Saturday, September 12, 2026

Pemberdayaan Masyarakat melalui Program BASA: Bank Sampah Sederhana di Desa Babakan Asem

 


Community Empowerment through the BASA Program: A Simple Waste Bank in Babakan Asem Village

Pemberdayaan Masyarakat melalui Program BASA: Bank Sampah Sederhana di Desa Babakan Asem | Suhendar | Nanggroe: Jurnal Pengabdian Cendikia 

Asep Suhendar¹, Ruslan Effendi2

1Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP, Universitas Muhammadiyah Tangerang

2Program Studi Pendidikan Agama Islam, FAI, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Email korespondensi: asep.suhendar@umt.ac.id

 

Abstrak

Permasalahan sampah rumah tangga di kawasan permukiman tidak hanya berkaitan dengan volume sampah, tetapi juga dengan kebiasaan mencampur sampah, keterbatasan pemilahan dari sumber, dan belum terbentuknya mekanisme pengelolaan yang mudah dijalankan masyarakat. Program pengabdian kepada masyarakat “BASA: Babakan Asem Sadar Sampah” dilaksanakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Muhammadiyah Tangerang di Desa Babakan Asem, Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang. Kegiatan bertujuan membangun kesadaran, keterampilan, dan kelembagaan awal pengelolaan sampah rumah tangga melalui bank sampah sederhana. Metode pengabdian menggunakan pendekatan partisipatif melalui observasi lingkungan, koordinasi dengan pemerintah desa dan RT/RW, pendataan peserta, sosialisasi, pelatihan pemilahan, penyediaan administrasi, praktik penimbangan dan pencatatan, pengenalan mekanisme penjualan kepada pengepul, serta evaluasi dan serah terima. Hasil kegiatan menunjukkan terlaksananya edukasi dan praktik pemilahan sampah, terbentuknya sistem administrasi bank sampah, tersedianya data nasabah dan buku tabungan, terlaksananya proses penimbangan, terbentuknya pengurus lokal, serta tersusunnya rencana keberlanjutan. Respons masyarakat memperlihatkan pemahaman terhadap pentingnya sampah bersih dan kering, jenis sampah bernilai ekonomi, dan manfaat bank sampah. Keberlanjutan program memerlukan jadwal penimbangan tetap, penguatan peran pengurus, dukungan pemerintah desa, perluasan nasabah, dan kemitraan yang konsisten dengan pengepul.

Kata kunci: bank sampah; pemberdayaan masyarakat; pemilahan sampah; KKN; pengelolaan sampah

Abstract

Household waste problems in residential areas are related not only to waste volume but also to mixed disposal practices, limited source separation, and the absence of a simple community-based management mechanism. The “BASA: Babakan Asem Sadar Sampah” community service program was implemented by students of Universitas Muhammadiyah Tangerang in Babakan Asem Village, Teluknaga District, Tangerang Regency. The program aimed to build awareness, practical skills, and an initial local institution for household waste management through a simple waste bank. A participatory approach was applied through environmental observation, coordination with village and neighborhood authorities, participant registration, education, waste-sorting training, preparation of administrative tools, weighing and recording practice, introduction to sales mechanisms with waste collectors, and evaluation followed by program handover. The activity resulted in waste-management education and sorting practice, a simple waste-bank administration system, customer records and savings books, waste weighing activities, the formation of local managers, and a sustainability plan. Community responses indicated improved understanding of clean and dry recyclables, economically valuable waste categories, and the benefits of waste banks. Program continuity requires a fixed weighing schedule, stronger local management, village-government support, gradual membership expansion, and consistent partnerships with waste collectors.

Keywords: community empowerment; community service; waste bank; waste management; waste sorting

 

Article Info

Received date: 25 August    2026                                  Revised date: 30 August   2026                              Accepted date: 10 September 2026

PENDAHULUAN

Sampah rumah tangga merupakan persoalan lingkungan yang semakin penting karena produksi sampah meningkat seiring pertumbuhan penduduk, pola konsumsi, dan aktivitas masyarakat. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional menunjukkan bahwa pada 2025, berdasarkan pelaporan 278 kabupaten/kota, timbulan sampah mencapai sekitar 29,20 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, 32,9% tercatat terkelola, sedangkan 67,1% belum terkelola. Data tersebut bersifat indikatif karena cakupan pelaporan belum mencakup seluruh kabupaten/kota, tetapi tetap menunjukkan besarnya tantangan pengurangan dan penanganan sampah di Indonesia (Kementerian Lingkungan Hidup, 2025).

Bank sampah merupakan salah satu instrumen pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang mendorong pemilahan dari sumber dan memberi insentif ekonomi terhadap material yang masih bernilai. Secara regulatif, pengelolaan bank sampah di Indonesia telah diperkuat melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 14 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Sampah pada Bank Sampah. Regulasi tersebut menempatkan bank sampah sebagai fasilitas pengelolaan sampah dengan prinsip 3R yang dilaksanakan melalui kegiatan pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, dan/atau pemrosesan akhir sesuai kebutuhan serta didukung tata kelola kelembagaan (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2021).

Berbagai studi menunjukkan bahwa bank sampah tidak cukup dibangun hanya dengan menyediakan tempat penampungan. Keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh partisipasi masyarakat, pengetahuan mengenai cara memilah, pemahaman terhadap manfaat, kemudahan akses, insentif, konsistensi pengurus, dan jejaring dengan pihak pembeli atau pengepul. Astuti et al. (2021) menegaskan pentingnya pengetahuan dan faktor perilaku dalam partisipasi masyarakat. Meidiana et al. (2021) juga menunjukkan bahwa manfaat yang dirasakan menjadi faktor penting dalam mendorong keterlibatan warga. Pada program pengabdian di Sleman, Asih et al. (2022) menemukan bahwa pendampingan yang berkelanjutan dapat meningkatkan keterlibatan rumah tangga sekaligus memperbesar volume sampah anorganik yang terkumpul.

Kondisi awal di Desa Babakan Asem, Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang, memperlihatkan permasalahan yang serupa. Berdasarkan observasi awal mahasiswa KKN, sebagian masyarakat masih mencampurkan sampah organik dan anorganik. Material seperti botol plastik, kardus, kertas, kaleng, dan logam yang masih memiliki nilai ekonomi sering dibuang bersama sampah lainnya. Selain itu, belum tersedia sistem pengumpulan dan pencatatan sederhana di tingkat lingkungan, dan praktik membuang atau membakar sampah rumah tangga masih dijumpai. Temuan awal tersebut menjadi dasar penyusunan Program “BASA: Babakan Asem Sadar Sampah”.

Program BASA dirancang sebagai kegiatan percontohan bank sampah sederhana yang mudah dipahami dan dapat diteruskan oleh masyarakat. Program tidak hanya memberikan penyuluhan, tetapi menghubungkan edukasi dengan praktik pemilahan, penimbangan, pencatatan tabungan sampah, penyimpanan sementara, dan pengenalan mekanisme penjualan kepada pengepul. Kegiatan melibatkan pemerintah desa, pengurus RT/RW, kader PKK, pemuda, ibu rumah tangga, tokoh masyarakat, serta warga sebagai peserta program. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan proses pelaksanaan, hasil awal, faktor pendukung dan kendala, serta strategi keberlanjutan Program BASA sebagai model sederhana pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

 

TINJAUAN PUSTAKA

Bank Sampah sebagai Instrumen Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

Bank sampah bekerja dengan mengubah posisi warga dari sekadar penghasil sampah menjadi pelaku pengelolaan. Sampah yang sebelumnya tercampur dipisahkan berdasarkan jenis, dikondisikan agar bersih dan kering, ditimbang, dicatat, kemudian dijual atau disalurkan kepada pihak yang dapat memanfaatkannya. Mekanisme ini menghubungkan dimensi lingkungan dan ekonomi. Afdhal (2024) menunjukkan bahwa bank sampah dapat memperkuat ekonomi lokal sekaligus membangun lingkungan berkelanjutan ketika aspek teknis, kelembagaan, pembiayaan, dan partisipasi masyarakat berjalan secara bersamaan.

Dalam perspektif pemberdayaan, bank sampah juga berfungsi sebagai ruang belajar sosial. Jaya dan Machdum (2021) menemukan bahwa pengelolaan bank sampah memberi manfaat ekonomi, lingkungan, dan sosial melalui peran fasilitatif serta edukasional. Temuan tersebut penting bagi program pengabdian karena keberhasilan tidak hanya dinilai dari jumlah material yang terjual, tetapi juga dari munculnya pengetahuan baru, perubahan kebiasaan, kemampuan mengorganisasi kegiatan, dan terbentuknya tanggung jawab bersama.

Partisipasi, Edukasi, dan Keberlanjutan

Partisipasi merupakan unsur kunci keberlanjutan bank sampah. Kegiatan sosialisasi yang hanya dilakukan satu kali berisiko menghasilkan pengetahuan tanpa kebiasaan. Karena itu, edukasi perlu diikuti praktik konkret, aturan penyetoran, pencatatan yang sederhana, jadwal layanan, dan pembagian tugas pengurus. Farhan et al. (2024) menekankan bahwa motivasi warga dan bentuk partisipasi perlu dipahami untuk mempertahankan keterlibatan dalam pengelolaan sampah. Saleh et al. (2024) juga menunjukkan bahwa kontrol perilaku, norma subjektif, dan faktor pengetahuan berhubungan dengan partisipasi masyarakat pedesaan dalam bank sampah.

Pada tingkat komunitas, tantangan umum yang sering muncul adalah ketidakdisiplinan memilah, keterbatasan sarana, rendahnya minat sebagian kelompok, dan lemahnya kontinuitas pengurus. Karena itu, kegiatan pengabdian yang membentuk bank sampah sebaiknya tidak berhenti pada peluncuran program. Kartini et al. (2023) dan Ananto et al. (2023) memperlihatkan bahwa pembentukan bank sampah yang berbasis masyarakat perlu disertai edukasi, pelatihan, struktur pengelola, dan pendampingan agar warga memiliki kemampuan menjalankan kegiatan secara mandiri.

 

METODE PELAKSANAAN

Program pengabdian dilaksanakan di Desa Babakan Asem, Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang, dengan kegiatan utama pada Jumat, 21 Agustus 2026 di KWT Sekar Arum. Sasaran kegiatan meliputi masyarakat peserta percontohan, pengurus RT/RW, kader PKK dan Posyandu, Karang Taruna atau kelompok pemuda, ibu rumah tangga, tokoh masyarakat, serta perangkat desa. Tim pelaksana terdiri atas dosen pembimbing lapangan dan mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Tangerang.

Pendekatan pengabdian bersifat partisipatif. Masyarakat tidak ditempatkan hanya sebagai penerima materi, tetapi dilibatkan dalam proses pengenalan masalah, pembelajaran pemilahan, praktik penyetoran dan penimbangan, serta penyiapan pengelola lokal. Data pelaksanaan artikel ini bersumber dari observasi lapangan, catatan program, dokumen administrasi, respons peserta selama kegiatan, dan dokumentasi kegiatan. Evaluasi difokuskan pada keterlaksanaan tahapan program, respons masyarakat, ketersediaan perangkat administrasi, terbentuknya pengurus, dan kesiapan tindak lanjut.

Tabel 1. Tahapan pelaksanaan Program BASA.

Tahap

Kegiatan utama

Tujuan operasional

1. Observasi

Pengamatan kondisi lingkungan dan kebiasaan pengelolaan sampah.

Mengidentifikasi masalah dan kebutuhan program.

2. Koordinasi

Koordinasi dengan pemerintah desa dan RT/RW.

Menetapkan lokasi, peserta, dukungan, calon pengurus, dan keberlanjutan.

3. Pendataan

Pendataan warga/nasabah dan pihak yang terlibat.

Membangun basis peserta dan administrasi awal.

4. Sosialisasi

Materi jenis sampah, dampak, cara pemilahan, nilai ekonomi, dan mekanisme bank sampah.

Meningkatkan pemahaman dasar masyarakat.

5. Pelatihan

Praktik pemilahan sampah bersih, kering, dan terpisah menurut jenis.

Membangun keterampilan pemilahan dari rumah.

6. Administrasi

Penyediaan buku induk, buku tabungan, formulir penimbangan, daftar harga, buku kas, dan daftar penjualan.

Membentuk tata kelola sederhana dan dapat ditelusuri.

7. Penimbangan

Pemeriksaan kondisi sampah, penimbangan, pencatatan berat/nilai, dan penyimpanan sementara.

Menerapkan proses layanan bank sampah.

8. Kemitraan

Pengenalan dan komunikasi dengan pengepul.

Membangun saluran penjualan material bernilai.

9. Evaluasi dan serah terima

Evaluasi pelaksanaan dan penyerahan pengelolaan kepada pihak lokal.

Menjaga keberlanjutan pasca-KKN.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Keterlaksanaan Program dan Pembentukan Sistem Sederhana

Program BASA terlaksana melalui rangkaian edukasi, pelatihan pemilahan, penimbangan, pencatatan, penyimpanan sementara, serta pengenalan penjualan sampah kepada pengepul. Ciri utama program adalah penggunaan sistem yang sederhana agar mudah dioperasikan masyarakat. Administrasi yang disiapkan meliputi daftar anggota atau nasabah, buku induk bank sampah, buku tabungan anggota, formulir penimbangan, daftar harga sampah, buku kas sederhana, daftar penjualan kepada pengepul, dan dokumentasi kegiatan. Keberadaan perangkat tersebut penting karena bank sampah membutuhkan mekanisme pencatatan yang transparan agar kepercayaan anggota dapat dipertahankan.

Pembentukan sistem sederhana tersebut sejalan dengan prinsip bahwa bank sampah perlu memiliki kelembagaan dan tata kelola yang jelas. Pada tahap awal, kompleksitas administrasi justru perlu dibatasi agar pengurus lokal mampu mengoperasikan sistem secara konsisten. Pendekatan BASA menekankan prosedur yang mudah diingat: memilah dari rumah, menjaga material tetap bersih dan kering, menyetor, menimbang, mencatat, menyimpan, dan menjual. Kesederhanaan prosedur menjadi kekuatan program karena dapat menurunkan hambatan partisipasi, khususnya bagi masyarakat yang baru mengenal bank sampah.

Edukasi dan Praktik Pemilahan Sampah dari Rumah

Materi kegiatan mencakup pengertian sampah, perbedaan sampah organik dan anorganik, dampak sampah terhadap kesehatan dan lingkungan, cara memilah sampah dari rumah, jenis sampah yang dapat dijual, cara kerja bank sampah, serta manfaat ekonomi dan sosial. Setelah sosialisasi, masyarakat mengikuti praktik pemilahan secara langsung. Sampah yang akan disetorkan diarahkan berada dalam kondisi relatif bersih, kering, dan dipisahkan menurut jenis. Tahap praktik ini penting karena pengetahuan konseptual belum tentu langsung menjadi keterampilan.

Respons masyarakat selama pelaksanaan menunjukkan beberapa hasil awal. Peserta mengikuti sosialisasi dan pelatihan, mengenali beberapa jenis sampah yang dapat dikumpulkan, memahami pentingnya kondisi material yang bersih dan kering, serta menunjukkan ketertarikan terhadap manfaat ekonomi bank sampah. Temuan ini relevan dengan Astuti et al. (2021) yang menempatkan pengetahuan tentang cara melakukan pemilahan dan konsekuensi pengelolaan sampah sebagai faktor pendukung partisipasi. Asih et al. (2022) juga menunjukkan bahwa keterlibatan rumah tangga dapat tumbuh ketika edukasi dibarengi mekanisme kegiatan yang nyata dan berulang.

Penguatan Kelembagaan dan Kemitraan

Salah satu luaran program adalah terbentuknya pengurus bank sampah dan tersusunnya rencana keberlanjutan. Pada fase KKN, mahasiswa berperan sebagai fasilitator yang menyiapkan materi, administrasi, praktik layanan, dan koordinasi. Namun keberlanjutan program bergantung pada kemampuan pengurus lokal untuk mengambil alih fungsi tersebut. Karena itu, program diarahkan pada serah terima pengelolaan kepada masyarakat atau pemerintah desa, penetapan jadwal penimbangan, penyerahan seluruh administrasi, serta komunikasi dengan pengepul.

Aspek kelembagaan ini memiliki arti strategis. Afdhal (2024) menunjukkan bahwa keberhasilan bank sampah terkait erat dengan keterhubungan antara aspek teknis dan kelembagaan. Jaya dan Machdum (2021) menambahkan bahwa fungsi fasilitatif dan edukasional bank sampah dapat menghasilkan manfaat sosial dan ekonomi apabila organisasi mampu mempertahankan aktivitasnya. Dengan demikian, keberhasilan BASA tidak cukup dinilai dari terlaksananya kegiatan satu hari, tetapi dari keberlanjutan jadwal layanan, ketertiban pencatatan, konsistensi pengurus, dan stabilitas jejaring penjualan.

Tabel 2. Hasil awal dan bukti keterlaksanaan Program BASA.

Komponen

Hasil awal

Bukti/indikator

Edukasi

Sosialisasi pengelolaan sampah terlaksana.

Materi dan partisipasi peserta.

Keterampilan

Pelatihan pemilahan sampah terlaksana.

Praktik membedakan dan menyiapkan sampah.

Administrasi

Perangkat administrasi bank sampah tersedia.

Data nasabah, buku induk, buku tabungan, formulir penimbangan, buku kas.

Operasional

Penimbangan dan pencatatan sampah dilaksanakan.

Proses pemeriksaan, penimbangan, pencatatan berat/nilai.

Kelembagaan

Pengurus bank sampah terbentuk.

Pembagian peran dan serah terima pengelolaan.

Kemitraan

Mekanisme komunikasi dengan pengepul diperkenalkan.

Identifikasi dan komunikasi calon mitra.

Keberlanjutan

Rencana tindak lanjut tersusun.

Jadwal penimbangan, evaluasi bulanan, perluasan anggota dan wilayah.

Faktor Pendukung, Kendala, dan Strategi Tindak Lanjut

Pelaksanaan program didukung oleh pemerintah desa, pengurus RT/RW, partisipasi masyarakat, kerja sama mahasiswa KKN, ketersediaan materi dan perangkat administrasi, praktik langsung, serta pendampingan dosen pembimbing lapangan. Kombinasi dukungan formal dan partisipasi warga mempermudah pengenalan program. Dukungan pemerintah desa penting terutama untuk legitimasi, penyediaan ruang atau sarana, komunikasi dengan warga, dan perluasan program ke RT/RW lain.

Di sisi lain, beberapa kendala masih ditemukan. Tidak seluruh masyarakat terbiasa memilah sampah; sampah masih ditemukan dalam kondisi tercampur; pengetahuan mengenai bank sampah beragam; tempat penyimpanan sementara terbatas; dan keaktifan pengurus perlu dijaga setelah kegiatan KKN selesai. Kendala tersebut merupakan persoalan yang umum pada fase awal bank sampah. Farhan et al. (2024) dan Saleh et al. (2024) menunjukkan bahwa partisipasi tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan, tetapi juga oleh motivasi, norma sosial, persepsi kemudahan, serta kemampuan masyarakat menjalankan perilaku yang diharapkan.

Strategi tindak lanjut Program BASA meliputi sosialisasi berulang, pemberian contoh pemilahan yang mudah, pemeriksaan kondisi material pada saat penyetoran, penggunaan sistem pencatatan sederhana, pembagian tugas pengurus secara jelas, komunikasi rutin dengan pengepul, penetapan jadwal penimbangan tetap, evaluasi bulanan, dan perluasan anggota secara bertahap. Strategi tersebut menunjukkan bahwa program diarahkan dari kegiatan insidental menuju rutinitas komunitas. Bila rutinitas ini terbentuk, bank sampah berpotensi berkembang dari sekadar kegiatan lingkungan menjadi sarana pemberdayaan yang menghasilkan manfaat sosial dan ekonomi.

Gambar 1. Dokumentasi pelaksanaan dan sarana Program BASA.

Implikasi Program Pengabdian

Program BASA memperlihatkan bahwa kegiatan pengabdian KKN dapat diarahkan pada pembentukan sistem lokal, bukan hanya pelaksanaan sosialisasi. Nilai tambah program terletak pada keterhubungan antara edukasi, praktik, administrasi, kelembagaan, dan jejaring penjualan. Pendekatan ini sejalan dengan konsep pemberdayaan karena masyarakat memperoleh ruang untuk belajar sekaligus perangkat untuk melanjutkan kegiatan. Program juga dapat direplikasi pada tingkat RT/RW lain dengan penyesuaian terhadap volume sampah, jenis material dominan, jarak pengepul, sarana penyimpanan, dan kapasitas pengurus.

Meski demikian, artikel ini memiliki keterbatasan. Laporan program yang menjadi sumber utama belum mengonsolidasikan angka final mengenai jumlah peserta, jumlah keluarga/nasabah aktif, total berat sampah yang terkumpul, frekuensi penimbangan aktual, dan nilai penjualan. Oleh sebab itu, pembahasan difokuskan pada proses dan luaran kelembagaan, bukan pada pengukuran dampak kuantitatif. Untuk pengembangan program berikutnya, pencatatan sebelum-sesudah, jumlah peserta, volume sampah per jenis, nilai ekonomi, tingkat retensi nasabah, dan keberlanjutan pengurus perlu dikumpulkan secara periodik agar efektivitas program dapat dinilai lebih kuat.

 

SIMPULAN

Program “BASA: Babakan Asem Sadar Sampah” menjadi langkah awal pengelolaan sampah rumah tangga berbasis masyarakat di Desa Babakan Asem. Program dilaksanakan melalui observasi, koordinasi, pendataan, sosialisasi, pelatihan pemilahan, penyediaan administrasi, praktik penimbangan dan pencatatan, pengenalan mekanisme penjualan kepada pengepul, evaluasi, dan serah terima. Hasil awal menunjukkan terlaksananya edukasi dan praktik pemilahan, tersedianya perangkat administrasi dan data nasabah, terlaksananya penimbangan, terbentuknya pengurus lokal, serta tersusunnya rencana keberlanjutan. Respons masyarakat menunjukkan penerimaan terhadap konsep pemilahan dan manfaat ekonomi sampah. Keberlanjutan BASA memerlukan jadwal penimbangan yang konsisten, penguatan peran pengurus, dukungan pemerintah desa dan RT/RW, sarana penyimpanan yang memadai, komunikasi dengan pengepul, evaluasi rutin, dan perluasan nasabah secara bertahap.

 

UCAPAN TERIMA KASIH

Tim pengabdian menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Desa Babakan Asem, pengurus RT/RW, kader PKK dan Posyandu, Karang Taruna, KWT Sekar Arum, tokoh masyarakat, masyarakat peserta program, pengepul/mitra pengelolaan sampah, serta seluruh mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Tangerang yang mendukung pelaksanaan Program BASA.

 

REFERENSI

Afdhal, A. (2024). Peran bank sampah dalam memperkuat ekonomi lokal dan membangun lingkungan berkelanjutan. SASKARA: Indonesian Journal of Society Studies, 4(1), 134–154. https://doi.org/10.21009/Saskara.041.03

Ananto, B. Y., Hanun, R. Z., & Paranti, L. (2023). Pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah melalui program Bank Sampah “Dengkol” di Desa Semen Kabupaten Magelang. Jurnal Bina Desa, 5(2). https://doi.org/10.15294/jbd.v5i2.44248

Asih, A. M. S., Trapsilawati, F., Sopha, B. M., & Normasari, N. M. E. (2022). Waste bank program for households as a means of processing inorganic waste. Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (Indonesian Journal of Community Engagement), 8(4). https://doi.org/10.22146/jpkm.73409

Astuti, R. D., Linarti, U., & Sa’ban, D. M. (2021). Supporting factors for community participation in the waste bank program: A study in Sleman Regency of Indonesia. Jurnal Optimasi Sistem Industri, 20(1), 33–41. https://doi.org/10.25077/josi.v20.n1.p33-41.2021

Farhan, M., Rusdi, R., & Yuliawati, R. (2024). Community participation in waste management at Ramli Graha Indah Air Putih Waste Bank. Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia, 11(2). https://doi.org/10.20527/jpkmi.v11i2.20055

Jaya, R. K., & Machdum, S. V. (2021). Manfaat pemberdayaan yang dilakukan Bank Sampah Induk di Kota Bandung. EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial, 10(2). https://doi.org/10.15408/empati.v10i2.20370

Kartini, A. Y., Setyoningsih, Y. D., & Izza, Y. P. (2023). Pembentukan Bank Sampah “Lintang Alul” sebagai strategi pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kelurahan Banjarejo Bojonegoro. Jurnal SOLMA, 12(1). https://doi.org/10.22236/solma.v12i1.10884

Kementerian Lingkungan Hidup. (2025). Sistem informasi pengelolaan sampah nasional: Capaian kinerja pengelolaan sampah tahun 2025. https://sipsn.menlhk.go.id/

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. (2021). Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 14 Tahun 2021 tentang pengelolaan sampah pada bank sampah.

Meidiana, C., Sekito, T., & Sasongko, W. (2021). Determining factors of community participation in waste bank. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 940, 012085. https://doi.org/10.1088/1755-1315/940/1/012085

Saleh, M., Alfiyah, N., Susilawaty, A., Ikhtiar, M., & Gafur, A. (2024). The determinants of rural community participation in waste bank: An approach using the theory of planned behavior. Al-Sihah: The Public Health Science Journal, 16(1). https://doi.org/10.24252/al-sihah.v16i1.47909

 

Friday, September 11, 2026

Kreasi Panekuk Yoka: Melejitkan Potensi Sagu Lokal Lewat Paduan Buah Naga dan Pisang


Yoka Pancake Innovation: Unlocking the Potential of Local Sago through a Blend of Dragon Fruit and Banana

Kreasi Panekuk Yoka: Melejitkan Potensi Sagu Lokal Lewat Paduan Buah Naga dan Pisang | Mujaini | Nanggroe: Jurnal Pengabdian Cendikia 

Muhammad Mujaini¹*, Rahmatia², Isak Sam Aroi³, Jhon M. Simamora⁴, Timotius Deal⁵, Perenus Kulka⁶, Sri Devi⁷, Irsya Rambe⁸, Genis Kean⁹

1-9Institut Swadiri, Papua

*Corresponding Author: mujainipapua.mm@gmail.com

 

Abstract

This community service activity was conducted in Yoka Village, Heram District, Jayapura City, Papua, to strengthen the utilization of local food resources through the production of sago pancakes combined with dragon fruit and banana. Sago is widely known by the community as a traditional staple food, but its processing into modern snack products is still limited. Dragon fruit and banana were used to improve the color, taste, and texture of the product. This activity aimed to improve the knowledge and skills of Yoka women in processing local ingredients into hygienic, attractive, and value-added household food products. The activity used a participatory approach involving material presentation, hands-on practice, product packaging, simple marketing discussion, and evaluation through observation and group discussion. The participants were introduced to the function of each ingredient, the preparation of pancake batter, cooking techniques, hygiene practices, and basic product presentation. The results showed that the participants were able to follow the production stages, understand the role of sago flour, dragon fruit, and banana in the formulation, and recognize the potential of sago pancakes as a household-based food product. The activity also encouraged participants to view local food resources as potential sources of small-scale economic activity. Further assistance is needed to improve recipe standardization, shelf-life testing, packaging quality, and marketing strategies so that sago pancakes can be developed as a sustainable local food product in Yoka Village.

Keywords: community service; dragon fruit; local food; sago pancake; Yoka Village

 

Article Info

Received date: 25 August    2026                                  Revised date: 30 August   2026                              Accepted date: 10 September 2026

 

PENDAHULUAN

Kampung Yoka memiliki hubungan yang erat dengan sumber daya pangan lokal di sekitar Danau Sentani. Masyarakat setempat mengenal sagu sebagai bahan pangan harian, bagian dari kebiasaan makan keluarga, dan sumber karbohidrat yang mudah diperoleh dari lingkungan sekitar. Sagu juga menempati posisi kultural yang kuat dalam kehidupan masyarakat Papua karena tanaman ini telah lama digunakan sebagai pangan pokok dan bahan olahan tradisional. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sagu bukan hanya komoditas pangan, tetapi juga bagian dari pengetahuan lokal masyarakat Kampung Yoka.

Pemanfaatan sagu di tingkat rumah tangga masih banyak bertumpu pada bentuk olahan yang sudah lama dikenal. Masyarakat lebih sering mengolah sagu menjadi makanan tradisional, sedangkan pengembangan sagu menjadi produk kudapan modern belum banyak dilakukan. Keadaan ini membuat nilai ekonomi sagu belum berkembang sebanding dengan ketersediaannya di lingkungan masyarakat. Sidiq dkk. (2021) menjelaskan bahwa sagu memiliki peran kuat dalam kehidupan masyarakat Papua, tetapi penguatan pemanfaatannya membutuhkan inovasi produk dan pelibatan komunitas. Mulai dkk. (2012) juga menempatkan sagu sebagai pangan lokal yang berpotensi mendukung diversifikasi pangan di Papua.

Ketersediaan buah naga dan pisang di lingkungan masyarakat memberi peluang untuk memperkaya olahan sagu. Buah naga memiliki warna merah yang dapat digunakan sebagai pewarna alami, sedangkan pisang memiliki rasa manis dan tekstur lembut yang sudah akrab dalam konsumsi keluarga. Perpaduan sagu, buah naga, dan pisang dapat menghasilkan panekuk yang lebih menarik dari sisi warna, rasa, dan bentuk penyajian. Lim dkk. (2025) menunjukkan bahwa buah naga merah mengandung pigmen betasianin yang dapat digunakan sebagai sumber warna alami, sedangkan Seth dkk. (2021) melaporkan bahwa buah naga memiliki komponen antioksidan yang berpotensi sebagai bahan tambahan pangan alami.

Masyarakat mitra belum banyak memperoleh pelatihan mengenai pengolahan sagu menjadi produk panekuk yang terukur, higienis, dan layak dikembangkan sebagai produk rumah tangga. Peserta juga belum terbiasa mengatur komposisi bahan, kekentalan adonan, suhu pemasakan, dan tampilan produk agar hasil olahan memiliki mutu yang relatif seragam. Keterbatasan tersebut berpengaruh terhadap keberanian masyarakat dalam mengembangkan pangan lokal sebagai produk bernilai jual. Pengalaman ini menunjukkan bahwa pelatihan tidak cukup hanya memperkenalkan resep, tetapi juga perlu membangun pemahaman peserta tentang fungsi bahan, kebersihan proses, pengemasan, dan peluang pemasaran sederhana.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diarahkan untuk menjawab kebutuhan tersebut melalui pelatihan pembuatan panekuk berbasis tepung sagu, buah naga, dan pisang. Tim pengabdi memilih panekuk karena produk ini mudah dibuat, menggunakan alat rumah tangga sederhana, dan memiliki bentuk yang mudah diterima oleh anak-anak maupun keluarga. Peserta dilibatkan dalam pengenalan bahan, praktik pengolahan, pengemasan, dan diskusi mengenai peluang usaha kecil. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat Kampung Yoka dalam mengolah pangan lokal menjadi produk kudapan yang higienis, menarik, dan berpotensi memberi nilai tambah bagi ekonomi rumah tangga.

 

METODE PELAKSANAAN

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Kampung Yoka, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua (gambar 1). Peserta kegiatan merupakan mama-mama Kampung Yoka yang memiliki kedekatan dengan pemanfaatan pangan lokal dalam kegiatan rumah tangga. Tim pengabdi memilih Kampung Yoka karena masyarakat setempat memiliki akses terhadap sagu, pisang, dan buah naga, tetapi pemanfaatan bahan tersebut sebagai produk kudapan bernilai jual masih terbatas.

Kegiatan ini menggunakan pendekatan partisipatif. Tim pengabdi tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga melibatkan peserta dalam proses pengenalan bahan, pengolahan adonan, pemasakan, pengemasan, dan diskusi peluang usaha. Pendekatan ini dipilih agar peserta dapat memahami proses pembuatan panekuk secara langsung dan dapat mengulanginya kembali setelah kegiatan selesai.

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan koordinasi bersama aparat Kampung Yoka dan perwakilan masyarakat. Tim pengabdi menyampaikan rencana kegiatan, menentukan peserta, menyiapkan tempat pelatihan, dan mendata kebutuhan alat serta bahan. Tim pengabdi juga menyiapkan tepung sagu, buah naga, pisang, telur, bahan pendukung adonan, peralatan memasak, dan contoh kemasan sederhana. Persiapan ini dilakukan agar kegiatan praktik dapat berjalan sesuai alur dan peserta dapat mengikuti setiap tahap dengan baik.

Tahap berikutnya adalah penyampaian materi singkat mengenai pemanfaatan sagu, buah naga, dan pisang sebagai bahan pangan lokal. Tim pengabdi menjelaskan fungsi tepung sagu sebagai bahan utama adonan, buah naga sebagai pewarna alami, dan pisang sebagai pemberi rasa manis serta pelembut tekstur. Tim pengabdi juga menyampaikan materi mengenai kebersihan bahan, kebersihan alat, dan cara menangani produk pangan rumah tangga agar aman dikonsumsi.

Kegiatan inti dilakukan melalui praktik pembuatan panekuk sagu. Peserta menyiapkan bahan, melumatkan buah naga dan pisang, mencampur bahan basah, mengayak tepung sagu, mengaduk adonan, dan mendiamkan adonan beberapa menit sebelum dimasak. Peserta kemudian memasak adonan menggunakan wajan datar dengan api kecil sampai panekuk matang. Tim pengabdi mendampingi peserta selama praktik agar peserta dapat memahami pengaruh kekentalan adonan, teknik pengadukan, dan suhu pemasakan terhadap tekstur serta warna produk.

Kegiatan pelatihan dilanjutkan dengan pengenalan pengemasan dan pemasaran sederhana. Tim pengabdi menunjukkan cara menata panekuk dalam kemasan yang bersih dan menarik. Peserta juga diajak menghitung kebutuhan bahan, memperkirakan biaya produksi, dan mendiskusikan kemungkinan harga jual. Materi ini diberikan agar peserta tidak hanya mampu membuat produk, tetapi juga mulai memahami cara menyiapkan produk sebagai usaha rumah tangga.

Evaluasi kegiatan dilakukan melalui pengamatan selama pelatihan dan diskusi bersama peserta setelah praktik selesai. Tim pengabdi mengamati keterlibatan peserta, kemampuan peserta mengikuti tahapan pembuatan panekuk, serta tanggapan peserta terhadap rasa, warna, tekstur, dan tampilan produk. Peserta juga diminta menyampaikan kendala yang mereka hadapi selama proses praktik. Hasil evaluasi digunakan untuk menilai ketercapaian kegiatan dan menentukan kebutuhan pendampingan lanjutan bagi masyarakat Kampung Yoka.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kegiatan PkM di Kampung Yoka menghasilkan perubahan pemahaman peserta terhadap sagu, buah naga, dan pisang sebagai bahan pangan lokal. Peserta pada awal kegiatan lebih mengenal sagu sebagai bahan olahan tradisional, terutama untuk konsumsi rumah tangga. Tim pengabdi memperkenalkan tepung sagu sebagai bahan utama panekuk, buah naga sebagai pewarna alami, dan pisang sebagai pemberi rasa manis serta pembentuk tekstur yang lebih lembut. Pemahaman tersebut memperluas cara pandang peserta karena sagu tidak hanya ditempatkan sebagai pangan pokok, tetapi juga sebagai bahan dasar kudapan yang dapat dikembangkan. Mulai dkk. (2012) menyebutkan bahwa komoditas pangan lokal di Papua memiliki peluang sebagai sumber pangan alternatif, sedangkan Sidiq dkk. (2021) menegaskan bahwa sagu memiliki posisi kuat dalam kehidupan masyarakat Papua dan masih membutuhkan pengembangan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumsi masa kini.

Peserta menunjukkan ketertarikan yang lebih kuat setelah tim pengabdi memperagakan proses pengolahan bahan. Peserta melihat bahwa panekuk sagu tidak memerlukan peralatan khusus dan dapat dibuat dengan bahan yang tersedia di sekitar lingkungan rumah. Tim pengabdi juga menjelaskan bahwa bentuk panekuk lebih mudah diterima oleh keluarga karena tampilannya menyerupai kudapan yang sudah dikenal. Produk seperti ini memberi ruang baru bagi pangan lokal karena masyarakat dapat mengenalkan sagu melalui bentuk konsumsi yang lebih dekat dengan selera anak-anak dan konsumen umum. Sidiq dkk. (2022) menjelaskan bahwa keberlanjutan konsumsi sagu dipengaruhi oleh penerimaan masyarakat, ketersediaan produk, dan dukungan terhadap inovasi pangan lokal.

Kegiatan praktik memperlihatkan bahwa peserta mampu mengikuti tahapan pembuatan panekuk sagu. Peserta menyiapkan bahan, melumatkan buah naga dan pisang, mencampur adonan basah, mengayak tepung sagu, mengatur kekentalan adonan, dan memasak panekuk pada wajan datar. Peserta juga mulai memahami bahwa tepung sagu memiliki karakter berbeda dari tepung terigu. Adonan berbasis sagu membutuhkan pengadukan yang hati-hati dan pemasakan dengan api kecil agar tekstur tidak terlalu padat dan warna alami buah naga tidak cepat berubah. Fitriyah dkk. (2025) menekankan bahwa sagu perlu dikembangkan menjadi produk bernilai tambah agar perannya tidak berhenti sebagai bahan pangan pokok alternatif.

Produk yang dihasilkan berupa panekuk berbahan tepung sagu dengan tambahan buah naga dan pisang. Produk tersebut memiliki warna yang berbeda karena buah naga memberi warna merah muda pada sebagian adonan. Pisang memberi rasa manis alami dan aroma yang lebih akrab bagi peserta. Hasil praktik juga menunjukkan bahwa panekuk sagu memiliki tekstur yang lebih padat dibandingkan panekuk berbahan terigu, sehingga komposisi cairan, lama pengadukan, dan suhu pemasakan perlu terus disesuaikan. Gambar 2 menunjukkan bentuk produk panekuk sagu yang dihasilkan dalam kegiatan pelatihan.

Gambar 1. Produk panekuk berbahan tepung sagu dengan pewarna alami buah naga dan tambahan pisang

Gambar 1 memperlihatkan bahwa produk panekuk sagu dapat disajikan dengan tampilan sederhana menggunakan alas daun pisangg. Penyajian tersebut memberi kesan lokal dan sesuai dengan konteks Kampung Yoka. Warna merah muda pada salah satu panekuk menunjukkan bahwa buah naga dapat memberi daya tarik visual tanpa pewarna sintetis. Lim dkk. (2025) menjelaskan bahwa buah naga merah mengandung pigmen betasianin yang berpotensi sebagai pewarna alami, sedangkan Seth dkk. (2021) melaporkan bahwa buah naga memiliki komponen antioksidan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pangan alami. Hasil kegiatan ini memperlihatkan bahwa bahan lokal dapat membentuk karakter produk melalui warna, rasa, dan cara penyajian.

Kegiatan edukasi juga menghasilkan penguatan pengetahuan peserta tentang kebersihan bahan dan alat produksi. Peserta memperoleh penjelasan mengenai pencucian bahan, kebersihan wadah, penggunaan alat yang bersih, dan penanganan produk setelah matang. Pengetahuan ini dibutuhkan karena produk pangan rumah tangga harus aman dikonsumsi sebelum diarahkan menjadi produk jual. Oliveira dkk. (2016) menjelaskan bahwa Good Manufacturing Practices dan Sanitation Standard Operating Procedures menjadi dasar pengendalian keamanan pangan. Hasnan dkk. (2022) juga menunjukkan bahwa kelemahan umum pada usaha pangan kecil sering berkaitan dengan kebersihan personal, sanitasi fasilitas, dokumentasi, dan kurangnya pelatihan. Hasil kegiatan di Kampung Yoka menunjukkan bahwa pelatihan pangan lokal perlu selalu memuat aspek higienitas sejak tahap awal.

Peserta memperoleh pengalaman awal mengenai pengemasan dan peluang pemasaran produk. Tim pengabdi memperkenalkan cara menata panekuk dalam kemasan sederhana, menjaga kebersihan tampilan, dan memperkirakan harga jual berdasarkan bahan yang digunakan. Peserta mulai memahami bahwa nilai produk tidak hanya berasal dari bahan baku, tetapi juga dari konsistensi bentuk, kebersihan, rasa, dan cara produk ditawarkan. Alghaniya dan Fitriani (2023) menunjukkan bahwa penerapan GMP dan SSOP pada UMKM pangan berkaitan dengan kebersihan bahan, peralatan, lingkungan produksi, dan perlindungan produk akhir. Fithri dkk. (2025) juga menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap standar keamanan pangan dapat meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk UMKM.

Kegiatan PkM ini memberi pengalaman awal bagi peserta untuk melihat sagu sebagai bahan usaha rumah tangga. Peserta tidak hanya memperoleh resep panekuk, tetapi juga memahami hubungan antara bahan lokal, teknik pengolahan, tampilan produk, dan peluang pasar. Saa (2024) menunjukkan bahwa penguatan komoditas lokal di Papua dapat mendukung peningkatan produksi, pendapatan, dan kesempatan kerja, meskipun akses pasar dan infrastruktur masih menjadi tantangan. Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa panekuk sagu dapat menjadi produk awal untuk menggerakkan usaha kecil apabila peserta mendapat pendampingan lanjutan pada standardisasi resep, pengemasan, dan pemasaran.

Kegiatan ini masih memiliki keterbatasan karena evaluasi dilakukan melalui pengamatan dan diskusi selama pelatihan. Tim pengabdi belum melakukan pre-test dan post-test, uji organoleptik terstruktur, uji daya simpan, dan analisis kelayakan usaha. Herlosky dkk. (2025) menyatakan bahwa evaluasi program berbasis komunitas perlu memperhatikan perubahan pengetahuan, niat penerapan, hambatan pelaksanaan, dan tindak lanjut program. Kegiatan lanjutan perlu menyertakan instrumen evaluasi yang lebih terukur agar pengaruh pelatihan terhadap pengetahuan, keterampilan, dan peluang ekonomi peserta dapat dibaca dengan lebih kuat.

Kegiatan PkM panekuk sagu di Kampung Yoka menunjukkan bahwa inovasi pangan lokal dapat dimulai dari pelatihan sederhana yang dekat dengan dapur rumah tangga. Peserta dapat mempraktikkan pengolahan sagu menjadi produk kudapan, mengenali fungsi buah naga dan pisang dalam adonan, serta memahami dasar kebersihan dan pengemasan. Domingo dkk. (2024) menekankan bahwa pendekatan partisipatif dalam sistem pangan lokal perlu memperkuat kapasitas komunitas melalui kegiatan yang dapat dilakukan secara bertahap. Kegiatan ini memperlihatkan bahwa pengembangan pangan lokal tidak harus selalu dimulai dari teknologi yang rumit, tetapi dapat dimulai dari praktik kecil yang dapat diulang, diperbaiki, dan dikembangkan oleh masyarakat.

 

SIMPULAN

Kegiatan PkM pembuatan panekuk sagu di Kampung Yoka memberi pengalaman baru kepada peserta dalam mengolah sagu, buah naga, dan pisang menjadi produk kudapan berbasis pangan lokal. Peserta memperoleh pengetahuan mengenai fungsi bahan, cara menyiapkan adonan, teknik pemasakan, kebersihan proses produksi, serta pengemasan sederhana. Produk panekuk yang dihasilkan menunjukkan bahwa tepung sagu dapat dikembangkan menjadi olahan yang lebih beragam tanpa meninggalkan bahan yang dekat dengan kehidupan masyarakat setempat. Buah naga memberi warna alami pada produk, sedangkan pisang memberi rasa manis dan membantu membentuk tekstur yang lebih mudah diterima. Kegiatan ini juga membuka cara pandang peserta terhadap peluang ekonomi rumah tangga dari bahan pangan lokal. Peserta mulai memahami bahwa nilai jual produk tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan bahan baku, tetapi juga oleh keterampilan mengolah, menjaga kebersihan, menata tampilan, dan menawarkan produk kepada konsumen. Pelatihan ini masih berada pada tahap penguatan dasar, sehingga kegiatan lanjutan diperlukan untuk memperbaiki standardisasi resep, menguji daya simpan, memperkuat pengemasan, dan mendampingi pemasaran produk secara lebih terarah. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, panekuk sagu berbahan buah naga dan pisang dapat dikembangkan sebagai salah satu produk usaha rumah tangga masyarakat Kampung Yoka.

 

UCAPAN TERIMA KASIH

Tim pengabdi menyampaikan terima kasih kepada Kepala Kampung Yoka beserta aparat kampung yang telah memberi izin dan mendukung pelaksanaan kegiatan ini. Tim pengabdi juga menyampaikan terima kasih kepada mama-mama Kampung Yoka yang telah mengikuti kegiatan dengan aktif sejak tahap penyampaian materi sampai praktik pembuatan panekuk sagu. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada dosen pendamping, mahasiswa, dan seluruh pihak yang telah membantu persiapan bahan, pelaksanaan pelatihan, dokumentasi, serta pendampingan selama kegiatan berlangsung. Dukungan berbagai pihak tersebut membuat kegiatan PkM ini dapat terlaksana dengan baik dan memberi manfaat awal bagi pengembangan pangan lokal di Kampung Yoka.

 

REFERENSI

Alghaniya, A., & Fitriani, A. (2023). Analysis of the application of good manufacturing practices (GMP) and sanitation standard operating procedures (SSOP) for products “Emping Singkong Super Telur Bu Siti” in Bantul, Yogyakarta. Journal of Halal Science and Research, 4(2). https://doi.org/10.12928/jhsr.v4i2.7478

Domingo, A., Yessis, J., Zupko, B., [lengkapi nama penulis lainnya]. (2024). Scale up of the learning circles: A participatory action approach to support local food systems in four diverse First Nations school communities within Canada. BMC Public Health, 24. https://doi.org/10.1186/s12889-024-19391-z

Fithri, P., Mukhrima, H., Adi, A. H. B., Putri, N. T., & Albar, B. B. (2025). Food safety standards: GMP and SSOP in rendang production by MSMEs in Padang. E3S Web of Conferences, 677, 10001. https://doi.org/10.1051/e3sconf/202567710001

Fitriyah, A. T., Baharuddin, B., & Sheyoputri, A. C. A. (2025). Analysis of sago contribution as staple food alternatives to household food security. Journal of Global Innovations in Agricultural Sciences. https://doi.org/10.22194/jgias/25.1485

Hasnan, N. Z. N., Basha, R., Amin, N. A. M., Ramli, S. H. M., Huat, J. T. Y., & Aziz, N. A. (2022). Analysis of the most frequent nonconformance aspects related to good manufacturing practices (GMP) among small and medium enterprises (SMEs) in the food industry and their main factors. Food Control. https://doi.org/10.1016/j.foodcont.2022.109205

Herlosky, K. N., Leverett, A., Philbert, R., [lengkapi nama penulis lainnya]. (2025). Barriers and facilitators of implementing a community workshop series to mitigate maternal-child food insecurity: A mixed-methods RE-AIM evaluation. BMC Public Health, 25. https://doi.org/10.1186/s12889-025-24714-9

Lim, T. W., Lim, R. L. H., Pui, L., Tan, C. P., & Ho, C. W. (2025). Red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus), a superfruit rich in betacyanins pigments with antioxidative potential for hepatoprotection: A review. Future Foods. https://doi.org/10.1016/j.fufo.2025.100562

Mulai, M., Komoditas, P., Lokal, P., [lengkapi nama penulis lainnya]. (2012). Pemanfaatan komoditas pangan lokal sebagai sumber pangan alternatif di Papua. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, 28, 54–62. https://doi.org/10.21082/jp3.v28n2.2009.p54

Oliveira, C. A., Cruz, A., Tavolaro, P., & Corassin, C. (2016). Food safety: Good manufacturing practices (GMP), sanitation standard operating procedures (SSOP), hazard analysis and critical control point. In Food safety. Elsevier. https://doi.org/10.1016/B978-0-12-800723-5.00010-3

Saa, S. (2024). Evaluation of the policy program for strengthening local food commodities for sustainable food security in Papua. JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia). https://doi.org/10.29210/020244167

Seth, S., Kaba, L., Ahirwar, S., [lengkapi nama penulis lainnya]. (2021). Characterization of dragon fruit (Hylocereus undatus) antioxidative components to explore their utility as natural food additive. Egyptian Journal of Food Science. https://doi.org/10.21608/ejfs.2021.61698.1098

Sidiq, F. F., Coles, D., Hubbard, C., Clark, B., & Frewer, L. (2021). Sago and the indigenous peoples of Papua, Indonesia: A review. Journal of Agriculture and Applied Biology. https://doi.org/10.11594/jaab.02.02.08

Sidiq, F. F., Coles, D., Hubbard, C., Clark, B., & Frewer, L. (2022). Factors influencing consumption of traditional diets: Stakeholder views regarding sago consumption among the indigenous peoples of West Papua. Agriculture & Food Security, 11. https://doi.org/10.1186/s40066-022-00390-5