Yoka Pancake Innovation: Unlocking the
Potential of Local Sago through a Blend of Dragon Fruit and
Banana
Muhammad Mujaini¹*, Rahmatia², Isak Sam Aroi³, Jhon M.
Simamora⁴, Timotius Deal⁵, Perenus Kulka⁶, Sri Devi⁷, Irsya Rambe⁸, Genis Kean⁹
1-9Institut Swadiri, Papua
*Corresponding
Author: mujainipapua.mm@gmail.com
Abstract
This
community service activity was conducted in Yoka Village, Heram District,
Jayapura City, Papua, to strengthen the utilization of local food resources
through the production of sago pancakes combined with dragon fruit and banana.
Sago is widely known by the community as a traditional staple food, but its
processing into modern snack products is still limited. Dragon fruit and banana
were used to improve the color, taste, and texture of the product. This
activity aimed to improve the knowledge and skills of Yoka women in processing
local ingredients into hygienic, attractive, and value-added household food
products. The activity used a participatory approach involving material
presentation, hands-on practice, product packaging, simple marketing discussion,
and evaluation through observation and group discussion. The participants were
introduced to the function of each ingredient, the preparation of pancake
batter, cooking techniques, hygiene practices, and basic product presentation.
The results showed that the participants were able to follow the production
stages, understand the role of sago flour, dragon fruit, and banana in the
formulation, and recognize the potential of sago pancakes as a household-based
food product. The activity also encouraged participants to view local food
resources as potential sources of small-scale economic activity. Further
assistance is needed to improve recipe standardization, shelf-life testing,
packaging quality, and marketing strategies so that sago pancakes can be developed
as a sustainable local food product in Yoka Village.
Keywords: community
service; dragon fruit; local food; sago pancake; Yoka Village
Article
Info
Received
date: 25 August 2026 Revised date:
30 August
2026
Accepted date: 10 September 2026
PENDAHULUAN
Kampung Yoka memiliki hubungan yang
erat dengan sumber daya pangan lokal di sekitar Danau Sentani. Masyarakat
setempat mengenal sagu sebagai bahan pangan harian, bagian dari kebiasaan makan
keluarga, dan sumber karbohidrat yang mudah diperoleh dari lingkungan sekitar.
Sagu juga menempati posisi kultural yang kuat dalam kehidupan masyarakat Papua
karena tanaman ini telah lama digunakan sebagai pangan pokok dan bahan olahan
tradisional. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sagu bukan hanya komoditas
pangan, tetapi juga bagian dari pengetahuan lokal masyarakat Kampung Yoka.
Pemanfaatan sagu di tingkat rumah
tangga masih banyak bertumpu pada bentuk olahan yang sudah lama dikenal.
Masyarakat lebih sering mengolah sagu menjadi makanan tradisional, sedangkan
pengembangan sagu menjadi produk kudapan modern belum banyak dilakukan. Keadaan
ini membuat nilai ekonomi sagu belum berkembang sebanding dengan
ketersediaannya di lingkungan masyarakat. Sidiq dkk. (2021) menjelaskan
bahwa sagu memiliki peran kuat dalam kehidupan masyarakat Papua, tetapi
penguatan pemanfaatannya membutuhkan inovasi produk dan pelibatan komunitas. Mulai dkk. (2012) juga menempatkan sagu sebagai
pangan lokal yang berpotensi mendukung diversifikasi pangan di Papua.
Ketersediaan
buah naga dan pisang di lingkungan masyarakat memberi peluang untuk memperkaya
olahan sagu. Buah naga memiliki warna merah yang dapat digunakan sebagai
pewarna alami, sedangkan pisang memiliki rasa manis dan tekstur lembut yang
sudah akrab dalam konsumsi keluarga. Perpaduan sagu, buah naga, dan pisang
dapat menghasilkan panekuk yang lebih menarik dari sisi warna, rasa, dan bentuk
penyajian. Lim dkk. (2025) menunjukkan bahwa buah naga merah mengandung
pigmen betasianin yang dapat digunakan sebagai sumber warna alami, sedangkan
Seth dkk. (2021) melaporkan bahwa buah naga memiliki komponen
antioksidan yang berpotensi sebagai bahan tambahan pangan alami.
Masyarakat mitra
belum banyak memperoleh pelatihan mengenai pengolahan sagu menjadi produk
panekuk yang terukur, higienis, dan layak dikembangkan sebagai produk rumah
tangga. Peserta juga belum terbiasa mengatur komposisi bahan, kekentalan
adonan, suhu pemasakan, dan tampilan produk agar hasil olahan memiliki mutu
yang relatif seragam. Keterbatasan tersebut berpengaruh terhadap keberanian
masyarakat dalam mengembangkan pangan lokal sebagai produk bernilai jual.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa pelatihan tidak cukup hanya memperkenalkan
resep, tetapi juga perlu membangun pemahaman peserta tentang fungsi bahan,
kebersihan proses, pengemasan, dan peluang pemasaran sederhana.
Kegiatan
pengabdian kepada masyarakat ini diarahkan untuk menjawab kebutuhan tersebut
melalui pelatihan pembuatan panekuk berbasis tepung sagu, buah naga, dan
pisang. Tim pengabdi memilih panekuk karena produk ini mudah dibuat,
menggunakan alat rumah tangga sederhana, dan memiliki bentuk yang mudah
diterima oleh anak-anak maupun keluarga. Peserta dilibatkan dalam pengenalan
bahan, praktik pengolahan, pengemasan, dan diskusi mengenai peluang usaha
kecil. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
masyarakat Kampung Yoka dalam mengolah pangan lokal menjadi produk kudapan yang
higienis, menarik, dan berpotensi memberi nilai tambah bagi ekonomi rumah
tangga.
METODE PELAKSANAAN
Kegiatan
pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Kampung Yoka, Distrik Heram,
Kota Jayapura, Papua (gambar 1). Peserta kegiatan merupakan mama-mama Kampung
Yoka yang memiliki kedekatan dengan pemanfaatan pangan lokal dalam kegiatan
rumah tangga. Tim pengabdi memilih Kampung Yoka karena masyarakat setempat
memiliki akses terhadap sagu, pisang, dan buah naga, tetapi pemanfaatan bahan
tersebut sebagai produk kudapan bernilai jual masih terbatas.
Kegiatan ini
menggunakan pendekatan partisipatif. Tim pengabdi tidak hanya menyampaikan
materi, tetapi juga melibatkan peserta dalam proses pengenalan bahan,
pengolahan adonan, pemasakan, pengemasan, dan diskusi peluang usaha. Pendekatan
ini dipilih agar peserta dapat memahami proses pembuatan panekuk secara
langsung dan dapat mengulanginya kembali setelah kegiatan selesai.
Pelaksanaan
kegiatan diawali dengan koordinasi bersama aparat Kampung Yoka dan perwakilan
masyarakat. Tim pengabdi menyampaikan rencana
kegiatan, menentukan peserta, menyiapkan tempat pelatihan, dan mendata
kebutuhan alat serta bahan. Tim pengabdi juga menyiapkan tepung sagu, buah
naga, pisang, telur, bahan pendukung adonan, peralatan memasak, dan contoh
kemasan sederhana. Persiapan ini dilakukan agar kegiatan praktik dapat berjalan
sesuai alur dan peserta dapat mengikuti setiap tahap dengan baik.
Tahap berikutnya adalah penyampaian
materi singkat mengenai pemanfaatan sagu, buah naga, dan pisang sebagai bahan
pangan lokal. Tim pengabdi menjelaskan fungsi tepung sagu sebagai bahan utama
adonan, buah naga sebagai pewarna alami, dan pisang sebagai pemberi rasa manis
serta pelembut tekstur. Tim pengabdi juga menyampaikan materi mengenai
kebersihan bahan, kebersihan alat, dan cara menangani produk pangan rumah
tangga agar aman dikonsumsi.
Kegiatan inti
dilakukan melalui praktik pembuatan panekuk sagu. Peserta menyiapkan bahan,
melumatkan buah naga dan pisang, mencampur bahan basah, mengayak tepung sagu,
mengaduk adonan, dan mendiamkan adonan beberapa menit sebelum dimasak. Peserta
kemudian memasak adonan menggunakan wajan datar dengan api kecil sampai panekuk
matang. Tim pengabdi mendampingi peserta selama praktik agar peserta dapat
memahami pengaruh kekentalan adonan, teknik pengadukan, dan suhu pemasakan
terhadap tekstur serta warna produk.
Kegiatan
pelatihan dilanjutkan dengan pengenalan pengemasan dan pemasaran sederhana. Tim
pengabdi menunjukkan cara menata panekuk dalam kemasan yang bersih dan menarik.
Peserta juga diajak menghitung kebutuhan bahan, memperkirakan biaya produksi,
dan mendiskusikan kemungkinan harga jual. Materi ini diberikan agar peserta
tidak hanya mampu membuat produk, tetapi juga mulai memahami cara menyiapkan
produk sebagai usaha rumah tangga.
Evaluasi
kegiatan dilakukan melalui pengamatan selama pelatihan dan diskusi bersama
peserta setelah praktik selesai. Tim pengabdi mengamati keterlibatan peserta,
kemampuan peserta mengikuti tahapan pembuatan panekuk, serta tanggapan peserta
terhadap rasa, warna, tekstur, dan tampilan produk. Peserta juga diminta
menyampaikan kendala yang mereka hadapi selama proses praktik. Hasil evaluasi
digunakan untuk menilai ketercapaian kegiatan dan menentukan kebutuhan
pendampingan lanjutan bagi masyarakat Kampung Yoka.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan PkM di
Kampung Yoka menghasilkan perubahan pemahaman peserta terhadap sagu, buah naga,
dan pisang sebagai bahan pangan lokal. Peserta pada awal kegiatan lebih
mengenal sagu sebagai bahan olahan tradisional, terutama untuk konsumsi rumah
tangga. Tim pengabdi memperkenalkan tepung sagu sebagai bahan utama panekuk,
buah naga sebagai pewarna alami, dan pisang sebagai pemberi rasa manis serta
pembentuk tekstur yang lebih lembut. Pemahaman tersebut memperluas cara pandang
peserta karena sagu tidak hanya ditempatkan sebagai pangan pokok, tetapi juga
sebagai bahan dasar kudapan yang dapat dikembangkan. Mulai dkk. (2012)
menyebutkan bahwa komoditas pangan lokal di Papua memiliki peluang sebagai
sumber pangan alternatif, sedangkan Sidiq dkk. (2021) menegaskan bahwa
sagu memiliki posisi kuat dalam kehidupan masyarakat Papua dan masih
membutuhkan pengembangan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumsi
masa kini.
Peserta
menunjukkan ketertarikan yang lebih kuat setelah tim pengabdi memperagakan
proses pengolahan bahan. Peserta melihat bahwa panekuk sagu tidak memerlukan
peralatan khusus dan dapat dibuat dengan bahan yang tersedia di sekitar
lingkungan rumah. Tim pengabdi juga menjelaskan bahwa bentuk panekuk lebih
mudah diterima oleh keluarga karena tampilannya menyerupai kudapan yang sudah
dikenal. Produk seperti ini memberi ruang baru bagi pangan lokal karena
masyarakat dapat mengenalkan sagu melalui bentuk konsumsi yang lebih dekat
dengan selera anak-anak dan konsumen umum. Sidiq dkk. (2022) menjelaskan
bahwa keberlanjutan konsumsi sagu dipengaruhi oleh penerimaan masyarakat,
ketersediaan produk, dan dukungan terhadap inovasi pangan lokal.
Kegiatan praktik
memperlihatkan bahwa peserta mampu mengikuti tahapan pembuatan panekuk sagu.
Peserta menyiapkan bahan, melumatkan buah naga dan pisang, mencampur adonan
basah, mengayak tepung sagu, mengatur kekentalan adonan, dan memasak panekuk
pada wajan datar. Peserta juga mulai memahami bahwa tepung sagu memiliki
karakter berbeda dari tepung terigu. Adonan berbasis sagu membutuhkan
pengadukan yang hati-hati dan pemasakan dengan api kecil agar tekstur tidak
terlalu padat dan warna alami buah naga tidak cepat berubah. Fitriyah dkk.
(2025) menekankan bahwa sagu perlu dikembangkan menjadi produk bernilai tambah
agar perannya tidak berhenti sebagai bahan pangan pokok alternatif.
Produk yang
dihasilkan berupa panekuk berbahan tepung sagu dengan tambahan buah naga dan
pisang. Produk tersebut memiliki warna yang berbeda karena buah naga memberi
warna merah muda pada sebagian adonan. Pisang memberi rasa manis alami dan
aroma yang lebih akrab bagi peserta. Hasil praktik juga menunjukkan bahwa
panekuk sagu memiliki tekstur yang lebih padat dibandingkan panekuk berbahan
terigu, sehingga komposisi cairan, lama pengadukan, dan suhu pemasakan perlu
terus disesuaikan. Gambar 2 menunjukkan bentuk produk panekuk sagu yang
dihasilkan dalam kegiatan pelatihan.
Gambar 1. Produk
panekuk berbahan tepung sagu dengan pewarna alami buah naga dan tambahan pisang
Gambar 1
memperlihatkan bahwa produk panekuk sagu dapat disajikan dengan tampilan
sederhana menggunakan alas daun pisangg. Penyajian tersebut memberi kesan lokal
dan sesuai dengan konteks Kampung Yoka. Warna merah muda pada salah satu
panekuk menunjukkan bahwa buah naga dapat memberi daya tarik visual tanpa
pewarna sintetis. Lim dkk. (2025) menjelaskan bahwa buah naga merah
mengandung pigmen betasianin yang berpotensi sebagai pewarna alami, sedangkan
Seth dkk. (2021) melaporkan bahwa buah naga memiliki komponen
antioksidan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pangan alami. Hasil
kegiatan ini memperlihatkan bahwa bahan lokal dapat membentuk karakter produk
melalui warna, rasa, dan cara penyajian.
Kegiatan edukasi
juga menghasilkan penguatan pengetahuan peserta tentang kebersihan bahan dan
alat produksi. Peserta memperoleh penjelasan mengenai pencucian bahan,
kebersihan wadah, penggunaan alat yang bersih, dan penanganan produk setelah
matang. Pengetahuan ini dibutuhkan karena produk pangan rumah tangga harus aman
dikonsumsi sebelum diarahkan menjadi produk jual. Oliveira
dkk. (2016) menjelaskan bahwa Good Manufacturing Practices dan
Sanitation Standard Operating Procedures menjadi dasar pengendalian keamanan
pangan. Hasnan dkk. (2022) juga menunjukkan bahwa kelemahan umum pada
usaha pangan kecil sering berkaitan dengan kebersihan personal, sanitasi
fasilitas, dokumentasi, dan kurangnya pelatihan. Hasil kegiatan di Kampung Yoka
menunjukkan bahwa pelatihan pangan lokal perlu selalu memuat aspek higienitas
sejak tahap awal.
Peserta memperoleh pengalaman awal
mengenai pengemasan dan peluang pemasaran produk. Tim pengabdi memperkenalkan
cara menata panekuk dalam kemasan sederhana, menjaga kebersihan tampilan, dan
memperkirakan harga jual berdasarkan bahan yang digunakan. Peserta mulai
memahami bahwa nilai produk tidak hanya berasal dari bahan baku, tetapi juga
dari konsistensi bentuk, kebersihan, rasa, dan cara produk ditawarkan.
Alghaniya dan Fitriani (2023) menunjukkan bahwa penerapan GMP dan SSOP pada
UMKM pangan berkaitan dengan kebersihan bahan, peralatan, lingkungan produksi,
dan perlindungan produk akhir. Fithri dkk. (2025) juga menunjukkan bahwa
kepatuhan terhadap standar keamanan pangan dapat meningkatkan kepercayaan
konsumen terhadap produk UMKM.
Kegiatan PkM ini memberi pengalaman
awal bagi peserta untuk melihat sagu sebagai bahan usaha rumah tangga. Peserta
tidak hanya memperoleh resep panekuk, tetapi juga memahami hubungan antara
bahan lokal, teknik pengolahan, tampilan produk, dan peluang pasar. Saa (2024)
menunjukkan bahwa penguatan komoditas lokal di Papua dapat mendukung
peningkatan produksi, pendapatan, dan kesempatan kerja, meskipun akses pasar
dan infrastruktur masih menjadi tantangan. Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa
panekuk sagu dapat menjadi produk awal untuk menggerakkan usaha kecil apabila
peserta mendapat pendampingan lanjutan pada standardisasi resep, pengemasan,
dan pemasaran.
Kegiatan ini masih memiliki
keterbatasan karena evaluasi dilakukan melalui pengamatan dan diskusi selama
pelatihan. Tim pengabdi belum melakukan pre-test dan post-test, uji
organoleptik terstruktur, uji daya simpan, dan analisis kelayakan usaha.
Herlosky dkk. (2025) menyatakan bahwa evaluasi program berbasis
komunitas perlu memperhatikan perubahan pengetahuan, niat penerapan, hambatan
pelaksanaan, dan tindak lanjut program. Kegiatan lanjutan perlu menyertakan
instrumen evaluasi yang lebih terukur agar pengaruh pelatihan terhadap
pengetahuan, keterampilan, dan peluang ekonomi peserta dapat dibaca dengan
lebih kuat.
Kegiatan PkM panekuk sagu di Kampung
Yoka menunjukkan bahwa inovasi pangan lokal dapat dimulai dari pelatihan
sederhana yang dekat dengan dapur rumah tangga. Peserta dapat mempraktikkan
pengolahan sagu menjadi produk kudapan, mengenali fungsi buah naga dan pisang
dalam adonan, serta memahami dasar kebersihan dan pengemasan. Domingo dkk.
(2024) menekankan bahwa pendekatan partisipatif dalam sistem pangan lokal perlu
memperkuat kapasitas komunitas melalui kegiatan yang dapat dilakukan secara
bertahap. Kegiatan ini memperlihatkan bahwa pengembangan pangan lokal tidak
harus selalu dimulai dari teknologi yang rumit, tetapi dapat dimulai dari
praktik kecil yang dapat diulang, diperbaiki, dan dikembangkan oleh masyarakat.
SIMPULAN
Kegiatan PkM pembuatan panekuk sagu
di Kampung Yoka memberi pengalaman baru kepada peserta dalam mengolah sagu,
buah naga, dan pisang menjadi produk kudapan berbasis pangan lokal. Peserta
memperoleh pengetahuan mengenai fungsi bahan, cara menyiapkan adonan, teknik
pemasakan, kebersihan proses produksi, serta pengemasan sederhana. Produk
panekuk yang dihasilkan menunjukkan bahwa tepung sagu dapat dikembangkan
menjadi olahan yang lebih beragam tanpa meninggalkan bahan yang dekat dengan
kehidupan masyarakat setempat. Buah naga memberi warna alami pada produk,
sedangkan pisang memberi rasa manis dan membantu membentuk tekstur yang lebih
mudah diterima. Kegiatan
ini juga membuka cara pandang peserta terhadap peluang ekonomi rumah tangga
dari bahan pangan lokal. Peserta mulai memahami bahwa nilai jual produk tidak
hanya ditentukan oleh ketersediaan bahan baku, tetapi juga oleh keterampilan
mengolah, menjaga kebersihan, menata tampilan, dan menawarkan produk kepada
konsumen. Pelatihan ini masih berada pada tahap penguatan dasar, sehingga
kegiatan lanjutan diperlukan untuk memperbaiki standardisasi resep, menguji
daya simpan, memperkuat pengemasan, dan mendampingi pemasaran produk secara
lebih terarah. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, panekuk sagu berbahan
buah naga dan pisang dapat dikembangkan sebagai salah satu produk usaha rumah
tangga masyarakat Kampung Yoka.
UCAPAN TERIMA KASIH
Tim pengabdi menyampaikan terima
kasih kepada Kepala Kampung Yoka beserta aparat kampung yang telah memberi izin
dan mendukung pelaksanaan kegiatan ini. Tim pengabdi juga menyampaikan terima
kasih kepada mama-mama Kampung Yoka yang telah mengikuti kegiatan dengan aktif
sejak tahap penyampaian materi sampai praktik pembuatan panekuk sagu. Ucapan
terima kasih juga disampaikan kepada dosen pendamping, mahasiswa, dan seluruh
pihak yang telah membantu persiapan bahan, pelaksanaan pelatihan, dokumentasi,
serta pendampingan selama kegiatan berlangsung. Dukungan berbagai pihak
tersebut membuat kegiatan PkM ini dapat terlaksana dengan baik dan memberi
manfaat awal bagi pengembangan pangan lokal di Kampung Yoka.
REFERENSI
Alghaniya, A., & Fitriani, A. (2023). Analysis of
the application of good manufacturing practices (GMP) and sanitation standard
operating procedures (SSOP) for products “Emping Singkong Super Telur Bu Siti”
in Bantul, Yogyakarta. Journal of Halal Science and Research, 4(2).
https://doi.org/10.12928/jhsr.v4i2.7478
Domingo, A., Yessis, J., Zupko, B., [lengkapi nama
penulis lainnya]. (2024). Scale up of the learning circles: A participatory
action approach to support local food systems in four diverse First Nations
school communities within Canada. BMC Public Health, 24.
https://doi.org/10.1186/s12889-024-19391-z
Fithri, P., Mukhrima, H., Adi, A. H. B., Putri, N. T.,
& Albar, B. B. (2025). Food safety standards: GMP and SSOP in rendang
production by MSMEs in Padang. E3S Web of Conferences, 677, 10001.
https://doi.org/10.1051/e3sconf/202567710001
Fitriyah, A. T., Baharuddin, B., & Sheyoputri, A.
C. A. (2025). Analysis of sago contribution as staple food alternatives to
household food security. Journal of Global Innovations in Agricultural
Sciences. https://doi.org/10.22194/jgias/25.1485
Hasnan, N. Z. N., Basha, R., Amin, N. A. M., Ramli, S.
H. M., Huat, J. T. Y., & Aziz, N. A. (2022). Analysis of the most frequent
nonconformance aspects related to good manufacturing practices (GMP) among
small and medium enterprises (SMEs) in the food industry and their main
factors. Food Control.
https://doi.org/10.1016/j.foodcont.2022.109205
Herlosky, K. N., Leverett, A., Philbert, R., [lengkapi
nama penulis lainnya]. (2025). Barriers and facilitators of implementing a
community workshop series to mitigate maternal-child food insecurity: A
mixed-methods RE-AIM evaluation. BMC Public Health, 25.
https://doi.org/10.1186/s12889-025-24714-9
Lim, T. W., Lim, R. L. H., Pui, L., Tan, C. P., &
Ho, C. W. (2025). Red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus), a superfruit
rich in betacyanins pigments with antioxidative potential for hepatoprotection:
A review. Future Foods. https://doi.org/10.1016/j.fufo.2025.100562
Mulai, M., Komoditas, P., Lokal, P., [lengkapi nama
penulis lainnya]. (2012). Pemanfaatan komoditas pangan lokal sebagai sumber
pangan alternatif di Papua. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan
Teknologi Pertanian, 28, 54–62. https://doi.org/10.21082/jp3.v28n2.2009.p54
Oliveira, C. A., Cruz, A., Tavolaro, P., &
Corassin, C. (2016). Food safety: Good manufacturing practices (GMP),
sanitation standard operating procedures (SSOP), hazard analysis and critical
control point. In Food safety. Elsevier.
https://doi.org/10.1016/B978-0-12-800723-5.00010-3
Saa, S. (2024). Evaluation of the policy program for
strengthening local food commodities for sustainable food security in
Papua. JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia).
https://doi.org/10.29210/020244167
Seth, S., Kaba, L., Ahirwar, S., [lengkapi nama
penulis lainnya]. (2021). Characterization of dragon fruit (Hylocereus
undatus) antioxidative components to explore their utility as natural food
additive. Egyptian Journal of Food Science.
https://doi.org/10.21608/ejfs.2021.61698.1098
Sidiq, F. F., Coles, D., Hubbard, C., Clark, B., &
Frewer, L. (2021). Sago and the indigenous peoples of Papua, Indonesia: A
review. Journal of Agriculture and Applied Biology.
https://doi.org/10.11594/jaab.02.02.08
Sidiq, F. F., Coles, D., Hubbard, C., Clark, B., &
Frewer, L. (2022). Factors influencing consumption of traditional diets:
Stakeholder views regarding sago consumption among the indigenous peoples of
West Papua. Agriculture & Food Security, 11.
https://doi.org/10.1186/s40066-022-00390-5
No comments:
Post a Comment