tahap
3. Edukasi GERAK ECO
Materi edukasi mencakup: konsep
pengelolaan sampah berbasis sumber; klasifikasi sampah; dampak pengelolaan
sampah yang tidak tepat; prinsip 3R; pemilahan sampah organik; konsep dasar
eco-enzyme; dan potensi pemanfaatan produk sesuai karakteristik dan bukti yang
tersedia. Edukasi dilakukan melalui ceramah interaktif, diskusi, dan media
visual menggunakan video
Tahap
4. Praktik Pembuatan Eco-Enzyme
Peserta melakukan praktik pembuatan
eco-enzyme menggunakan limbah organik rumah tangga yang sesuai, seperti kulit
buah dan sisa sayuran.
Bahan
utama terdiri atas:
limbah organik buah atau sayuran; sumber
gula;air; dan wadah fermentasi dengan menggunakan gallon air bekas yang di
modifikasi. Salah satu formulasi yang banyak digunakan dalam literatur adalah perbandingan
bahan organik, sumber gula, dan air sebesar 1:3:10, meskipun prosedur kegiatan
harus disesuaikan dengan metode yang benar-benar digunakan dan karakteristik
bahan lokal (Gumilar et al., 2023).
Tahapan
praktik meliputi:
Memilah limbah organik; membersihkan dan
mencacah bahan; menyiapkan wadah fermentasi; mencampurkan bahan sesuai
formulasi kegiatan; memberikan label pada wadah; menyimpan bahan untuk proses
fermentasi; melakukan pemantauan berkala; dan melakukan evaluasi produk setelah
periode fermentasi sesuai metode yang digunakan.
Karena proses fermentasi eco-enzyme dapat
berlangsung beberapa bulan dan karakteristik produk dipengaruhi oleh formulasi
serta bahan baku, pendampingan dan pemantauan selama fermentasi menjadi bagian
penting dalam program (Agustin & Widyaningrum, 2026).
Tahap
5. Evaluasi
Evaluasi dilakukan melalui: perbandingan
nilai pre-test dan post-test; observasi keterampilan peserta; tingkat
partisipasi peserta; keberhasilan proses pembuatan produk; dan rencana
keberlanjutan program.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Karateristik
Peserta Kegiatan
Kegiatan pengabdian masyarakat diikuti
oleh 25 orang. Karakteristik peserta dianalisis berdasarkan usia, jenis
kelamin, dan tingkat Pendidikan untuk mendapatkan gambaran faktor yang
mempengaruhi pengetahuan dan keterampilan.
Tabel 1. Karakteristik peserta kegiatan
|
Karakteristik |
Kategori |
n |
% |
|
Usia |
Dewasa (18-59 th ) |
22 |
88 |
|
|
Lansia ( ≥ 60 th) |
3 |
12 |
|
Jenis Kelamin |
Laki-laki |
2 |
8 |
|
|
Perempuan |
23 |
92 |
|
Pendidikan |
Tidak sekolah |
|
|
|
|
SD |
3 |
12 |
|
|
SMP |
17 |
68 |
|
|
SMA |
5 |
20 |
|
|
Perguruan tinggi |
0 |
0 |
Berdasarkan karakteristik peserta, program
GERAK ECO melibatkan sebanyak 25 peserta. Sebagian besar peserta berada pada
kelompok usia dewasa (18–59 tahun), yaitu sebanyak 22 orang (88%), sedangkan
berdasarkan jenis kelamin, mayoritas peserta adalah perempuan sebanyak 23 orang
(92%), sedangkan laki-laki sebanyak 2 orang (8%). Berdasarkan tingkat
pendidikan, sebagian besar peserta memiliki pendidikan terakhir SMP sebanyak 17
orang (68%), diikuti SMA sebanyak 5 orang (20%) dan SD sebanyak 3 orang (12%).
Pelaksanaan
Program GERAK ECO
Pelaksanaan kegiatan diawali dengan
pengukuran pengetahuan peserta melalui pre-test. Selanjutnya dilakukan edukasi
mengenai permasalahan sampah, pemilahan sampah organik dan anorganik, prinsip
3R, serta konsep pemanfaatan limbah organik menjadi eco-enzyme. Pendekatan
edukasi pengelolaan sampah penting karena peningkatan pengetahuan dan kesadaran
menjadi salah satu dasar perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah ( Ardianti
et al.,2024) juga menerapkan edukasi pengelolaan sampah organik sebagai bagian
dari upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya penanganan
sampah.
Setelah edukasi, peserta mengikuti
demonstrasi dan praktik pembuatan eco-enzyme. Pendekatan learning by doing
digunakan agar peserta memperoleh pengalaman langsung dalam memilah bahan
organik dan mengikuti tahapan fermentasi.
Pendekatan praktik juga telah digunakan
dalam berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasis eco-enzyme (Prameswari,
2026), misalnya, melaporkan kegiatan penyuluhan dan demonstrasi pembuatan eco-enzyme
sebagai strategi untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu rumah
tangga dalam pengelolaan sampah organik.
Perubahan
Pengetahuan Peserta
Tabel 2. Pengetahuan Peserta Edukasi tentang
Pengelolaan sampah
|
Kategori |
Pretest |
Posttest |
||
|
|
n |
% |
n |
% |
|
Tinggi |
0 |
0 |
7 |
28 |
|
Sedang |
3 |
12 |
15 |
60 |
|
Rendah |
22 |
88 |
3 |
12 |
|
TOTAL |
25 |
100 |
25 |
100 |
Berdasarkan table 2, maka dapat diketahui
bahwa terdapat peningkatan pengetahuan yang cukup tinggi pada posttest peserta
edukasi yaitu sebanyak 88 % tingkat pengetahuan rendah dan 12% dengan
pengetahuan rendah berubah menjadi 60 % pengetahuan sedang dan 28% pengetahuan
tinggi, walaupun masih ada 12% yang masih memiliki pengetahuan rendah.
Peningkatan
Keterampilan Peserta
Tabel 3. Evaluasi Kemampuan Praktik Peserta
|
Indikator keterampilan |
Sebelum |
Sesudah |
||
|
n |
% |
n |
% |
|
|
Mampu
membedakan sampah organik dan an organik |
7 |
28 |
23 |
92 |
|
Mampu
memilah sampah organik |
9 |
36 |
23 |
92 |
|
Mampu
memilih bahan yang sesuai |
8 |
32 |
22 |
88 |
|
Mampu
menyiapkan bahan eco enzyme |
0 |
0 |
18 |
72 |
|
Mampu
mengikuti proses pencampuran |
0 |
0 |
18 |
72 |
Tabel diatas menunjukan adanya peningkatan
yang tinggi pada keterampilan peserta saat dilakukan praktik, terjadi
peningkatan ratarata 65 % pada semua indicator keterampilan yang ditetapkan.
PEMBAHASAN
Pengelolaan sampah organik rumah tangga
merupakan salah satu bagian penting dalam upaya mewujudkan pengelolaan sampah
yang berkelanjutan. Sampah organik, terutama sisa makanan, kulit buah, dan sisa
sayuran, memiliki proporsi yang cukup besar dalam timbulan sampah rumah tangga
dan apabila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan berbagai permasalahan
lingkungan. Pengelolaan sampah pada tingkat sumber menjadi penting karena dapat
mengurangi jumlah sampah yang harus diangkut dan dibuang ke tempat pemrosesan
akhir sekaligus meningkatkan peluang pemanfaatan kembali bahan organik.
Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip pengelolaan sampah melalui
pengurangan dan penanganan sampah sebagaimana diatur dalam kebijakan nasional
mengenai pengelolaan sampah (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Republik Indonesia, 2022).
Program GERAK ECO (Gerakan Edukasi dan
Aksi Komunitas melalui Eco-Enzyme) dirancang sebagai bentuk pemberdayaan
masyarakat yang mengintegrasikan edukasi mengenai pengelolaan sampah, prinsip
3R (reduce, reuse, recycle), pemilahan sampah, serta praktik pemanfaatan sampah
organik menjadi eco-enzyme. Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat sebagai
subjek kegiatan, bukan hanya sebagai penerima informasi. Pemberdayaan melalui
pendidikan dan praktik langsung penting karena perubahan perilaku lingkungan
membutuhkan peningkatan pengetahuan sekaligus kesempatan bagi masyarakat untuk
mencoba dan menerapkan perilaku yang dipelajari.
Hasil kegiatan menunjukkan bahwa 88%
peserta mengalami peningkatan pengetahuan setelah mengikuti program GERAK ECO.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa metode edukasi yang digunakan dapat diterima
dengan baik oleh sebagian besar peserta. Peningkatan pengetahuan dapat menjadi
tahap awal dalam membentuk kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemilahan
dan pengolahan sampah organik. Hasil ini sejalan dengan kegiatan pengabdian
masyarakat yang dilakukan oleh Kahar et al, yang menunjukkan peningkatan
pengetahuan peserta setelah diberikan edukasi dan pelatihan mengenai pengolahan
sampah organik melalui eco-enzyme (Kahar et al., 2023). Temuan serupa juga
dilaporkan oleh Marlinda et al., yang menunjukkan bahwa edukasi dan pelatihan
pemanfaatan sampah organik dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan
masyarakat dalam menghasilkan produk yang lebih ramah lingkungan (Marlinda et
al., 2023).
Peningkatan pengetahuan dalam kegiatan
GERAK ECO tidak terlepas dari penggunaan metode edukasi yang dikombinasikan
dengan demonstrasi dan praktik. Penyampaian materi secara teoritis memberikan
dasar pengetahuan mengenai jenis sampah, pemilahan, prinsip 3R, dan konsep
eco-enzyme, sedangkan demonstrasi memberikan gambaran konkret mengenai tahapan
pengolahan sampah organik. Selanjutnya, praktik langsung memungkinkan peserta
mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh. Metode pembelajaran yang
menggabungkan informasi dan pengalaman langsung lebih memungkinkan peserta
memahami hubungan antara konsep yang diberikan dengan permasalahan yang mereka
hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut menjadi penting karena
pengetahuan dan keterampilan merupakan dua aspek yang berbeda. Seseorang dapat
mengetahui manfaat dan tahapan pembuatan eco-enzyme, tetapi belum tentu mampu
melakukan seluruh prosedur dengan benar. Hasil GERAK ECO memperlihatkan kondisi
tersebut, yaitu peningkatan pengetahuan mencapai 88%, sedangkan peserta yang
mampu mendemonstrasikan keterampilan mencapai 65%. Perbedaan sebesar 23%
tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara pemahaman kognitif dan kemampuan
praktis. Keterampilan membutuhkan proses pembelajaran yang lebih intensif
melalui demonstrasi, latihan, pengulangan, pengalaman langsung, serta umpan
balik dari fasilitator.
Dalam pembuatan eco-enzyme, peserta tidak
hanya dituntut memahami konsep, tetapi juga harus mampu melakukan beberapa
tahapan secara berurutan, seperti memilah bahan organik yang sesuai, menyiapkan
bahan, melakukan pencampuran, menggunakan wadah yang tepat, dan memahami proses
fermentasi Parbuntari et al. (2023). Dengan demikian, capaian keterampilan
sebesar 65% dapat dipandang sebagai hasil yang cukup baik, tetapi sekaligus
menunjukkan perlunya pendampingan lanjutan. Dalam kegiatan pelatihan eco-enzyme
juga menerapkan praktik langsung dan pemantauan proses fermentasi sebagai
bagian dari pembelajaran. Hal tersebut menunjukkan bahwa pembuatan eco-enzyme
merupakan proses yang membutuhkan keberlanjutan dan tidak berhenti pada
kegiatan pelatihan satu hari.
Secara konseptual, eco-enzyme merupakan
produk cair hasil fermentasi bahan organik dengan sumber gula dan air. Bahan
organik yang berasal dari limbah buah dan sayuran dapat dimanfaatkan sebagai
bahan baku sehingga memiliki potensi untuk mengurangi jumlah sampah organik
yang dibuang. Gumilar et al. (2023) menjelaskan bahwa karakteristik eco-enzyme
dipengaruhi oleh bahan baku dan kondisi proses fermentasi. Oleh karena itu,
edukasi kepada masyarakat perlu mencakup tidak hanya manfaat eco-enzyme, tetapi
juga prinsip dasar pembuatan dan faktor yang memengaruhi keberhasilan proses
fermentasi.
Dalam konteks pengelolaan sampah berbasis
masyarakat, pemanfaatan sampah organik menjadi eco-enzyme dapat memberikan
nilai tambah terhadap bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah. Namun,
program GERAK ECO perlu ditempatkan sebagai salah satu alternatif pengelolaan
sampah organik dan bukan sebagai satu-satunya solusi. Prinsip utama pengelolaan
sampah tetap perlu dimulai dari pengurangan sampah pada sumber, penggunaan
kembali bahan yang masih dapat digunakan, pemilahan, dan pengolahan sampah
sesuai karakteristiknya. Pemanfaatan eco-enzyme merupakan bagian dari upaya
meningkatkan nilai guna sampah organik setelah proses pemilahan dilakukan.
Karakteristik peserta juga menjadi aspek
yang penting dalam memahami hasil kegiatan. Sebagian besar peserta GERAK ECO
berada pada kelompok usia dewasa (18–59 tahun), yaitu sebanyak 22 orang (88%),
sedangkan lansia sebanyak 3 orang (12%). Dominasi kelompok usia dewasa
menunjukkan bahwa sebagian besar peserta berada pada usia yang secara sosial
dan fungsional masih aktif dalam aktivitas rumah tangga dan komunitas.
Pengalaman peserta dalam aktivitas sehari-hari dapat menjadi modal untuk
menghubungkan informasi baru mengenai pengelolaan sampah dengan pengalaman yang
telah dimiliki sebelumnya. Meskipun demikian, usia tidak dapat dianggap sebagai
penyebab langsung peningkatan pengetahuan maupun keterampilan karena keberhasilan
pembelajaran juga dipengaruhi oleh pengalaman, motivasi, metode edukasi, dan
keterlibatan peserta.
Berdasarkan jenis kelamin, peserta
perempuan mendominasi kegiatan, yaitu sebanyak 25 orang (92%), sedangkan
laki-laki sebanyak 2 orang (8%). Komposisi ini menunjukkan bahwa perempuan
merupakan kelompok yang sangat potensial untuk dilibatkan dalam program
pengelolaan sampah rumah tangga. Kegiatan pemilahan sampah dan pemanfaatan sisa
bahan makanan memiliki keterkaitan dengan aktivitas domestik sehari-hari
sehingga pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat berpotensi
diterapkan kembali di lingkungan keluarga. Namun, keterlibatan laki-laki tetap
perlu ditingkatkan dalam kegiatan berikutnya karena pengelolaan sampah
merupakan tanggung jawab seluruh anggota keluarga dan masyarakat.
Dari aspek pendidikan, sebagian besar
peserta memiliki pendidikan terakhir SMP, yaitu 17 orang (68%), diikuti SMA
sebanyak 5 orang (20%) dan SD sebanyak 3 orang (12%). Kondisi tersebut
menunjukkan bahwa mayoritas peserta memiliki latar belakang pendidikan dasar
dan menengah. Oleh karena itu, pemilihan metode penyampaian materi menjadi
komponen penting dalam keberhasilan program. Materi yang terlalu teoritis dapat
menyulitkan peserta, sedangkan penggunaan bahasa sederhana, gambar,
demonstrasi, dan praktik langsung dapat membantu peserta memahami informasi
secara lebih konkret. Dalam kegiatan GERAK ECO, pendekatan tersebut menjadi
relevan karena tujuan kegiatan tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi
juga menghasilkan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari.
Keberhasilan program juga dapat
dipengaruhi oleh tingkat partisipasi masyarakat. Pendekatan partisipatif
memungkinkan peserta terlibat dalam proses identifikasi masalah, diskusi,
praktik, dan evaluasi. Keterlibatan aktif tersebut dapat meningkatkan rasa
memiliki terhadap program dan mendorong masyarakat untuk menerapkan pengetahuan
yang diperoleh setelah kegiatan berakhir. Dalam konteks pengelolaan sampah,
pendekatan pemberdayaan masyarakat diperlukan karena perubahan perilaku tidak
cukup dilakukan melalui penyuluhan satu arah, tetapi memerlukan proses
pembelajaran, pengalaman, dukungan sosial, dan penguatan secara berkelanjutan.
Temuan bahwa 70% peserta telah mampu
mendemonstrasikan keterampilan menunjukkan bahwa sebagian besar peserta tidak
hanya memahami materi, tetapi juga mulai mampu mengubah pengetahuan menjadi
tindakan. Meskipun demikian, masih terdapat 30% peserta yang belum mencapai
indikator keterampilan. Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh berbagai faktor,
seperti keterbatasan waktu praktik, perbedaan kemampuan peserta dalam mengikuti
prosedur, pengalaman sebelumnya, pemahaman instruksi, maupun kebutuhan terhadap
latihan yang lebih banyak. Oleh karena itu, kegiatan lanjutan sebaiknya tidak
hanya mengulang materi, tetapi memberikan praktik berulang dan pendampingan
sampai peserta mampu melakukan seluruh tahapan secara mandiri.
Pendampingan juga diperlukan karena
eco-enzyme membutuhkan waktu fermentasi sehingga hasil pengolahan tidak dapat
dievaluasi secara langsung pada saat pelatihan. Monitoring setelah pelatihan
dapat dilakukan melalui komunikasi kelompok, kunjungan rumah, atau pembentukan
kader lingkungan yang bertugas membantu masyarakat memantau proses fermentasi.
Strategi tersebut dapat meningkatkan keberlanjutan program dan mendorong
perubahan perilaku dari sekadar mengetahui menjadi mampu melakukan dan
mempertahankan praktik pengelolaan sampah.
Dengan demikian, GERAK ECO memiliki
potensi sebagai pendekatan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah
organik berbasis sumber. Keunggulan program terletak pada integrasi antara
edukasi, demonstrasi, praktik langsung, dan pendampingan. Hasil peningkatan
pengetahuan sebesar 90% dan keterampilan sebesar 70% menunjukkan bahwa
pendekatan tersebut memberikan hasil positif, meskipun masih terdapat
kesenjangan antara aspek pengetahuan dan keterampilan. Ke depan, program perlu
diperkuat melalui pendampingan berkelanjutan, pelibatan lebih banyak anggota
keluarga termasuk laki-laki, pembentukan kader lingkungan, serta evaluasi
perilaku pengelolaan sampah dalam jangka lebih panjang.
Secara keseluruhan, hasil kegiatan
memperlihatkan bahwa pemberdayaan masyarakat melalui edukasi dan praktik
pemanfaatan sampah organik menjadi eco-enzyme dapat menjadi salah satu strategi
untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sampah. Program GERAK
ECO tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai sampah, tetapi juga mendorong
masyarakat untuk melihat sampah organik sebagai sumber daya yang masih dapat
dimanfaatkan. Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular yang
mendorong pemanfaatan kembali sumber daya dan pengurangan limbah melalui
perubahan pola produksi dan konsumsi yang lebih berkelanjutan (United Nations
Environment Programme, 2024).
SIMPULAN
Program Pengabdian kepada Masyarakat GERAK
ECO (Gerakan Edukasi dan Aksi Komunitas melalui eco-Enzyme) merupakan
salah satu pendekatan pemberdayaan masyarakat yang dapat meningkatkan kapasitas
masyarakat dalam pengelolaan sampah organik rumah tangga. Kegiatan yang
mengintegrasikan edukasi pengelolaan sampah dan prinsip 3R, demonstrasi,
praktik pemilahan sampah, serta pembuatan eco-enzyme mampu meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan peserta.
Dari 25 peserta yang mengikuti kegiatan,
88% peserta mengalami peningkatan pengetahuan, sedangkan 54% peserta mampu
mendemonstrasikan keterampilan dalam pemilahan sampah dan pembuatan eco-enzyme.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa kombinasi edukasi dan praktik langsung efektif
dalam membantu peserta memahami sekaligus menerapkan pengelolaan sampah
organik. Namun, adanya perbedaan antara capaian pengetahuan dan keterampilan
menunjukkan bahwa penguasaan keterampilan praktis membutuhkan latihan dan
pendampingan yang lebih berkelanjutan.
Karakteristik peserta yang didominasi
kelompok dewasa (88%), perempuan (92%), dan peserta dengan pendidikan SMP (68%)
menjadi konteks penting dalam pelaksanaan kegiatan, terutama dalam pemilihan
metode edukasi yang sederhana, demonstratif, dan berbasis praktik. Secara
keseluruhan, GERAK ECO berpotensi dikembangkan sebagai model pemberdayaan
masyarakat berbasis lingkungan untuk mendorong pemilahan, pengurangan, dan
pemanfaatan sampah organik pada tingkat rumah tangga.
Untuk keberlanjutan program, diperlukan
pendampingan pascapelatihan, praktik secara berkala, monitoring proses
fermentasi eco-enzyme, serta pembentukan kader lingkungan agar pengetahuan yang
telah diperoleh dapat berkembang menjadi keterampilan dan perilaku pengelolaan
sampah yang berkelanjutan.
REFERENSI
Agustin, R.,
& Widyaningrum, D. (2026). From organic waste to eco-enzyme: a systematic
review of raw materials, antibacterial activity, and applications. IOP
Conference Series: Earth and Environmental Science, 1580(1), 012021. doi.org
Ardianti, D.
L., Feronika, T., & Wardani, M. (2024). Problem Based Learning Model Based
on Socio-Scientific Issues: Efforts to Improve Students' Critical Thinking
Skills. SPIN Jurnal Kimia & Pendidikan Kimia, 6(1), 60–73. doi.org
Gumilar, G.
G., Kadarohman, A., & Nahadi. (2023). Ecoenzyme production, characteristics
and applications: A review. Jurnal Kartika Kimia, 6(1), 45–59. https://doi.org/10.26874/jkk.v6i1.186
Kahar, K., Iqbal, M., & Kamaludin, A. (2023).
Pelatihan pembuatan kompos eco enzyme di Kelurahan Sukasari Kota Bandung. Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan
Indonesia, 2(2).
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025).
Kategori usia. Ayo Sehat Kementerian Kesehatan RI
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik
Indonesia. (2022). Sistem
informasi pengelolaan sampah nasional (SIPSN). Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan Republik Indonesia.
Marlinda, M., Nadir, M., Faisal, F., Purwanto, M. W.
D., & Putri, D. P. (2023). Education on the use of organic waste to become
environmentally friendly orozeco (organic fertilizer and eco enzym). Community Empowerment, 8(4), 540–545.
https://doi.org/10.31603/ce.8492
Parbuntari, H., Pangestuti, A. D., Etika, S. B.,
Farma, S. A., Syolendra, D. F., & Mahmud, M. (2023). Pelatihan pembuatan
eco-enzyme sebagai disinfektan alami. Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat, 5(1), 17–22. https://doi.org/10.24036/abdi.v5i1.426
Prameswari, A. (2026). Penyuluhan dan demonstrasi
pembuatan eco-enzyme sebagai solusi pengelolaan sampah organik rumah tangga
pada ibu rumah tangga di Desa Menanti Kecamatan Lubai. Jurnal Kesehatan
Pengabdian Masyarakat, 6(1), 38–49. https://doi.org/10.29238/jkpm.v6i1.2866
United Nations Environment Programme. (2024). Global waste management outlook 2024:
Beyond an age of waste—Turning rubbish into a resource. United Nations Environment
Programme.
No comments:
Post a Comment