Thursday, August 20, 2026

Implementasi Green Manaement Pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di Kedurus Kota Surabaya

 

Implementasi Green Manaement Pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di Kedurus Kota Surabaya | Aqillah | Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin

Muchammad Faizal Aqillah1, Ismawati2, Eny Sulistyowati3

1,2,3Program Manajemen, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi IBMT Surabaya,

Email: faizalaqillah73@gmail.com, iswatiibmt@gmail.com, enysulistyowati7171@gmail.com

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan implementasi Green Management pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kedurus, Kota Surabaya. Secara teoretis, Green Management merupakan pendekatan manajerial yang mengintegrasikan prinsip keberlanjutan lingkungan ke dalam seluruh fungsi manajemen, mulai dari perencanaan hingga pengawasan, guna meminimalkan eksternalitas negatif operasional terhadap ekosistem. Tujuan penelitian ini didasarkan pada potensi dampak lingkungan dari Program MBG, seperti peningkatan limbah makanan, penggunaan kemasan plastik sekali pakai, serta tingginya konsumsi energi dan air dalam proses produksi massal di tingkat SPPG. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pengelola SPPG dan observasi langsung terhadap alur pengolahan makanan, sementara data sekunder bersumber dari SOP internal serta literatur manajemen lingkungan yang relevan. Analisis data difokuskan pada empat dimensi utama: pemanfaatan bahan baku lokal yang ramah lingkungan, efisiensi pengelolaan limbah melalui strategi komposting dan pengurangan sampah plastik, kebijakan serta komitmen organisasi terhadap standar operasional yang berkelanjutan, dan  peran kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam menginternalisasi budaya kesadaran lingkungan. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun Program MBG memiliki nilai strategis dalam peningkatan gizi, implementasi prinsip Green Management di SPPG Kedurus diduga belum berjalan optimal dikarenakan belum adanya regulasi teknis yang komprehensif serta masih kuatnya orientasi pada target distribusi fisik dibanding keberlanjutan lingkungan.

Kata kunci: Green Management, Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Manajemen Pelayanan Publik.

ABSTRACT

This study aims to analyze and describe the implementation of Green Management in the Free Nutritious Meals (MBG) Program at the Nutrition Fulfillment Service Unit (SPPG) in Kedurus, Surabaya City. Theoretically, Green Management is a managerial approach that integrates environmental sustainability principles into all management functions, from planning to supervision, in order to minimize the negative operational externalities on ecosystems. The purpose of this study is based on the potential environmental impacts of the MBG Program, such as increased food waste, the use of single-use plastic packaging, and high energy and water consumption in the mass food production process at the SPPG level. The research method used is qualitative with a descriptive approach. Primary data were obtained through in-depth interviews with SPPG managers and direct observation of the food processing flow, while secondary data were sourced from internal SOPs and relevant environmental management literature. Data analysis focused on four main dimensions: the utilization of environmentally friendly local raw materials, waste management efficiency through composting strategies and plastic waste reduction, organizational policies and commitments to sustainable operational standards, and the role of Human Resources (HR) capacity in internalizing a culture of environmental awareness. The findings indicate that although the MBG Program has strategic value in improving nutrition, the implementation of Green Management principles at SPPG Kedurus is presumed to have not yet been optimal due to the absence of comprehensive technical regulations and the continued strong emphasis on physical distribution targets over environmental sustainability.

Keywords: Green Management, Free Nutritious Meal Program (MBG), Public Service Management.

 

Article Info

Received date: 24 July  2026                                     Revised date: 28 July 2026                                       Accepted date: 18 August  2026

 

PENDAHULUAN


Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program prioritas nasional pemerintah Indonesia yang bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan gizi masyarakat, khususnya peserta didik. Penyelenggaraan program ini diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis, yang mencakup perencanaan, rantai pasok, keamanan pangan, pengembangan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), serta penanganan sisa makanan dan limbah kemasan. Ketentuan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan MBG tidak hanya ditentukan oleh pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga oleh pengelolaan sumber daya dan lingkungan dalam proses penyelenggaraannya.

Penyediaan makanan dalam skala besar berpotensi menghasilkan limbah makanan dan kemasan apabila tidak dikelola secara efektif. Pancino et al. (2021) dan Antón et al. (2021) menunjukkan bahwa penyelenggaraan makanan di sekolah dapat menghasilkan pemborosan pangan akibat perencanaan menu, pengendalian porsi, dan perilaku konsumsi yang belum optimal. Sejalan dengan hal tersebut, Colombo et al. (2021) dan Gardner et al. (2023) menekankan pentingnya kapasitas manajemen, pengurangan limbah, penggunaan bahan lokal, serta pengelolaan operasional yang berkelanjutan dalam mewujudkan sistem pangan sekolah yang ramah lingkungan. Kondisi tersebut menjadi semakin penting mengingat Perpres Nomor 115 Tahun 2025 telah mengamanatkan penanganan sisa makanan dan limbah kemasan pada tingkat SPPG maupun penerima manfaat.

Pendekatan Green Management menjadi relevan untuk diterapkan dalam penyelenggaraan MBG. Green Management menekankan efisiensi penggunaan sumber daya, pengurangan limbah, optimalisasi proses operasional, serta tanggung jawab terhadap lingkungan. Penerapan prinsip tersebut dapat membantu organisasi mengintegrasikan aspek lingkungan ke dalam kegiatan operasional tanpa mengabaikan pencapaian tujuan utama program. Pengelolaan bahan baku, energi, air, limbah makanan, dan kemasan perlu menjadi bagian dari tata kelola penyelenggaraan MBG.

SPPG Kedurus Kota Surabaya sebagai salah satu unit pelaksana MBG memiliki peran penting dalam menerapkan prinsip Green Management pada tingkat operasional. Proses pengadaan bahan baku, penyimpanan, pengolahan makanan, distribusi, hingga pengelolaan sisa makanan berpotensi menimbulkan dampak lingkungan apabila tidak dikelola secara tepat. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, pengelolaan lingkungan juga semakin kuat karena Kota Surabaya menghadapi timbulan sampah yang tinggi hingga 660.946,82 ton per tahun. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya upaya pengurangan sampah dari sumbernya, termasuk melalui pengelolaan kegiatan penyediaan makanan secara lebih berkelanjutan.

Implementasi Green Management dalam MBG juga berkaitan dengan kemampuan sumber daya manusia dan kepatuhan terhadap prosedur operasional. Praktik ramah lingkungan tidak hanya membutuhkan ketersediaan sarana dan kebijakan, tetapi juga pemahaman serta keterlibatan tenaga pelaksana dalam menjalankan setiap tahapan kegiatan. Pengelolaan sisa makanan, pemilahan limbah, efisiensi penggunaan bahan baku dan energi, serta penerapan prosedur kerja yang konsisten menjadi bagian penting dalam mendukung keberlanjutan operasional SPPG. Penerapan Green Management dapat menjadi pendekatan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi potensi dampak lingkungan dari pelaksanaan MBG.

Aspek lingkungan telah menjadi bagian dalam tata kelola MBG, kajian mengenai penerapan prinsip Green Management pada tingkat operasional SPPG masih terbatas. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kebutuhan untuk melihat bagaimana prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan diterapkan dalam praktik, termasuk faktor yang mendukung dan menghambat pelaksanaannya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi Green Management pada Program Makan Bergizi Gratis di SPPG Kedurus Kota Surabaya, khususnya dalam aspek efisiensi energi, pengelolaan limbah, penggunaan teknologi ramah lingkungan, pengelolaan sumber daya alam, serta transparansi dan akuntabilitas.


 

TINJAUAN PUSTAKA

Green Management merupakan pendekatan manajemen yang mengintegrasikan prinsip keberlanjutan lingkungan ke dalam aktivitas organisasi dengan tetap memperhatikan pencapaian tujuan organisasi. Penerapannya mencakup perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya serta mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Berdasarkan konteks pelayanan publik, Green Management menjadi relevan karena aktivitas organisasi pemerintah juga dapat menghasilkan limbah dan menggunakan sumber daya dalam jumlah besar.

Menurut Sudarmanto et al. (2025), Green Management bertujuan meminimalkan dampak negatif organisasi terhadap lingkungan melalui lima prinsip, yaitu efisiensi energi, pengelolaan limbah yang bertanggung jawab, penggunaan teknologi ramah lingkungan, pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, serta transparansi dan akuntabilitas. Prinsip tersebut dapat diterapkan dalam operasional SPPG melalui efisiensi penggunaan energi dan bahan baku, pengurangan serta pemilahan limbah makanan dan kemasan, pemanfaatan teknologi yang mendukung efisiensi, serta pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan lingkungan.

Implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan proses pelaksanaan kebijakan yang bertujuan memastikan penyediaan makanan bergizi bagi kelompok sasaran. Keberhasilan implementasi kebijakan menurut George C. Edward III dipengaruhi oleh komunikasi, sumber daya, disposisi pelaksana, dan struktur birokrasi. Implementasi MBG, faktor implementasi kebijakan berkaitan dengan koordinasi pelaksana, ketersediaan sumber daya, komitmen terhadap standar program, serta pembagian tugas dan pengawasan dalam penyediaan makanan.

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) merupakan unit operasional yang melaksanakan kegiatan penyediaan makanan bergizi, mulai dari perencanaan menu, pengadaan bahan pangan, pengolahan, pengemasan, hingga distribusi kepada penerima manfaat. SPPG juga berperan memastikan makanan memenuhi standar gizi, keamanan pangan, dan kualitas yang ditetapkan. Oleh karena itu, penerapan Green Management pada SPPG Kedurus Kota Surabaya penting untuk mendukung pelaksanaan MBG yang tidak hanya efektif dalam pemenuhan gizi, tetapi juga efisien dalam penggunaan sumber daya dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif untuk mengkaji implementasi Green Management dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kedurus Kota Surabaya. Menurut Sugiyono (2019), penelitian kualitatif digunakan untuk mengkaji objek dalam kondisi alamiah dengan peneliti sebagai instrumen utama. Data diperoleh melalui teknik triangulasi dan dianalisis secara induktif untuk memahami fenomena berdasarkan kondisi empiris di lapangan.

Pendekatan kualitatif dipilih karena memungkinkan peneliti memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai penerapan prinsip Green Management dalam kegiatan operasional SPPG. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk menggali penerapan prinsip efisiensi energi, pengelolaan limbah, penggunaan teknologi ramah lingkungan, pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, serta transparansi dan akuntabilitas dalam proses perencanaan, pengadaan, produksi, dan distribusi makanan. Pendekatan ini memungkinkan fenomena yang diteliti dipahami berdasarkan kondisi dan pengalaman para pelaksana secara langsung.

Penelitian kualitatif dilakukan dalam lingkungan alamiah dengan pengumpulan data secara langsung dari sumber penelitian (Creswell & Creswell, 2023). Penelitian ini dilaksanakan di SPPG Karangpilang yang berlokasi di Jl. Kedurus Dukuh I No. 14, Kedurus, Kecamatan Karangpilang, Kota Surabaya, Jawa Timur. Lokasi tersebut dipilih karena merupakan unit operasional yang melaksanakan kegiatan penyediaan makanan dalam Program MBG sehingga relevan untuk mengkaji penerapan prinsip Green Management dalam proses pengadaan bahan baku, produksi, distribusi, serta pengelolaan sisa makanan dan limbah. Penelitian dilaksanakan mulai minggu kedua Maret hingga Juni 2026.

Data penelitian diperoleh dari hasil wawancara dengan informan yang terlibat dalam pelaksanaan MBG, observasi terhadap kegiatan operasional SPPG, serta dokumentasi yang berkaitan dengan pelaksanaan program. Data yang terkumpul dianalisis secara induktif untuk memperoleh gambaran mengenai bentuk penerapan, faktor pendukung, serta kendala dalam implementasi Green Management. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran secara komprehensif mengenai penerapan prinsip Green Management dalam mendukung efisiensi dan keberlanjutan operasional Program Makan Bergizi Gratis di SPPG Kedurus Kota Surabaya.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Implementasi Green Management pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kedurus Kota Surabaya menunjukkan bahwa prinsip keberlanjutan telah mulai diintegrasikan dalam berbagai aktivitas operasional. Penerapan tersebut terlihat dari upaya efisiensi penggunaan sumber daya, pengurangan limbah, pengelolaan bahan pangan, serta pelaksanaan pengawasan dan evaluasi. Implementasinya belum sepenuhnya optimal karena masih terdapat kendala pada aspek teknologi, pengelolaan limbah, kepatuhan terhadap SOP, dan kondisi lingkungan kerja.

Efisiensi Energi

            Efisiensi energi di SPPG Kedurus telah diterapkan melalui penggunaan air, listrik, dan peralatan produksi sesuai kebutuhan. SOP telah mengatur penggunaan sumber daya tersebut untuk mencegah pemborosan, sedangkan monitoring dilakukan terhadap penggunaan listrik, air, dan bahan baku selama kegiatan produksi. Penerapan ini menunjukkan adanya upaya untuk mengintegrasikan efisiensi sumber daya ke dalam kegiatan operasional sehari-hari. Efisiensi energi masih menghadapi kendala berupa tingginya suhu ruang produksi akibat penggunaan beberapa kompor secara bersamaan. Kondisi tersebut menyebabkan kebutuhan energi relatif tinggi, meskipun penggunaan lampu dan peralatan listrik telah disesuaikan dengan kebutuhan. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan efisiensi energi telah berjalan cukup baik melalui SOP dan monitoring, tetapi masih membutuhkan dukungan peralatan yang lebih hemat energi dan teknologi yang mampu mengurangi konsumsi energi.

Pengelolaan Limbah yang Bertanggung Jawab

            Pengelolaan limbah di SPPG Kedurus dilakukan melalui pemilahan limbah organik dan anorganik serta upaya mengurangi food waste. Pengurangan sisa makanan dilakukan melalui perencanaan menu, pengendalian porsi, dan evaluasi terhadap sisa makanan dari penerima manfaat. Praktik tersebut menunjukkan bahwa prinsip Reduce telah mulai diterapkan dalam kegiatan operasional SPPG. pengelolaan limbah organik masih menjadi salah satu aspek yang perlu diperkuat. Keterbatasan dalam pengolahan sisa makanan menyebabkan penerapan prinsip 3R belum sepenuhnya optimal. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan SOP dan pemilahan limbah belum cukup apabila tidak disertai sistem pengolahan limbah yang memadai. Implementasi Green Management pada aspek ini perlu diarahkan pada penguatan pengolahan sisa makanan agar limbah yang dihasilkan dapat dikurangi dan tidak hanya dipindahkan dari sumber ke tempat pembuangan.

Teknologi Ramah Lingkungan

            Penggunaan teknologi ramah lingkungan di SPPG Kedurus telah mendukung beberapa kegiatan operasional, khususnya dalam penyimpanan dan pengelolaan bahan pangan. Namun, penerapannya masih berada pada tahap pengembangan karena belum didukung teknologi yang secara khusus dirancang untuk meningkatkan efisiensi energi, mengurangi emisi, dan mengoptimalkan pengolahan limbah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa teknologi belum menjadi instrumen utama dalam penerapan Green Management di SPPG Kedurus. Pengembangan teknologi dapat diarahkan pada penggunaan peralatan memasak hemat energi, sistem ventilasi yang lebih efektif, digitalisasi monitoring penggunaan energi dan bahan baku, serta teknologi pengolahan limbah organik. Penguatan aspek teknologi penting karena penerapan Green Management tidak hanya bergantung pada kebijakan dan perilaku pelaksana, tetapi juga membutuhkan sarana yang mampu mendukung efisiensi dan keberlanjutan operasional.

Pengelolaan Sumber Daya Alam yang Berkelanjutan

            Pengelolaan sumber daya alam di SPPG Kedurus telah dilakukan melalui perencanaan kebutuhan bahan pangan berdasarkan jumlah penerima manfaat, penggunaan standar resep dan gramasi, serta penerapan metode FIFO. SPPG juga memanfaatkan bahan pangan lokal melalui UMKM dan pemasok di sekitar Surabaya sehingga dapat memperpendek rantai distribusi dan menjaga kesegaran bahan pangan. Penerapan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sumber daya telah dilakukan secara terencana untuk mengurangi pemborosan bahan pangan. Penggunaan sistem Purchase Order (PO), perhitungan kebutuhan berdasarkan standar resep dan Berat yang Dapat Dimakan (BDD), serta pemeriksaan kualitas bahan ketika diterima menjadi bentuk pengendalian yang mendukung efisiensi penggunaan sumber daya. Ketergantungan terhadap pemasok tertentu masih menjadi kendala sehingga diversifikasi pemasok dan penguatan rantai pasok perlu dilakukan untuk meningkatkan keberlanjutan pengadaan bahan pangan.

Transparansi dan Akuntabilitas

Transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan MBG di SPPG Kedurus diwujudkan melalui briefing harian, evaluasi rutin, pembagian tugas, pencatatan penggunaan sumber daya, serta pengawasan pada setiap tahapan operasional. Pengawasan dilakukan sejak penerimaan bahan baku, penyimpanan, produksi, hingga distribusi dengan melibatkan PIC area, ahli gizi, dan Kepala SPPG. Akuntabilitas juga didukung melalui penggunaan form kebersihan harian dan dokumentasi pemeriksaan kegiatan produksi. Sistem tersebut memungkinkan setiap kegiatan dipantau dan dipertanggungjawabkan oleh pihak yang memiliki tanggung jawab pada masing-masing bagian. Pencatatan kebutuhan bahan pangan, penggunaan anggaran, dan pelaporan kegiatan kepada Badan Gizi Nasional menjadi bentuk transparansi dalam penyelenggaraan program.

keberhasilan Green Management tidak hanya ditentukan oleh keberadaan kebijakan dan SOP, tetapi juga membutuhkan dukungan teknologi, sumber daya manusia, infrastruktur, serta budaya organisasi yang berorientasi pada keberlanjutan. Oleh karena itu, penguatan kapasitas SDM, peningkatan kepatuhan terhadap SOP, pengembangan teknologi ramah lingkungan, dan optimalisasi pengelolaan limbah menjadi langkah penting agar penerapan Green Management di SPPG Kedurus dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

 

Top of Form

Bottom of Form

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian, implementasi Green Management pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kedurus Kota Surabaya telah diterapkan melalui lima prinsip, yaitu efisiensi energi, pengelolaan limbah, penggunaan teknologi ramah lingkungan, pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, serta transparansi dan akuntabilitas. Implementasi tersebut menunjukkan adanya komitmen SPPG dalam mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam kegiatan operasional, meskipun pelaksanaannya belum sepenuhnya optimal.

Penerapan yang relatif baik terlihat pada pengelolaan sumber daya alam serta transparansi dan akuntabilitas melalui perencanaan kebutuhan bahan pangan, penerapan FIFO, pemanfaatan pemasok lokal, briefing, monitoring, evaluasi, dan pencatatan kegiatan. Sementara itu, efisiensi energi, pengelolaan limbah, dan penggunaan teknologi ramah lingkungan masih memerlukan penguatan, terutama dalam penggunaan teknologi hemat energi, pengolahan limbah organik, dan penerapan teknologi yang berorientasi pada keberlanjutan. Kepatuhan sumber daya manusia terhadap SOP juga perlu ditingkatkan untuk mendukung konsistensi penerapan prinsip Green Management.

Implementasi Green Management di SPPG Kedurus dapat dikategorikan cukup baik karena prinsip-prinsip keberlanjutan telah mulai terintegrasi dalam operasional Program MBG, tetapi masih terdapat kendala yang perlu diperbaiki. Penguatan teknologi ramah lingkungan, optimalisasi pengelolaan limbah, peningkatan efisiensi energi, serta penguatan disiplin dan budaya kerja berkelanjutan menjadi aspek penting untuk mendukung penyelenggaraan Program MBG yang lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan.

 

REFERENSI

Agustini., Grashinta, A., Putra, S., Sukarman., Guampe, F. A., Akbar, J. S., Lubis, M. A., Maryati, I., Ririnisahawaitun., Mesra, R., Sari, M. N., Tuerah, P. R., Rahmadhani, M. V., & Rulanggi, R. (2023). Metode Penelitian Kualitatif (Teori dan Panduan Praktis Analisis Data Kualitatif). PT. Mifandi Mandiri Digital.

Antón-Peset, A., Fernández-Zamudio, M. A., & Pina, T. (2021). Promoting food waste reduction at primary schools: A case study. Sustainability, 13(2), 600. URL: https://www.mdpi.com/2071-1050/13/2/600 . Diakses pada tanggal 15 Februari 2026.

Asrulla, A., Risnita, R., Jailani, M. S., & Jeka, F. (2023). Populasi dan sampling (kuantitatif), serta pemilihan informan kunci (kualitatif) dalam pendekatan praktis. Jurnal Pendidikan Tambusai, 7(3), 26320–26332.

Badan Gizi Nasional. (2024). Pedoman penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Jakarta: Badan Gizi Nasional Republik Indonesia.

Bathmanathan, V., Rajadurai, J., & Alahakone, R. (2023). Food waste management system in secondary schools. Heliyon. URL:  https://www.cell.com/heliyon/fulltext/S2405-8440(23)07535-7 . Diakses pada tanggal 18 Februari 2026.

Chaves, V. M., Rocha, C., Gomes, S. M., Jacob, M. C. M., & da Costa, J. B. A. (2023). Integrating family farming into school feeding: A systematic review of challenges and potential solutions. Sustainability, 15(4). URL:
https://www.mdpi.com/2071-1050/15/4/2863 . Diakses pada tanggal 18 Februari 2026.

Colombo, P. E., Elinder, L. S., & Patterson, E. (2021). Barriers and facilitators to successful implementation of sustainable school meals. International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity. URL:
https://link.springer.com/article/10.1186/s12966-021-01158-z . Diakses pada tanggal 18 Februari 2026.

Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2023). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (6th ed.). Sage Publications.

Damanhuri, E & Padmi, T. (2019). Pengelolaan Sampah Terpadu. Bandung: ITB Press.

Ernawati, F., et al. (2023). Micronutrients and nutrition status of school-aged children in Indonesia. Journal of Nutrition and Metabolism. URL:
https://doi.org/10.1155/2023/4610038 . Diakses pada tanggal 23 Februari 2026.

Fadila, F., Safriani, S., Eliana, E., & Khaddafi, M. (2025). Pengumpulan data dalam penelitian kualitatif: Wawancara. Jurnal Intelek Insan Cendikia. URL:  https://jicnusantara.com/index.php/jiic/article/view/4377 . Diakses pada tanggal 23 Februari 2026.

Gardner, G., Burton, W., Sinclair, M., & Bryant, M. (2023). Interventions to strengthen environmental sustainability of school food systems. International Journal of Environmental Research and Public Health, 20(11). URL: https://www.mdpi.com/1660-4601/20/11/5916 . Diakses pada tanggal 25 Februari 2026.

Iba, Z., & Wardhana, A. (2023). Metode Penelitian. CV. Eureka Media Aksara.

Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing management (15th ed.). Pearson Education. URL: https://www.pearson.com/en-us/subject-catalog/p/marketing-management/P200000003178 . Diakses pada tanggal 24 Februari 2026.

Lonska, J., Kodors, S., Deksne, J., & Litavniece, L. (2025). Reducing plate waste in schools. Foods, 14(1). URL: https://www.mdpi.com/23048158/14/1/126 . Diakses pada tanggal 26 Februari 2026.

Muisyo, P., Su, Q., Ho, T. H., Julius, M. M., & Usmani, M. S. (2022). Implications of green HRM on the firm's green competitive advantage: The mediating role of enablers of green culture. Journal of Manufacturing Technology Management, 33(2), 308-333. URL:
https://doi.org/10.1108/JMTM-01-2021-0033 . Diakses pada tanggal 27 Februari 2026

Nurulaini, R., & Afifah, D. F. (2025). Implementasi Program MBG Untuk Meningkatkan Gizi Anak Sekolah Dasar di Kota Semarang 2025. Jurnal Sosial Teknologi, 5(11), 4249-4259. URL: https://doi.org/10.59188/jurnalsostech.v5i11.32520 . Diakses pada tanggal 27 Februari 2026.

Pancino, B., Cicatiello, C., Falasconi, L., & Franco, S. (2021). School canteens and the food waste challenge: Which public initiatives can help? Waste Management & Research. URL:  https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/0734242X21989418 . Diakses pada tanggal 1 Maret 2026.

Purba, B., Nainggolan, L. E., Siregar, R. T., Chaerul, M., Simarmata, M. M. T., Bachtiar, E., Rahmadana, M. F., Marzuki, I., & Meganingratna, A. (2020). Ekonomi Sumber Daya Alam: Sebuah Konsep, Fakta dan Gagasan. Yayasan Kita Menulis.

Purwanto. (2018). Teknik penyusunan instrumen uji validitas dan reliabilitas penelitian ekonomi syariah (1st ed.). Magelang: Staial Press.

Sudarmanto, E., Hakim, F., Nurhuda, H., Salju, Dlt, N. P., Indrawati, M., Rahmawati. T., Wahidin, Sadi. S., Ariefin. M. S., Purwanto. E., Isrok, Al-Azizah. U. S., Ghani. I., Yusmaliana. D. (2025). Green Management: Konsep dan Implementasi. Banten: Minhaj Pustaka.

Sugiyono. (2020). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Suryani, N., Ulfatin, N., & Hardani, A. (2023). The application of Colaizzi's method in conducting research across two languages. ResearchGate. URL:
https://www.researchgate.net/publication/309289109 . Diakses pada tanggal 27 Februari 2026.

Wani, N. R., Rather, R. A., Farooq, A., & Padder, S. A. (2024). New insights in food security and environmental sustainability through waste food management. Environmental Science and Pollution Research. URL: https://link.springer.com/article/10.1007/s11356-023-26462-y . Diakses pada tanggal 1 Maret 2026.

 

 

Strategi Pelestarian Penggunaan Bahasa Adat di Kenagarian Kambang Barat, Kabupaten Pesisir Selatan

 

Strategies for Preserving the Use of the Indigenous Language in Kenagarian Kambang Barat, Pesisir Selatan Regency

 

Delpa¹, Yosi Kurnia2

¹Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Perintis Indonesia, Padang, Indonesia

2Program Studi Bisnis Digital, Universitas Perintis Indonesia, Padang, Indonesia

Email: starring342014@gmail.com

 

Abstrak

Bahasa adat merupakan salah satu identitas budaya masyarakat Minangkabau yang memiliki fungsi sebagai media komunikasi, pewarisan nilai budaya, serta penguatan identitas sosial masyarakat. Seiring dengan hadirnya perkembangan globalisasi, kemajuan teknologi informasi, serta perubahan pola komunikasi masyarakat menyebabkan penggunaan bahasa adat mengalami penurunan, terutama di kalangan generasi muda. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi pelestarian penggunaan bahasa adat di Kanagarian Kambang Barat, Kabupaten Pesisir Selatan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam terhadap tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pemuda, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan menggunakan model analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa adat masih dipertahankan dalam kegiatan adat, musyawarah nagari, upacara perkawinan, kegiatan keagamaan, dan penyelesaian persoalan adat. Namun, penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari mulai mengalami penurunan akibat dominasi bahasa Indonesia, perkembangan media digital, perubahan pola komunikasi keluarga, serta berkurangnya keterlibatan generasi muda dalam kegiatan adat. Strategi pelestarian yang dapat dilakukan meliputi penguatan peran keluarga, optimalisasi fungsi lembaga adat, integrasi pembelajaran bahasa adat di sekolah, pemberdayaan organisasi kepemudaan, serta pemanfaatan media digital sebagai sarana edukasi budaya. Kolaborasi seluruh elemen masyarakat menjadi faktor utama dalam menjaga keberlangsungan penggunaan bahasa adat sebagai bagian dari identitas budaya Minangkabau.

Kata Kunci: bahasa adat, pelestarian budaya, komunikasi budaya

Abstract

Traditional language is an essential element of Minangkabau cultural identity that functions as a medium of communication, cultural transmission, and social identity reinforcement. Globalization, technological development, and changes in communication patterns have contributed to the declining use of traditional language, particularly among younger generations. This study aims to analyze strategies for preserving the use of traditional language in Kenagarian Kambang Barat, Pesisir Selatan Regency. The research employed a descriptive qualitative approach using observation, in-depth interviews with traditional leaders, religious leaders, community leaders, and youth, as well as documentation. Data were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that traditional language remains actively used during customary ceremonies, village deliberations, weddings, religious events, and traditional dispute resolution. However, its daily use has gradually decreased due to the dominance of the Indonesian language, digital media influence, changes in family communication patterns, and limited youth participation in customary activities. Preservation strategies include strengthening the role of families, empowering customary institutions, integrating traditional language into educational activities, involving youth organizations, and utilizing digital media as a platform for cultural education. Collaboration among all community stakeholders is essential to sustaining the traditional language as an important component of Minangkabau cultural identity.

Keywords: traditional language, cultural preservation, cultural communication


PENDAHULUAN

Bahasa merupakan salah satu unsur terpenting dalam kehidupan manusia karena berfungsi sebagai alat komunikasi, media penyampaian pengetahuan, sekaligus simbol identitas budaya suatu masyarakat. Menurut Ahmadi, dkk (2024), menjelaskan dalam perspektif komunikasi budaya, bahasa tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi sarana pewarisan nilai, norma, adat istiadat, dan pandangan hidup dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Keberlangsungan suatu bahasa daerah sangat menentukan keberlanjutan identitas budaya masyarakat yang menggunakannya.

Menurut Malik (2018) menyatakan masyarakat Minangkabau dikenal sebagai masyarakat yang memiliki sistem adat yang kuat dengan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Dalam sistem tersebut, bahasa adat mempunyai kedudukan yang sangat penting karena digunakan dalam berbagai aktivitas sosial, seperti musyawarah adat, penyelesaian sengketa, pengangkatan penghulu, upacara perkawinan, serta berbagai bentuk komunikasi adat lainnya. Bahasa adat juga menjadi media penyampaian petatah-petitih dan ungkapan adat yang mengandung nilai-nilai pendidikan, etika, serta filosofi kehidupan masyarakat Minangkabau.

   Kenagarian Kambang Barat di Kabupaten Pesisir Selatan merupakan salah satu wilayah yang masih mempertahankan tradisi adat Minangkabau. Dalam berbagai kegiatan adat, penggunaan bahasa adat masih terlihat cukup dominan, terutama ketika berlangsung musyawarah nagari, acara batagak penghulu, baralek, maupun kegiatan adat lainnya. Akan tetapi, menurut Alenkhe dan Monday (2020) dan Firdaus (2020) menyatakan perkembangan teknologi informasi, mobilitas masyarakat, meningkatnya penggunaan bahasa Indonesia, serta pengaruh media digital menyebabkan intensitas penggunaan bahasa adat dalam kehidupan sehari-hari semakin berkurang, khususnya di kalangan generasi muda.

Orang Minangkabau atau lebih familiar disebut Urang Minang Pasisia masih bertahan dan memberdayakan bahasa adat dalam berkomunikasi dalam kegiatan adat. Namun kalangan remaja cenderung “menghindari” untuk menggunakan bahasa adat dalam kegiatan perkawinan seperti acara Bapakat Minum Kopi Nagaghi atau pun Naiak Alek. Giddens (1986) modernisasi telah menghakis nilai budaya tempatan dan mengasingkan generasi muda dari nilai tradisi warisan leluhurnya.

Hasil observasi awal menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat lanjut usia masih menggunakan bahasa adat dalam berbagai aktivitas sosial. Sebaliknya, generasi muda lebih sering menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Minangkabau sehari-hari yang telah mengalami penyederhanaan sehingga penggunaan ungkapan adat, petatah-petitih, dan tata bahasa adat mulai jarang ditemukan dalam komunikasi sehari-hari terutama di kalangan generasi muda.

Pendapat Alhumaid (2019) menegaskan kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan bahasa adat sebagai salah satu warisan budaya tak benda. Senada dengan itu, Faris (2019), apabila tidak dilakukan upaya pelestarian secara sistematis, dikhawatirkan kemampuan generasi muda dalam memahami dan menggunakan bahasa adat akan terus menurun. Oleh karena itu, diperlukan strategi pelestarian yang melibatkan seluruh komponen masyarakat, mulai dari keluarga, lembaga adat, tokoh agama, pemerintah nagari, lembaga pendidikan, hingga organisasi kepemudaan.

 

TINJAUAN PUSTAKA

Bahasa Adat sebagai Identitas Budaya

Bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan yang memiliki fungsi sebagai alat komunikasi sekaligus identitas suatu kelompok masyarakat. Menurut Spradley (1998), dalam perspektif antropologi budaya, bahasa menjadi media pewarisan nilai, norma, kepercayaan, dan sistem sosial dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Keberadaan bahasa daerah tidak hanya mencerminkan kekayaan linguistik, tetapi juga menggambarkan cara berpikir, pandangan hidup, dan karakter masyarakat pemiliknya.

Pada masyarakat Minangkabau, bahasa adat memiliki kedudukan yang lebih luas dibandingkan bahasa komunikasi sehari-hari. Bahasa adat digunakan dalam berbagai aktivitas resmi seperti musyawarah adat, batagak penghulu, upacara perkawinan, penyelesaian sengketa adat, penyambutan tamu kehormatan, serta berbagai kegiatan sosial yang berkaitan dengan adat istiadat. Pendapat Malik (2018) menyatakan penggunaan bahasa adat selalu disertai dengan ungkapan-ungkapan tradisional, pepatah-petitih, mamangan, dan petuah yang mengandung nilai pendidikan, etika, kepemimpinan, serta filosofi kehidupan masyarakat Minangkabau.

Bahasa adat juga menjadi sarana pembentukan karakter masyarakat karena setiap ungkapan adat mengandung pesan moral yang menjadi pedoman dalam kehidupan sosial. Oleh sebab itu, pelestarian bahasa adat tidak hanya dimaknai sebagai menjaga penggunaan bahasa, tetapi juga menjaga keberlanjutan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Teori Pelestarian Budaya

Pelestarian budaya merupakan serangkaian upaya yang dilakukan secara terencana untuk mempertahankan keberadaan budaya agar tetap hidup dan berkembang sesuai dengan perubahan zaman tanpa menghilangkan nilai-nilai dasarnya. Pelestarian budaya melibatkan proses perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pewarisan budaya kepada generasi berikutnya.

Dalam konteks bahasa daerah, pelestarian dilakukan melalui tiga pendekatan utama, yaitu pewarisan antargenerasi dalam lingkungan keluarga, pendidikan formal maupun nonformal, serta pemanfaatan media komunikasi modern. Ketiga pendekatan tersebut saling melengkapi sehingga bahasa daerah tidak hanya bertahan sebagai simbol budaya, tetapi juga tetap digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Revitalisasi bahasa daerah menjadi salah satu strategi penting dalam menghadapi tantangan globalisasi. Revitalisasi tidak berarti mengubah substansi bahasa, tetapi menyesuaikan cara penyampaian dan pembelajarannya agar sesuai dengan perkembangan teknologi dan karakter masyarakat modern.

Teori Komunikasi Budaya

Komunikasi budaya merupakan proses penyampaian nilai-nilai budaya melalui simbol, bahasa, perilaku, maupun media komunikasi. Bahasa menjadi media utama dalam proses tersebut karena seluruh nilai budaya pada dasarnya diwariskan melalui komunikasi.

Dalam masyarakat adat, komunikasi budaya berlangsung melalui interaksi langsung antargenerasi. Orang tua, ninik mamak, tokoh agama, serta tokoh masyarakat berperan sebagai komunikator budaya yang menyampaikan berbagai nilai adat kepada generasi muda. Namun menurut Gillin dan Gillin (1954) menegaskan perkembangan teknologi menyebabkan pola komunikasi mengalami perubahan sehingga proses pewarisan budaya secara langsung mulai berkurang.

Oleh karena itu, strategi komunikasi budaya saat ini perlu mengombinasikan komunikasi interpersonal dengan komunikasi berbasis media digital agar pesan budaya tetap dapat diterima oleh generasi muda.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif karena bertujuan memahami secara mendalam strategi pelestarian penggunaan bahasa adat di Kenagarian Kambang Barat, Kabupaten Pesisir Selatan.

Lokasi penelitian berada di Kanagarian Kambang Barat, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Lokasi tersebut dipilih karena masyarakatnya masih mempertahankan pelaksanaan adat Minangkabau dalam berbagai kegiatan sosial, meskipun penggunaan bahasa adat mulai mengalami perubahan. Informan penelitian berjumlah 8 orang di antaranya tokoh adat yang memegang gelar adat sebanyak 3 orang, tokoh adat yang tidak memegang gelar adat sebnyak 2 orang, tokoh agama dan masyarakat masing-masing 1 orang dan pemuda sebanyak 2 orang.

Pemilihan informan dilakukan secara snowball yaitu memilih narasumber yang dianggap memahami penggunaan bahasa adat sebagai key informant atau informan pertama. Kemudian informan pertama akan memberikan rekomendasi ke informan kedua dan selanjutnya sampai ke informan ke delapan. Adapun teknik pengumpulan data meliputi observasi lapangan, wawancara mendalam (Indepth interview). Analisis data menggunakan analisis kualitatif dengan memberikan argumentasi yang didukung dengan informasi dari informan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Penggunaan Bahasa Adat di Kenagarian Kambang Barat

Berdasarkan hasil observasi, penggunaan bahasa adat masih dapat dijumpai pada berbagai kegiatan adat seperti musyawarah nagari, acara perkawinan, penyelesaian sengketa adat, pengangkatan penghulu, kegiatan keagamaan yang bernuansa adat, serta berbagai forum resmi masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat yang berusia lanjut masih menggunakan bahasa Minangkabau dengan ungkapan adat yang cukup lengkap. Akan tetapi, intensitas penggunaan bahasa adat mulai mengalami penurunan pada kelompok usia muda. Sebagian besar pemuda lebih sering menggunakan bahasa Indonesia ataupun bahasa Minangkabau sehari-hari yang lebih sederhana sehingga kemampuan memahami ungkapan adat semakin berkurang.

Hasil observasi juga menunjukkan bahwa penggunaan bahasa adat lebih banyak ditemukan pada kegiatan formal dibandingkan komunikasi keluarga sehari-hari. Kondisi tersebut menunjukkan adanya pergeseran fungsi bahasa adat yang sebelumnya digunakan dalam berbagai aktivitas masyarakat menjadi lebih terbatas pada kegiatan-kegiatan tertentu. Adapun pandangan tokoh adat yang memegang gelar adat menjelaskan bahwa bahasa adat merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sistem adat Minangkabau. Menurut mereka, hilangnya penggunaan bahasa adat akan berdampak terhadap melemahnya pemahaman masyarakat mengenai nilai-nilai adat yang selama ini diwariskan melalui petatah-petitih dan mamangan.

Sedangkan tokoh adat yang tidak memegang gelar adat mengemukakan bahwa saat ini generasi muda masih memahami bahasa Minangkabau sehari-hari, namun mengalami kesulitan ketika harus menggunakan bahasa adat dalam forum resmi. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berkurangnya pembelajaran bahasa adat dalam lingkungan keluarga serta semakin sedikitnya keterlibatan pemuda dalam kegiatan adat.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, tokoh adat mengusulkan beberapa strategi, antara lain menghidupkan kembali kegiatan belajar adat di surau dan balai adat, melibatkan pemuda dalam setiap prosesi adat, mengadakan pelatihan pidato adat, serta memperbanyak kegiatan budaya di tingkat nagari. Menurut tokoh adat, pelestarian bahasa adat tidak cukup dilakukan melalui teori, tetapi harus dibiasakan melalui praktik komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Peranan tokoh adat dan masyarakat sebagai basis pelestarian budaya

Hasil wawancara dengan tokoh agama menunjukkan bahwa bahasa adat memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan keagamaan masyarakat Minangkabau. Falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah menjadi landasan bahwa adat dan agama saling melengkapi dalam membentuk karakter masyarakat. Bahasa adat dipandang sebagai media yang efektif dalam menyampaikan nilai-nilai moral, etika, dan ajaran agama karena mengandung ungkapan yang santun, penuh penghormatan, serta mencerminkan kebijaksanaan para leluhur.

Tokoh agama menjelaskan bahwa pada berbagai kegiatan keagamaan seperti pengajian, wirid, khutbah pada acara adat, doa bersama, serta peringatan hari besar Islam, bahasa adat masih digunakan sebagai pelengkap komunikasi. Penggunaan petatah-petitih dalam ceramah agama dinilai mampu memperkuat pemahaman masyarakat karena lebih dekat dengan kehidupan sosial masyarakat Minangkabau.

Namun demikian, tokoh agama mengamati adanya perubahan perilaku berbahasa pada generasi muda. Bahasa Indonesia lebih sering digunakan dalam kegiatan keagamaan yang melibatkan remaja sehingga penggunaan bahasa adat semakin terbatas. Kondisi ini dipengaruhi oleh perubahan lingkungan pendidikan, media komunikasi, serta berkurangnya kebiasaan menggunakan bahasa adat di lingkungan keluarga.

Menurut tokoh agama, pelestarian bahasa adat dapat dilakukan melalui penguatan pendidikan karakter berbasis nilai-nilai adat dan agama. Kegiatan seperti pengajian remaja, pesantren Ramadan, pembinaan generasi muda di masjid, dan ceramah budaya dapat dijadikan media untuk memperkenalkan kembali bahasa adat sebagai bagian dari identitas masyarakat Minangkabau. Manakala berdasarkan hasil wawancara terhadap tokoh masyarakat menilai bahwa perubahan pola komunikasi merupakan faktor utama yang menyebabkan menurunnya penggunaan bahasa adat. Masyarakat saat ini lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dalam berbagai aktivitas, baik di lingkungan pendidikan, pekerjaan, maupun media sosial. Akibatnya, penggunaan bahasa adat semakin terbatas pada acara-acara tertentu yang bersifat resmi.

Tokoh masyarakat juga menjelaskan bahwa dahulu bahasa adat dipelajari secara alami melalui interaksi dalam keluarga. Anak-anak terbiasa mendengarkan petatah-petitih, mamangan, dan ungkapan adat yang disampaikan oleh orang tua maupun ninik mamak. Saat ini pola tersebut mulai berkurang karena komunikasi dalam keluarga lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia.

Selain faktor keluarga, perkembangan teknologi informasi juga memberikan pengaruh yang signifikan. Akses terhadap media sosial, hiburan digital, dan berbagai platform komunikasi menyebabkan generasi muda lebih akrab dengan bahasa Indonesia maupun bahasa asing dibandingkan bahasa adat.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, tokoh masyarakat mengusulkan beberapa program pelestarian, antara lain penyelenggaraan festival budaya tingkat nagari;, lomba pidato adat dan petatah-petitih;, pelatihan bahasa adat bagi generasi muda, pendokumentasian ungkapan adat dalam bentuk buku maupun media digital dan penguatan muatan lokal di sekolah.

Menurut tokoh masyarakat, keberhasilan pelestarian bahasa adat sangat bergantung pada keterlibatan seluruh unsur masyarakat, bukan hanya lembaga adat. Kelompok pemuda memiliki pandangan yang cukup menarik mengenai penggunaan bahasa adat. Sebagian besar menyatakan masih mampu memahami bahasa Minangkabau dalam komunikasi sehari-hari, namun mengalami kesulitan ketika harus menggunakan bahasa adat yang mengandung ungkapan-ungkapan tradisional.

Pemuda mengakui bahwa kesempatan mempelajari bahasa adat sangat terbatas. Pengetahuan yang dimiliki umumnya diperoleh ketika menghadiri acara adat bersama keluarga atau mendengarkan penjelasan dari orang tua dan kakek-nenek. Mereka belum pernah memperoleh pembelajaran bahasa adat secara sistematis melalui sekolah maupun organisasi kepemudaan. Meskipun demikian, para pemuda menunjukkan minat yang tinggi terhadap pelestarian budaya apabila dikemas sesuai dengan perkembangan teknologi. Mereka berpendapat bahwa pembelajaran bahasa adat akan lebih menarik apabila disampaikan melalui video pendek, podcast budaya, media sosial, aplikasi digital, maupun konten kreatif berbasis audiovisual. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa generasi muda sebenarnya tidak menolak budaya lokal, tetapi menginginkan pendekatan pembelajaran yang lebih sesuai dengan karakteristik masyarakat digital.

 

Analisis Strategi Pelestarian Bahasa Adat

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, penelitian ini mengidentifikasi lima strategi utama yang dapat diterapkan dalam pelestarian penggunaan bahasa adat di Kenagarian Kambang Barat.

1. Penguatan Peran Keluarga

Keluarga merupakan lingkungan pertama dalam proses pewarisan bahasa. Orang tua memiliki peran penting membiasakan penggunaan bahasa Minangkabau dan bahasa adat dalam komunikasi sehari-hari sehingga anak terbiasa memahami nilai-nilai budaya sejak usia dini. Menurut Murdock (1987) menjelaskan institusi keluarga sebagai agen sosialisasi utama terhadap anak-anak sebagai generasi muda dalam masyarakat. Dengan menghadirkan peranan keluarga dalam menumbuhkan semangat kreativitas revitalisasi bahasa adat dapat membangun dan menghidupkan semarak bahasa adat sebagai identitas budaya.

2. Revitalisasi Lembaga Adat

Lembaga adat perlu mengembangkan program pembelajaran bahasa adat melalui pelatihan pidato adat, pelatihan petatah-petitih, diskusi adat, serta keterlibatan generasi muda dalam setiap kegiatan adat nagari. Kegiatan tersebut menjadi media pembelajaran yang bersifat langsung dan kontekstual. Dengan adanya acara pelatikan gelar adat pada Juni 2025 di Kanagarian Kambang yang dihadiri oleh Bupati Hendrajoni d

3. Integrasi dengan Pendidikan Formal dan literasi digital

Sekolah dapat menjadi mitra strategis dalam pelestarian bahasa adat melalui penguatan muatan lokal, kegiatan ekstrakurikuler budaya, lomba pidato adat, baca kaba, serta pembelajaran mengenai nilai-nilai budaya Minangkabau. Kolaborasi antara sekolah dan lembaga adat akan memperluas ruang penggunaan bahasa adat di kalangan pelajar. Dengan hadirnya muatan mata pelajar seni budaya di Sekolah Dasar (SD) yang secara tidak langsung dpaat mengurangi arus modernisasi yang sememangnya telah mengasingkan kelompok remaja dengan identitas budayanya sendiri.

Di samping itu, edia digital perlu dimanfaatkan sebagai sarana revitalisasi bahasa adat. Pembuatan video edukasi, podcast budaya, kamus digital bahasa adat, konten media sosial, dan dokumentasi petatah-petitih akan memudahkan generasi muda mempelajari bahasa adat melalui media yang sudah akrab dengan kehidupan mereka. Melalui platform media digital sekarang ini juga dapat dibangkitkan kembali minat dan bakat kelompok remaja untuk sadar akan pentingnyaa mengamalkan dan mempertahankan tradisi bahasa adat.

4. Kolaborasi Antar Pemangku Kepentingan

Pelestarian bahasa adat memerlukan kolaborasi antara pemerintah nagari, Kerapatan Adat Nagari (KAN), tokoh agama, tokoh masyarakat, sekolah, organisasi kepemudaan, dan keluarga. Setiap unsur memiliki peran yang saling melengkapi sehingga pelestarian bahasa adat dapat dilakukan secara berkelanjutan. Kebaruan penelitian ini terletak pada penyusunan model kolaboratif pelestarian bahasa adat yang mengintegrasikan lima unsur utama, yaitu keluarga, lembaga adat, lembaga pendidikan, tokoh agama, dan media digital. Model ini menempatkan media digital bukan sebagai ancaman terhadap bahasa adat, melainkan sebagai sarana strategis untuk memperluas ruang penggunaan bahasa adat di kalangan generasi muda.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian bahasa adat tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial, tetapi harus menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat melalui komunikasi sehari-hari, pendidikan, kegiatan keagamaan, aktivitas organisasi kepemudaan, serta pemanfaatan teknologi informasi.

 

SIMPULAN

Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa adat di Kenagarian Kambang Barat masih dipertahankan dalam berbagai kegiatan adat, seperti musyawarah nagari, upacara perkawinan, penyelesaian sengketa adat, kegiatan keagamaan, dan berbagai kegiatan sosial yang berkaitan dengan adat istiadat Minangkabau. Bahasa adat tetap menjadi media komunikasi yang mengandung nilai-nilai budaya, etika, norma sosial, serta filosofi kehidupan masyarakat Minangkabau. Namun demikian, intensitas penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari mulai mengalami penurunan, terutama di kalangan generasi muda.

Berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pemuda, ditemukan bahwa terdapat beberapa faktor yang memengaruhi penurunan penggunaan bahasa adat. Faktor tersebut meliputi semakin dominannya penggunaan bahasa Indonesia dalam lingkungan keluarga dan pendidikan, perkembangan teknologi informasi dan media sosial, perubahan gaya komunikasi masyarakat, urbanisasi, serta berkurangnya keterlibatan generasi muda dalam kegiatan adat. Kondisi tersebut menyebabkan kemampuan generasi muda dalam memahami ungkapan adat, petatah-petitih, dan tata cara berbahasa adat mulai mengalami penurunan.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa seluruh informan memiliki komitmen yang sama terhadap pentingnya pelestarian bahasa adat sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Minangkabau. Tokoh adat menekankan pentingnya pewarisan bahasa melalui kegiatan adat dan pembelajaran langsung. Tokoh agama memandang bahasa adat sebagai media penyampaian nilai moral dan keagamaan yang selaras dengan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Tokoh masyarakat menilai bahwa keluarga dan lingkungan sosial memiliki peranan penting dalam membentuk kebiasaan berbahasa, sedangkan kelompok pemuda mengharapkan adanya inovasi pembelajaran bahasa adat melalui media digital yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman.

Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merumuskan lima strategi utama pelestarian bahasa adat di Kenagarian Kambang Barat, yaitu: (1) penguatan peran keluarga sebagai lingkungan pertama dalam pewarisan bahasa adat; (2) revitalisasi fungsi lembaga adat melalui pelatihan pidato adat, petatah-petitih, dan keterlibatan generasi muda dalam kegiatan adat; (3) integrasi pembelajaran bahasa adat dalam pendidikan formal melalui muatan lokal dan kegiatan ekstrakurikuler; (4) pemanfaatan media digital sebagai sarana edukasi dan dokumentasi bahasa adat; serta (5) penguatan kolaborasi antara pemerintah nagari, Kerapatan Adat Nagari (KAN), tokoh agama, tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, dan organisasi kepemudaan.

Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa pelestarian bahasa adat tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial semata, tetapi memerlukan strategi yang terencana, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Kolaborasi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci keberhasilan dalam menjaga keberlangsungan bahasa adat sebagai warisan budaya yang memiliki nilai historis, sosial, dan edukatif bagi masyarakat Minangkabau.

 

REFERENSI

Ahmadi, Y., Yasmadi, Y., & Fitri, T. (2024). Sociolinguistics in the digital era: Minang language as cultural identity. Leksika: Jurnal Bahasa, Sastra Dan Pengajarannya, 18(2 SE ), 62–70. https://doi.org/10.30595/lks.v18i2.22990

Alenkhe, A., dan Monday, A. C. 2020. "Modern Technological Gadgets and Academic Performance of Students in Selected Universities in Edo State, Nigeria". Jalingo Journal of Social and Management Sciences, Vol. 2.

Alhumaid, K. 2019. "Four Ways Technology Has Negatively Changed Education". Journal of Educational and Social Research, Vol. 9 No. 4. 

Augustine, Alenkhe Odianonsen and Akhigbe Charles Monday. 2020. “Modern Technological Gadgets and Academic Performance of Students in Selected Universities in Edo State, Nigeria”. Jalingo Journal of Social and Management Sciences. Vol. 2 No. 4. 

Chen, J., dan Ran, X. 2019. Deep Learning With Edge Computing: A Review. Makalah disajikan dalam Proceedings of the IEEE, University of California, USA, May 29. 

Faris, B. A. 2019. Lunturnya Minat Generasi Muda Terhadap Seni dan Budaya Nasional. Hipwee. https://www.hipwee.com/narasi/luntur nya-minat-generasi-muda-terhadap seni-dan-budaya-nasional.

Firdaus, D. R. S. (2020). How does Minangkabau’s Family Communication Pattern Affects Cultural Preservation and Cultural Erosion? Jurnal Komunikasi Pembangunan, 18(02), 104–116. https://doi.org/10.46937/18202030330

Flaragan, Jennifer Lyn. 2008. Technology The Positive and Negative Effects on Student Achievement and The Various Types of Technology that Increase a Student’s Ability to do Work. Theses. New York: University of New York College.

Francis, J. 2017. The Effects of Technology on Incarcerated Student Motivation and Engagement in Classroom-Based Learning. Disertasi. New England: University of New England.

Foley, A.W. 1997. Anthropological Linguistics and Introduction. University of Sydney: Blackwell Publisher

Gillin JL, Gillin JP. 1954. A revision of an introduction to sociology. The Macmillan Company, New York. 

Giddens A. 1991. Modernity and self-Identity: Self and society in the late modern age. Cambridge Polity Press, New York.

Grenoble, L. A., & Whaley, L. J. (2005). Saving languages: An introduction to language revitalization. In Saving Languages: An Introduction to Language Revitalization. Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/CBO9780511615931

Guiberson, M., & Vining, C. B. (2023). Culturally Responsive and Indigenous Language Strategies: Findings From a Scoping Review. Communication Disorders Quarterly, 45(1), 3–19. https://doi.org/10.1177/15257401231155812

Harahap, S. H., Barus, F. L., & Wasilah, A. (2020). The Dignity of Indonesian Language in Information Technology. Budapest International Research and Critics in Linguistics and Education (BirLE) Journal, 3(1), 395–403. https://doi.org/10.33258/birle.v3i1.832

Heni, A. N., & Suryadi, M. (2022). Variasi Leksikal Bahasa Minangkabau Di Kanagarian Kubang Putiah, Kabupaten Agam: Kajian Sosiodialektologi. Widyaparwa, 50(1), 151 161. https://doi.org/10.26499/wdprw.v50i1.911

Hinton, L. (2018). Approaches to and Strategies for Language Revitalization. In K. L. Rehg & L. Campbell (Eds.), The Oxford Handbook of Endangered Languages (pp. 442–465). Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/oxfordhb/9780190610029.013.22

Hunziker, A. A. (2022). Indigenous Languages and the Promise of Archives. Resources for American Literary Study, 44(1–2), 358–363. https://doi.org/10.5325/resoamerlitestud.44.1-2.0358

Istiqomah, A., & Widiyanto, D. 2020. Ancaman Budaya Pop (Pop Culture) Terhadap Penguatan identitas nasional Masyarakat Urban. Jurnal Kalacakra , 1(1), 18–24.

Pierce, T. 2009. "Social Anxiety and Technology: Face - to - face Communication Versus Technological Communication Among Teens". Computers in Human Behavior, Vol. 2 No. 6.

Malik, R. (2018). Ikatan Kekerabatan Etnis Minangkabau Dalam Melestarikan Nilai Budaya Minangkabau Di Perantauan Sebagai Wujud Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jurnal Analisa Sosiologi, 5(2). https://doi.org/10.20961/jas.v5i2.18102

Mayelnic, C., & Jufrizal, J. (2022). The Dead Words of Minangkabaunese Found in Pasir Talang-Solok Selatan. English Language and Literature, 11(3), 385. https://doi.org/10.24036/ell.v11i3.119003

Mayuasti, M., & Prahara, S. (2022). the Protection and Preservation of Minangkabau Traditional Knowledge in Muatan Lokal Curriculum of West Sumatera. Ensiklopedia of Journal, 4(3), 295–298. https://doi.org/10.33559/eoj.v4i3.428

Meighan, P. J. (2022). Indigenous language revitalization using TEK-nology: how can traditional ecological knowledge (TEK) and technology support intergenerational language transmission? Journal of Multilingual and Multicultural Development, 45(8), 3059–3077. https://doi.org/10.1080/01434632.2022.2084548

Merican, P. D. A. M. (2022). Revisiting Merantau with a sense of Minangness: Cultivating the field of Malay Media Studies. Jurnal Pengajian Media Malaysia, 24(2), 1–18. https://doi.org/10.22452/jpmm.vol24no2.1

Muin, A., & Utami, N. W. (2024). Analisis Penerapan Integrasi Budaya Minangkabau dalam Pembelajaran IPAS Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar. Jurnal Inovasi Pendidikan Dan Pembelajaran Sekolah Dasar, 8(1), 250. https://doi.org/10.24036/jippsd.v8i1.126969

Nasution, R. D. 2017. Pengaruh Modernisasi dan Globalisasi terhadap Perubahan Sosial Budaya di Indonesia. Jurnal Penelitian 39 Komunikasi Dan Opini Publik, 21(1), 30–42.

Santosa, R. 2017. Metode Penelitian Kualitatif Kebahasaan. Surakarta. UNS Press Setiyadi, Tulus. (2016). Menelusuri Jejak Tradisi Membangun Jati Diri. Madiun: CV Raditeens

Saroni, S. 2018. Pengaruh Globalisasi Terhadap Eksistensi Kebudayaan Daerah. Aviasi : Jurnal Ilmiah Kedirgantaraan, 15(1), 47–75. https://doi.org/10.52186/aviasi.v15i1.5

Sibarani, Robert. 2013. “Pendekatan Antropolinguistik Terhadap Kearifan lokal Sebagai Identitas Bangsa. https://jurnal.uns.ac.id/prosidingsemantiks 552 “Ethnicity and Globalization”

Spradley, James. 1998. “The Ethnographic Interview (from Spradley, 1979).” Introduction to Qualitative Methods.

 

 

Pemberdayaan Masyarakat Adat melalui Pengelolaan Hutan Berkelanjutan dan Pemetaan Partisipatif untuk Mendukung Pembangunan Kampung Berbasis Kearifan Lokal di Kampung Klasari, Distrik Moisegen, Kabupaten Sorong

 Adi Nugroho1, Andriani Karto2, Arnold F. Binter3, Fanda Djitmau4, Wahyu Widyanti5, Alfin Seme6

1-6Universitas Nani Bili Nusantara

Email: myoffice.an@gmail

 

Abstrak

Program Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan di Kampung Klasari, Distrik Moisegen, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, dengan tujuan meningkatkan kapasitas masyarakat adat dalam pengelolaan hutan berkelanjutan dan pemetaan partisipatif guna mendukung pembangunan kampung berbasis kearifan lokal. Kelompok sasaran kegiatan ini meliputi masyarakat adat, pemerintah kampung, tokoh adat, kelompok pemuda, dan kelompok perempuan Kampung Klasari. Program dilaksanakan melalui pendekatan partisipatif (Participatory Rural Appraisal) yang mencakup tahap persiapan, penyuluhan, pelatihan penggunaan Global Positioning System (GPS) dan Sistem Informasi Geografis (SIG) dasar, praktik pemetaan partisipatif, pendampingan, serta evaluasi. Hasil pelaksanaan program menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan hutan berkelanjutan, meningkatnya keterampilan dalam melakukan pemetaan partisipatif dan penggunaan teknologi sederhana, serta meningkatnya partisipasi tokoh adat, pemuda, dan kelompok perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam. Kegiatan ini menghasilkan peta partisipatif dan data potensi Kampung Klasari yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan pembangunan kampung. Secara keseluruhan, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini menunjukkan dampak awal yang positif terhadap penguatan kapasitas masyarakat adat serta menjadi model sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah kampung, dan masyarakat adat dalam mendukung pembangunan kampung yang berkelanjutan.

Kata kunci : Masyarakat Adat, Pengelolaan Hutan Berkelanjutan, Pemetaan Partisipatif, Pemberdayaan Masyarakat, Kearifan Lokal

Abstract

This Community Service program was conducted in Klasari Village, Moisegen District, Sorong Regency, Southwest Papua Province, to strengthen the capacity of the indigenous community in sustainable forest management and participatory mapping to support village development based on local wisdom. The target groups were the indigenous community, village government, customary leaders, youth groups, and women's groups of Klasari Village. The program was implemented through a Participatory Rural Appraisal (PRA) approach comprising preparation, counseling, training in the use of Global Positioning System (GPS) and basic Geographic Information System (GIS), participatory mapping practice, mentoring, and evaluation. The results show an improvement in community knowledge of sustainable forest management, increased skills in participatory mapping and the use of simple technology, and greater participation of customary leaders, youth, and women's groups in natural resource management. The activity produced a participatory map and potential data for Klasari Village that can be used as a basis for village development planning. Overall, the program demonstrated positive initial impacts on strengthening indigenous community capacity and serves as a model of synergy between higher education, village government, and the indigenous community in supporting sustainable village development.

Keywords : Indigenous Community, Sustainable Forest Management, Participatory Mapping, Community Empowerment, Local Wisdom.

 

Article Info

Received date: 15 July   2026                                         Revised date: 20 July   2026                                        Accepted date: 28 July 2026

 

PENDAHULUAN

Kampung Klasari yang berada di Distrik Moisegen, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, merupakan salah satu kampung yang memiliki kekayaan sumber daya alam berupa kawasan hutan, lahan pertanian, dan sumber air, yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat adat setempat. Bagi masyarakat adat Papua, hutan tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga nilai sosial, budaya, sejarah, dan spiritual yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari identitas dan keberlangsungan kehidupan mereka. Dokumen AMAHUTA Papua menegaskan bahwa wilayah adat merupakan ruang hidup masyarakat adat yang perlu dikelola dan dilindungi secara berkelanjutan melalui penguatan kapasitas masyarakat dan kolaborasi multipihak.

Potensi sumber daya alam dan kearifan lokal yang dimiliki Kampung Klasari sesungguhnya dapat menjadi modal pembangunan kampung. Namun demikian, agar potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, diperlukan penguatan kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber daya alam tanpa mengabaikan prinsip konservasi dan nilai-nilai adat. Pengelolaan wilayah adat juga perlu didukung oleh pemetaan partisipatif sebagai instrumen untuk mendokumentasikan batas wilayah, potensi sumber daya alam, serta pola penggunaan ruang oleh masyarakat, sekaligus memperkuat posisi tawar masyarakat adat dalam perencanaan pembangunan.

Di tingkat kampung, masih terdapat sejumlah tantangan dalam pengelolaan sumber daya alam, antara lain terbatasnya pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan hutan berkelanjutan, belum optimalnya kapasitas masyarakat dalam melakukan pemetaan partisipatif, terbatasnya pemanfaatan teknologi sederhana seperti Global Positioning System (GPS) dan Sistem Informasi Geografis (SIG) dasar dalam pendokumentasian potensi wilayah, serta belum optimalnya keterlibatan pemuda dan kelompok perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam. Selain itu, penguatan kelembagaan masyarakat dan kolaborasi antara pemerintah kampung, tokoh adat, masyarakat, dan perguruan tinggi juga masih memerlukan wadah kerja sama yang lebih kuat.

Sebagai institusi pendidikan tinggi, Universitas Nani Bili Nusantara memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat. Kegiatan ini menjadi sarana penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membantu menyelesaikan permasalahan nyata yang dihadapi masyarakat. Melalui pelibatan dosen, mahasiswa, pemerintah kampung, tokoh adat, pemuda, dan kelompok perempuan, diharapkan tercipta proses pemberdayaan yang partisipatif sehingga masyarakat mampu mengelola potensi kampung secara mandiri dan berkelanjutan.

Berdasarkan kondisi tersebut, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dirancang dengan pendekatan yang mengintegrasikan peningkatan pengetahuan masyarakat adat mengenai pengelolaan hutan berkelanjutan, penguatan keterampilan pemetaan partisipatif, dan penguatan kelembagaan serta kolaborasi multipihak secara simultan. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat, menghasilkan data spasial berbasis partisipasi masyarakat, memperkuat kelembagaan kampung, serta mendorong pembangunan kampung yang selaras dengan nilai-nilai kearifan lokal dan prinsip pembangunan berkelanjutan di Kampung Klasari, Distrik Moisegen, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya.

 

METODE

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan di Kampung Klasari, Distrik Moisegen, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, selama tiga bulan, dengan sasaran masyarakat adat, pemerintah kampung, tokoh adat, kelompok pemuda, kelompok perempuan, dan mahasiswa pendamping, dengan jumlah peserta sekitar 30-40 orang. Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif (Participatory Rural Appraisal/PRA) sehingga masyarakat berperan aktif dalam seluruh tahapan kegiatan, yang diuraikan melalui beberapa metode berikut.

1. Metode Persiapan dan Identifikasi Kebutuhan

Tahap ini dilakukan melalui koordinasi dengan Pemerintah Kampung Klasari dan tokoh adat, survei lapangan, identifikasi potensi dan permasalahan kampung, serta penyusunan modul pelatihan dan jadwal kegiatan. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa masyarakat telah memiliki pengetahuan lokal yang baik mengenai pemanfaatan hutan, namun masih memerlukan penguatan dalam aspek dokumentasi potensi wilayah, pemetaan partisipatif, dan pemanfaatan teknologi sederhana.

2. Metode Penyuluhan dan Pelatihan

Penyuluhan dilaksanakan dengan metode ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan tanya jawab, dengan materi meliputi konsep masyarakat adat, fungsi ekologis hutan, pengelolaan hutan berkelanjutan, dan pembangunan kampung berbasis kearifan lokal. Pelatihan dilakukan secara teori dan praktik, mencakup pengenalan Global Positioning System (GPS), penggunaan aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) dasar, teknik pengambilan titik koordinat, serta teknik pemetaan partisipatif.

3. Metode Praktik Lapangan dan Pendampingan

Peserta melakukan praktik lapangan untuk mengidentifikasi batas wilayah kampung, kawasan hutan, sumber mata air, lahan pertanian, serta lokasi-lokasi yang memiliki nilai budaya dan fasilitas umum kampung. Tim pengabdian selanjutnya mendampingi masyarakat dalam menyusun peta partisipatif, data potensi kampung, serta rekomendasi pengelolaan hutan berbasis masyarakat.

4. Metode Monitoring dan Evaluasi

Evaluasi dilakukan melalui pre-test sebelum pelatihan, evaluasi proses selama kegiatan berlangsung (tingkat kehadiran, keaktifan diskusi, keterlibatan praktik lapangan), serta post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta. Indikator keberhasilan program mencakup jumlah dan kehadiran peserta, peningkatan nilai pre-test ke post-test, tersusunnya peta dan data potensi kampung, kepuasan peserta, serta publikasi hasil kegiatan.

5. Metode Pendampingan Berkelanjutan dan Diseminasi

Sebagai upaya keberlanjutan, dilakukan pendampingan lanjutan kepada masyarakat agar peta dan data potensi kampung dapat dimanfaatkan secara mandiri. Hasil dan dampak kegiatan pengabdian didiseminasikan melalui laporan, publikasi ilmiah, dan penyampaian hasil kepada Pemerintah Kampung Klasari dan Universitas Nani Bili Nusantara sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik.

 

HASIL, PEMBAHASAN, DAN DAMPAK

Pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Kampung Klasari, Distrik Moisegen, memberikan hasil yang positif dan sejalan dengan tujuan utama program, yaitu penguatan kapasitas masyarakat adat dalam pengelolaan hutan berkelanjutan dan pemetaan partisipatif. Pendekatan partisipatif yang diterapkan terbukti mampu mendorong keterlibatan aktif masyarakat, tokoh adat, pemerintah kampung, pemuda, dan kelompok perempuan sepanjang pelaksanaan kegiatan.

Pada aspek peningkatan pengetahuan, kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan melalui ceramah interaktif dan diskusi kelompok berkontribusi pada peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian hutan, fungsi ekologis hutan, konsep pembangunan berkelanjutan, pengelolaan wilayah adat, serta pentingnya pemetaan partisipatif. Tingginya antusiasme peserta tercermin dari aktifnya diskusi mengenai pengelolaan wilayah adat, perlindungan kawasan hutan, dan pemanfaatan data spasial untuk mendukung pembangunan kampung.

Pada aspek pemetaan partisipatif dan pemanfaatan teknologi, pelatihan penggunaan Global Positioning System (GPS) dan Sistem Informasi Geografis (SIG) dasar memberikan pengalaman baru bagi peserta dalam mendokumentasikan potensi wilayah secara lebih sistematis. Dalam praktik lapangan, masyarakat berhasil mengidentifikasi batas wilayah kampung, kawasan hutan, sumber mata air, lahan pertanian, lokasi bernilai budaya, serta fasilitas umum kampung. Hasil praktik tersebut selanjutnya diolah menjadi peta partisipatif Kampung Klasari yang dapat digunakan sebagai dokumen pendukung pembangunan kampung.

Pada aspek partisipasi dan kelembagaan, program berhasil mendorong keterlibatan berbagai unsur masyarakat, yaitu pemerintah kampung, tokoh adat, tokoh agama, kelompok perempuan, kelompok pemuda, dan mahasiswa Universitas Nani Bili Nusantara. Kelompok perempuan berkontribusi memberikan informasi mengenai pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, tanaman lokal, dan sumber pangan keluarga, sedangkan kelompok pemuda menunjukkan kemampuan yang baik dalam mengoperasikan perangkat GPS dan melakukan pengumpulan data lapangan. Kolaborasi ini memperkuat komunikasi antar pemangku kepentingan dalam pengelolaan sumber daya alam.

Secara keseluruhan, hasil kegiatan menunjukkan adanya keterkaitan yang erat antara peningkatan pengetahuan, penguatan keterampilan pemetaan partisipatif, dan penguatan partisipasi serta kelembagaan masyarakat dalam mendukung pemberdayaan masyarakat adat. Keberhasilan kegiatan turut dipengaruhi oleh keterlibatan tokoh adat dalam menjaga nilai-nilai budaya dan menggerakkan partisipasi masyarakat, serta dukungan pemerintah kampung melalui fasilitasi koordinasi dan penyediaan ruang diskusi. Hasil kegiatan ini juga sejalan dengan pendekatan yang dikembangkan dalam dokumen AMAHUTA Papua, yang menekankan pentingnya penguatan kapasitas masyarakat adat, pemetaan partisipatif, dan kolaborasi multipihak sebagai dasar pengelolaan hutan berbasis kearifan lokal.

Dampak awal kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini terlihat dari peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan masyarakat dalam mengelola sumber daya hutan serta mendokumentasikan potensi wilayah. Kegiatan ini juga menghasilkan sejumlah luaran, yaitu modul pelatihan pengelolaan hutan berkelanjutan, modul pelatihan pemetaan partisipatif, peta partisipatif Kampung Klasari, data potensi sumber daya alam kampung, artikel ilmiah, serta laporan akhir kegiatan. Dalam jangka menengah dan panjang, kegiatan ini berpotensi menjadi dasar penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kampung (RPJMK) dan Rencana Kerja Pemerintah Kampung (RKP Kampung), sekaligus memperkuat kemitraan berkelanjutan antara Universitas Nani Bili Nusantara, Pemerintah Kampung Klasari, dan masyarakat adat dalam mendukung pembangunan kampung berbasis kearifan lokal.

 

SIMPULAN

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan di Kampung Klasari, Distrik Moisegen, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, telah berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Program ini difokuskan pada peningkatan kapasitas masyarakat adat dalam pengelolaan hutan berkelanjutan dan pemetaan partisipatif sebagai upaya mendukung pembangunan kampung berbasis kearifan lokal. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan hutan berkelanjutan, meningkatnya keterampilan dalam pemetaan partisipatif dan pemanfaatan teknologi sederhana seperti GPS dan SIG dasar, serta menguatnya partisipasi tokoh adat, pemerintah kampung, pemuda, dan kelompok perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam.

Keterlibatan aktif masyarakat sasaran dalam seluruh tahapan kegiatan, mulai dari persiapan, penyuluhan, pelatihan, praktik lapangan, hingga pendampingan, menjadi faktor pendukung utama keberhasilan program. Secara keseluruhan, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini memberikan kontribusi positif terhadap penguatan kapasitas masyarakat adat Kampung Klasari serta menjadi model sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah kampung, dan masyarakat adat. Meskipun demikian, keberlanjutan dan dampak jangka panjang dari kegiatan ini memerlukan pendampingan lanjutan, pengembangan Sistem Informasi Geografis (SIG) kampung, serta dukungan dari berbagai pihak agar hasil yang telah dicapai dapat terus dikembangkan dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

 

 

 

REFERENSI

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara. (2021). Statuta Aliansi Masyarakat Adat Nusantara. Jakarta: AMAN.

AMAHUTA Papua. (2024). Dokumen Penguatan Masyarakat Adat dan Pengelolaan Hutan Berkelanjutan.

Brundtland Commission. (1987). Our Common Future. Oxford University Press.

Chambers, R. (1994). Participatory rural appraisal (PRA): Analysis of experience. World Development, 22(9), 1253-1268.

Chambers, R. (2006). Participatory mapping and geographic information systems: Whose map? Who is empowered and who disempowered? The Electronic Journal of Information Systems in Developing Countries, 25(2), 1-11.

Food and Agriculture Organization. (2012). Voluntary Guidelines on the Responsible Governance of Tenure of Land, Fisheries and Forests in the Context of National Food Security. Rome: FAO.

Food and Agriculture Organization. (2020). Global Forest Resources Assessment 2020: Main Report. Rome: FAO.

Ife, J. (2013). Community Development in an Uncertain World: Vision, Analysis and Practice (2nd ed.). Cambridge University Press.

McCall, M. K., & Dunn, C. E. (2012). Geo-information tools for participatory spatial planning: Fulfilling the criteria for “good” governance? Geoforum, 43(1), 81-94.

Ostrom, E. (1990). Governing the Commons: The Evolution of Institutions for Collective Action. Cambridge University Press.

Rambaldi, G., Chambers, R., McCall, M. K., & Fox, J. (2006). Practical ethics for PGIS practitioners, facilitators, technology intermediaries and researchers. Participatory Learning and Action, 54, 106-113.

Republik Indonesia. (1945). Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Republik Indonesia. (1999). Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

Republik Indonesia. (2012). Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

Republik Indonesia. (2021). Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Kehutanan.

Siscawati, M. (2014). Masyarakat Adat dan Perebutan Penguasaan Hutan. Jakarta: HuMa.

Slamet, M. (2003). Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan. Bogor: IPB Press.